Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Semiotics of Sexual Harassment Representation in Photocopier: A John Fiske Semiotic Theory of Reality Representation and Ideology Farraz Haecal, Mohammad Irfan; Muliadi, Muliadi; Taufiq, Wildan
Journal of Islamic Heritage and Civilization Vol. 1 No. 3 (2025): Islamic Heritage and Civilization
Publisher : Tunas Harapan Ummat Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0501/senarai.2025.1.3.87-102

Abstract

Sexual harassment is an interesting issue in a nation that was once safe and peaceful, Indonesia. Sexual harassment seizures that get less attention, both from the authorities and the authorities or even have to choose silence when dealing with the more powerful parties often occur. This creates a negative stigma and causes sexual abuse traffickers to be afraid to complain about the crimes that occur to themselves and the absence of a deterrent effect on the perpetrator makes the perpetrators act freely because they feel themselves safe. This phenomenon was made into a Light Confiscation Film Photocopier. The purpose of the researchers in raising this discussion is to describe and represent the case of sexual harassment raised in the film Photocopier. Researchers used analytical techniques using qualitative methods and took John Fiske's semiotic examination methods to pass codes and profound importance on to films. The outcomes showed that the portrayal of sexual brutality in this film there are three phases as per John Fiske covering the degree of the real world, the degree of portrayal and the degree of philosophy inferred from the depiction of sexual violence carried out and concluded that in this film use patriarchal ideology and social class.
Balaghah-Informed Examination of Dilalah Jumlah Ismiyyah and Filiyyah for Holistic Quranic Understanding Farraz Haecal, Mohammad Irfan; Komarudin, Edi; Taufiq, Wildan
Journal of Islamic Heritage and Civilization Vol. 1 No. 3 (2025): Islamic Heritage and Civilization
Publisher : Tunas Harapan Ummat Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0501/senarai.2025.1.3.103-113

Abstract

This article explores the critical role of Dilalah Jumlah Ismiyyah (implications of nominal quantity) and Dilalah Jumlah Fi'liyyah (implications of verbal quantity) in the profound interpretation of the Holy Qur'an. As the foundational text of Islam, the Qur'an necessitates a comprehensive linguistic and rhetorical understanding to fully grasp its spiritual and practical guidance. We argue that analyzing the quantitative nuances within nominal (ism) and verbal (fi'il) structures is indispensable for unveiling the divine messages. The study delves into how the singular or plural usage of nouns and verbs influences meaning, conveying concepts ranging from God's absolute oneness to the collective responsibilities of humanity. Furthermore, it highlights the intricate relationship between Ismiyyah and Fi'liyyah, demonstrating how they mutually reinforce semantic depth and rhetorical impact within Qur'anic discourse. By integrating Balaghah (Arabic rhetoric) and considering the broader historical, cultural, and spiritual contexts of revelation, this research proposes a refined approach to Qur'anic exegesis. Ultimately, a meticulous examination of quantitative dilalah enriches our comprehension of the Qur'an's multifaceted meanings and its timeless ethical and moral teachings.
Tinjauan Linguistik atas Istifhām dan Tasybīh sebagai Strategi Retoris dalam Al-Qur’an Azmi, Pendi Nurul; Fillaili, Fikri; Taufiq, Wildan; Komarudin, Edi
Journal of Islamic Heritage and Civilization Vol. 1 No. 3 (2025): Islamic Heritage and Civilization
Publisher : Tunas Harapan Ummat Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0501/senarai.2025.1.3.127-138

Abstract

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya memuat petunjuk kehidupan, tetapi juga menyimpan kekayaan gaya bahasa yang tinggi. Dua di antara perangkat balāghah yang banyak ditemukan dalam al-Qur’an adalah istifhām (interogasi) dan tasybīh (perumpamaan). Kajian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan istifhām dan tasybīh dalam al-Qur’an dari sudut pandang ilmu balāghah, serta menyingkap keindahan makna dan efek retoris yang ditimbulkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis isi terhadap ayat-ayat yang mengandung istifhām dan tasybīh. Hasil kajian menunjukkan bahwa istifhām dalam al-Qur’an tidak selalu bermakna pertanyaan, tetapi seringkali digunakan untuk pengingkaran, penegasan, pengajaran, dan pengalihan perhatian, sesuai konteks ayat. Sementara tasybīh digunakan untuk mengkonkretkan makna abstrak, memperkuat pesan moral, dan membentuk imajinasi estetis yang kuat dalam benak pembaca. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap perangkat balāghah seperti istifhām dan tasybīh sangat penting untuk menangkap makna dan pesan ilahi yang lebih utuh dalam al-Qur’an.  
Analisis Tafsir Maqāṣidī Muḥammad Ṭāḥir bin ‘Āsyūr Pada Ayat Qiṣāṣ Rohman, Abdul; Zulaiha, Eni; Taufiq, Wildan
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.13195

