Claim Missing Document
Check
Articles

Deteksi masalah kesehatan bagi lanjut usia Kelurahan Pakuncen Kecamatan Wirobrajan Desty Ervira Puspaningtyas; Natalia Desy Putriningtyas
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.649 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v1i1.15

Abstract

Latar Belakang:Lanjut usia (lansia) merupakan golongan umur yang rentan mengalami berbagai permasalahan gizi dan kesehatan, baik status gizi kurang maupun status gizi lebih karena adanya perubahan pola makan. Permasalahan lain yang biasa dialami paralansia adalah hipertensi, hiperurisemia, dan hiperglikemia. Tujuan: Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah mengetahui persentase kejadian malnutrisi, hipertensi, hiperurisemia, dan hiperglikemia pada lansia. Pengabdian ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lansia untuk melakukan pemeriksaan secara dini dan berkala. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini diawali dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan tekanan darah, pengecekan kadar asam urat dan kadar glukosa darah. Pengukuran berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah menggunakan timbangan digital, mikrotoa, dan tensimeter digital.Pemeriksaan darah dilakukan secara cepat menggunakan easy touch.Sasaran pengabdian adalah lansia di RW 07 Kelurahan Pakuncen Kecamatan Wirobrajan Kota Yogyakarta yang berjumlah 48 orang (13 laki-laki dan 35 perempuan). Hasil: Diketahui berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT) secara berurutan adalah 57,84 ± 10,62; 153,23 ± 7,12; dan 24,58 ± 3,96. Data pemeriksaan kesehatan menunjukan tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, kadar asam urat dan glukosa adalah 132 (88 – 175); 78 (60 – 109); 6,1 (3,10 – 15,90); dan 112,5 (55 – 261).Persentase obesitas, hipertensi, hiperurisemia, dan hiperglikemia secara berurutan adalah 50%; 35,4%; 47,9%; 16,7%. Kejadian obesitas, hipertensi, dan hiperurisemia lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki. Kesimpulan: Mayoritas sasaran pengabdian memiliki status gizi obesitas, tekanan darah pre-hipertensi dan hipertensi, normourisemia, dan normoglikemia. 
Asupan energi, konsumsi suplemen, dan tingkat kebugaran pada atlet sepak bola semi-profesional Riski Desiplia; Eka Novita Indra; Desty Ervira Puspaningtyas
Ilmu Gizi Indonesia Vol 2, No 1 (2018): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.615 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v2i1.72

Abstract

Latar Belakang: Kebutuhan energi yang berasal dari karbohidrat, protein, dan lemak berperan untuk meningkatkan kesehatan dan stamina dalam permainan sepak bola. Aktivitas latihan pada sepak bola menyebabkan kebutuhan energi atlet mengalami peningkatan. Selain energi, atlet membutuhkan tambahan vitamin dan mineral, baik dari makanan atau dari konsumsi suplemen. Atlet sepak bola profesional memiliki pola latihan yang berbeda dengan atlet sepak bola semi-profesional yang turut berperan dalam perbedaan kebutuhan energi dan konsumsi suplemen.Tujuan: Mengetahui hubungan asupan energi dan konsumsi suplemen dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola semi-profesional. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Klub Guntur FC dan HW UMY pada bulan Maret hingga April 2017. Subjek penelitian ini berjumlah 33 atlet sepak bola. Data asupan energi dan konsumsi suplemen dikumpulkan dengan formulir food recall 24 jam dan kuesioner penggunaan suplemen. Tingkat kebugaran diukur dengan multistage fitness test. Perbedaan proporsi dan rata-rata tingkat kebugaran berdasarkan asupan energi dan konsumsi suplemen dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Independent Sample T-test. Hasil: Lebih dari 50% subjek mengonsumsi suplemen jenis vitamin C, suplemen dalam bentuk cair dengan tingkat konsumsi setiap hari. Tidak terdapat perbedaan proporsi subjek dengan tingkat kebugaran, baik pada kelompok asupan baik dan kurang baik (p=0,331). Terdapat perbedaan proporsi subjek dengan tingkat kebugaran baik pada kelompok frekuensi konsumsi suplemen sering dan selalu (p=0,013). Terdapat perbedaan rata-rata tingkat kebugaran antara kelompok frekuensi konsumsi suplemen sering dan selalu (p<0,001). Kesimpulan: Tidak ada hubungan asupan energi dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola. Ada hubungan frekuensi konsumsi suplemen dengan tingkat kebugaran atlet sepak bola.
Effect of exercise on lipid peroxidation in student soccer players Desty Ervira Puspaningtyas; Yuni Afriani; Silvi Lailatul Mahfida; Wara Kushartanti; Arta Farmawati
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 1 (2018)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.726 KB) | DOI: 10.19106/JMedSci005001201811

