Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENYULUHAN PRAKTIK ZIKIR AL-GHAZALI DAN IBNU QAYYIM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DI MASJID AN-NUR, BABELAN BEKASI Hariyadi , Muhammad; Maslul , Isep Saepul; Lubis , Zakaria Husin; Sarnoto, Ahmad Zain; Munir, Misbahul
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama mengartikan zikir merupakan suatu ibadah hati yang dilakukan dengan mengingat Allah Swt dan menyebutkannya di dalam hati yang diucapkan oleh lisan. al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama membagi zikir sesuai dengan tingkatan zikirnya, al-Ghazali mengatakan didalam kitab nya tingkatan zikir tersebut dengan lisan, hati dan ketiadaan (fana). Sedangkan ibn Qayyim mengatakan tingkatan zikir itu dengan zhahir, tersembunyi, dan hakiki. Disamping itu al-Ghazali dan ibn Qayyim al-Jauziyyah berbeda dalam hal tujuan zikir, al-Ghazali menyatakan tujuan dari zikir itu agar menuju kesempurnaan ma’rifah kepada Allah Swt, sedangkan ibn Qayyim al-Jauziyyah menyatakan dalam kitab nya madârijus sâlikîn tujuan zikir kepada Allah itu agar mendapatkan ketenangan hati/Thu’maninah sesuai firman Allah dalam surah al-Rad/13:28. Penulisan jurnal ini juga dilatar belakangi oleh munculnya individualistis egoistis, dan materialistis yang akan mendatangkan dampak berupa kegelisan, kecemasan, stress, dan depresi. Melihat kenyataan seperti itu yang mencapai puncak kenikmatan materi justru berbalik dari apa yang diharapkan, yakni mereka dihadapi rasa cemas. Beragam permasalahan tersebut sering berakibat buruk pada kesehatan mental individu yang akan berujung pada adanya gangguan mental atau jiwa serta hatinya tidak tenang dan zikir merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini di dasarkan pada Riset Pustaka (Library Research) yakni proses pengidentifikasian secara sistematis penemuan-penemuan dan analisa dokumen-dokumen yang memuat informasi berkaitan dengan masalah penelitian. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif yaitu sebuah analisa dengan menceritakan secara mendalam tentang zikir dalam Pandangan al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah serta perbandingan pendapat pada keduanya baik dari perbedaan maupun persamaan nya
PEMBINAAN KONTEKSTUALISASI STABILITAS NEGARA DI INDONESIA MENURUT M. QURAISH SHIHAB DALAM TAFSÎR AL-MISHBÂH DI HIMPUNAN MAHASISWA YAYASAN KAHFI Nawawi , Abd. Muid; Hakim , Arief Rahman; Lubis , Zakaria Husin; Anwar, Hamdani; Anwar , Khoerul
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berkesimpulan besar bahwa,”Stabilitas negara akan terwujud jika negara mampu menyeimbangkan aspek politik dan pemenuhan hak-hak warga negara, serta terlaksananya praktek beragama dengan baik. Karena agama yang dibawa para nabi dan yang isinya digambarkan dalam Kitab-kitab suci adalah “serangkaian tuntunan Tuhan untuk pembinaan dan pembangunan manusia serta dunianya”. Dan mengacu pada pembangunan dalam Islam adalah bersifat menyeluruh, menyentuh dan menghujam ke dalam jati diri manusia, sehingga dengan demikian terlebih dahulu ia membangun manusia seutuhnya, material dan spiritual secara bersamaan. Juga, tujuan terakhir setiap negara ialah menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya (bonum publicum, common good, common wealth). Penelitian ini adalah kualitatif dilakukan secara kepustakaan atau library research, dan penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan sejarah (Sejarah klasik, Pertengahan, Kegelapan, dan Kontemporer) yaitu dengan membaca dan mempelajari secara kritis buku-buku terkait stabilitas negara pada Tafsîr Al-Mishbâh yang kemudian dikorelasikan dengan pemikiran ulama baik klasik maupun kontemporer
PENYULUHAN PENDIDIKAN INKLUSIF DALAM QS. AL-HUJURAT AYAT 10-13 SEBAGAI SOLUSI EKSKLUSIFISME AJARAN DI KALANGAN MAHASISWA STAI FATAHILLAH SERPONG TANGERANG SELATAN BANTEN Kerwaanto, Kerwaanto; Masruroh , Liana; Lubis , Zakaria Husin; Abbaci, Abdelaziz; Zulki, Ahmad; Mutholib, Mutholib
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rise of anarchist activity and terrorism has recently become a central issue in Indonesian national life. This happens because people's understanding of a multiethnic and multireligious society is increasingly becoming more ambiguous. One solution is to introduce inclusive (open) education in schools. The concept of education is included in the teachings of the Islamic holy book, the Koran. It was explained that the world community was created as a multi-ethnic nation so that they could know and respect each other. The author uses library research methods to analyze the concept of inclusive education at QS. Verses 10-13 of Surah al-Khujrat. In this case the author uses this as the basis for indoctrination in Islamic education in schools. Inclusive education is a conscious effort to build society through structured and continuous involvement with an open, dynamic and rational learning system. To achieve peace and social prosperity, an open attitude is needed, starting with the desire to get to know each other and respect differences without distinguishing between certain groups. This is achieved by introducing open and inclusive education in schools
PENDAMPINGAN PEMAHAMAN FENOMENA PERNIKAHAN BEDA AGAMA PADA QS. AL-MAI’DAH: 5 DI HIMPUNAN MAHASISWA YAYASAN AL-KAHFI Kholilurrohman, Kholilurrohman; Apinda , Lita; Nasirin, Nasirin; Lubis, Zakaria Husin; Firmansyah , Jun; Rahim , Abd.
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the phenomenon of interfaith marriage which is currently gaining popularity in Indonesia and invites pros and cons in society. In the perspective of Al-Qur'an interpretation, the author chooses to refer to two famous Indonesian commentators, namely Buya Hamka and M. Quraish Shihab. Both are figures of the modern-contemporary era in the field of interpretation, so their opinions are relevant to the current situation in Indonesia. In the interpretation of the Qur'an, the two commentators above interpret the QS. Al-Ma'idah [5]: 5 by prioritizing a spirit of tolerance and criticism of interfaith marriages. Even though there are constitutional arguments that regulate whether a marriage is valid or not based on the laws of each religious belief, facts on the ground prove that interfaith marriages still often occur in Indonesia. Thus, this research invites readers to understand more deeply the phenomenon of interfaith marriage through the lens of Al-Qur'an interpretation and Abdullah Saeed's approach. Hopefully this research will provide broader insight and understanding regarding the phenomenon of interfaith marriages in Indonesia
KONTROVERSI PENAFSIRAN ATAS AYAT AL-QUR’AN TENTANG SYAHWAT Shohibul Azka; Nur Rofiah; Zakaria Husin Lubis
JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR Vol. 2 No. 3 (2025): MARET
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issue of women continues to be a hot topic for discussion. One aspect of this is the social stigma that women are often perceived as temptresses, liars, skilled in deception, and sources of scandal. This stigma persists in society. Some verses, such as Qs. Ali Imran/3:14 and Qs. Yusuf/12:28, are frequently used as justification. These two verses are generally associated with lust, which is often understood as something negative and only attributed to women. This paper presents research results on two opposing interpretations of these verses and then analyzes the strengths and weaknesses of each interpretation and their impact on the welfare of both men and women. This research is a library study, where the authors collect data from two conflicting interpretations of the verses and then analyzes and presents it using qualitative methods. The authors also apply the theory of al-Dakhîl and the theory of Mubâdalah. Based on the theory of al-Dakhîl, distortions in the interpretation of lust and inconsistencies in connecting the verses are found dan based on the theory of Mubâdalah, it is found that both men and women possess lust, as lust is a natural disposition in every human being. It can be good or bad, depending on how it is managed. The goodness or badness of lust cannot be attributed to only one gender, as both men and women can have the same potential.
Renaissance dan Pergeseran Epistemologi Barat: Analisis Kritis terhadap Paradigma Sains Bebas Nilai dan Krisis Etika Teknologi Modern: The Renaissance and the Shift in Western Epistemology: A Critical Analysis of Value- Free Science and Technological Ethics Dinda Aulia Putri; Zakaria Husin Lubis
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v10i1.1

