Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Perkembangan Makna Poligami Dalam Al-Qur'an Surat An-Nisāʾ Ayat 3 Dan 129: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Salsabila Nurul Imam, Jahira; Muliadi, Muliadi; Taufiq, Wildan
Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies Vol. 4 No. 2 (2025): JUQUTS: Journal of Ulumul Qur'an and Tafsir Studies
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/3bgj4d62

Abstract

Isu poligami dalam Islam terus menjadi perdebatan, baik dalam ranah hukum maupun etika, terutama terkait dengan pemaknaan terhadap ayat ayat yang dianggap melegitimasinya. Meskipun Al-Qur'an memberikan ruang bagi praktik poligami, teks tersebut juga menekankan keharusan berlaku adil-yang secara eksplisit dinyatakan sulit tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan makna poligami dalam Al-Qur'an berdasarkan QS. An-Nisa [4]: 3 dan QS. An-Nisa [4]: 129 melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Kedua ayat ini menciptakan ketegangan hermeneutik antara kebolehan poligami secara terbatas dan pengakuan atas keterbatasan manusia dalam menegakan keadilan emosional. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, kajian ini menganalisis teks ayat tafsir klasik (Ibn katsir), tafsir reformis (al-Manar), dan pemikiran kontemporer (Nasr Hamid Abu Zayd). Hasilnya menunjukan bahwa makna poligami mengalami proses semiosis -yakni pergeseran dan perkembangan interpretasi yang bersifat progressif. Dari kebolehan bersyarat menuju prefensi etis terhadap monogami, pembacaan ini menegaskan bahwa makna ayat tidak statis, melainkan terbuka terhadap penafsiran baru yang lebih kontekstual dan berorientasi keadilan.
Types and Purposes of Kinayah in the Qur’an Syam, Ishmatul Karimah; Komarudin, Edi; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2022): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v1i1.19394

Abstract

This study aims to examine and explain kinayah, including the meaning, types, function, and purpose in the Qur'an. This research is qualitative by going through library research and research. This study concludes that kinayah is included in one of the balaghah sciences which discusses the meaning of a word not only from the prevalence of its meaning, but also its meaning can be understood with its true meaning. Kinayah also has several types and the distribution of each type. The purpose of the existence of kinayah in the Qur'an, among others, is to remember the greatness of God, beautify words, avoid taboo sentences, and the like. This simple research is expected to benefit and add insight to religious studies, especially in the language field.
The Phenomenon of Thunder in the Qur'an: A Semiotic Analysis of Roland Barthes Fikri Ys, Irsyad Al; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i1.20131

Abstract

This article aims to reveal the meaning of symbolism about the phenomenon of thunder and to uncover the symbolic meaning behind the verses that mean thunder in the Alquran. The background of the writing of this article originated from phenomenon thunder that occurs naturally and is mentioned in the Qur'an as well as being one of the names of the special surahs with the word Ar-Ra'd and its equivalent, from these findings, the writing of this article will reveal the symbolic meaning behind it. thunder phenomenon mentioned in the Koran. The semiotic theory used is the semiological theory initiated by Roland Barthes. This research methodology uses a literature study. The semiotic research results on the verses that mean thunder in the Alquran do not only have symbols as threats and punishment but also as a symbol of warning that Allah has given to mankind to be used as lessons. As well as a symbol of dhikr, so that people will always remember Allah SWT from the phenomenon of thunder.
Kepemimpinan Perempuan dalam Tafsir At-Tabari dan Tafsir Al-Mishbāh Putri, Deswanti Nabilah; Taufiq, Wildan; Izzan, Ahmad
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 1 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v3i1.33962

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya kontroversi di kalangan intelektual perihal boleh tidaknya perempuan menduduki posisi kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan bagian dari fitrah kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari. Dalam realitas kepemimpinan di masyarakat, diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan masih kerap terjadi. Yang menjadi fokus penelitian ini ialah Qs. an-Nisa’ ayat 34. Ayat tersebut disoroti sebagai larangan perempuan menjadi pemimpin. Para mufassir baik klasik maupun kontemporer berusaha mencari makna dari ayat tersebut. Dalam penelitian ini penulis akan mengkomparasikan makna Qs. an-Nisa’ ayat 34 dari salah satu tafsir klasik yaitu tafsir At-Tabari dan salah satu tafsir kontemporer yaitu tafsir Al-Mishbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan At-Tabari dan pandangan Quraish Shihab terhadap kepemimpinan perempuan dalam Qs. an-Nisa’ ayat 34 serta mengetahui apa persamaan dan perbedaan pandangan keduanya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif analisis komparasi. Kitab tafsir At-Tabari dan Al-Misbah menjadi sumber data primer. Adapun sumber data sekunder diambil dari buku-buku yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan tersebut. Hasil dari penelitian ini ialah Tafsir At-Tabari berpandangan bahwa Qs. an-Nisa’ ayat 34 membicarakan konteks rumah tangga yang mana laki-lakilah yang menjadi pemimpinnya. Pemimpin dalam arti tanggungjawab berupa bimbingan dan didikan dari seorang suami kepada istrinya dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah dan suami. Namun dalam tafsirnya tidak dijelaskan lebih jauh perihal kepemimpinan perempuan di luar konteks rumah tangga. Adapun Quraish Shihab berusaha hubungkan ayat tersebut pada kenyataan sosial dan budaya yang berlaku sehingga memberi kesan bahwa al-Qur’an menjadi solusi atas setiap persoalan. Dalam hal ini menghasilkan pandangan bolehnya perempuan menjadi pemimpin di luar rumah tangga dengan syarat tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Persamaan antar keduanya ialah bahwa kontek dalam ayat tersebut ialah kepemimpinan dalam ranah rumah tangga. Adapun perbedaan dari pandangan kedua mufassir tersebut ialah terletak pada sumber tafsir yang digunakan dan corak penafsirannya. Hal ini berdampak pada nilai substansi penafsiran tersebut yang mana At-Tabari menyimpulkan kemutlakan kepemimpian laki-laki atas perempuan karena sebab kelebihan yang telah Allah berikan dan nafkah darinya untuk istri. Sedangkan Qurais Shihab lebih fleksibel dengan melihat sisi kemampuan tanpa mengenyampingkan fitrahnya sebagai seorang perempuan.
Analisis Linguistik atas Relevansi Każib dalam Al-Qur’an dengan Prank di Media Sosial Sa’dina, Ahmad Midrar; Yunus, Badruzzaman M.; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 3 No. 2 (2024): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v3i2.35131

Abstract

Każib adalah salah satu kata yang sering diulang-ulang dalam Al-Qur’an. Pengulangan kata każib dibagi menjadi derivasi dari dua belas każib dalam Al-Qur’an. Każib diletakkan sesuai dengan struktur kalimat dan  makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga penempatan derivasi każib dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks pembahasan di dalamnya. Pembahasannya cenderung pada ranah sosial dan kepercayaan. Oleh karena itu, menarik untuk menganalisisnya dengan menerapkan analisis terstruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui derivasi każib dalam Al-Qur’an dan menjelaskan struktur yang terkandung dalam derivasi każib dalam Al-Qur’an dengan menggunakan komparasi analisis struktural-Linguistik Ferdinand de Saussure dan Analisis Linguistik Toshihiko Izutsu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dan menggunakan pendekatan komparasi linguistik struktural yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure dengan linguistik Toshihiko Izutsu yang terdiri dari 4 tahapan komparasi analisis yakni signifier -signified dan makna dasar, analisis  langue-parole dengan makna relasional, sinkronik-diakronik dan sintagmatik-paradigmatik dengan Weltanschauung. Analisis data menggunakan model tematik yang melalui tahapan sebagai berikut: 1) mengumpulkan dan mengklasifikasikan data primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung turunan każib, 2) memfokuskan pada data yang layak untuk dianalisis, 3) menyajikan hasil penelitian. Data berupa deskripsi naratif pendek. Hasil penelitian ini bahwa prank yang kerap terjadi di media sosial merupakan gambaran struktur każib yang telah lama dideskripsikan al-Quran melalui ayat-ayatnya. Egosentris dan penyamarataan jokes dengan dibungkus oleh asumsi viral menggeser nilai-nilai humanis sebagai manusia  bermartabat yang saling menghormati. Hal ini mengindikasikan jika al-Qur’an terus dipelajari dan dipahami maka akan meningkatkan kualitas imam manusia bahwa al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi umat manusia dan  shahih fi kulli zaman wa makan.
The message of Ecological Balance in the Story of Prophet Saleh and Prophet Sulaiman in the Al-Qur’an Azhari, Hilma Nurlaila; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2025): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v4i1.38110

