Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Efisiensi Pemasaran Cabai Besar di Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Lisa Oktaviani; Muhammad Husaini; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.687

Abstract

Cabai merupakan salah satu tanaman holtikultura yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Permintaan cabai yang relatif kontinyu dan cukup tinggi apalagi pada saat hajatan atau hari besar yang membuat diperlukannya pasokan cabai yang mencukupi. Kecamatan Haruyan merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang memiliki produksi cabai besar tertinggi diantara Kecamatan yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran, fungsi pemasaran, lembaga pemasaran, dan untuk mengetahui margin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran. Metode penarikan contoh pada penelitian ini dilakukan dengan dua cara yaitu random sampling dengan sebanyak masing-masing 10 petani responden pada Desa Lokbuntar, Desa Tabat Padang dan Desa Pangabau Hilir Dalam dan menggunakan snowball sampling pada lembaga pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemasaran terdiri dari 3 saluran yang terbentuk (petani – konsumen, petani – pedagang pengumpul – pedagang pengecer – konsumen, dan petani – pedagang pengumpul, pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen). Saluran yang paling banyak dipilih oleh petani adalah saluran II dengan presentase 65,52%. Fungsi pemasaran yang dilakukan petani pada saluran I yaitu petani melakukan semua fungsi pemasaran sedangkan petani pada saluran lainnya petani hanya melakukan sebagian dari fungsi pemasaran. Saluran pemasaran yang efisien berdasarkan analisis margin, farmer’s share dan rasio keuntungan ada pada saluran IIA dan saluran IIB dengan masing-masing nilai total margin sebesar Rp.5.999/kg pada cabai merah, dan Rp.4500/kg pada cabai hijau di saluran IIA, sedangkan saluran IIB total margin sebesar Rp.6.417/kg pada cabai merah dan Rp.5.643/kg pada cabai hijau, farmer’s share sebesar 68% dan 63% untuk cabai merah dan cabai hijau pada saluran IIA sedangkan farmer’s share pada saluran IIB sebesar 65% pada cabai merah dan 56% pada cabai hijau, dan rasio keuntungan menujukkan keuntungan terhadap biaya pada saluran IIA dan IIB adalah efisien, tetapi pada pemasaran di Kecamatan Haruyan petani lebih banyak memilih saluran III karena petani sudah terikat hubungan berlangganan dengan para pedagang pengumpulKata kunci : saluran pemasaran, margin, efisiensi pemasaran
Analisis Pendapatan Usahatani Pembibitan Buah Durian di Desa Mandikapau Barat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar (Studi Kasus Pembibitan Suka Tanam) Sekar Darmayanti Utami; Yudi Ferrianta; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10324

Abstract

Kecamatan Karang Intan merupakan satu-satunya daerah penyumbang produksi komoditi durian terbanyak di Kabupaten Banjar. Produksi komoditi buah yang meningkat tentu tidak terlepas dari kualitas bibit yang digunakan. Di Desa Mandikapau Barat terdapat usaha pembibitan buah durian yaitu pembibitan suka tanam. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui penyelenggaraan usaha pembibitan buah durian, (2) Untuk menganalisis besar biaya, penerimaan dan pendapatan usaha pembibitan buah durian dan (3) Untuk Menganalisis usaha pembibitan buah durian di Desa Mandikapau Barat Kecamatan Karang Intan layak untuk terus dikembangkan. Metode penentuan lokasi yang dipilih secara sengaja. Proses penyelenggaraan usaha pembibitan durian di Pembibitan Suka Tanam menurut tahapan kegiatan adalah sebagai berikut: (1) persiapan lahan dan mengolah tanam; (2) pengumpulan biji; (3) penyemaian; (4) penanaman; (5) okulasi; (6) perawatan; dan (7) pemasaran bibit. Pada usahatani pembibitan durian di Pembibitan Suka Tanam Desa Mandikapau Barat mengeluarkan biaya total sebesar Rp 71.052.600/tahun, total penerimaan sebesar Rp 125.300.000/tahun sehingga Bapak Mawardi mendapatkan keuntungan bersih dari pembibitan durian sebesar Rp 54.247.400/tahun. Perhitungan RCR (Revenue Cost Ratio) untuk usaha pembibitan buah durian di pembibitan Suka Tanam Desa Mandikapau Barat adalah 1,76 atau 1 kali lipat dari total biaya yang dikeluarkan yang artinya usahatani pembibitan buah durian ini sangat menguntungkan untuk dikembangkan.
Analisis Pemasaran Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) di Desa Sukaramah Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Danang Rizam Nuari; Yudi Ferrianta; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8267