Abstract

Modern science has generated technological advancements with significant destructive potential, including nuclear weapons and genetic engineering, despite the normative expectation that scientific inquiry should be grounded in ethical values that uphold human dignity. This disjunction originates from an epistemological shift during the Renaissance, when elements of the Islamic intellectual tradition were selectively appropriated while their theological foundations were marginalized, resulting in a value-free scientific paradigm. This study examines this epistemological transformation, analyzes its implications for contemporary technology, and proposes a framework through the integration of maqāṣid al-Syarī‘ah and qawā‘id fiqhiyyah. It employs a qualitative library-based methodology with historical, comparative, and synthetic-prospective analyses. The findings indicate three key points. First, there is a substantive link between the Renaissance epistemological shift and the modern technological ethical crisis. Second, critiques of technological exploitation are not limited to Islamic thought but are also expressed by Western thinkers such as Jürgen Habermas; however, the Islamic framework provides a more systematic and hierarchical ethical model. Third, this framework demonstrates practical relevance, particularly in prohibiting nuclear weapons based on ḥifẓ al-nafs and the principle lā ḍarar wa lā ḍirār, as well as in classifying embryo selection as taḥsīniyyāt. This study argues that reintegrating revelatory values into science is essential to ensure that technological progress remains aligned with human dignity.
MAKNA LAFAZ YAD YANG DISEMATKAN KEPADA ALLAH DALAM AL-QUR’AN Fahru Reza Hakim; Abd. Muid Nawawi; Zakaria Husin Lubis
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 2 (2024): Vol. 1 No. 2 Edisi April 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i2.93

Abstract

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Ia tidak sama dengan sesuatu apapun, dan tidak ada satu pun makhluk yang setara dengan-Nya, namun disaat yang sama Allah juga mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa Ia memiliki ‘tangan’, yang mana tangan sendiri merupakan salah satu sifat makhluk seperti manusia dan hewan. Sifat ‘tangan’ Allah ini selanjutnya ditafsirkan dengan metode yang berbeda-beda diantara ulama Islam sehingga menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda pula. Diantara metode tersebut yang berkembang hingga saat ini adalah metode Takwil dan metode Tafwîdh yang keduanya dipakai oleh pengikut mazhab al-Asy’ariy dan al-Maturidiy, dan kemudian metode al-Itsbât yang dibangun oleh Ibn Taimiyyah dan disebarkan oleh para pengikutnya dan pengikut Muhammad ibn Abd al-Wahhab an-Najdiy hingga saat ini. Oleh karena itu menarik untuk meniliti tentang berbagai metode tersebut dalam menafsirkan sifat ‘tangan’ Allah dan kemudian mengkomparasikan satu dengan yang lainnya. Penelitian ini menggunakan metode tafsir komparatif dan Maudhû’i, dengan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data studi pustaka.