Claim Missing Document
Check
Articles

Implementation of School-Based Mental Health Program on Teachers' Ability To Handle Students' Emotional And Behavioral Problems: One Group Pretest-Posttest Design Daulay, Wardiyah; Nasution, Mahnum Lailan; Purba, Jenny Marlindawani
Caring: Indonesian Journal of Nursing Science Vol. 7 No. 2 (2025): Vol 7 No 2 2025 Caring: Indonesia Journal of Nursing
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/ijns.v7i2.20253

Abstract

The increasing prevalence of emotional and behavioral problems among teenagers necessitates effective, early intervention. The World Health Organization recommends schools as key sites for mental health promotion. However, the sustainability of these programs is often a significant challenge. Empowering teachers to handle students' emotional and behavioral issues is a critical strategy to improve program sustainability. This study aimed to evaluate the impact of a school-based mental health program on teachers' abilities to manage students' emotional and behavioral problems. This study utilized a one-group pretest-posttest design. A total of 60 teachers from SMP Negeri 1 Tanjung Morawa participated as the sample. Teachers' abilities were measured using a questionnaire before (pretest) and after (posttest) the implementation of the school-based mental health program. Data were analyzed using a dependent t-test to compare the mean scores. A significant improvement in teachers' abilities was observed after the program. The mean ability score increased from 50.13 at pretest to 75.20 at posttest, representing a mean difference of 25.07 (a 50.01% increase). This increase was statistically significant (p < 0.001, with an alpha of 0.05). The school-based mental health program was effective and had a substantial influence on improving teachers' abilities to handle students' emotional and behavioral problems. These findings support teacher empowerment as a viable strategy for implementing and sustaining mental health programs in school setting. Keyword: Teacher, Student emotional problems, Behavioral problems
Pengalaman Caregiver Merawat Anggota Keluarga Dengan Skizofrenia yang Mengalami Relaps di UPTD Khusus RSJ Prof. Muhammad Ildrem Medan Lia Debora Manihuruk; Jenny Marlindawani Purba; Wardiyah Daulay
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49675

Abstract

Merawat anggota keluarga dengan skizofrenia merupakan tantangan bagi caregiver di rumah. Orang dengan skizofrenia sangat beresiko mengalami kekambuhan dan membutuhkan pengobatan serta perawatan dalam waktu yang lama. Penyakit ini tidak hanya berdampak kepada pasien saja tetapi juga memberikan dampak kepada keluarga khususnya caregiver. Dampak yang dirasakan caregiver memberikan perubahan-perubahan dalam kehidupan caregiver. Tujuan dari penelitian ini untuk mengeksplorasi pengalaman caregiver merawat anggota keluarga dengan skizofrenia yang mengalami kekambuhan atau relaps. Desain penelitian menggunakan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif.  Partisipan berjumlah 10 orang yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Alat pengumpulan data berupa kuesioner data demografi, panduan wawancara, catatan lapangan dan alat perekam suara. Metode analisa data menggunakan metode Colaizzi yang terdiri dari tujuh langkah. Penelitian ini menghasilkan 5 tema, yaitu, perubahan yang dirasakan caregiver, faktor pendukung menjadi caregiver, hambatan merawat anggota keluarga dengan skizofrenia, stigma yang dihadapi caregiver, harapan terhadap proses pengobatan dan pelayanan rumah sakit. Peran caregiver sangat dibutuhkan untuk mencapai perawatan yang optimal sekaligus mencegah kekambuhan pada orang dengan skizofrenia. Edukasi tentang skizofrenia perlu diberikan kepada caregiver untuk meningkatkan pemahaman, sikap yang positif dan keterampilan yang adekuat dalam merawat anggota yang mengalami skizofrenia.
Emotional intelligence and education-related stress among baccalaureate nursing students in Indonesia: A cross-sectional study Tarigan, Mula; Silitonga, Hanna Yudit Lamro; Purba, Jenny Marlindawani; Nurhidayah, Rika Endah; Nilvarangkul, Kessarawan
Belitung Nursing Journal Vol. 11 No. 6 (2025): November - December
Publisher : Belitung Raya Publisher - Belitung Raya Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33546/bnj.4053

