Claim Missing Document
Check
Articles

Intervensi Social Skills Training (SST) pada Pasien Skizofrenia yang Mengalami Isolasi Sosial; A Systematic Review Oktaviana, Wita; Aprilliana, Anna
Jurnal Keperawatan Vol 15 No 4 (2023): Jurnal Keperawatan: Supp Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v15i4.2007

Abstract

Peningkatan angka kejadian gangguan jiwa sejalan dengan peningkatan Skizofrenia yang salah satu tanda gejalanya adalah terjadi penurunanan komunikasi dan kemapuan interaksi. Salah satu masalah keperawatan yang dapat terjadi akibat hal tersebut adalah isolasi social. Social Skills Training (SST) merupakan salah satu terapi yang dapat digunakan pada permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intervensi Social Skills Training (SST) pada pasien skizofrenia yang mengalami isolasi social. Metode penulisan menggunakan systematic literature review. Artikel didapat dengan pencarian elektronik dari 7 databased jurnal. Kriteria inklusi yang digunakan adalah subjek manusia, berbahasa inggris, dan free fulltext dari tahun 2014-2023. Artikel yang dianalisis sebanyak 10 artikel. Hasil menunjukkan bahwa intervensi SST berpengaruh dan efektif meningkatkan kemampuan sosialisasi dan interaksi social pada pasien Skizofrenia yang mengalami isolasi social.
Penerapan De-Eskalasi Verbal Terhadap Penurunan Respon Marah Pada Pasien dengan Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta: Studi Kasus Fathurozaq, Syarif; Oktaviana, Wita; Driyanto, Afik
Jurnal Ners Vol. 8 No. 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v8i2.26691

Abstract

Latar Belakang: Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik dan psikologis. Teknik de-eskalasi verbal merupakan komunikasi yang diterapkan pada klien yang marah atau gelisah untuk meminimalisir kekerasan dan membuat orang tersebut mendapatkan kembali perasaan tenang dan kontrol diri. Metode: metode yang diterapkan dalam artikel ini adalah studi kasus yang didasarkan pada aplikasi evidence based practice (EBP) : de-eskalasi verbal dengan rancangan pre and post test without control group design. Total sampel 2 responden. Hasil: pada studi kasus ini didapatkan bahwa terdapat pengaruh de-eskalasi terhadap penurunan rentang respon marah pada pasien perilaku kekerasan di Ruang Sena RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta setelah dilakukan intervensi dalam tiga kali masing-masing 5 – 7 menit dan rentang respon marah pasien setelah dilakukan intervensi de-eskalasi verbal dari dua pasien adalah rentang respon marah asertif. Kesimpulan: terdarap pengaruh adanya intervensi de-eskalasi terhadap penurunan rentang respon marah pada pasien perilaku kekerasan kekerasan di Ruang Sena RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta.
Penyegaran Kader ‘Aisyiyah tentang Diabetes Mellitus melalui Edukasi Kesehatan Rahayu, Sri; Kristinawati, Beti; Maliya, Arina; Oktaviana, Wita; Angga Pribadi, Dimas Ria
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 5, No 1 (2025): Abdira, Januari
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v5i1.566

Abstract

Refreshing ‘Aisyiyah cadres about diabetes mellitus through health education is an important effort to improve cadres’ understanding in preventing and managing diabetes mellitus. The purpose of this community service is to provide refreshment to ‘Aisyiyah cadres through health education to improve knowledge about diabetes mellitus. In this activity, ‘Aisyiyah cadres are given the latest knowledge about risk factors, normal blood sugar values, symptoms, and control of diabetes, as well as preventive measures that can be implemented in daily life. Participants are evaluated by giving questions using a questionnaire during the pre and post tests. The results showed an increase in participant knowledge from 90.24% to 92.6% after health education was carried out. Through this activity, it is hoped that ‘Aisyiyah cadres can play an active role in preventing an increase in the incidence of diabetes mellitus in the community
PENGARUH BIMODAL STIMULASI SENSORI TERHADAP NILAI GCS PADA PASIEN STROKE DENGAN PENURUNAN KESADARAN Faozi, Ekan; Oktaviana, Wita; Anjarsari, Rizki; Nur Janah, Sherly
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.36801

