Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pemanfaatan Kombinasi Tumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Dan Rumput Kumpai (Hymenachine amplexicaulis (Rudge) Nees) Sebagai Bahan Pembuatan Kompos Dengan Menggunakan Mol Tomat Dan Mol Kulit Nanas Di Desa Punggur Kecil Fikri, Chairul; Anwar, Taufik; Suharno, Suharno
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 2 No 2 (2023): Journal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v2i2.278

Abstract

Eceng gondok dan rumput kumpai adalah bahan yang dapat digunakan untuk membuat kompos. Tujuan penelitian untuk menganalisa perbedaan waktu pematangan kompos bahan kombinasi Eceng Gondok dan Rumput Kumpai menggunakan MOL Tomat dan MOL Kulit Nanas. Metode penelitian menggunakan eksperimen semu (quasi experimen) dengan populasi Eceng Gondok dan Rumput Kumpai. Penelitian ini menggunakan 5 kali penggulangan untuk MOL Tomat dan MOL Kulit Nanas. Analisis data menggunakan uji statistik parametrik one way anova. Hasil penelitian, waktu pematangan kompos menggunakan MOL Tomat paling lama pada dosis 30 ml selama 26 hari sedangkan yang paling cepat pada dosis 70 ml selama 14 hari. Waktu pematangan kompos menggunakan MOL Kulit Nanas paling lama pada dosis 30 ml selama 26 hari sedangkan yang paling cepat pada dosis 70 ml selama 14 hari. Kesimpulan penelitian, terdapat perbedaan signifikan antara tiap dosis MOL Tomat terhadap waktu pematangan kompos dengan nilai (p=0,000).
PERSEPSI PEDAGANG TENTANG KEBERSIHAN DAN SANITASI PASAR PURING KOTA PONTIANAK TAHUN 2023 Mutia, Mutia; Anwar, Taufik; Salbiah, Salbiah
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol 3 No 1 (2024): Journal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v3i1.285

Abstract

Persepsi pedagang mengenai sampah sering kali tidak ditanggapi dengan baik oleh pedagang di Pasar puring sehingga menimbulkan penumpukan sampah yang berlebihan dan bisa berdampak terhadap kebersihan dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi pedagang tentang kebersihan dan sanitasi, dan menganalisis hubungan antara persepsi pedagang terhadap kebersihan dan sanitasi pasar puring Kota Pontianak. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel yang digunakan 63 responden dengan Teknik Acak Sederhana (simple random sampling). Teknik untuk menganalisis data menggunakan uji chi square. Lokasi penelitian dilakukan di Pasar Puring, Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Hasil penelitian ini menggunakan uji chi square diperoleh hasil nilai sig/p value 0,03 < α 0,05 bahwa ada hubungan persepsi pedagang tentang kebersihan dan sanitasi pasar puring. Sebagian besar pedagang pasar puring mempunyai persepsi yang kurang baik dan kurang bersih tentang kebersihan dan sanitasi pasar puring. Kesimpulan hasil penelitian ini ada hubungan persepsi pedagang tentang kebersihan dan sanitasi pasar puring kota pontianak tahun 2023.
Analisis Pengelolaan Sanitasi Linen di Rumah Sakit TNI AU Soemitro Surabaya Shafa Aulia Hasnaningrum; Fitri Rokhmalia; Setiawan; Iva Rustanti; Demes Nurmayanti; Taufik Anwar
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2023): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v21i2.80