Abstract

Background: Nursing students frequently encounter education-related stress (ES) arising from demanding academic workloads, clinical responsibilities, and personal adjustments during their training. Persistent stress can negatively impact learning outcomes, clinical performance, and psychological well-being. Emotional intelligence (EI), which involves the ability to perceive, understand, and manage emotions in oneself and others, is recognized as a protective factor that helps individuals regulate stress and adapt to challenges. However, research exploring the relationship between EI and ES among nursing students in Indonesia remains limited. Objective: This study examined the association between EI and ES among baccalaureate nursing students at a public university in Indonesia. Methods: A cross-sectional correlational design was conducted from September to November 2024 with 225 participants selected through stratified random sampling. Data were collected using the Indonesian version of the Trait Emotional Intelligence Questionnaire–Short Form and the Indonesian-translated Arabic Higher Education Stress Inventory. Descriptive statistics summarized the levels of EI and ES, while Spearman’s correlation, Mann–Whitney U, and Kruskal–Wallis tests were used to assess associations between variables. Results: Most students demonstrated moderate levels of EI (73.8%) and ES (64%). The median (IQR) scores were 138.00 (29) for EI and 37.00 (8) for ES. A significant negative correlation was found between EI and ES (rₛ = -0.445, p <0.01), indicating that students with higher EI experienced lower stress levels. Among demographic variables, only gender was significantly associated with ES (p = 0.05), with men reporting higher mean ranks than women. Conclusion: The findings highlight the importance of emotional intelligence in mitigating education-related stress among nursing students. Incorporating EI development into nursing curricula through emotional regulation training, reflective practices, and social–emotional learning strategies can build resilience, improve coping skills, and boost students’ academic and clinical performance. Further long-term studies are recommended to investigate the causal relationships and effectiveness of EI-based interventions.
Nilai – Nilai dan Norma Budaya Batak Toba dalam Perawatan Diri Lansia Untuk Pencegahan Komplikasi Diabetes Melitus: Studi Ethnonursing Evi Metti Purba; Evi Karota; Siti Zahara Nasutin; Farida Linda Sirega; Jenny Marlindawani Purba
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58163

Abstract

Abstrak Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan perawatan diri (self-care) optimal untuk mencegah komplikasi, khususnya pada lansia. Namun, penelitian mengenai peran nilai budaya dalam membentuk perilaku self-care pada komunitas etnis tertentu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai dan norma budaya Batak Toba dalam perawatan diri lansia dengan diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain ethnonursing yang mengintegrasikan Culture Care Theory dan Goal Attainment Theory. Sebanyak 15 informan dipilih secara purposive di wilayah kerja Puskesmas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan thematic analysis. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama, yaitu: (1) penggunaan herbal tradisional dan praktik penyembuhan budaya, (2) pengaruh kepercayaan spiritual terhadap keputusan kesehatan, (3) peran keluarga dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, dan (4) norma budaya yang memengaruhi pola makan, kepatuhan pengobatan, dan interaksi sosial. Nilai budaya tersebut membentuk perilaku self-care lansia secara holistik. Penelitian ini menunjukkan bahwa perawatan diri lansia Batak Toba bersifat multidimensional dan berbasis budaya. Oleh karena itu, intervensi keperawatan yang sensitif budaya dan berbasis keluarga diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan diabetes dan pencegahan komplikasi. Kata kunci: Diabetes melitus, self-care, budaya Batak Toba, lansia, ethnonursing
Pengaruh Self-Care Management Berbasis Pemberdayaan Keluarga Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Rahmah Syahfitri; Evi Karota; Jenny Marlindawani Purba; Kiking Ritarwan; Siti Zahara Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58238

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis tidak menular yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Pengendalian tekanan darah yang tidak optimal sering dikaitkan dengan kurangnya kemampuan self care-management, rendahnya kepatuhan pengobatan, serta minimnya keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien. Pendekatan self-care management berbasis pemberdayaan keluarga dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam mempertahankan perilaku hidup sehat dan mengontrol tekanan darah secara lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas self-care management berbasis pemberdayaan keluarga terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design yang melibatkan 68 pasien hipertensi yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan edukasi self-care management berbasis keluarga, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan rutin. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok intervensi (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p > 0,05). Selain itu, kelompok intervensi menunjukkan kepatuhan self-care yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Self-care management berbasis pemberdayaan keluarga efektif dalam meningkatkan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi.