Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Padi di Desa Sungai Rangas Hambuku Kabupaten Banjar Farras Dita Nurulhuda; Yudi Ferrianta; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6017

Abstract

Petani di Desa Sungai Rangas Hambuku Kabupaten Banjar mengalami variasi terhadap produktivitas padi yang disebabkan oleh penggunaan input produksi, sehingga dapat mengidentifikasi adanya risiko produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas dan risiko produksi, serta mengetahui pendapatan dan kelayakan usahatani padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sungai Rangas Hambuku Kabupaten Banjar dengan jumlah petani responden sebanyak 50 orang dari 673 orang populasi petani. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Penelitian ini menggunakan model Just and Pope untuk menganalisis risiko produksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan penggunaan benih, pupuk, kapur dolomit dan tenaga kerja berdampak besar pada peningkatan produktivitas padi, sekaligus peningkatan penggunaan pestisida dapat menurunkan produktivitas padi. peningkatan penggunaan benih, pupuk, kapur dolomit dan tenaga kerja memiliki pengaruh nyata terhadap peningkatan variance produktivitas, sehingga dapat menimbulkan risiko produksi (risk inducing factor). Rata – rata pendapatan petani responden sebesar Rp 4.882.290,53/usahatani dan Rp 5.738.065,63/Ha.
Analisis Usahatani Kopi Robusta di Desa Lok Tunggul Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar Didit Gunawan; Hairi Firmansyah; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9405

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani buah kopi robusta, menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan dalam usahatani kopi robusta serta permasalahan dalam usahatani kopi robusta. Jumlah responden sebanyak 6 orang diambil menggunakan metode sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan usahatani kopi robusta mendapatkan hasil panen yang baik mulai dari pengolahan lahan sampai dengan teknik penanaman serta pemeliharaan yang tepat dan menyesuaikan waktu. Rata-rata biaya total yang harus dikeluarkan petani yaitu sebesar Rp 32.666.259 per usahatani atau Rp 27.221.885/ha dengan rata-rata biaya eksplisit sebesar Rp 23.742.744 per usahatani atau Rp 19.785.622/ha dan rata-rata biaya implisit sebesar Rp 8.923.515 per usahatani atau Rp 7.436.263/ha. Rata-rata penerimaan usahatani kopi robusta tahun 2022 diperoleh sebesar Rp 45.000.000 per usahatani atau Rp 37.500.000/ha. Rata-rata pendapatan usahatani buah kopi robusta tahun 2022 sebesar Rp 21.248.580 per usahatani atau Rp 17.707.150/ha. Sedangkan rata-rata keuntungan usahatani kopi robusta sebesar Rp 12.166.354 per usahatani atau Rp 10.138.628/ha. Pada usahatani kopi robusta mempunyai masalah pada hama PBKo dan banjir. Hama PBKo, kumbang betina mulai menyerang pada 8 minggu setelah pembungaan saat buah kopi masih lunak untuk mendapatkan makanan sementara, kemudian menyerang buah kopi yang sudah mengeras untuk berkembang biak. Kumbang betina akan menggerek bagian ujung bawah, dan biasanya adanya terlihat adanya kotoran bekas gerekan di sekitar lubang masuk. Banjir di Desa Lok Tunggul Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar sangat mempengaruhi usahatani kopi robusta, bukan hanya gsgal panen, banjir tersebut pun merusak lahan serta tanaman kopi robusta dan mengakibatkan petani kopi mengolah dan memelihara tanaman kopi robusta dari awal.
Analisis Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit Swadaya di Desa Tawan Jaya Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah Muhammad Fahmi; Yusuf Azis; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 7, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i4.11545

