Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Factors Influencing the Success of Electronic Prescription Implementation in Indonesia: A Literature Review Audry Lintang Hasanuddin; Rasmi Zakiah Oktarlina; Dwi Aulia Ramdini; Oktafany, Oktafany
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 04 (2025): Jurnal EduHealt, Edition October-December , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Electronic prescribing, or e-prescribing, is a digital system that allows doctors to create prescriptions and send them to specific pharmacy computers connected to an electronic prescription network, facilitating direct communication between physicians and their practices. Rapid technological advances in healthcare have made it easier for doctors to prescribe medications electronically, eliminating the need for handwritten prescriptions. In e-prescribing, prescriptions are sent over a secure internet network, requiring user authentication through a username and password. Benefits of implementing electronic prescribing include reducing medication errors in prescription interpretation, increasing prescription processing efficiency, and improving the quality of healthcare services. Implementing electronic prescribing often faces challenges, such as inadequate funding, negative perceptions of the technology, lack of computer skills, and complexity in data entry. This article aims to identify factors influencing the successful implementation of electronic prescribing in Indonesia. A literature review using scientific databases including Google Scholar, PubMed, and NCBI has been conducted. Various factors have been identified that can influence the effectiveness of electronic prescribing, including organizational elements, technological aspects, and human resources. Understanding these factors can guide policy development and the assessment of healthcare workers in implementing electronic prescribing, resulting in effective electronic prescribing.
Lila Dan Anemia Defisiensi Besi Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian BBLR Nurliwayka Qodri, Amari; Puspita Sari, Ratna Dewi; Utama, Winda Trijayanthi; Oktafany, Oktafany
Action Research Literate Vol. 8 No. 3 (2024): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v8i3.249

Abstract

Berat badan bayi lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di seluruh dunia, dengan konsekuensi jangka panjang yang serius bagi kesejahteraan bayi dan ibu. Anemia defisiensi besi (ADB) pada ibu hamil telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian BBLR. Di sisi lain, Lingkar Lengan Atas (LILA) telah diusulkan sebagai indikator yang cepat dan mudah untuk menilai status gizi ibu hamil. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara LILA dan ADB pada ibu hamil dengan kejadian BBLR, serta mengidentifikasi implikasi klinisnya. Penelusuran literatur dilakukan menggunakan basis data ilmiah yang relevan seperti PubMed, Google Scholar, dan lainnya. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi yang ditetapkan dipilih untuk disertasi. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara LILA dan ADB pada ibu hamil dengan kejadian BBLR. Ibu hamil dengan LILA yang rendah cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami ADB, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemungkinan BBLR. Temuan ini menyoroti pentingnya pemantauan LILA dan deteksi dini ADB pada ibu hamil sebagai strategi pencegahan yang potensial terhadap kejadian BBLR. Intervensi yang tepat waktu untuk meningkatkan status gizi ibu hamil, termasuk suplementasi besi dan intervensi gizi, dapat mengurangi risiko BBLR dan meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuan ini dan mengembangkan pedoman klinis yang lebih baik dalam manajemen gizi ibu hamil
The Role of Between Scenario Quality and Prior Knowledge on the Effectiveness of Tutorial Discussions in Problem-Based Learning (PBL): Literature Review Mu'izabby, Iffah Salma; Oktafany, Oktafany; Ratna, Maya Ganda; Lisiswanti, Rika
Medula Vol 14 No 12 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i12.1460

