Bayu Indra Sukmana
Faculty Of Dentistry, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Dentin

PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KEMANGI 12,5% DAN BATANG PISANG MAULI 25% TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN RESIN AKRILIK Raudatul Izzah; I Wayan Arya K. Firdaus; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The most used denture base is heat cured acrylic resin. The use of dentures can cause denture stomatitis. The action taken to prevent denture stomatitis is by cleaning the denture. Chemical denture cleaners can reduce surface hardness of acrylic resin surfaces. Alternative natural denture cleanser is used to minimize the effects of chemical denture cleanser. The natural denture cleanser is using 12,5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts. Objective: The aim of this study was to analyze the comparison in surface hardness of heat cured acrylic resin which immersed in 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts with alkaline peroxide and distilled water. Methods: This study was a true experimental study with pre and posttest with control group design, using 24 cylindrical type heat cured acrylic resin samples with a diameter of 30 mm and 5 mm thickness. The study used 3 treatment groups: 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts, alkaline peroxide, and distilled water. Hardness testing was done using Vickers Hardness Testing. Results: The mean of the decrease in surface hardness value of heat cured acrylic resin which was immersed in extract solution, alkaline peroxide, distilled water are 1.40, 1.38, and 0.60 respectively. Data were analyzed statistically using One-Way ANOVA parametric test and Bonferroni Post Hoc test. Conclusion: The decrease in surface hardness value of heat cured type acrylic resin immersed in 12.5% Basil leaves and 25% Mauli banana stem extracts is higher than those immersed in alkaline peroxide and distilled water.Keywords: Basil leaves and Mauli banana stem extracts, surface hardness, heat cured acrylic resin ABSTRAKLatar belakang: Basis gigi tiruan yang banyak digunakan adalah resin akrilik tipe heat cured. Penggunaan gigi tiruan dapat menyebabkan denture stomatitis. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah denture stomatitis yaitu dengan melakukan pembersihan gigi tiruan. Pembersih gigi tiruan berbahan kimia dapat menurunkan kekerasan permukaan resin akrilik. Alternatif pembersih gigi tiruan alami digunakan untuk meminimalisir efek yang ditimbulkan oleh pembersih gigi tiruan berbahan kimia. Bahan pembersih gigi tiruan alami yang dipakai yaitu ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25%. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kekerasan basis resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% dengan alkalin peroksida dan akuades. Metode: penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan pre and posttest with control group design, menggunakan 24 sampel resin akrilik tipe heat cured berbentuk silindris dengan diameter 30 mm dan tebal 5 mm. Penelitian menggunakan 3 kelompok perlakuan: ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25%, alkalin peroksida dan akuades. Uji kekerasan dilakukan menggunakan Vickers Hardness Testing. Hasil penelitian: Rerata nilai penurunan kekerasan permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada larutan ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% sebesar 1,40, alkalin peroksida sebesar 1,38 dan akuades sebesar 0,60. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dan uji Post Hoc Bonferroni. Kesimpulan: Nilai penurunan kekerasan permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada ekstrak daun kemangi 12,5% dan batang pisang mauli 25% lebih tinggi dibandingkan dengan resin akrilik tipe heat cured yang direndam pada alkalin peroksida dan akuades.Kata-kata kunci: Ekstrak daun kemangi dan batang pisang mauli, kekerasan permukaan, resin akrilik tipe heat cured
PENGARUH SINAR RADIASI TERHADAP KALSIUM SALIVA PADA RADIOGRAFER DI BANJARMASIN Nurfarahin Ajani; Bayu Indra Sukmana; Isyana Erlita