Abstract

Environmental damage due to ecological imbalance has become a global issue because of its detrimental impact on all lines of life. One of the main causes is due to the wrong perspective of humans in\ assessing nature. Therefore, the purpose of this study is to determine the meaning of the message of ecological balance in the story of Prophet Saleh and Prophet Sulaiman in the Qur'an using the perspective of literary ecocriticism. The data analysis method used is descriptive-analytical. The result of the research is that ecological balance can be disturbed or maintained accordingly depending on how humans behave. The Thamuds saw nature only as a commodity so they were greedy in using nature, such as making buildings beyond their needs, monopolizing water sources and killing the camel of Prophet Saleh. This attitude then made them damaged the ecological balance and made them destroyed. In contrast to the Prophet Sulaiman who has an attitude of gratitude. So, the Prophet Sulaiman, in utilizing nature, prioritizes fairness and respect. This can be seen from how the Prophet Sulaiman organized the animals that became his army and respected the existence of ants. This attitude then makes the ecological balance maintained and life becomes sustainable.
Semiotic deconstruction of Science-Quran integration in Physics: Analysis of QS. Hud: 67 and sound waves Imaduddin, Ihsan; Taufiq, Wildan
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2025): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v4i2.49323

Abstract

This study aims to evaluate the integration of Qur’anic verses and physical science concepts in Indonesian high school physics textbooks, focusing on the interpretation of lightning through QS. Hud:67. Using a qualitative descriptive approach and critical content analysis, this research combines semiotic theory from Roland Barthes and Charles S. Peirce, alongside a comparative exegesis (tafsir muqaran) of Ibn Kathir, Al-Alusi, and Tantawi Jauhari. The findings reveal that interpreting the word ṣayḥah (الصيحة) as “sound wave” in the textbook neglects its theological and linguistic dimensions. This misinterpretation violates the principles of Qur’anic hermeneutics and constructs a myth that the Qur’an contains explicit modern scientific theories. The study concludes that a proper integration between science and Islam must be grounded in valid interpretative methodology and semiotic awareness. It offers a conceptual contribution toward developing a more rigorous, hermeneutical, and ethical model of Islam-science integration.
Puberty age and marriage goals: Analysis of Tafsir Al Wajiz and Tafsir Karimir Rahman Aulia, Muhammad Fadli Rahman; Taufiq, Wildan; Mokhtar, Ahmad Baha’ Bin
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v5i3.45800

Abstract

This study analyzes the concept of maturity and its relation to marriage goals through Tafsir Al-Wajiz by Wahbah az-Zuhaili and Tafsir Karimir-Rahman by Abdurrahman as-Sa‘di, focusing on key Quranic verses. Using thematic library research and Fazlur Rahman’s Double Movement theory, it finds Wahbah emphasizes biological and intellectual maturity tied to financial readiness, while As-Sa‘di highlights spiritual and moral maturity for building a strong Islamic family. The study concludes that maturity for marriage in Islam includes biological, psychological, social, and economic factors, informing Islamic legal policies on ideal marriage age based on maqāṣid asy-syarī‘ah principles.
Symbols of Slavery in the Qur'an and Its Relation to the Declaration of Human Rights Najib, Muhamad; Taufiq, Wildan; Rusmana, Dadan
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 4 No. 4 (2024): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v4i4.38388

Abstract

This research aims to find out the symbols of slavery in the Qur'an, the semiotic perspective of Roland Barthes and its relation to the Universal Declaration of Human Rights. This study uses qualitative descriptive methods and approaches with the analysis of Roland Barthes' semiotic theory that a symbol is a sign that is surrounded by other signs so that it becomes clearer. There are two stages: the first stage is called the linguistic system, and the second stage is called the mythical system. Myth, in Barthes' view, is assumed to be a system of markers built on three things signifier, signified and sign. The results of the study show that the symbol of Abdun and Amah as human beings who have rights and obligations, the symbol of Raqabah is a valuable item that must be paid, in the sense that it must be liberated or liberated and the symbol of Ma Malakat Ayman as a halal biological channel, a companion who is allowed to marry, and a human being who has rights. As for the relationship with the Universal Declaration of Human Rights, the two have the same spirit to abolish and eliminate slavery on the face of the earth.
Struktur Naratif Kisah Raja Dzulkarnain dalam Al-Qur’an: Analisis Semiotika Aktan A.J. Greimas Alandira, Palendika; Taufiq, Wildan; Rohanda, Rohanda
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18 No 2 (2024): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v18i2.1651

Abstract

This research aims to analyze the story of King Dhul-Qarnayn in the Qur'an using A.J. Greimas's actantial semiotics approach. The method used is a qualitative analysis of verses related to the character, role, and actions of King Dhul-Qarnayn, as well as his impact on the surrounding society. Through this analysis, it was found that King Dhul-Qarnayn functions as a mediator between God and humanity, establishing justice by upholding goodness and punishing wrongdoing. The study results show that King Dhul-Qarnayn's character embodies moral and social values relevant to societal life, providing lessons on responsibility and leadership in achieving collective well-being. This research is expected to provide a deeper understanding of the moral messages within the story of King Dhul-Qarnayn and their application in everyday life.