Abstract

Problem-Based Learning (PBL) is a learning method that puts students at the centre of the learning process, encouraging them to learn independently through problem solving. One of the main approaches in PBL is tutorial discussion, which plays an important role in promoting deep learning. The effectiveness of tutorial discussions is influenced by three main aspects: the quality of the problem scenario, students' prior knowledge, and tutor performance. The scenario should be authentic, relevant to the students' level of understanding, and able to stimulate independent learning. Students' prior knowledge also affects their contribution to the discussion, as adequate understanding allows for more active engagement. In addition, the tutor's role in facilitating the discussion also influences the success of the PBL method. The quality of the scenario and prior knowledge play an important role in the effectiveness of Problem-Based Learning (PBL) discussions, although their relationship is not always statistically significant. The quality of a well-designed scenario can stimulate meaningful discussions, motivate students, and support the achievement of learning objectives. Prior knowledge, while not necessarily determining the success of the discussion, influences how students integrate new information. Groups with lower prior knowledge can show higher discussion effectiveness through active exploration. Overall, the effectiveness of PBL is influenced by the interaction between the quality of learning design and student characteristics, suggesting the need for a holistic approach in designing PBL scenarios.
Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku tentang Faktor Risiko Katarak pada Lansia di Posyandu Lansia Puskesmas Natar Lampung Selatan Soleha, Tri Umiana; Yusran, Muhammad; Lisiswanti, Rika; Oktafany, Oktafany
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 1 No. 1 (2015): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v1i1.1145

Abstract

Kebutaan karena katarak atau kekeruhan lensa mata merupakan masalah kesehatan global yang harus segera diatasi, karena kebutaan dapat menyebabkan berkurangnya kualitas sumber daya manusia dan berkurangnya produktifitas serta membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya. Kegiatan penyuluhan kepada para lansia dalam hal ini pada Posyandu Lansia Puskesma Natar Lampung Selatan yang diharapkan akan meningkatkan pengetahuan tentang katarak dan faktor risikonya. Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan maka terjadi peningkatan nilai pemahaman yang dapat diketahui dari posttest. Peserta posyandu menjadi paham dan sangat paham mengenai faktor risiko katarak. Peserta yang paham sebanyak 5 orang (16,7%) dan yang sangatpaham sebanyak 25 orang (83,3%). Rerata skor dari 30 responden pada posttest adalah 9. Skor tersebut meningkat sekitar 50% dari skor pretest. Simpulan, perlu dilakukan kegiatan penyuluhan seperti ini di tempat lainsebagai upaya berkelanjutan mengenai pemahaman faktor risiko katarak.Kata Kunci: katarak, lansia, pengetahuan, perilaku, sikap
Penyuluhan Tentang Pentingnya Rantai Dingin (Cold Chain) dalam Mencegah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tanjungsari Lampung Selatan Oktafany, Oktafany; Soleha, Tri Umiana; Hanriko, Rizki; Wulan, Anggraini Janar
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2811

Abstract

Dewasa ini kejadian Outbreak Respon Imunization (ORI) pada imunisasi DPT banyak dijumpai dan merupakan kejadian ikutan paska imunisai yang tidak diinginkan, bahkan banyak diantaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan mengenai teknik penyuntikan dan rantai dingin imunisasi DPT. Penyuluhan dan demonstrasi penyuntikan imunisasi DPT dan rantai dingin diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan kader posyandu sehingga dapat menurunkan angka kejadian ikutan paska imunisasi secara bermakna. Manfaat dari pengabdian ini adalah dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dapat memberikan pelayanan imunisasi yang prima. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Puskesmas Tanjungsari Lampung Selatan bulan Mei tahun 2020. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab serta demonstrasi langsung penyuntikan imunisasi DPT. Kegiatan ini meliputi persiapan, pelaksanaan serta evaluasi kegiatan. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan pre test dan post test seputar materi yang telah diberikan. Setelah mendapatkan penyuluhan mengenai cara penyuntikan vaksin DPT dan pentingnya rantai dingin sebagai pencegahan kejadian pasca imunisasi maka pengetahuan tenaga medis Puskesmas Tanjungsari meningkatKeyword : Imunisasi DPT, KIPI, Rantai dingin
Peningkatan Pengetahuan Dengan Metode Pelatihan Tentang Cara Pemeriksaan Bakteri Tahan Asam Sebagai Diagnosis Tuberkulosis Paru Pada Petugas Medis Di Poliklinik Universitas Lampung Soleha, Tri Umiana; Sutyarso, Sutyarso; Oktafany, Oktafany; Kurniawaty, Evi; Ayu S, Putu Ristyaning
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v7i2.3041