Dentin Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Radiasi sering digunakan dalam bidang kedokteran terutama untuk terapi dan pemeriksaan penunjang. Radiografer merupakan pekerja yang mengoperasikan seluruh kegiatan di Instalasi Radiologi untuk terapi maupun pemeriksaan penunjang. Radiasi dapat memberikan efek samping pada radiografer terutama pada saliva. Kalsium dalam saliva memegang peran penting dalam proses remineralisasi gigi untuk mengurangi resiko karies. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh radiasi terhadap kalsium saliva pada radiografer di Banjarmasin. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni (True Experimental) dengan rancangan post test only with control group design. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Penelitian ini melibatkan 18 orang radiografer untuk kelompok uji dan 18 orang non-radiografer untuk kelompok kontrol, sehingga total sampel yang digunakan adalah 36 sampel. Hasil: Nilai rata-rata kalsium saliva untuk kelompok uji adalah 4,13 mg/dl dan kelompok kontrol adalah 6,17 mg/dl. Hasil uji parametrik uji T tidak berpasangan didapatkan p=0,000 (p<0,05) dan didapatkan bahwa kalsium saliva radiografer lebih rendah dibandingkan dengan kalsium saliva non-radiografer. Kesimpulan: Terdapat perbedaan kadar antara kalsium saliva radiografer dan kalsium saliva non-radiografer.Kata kunci: kalsium saliva, radiasi, radiografer
PENGARUH EKSTRAK KULIT BATANG MANGGA KASTURI (Mangifera casturi) TERHADAP KEPADATAN HARD CALLUS Taqwa Handraji Manto; Bayu Indra Sukmana; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health is a unity of body health, so their health must be maintained. One of the most common dental and oral diseases suffered by Indonesians is dental caries. This dental and oral health problem resulted in tooth extraction due to caries, so it requires medication to accelerate wound healing after tooth extraction. Some parts of the kasturi mango plant, such as leaves, fruits, and bark are known to have active substances and potentially against the density of hard callus. Purpose: to review various research articles related to the overview of the effect of mango kasturi bark extract (Mangifera casturi) on hard callus density. Method: All reviewed articles are obtained from Google Scholar and Science Direct data sources searches, and has a maximum journal publishing time span of the last 10 years. Result: The review was conducted in 10 journals found to fit inclusion criteria such as journals available in full-text form and research subjects extracting mango kasturi bark (Mangifera casturi). Conclusion: Kasturi mango bark extract has a direct and indirect influence on hard callus density. Keywords :, hard callus, mango kasturi bark extract, wound healing ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan satu kesatuan dari kesehatan tubuh yang harus dipelihara kesehatannya, salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia ialah karies gigi. Permasalahan kesehatan gigi dan mulut ini mengakibatkan pencabutan gigi karena karies, sehingga memerlukan obat untuk mempercepat penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi. Beberapa bagian tanaman mangga kasturi, seperti daun, buah, dan kulit batangnya diketahui memiliki zat aktif dan berpotensi terhadap kepadatan hard callus. Tujuan: mengulas berbagai artikel penelitian yang berkaitan dengan gambaran pengaruh ekstrak kulit batang mangga kasturi (Mangifera casturi) terhadap kepadatan hard callus. Metode: Semua artikel yang direview diperoleh dari pencarian sumber data Google Scholar, dan Science Direct yang memiliki rentang waktu penerbitan jurnal maksimal 10 tahun terakhir. Hasil: Review dilakukan pada 10 jurnal yang ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi seperti jurnal tersedia dalam bentuk full-text dan subjek penelitian ekstrak kulit batang mangga kasturi (Mangifera casturi). Kesimpulan: Ekstrak kulit batang mangga kasturi memiliki pengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap kepadatan hard callus. Kata kunci: Penyembuhan luka, ekstrak kulit batang mangga kasturi, hard callus
GAMBARAN RADIOGRAFI PANORAMIK PASKA ODONTEKTOMI KONDISI ABNORMAL Agung Pratama Akbar; Bayu Indra Sukmana; Sherli Diana