Abstract

AbstractThis paper discusses the concept of maqāṣidī Ibn 'Asyūr's interpretation and its implementation in qiṣāṣ verses. The purpose of this paper is to find out the construction of maqāṣidī Ibn 'Āsyūr's interpretation and the implementation of the interpretation of the qiṣāṣ verses in the Qur'an. The method used is descriptive analysis with literature study. The analytical approach used is the Jasser Audah systems approach. The result obtained is that the maqāṣidī interpretation constructed by Ibn 'Āsyūr is generally oriented towards achieving benefit and rejecting damage. Its achievement is based on the realization of safeguarding the five most basic things, namely protecting religion, soul, lineage, property, and mind; This benefit is realized in three forms of maqāṣid, namely maqāṣid 'ām (general), maqāṣid khāṣṣ (special) and maqāṣid juziyyah (partially); Implementation of the interpretation of the maqāṣidī Ibn 'Āsyūr concept in the verse qiṣāṣ results in an interpretation that qiṣāṣ law has five main objectives (maqāṣid), namely enforcing fair laws, preventive goals, nuanced equality, protecting life and creating stability and security of society.Keywords: Ibn ‘Āsyūr; Interpretation of Maqāṣidī; Qiṣāṣ. AbstrakTulisan ini membahas tentang konsep tafsir maqāṣidī Ibn 'Asyūr dan implementasinya pada ayat-ayat qiṣāṣ. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui konstruksi tafsir maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dan implementasi penafsiran pada ayat-ayat qiṣāṣ dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan studi pustaka. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan sistem Jasser Audah. Hasil yang didapatkan adalah bahwa tafsir maqāṣidī yang dikonstruksikan oleh Ibn 'Āsyūr pada umumnya berorientasi pada pencapaian kemaslahatan dan penolakan pada kerusakan. Pencapaiannya didasarkan pada terjaganya lima hal yang paling mendasar, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, harta dan akal; kemaslahatan ini diwujudkan dalam tiga bentuk maqāṣid, yaitu maqāṣid 'ām (umum), maqāṣid khāṣṣ (khusus) dan maqāṣid juziyyah (sebagian); Implementasi penafsiran konsep maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dalam ayat qiṣāṣ menghasilkan tafsir bahwa hukum qiṣāṣ memiliki lima tujuan utama (maqāṣid), yaitu menegakkan hukum yang berkedilan, tujuan preventif, bernuansa persamaan hukum, melindungi kehidupan serta menciptakan stabilitas dan keamanan masyarakat. Kata Kunci: Ibn ‘Āsyūr; Qiṣāṣ; Tafsir Maqāṣidī.
Representasi Moralitas dalam Narasi Kebohongan pada Film AL-Khallat (Kajian Semiotika) Azizah, Rahmalia Nur; Nurlinah, Nurlinah; Taufiq, Wildan
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July, Social Studies, Educational Research and Humanities Research.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.47339

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti moralitas dalam narasi kebohongan yang terkandung dalam film-film al-Khallat melalui semiotika Ferdinand de Saussure dan pendekatan semiotik teori moral. Film al-Khallat mengungkapkan berbagai cerita tentang kebohongan, penipuan dan konflik etika yang mencerminkan dinamika moral masyarakat modern. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, peneliti menganalisis banyak adegan penting dalam film, menunjukkan bahwa mereka terletak pada konteks hubungan keluarga, sosial dan profesional. Studi ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya mencerminkan perilaku tidak bermoral, tetapi sering dikaitkan dengan motif perlindungan, kepentingan pribadi dan konflik nilai. Setiap tindakan diteliti menggunakan petanda dan penanda yang ada juga meneliti kategori karakter untuk mengungkapkan makna tersembunyi di balik bahasa dan perilaku ilustrasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kebohongan memiliki aspek moral yang kompleks dan tidak selalu diklasifikasikan sebagai baik atau buruk. Penelitian ini berkontribusi pada penyelidikan moralitas di media populer dan memperluas pemahaman kita tentang dinamika etika dalam budaya visual.
Estetika Makna dalam Komunikasi Al-Qur’an: Studi Stilistika atas Muhassinat Ma‘nawiyyah dalam Ayat-Ayat Sosial Fitriansyah, Muhammad Bayu; Imam, Jahira Salsabila Nurul; Komarudin, Edi; Taufiq, Wildan
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2025): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i3.742