Abstract

Training is conducted to improve physiological functions that can support improvementof cardio-respiratory function (O2max). However, intensive training can lead to oxidativestress, which can contribute to health problems. The purpose of this study was to evaluatethe effect of training on serum lipid peroxidation levels in student soccer players. Thestudy was pre-experimental study with a one-shot case design conducted in April 2014.Twelve student soccer players from UGM who chosen by purposive sampling and metthe inclusion and exclusion criteria were involved in the study. Each subject receivedtraining in the form of O2max measurements using the yo-yo intermittent recovery test.Plasma malondialdehyde (MDA) levels were measured using the thiobarbituric acidmethod 30 min after O2max measurement. Pearson correlation was used to analyzethe correlation between O2max and plasma MDA levels. The mean age of subject was19.25±1.06 years old. Subjects had normal nutritional status (body mass index 20.99± 1.65) with mean body weight of 58.13±3.76 kg and mean height of 166.2±3.40cm. The mean O2max score was 49.56±0.61 mL/kg/min. The mean plasma MDA levelwas 4.32±2.09 μmol/L. There was no significant correlation between O2max and plasmaMDA levels (p=0.7717). In conclusion, training does not negatively impact oxidativestress conditions in student soccer players.
Analysis of body type, dietary intake, and cardiorespiratory function in college soccer players Desty Ervira Puspaningtyas; Yuni Afriani; Silvi Lailatul Mahfida; Arta Farmawati; Wara Kushartanti
Jurnal Keolahragaan Vol 10, No 1: April 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Keolahragaan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.275 KB) | DOI: 10.21831/jk.v10i1.46303

Abstract

This study aims to analyze body type, dietary intake, and cardiorespiratory function of college soccer players. A total of 32 players (20 players from Yogyakarta State University and 12 players from Gadjah Mada University) were involved in this study. The study was carried out in April - June 2014. Body type, or somatotype, was calculated based on anthropometric measurements (weight, height, epicondylar humerus and epicondylar femur width, arm and calf circumference, and subcutaneous fat thickness). 24-hour food recall was used to measure the athlete's dietary intake. VO2max was used to describe the athlete's cardiorespiratory function, and it was measured by yo-yo intermittent recovery test level 2. The data were analyzed descriptively using statistical software. More than three-quarter of the players had normal nutritional status with body mass index=21.54±1.84. The majority player's body type was balanced mesomorph (2.6-4.4-2.7). Balanced mesomorph players and ectomorphic mesomorph players had adequate energy and protein intake (2,623.83 kcal energy and 75.82 g protein for balanced mesomorph players; 2.724.68 kcal energy and 84.83 g protein for ectomorphic mesomorph players). Ectomorphic mesomorph players had the highest VO2max level (52.37±2.61 ml/kg/min). Soccer players with a mesomorph component supported by good energy and protein intake have the most optimal VO2max level.
Dietary fiber and carboydrate contents of gathotan and gathot as functional food for people with diabetes mellitus Puspita Mardika Sari; Desty Ervira Puspaningtyas; Rio Jati Kusuma
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 5, ISSUE 2, 2017
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.894 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2017.5(2).88-92