Dentin Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The impacted tooth interferes with chewing function and causes various complications. The treatment performed by dentists for impacted teeth was odontectomy. Complications the odontectomy after odontectomy ranged from 2.6% - 30.9%. Purpose: This paper aims to obtain panoramic radiograph images after odontectomy with abnormal conditions. Methods: Articles were obtained from the search engines Pubmed, Semantic Scholar, and Google Scholar within the last five years of publication. Results: A total of 30 articles were obtained, found in 10 that Articles are fit the inclusion criteria, in English and Indonesian, in full paper form, and discussed post odontectomy panoramic photos with abnormal conditions. Discussion: The search for research articles on panoramic radiographs after odontectomy showed in 10 that Articles 3 abnormal conditions occurred after odontectomy. Conclusion: There are Lingual Nerve Injury, Inferior Alveolar Nerve, and Mandibular Angle Fracture, namely three abnormal conditions that happened after odontectomy, and there is the picture that abnormal after odontectomy based on age, sex, impact classification, odontectomy technique, and type of complication. Keywords: Abnormal odontectomy, Abnormal picture after odontectomy, panoramic radiography. ABSTRAKLatar Belakang Gigi impaksi mengganggu fungsi mengunyah dan menyebabkan berbagai komplikasi. Perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi untuk gigi impaksi adalah odontektomi. Komplikasi odontektomi setelah odontektomi berkisar antara 2,6% - 30,9%. Tujuan: Makalah ini bertujuan untuk mendapatkan citra radiograf panoramik setelah odontektomi dengan kondisi tidak normal. Metode: Artikel diperoleh dari mesin pencari Pubmed, Semantic Scholar, dan Google Scholar dalam lima tahun terakhir publikasi. Hasil: Diperoleh total 30 artikel, ditemukan 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, berbahasa Inggris dan Indonesia, dalam bentuk full paper, dan membahas foto panorama pasca odontektomi dengan kondisi abnormal. Diskusi: Pencarian artikel penelitian tentang radiografi panoramik setelah odontektomi menunjukkan pada 10 artikel bahwa kondisi abnormal terjadi setelah odontektomi. Kesimpulan: Terdapat Cedera Saraf Lingual, Saraf Alveolar Inferior, dan Fraktur Sudut Mandibula, yaitu tiga kondisi abnormal yang terjadi setelah odontektomi, dan ada gambaran yang abnormal setelah odontektomi berdasarkan usia, jenis kelamin, klasifikasi benturan, teknik odontektomi, dan jenis penyakit. komplikasi.Kata Kunci:  Gambaran abnormal paska odontektomi, Odontektomi abnormal, Radiografi panoramic.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BATANG PISANG MAULI 25% DAN DAUN KEMANGI 12,5% TERHADAP NILAI KEKASARAN PERMUKAAN (Nilai kekasaran permukaan basis akrilik menggunakan resin akrilik tipe heat cured) Ghina Ulya Rifdayanti; I Wayan Arya K. Firdaus; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Denture cleanser that are often used are in the form of chemical solvent. Chemicals have side effects which may increase the degree of surface roughness in acrylic resin-based dentures. Surface roughness causes plaque formation and accumulation of Candida albicans which is the cause of denture stomatitis. Alternative can be used as denture cleanser such as 25% mauli banana stem extract and 12.5% basil leave. The combination of these two extracts is expected to have better effectiveness against Candida albicans by not changing the nature of the acrylic resin base is surface roughness. Objective: The aim of this study was to determine the effect of value surface roughness heat cured acrylic resin immersed with extract of 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave. Methods: This research was a true experimental laboratory pretest and postest with control group design, using a simple random sampling technique. Sample of acrylic resin was rectangular 65 x 10 x 3.3 mm. The samples were 24 in number and divided into 3 treatment groups, 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave extract, alkaline peroxide, and aquadest. Surface roughness measurement was performed using surface roughness tester. Result: The mean results of surface roughness increase in 25% banana mauli stem and 12.5% basil leave extract, alkaline peroxide, and aquadest