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran keindahan makna (muhassināt ma‘nawiyyah) dalam ayat-ayat sosial Al-Qur’an sebagai strategi komunikasi yang etis, persuasif, dan berdampak transformatif. Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya penelitian yang menyoroti dimensi makna estetis dalam ilmu balāghah, yang selama ini lebih banyak berfokus pada aspek bentuk atau gaya bahasa semata. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan metode studi teks, penelitian ini menganalisis empat ayat sosial, yaitu QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3, Al-Ḥujurāt: 11, An-Nisā’: 36, dan Al-Baqarah: 177. Data diperoleh melalui dokumentasi teks Al-Qur’an serta penafsiran dari ulama klasik dan kontemporer, seperti al-Ṭabarī, al-Rāzī, Quraish Shihab, dan Nasr Abu Zayd. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur-unsur retoris seperti muṭābaqah, jinās, dan taḥbīb tidak hanya memperindah bahasa, tetapi juga memperkuat penyampaian pesan moral dengan efek emosional yang kuat dan resistensi yang rendah dari audiens. Temuan ini memperluas pemahaman stilistika dalam tafsir Al-Qur’an dan menawarkan model komunikasi dakwah yang lebih humanis serta relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Penelitian ini juga merekomendasikan pentingnya revitalisasi pembelajaran ilmu balāghah dan pengembangan pendekatan tafsir berbasis fungsi retoris di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
BAHAR, QAFIYAH DAN AMANAT QASIDAH HURUF BA DALAM DIWAN IMAM AL HADDAD Kulsum, Ummu; Taufiq, Wildan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 3 No 1 (2020): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v3i2.5479

Abstract

Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad adalah seorang waliyullah yang  Diwan al Durr al Mandzum li dzawi al ‘Uquli wa al Fuhum adalah salah satu karya Al Habib Imam Al Haddad yang sangat luarbiasa. Kitab ini menyajikan berbagai macam qasidah dengan memuat didalamnya berbagai rahasia al Qur’an sehingga setiap pembaca akan merasakan perasaan dan emosi yang kuat terhadap setiap pesan yang disampaikan seperti kala membaca al Qur’an. Sebuah syair arab tidak akan pernah terlepas dari kaidah ilmu arudl dan qawafi dalam penyusunannya. Untuk membuktikan pola syair tersebut serta pesan apa saja yang disampaikan, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kajian strukturalisme. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa adanya beberapa qasidah yang mengalami perubahan dari pola syair yang telah ditentukan serta amanat yang sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi SAW
SIMBOL KEKERASAN POLITIK DI IRAK ERA KEPEMIMPINAN SADDAM HUSSEIN DALAM NOVEL UKHRUJ MINHA YA MAL’UN KARYA SADDAM HUSSEIN (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE) Soemargono, Ahmad Bambang; Ainusyamsi, Fadlil Yani; Taufiq, Wildan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 2 No 1 (2019): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v2i1.6474