Abstract

Background : Gathotan and gathot are Indonesian cassava traditional fermented food from Gunungkidul, Yogyakarta. These fermented foods may be considered as an important component of a functional-foods based diet for management of type 2 diabetes mellitus (DM). Previous study found that gathotan and gathot hadve low glycemic index (GI). Fermentation processed using fungi and bacteria hadve potency to give many beneficial effects, such as prebiotic that gives contribution on the forming of short chain fatty acid (SCFA). SCFA gives many beneficial effects on metabolism and prognosis on DM type 2. However, there have been no study on the potency of gathotan and gathot as dietary fiber sources.Objectives: This study was designed to examine carbohydrate and dietary fiber content in gathotan and gathot as functional food for people with DM.Methods: Gathotan was made by spontaneous fermentation. Gathot was made by soaking overnight of gathotan, then steaming and drying. Carbohydrates content was calculated by using “carbohydrate by diference” method. Dietary fiber content was analyzed by using enzymatic gravimetri method.Results: The highest carbohydrate content was found in cassava (81,13%), followed by gathotan (68,32%), and gathot (39,03%), respectively. The highest dietary fiber content was found in gathot (17,36%), followed by gathotan (14%), and cassava (8,61%) respectively.Conclusions: Fermentation process of cassava to be gathotan and gathot are potential to increase dietary fiber and decrease carbohydrate content. KEYWORDS: gathotan, gathot, functional food, diabetes mellitus.
Influence/effectiveness of carrot and orange mix juice on ṼO2Max in soccer players Yeri Amranitalia Putri; Eni Yusniati; Diana Nurrohima; Herviana Herviana; Desty Ervira Puspaningtyas; Yuni Afriani
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 7 ISSUE 1, 2019
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2019.7(1).23-30

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Daya tahan kardiorespirasi merupakan salah satu unsur penting dalam melakukan latihan fisik. Daya tahan kardiorespiratori dapat diketahui dengan mengukur konsumsi atau volume oksigen maksimal (ṼO2maks). Suplementasi buah dan sayur tertentu telah dibuktikan dapat berperan terhadap daya tahan atlet. Buah dan sayur diduga mempengaruhi daya tahan dengan menunda kelelahan disebabkan zat gizi yang terkandung seperti karbohidrat, vitamin, mineral, dan zat fitokimia. Penelitian sebelumnya menyatakan buah-buahan sumber karbohidrat diketahui dapat memperbaiki ṼO2maks. Beta carotene dan vitamin C telah teruji dapat meningkatkan daya tahan. Buah wortel dan jeruk merupakan buah-buahan dengan kandungan beta carotene dan vitamin C yang tinggi. Buah wortel dan jeruk juga mengandung mineral yang tinggi yaitu kalium. Kalium merupakan mineral utama yang sangat dibutuhkan pada latihan yang membutuhkan daya tahan (endurance) dan kalium  diketahui juga berperan dalam metabolisme karbohidrat untuk mengubah glukosa menjadi glikogen yang disimpan dalam hati untuk energi. Efek dari kombinasi beta carotene, vitamin C dan kalium pada jus wortel dan jeruk terhadap daya tahan kardiorespirasi pada atlit perlu analisis lebih lanjut.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian jus wortel-jeruk terhadap nilai ṼO2maks pada atlet sepak bola.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental dengan rancangan pre-post test without control group. Jumlah subjek penelitian adalah sembilan atlet sepak bola yang memenuhi kriteria inklusi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sepak Bola Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Subjek penelitian menerima intervensi pemberian 250 ml jus wortel-jeruk selama 13 hari. Nilai ṼO2maks diukur menggunakan yoyo intermittent recovery test I sebelum dan setelah intervensi. Perbedaan nilai ṼO2maks sebelum dan setelah intervensi dianalisis menggunakan uji paired t-test.Hasil: Hasil pengukuran nilai ṼO2maks sebelum pemberian jus wortel-jeruk (44,02 ± 2,66) ml /kg /menit dan setelah pemberian jus wortel-jeruk (45,88±3,11) ml/kg/menit. Terdapat perbedaan ṼO2maks yang signifikan setelah pemberian jus wortel-jeruk pada atlet sepak bola (p= 0.003).Kesimpulan: Pemberian jus wortel-jeruk efektif meningkatkan nilai ṼO2maks atlet sepak bola.KATA KUNCI: jeruk; sepak bola; ṼO2maks; wortel; yoyo intermittent recovery test I ABSTRACT Background: Cardiorespiratory endurance is one of the main factors for exercising. Cardiorespiratory endurance can be known by measuring ṼO2max. Fruits and vegetables intake can give beneficial impact for endurance athletes. Fruits and vegetables are thought to affect endurance by delaying fatigue caused by nutrients contained such as carbohydrates, vitamins, minerals, and phytochemicals. Previous studies stated that fruit sources of carbohydrates are known to improve ṼO2maks. Beta carotene and vitamin C have been proven to increase endurance. Carrots and oranges are high in beta carotene and vitamin C. Carrot and orange also contain a high level of potassium. Potassium is one of the main mineral which is needed for endurance exercise and it also has the potential to help carbohydrates metabolism in converting glucose to glycogen which later saved by the liver as an energy source. The effect of the combination of beta carotene, vitamin C and potassium on carrot and orange juice on cardiorespiratory endurance in athletes requires further analysis.Objectives: The purpose of this study was to assess the effect of carrot-orange juice on ṼO2max in soccer players.Methods: This study was a quasi-experimental with pre-post test without control group design. There were nine soccer players from Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta that were taken by using purposive sampling which is match with criteria. The subject had been given 250 ml of carrot-orange juice for 13 days. ṼO2max was measured by using a yoyo intermittent recovery test I. All data were analyzed by paired T-test.Results: The mean of ṼO2max in soccer players before consuming carrot-orange juice is 44.02±2.66 ml /kg /min  and after consuming carrot-orange juice is 45.88±3.11 66 ml /kg /min. There was significant ṼO2max difference after carrot-orange (p=0.003).Conclusion: Consumption of carrot-orange juice for 13 days effectively increase ṼO2max level of soccer players.KEYWORDS: carrot; orange; soccer; ṼO2max; yoyo intermittent recovery test I
Efek minuman kombinasi maltodekstrin dan vitamin C terhadap VO2maks atlet sepak bola Desty Ervira Puspaningtyas; Toto Sudargo; Arta Farmawati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 12, No 1 (2015): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.22831