group were 0.0613 µm, 0.0663 µm, and 0.0425 µm respectively. Data were analyzed using One Way ANOVA and Bonferroni Post Hoc test. Conclusion: An increase in surface roughness of acrylic resin on alkaline peroxide immersion is higher than 25% mauli banana stem and 12.5% basil leave extract, and aquadest.Keywords: Heat cured acrylic resin, mauli banana stem and basil leaves extract, surface roughness  ABSTRAKLatar belakang: Pembersih gigi tiruan yang sering digunakan adalah perendaman secara kimiawi. Bahan kimia memiliki efek samping dapat menyebabkan kekasaran permukaan pada basis gigi tiruan resin akrilik. Kekasaran permukaan menyebabkan penumpukan plak dan akumulasi Candida albicans yang merupakan penyebab denture stomatitis. Bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai pembersih gigi tiruan yaitu ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%. Kombinasi antara kedua eksrtrak tersebut diharapkan memiliki efektifitas yang lebih baik terhadap Candida albicans dengan tidak merubah sifat basis resin akrilik yaitu kekasaran permukaan. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh nilai kekasaran permukaan resin akrilik tipe heat cured yang direndam dengan ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium murni dengan Pretest and Postest with Control Group Design, pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, bentuk sampel resin akrilik tipe heat cured persegi panjang 65 x 10 x 3,3 mm berjumlah 24 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, alkalin peroksida, dan akuades. Pengukuran kekasaran permukaan menggunakan alat surface roughness tester. Hasil penelitian: Hasil rerata peningkatan kekasaran permukaan yang dihasilkan pada ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, alkalin peroksida, dan akuades sebesar (0,0613 µm, 0,0663 µm dan 0,0425 µm). Data dianalisis menggunakan uji statistik One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Pos Hoc Bonferroni. Kesimpulan: Peningkatan kekasaran permukaan resin akrilik pada perendaman alkalin peroksida lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak batang pisang mauli 25% dan daun kemangi 12,5%, dan akuades.Kata-kata kunci: Ekstrak batang pisang mauli dan daun kemangi, kekasaran permukaan, resin akrilik tipe heat cured.
PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP pH SALIVA Nida Aulia; Bayu Indra Sukmana; Sherli Diana
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The field of medicine is currently experiencing high progress, one of which is the radiography. The use of X-rays in medicine is as a diagnostic and therapeutic aid. X-rays can be used for diagnosis and treatment of patients. Therapy using radiation is called radiotherapy. Radiotherapy is one way of dealing with cancer, including cancer of the head and neck. The basic principle in radiotherapy for cancer or malignancy is to cause damage to every molecule that is exposed to radiation, resulting in the rupture of cell molecules so that cell damage occurs. Objective: To review various research articles related to the description of the effect of radiation on salivary pH. Methods: A review was conducted on 8 journals that were found to match the inclusion criteria such as journals available in full-text form and research subjects on the effect of radiation on salivary pH. Results: Based on 8 articles that have been reviewed, it was found that 8 articles (100%) stated that there was an effect of radiation on salivary pH after exposure to radiation after radiotherapy. The results showed that articles related to decreasing salivary pH stated that after being exposed to radiation after radiotherapy they tended to decrease salivary pH rather than increase it. Conclusion: there was a decrease in salivary pH after exposure to radiation. Keywords: Radiation, radiotherapy, salivary glands, salivary pH, X-rays. ABSTRAK Latar Belakang: Bidang kedokteran saat ini telah mengalami kemajuan yang tinggi, salah satunya bagian radiografi. Penggunaan sinar-X dalam bidang kedokteran adalah sebagai alat bantu diagnostik dan terapi. Sinar-X dapat dimanfaatkan untuk diagnosa maupun terapi pasien. Terapi dengan menggunakan radiasi disebut radioterapi. Radioterapi merupakan salah satu cara dalam usaha menanggulangi kanker, termasuk kanker pada bagian kepala dan leher. Prinsip dasar dalam radioterapi kanker atau keganasan adalah menimbulkan kerusakan pada setiap molekul yang terkena paparan sinar radiasinya mengakibatkan pecahnya molekul-molekul sel sehingga terjadi kerusakan sel.  