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani kelapa sawit swadaya, serta menganalisis pendapatan usahatani kelapa sawit swadaya di Desa Tawan Jaya Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tawan Jaya Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara dari bulan Maret sampai November2023. Metode pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah responden 24 orang, dan jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan analisis pendapatan usahatani. Data yang diperoleh ditabulasi dan kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep biaya eksplisit, penerimaan dan pendapatan usahatani pertahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyelenggaraan usahatani kelapa sawit swadaya di Desa Tawan Jaya Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara. Sebagian besar sudah sesuai anjuran budidaya kelapa sawit. Rata-rata pendapatan petani kelapa sawit swadaya di Desa Tawan Jaya Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara adalah sebesar Rp35.188.043/usahatani/tahun atau Rp8.540.787/ha/tahun.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Bawang Merah di Provinsi Kalimantan Selatan Nur Syifa; Kamiliah Wilda; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i3.5935

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan bawang merah, dan untuk mengetahui elastisitas permintaan bawang merah di Provinsi Kalimantan Selatan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder time series. Sumber data diperoleh dari instansi seperti Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan, Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, dan Pusat Data Informasi Pertanian. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda melalui program SPSS25. Hasil penelitian menunjukkan persamaan Ln Qd=-4,679-0,026 LnX+ 1,541 Ln X model ini memiliki nilai R² sebesar 65,6%. Uji F diperoleh bahwa variabel harga bawang merah dan variabel jumlah penduduk secara bersama berpengaruh terhadap permintaan bawang merah di Provinsi Kalimantan Selatan, sedangkan pada uji-t diperoleh hasil variabel jumlah penduduk berpengaruh nyata, dan variabel harga bawang merah tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan bawang merah di Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil analisis koefisien elastisitas harga bawang merah mempunyai nilai elastisitas sebesar -0,026. Ini berarti bahwa elastisitas bersifat inelastis karena nilai elastisitas kurang dari 1
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI SAWAH DI LAHAN RAWA PASANG SURUT TIPE C KECAMATAN RANTAU BADAUH KABUPATEN BARITO KUALA Kamila Abda Amara; Luki Anjardiani; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2627

Abstract

Lahan rawa menjadi salah satu kendala yang dimiliki Kalimantan Selatan dalam hal bertani. Namun, seiring berjalannya waktu lahan rawa menjadi potensi dan ciri khas yang dimiliki Kalimantan Selatan dalam pengolahan lahan pertanian. Optimalisasi lahan rawa khususnya lahan rawa pasang surut di Kalimantan Selatan akan bisa menopang kemajuan pertanian Indonesia. Pemanfaatan lahan rawa pasang surut berpusat di tiga kabupaten yakni Kabupaten Barito Kuala, Banjar, dan Tapin. Berdasarkan topografi lahan rawa pasang surut terdapat empat tipe lahan yaitu Tipe A, B, C, dan D. Lahan Tipe C berpotensi untuk dapat ditingkatkan dalam penggunaan lahannya, khususnya dalam penerapan teknologi. Dalam penggunaan mesin-mesin berteknologi untuk pengolahan lahan, tanah pada lahan Tipe C akan lebih kuat menahan beban mesin yang digunakan sehingga tanah juga tidak mudah longsor. Oleh karena itu, diperlukan analisis efisiensi teknis usahatani di lahan rawa pasang surut khususnya di lahan Tipe C. Tujuan penelitian ini yakni mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani, tingkat efisiensi usahatani, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi usahatai padi sawah di lahan rawa pasang surut Tipe C Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden dipilih melalui tiga tahap yakni dilakukan secara sengaja (purposive sampling) untuk memilih kecamatan dan desa, serta memilih petani responden sebanyak 30 petani. Berdasarkan hasil penelitian ini produksi usahatani padi sawah di lahan rawa pasang surut Tipe C Kecamatan Rantau Badauh Kabupaten Barito Kuala dipengaruhi secara signifikan dengan taraf nyata 1% oleh pupuk organik, pupuk anorganik, pestisida, dan tenaga kerja, sedangkan dengan taraf nyata 5% oleh luas lahan dan benih padi. Nilai efisiensi teknis rata-rata yang dihasilkan di lokasi penelitian sebesar 0,9843. Sedangkan faktor-faktor inefisiensi teknis lama berusahatani dan tingkat pendidikan berpengaruh negatif pada tingkat inefisiensi teknis.Kata kunci: optimalisasi, rawa pasang surut, tipe C, efisiensi teknis, inefisiensi
Analisis Nilai Tambah Pengolahan Kelapa dalam Menjadi Kopra di Desa Babirah Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Nur Raisatur Rasyidah; Yudi Ferrianta; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i3.10350