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui saluran pemasaran, biaya pemasaran, margin total, margin share, Farmer’s share dan efisiensi pemasaran serta permasalahan yang dihadapi oleh petani di Desa Sukaramah dalam pemasaran jagung manis. Pengambilan sampel dilakukan secara proportional random sampling. Saluran pemasaran yang ada di Desa Sukaramah Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut memiliki 4 saluran pemasaran. Untuk biaya pemasaran tertinggi terdapat pada saluran IV yaitu Rp 271,44/tongkol tujuan Pasar Tradisional Gembira dan biaya terkecil yaitu Rp 44,50/tongkol pada saluran I. Margin total terbesar terdapat pada saluran III dan IV, yaitu masing-masing mempunyai margin total sebesar Rp 750/tongkolnya. Margin share tertinggi pada saluran I sebesar 100%, sedangkan terendah pada saluran III dan IV sebesar 66,67%. Saluran I indeks efisiensi ekonomis paling baik dibandingkan saluran yang lainnya, karena mempunyai nilai indeks yang paling kecil diantara saluran pemasaran yang lainnya. Sedangkan, tujuan pemasaran Pasar Tradisional Gembira Pelaihari paling efisien dari segi efisiensi teknis, khususnya saluran III. Permasalahan yang dihadapi petani yaitu akses jalan yang susah dilewati saat musim hujan dan harga yang tidak sesuai dengan modal karena tingginya harga pupuk dan lainnya, karena adanya kelangkaan. Kemudian untuk pedagang yaitu harus mempunyai modal yang cukup agar dapat bisa membeli atau mengambil hasil jagung manis dari petani karena kalau tidak atau modal yang kurang resikonya tidak mendapatkan barang atau volumenya hanya sedikit.
Tingkat Adopsi Inovasi Petani terhadap Teknologi Budidaya Kacang Tanah di Desa Belangian, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Irpansyah Irpansyah; Suprijanto Suprijanto; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v1i1.765

Abstract

Masalah utama dalam pengembangan komoditas pertanian termasuk kacang tanah adalah sistem penerapan inovasi teknologi, Selain itu produktivitas kacang tanah saat ini sangat rendah karena penggunaan benih dan teknologi prapanen dan pasca panen yang sederhana. Kendala lainnya, petani masih menggunakan teknologi tradisional yang tidak memperhatikan teknologi spesifik yang dikehendaki oleh tanaman kacang tanah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi inovasi petani terhadap teknologi budidaya kacang tanah di Desa Belangian, Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar dengan menggunakan metode survei. Pengambilan contoh dilakukan dengan cara bertahap (multiple stage sampling): (1) menentukan desa tempat penelitian, ditentukan dengan cara metode sengaja (purposive method sampling), (2) menentukan jumlah sampel petani kacang tanah, ditentukan dengan cara acak sederhana (simple random sampling) sedangkan analisis yang digunakan adalah data kualitatif. Data tersebut menggunakan skoring dan persentase untuk mendapatkan tingkat adopsi inovasi petani yang mana tiap variabel data diolah menggunakan kelas bertingkat sebanyak 3 kelas, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil perhitungan tingkat adopsi inovasi petani terhadap teknologi budidaya kacang tanah secara umum berada pada kategori sedang (belum mamadai/optimal) dengan kriteria 55,56% ≤ TAI < 77,78% dan persentase sebesar 66,13%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang selama ini dilakukan oleh petani di Desa Belangian mengenai teknologi budidaya kacang tanah belum sepenuhnya diterapkan.Kata kunci: inovasi, adopsi inovasi, teknologi, kacang tanah.
ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN INDUSTRI BAWANG MERAH GORENG (Studi Kasus Industri Bawang Merah Goreng Mak Yem di Kota Banjarbaru) Lidiya Santi; Yudi Ferrianta; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2904