Abstract

Background: VO2max is one of win determiner in a game. Athletes receive training to improve technical skills, tactical skills, and physiology functions that can support the improvement of VO2max, so they can improve their achievement. Maltodextrin and vitamin C can be used as an ingredient for beverage products which can improve VO2max.Objective: To assess the effect of maltodextrin and vitamin C combination drink on VO2max in soccer athletes.Method: Type of this study was experimental design with the same subject design. The study was conducted from January 2014 until June 2014 at Culinary Laboratory Universitas Gadjah Mada (UGM) and Stadium of Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Subjects of this study were 14 soccer players coming from Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Every subject had to fulfill the inclusion and exclusion criteria, and the subjects were chosen by purposive sampling. In the first treatment, subjects received the combination drink―a drink with a composition 15% of maltodextrin and 250 mg of vitamin C in 300 mL. After 6 days washout period, subjects received 300 mL plain water. Drinks were given 30 minutes before VO2max test. VO2max test method used in this study was yo-yo intermittent recovery test level 2 (IR-2).Results: VO2max when subjects consumed maltodextrin and vitamin C combination drink was significantly lower than VO2max when athletes consumed plain water (p=0,0000).Conclusion: Maltodextrin and vitamin C combination drink was less effective than plain water to enhance VO2max.
Aplikasi self-organizing mapping sebagai alat deteksi anemia pada citra sel darah merah Evrita Lusiana Utari; Latifah Listyalina; Desty Ervira Puspaningtyas
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 16, No 2 (2019): Oktober
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.044 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.39560