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi saluran napas yang hingga kini masih menjadi kasus yang paling sering dijumpai diIndonesia. Berdasarkan data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), angka insiden TB di Indonesia meningkathingga 399 per 100.000 penduduk disertai angka kematian yang meningkat pula hingga mencapai 41 per 100.000 pendudukpada tahun 2014. Diagnosis dini yang lebih gencar membuka kemungkinan Provinsi Lampung dapat menjadi provinsi keduadengan insiden kasus TB terbanyak. Namun, hal ini tidak menjadi ancaman bagi pemerintah Lampung sendiri karena memangtujuan nya adalah untuk meningkatkan identifikasi kasus dan mempercepat kesembuhan. Diagnosis TB yang paling akuratadalah dengan pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA). Pemeriksaan dahak ini guna mengetahui keberadaan Basil Tahan Asam(BTA) sehingga dapat membantu petugas pelayanan kesehatan dalam penegakkan diagnosis, penilaian terhadap responpengobatan, dan potensi penularan. Pasien TB dengan BTA positif menimbulkan risiko penularan yang lebih besar dibandinganpasien TB dengan BTA negatif. Poliklinik Universitas Lampung merupakan lini pertama Layanan Kesehatan untuk CivitasAkademika dan masyarakat di sekitar Universitas Lampung. Oleh karena itu diperlukan peningkatan pengetahuan dari SDM nyadalam keterampilan pemeriksaan BTA dalam mendukung terlaksananya diagnosis dini TB.Kata Kunci: Tuberkulosis, Diagnosis, BTA
Edukasi Hidup dan Bekerja dengan Gejala Long COVID-19 pada Civitas Akademika Universitas Lampung Oktafany, Oktafany; Soleha, Tri Umiana; Lisiswanti, Rika
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v7i2.3054

Abstract

Latar Belakang: Meskipun banyak orang dengan COVID-19 menjadi lebih baik dalam beberapa minggu, beberapa orang terus mengalami gejala yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan setelah pertama kali terinfeksi, atau mungkin memiliki gejala baru atau berulang. Hal Ini bisa terjadi pada siapa saja yang pernah terkena COVID-19, bahkan jika penyakit awalnya ringan. Orang dengan kondisi ini kadang-kadang mendapat komplikasi jangka panjang. Kondisi ini dikenal sebagai long COVID-19. Mengingat munculnya COVID-19 yang berkepanjangan sebagai masalah kesehatan yang persisten dan signifikan, di Amerika Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan kantor kehakiman menetapkan kondisi ini sebagai disabilitas khusus.  Dimana penderita satu atau lebih gejala long COVID-19 mendapat prioritas untuk mendapat rehabilitasi dan hak atas pekerjaannya dengan kompensasi berbagai kemudahan baik fasilitas maupun jenis pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisibaik fisik maupun mental penderitanya. Tujuan: Adapun yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan penyintas COVID-19 yang merupakan civitas akdemika Universitas Lampung. Manfaat: Bagi masyarakat khususnya penyintas COVID-19 , agar lebih mengerti dan bisa menerima kondisi baik fisik dan mental akibat gejala long COVID-19 yang dideritanya Metode: Metode kegiatan dilakukan dengan pemberian ceramah mengenai long COVID-19 baik gejala maupunpenaganannya kepada civitas akademika Universitas Lampung yang merupakan penyintas COVID-19. Tahapan kegiatan meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi paska pelaksanaan. Kata kunci: Disabilitas, long COVID-19, Penyintas COVID-19
PELATIHAN MENJADI FASILITATOR BAGI DOSEN PENDIDIKAN KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG Lisiswanti, Rika; Oktafany, Oktafany; Apriliana, Ety; Mutiara, Hanna; Puspita, Ratna Dewi; Rahmadian, M. Ricky
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 10 No. 1 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v10i1.3468

