Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Hukum Acara Perdata

PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM DALAM PERKARA WARIS SESUAI ASAS KEADILAN Ning Adiasih
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol 4, No 1 (2018): Januari – Juni 2018
Publisher : Departemen Hukum Perdata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/jhaper.v4i1.63

Abstract

The living law is a refl  ection of the community values as accommodated in Article 5(1) of Law No. 48 of 2009 concerning Judiciary Power, which encourages judges to fi  nd and apprehend the values of law and justice of the societies. Inheritance dispute settlement in Indonesia may give the judges some options to implement certain law because of the pluralistic pattern of Indonesian inheritance law. On the other hand, the judges may have function to complement statutory laws and may create new law through forming law or fi  nding law to be implemented on certain pending case. The judges must have a thorough knowledge and interpret the law applied on certain case. For instance when the deceased was a Moslem, while one of the heirs is a non-Muslim, the judges of religious court may decide that non-Muslim heir entitled to the bequest as wasiat wajibah. Likewise, the judges of district court may implement inheritance law of adat law or Civil Code. The pluralism of the sources of law in inheritance cases is quite a problem for the judges, therefore the Supreme Court has enacted a guidelines in Circular Letter No. MA/Kumdil/171/VK/1991, dated on 8 May 1991. This article will question the implementation of the guidelines.
STUDI PERBANDINGAN HUKUM TERKAIT KETENTUAN PENOLAKAN PELAKSANAAN DAN PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE DI INDONESIA DENGAN DI THAILAND Muhammad Mpu Samudra; Ning Adiasih
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata Vol 8, No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Departemen Hukum Perdata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36913/jhaper.v8i1.173

Abstract

Dalam UN Model Law terdapat ketentuan mengenai syarat-syarat agar dapat dilakukannya penolakan pelaksanaan dan pembatalan putusan arbitrase. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 34 dan Pasal 36 UN Model Law. Karena Indonesia belum mengadopsi UN Model Law, ketentuan tersebut dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa tidak selengkap ketentuan dalam UN Model Law. Sedangkan Thailand telah mengadopsi UN Model Law dengan menggunakan Arbitration Act B.E. 2545. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: bagaimana persamaan dan perbedaan antara ketentuan hukum arbitrase terkait penolakan pelaksanaan dan pembatalan putusan arbitrase di Indonesia dengan Thailand, dan bagaimana ketentuan hukum dari UN Model Law mengenai hal tersebut, serta apakah Indonesia perlu memberlakukan ketentuan tersebut. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Persamaan antara ketentuan hukum arbitrase di Indonesia dengan di Thailand adalah terletak pada pemberlakuan putusan arbitrase internasional, kewenangan yang diberikan dalam penolakan pelaksanaan putusan arbitrase internasional, dan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional di kedua negara tersebut. Perbedaannya adalah terletak pada kewenangan yang diberikan dalam penolakan pelaksanaan putusan arbitrase domestik dan pembatalan putusan arbitrase. Dalam hal pemberlakuan ketentuan UN Model Law dalam hukum arbitrase di Indonesia, mengenai pembatalan putusan arbitrase, berdasarkan Pasal VI Konvensi NY/58, dasar kewenangan bagi para pihak dan pengadilan dalam UN Model Law dimungkinkan untuk diberlakukan di Indonesia melalui diskresi pengadilan. Terkait dengan penolakan pelaksanaan putusan arbitrase, aturan hukum arbitrase Indonesia mengenai hal tersebut belum cukup lengkap. Oleh karena itu, ketentuan UN Model Law perlu diberlakukan di Indonesia.
Co-Authors , Marjan Miharja Achmad Fitrian Amriyati Amriyati Amriyati Andari Yuriko Sari Andi Suriyaman Mustari Pide Ardianto, Yosia Arini Suliantari Asha Sagsha Nurshoffa Athalia Christine Lamretta Boru Simbolon Bachry, Ramadhana Basri Batari Abdi Putri Bella Shaqira Sucipto Calso, Ravinka Amelia Destiamara Dominikus Rato Endah Rantau Itasari, Endah Endang Djuana Ezra De Artah Sasta Farhan Nugraha Fraya Layola Nainggolan Gabriel Bramantyo Utomo Geraldus Thenys Kurnia Manik Raja Gilang Narawangsa Namara Gilang Narawangsa Namara Hammar, Robert K.R Henny Saida Flora Indra Kho Indriyana Dwi Mustikarini, Indriyana Dwi Jimmy Anthony Johannes Johny Koynja, Johannes Johny Jonathan Santandrea Kirana, Gandes Candra Krestianto, Indra Kunthi Tridewiyanti Lasmaria Lasmaria Loso Judijanto Lumban Gaol, Selamat Maria Raissa Sofia Rantan Maria Raissa Sofia Rantan Meta Indah Budhianti Muhammad Afdal Muhammad Raja Akbar Rachman Nabain Idrus Nabilah Arwi Najwa Qonita Hasan Nam Rumkel Narawangsa Namara, Gilang Ningrum, Rinandu Kusumajaya Nur Aida, Nur Raifahd Razzaq Rais Ratu Salsabila Khairunnisa Rina Yulianti Rizki Kusuma Rosnidar Sembiring Rusmana, Dodi Rustamovich, Ehsonov Jasurbek Salsabila, Unik Hanifah Samudra, Muhammad Mpu Septiyani Septiyani Seruni Anjasmoro Sifra Zifora Sihombing, Januardo Sulung Partogi Siti Nurbaiti St. Laksanto Utomo Sugeng Santoso PN Sulastriyono . Sulistyowati Irianto, Sulistyowati Sylvana Grace Tamaulina Br. Sembiring Trishya Pradicintia Wahyu Saputra Wahyu Sejati Wayan P. Windia Winny Amanda Darwin Wulansari, Chatarina Dewi Yosa Raynaldi Maruli