Abstract

Application of self-organizing mapping as anemia detection using an image of red blood cellsBackground: Anemia is a nutritional problem characterized by changes in blood cell size, especially in microcytic or macrocytic anemia. Iron deficiency anemia is included in hypochromic microcytic anemia because it has a smaller than normal size red blood cell and has a lower than normal hemoglobin (Hb) arising from reduced supply of iron for erythropoiesis (cell maturation process red blood). Analysis based on red blood cell image is a tool to detect anemia using technology applications. Self-organizing mapping (SOM) is one of the artificial neural networks by dividing the input pattern into several groups, so the network output is in the form of groups that are most similar to the input.Objective: To measure the accuracy of SOM for detecting the size of red blood cells in anemia condition.Methods: The type of research was an observational laboratory. The study was conducted at the Electrobiomedical Laboratory of Universitas Respati Yogyakarta from January to August 2018. The sample consisted of anemia and non-anemia red blood cells which had been tested in a laboratory of 92 blood preparations. Stage of measuring red blood cells consisted of pre-processing (cropping, gray scaling, contrast enhancement, and screening), segmentation, feature extraction, and image identification with SOM. The image identification results were concluded by calculating the accuracy of the anemia detection system based on laboratory examination results.Results: The characteristic that distinguishes anemia and non-anemia was in the size of red blood cells. Anemic red blood cells had different pixel intensities than non-anemic red blood cells. The image of non-anemia red blood cells had a full round or oval image. From as many as 92 detections of blood images, five blood images were not by the target results of laboratory tests. The accuracy achieved by the system was 94.57%.Conclusions: The accuracy value of anemia detection using SOM can be used to identify the type of anemia based on red blood cell size.
Indeks glikemik cookies growol: studi pengembangan produk makanan selingan bagi penyandang diabetes mellitus Desty Ervira Puspaningtyas; Puspita Mardika Sari; Nanda Herdiyanti Kusuma; Debora Helsius SB
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 17, No 1 (2020): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.54576

Abstract

Glycemic index of growol cookies: snack development study for people with diabetes mellitusBackground: Low-glycemic foods with high fiber content have been shown to control blood glucose in diabetics. Growol, cassava fermented food, can be potentially developed as a functional food for diabetics. Growol has higher dietary fiber and lower total sugar, reducing sugar, and sucrose compared to cassava. Carbohydrates in growol combined with roasting processing techniques into cookies products may potentially change the glycemic index of the product.Objective: To examine the potency of growol cookies as a snack for diabetics in terms of the glycemic index of cookies.Methods: This observational laboratory study analyzed the glycemic index of growol cookies compared to glucose and control cookies. The study was conducted from April to October 2019. Ten subjects were involved in the glycemic index measurement. The glycemic index was analyzed through the area under the curve (AUC) ratio of glucose response of food by measuring blood glucose levels during fasting; 30; 60; 90; and 120 minutes after consuming test foods (growol cookies and control cookies).Results: AUC for glucose, control cookies, and growol cookies were 13,669.5; 11,886; and 11,941.5. The glucose glycemic index was 100, while the glycemic index of control cookies and growol cookies was 87. Both control cookies and growol cookies are high glycemic index food. There was an AUC difference between glucose and control cookies (p=0.001) and between glucose and growol cookies (p=0.001). The difference in AUC between control cookies and growol cookies (p=0.991) was not seen.Conclusions: Growol cookies have a lower glycemic index than glucose, but it still cannot be consumed as an alternative snack for diabetics.
Gambaran Sikap Atlet Mengenai Gizi Seimbang dan Pemenuhan Kebutuhan Cairan Siska Puspita Sari; Yuni Afriani; Desty Ervira Puspaningtyas; Nurul Mukarromah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.869 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39879