Abstract

Bawang merah goreng adalah satu jenis olahan dari bawang merah yang diiris tipis, ditambah sedikit garam dan tepung beras kemudian digoreng dengan minyak yang panas sampai berwarna kecoklatan sampai berbau harum dan bawang merah goreng digunakan sebagai pelengkap setiap masakan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai tambah dan strategi pemasaran bawang merah goreng mak Yem. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Agustus 2019 sampai dengan Januari 2020 di Banjarbaru. Jenis data yang digunakan ialah data utama (primer) dan data pendukung (sekunder). Responden sebanyak 14 orang terdiri dari pemilik industri, pengecer, pelanggan serta konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tambah pada pengolahan bawang merah goreng ritel lebih tinggi dibandingkan pada pengolahan bawang merah goreng tradisional maupun pada pengolahan bawang merah goreng jumbo. Nilai tambah yang dihasilkan usaha industri bawang merah menjadi bawang merah goreng ritel sebesar Rp 25.328/kg, sedangkan bawang merah goreng tradisional sebesar Rp 16.062/kg dan bawang merah menjadi bawang merah goreng jumbo sebesar Rp14.347/kg dan Strategi pemasaran yang harus dilakukan usaha industri di daerah penelitian adalah strategi Diversifikasi yang lebih fokus pada strategi ST (strengths-threats) yaitu menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. Strategi ST (strengths-threats): meningkatkan produksi bawang merah goreng dengan menggunakan bahan baku yang sudah ada, mempertahankan kualitas dan merek produk dengan harga yang terjangkau, dengan label dan desain yang menarik bawang merah goreng Mak Yem dapat dikenali di pasaran, Menjaga cita rasa dari bawang merah goreng dan melakukan pelayanan yang baik agar produk dapat terus laku dipasaran dan Menjaga kestabilan penjualan bawang merah goreng ritel yang dititipkan di swalayan.
ANALISIS USAHA PENGOLAHAN YOGHURT “ANNISA” (Studi Kasus Pada Usaha Yoghurt Milik Ibu A. Fancy Kumala) Sri Wahyuni; Mira Yulianti; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i2.2902

Abstract

Perusahaan atau usaha industri pengolahan merupakan suatu usaha yang akan melakukan kegiatan proses produksi secara menual dan modern untuk mengubah barang dasar (bahan mentah/row materials) sehingga menjadi barang jadi (finished goods) atau pun barang setengah jadi (work in process) yaitu dari barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya sehingga lebih dekat dengan pemakai akhir, untuk mendapatkan keuntungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran usaha pengolahan yoghurt “Annisa”, mengetahui biaya, penerimaan, dan keuntungan dari usaha pengolahan yoghurt “Annisa”, dan mengetahui permasalahan yang ada pada usaha pengolahan yoghurt “Annisa”. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi dan kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi Kota Banjarbaru. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biaya total dalam usaha pengolahan yoghurt “Annisa” selama bulan Maret 2019 adalah sebesar Rp 26.680.438,-, total penerimaan selama bulan Maret 2019 sebesar Rp 38.180.000,-, dan keuntungan selama bulan Maret 2019 sebesar Rp 11.499.562,-. Permasalahan yang dihadapi pada usaha pengolahan yoghut “Annisa” adalah tidak adanya sistem pencatatan keungan selama proses produksi berlangsung, terkendala tidak memiliki PIRT, BPOM dan label halal dan dalam proses fermentasi bakteri yoghurt disaat musim hujan yang terus menerus membuat yoghurt tidak bisa fermentasi sempurna.
Identifikasi Kepuasan Kerja dan Kinerja Penyuluh Pertanian di BPP Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala Didik Eko Prasetyo; Yudi Ferrianta; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1316