Abstract

Pengelolaan linen menjadi salah satu peranan pendukung non medis yang disediakan oleh rumah sakit. Pengolahan limbah domestik seperti limbah linen yang di hasilkan dari rumah sakit perlu dikelola dengan baik untuk meminimalisir dampak terhadap Kesehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan sanitasi linen di Rumah Sakit TNI AU Soemitro Surabaya Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan analisis Context, input, prosess, product (CIPP). Variabel penelitian meliputi sumber daya manusia, prosedur manajemen linen, infrastruktur pendukung, serta mutu produk. Metode pengumpulan informasi menggunakan observasi, wawancara, serta hasil uji laboratorium. Analisis data menggunakan penilaian analisis CIPP untuk memberikan alternatif pemecahan masalah bagi pimpinan Rumah Sakit TNI AU Soemitro yang bertitik pada pandangan bahwa keberhasilan pengelolaan linen dipengaruhi dari beberapa faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pengumpulan, penerimaan, pencucian, distribusi, dan pengangkutan linen menggunakan form Inspeksi Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit berkategorikan cukup. Infrastruktur pendukung pengelolaan linen, sumber daya manusia dan mutu linen bersih tidak memenuhi syarat Peraturan Menteri Kesehatan No. 7 Tahun 2019. Analisis CIPP pelaksanaan pengelolaan linen mendapatkan nilai cukup dari ketiga informan. Kesimpulan penelitian ini adalah sumber daya manusia, infrastruktur pendukung, proses pengelolaan linen, dan mutu linen bersih tidak memenuhi syarat peraturan menteri kesehatan no. 7 tahun 2019, sehingga analisis CIPP diperlukan strategi defensive dalam rumah sakit memberikan keputusan terlepas dari kerugian yang lebih besar yaitu bekerjasama dengan pihak ketiga.
Evaluation of Manganese (Mn) and Cadmium (Cd) Heavy Metal Content in Staple Foods Based on Food Sources and Environmental Conditions in Pregnant Women in Sambas Regency, Indonesia Taufik Anwar; Slamet; Supriyanto; Cecep Dani Sucipto; Suharno
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 2 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i2.268

Abstract

Exposure to heavy metals, particularly Manganese (Mn) and Cadmium (Cd), in staple foods is a serious health issue for pregnant women in Sambas Regency, Indonesia. This study aims to evaluate the content of Mn and Cd in staple foods and environmental factors that influence exposure in pregnant women. The method used was an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 93 pregnant women selected by purposive sampling. Data were collected through structured interviews and laboratory analysis using atomic absorption spectrometry. The results showed that the average level of Mn in rice was 7.37 mg/kg, while the average level of Cd was 0.056 mg/kg. A total of 68.8% of respondents obtained their rice from local markets, potentially increasing the risk of heavy metal exposure. In addition, 87.1% of respondents reported using house paint, which could be an additional source of exposure. Conclusions from this study emphasise the need for closer monitoring of food quality and education on the dangers of heavy metal exposure for pregnant women, as well as the need for further research to understand the cumulative impact of multi-metal exposure in the context of pregnancy.
Environmental Health Inspection of Sanitation Facilities at the Religious Tourism Tomb of Syaikhona Kholil Bangkalan, East Java Ilmiyatul Asroriyah; Rachmaniyah; Putri Arida Ipmawati; khambali; Iva Rustanti; Estim, Abentin; Anwar, Taufik
Jurnal Higiene Sanitasi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/hisan.v5i1.98

Abstract

Religious tourism is one of the fastest-growing tourism sectors in Indonesia. However, the increasing number of visitors each year, combined with inadequate maintenance of sanitation facilities at religious sites, may elevate the risk of disease transmission. This study aimed to evaluate the condition of sanitation facilities at the Syaikhona Kholil Religious Tourism Site in Bangkalan. A descriptive survey design was employed to assess several key sanitation indicators, including the provision of clean water, wastewater disposal, waste management, toilet facilities, healthcare facilities, fire extinguishing equipment, and educational signage. The findings indicated that the overall sanitation facility score was categorized as "moderate" (63%). Specifically, waste management (75%) and toilet facilities (77%) were rated as moderate, while healthcare facilities (20%) and fire extinguishers (20%) were deemed inadequate. Educational signage achieved a moderate score (50%). The study concludes that several sanitation components at the site fail to meet required standards. Improvements in facility maintenance, waste management, healthcare provision, fire safety measures, and public health education are recommended to enhance sanitation standards, promote visitor safety, and reduce the risk of disease transmission.
Effectiveness of Composter with Magic Compos System Forward Reverse Design Through Temperature and Humidity Control on Composing Quality Amaliyah, Nurul; Anwar, Taufik; Wardoyo, Slamet
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 3 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i3.3359