Tujuan: Mengulas berbagai artikel penelitian yang berkaitan dengan gambaran pengaruh radiasi terhadap pH saliva. Metode: Review dilakukan pada 8 jurnal yang ditemukan sesuai dengan kriteria inklusi seperti jurnal tersedia dalam bentuk full-text dan subjek penelitian pengaruh radiasi terhadap pH saliva. Hasil: Berdasarkan 8 artikel yang telah dilakukan telaah, didapatkan bahwa 8 artikel (100%) menyatakan bahwa terdapat pengaruh radiasi terhadap pH saliva setelah terkena paparan radiasi pasca radioterapi. Hasil penelitian didapatkan bahwa artikel yang berkaitan dengan penurunan pH saliva menyatakan setelah terkena radiasi pasca radioterapi cenderung dapat menurunkan pH saliva daripada meningkatkan pH tersebut. Kesimpulan: Terjadi penurunan pH saliva setelah terkena paparan radiasi. Kata kunci: Kelenjar saliva, , pH saliva, radiasi, radioterapi, sinar-X.
PERBEDAAN UKURAN GIGI MOLAR PERTAMA MAKSILA DAN KANINUS MANDIBULA PERMANEN ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (Tinjauan pada Mahasiswa PSKG Suku Banjar) Siti Aulia Rahmah; Bayu Indra Sukmana; Irnamanda D.H
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13106

Abstract

ABSTRACTBackground: Natural disasters occur frequently in Indonesia. Gender identification is one of the important things in determining the identity of the victim. Gender can be identified based on the size of the teeth. Differences in tooth size are caused by differences in gender and race. Objective: To determine mean difference in the size of maxillary first molar teeth and mandibular caninus between males and females in Banjar tribe PSKG students. Methods This research is a analytic observational method. This study used 40 male and 40 female dental models that measured the mesiodistal and buccolingual width of the maxillary first molar and mandibular canine teeth using digital caliper. Results: The results of the normality test of normally distributed data, followed by an independent t-test, obtained a p value = 0.0001 <0.05 which shows that the hypothesis is accepted or there is a significant difference in the size of the mesiodistal and buccolingual teeth in the maxillary first molar and mandibular canine between male and female students of the Banjar tribe. Conclusion: There is a difference in the mesiodistal and buccolingual means of maxillary first molar and mandibular canine teeth between males and females in Banjar tribe PSKG students.Keywords: Sex identification, tooth size, mesiodistal, buccolingual, maxillary first molar, mandibular caninus ABSTRAKLatar Belakang : Bencana alam sering terjadi di Indonesia. Identifikasi jenis kelamin adalah salah satu hal penting dalam menentukan identitas korban. Jenis kelamin dapat diidentifikasi berdasarkan ukuran gigi geligi. Perbedaan ukuran gigi disebabkan oleh adanya perbedaan jenis kelamin dan ras. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan rerata ukuran gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara laki-laki dan perempuan pada mahasiswa PSKG suku Banjar. Metode: Penelitian ini merupakan metode observasional analitik. Penelitian ini menggunakan 40 model gigi laki-laki dan 40 model gigi perempuan yang diukur lebar mesiodistal dan bukolingual gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula menggunakan kaliper digital. Hasil: Hasil uji normalitas data berdistribusi normal, dilanjutkan dengan uji t-test independent didapatkan nilai p=0.0001<0.05 yang menunjukkan hipotesis diterima atau terdapat perbedaan signifikan ukuran gigi mesiodistal dan bukolingual pada gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara mahasiswa laki-laki dan perempuan suku Banjar. Kesimpulan: Terdapat perbedaan rerata ukuran gigi mesiodistal dan bukolingual pada gigi molar pertama maksila dan kaninus mandibula antara laki-laki dan perempuan pada mahasiswa PSKG suku Banjar. Kata kunci: Kaninus Mandibula, Bukolingual, Mesiodistal, Maksila, Jenis Kelamin, Ukuran Gigi.