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan kerja dan kinerja penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluh Pertanian Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi kepuasan kerja penyuluh pertanian lapangan di Balai Penyuluh Pertanian di Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala berada pada kategori puas (1.182), yang dihitung dengan menjumlahkan seluruh skor yang didapat (168.857,1) kemudian dibagi dengan jumlah responden Penyuluh Pertanian Lapangan yaitu sebanyak 7 orang. Lima dimensi untuk menilai kepuasan kerja penyuluh pertanian lapangan yang diperoleh yaitu kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri mempunyai skor rata-rata 248 dengan kategori puas, kepuasan terhadap gaji mempunyai skor rata-rata 104 dengan kategori kurang puas, kepuasan terhadap kesempatan promosi mempunyai skor rata-rata 177 dengan kategori netral, kepuasan terhadap supervisi mempunyai skor rata-rata 334 dengan kategori sangat puas, kepuasan terhadap orang sekitar mempunyai skor rata-rata 319  dengan kategori sangat puas. Total bobot  diperoleh dari penilaian tingkat kinerja penyuluh yang telah dilakukan oleh petani di Kecamatan. Rantau Badauh Kabupaten. Barito Kuala diperoleh skor sebesar 2.909 yang artinya bahwa tingkat kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan di Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten. Barito Kuala dalam kategori sangat baik. Hal itu menunjukkan bahwa penyuluh telah memenuhi dan melaksanakan semua kriteria penilaian dengan sangat baik.Kata kunci : kepuasan kerja, kinerja, penyuluh pertanian
Analisis Pemasaran Tahu Rumahan Kelurahan Sungai Paring Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Abdul Aziz; Yudi Ferrianta; Luthfi Fatah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10357

Abstract

Sungai Paring merupakan salah satu Kelurahan yang merupakan sentra produksi tahu di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, keuntungan dan efesien pemasaran pada industri tahu rumah tangga di Kelurahan Sungai Paring Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember - Maret 2020. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan purposive sampling di Kelurahan Sungai Paring Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar karena Kelurahan Sungai Paring merupakan sentral produksi tahu yang terbesar ke 2 di Kabupaten Banjar. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah metode snow ball sampling, yaitu metode penarikan sampel yang berantai, dari satu sampel responden yang diketahui diteruskan kepada responden berikutnya sesuai dengan informasi responden pertama, begitu seterusnya, sehingga responden yang dihubungkan semakin lama semakin besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan proses berjalannya pemasaran yang ada di Kelurahan Sungai Paring Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar hingga tahu mentah sampai ke tangan konsumen akhir. Berdasarkan hasil perhitungan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 658.99,- dan keuntungan sebesar Rp 5.441.172,-. saluran pemasaran terdiri dari lima saluran yaitu pada saluran I (produsen → konsumen), saluran II (produsen → pedagang pengecer → konsumen), saluran III (produsen → pedagang pengecer → pedagang besar → konsumen), saluran IV (produsen → pedagang pengecer → pedagang kecil → konsumen akhir), saluran ke V (pedagang pengecer → pedagang besar → pedagang kecil → konsumen). Dari ke lima saluran yang tersedia, biaya keuntungan dan farmer’s share yang diterima bervariatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran II dapat dikatakan lebih efisien karena nilai margin lebih kecil dari pada keempat saluran yang ada. Adapun beberapa permasalahn yang ada di saat produsen tahu rumahan melakukan pemasaran di Kelurahan Sungai Paring Kecamatan Martapura Kabupaten
ANALISIS RISIKO PRODUKSI TANAMAN CABAI RAWIT DI DESA MALILINGIN KECAMATAN PADANG BATUNG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Alfianor Alfianor; Yudi Ferrianta; Hamdani Hamdani
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.663