Abstract

Household waste management is an important concern in an effort to reduce the potential negative impact on public health due to organic waste generation. This study aims to analyze differences in compost maturation rates based on variations in the time interval of the turning process in Magic Compost, differences in compost maturation rates based on the type of organic waste, differences in C/N ratio, carbon content, and moisture content in compost, differences in nitrogen, phosphorus, and potassium levels in compost, and differences in temperature, pH, and color in compost based on household organic waste criteria. This research uses an experimental approach with a posttest without a control group design and applies a randomized complete group design (RAKL). The tool used is Magic Compost, which is equipped with a temperature and humidity controller. The results showed a significant difference in the rate of compost maturation based on the time interval variation of the turning process on Magic Compost (p value = 0.000). The best turning time interval is 12 hours. There was a difference in the rate of compost maturation based on the type of organic waste generated by households, with mixed waste compost maturing the fastest and rice/starch waste maturing the slowest (p value = 0.001). While there was no difference in the C/N ratio (p value = 0.202), there were significant differences in the carbon content and moisture content of the compost based on the type of organic waste (p values = 0.042 and 0.000). However, there was no difference in the nitrogen and phosphorus content of the compost (p value = 0.144 and p value = 0.663). There was a difference in potassium levels in the compost based on the type of organic waste (p value = 0.000). The temperature of the resulting compost showed no significant difference (p value = 0.000), but there were differences in the pH and color of the compost based on household organic waste criteria (p values = 0.048 and 0.007). This study provides important insights into organic waste management through composting with Magic Compost, which can be an effective solution for reducing the negative public health and environmental impacts caused by organic waste generation.
Work Fatigue Due to the Use of High Heels on Promotion Girls Workers Sunarsieh, Sunarsieh; Anwar, Taufik; Wardoyo, Slamet
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 21 No 1 (2023): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol21.Iss1.857

Abstract

During working hours, Sales Promotion Girl (SPG) is standing in a shopping center, which can cause work fatigue. The objective of this study was to examine the work fatigue of SPG who wore high heels in various variations. The research design was cross-sectional, with the research subjects being 60 employees from the SPG in Pontianak Indonesia Mall. The L 77 reaction timer was employed to measure fatigue before and after work. The findings revealed that workers who wore 7 cm heels experienced higher levels of fatigue than those who wore 5 cm or 3 cm heels. The study results revealed no significant difference in fatigue before and after working various variations of high heels (p ≤ 0.001). When wearing high heels, the average level of fatigue increases. However, there was no statistically significant difference in heel height variation on fatigue level (p=0.173). When working in a standing position, wearing shoes with low heels increases comfort and reduces worker fatigue. The results of this study can be used as a starting point for future research by other researchers. Moreover, the findings of this study can also serve as a starting point for other researchers to conduct additional research.      
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS DI PUSKESMAS KOTA SINGKAWANG TERHADAP RISIKO PENCEMARAN LINGKUNGAN Bramantio Valentino; Suharno; Taufik Anwar
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol. 5 No. 01 (2026): Jurnal of Environmental Health and Sanitation Technology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v5i01.473

