Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Representasi Moralitas dalam Narasi Kebohongan pada Film AL-Khallat (Kajian Semiotika) Azizah, Rahmalia Nur; Nurlinah, Nurlinah; Taufiq, Wildan
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July, Social Studies, Educational Research and Humanities Research.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.47339

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti moralitas dalam narasi kebohongan yang terkandung dalam film-film al-Khallat melalui semiotika Ferdinand de Saussure dan pendekatan semiotik teori moral. Film al-Khallat mengungkapkan berbagai cerita tentang kebohongan, penipuan dan konflik etika yang mencerminkan dinamika moral masyarakat modern. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, peneliti menganalisis banyak adegan penting dalam film, menunjukkan bahwa mereka terletak pada konteks hubungan keluarga, sosial dan profesional. Studi ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya mencerminkan perilaku tidak bermoral, tetapi sering dikaitkan dengan motif perlindungan, kepentingan pribadi dan konflik nilai. Setiap tindakan diteliti menggunakan petanda dan penanda yang ada juga meneliti kategori karakter untuk mengungkapkan makna tersembunyi di balik bahasa dan perilaku ilustrasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kebohongan memiliki aspek moral yang kompleks dan tidak selalu diklasifikasikan sebagai baik atau buruk. Penelitian ini berkontribusi pada penyelidikan moralitas di media populer dan memperluas pemahaman kita tentang dinamika etika dalam budaya visual.
Estetika Makna dalam Komunikasi Al-Qur’an: Studi Stilistika atas Muhassinat Ma‘nawiyyah dalam Ayat-Ayat Sosial Fitriansyah, Muhammad Bayu; Imam, Jahira Salsabila Nurul; Komarudin, Edi; Taufiq, Wildan
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2025): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v6i3.742

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran keindahan makna (muhassināt ma‘nawiyyah) dalam ayat-ayat sosial Al-Qur’an sebagai strategi komunikasi yang etis, persuasif, dan berdampak transformatif. Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya penelitian yang menyoroti dimensi makna estetis dalam ilmu balāghah, yang selama ini lebih banyak berfokus pada aspek bentuk atau gaya bahasa semata. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan metode studi teks, penelitian ini menganalisis empat ayat sosial, yaitu QS. Al-Muṭaffifīn: 1–3, Al-Ḥujurāt: 11, An-Nisā’: 36, dan Al-Baqarah: 177. Data diperoleh melalui dokumentasi teks Al-Qur’an serta penafsiran dari ulama klasik dan kontemporer, seperti al-Ṭabarī, al-Rāzī, Quraish Shihab, dan Nasr Abu Zayd. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur-unsur retoris seperti muṭābaqah, jinās, dan taḥbīb tidak hanya memperindah bahasa, tetapi juga memperkuat penyampaian pesan moral dengan efek emosional yang kuat dan resistensi yang rendah dari audiens. Temuan ini memperluas pemahaman stilistika dalam tafsir Al-Qur’an dan menawarkan model komunikasi dakwah yang lebih humanis serta relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Penelitian ini juga merekomendasikan pentingnya revitalisasi pembelajaran ilmu balāghah dan pengembangan pendekatan tafsir berbasis fungsi retoris di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
BAHAR, QAFIYAH DAN AMANAT QASIDAH HURUF BA DALAM DIWAN IMAM AL HADDAD Kulsum, Ummu; Taufiq, Wildan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 3 No 1 (2020): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v3i2.5479

Abstract

Al Habib Abdullah bin Alwi al Haddad adalah seorang waliyullah yang  Diwan al Durr al Mandzum li dzawi al ‘Uquli wa al Fuhum adalah salah satu karya Al Habib Imam Al Haddad yang sangat luarbiasa. Kitab ini menyajikan berbagai macam qasidah dengan memuat didalamnya berbagai rahasia al Qur’an sehingga setiap pembaca akan merasakan perasaan dan emosi yang kuat terhadap setiap pesan yang disampaikan seperti kala membaca al Qur’an. Sebuah syair arab tidak akan pernah terlepas dari kaidah ilmu arudl dan qawafi dalam penyusunannya. Untuk membuktikan pola syair tersebut serta pesan apa saja yang disampaikan, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kajian strukturalisme. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa adanya beberapa qasidah yang mengalami perubahan dari pola syair yang telah ditentukan serta amanat yang sesuai dengan ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi SAW
SIMBOL KEKERASAN POLITIK DI IRAK ERA KEPEMIMPINAN SADDAM HUSSEIN DALAM NOVEL UKHRUJ MINHA YA MAL’UN KARYA SADDAM HUSSEIN (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE) Soemargono, Ahmad Bambang; Ainusyamsi, Fadlil Yani; Taufiq, Wildan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 2 No 1 (2019): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v2i1.6474