Abstract

Kopra adalah putih lembaga (endosperm) buah kelapa dalam yang sudah dikeringkan dengan sinar matahari ataupun panas buatan. Proses produksi kopra berlangsung selama 10 hari menggunakan metode pengolahan Kopra FMS (Fair Merchantable Sundried). Penelitian dilakukan di Desa Babirah Kecamatan Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah, pada Bulan Maret 2023 sampai Bulan Mei 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai tambah yang dapat diciptakan dengan mengolah kelapa dalam menjadi kopra dan permasalahan yang dihadapi pengusaha ketika pelaksanaan proses produksi pengolahan kopra. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu metode sensus dengan mengambil seluruh populasi yaitu 7 pengusaha kopra di Desa Babirah sebagai responden penelitian. Analisis nilai tambah dihitung dengan menggunakan metode nilai tambah yang dikemukakan oleh Hayami, dkk (1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan input sebesar 1.657,14 kg/proses akan menghasilkan 1.035,71 kg/proses dengan perolehan nilai tambah sebesar Rp 2.878,84/kg dan rasio nilai tambah sebesar 70,86% yang termasuk dalam kategori rasio nilai tambah tinggi karena nilainya lebih dari 40%. Hasil nilai tambah didistribusikan sebagai imbalan tenaga kerja sebesar Rp 1.250/kg atau 43,42% dan keuntungan usaha sebesar Rp 1.628,84/kg atau 56,58%. Permasalahan yang dihadapi oleh pengusaha kopra yaitu adanya persaingan kopra dengan produk pengganti yaitu kelapa sawit dan terbatasnya akses terhadap pasar serta terbatasnya infrastruktur desa.
Analisis Pemasaran Industri Rumah Tangga Produksi Tempe di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan Dedi Santoso; Yudi Ferrianta; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.5981

Abstract

Perkembangan industri di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan yang tergolong cepat, salah satunya adalah industri rumah tangga tempe. Metode yang pemasarannya lebih panjang akan mengakibatkan cost pemasaran yang tinggi maka nilai jual produk yang nantinya sampai ke konsumen akhir pun lebih kuat. Sampai saat ini harus ditelaah cara pemasaran tempe dengan mengenali semua faktor pembentuk mekanisme pasar diantaranya lembaga pemasaran, sistem saluran pemasaran, dan manfaat pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran tempe, mengidentifikasi anggaran pemasaran, keuntungan dan margin pemasaran usaha tempe serta mengidentifikasi saluran pemasaran tempe di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan yang paling efisien. Penelitian dilakukan di Kelurahan Guntung Paikat Kecamatan Banjarbaru Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 sampai bulan Februari 2020. Jenis data yang digunakan yakni data primer dan data sekunder. Penelitian dilaksanakan dengan teknik pengambilan contoh cara sengaja (Purporsive sampling) dengan mempertimbangkan industri tempe terbanyak yaitu di Kelurahan Guntung Paikat dan jumlah sampel sebanyak 13 industri pengolahan tempe. Berdasarkan hasil penelitian, pada daerah penelitian terdapat 2 saluran pemasaran, yaitu saluran I yaitu bentuk saluran yang dapat dikatakan pendek dan sederhana karena beberapa pengusaha industri tempe di Kelurahan Guntung Paikat ini memasarkan produk mereka tanpa lembaga perantara tetapi mereka langsung menjual kepada konsumen, dan metode II yaitu tampak satu lembaga perantara yakni pedagang pengecer. Rata-rata biaya pada saluran I sebesar Rp 626,64/kg, keuntungan 623,36/kg margin total Rp 1.250/kg dan share 82,76%. Adapun rata-rata biaya pada saluran II yakni sebesar Rp 479,51/kg keuntungan Rp 479,51/kg margin total Rp 1.100/kg dan share 86,25%.
Tingkat Kecemasan Komunikasi dan Kepuasan Kerja Penyuluh Pertanian Lapangan di Kabupaten Balangan Ade Perdana; Yudi Ferrianta; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1314