Abstract

Tanaman hortikultura yang banyak diusahakan di Kalimantan Selatan adalah cabai besar, cabai rawit, terung, semangka, ketimun, dan lain-lain. Produksi tanaman hortikultura mengalami perubahan dalam berproduksi yang fluktuatif meskipun banyak yang mengalami peningkatan produksi dari tahun ke tahun. serangan hama, penyakit,kurangnya keahlian pengelolaan usahatani,kondisi cuaca dan iklim yang berubah-rubah serta sulit diperkirakan dapat menjadi salah satu penyebab naik-turunnya tingkat produksi tanaman hortikultura. Hal ini menunjukan tanaman hortikultura tetap berpotensi mengalami risiko produksi yang akan mempengaruhi jumlah produktivitas. Salah satu kabupaten yang mengusahakan usaha tani yang bergerak dibidang hortikultura adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan salah satunya Kecamatan Padang Batung. Kecamatan Padang Batung ini cukup banyak masyarakatnya bergerak dalam usahatani cabai rawit karena memiliki prospek yang cerah dan sebagai penghasilan tambahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sumber-sumber risiko apa saja yang dihadapi berkaitan dengan kegiatan produksi atau budidaya tanaman cabai rawit dan menganalisis besarnya risiko pada usaha budidaya tanaman cabai rawit di Desa Malilingin Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Jumlah sampel responden diambil sebanyak 30 orang petani dengan menggunakan metode pengambilan sampel secara proportionated random sampling pada semua kelompok tani yang ada. Berdasarkan hasil perhitungan nilai expected return yang diperoleh adalah sebesar 1,512, yang artinya petani cabai rawit di Desa Malilingin mengharapkan perolehan hasil sebanyak 1,512 ton/ha disaat kondisi risiko produksi 43%. Sumber-sumber yang menjadi penyebab terjadinya risiko produksi adalah serangan hama, penyakit, cuaca, dan iklim sulit diprediksi serta kurangnya keahlian manajemen usahatani. Berdasarkan hasil analisis risiko produksi diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,431, artinya pada setiap satu kilogram cabai rawit yang dihasilkan akan mengalami risiko 43% pada saat terjadi risiko produksi. Risiko produksi terjadi pada saat serangan hama, penyakit, cuaca dan iklim sulit diprediksi serta kurangnya keahlian manajemen usahatani.Kata kunci: sumber-sumber risiko, analisis risiko
PERILAKU PETANI PADA USAHATANI LANGSAT (Lansium domesticum) DI KECAMATAN TANTA KABUPATEN TABALONG Ica Katisa Maharani; Djoko Santoso; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2932

Abstract

Buah langsat adalah buah musiman yang merupakan buah endemik dan salah satu ikon daerah Kabupaten Tabalong. Komoditas langsat diusahakan sebagai usahatani penunjang, sehingga tidak ada rumah tangga petani yang menggantungkan hidupnya hanya pada berusahatani langsat sebagai komoditas utama. Hal ini dikarenakan komoditas langsat yang masih diusahakan adalah pohon-pohon warisan sehingga produktivitas yang tidak sama setiap tahun tidak dapat dihindari. Di Kabupaten Tabalong sistem usahatani pada komoditas langsat tidak ditanam pada satu hamparan lahan yang sama (monokultur). Upaya pengembangan dengan tujuan pelestarian terhadap komoditas langsat harus dilakukan melalui upaya perbaikan teknologi maupun sumberdaya manusia dan modal usaha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani langsat pada pengelolaan usahatani langsat dalam upaya peremajaan dan pengembangan usahatani langsat baik secara in-situ atau monokultur, sebagai acuan perbaikan kualitas sumberdaya manusia untuk menunjang pengembangan komoditas langsat di Kabupaten Tabalong. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner dan metode penarikan contoh menggunakan multistage random sampling dan diperoleh 60 petani langsat sebagai responden penelitian. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis faktor. Analisis faktor akan mereduksi 12 faktor yang menjadi pertimbangan petani pada pengelolaan usahatani langsat menjadi faktor yang lebih sedikit jumlahnya. Berdasarkan hasil analisis faktor didapatkan 5 faktor yang menjadi pertimbangan untuk melakukan pengembangan usahatani langsat baik secara ­in-situ atau monokultur yakni, faktor 1 (produktivitas, pengalaman berusahatani, ketersediaan lahan, pihak yang mendukung usahatani langsat dan kegiatan informasi penyuluhan), faktor 2 (teknik budidaya langsat, sarana produksi dan biaya total usahatani), faktor 3 (pendapatan usahatani), faktor 4 (permintaan terhadap buah langsat dan kemitraan pemasaran langsat) dan faktor 5 (keragaman usahatani yang dimiliki).