PERBANDINGAN RUGAE PALATINA BERDASARKAN JENIS KELAMIN SEBAGAI IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR Eugenia Clairine; Bayu Indra Sukmana; Melissa Budipramana; Renie Kumala Dewi; Rahmad Arifin
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14234

Abstract

Background: Forensic odontology focuses on the management, investigation, evaluation and presentation of dental cases to support criminal cases. The science of forensic dentistry develops based on the fact the anatomical shape of the entire mouth and the morphological appearance of the face can be used as references in the individual identification process. Forensic odontology plays an important role in determining the sex of the victim using the craniofacial area. Gender identification can use soft tissue in the oral cavity, one of which is palatine rugae. Identification of palatal rugae, known as rugoscopy, is useful for helping detect a person's identity, one of which is gender.  Objective: Compare of palatine rugae pattern based on gender in the Banjar ethnic community as a forensic identification tool Methods: This research is an analytical observational study with a cross-sectional approach, consisting of 2 groups, namely 18 pairs of men and women, students at the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Data collection was carried out by molding the jaw using irreversible hydrocolloid followed by plaster casting. The palatine rugae pattern will be drawn using a pencil. Palatine rugae patterns were analyzed using the Thomas and Kotze classification. Results: The Fisher exact test results showed there was no significant difference (>0.05) between the 2 groups. The dominant palatine rugae pattern in both groups is wavy. Conclusion: There was no significant difference between the palatine rugae patterns of women and men.Keywords : Banjar Ethnic, Gender, Rugae Palatine ABSTRAKLatar belakang: Odontologi forensik berfokus pada manajemen, penyelidikan, evaluasi dan presentasi kasus dental untuk menunjang investigasi kasus kriminal. Ilmu forensik kedokteran gigi berkembang berdasarkan pada kenyataannya bahwa bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi wajah merupakan karakteristik yang dapat dipakai sebagai acuan dalam proses identifikasi investigasi kasus. Odontologi forensik memainkan peranan yang penting untuk menentukan jenis kelamin korban menggunakan area kraniofasial.Identifikasi jenis kelamin dapat menggunakan bagian jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut salah satunya rugae palatina. Identifikasi rugae palatina disebut rugoscopy. Rugoscopy bertujuan membantu mengidentifikasi identitas seseorang salah satunya jenis kelamin. Tujuan: Mengetahui perbandingan rugae palatina berdasarkan jenis kelamin pada masyarakat etnis Banjar sebagai alat identifikasi forensic Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dimana terdiri dari 2 kelompok yaitu 18 pasang laki-laki dan perempuan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pencetakan rahang menggunakan irreversible hydrocolloid dilanjutkan dengan pengecoran gips. Pola rugae palatina akan digambar menggunakan pensil. Pola rugae palatina dianalisis menggunakan klasifikasi Thomas dan Kotze. Hasil: Hasil uji Fisher exact menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (>0,05) antara 2 kelompok jenis kelamin. Pola rugae palatina yang dominan di kedua kelompok adalah wavy.  Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pola rugae palatina perempuan dan pola rugae palatina laki-laki.Kata kunci :        Jenis Kelamin, Rugae palatina, Suku Banjar
PERBANDINGAN POLA SIDIK BIBIR BERDASARKAN JENIS KELAMIN SEBAGAI IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR Muhammad Khairul Ikhsan; Bayu Indra Sukmana; Debby Saputera; Irnamanda D.H; Huldani Huldani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13107

Abstract