Abstract

Abstrak. Indonesia merupakan negara agraris, dimana sebagian besar penduduknya merupakan petani. Penyuluhan pertanian memiliki peranan penting dalam pembangunan pertanian, yaitu sebagai agen pengubah (agent of change). Terdapat hubungan antara penyuluhan pertanian dan faktor psikologis. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kinerja antara lain pendidikan formal dan faktor psikologis yaitu harga diri, kecemasan berkomunikasi, kepuasan kerja, dan motivasi berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh pertanian lapangan di kabupaten Balangan, mengetahui tingkat kepuasan kerja yang dimiliki oleh penyuluh pertanian lapangan di Kabupaten Balangan. Populasi penelitian ini adalah seluruh penyuluh yang ada di Kabupaten Balangan yang berjumlah 51 orang. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak proporsional dengan jumlah sampel yang diinginkan sebanyak 25 orang. Hasil analisis bahwa tingkat kecemasan komunikasi responden penyuluh di Kabupaten Balangan berada pada skor 50% yang masuk pada kategori rendah. Artinya kecemasan komunikasi tidak begitu dirasakan penyuluh. Tingkat kepuasan kerja responden penyuluh di Kabupaten Balangan berada pada skor 78,00% (tinggi). Artinya kepuasan kerja yang dirasakan penyuluh sudah dalam kategori baik.Kata kunci: kecemasan komunikasi, kepuasan kerja 
ANALISIS KOMPARATIF KEUNTUNGAN USAHA TERNAK AYAM RAS PEDAGING ANTARA POLA KEMITRAAN DENGAN POLA MANDIRI DI KABUPATEN BANJAR Alif Wahyuning Tyas; Yudi Ferrianta; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i1.2635