Abstract

Penelitian ini berjudul simbol kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un Karya Saddam Hussein. Saddam Hussein adalah seorang presiden di negara Irak sekaligus sastrawan yang hebat. Ia menggunakan karya sastra sebagai alat pengkritik untuk melawan kekerasan-kekerasan yang dilakukan musuhnya. Seperti dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un yang didalamnya banyak menceritakan kelicikan dan kejahatan yang dilakukan oleh musuhnya yaitu Amerika. Ia juga menciptakan beberapa karya sastra diantaranya novel yang berjudul Zabibah Wa al-Mulk, al-Qal’ah al-Hashinah, Rijal Wa Madinah dan Ukhruj Minha Ya Mal’un. Maka dari itu, peneliti menggunakan novel sebagai objek dalam penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk memahami simbol  kekerasan politik di Irak era kepemimpinan Saddam Hussein dan mendeskripsikan makna kekerasan politik yang terdapat dalam novel Ukhruj Minha Ya Mal’un karya Saddam Hussein. Sehingga dalam novel tersebut, dapat diketahui variasi kekerasan politik yang disimbolkan.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan sesuai dengan hasil menelaah dan mengkaji sumber data yang didapatkan dari novel Ukhruj Minha Ya Mal’un. Sedangkan kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep triadik Semiotika Charles S. Peirce, yaitu mengungkap Representamen (R), Objek (O), serta Interpretan (I).Berdasarkan analisis, penelitian ini ditemukan 20 data yang memberikan simbol-simbol kekerasan politik, diantaranya: (1) kekerasan tidak langsung (indirect violence); (2) kekerasan alienatif (alienative violence); (3) kekerasan refresif (represif violence); (4) peperangan; (5) revolusi. Kekerasan politik adalah suatu kondisi yang sangat tidak ingin dihadapi oleh sebagian besar dari  masyarakat serta hanya menguntungkan bagi elit politik saja. Karena hal itu, dengan adanya analisis ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjadi dasar dalam mengenal dan mengetahui variasi dari kekerasan politik yang biasa terjadi disekelilingnya. 
RAGAM BAHASA SANTRI DI PONDOK PESANTREN Nugraha, Eghy Farhan; Taufiq, Wildan; Halim, Muhammad Abdul
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4 No 2 (2021): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i2.9298

Abstract

ABSTRAK            Gejala campur kode dan interferensi merupakan akibat dari adanya penutur bilingual atau multilingual. Begitu pula yang terjadi dengan subjek peneliti di pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna Tasikmalaya yang memiliki santri dari latar belakang yang berbeda.            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk dan faktor-faktor campur kode serta interferensi yang terdapat dalam tuturan santri pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna Tasikmalaya.            Adapun penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Dalam metode pengumpulan data, peneliti menggunakan metode simak dan cakap. Metode simak hanya menggunakan teknik sadap dengan merekam percakapan melalui aplikasi smartphone. Dalam metode cakap, peneliti menggunakan teknik pancing serta rekaman. Kemudian data dianalisis dengan mencari tuturan santri pondok pesantren Al-Furqon Muhammadiyah Singaparna yang didalamnya mengandung campur kode dan interferensi.            Hasil dari penelitian ialah berupa bentuk campur kode ke luar dan ke dalam yang berwujud penyisipan kata dan frase. Adapun interferensi bahasa terjadi pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode dan interferensi dalam tuturan santri pondok pesantren Al-furqon Muhammadiyah Singaparna ialah berdasarkan asal usul penutur berasal, kebergantungan dengan bahasa Ibu, dan kurangnya padanan kata pada bahasa penerima.  Kata Kunci: Tuturan santri, Campur kode, Interferensi.
PENGEMBANGAN TEORI SEMANTIK BAHASA ARAB & AL-QUR’AN DALAM BINGKAI WAHYU MEMANDU ILMU TAUFIQ, WILDAN; LISTIANI, TONENG
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 8 No 2 (2025): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v8i2.44058