Abstract

Problem-based learning adalah salah satu metode pembelajaran di pendidikan kedokteran. Kegiatan pembelajaran PBL dilaksanakan dalam diskusi dalam bentuk kelompok kecil. Diskusi dicetuskan dengan memberikan suatu kasus/masalah kemudian mahasiswa menentukan kebutuhan belajarnya kemudian bertemu lagi untuk membagi hasil belajarnya. PBL dibutuhkan beberapa komponen yaitu masalah/skenario, sumber pembalajaran, tujuan pembelajaran, perilaku dalam kelompok dan menghadapi skenario klinik, proses belajar PBL sendiri, motivasi dan self-directed learning mahasiswa. Untuk menfasilitasi PBL diperlukan pelatihan untuk dosen untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam memfasilitasi mahasiswa. Pelatihan ini dilaksanakan pada 21 September 2024 di Gedung A Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (FK Unila). Jumlah peserta yang hadir sebanyak 31 dosen FK Unila. Metode yang dilakukan adalah pemberian materi, latihan kelompok dan refleksi menjadi fasilitator. Hasil pengabdian ini menunjukan bahwa ada peningkatan pengetahuan 87,09% esertsa terlaksananya latihan sehingga para peserta dapat menjadi fasilitator.
KORELASI IPK SARJANA DAN TRY OUT AIPKI DENGAN NILAI COMPUTER-BASED TEST UJI KOMPETENSI MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG Chalida, Aprilly Adlina; Oktafany, Oktafany; Oktadoni Saputra; Nabilla, Nabilla
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 7 (2025): Nusantara Hasana Journal, December 2025
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i7.1792

Abstract

The Medical Professional Competency Examination (UKMPPD) is a national assessment designed to ensure the quality and competence of medical graduates in Indonesia. The high proportion of retakers in the Computer-Based Test (CBT) UKMPPD at several institutions, including the Faculty of Medicine, University of Lampung, highlights the need to identify academic factors associated with examination success, such as undergraduate Grade Point Average (GPA) and AIPKI Try-Out scores. This study aimed to analyze the correlation between undergraduate GPA and AIPKI Try-Out scores with CBT UKMPPD results among medical professional program students at the Faculty of Medicine, University of Lampung, during the February 2024–August 2025 period. This study employed a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. Secondary data were obtained from the academic office of the Faculty of Medicine, University of Lampung. A total of 361 students who met the inclusion and exclusion criteria were included in the analysis. Data were analyzed using descriptive and bivariate methods with correlation tests. The results showed that the mean undergraduate GPA was 3.26, the mean AIPKI Try-Out score was 56.77, and the mean CBT UKMPPD score was 78.77. Statistical analysis demonstrated a strong positive correlation between undergraduate GPA and CBT UKMPPD scores (r = 0.637; p = 0.001), as well as between AIPKI Try-Out scores and CBT UKMPPD scores (r = 0.741; p = 0.001).
DUAL OREXIN RECEPTOR ANTAGONIST (DORA) SEBAGAI TERAPI INSOMNIA: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA Dianda Faradiba Wardani; Oktafany, Oktafany; Anisa Nuraisa Jausal; Oktadoni Saputra
Nusantara Hasana Journal Vol. 5 No. 8 (2026): Nusantara Hasana Journal, January 2026
Publisher : Yayasan Nusantara Hasana Berdikari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59003/nhj.v5i8.1832

Abstract

Insomnia affects more than 852 million adults worldwide and 43.7% of individuals aged ≥19 years in Indonesia, highlighting the need for effective and safe therapy. Benzodiazepines and Z-drugs are commonly used but are associated with risks of tolerance and dependence. Dual orexin receptor antagonists (DORAs) have emerged as a more selective therapeutic alternative. A systematic literature review was conducted using PubMed and Google Scholar, focusing on meta-analyses of suvorexant, lemborexant, and daridorexant. Suvorexant improved subjective total sleep time (MD −19.10), subjective time to sleep onset (MD −8.23), and subjective wake after sleep onset (MD −6.45). Lemborexant at doses of 5–10 mg was effective in improving wake after sleep onset (MD −19.90; −22.24) and sleep onset latency (MD −9.23; −12.56). Daridorexant at doses of 25–50 mg reduced wake after sleep onset (MD −0.30; −0.53) and latent persistent sleep (MD −0.30; −0.53). Adverse effects of DORAs include somnolence, daytime sleepiness, fatigue, abnormal dreams, and nasopharyngitis. Overall, DORAs demonstrated significant effectiveness on subjective sleep parameters compared with control groups, with variations in effect size and safety profiles. DORAs may be considered effective and safe treatments for insomnia, with drug and dose selection tailored to clinical needs.