Abstract

Penelitian ini berjudul simbol kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un Karya Saddam Hussein. Saddam Hussein adalah seorang presiden di negara Irak sekaligus sastrawan yang hebat. Ia menggunakan karya sastra sebagai alat pengkritik untuk melawan kekerasan-kekerasan yang dilakukan musuhnya. Seperti dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un yang didalamnya banyak menceritakan kelicikan dan kejahatan yang dilakukan oleh musuhnya yaitu Amerika. Ia juga menciptakan beberapa karya sastra diantaranya novel yang berjudul Zabibah Wa al-Mulk, al-Qal’ah al-Hashinah, Rijal Wa Madinah dan Ukhruj Minha Ya Mal’un. Maka dari itu, peneliti menggunakan novel sebagai objek dalam penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk memahami simbol  kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dan mendeskripsikan makna kekerasan politik yang terdapat dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un karya Saddam Hussein. Sehingga dalam novel tersebut, dapat diketahui variasi kekerasan politik yang disimbolkan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan sesuai dengan hasil menelaah dan mengkaji sumber data yang didapatkan dari novel Ukhruj Minha Ya Mal’un. Sedangkan kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep triadik Semiotika Charles S. Peirce, yaitu mengungkap Representamen (R), Objek (O), serta Interpretan (I).Berdasarkan analisis, penelitian ini ditemukan 20 data yang memberikan simbol-simbol kekerasan politik, diantaranya: (1) kekerasan tidak langsung (indirect violence); (2) kekerasan alienatif (alienative violence); (3) kekerasan refresif (represif violence); (4) peperangan; (5) revolusi. Kekerasan politik adalah suatu kondisi yang sangat tidak ingin dihadapi oleh sebagian besar dari  masyarakat serta hanya menguntungkan bagi elit politik saja. Karena hal itu, dengan adanya analisis ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjadi dasar dalam mengenal dan mengetahui variasi dari kekerasan politik yang biasa terjadi disekelilingnya. 
RAGAM BAHASA SANTRI DI PONDOK PESANTREN Nugraha, Eghy Farhan; Taufiq, Wildan; Halim, Muhammad Abdul
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4 No 2 (2021): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i2.9298

Abstract

ABSTRAK            Gejala campur kode dan interferensi merupakan akibat dari adanya penutur bilingual atau multilingual. Begitu pula yang terjadi dengan subjek peneliti di pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna Tasikmalaya yang memiliki santri dari latar belakang yang berbeda.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk dan faktor-faktor campur kode serta interferensi yang terdapat dalam tuturan santri pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna Tasikmalaya.            Adapun penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Dalam metode pengumpulan data, peneliti menggunakan metode simak dan cakap. Metode simak hanya menggunakan teknik sadap dengan merekam percakapan melalui aplikasi smartphone. Dalam metode cakap, peneliti menggunakan teknik pancing serta rekaman. Kemudian data dianalisis dengan mencari tuturan santri pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna yang didalamnya mengandung campur kode dan interferensi.            Hasil dari penelitian ialah berupa bentuk campur kode ke luar dan ke dalam yang berwujud penyisipan kata dan frase. Adapun interferensi bahasa terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode dan interferensi dalam tuturan santri pondok pesantren Al-furqon Muhammadiyah Singaparna ialah berdasarkan asal usul penutur berasal, kebergantungan dengan bahasa Ibu, dan kurangnya padanan kata pada bahasa penerima.  Kata Kunci: Tuturan santri, Campur kode, Interferensi.
PENGEMBANGAN TEORI SEMANTIK BAHASA ARAB & AL-QUR’AN DALAM BINGKAI WAHYU MEMANDU ILMU TAUFIQ, WILDAN; LISTIANI, TONENG
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 8 No 2 (2025): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v8i2.44058

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan teori sarjana Arab klasik, salah satunya teori Semantik al Amidiyy dalam karya monumentalnya al-Ihkām fi Ushūl al-Ahkām. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil analisis pada karya al Amidiy ditemukan teori asal-usul bahasa yaitu teori wadh’i – tauqifi (bahasa diciptakan oleh manusia/Allah). Menurut al Amidiy Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna (dilālah) bagi tuturan. Tanda  bahasa menurutnya terbagi dua: bunyi dan isyarat tubuh. Menurut Al-Amidiy bahasa bersifat “arbitrer” (wadh’u ikhtiyāriy). Menurut al Amidiy makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainkan tergantung pada maksud penutur. Teori referensial, menurutnya terdiri dari tiga aspek: makna (madlul), kata (dāl/lafazh) dan interpretrant (mutakallim/wādhi’) yang menentukan dāl dan madlūl-nya. Hubungan antar makna menurutnya terbagi tiga: musytarak (polisemi), mutaradif (sinonim) dan mutabayin (kata biasa).  Adapun jenis makna menurut al Amidiy adalah sebagai berikut: Muthlaq & Muqayyad, Mujmal & Bayan, Hakikat (pokok) & Majāz (Cabang), Dilalāh Manzhūm; Dilālah ghair manzhūm. Kata Kunci: Bahasa Arab, Teori Semantik, al-Amidi, Ushul Fiqh.