Abstract

Tujuan: Edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan atlet diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan atlet mengenai jumlah, jenis, dan waktu penting pemenuhan kebutuhan cairan. Selain itu, edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran atlet akan pentingnya mengganti cairan yang hilang selama proses latihan dan atau bertanding sehingga berperan sebagai langkah awal perubahan perilaku konsumsi cairan pada atlet. Isi: Atlet merupakan olahragawan yang terlatih kekuatan, ketangkasan dan kecepatan untuk diikursertakan dalam pertandingan. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang untuk atlet. Untuk menghasilkan pemain sepak bola yang handal, tidak hanya dibutuhkan strategi dan taktik namun juga stamina dan status gizi yang baik. Penerapan gizi seimbang disertai dengan pemenuhan kebutuhan cairan pada atlet berperan dalam mendukung pencapaian performa atlet. Akan tetapi, tidak semua atlet memahami pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan dalam peningkatan performa atlet. Edukasi gizi merupakan upaya yang dapat meningkatkan pengetahuan atlet mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan. Dengan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang dan pemenuhan cairan, sikap atlet terhadap pemilihan menu makanan menjadi baik. Pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah edukasi gizi mengenai gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan atlet. Pengabdian masyarakat dilakukan kepada 21 atlet sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Real Madrid pada tanggal 08 Mei 2018 di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta. Secara keseluruhan, atlet sepakbola SSB Real Madrid mempunyai sikap yang baik terhadap pemilihan menu sehari berdasarkan gizi seimbang. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kemungkinan siswa yang berbeda di setiap tahunnya. Selain edukasi kepada siswa, kegiatan pengabdian ini diharapkan dilakukan tidak hanya kepada siswa SSB Real Madrid, melainkan kepada orang tua siswa dan juga pelatih atlet sepak bola di SSB tersebut.
Co-Authors Adams Bagus Pratama Adi Sucipto Adi Sucipto, Adi Adiputra*, Andre Kussuma Aeni, Syifa Agus Qomaruddin Munir Akhmad Surya Kuncara Amigo, Thomas Aquino Erjinyuare Andika Setiawan Andika Setiawan, Andika Anita Nidyarini Anita Nidyarini Anwar, Fadil Arta Farmawati Bayu Indra Wahyudi Bernadeta M Wara Kushartanti Br Simanjorang, Eta Hosana Eka Rizti Br Situmorang, Eta Hosana Eka Rizti Cindy Nur Elityasari Cornelia D.Y Nekada Cornelia D.Y. Nekada Cornelia D.Y. Nekada Dea Puarisa Sugian Putri Debora Helsius SB Dhea Putri Ananda Diana Nurrohima Dwi Endah Kurniasih Dwita Mukti Rahmawati Eka Novita Indra Elityasari, Cindy Nur Ellysha Anggreini Heryanto Eni Yusniati Evrita Lusiana Utari Evrita Lusiana Utari Evrita Lusiana Utari, Evrita Lusiana Febriyanita, Anggun Firdausi, Qotrunnada Fitriana, Lala Budi Fitrianingtyas, Fitrianingtyas Getha Puji Lestari Helsius SB, Debora Herviana Herviana Kurniasih, Dwi Endah Kusuma, Nanda Herdiyanti Kusuma, Rio Jati Lestari, Getha Puji Listyalina, Latifah Luturmas, Ametkabal K. Mardika Sari, Puspita Mukarromah, Nurul Nanda Herdiyanti Kusuma Natalia Desy Putriningtyas, Natalia Desy Nisya Aulia Aziza Nur Mukarromah Nurul Huda Syamsiatun, Nurul Huda Pranata, I Komang Suadana Adi Puspita Mardika Sari Rahayu, Andi Rahmawati, Dwita Mukti Renata Deby Sintia Riana Swasti Saputri Ririn Wahyu Widayati Riski Desiplia Sari, Jihan Novita Silvi Lailatul Mahfida Silvia Dewi Styaningrum Siska Puspita Sari Siska Puspita Sari Siti Wahyuningsih Sri Kadaryati Styaningrum, Silvia Dewi Sugiarto , R. Nurhadi Wijaya Sutoyo, Rr.Lieliesnaini Octaviariani Tirza Frelly Anita Tirza Frelly Anita Toto Sudargo Toto Sudargo Vio Nita Wayan Sugi Lestari Yeri Amranitalia Putri Yuni Afriani Yuni Afriani Yuni Afriani Yuni Afriani Yuni Afriani Yuni Afriani, Yuni Zhafira, Hafizha Rahma Zulfa, Nuri Kamalia