Abstract

Krisis protein hewani dapat membahayakan kemajuan bangsa sehingga perlu peningkatan ketersediaan sumber gizi terutama protein hewani. Salah satu hewan ternak yang dapat menghasilkan daging ialah ayam ras pedaging. Usaha ternak ayam ras pedaging di Kabupaten Banjar dimulai dengan usaha mandiri dalam skala usaha kecil guna memenuhi kebutuhan keluarga. Keterbatasan mendorong peternak untuk melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. Kemitraan ialah suatu strategi bisnis dengan tujuan untuk saling menguntungkan dan memberikan manfaat antara pihak yang bermitra. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis perbedaan keuntungan yang diperoleh peternak ayam ras pedaging dengan pola kemitraan dan mandiri di Kabupaten Banjar dan mengetahui permasalahan yang dihadapi peternak ayam ras pedaging dengan pola kemitraan dan mandiri di Kabupaten Banjar. Penelitian dilaksanakan di dua tempat peternakan, yaitu dengan pola kemitraan (bermitra dengan PT Ciomas Adisatwa) dan pola mandiri. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukan rata-rata biaya total peternak pola kemitraan adalah sebesar Rp223.597.362,50 per periode, sedangkan rata-rata biaya total peternak pola mandiri adalah sebesar Rp210.665.777,79 per periode. Rata-rata penerimaan peternak pola kemitraan adalah sebesar  Rp289.575.153,84 per periode, sedangkan rata-rata penerimaan peternak mandiri adalah sebesar  Rp260.535.666,67 per periode. Rata-rata keuntungan peternak pola kemitraan yaitu  Rp65.977.791,34 per periode, sedangkan rata-rata keuntungan peternak mandiri adalah sebesar Rp49.869.888,88 per periode. Berdasarkan analisis statistik uji t menunjukkan bahwa t hitung (1.183) ≠ t tabel (1.740). Artinya H0 diterima dan H1 ditolak, bearti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata keuntungan usaha ternak ayam ras pedaging pola kemitraan dengan pola mandiri. Permasalahan yang dihadapi peternak pola kemitraan dan mandiri yaitu heat stress pada musim kemarau, anak ayam yang mudah kedinginan pada musim hujan, pakan yang menjadi lembab pada musim hujan, kurangnya pengetahuan peternak mandiri dalam pengaplikasian vaksin dan vitamin, kurangnya frekuensi bimbingan teknis penyuluh perusahaan kepada peternak plasma dan sulit mendapatkan bibit ayam (Day Old Chick) unggul yang dialami peternak mandiri yang menyebabkan tingginya tingkat mortalitas ternak sebesar 57,31%.  Kata kunci: perbandingan keuntungan, pola kemitraan, pola mandiri, ternak ayam ras pedaging 
Analisis Permintaan Daging Sapi di Provinsi Kalimantan Selatan Ikka Mayrani; Yudi Ferrianta; Hairi Firmansyah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i2.798

Abstract

Di Indonesia konsumsi daging sapi terus mengalami peningkatan. Sementara, produksi sapi potong di Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2016 sebesar 6.747.539 kg dari produksi sebelumnya di tahun 2015 sebesar 6.859.529 kg. Penurunan produksi sapi potong disebabkan oleh kebiasaan peternak yang hanya menjual sapi mereka untuk dipotong saat keperluan mendesak saja, oleh karena itu produksi daging sapi lokal sendiri masih belum tercukupi. Sementara itu, menurut data yang dihimpun dari Dinas Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan selama kurun waktu 2012-2016 konsumsi daging sapi tiap tahun juga mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat di Kalimantan Selatan membatasi konsumsi daging sapi dan hanya pada hari-hari besar tertentu. Meskipun konsumsi daging sapi di Kalimantan Selatan rendah, produksi daging sapi masih belum dapat mencukupi kebutuhan daging sapi lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi permintaan konsumen terhadap permintaan daging sapi di Provinsi Kalimantan Selatan, serta menganalisis elastisitas permintaan daging sapi di Provinsi Kalimantan Selatan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder kuantitatif dengan model runtut waktu yang terdiri dari Tahun 2003 hingga Tahun 2018. Berdasarkan hasil perhitungan variasi permintaan daging sapi di Provinsi Kalimantan Selatan didapat sebesar 86% yang berarti variasi permintaan daging sapi di Kalimantan Selatan dapat dijabarkan oleh variabel bebas yang ada pada penelitian ini yaitu harga daging sapi, harga daging ayam ras, harga telur ayam, dan pendapatan per kapita, sedangkan angka sebesar 14% merupakan penegasan faktor lain yang tidak terdapat pada model persamaan. Pengujian secara parsial menunjukan bahwa variabel harga daging ayam ras, harga telur ayam ras, dan pendapatan per kapita masyarakat Kalimantan Selatan berpengaruh secara nyata terhadap permintaan daging sapi, sedangkan variabel harga daging sapi tidak berpengaruh secara nyata terhadap permintaan daging sapi. Nilai elastisitas permintaan daging sapi di Provinsi Kalimantan Selatan terhadap variabel harga daging sapi, variabel harga ayam ras, variabel harga telur, dan variabel pendapatan bernilai in-elastis.Kata kunci: daging sapi, analisis permintaan, elastisitas