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan teori sarjana Arab klasik, salah satunya teori Semantik al Amidiyy dalam karya monumentalnya al-Ihkām fi Ushūl al-Ahkām. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil analisis pada karya al Amidiy ditemukan teori asal-usul bahasa yaitu teori wadh’i – tauqifi (bahasa diciptakan oleh manusia/Allah). Menurut al Amidiy Perbedaan struktur bunyi akan menghasilkan makna (dilālah) bagi tuturan. Tanda  bahasa menurutnya terbagi dua: bunyi dan isyarat tubuh. Menurut Al-Amidiy bahasa bersifat “arbitrer” (wadh’u ikhtiyāriy). Menurut al Amidiy makna suatu kata tidak otomatis menunjukan benda-benda tertentu, melainkan tergantung pada maksud penutur. Teori referensial, menurutnya terdiri dari tiga aspek: makna (madlul), kata (dāl/lafazh) dan interpretrant (mutakallim/wādhi’) yang menentukan dāl dan madlūl-nya. Hubungan antar makna menurutnya terbagi tiga: musytarak (polisemi), mutaradif (sinonim) dan mutabayin (kata biasa).  Adapun jenis makna menurut al Amidiy adalah sebagai berikut: Muthlaq & Muqayyad, Mujmal & Bayan, Hakikat (pokok) & Majāz (Cabang), Dilalāh Manzhūm; Dilālah ghair manzhūm. Kata Kunci: Bahasa Arab, Teori Semantik, al-Amidi, Ushul Fiqh. 
Perkembangan Makna Poligami Dalam Al-Qur'an Surat An-Nisāʾ Ayat 3 Dan 129: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Salsabila Nurul Imam, Jahira; Muliadi, Muliadi; Taufiq, Wildan
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 4 No. 2 (2025): JUQUTS: Journal of Ulumul Quran and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/3bgj4d62

Abstract

Isu poligami dalam Islam terus menjadi perdebatan, baik dalam ranah hukum maupun etika, terutama terkait dengan pemaknaan terhadap ayat ayat yang dianggap melegitimasinya. Meskipun Al-Qur'an memberikan ruang bagi praktik poligami, teks tersebut juga menekankan keharusan berlaku adil-yang secara eksplisit dinyatakan sulit tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan makna poligami dalam Al-Qur'an berdasarkan QS. An-Nisa [4]: 3 dan QS. An-Nisa [4]: 129 melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Kedua ayat ini menciptakan ketegangan hermeneutik antara kebolehan poligami secara terbatas dan pengakuan atas keterbatasan manusia dalam menegakan keadilan emosional. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, kajian ini menganalisis teks ayat tafsir klasik (Ibn katsir), tafsir reformis (al-Manar), dan pemikiran kontemporer (Nasr Hamid Abu Zayd). Hasilnya menunjukan bahwa makna poligami mengalami proses semiosis -yakni pergeseran dan perkembangan interpretasi yang bersifat progressif. Dari kebolehan bersyarat menuju prefensi etis terhadap monogami, pembacaan ini menegaskan bahwa makna ayat tidak statis, melainkan terbuka terhadap penafsiran baru yang lebih kontekstual dan berorientasi keadilan.
Types and Purposes of Kinayah in the Qur’an Syam, Ishmatul Karimah; Komarudin, Edi; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2022): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v1i1.19394