ABSTRACTBackground: Forensic identification for criminal investigations can utilize thebite record method. In certain cases where bite record data is unavailable, thetechnique of cheiloscopy can be employed. A forensic odontology identification method called cheiloscopy uses thelips' mucosal surface grooves and wrinkle patterns to identify individuals. Lip print patterns are distinctive and reliable evidence in criminal cases since they don't change from as early as six weeks of pregnancy until themoment of death. Purpose: Thepurpose of this study is to investigate thedifferences in lip print patterns between men and women. Methods: Theresearch methodology employed is an analytical survey with a cross-sectional design. Thestudy sample comprises 21 pairs of male and female active pre-clinical students from theclass of 2020-2022. Red lipstick was placed consistently to thevermilion border of therespondents' lips, and then printed with transparent tape. Thelip prints were analyzed by categorizing them into six quadrants using theSuzuki-Tsuchihasi classification method in order to identify thespecific lip print pattern. Results: Thechi-square test analysis revealed a statistically significant difference between thetwo groups, with a p-value below 0.05. Men had a higher prevalence of Type III lip prints, whereas women showed a higher prevalence of Type I lip prints. Conclusion: Men's and women's lip print patterns differ significantly from one another.Keywords : Lip Prints; Gender; Banjar Ethnic ABSTRAK Latar Belakang: Identifikasi forensik untuk investigasi kriminal dapat menggunakan metode catatan gigit, namun dalam kasus tertentu metode yang lain dapat digunakan jika data catatan gigit tidak tersedia ialah cheiloscopy. Cheiloscopy merupakan salah satu metode identifikasi odontologi forensik yang memerlukan media berupa pola sidik bibir yang terdapat pada mukosa bibir manusia sebagai sarana identifikasi.Pola sidik bibir dapat menjadi barang bukti dalam penanganan kasus kejahatan karena memiliki sifat yang unik dan stabil antar individu. Pola sidik bibir juga tidak dapat berubah sejak 6 minggu kehidupan seorang manusia pada masa kehamilan hingga meninggal dunia. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk menganalisis perbandingan pola sidik bibir antara pria dan wanita. Metode Penelitian: Desain cross-sectional dan survei analitik adalah metode penelitian yang digunakan. Sebanyak 21 pasang mahasiswa preklinik aktif pria dan wanita dari preklinik angkatan tahun 2020-2022 menjadi sampel penelitian. Lipstik merah diaplikasikan secara merata pada batas vermilion bibir responden lalu dicetak dengan selotip bening dan hasil cetakan ditempelkan pada buku penelitian. Cetakan sidik bibir dianalisis dengan membagi menjadi 6 kuadran menggunakan metode klasifikasi Suzuki-Tsuchihasi untuk menentukan tipe pola sidik bibir. Hasil: Hasil analisis uji chi-square menunjukkan <0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara pria dengan wanita. Pola sidik bibir tipe III dominan pada pria dan tipe I pada wanita. Kesimpulan: Adanya perbedaan yang bermakna antara pola sidik bibir pria dan wanita. Kata kunci :  Etnis Banjar, Jenis Kelamin, Sidik Bibir
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Studi in Vitro) Dini Maulani; Yusrinie Wasiaturrahmah; Bayu Indra Sukmana; I Wayan Arya Krisnawan Firdaus; Irham Taufiqurrahman
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16559

Abstract

Background: Aggressive periodontitis is a disease that rapidly destroys the periodontal tissue caused by the dominance of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria by 90%. Aggressive periodontitis treatment can be in the form of antibiotics. One of the antibiotics that can be used is metronidazole gel 25%, but this drug can have side effects if used in the long term. There are herbal plants, namely kecapi leaves (Sandoricum koetjape Merr) which contain compounds that can be used as antibacterials including saponins, alkaloids, flavonoids, and triterpenoids. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% on the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria. Methods: True experimental design with post test only with control group and there were 9 treatment groups with 3 repetitions. The treatment in this study was kecapi leaves extract concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70%, the positive control was metronidazole gel 25% and the negative control was aquadest. The antibacterial test used the liquid dilution method to determine the value of Minimum Inhibitory Content (MIC) and solid dilution to determine the value of Minimum Bactericidal Content (MBC). Results: Based on the results and data analysis, it was found that kecapi leaf extract had a Minimum Inhibitory Content (MIC) at a concentration of 10% and a Minimum Inhibitory Content (KBM) at a concentration of 30%. Conclusion: Kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% has antibacterial effectiveness against the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Keywords: Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Aggressive Periodontitis, Kecapi leaves ABSTRAKLatar belakang: Periodontitis agresif merupakan penyakit yang merusak jaringan periodontal dengan cepat yang disebabkan oleh dominasi bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans sebesar 90%. Perawatan periodontitis agresif dapat berupa antibiotik. Salah satu antibiotik yang dapat dipakai yaitu metronidazol gel 25%, namun obat ini dapat memberikan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang. Terdapat tumbuhan herbal yaitu daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) yang mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai antibakteri diantaranya saponin, alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Metode: True experimental dengan desain post test only with control group dan terdapat 9 kelompok perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu ekstrak daun kecapi konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70%, kontrol positif berupa metronidazol gel 25% dan kontrol negatif berupa akuades. Uji antibakteri menggunakan metode dilusi cair untuk mengetahui nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan dilusi padat untuk mengetahui nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil: Berdasarkan hasil dan analisis data didapatkan bahwa ekstrak daun kecapi memiliki Kadar Hambat Minimum (KHM) pada konsentrasi 10% dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) pada konsentrasi 30%. Kesimpulan: Ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Kata Kunci : Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Daun kecapi, Periodontitis Agresif
Co-Authors Afifah Rahmiati Agung Pratama Akbar Agung Satria Wardhana Ahmad Habibi Awwalu Hakim Ahmad Habibi Awwalu Hakim, Ahmad Habibi Andiyah, Angelia Wurie Anugrah Qatrunnada Hakim Aspriyanto, Didit Aulia Azizah Azhary Ramadhan Azhary Ramadhan, Azhary Baehaqi Bulqis Az Zahra Cholil Cholil Cholil, Cholil Dea Pengasih Debby Saputera, Debby Deslita Trilianti Istiyana Deslita Trilianti Istiyana, Deslita Trilianti Diana Wibowo Dini Maulani Dwi Kurniawan, Fajar Kusuma Edi Hartoyo Erida Wydiamala Eugenia Clairine Farah Aida Putri Ferdy Juliannor Fajar Fifi Dwidhanti Firdaus, I Wayan Arya Krishnawan Garcia, Frida Dillenia Contesa Ghina Ulya Rifdayanti Hatta, Isnur Huldani Huldani Husnul Khatimah I Wayan Arya K. Firdaus I Wayan Arya Krishnawan Firdaus I Wayan Arya Krisnawan Firdaus Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar Ika Kusuma Wardani Irnamanda D.H., Irnamanda Khatimah, Husnul Melisa Budipramana, Melisa Melissa Budipramana Muhammad Khairul Ikhsan Muhammad Wafii Ramadhan Nada Putri Ariska Nida Aulia Noorma Noorma Nor Rahman Sugiarto Norliyanti Norliyanti Nurfarahin Ajani Nurrahman, Tri Nurul A&#039;idah Oktiani, Beta Widya Rahmad Arifin Raudatul Izzah Renie Kumala Dewi Retno Septiana Ananda Retno Septiana Ananda, Retno Septiana Rizki Sri Yuliati Robiyansyah, Hengki Rosihan Adhani, Rosihan Sari, Galuh Dwinta Sarifah, Norlaila Sherli Diana Siti Aulia Rahmah Sofyan Erwandi Taqwa Handraji Manto Theresia Indah Budhy Sulisetyawati Tri Putri, Deby Kania Utami, Juliyatin Putri Widiawati, Shely Desia Wydiamala, Erida Yusrinie Wasiaturrahmah Z. Paramitha, Andi Irmaya