Abstract

Kalimantan Barat memiliki Puskesmas sebanyak 249 buah dengan 10 buah Puskesmas berada di Kota Singkawang tersebar di masing-masing kecamatan sebanyak 2 buah Puskesmas. Hasil dari pengamatan pendahuluan menunjukkan kurangnya pemahaman klasifikasi limbah diikuti dengan pemahaman petugas yang kurang. Selain itu, penggunaan wadah tidak sesuai dengan volume yang dihasilkan dan wadah tidak tertutup rapat serta pengumpulan limbah ke tempat penyimpanan sementara (TPS) tidak dilakukan secara rutin, TPS masih belum memenuhi standar dan belum memiliki izin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi pengelolaan limbah medis Puskesmas di Kota Singkawang terhadap Risiko Pencemaran Lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif analitik. Penelitian dilakukan di Kota Singkawang pada Maret – Juli 2025. Variabel yang memenuhi syarat ialah pemilahan, pewadahan, dan pengangkutan pihak ke 3. Sedangkan variabel yang tidak memenuhi syarat ialah pengangkutan setempat dan penyimpanan sementara. Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemilahan, pewadahan, dan pengangkutan pihak ke 3 memenuhi syarat dalam pelaksanaan pengelolaan limbah, sedangkan pengangkutan setempat dan penyimpanan sementara tidak memenuhi syarat dalam pelaksanaan limbah.
EFEKTIVITAS KOMBINASI PENGGUNAAN MOL AMPAS TEBU DAN MOL BONGGOL PISANG NIPAH TERHADAP KECEPATAN PEMATANGAN KOMPOS SAMPAH SAYUR DI PASAR PAGI KOTA PONTIANAK Nabilah Putri Ananda; Taufik Anwar; Susilawati Susilawati
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v3i2.341

Abstract

Sampah sisa sayuran apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun bagi kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini yaitu ingin melihat perbedaan kecepatan pematangan kompos kombinasi MOL ampas tebu dan MOL bonggol pisang nipah. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment) dengan kombinasi mol ampas tebu dan mol bonggol pisang nipah. Sampel yang digunakan yaitu 40 sampel dengan 5 kali pengulangan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis Uji One Way Anova. Hasil penelitian ini yaitu kecepatan pematangan kompos sampah sayur selama 21 hari dengan komposisi bahan sebanyak 15 kg. Adanya perbedaan di setiap variasi dosis terhadap kecepatan pematangan kompos dimana di setiap persentase memiliki kenaikan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kecepatan pematangan kompos sampah sayur menggunakan kombinasi MOL Ampas Tebu dan MOL Bonggol Pisang Nipah adalah pada dosis 50 ml selama 13 hari dan paling lama pada dosis 10ml selama 17,6 hari. Untuk proses pencacahan kompos harus lebih kecil sehingga kompos dapat mengurai lebih cepat.
GAMBARAN PENERAPAN HYGIENE SANITASI MAKANAN DI RSUD Dr. SOEDARSO PONTIANAK Dea Natania Salsabilla; Taufik Anwar; Fara Chitra
Journal of Environmental Health and Sanitation Technology Vol. 4 No. 1 (2025): Journal of Environmental Health and Sanitation Techology
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jehast.v4i1.388

Abstract

Hygiene sanitasi makanan diperlukan untuk melindungi makanan dari kontaminasi maupun mikroorganisme penular penyakit. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 Hygiene Sanitasi makanan adalah upaya untuk mengendalikan faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan. Rumah Sakit Dr.Soedarso merupakan rumah sakit terbesar yang ada di kota Pontianak dengan jumlah pasien pada tahun 2023 sebanyak 2099 orang. Rumah Sakit ini adalah salah satu unit kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan keadaan sanitasi dalam penanganan makanan di rumah sakit. karena orang sakit rentan terhadap penyakit sehingga perlu diawasi higiene sanitasi makanan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan hygiene sanitasi makanan dan jumlah angka kuman pada peralatan makanan pada pasien di RSUD Dr.Soedarso. Setelah dilakukan penelitian dari 6 prinsip makanan sudah memenuhi persyaratan kesehatan dari pemilahan bahan makanan diperoleh sebesar 100%, penyimpanan bahan makanan 94%, pengolahan bahan makanan 91%, penyimpanan makanan jadi 100%, pengangkutan makanan jadi 100%, penyajian makanan jadi 100%, dan personal hygiene sanitasi makanan 100%. Penelitian Hygiene sanitasi makanan dapat di kategorikan dengan baik karena 6 penerapan hygiene sanitasi makanan sudah sesuai dengan Permenkes RI NO 1096, 2011.