Abstract

This study aims to examine and explain kinayah, including the meaning, types, function, and purpose in the Qur'an. This research is qualitative by going through library research and research. This study concludes that kinayah is included in one of the balaghah sciences which discusses the meaning of a word not only from the prevalence of its meaning, but also its meaning can be understood with its true meaning. Kinayah also has several types and the distribution of each type. The purpose of the existence of kinayah in the Qur'an, among others, is to remember the greatness of God, beautify words, avoid taboo sentences, and the like. This simple research is expected to benefit and add insight to religious studies, especially in the language field.
The Phenomenon of Thunder in the Qur'an: A Semiotic Analysis of Roland Barthes Fikri Ys, Irsyad Al; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.20131

Abstract

This article aims to reveal the meaning of symbolism about the phenomenon of thunder and to uncover the symbolic meaning behind the verses that mean thunder in the Alquran. The background of the writing of this article originated from phenomenon thunder that occurs naturally and is mentioned in the Qur'an as well as being one of the names of the special surahs with the word Ar-Ra'd and its equivalent, from these findings, the writing of this article will reveal the symbolic meaning behind it. thunder phenomenon mentioned in the Koran. The semiotic theory used is the semiological theory initiated by Roland Barthes. This research methodology uses a literature study. The semiotic research results on the verses that mean thunder in the Alquran do not only have symbols as threats and punishment but also as a symbol of warning that Allah has given to mankind to be used as lessons. As well as a symbol of dhikr, so that people will always remember Allah SWT from the phenomenon of thunder.
Kepemimpinan Perempuan dalam Tafsir At-Tabari dan Tafsir Al-Mishbāh Putri, Deswanti Nabilah; Taufiq, Wildan; Izzan, Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33962

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya kontroversi di kalangan intelektual perihal boleh tidaknya perempuan menduduki posisi kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan bagian dari fitrah kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari. Dalam realitas kepemimpinan di masyarakat, diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan masih kerap terjadi. Yang menjadi fokus penelitian ini ialah Qs. an-Nisa’ ayat 34. Ayat tersebut disoroti sebagai larangan perempuan menjadi pemimpin. Para mufassir baik klasik maupun kontemporer berusaha mencari makna dari ayat tersebut. Dalam penelitian ini penulis akan mengkomparasikan makna Qs. an-Nisa’ ayat 34 dari salah satu tafsir klasik yaitu tafsir At-Tabari dan salah satu tafsir kontemporer yaitu tafsir Al-Mishbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan At-Tabari dan pandangan Quraish Shihab terhadap kepemimpinan perempuan dalam Qs. an-Nisa’ ayat 34 serta mengetahui apa persamaan dan perbedaan pandangan keduanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif analisis komparasi. Kitab tafsir At-Tabari dan Al-Misbah menjadi sumber data primer. Adapun sumber data sekunder diambil dari buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan tersebut. Hasil dari penelitian ini ialah Tafsir At-Tabari berpandangan bahwa Qs. an-Nisa’ ayat 34 membicarakan konteks rumah tangga yang mana laki-lakilah yang menjadi pemimpinnya. Pemimpin dalam arti tanggungjawab berupa bimbingan dan didikan dari seorang suami kepada istrinya dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah dan suami. Namun dalam tafsirnya tidak dijelaskan lebih jauh perihal kepemimpinan perempuan di luar konteks rumah tangga. Adapun Quraish Shihab berusaha hubungkan ayat tersebut pada kenyataan sosial dan budaya yang berlaku sehingga memberi kesan bahwa al-Qur’an menjadi solusi atas setiap persoalan. Dalam hal ini menghasilkan pandangan bolehnya perempuan menjadi pemimpin di luar rumah tangga dengan syarat tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Persamaan antar keduanya ialah bahwa kontek dalam ayat tersebut ialah kepemimpinan dalam ranah rumah tangga. Adapun perbedaan dari pandangan kedua mufassir tersebut ialah terletak pada sumber tafsir yang digunakan dan corak penafsirannya. Hal ini berdampak pada nilai substansi penafsiran tersebut yang mana At-Tabari menyimpulkan kemutlakan kepemimpian laki-laki atas perempuan karena sebab kelebihan yang telah Allah berikan dan nafkah darinya untuk istri. Sedangkan Qurais Shihab lebih fleksibel dengan melihat sisi kemampuan tanpa mengenyampingkan fitrahnya sebagai seorang perempuan.