Abstract

Penurunan fungsi sensorik merupakan efek yang merugikan yang terjadi pada pasien stroke yang mengalami penurunan kesadaran,  70% pasien  yang menderita stroke mengalami penurun kesadaran. Penurunan kesadaran merupakan akibat yang terjadi jika rangsang sensorik spesifik pada forebrain dihentikan atau terputus sehingga akan mempengarui ascendence retricular activating system (ARAS). Salah satu penyebab terhenti atau terputusnya sensorik spesifik adalah serangan stroke. Stimulasi sensorik merupakan salah satu tindakan keperawatan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi pengaruh bimodal stimulasi sensorik terhadap nilai GCS pada pasien stroke dengan penurunan kesadaran. Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment with Pretest-posttest control group. Sampel pada kelompok kontrol dan intervensi diambil dengan metode Non Probality Sampling Secara Conscecutive Sampling dengan jumlah 44 responden, kelompok intervensi (n: 22) dan kelompok kontrol (n:22). Kelompok intervensi diberikan bimodal  stimulasi sensori (auditory dan gustatory) sebanyak 5 kali sehari dengan durasi 10 menit setiap sesi dan dilakukan selama 3 hari. Kelompok kontrol mendapatkan perawatan rutinitas dari rumah sakit tanpa diberikan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada nilai GCS  post test pada kelompok intervensi yaitu dari nilai  9,5 menjadi 13,5 dengan p value = 0,001 dan untuk kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan yang signifikan yaitu dari 10,09 menjadi 10,54 dengan p value = 0,85. Kesimpulan penelitian ini adalah  bimodal  stimulasi sensori adalah tindakan keperawatan yang dapat meningkatkan nilai GCS pasien stroke dengan penurunan kesadaran.
Gambaran Kecemasan pada Pasien Kanker Payudara yang Sedang Menjalani Kemoterapi Agustin, Finna Rachma; Oktaviana, Wita; Ariyanti, Nanda Putri; Nisa, Mustfidatun
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 4 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.4.2024.815-822

Abstract

Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi seringkali menghadapi berbagai tantangan emosional, salah satunya adalah kecemasan. Kondisi kecemasan ini apabila tidak ditangani dengan baik, bisa berakibat negatif pada kualitas hidup pasien dan efektivitas pengobatan yang dijalani. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten. Jenis Penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Populasi penelitian ini adalah Pegidap kanker Payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Teknik sampling dengan Purposive Sampling dengan jumlah sampel 78 responden. Instrumen yang digunakan adalah lembar Kuesioner kecemasan dari Hamilton Anxiety Rating Scale dengan uji validitas reliabilitas diperoleh hasil croncbach’s Alpha sebesar 0.793 dan terbukti reliable dengan hasil >0.6. Hasil penelitian menunjukkan 50% responden berada pada kategori usia lanjut usia dengan rentang usia 46 sampai 65 tahun, 44,9% responden berada pada jenjang stadium II, 46% responden pernah menderita penyakit kanker payudara kurang dari satu tahun, responden yang menjalani kemoterapi rata-rata mengalami kecemasan dengan skor 28 sampai 41 (kecemasan berat).
Pengenalan Senam Ergonomis sebagai Terapi Non-Farmakologi untuk Penderita Asam Urat pada Masyarakat Desa Bolon Bintang, Haikal Afdal Naufal; Namora, Putri Azzahra; Carera, Rosalia Dina; Pribadi, Dimas Ria Angga; Oktaviana, Wita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesosi Vol. 8 No. 1 (2025): Januari: Jurnal Abdimas Kesosi
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesetiakawanan Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/abdimas.v8i1.248

Abstract

Desa Bolon merupakan salah satu desa yang ada di lingkungan Colomadu, Karanganyar.  Desa ini menjadi pilihan kami untuk melalukan penelitian dan pengabdian ormawa tentang asam urat  karena dari hasil observasi kami bersama pihak mitra juga belum mengetahui bagaimana cara pencegahan asam urat dan cara penanganannya. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini agar masyarakat di Desa Bolon, Karanganyar dapat mengetahui dan memahami tentang asam urat, memahami senam ergonomis sebagai terapi non-farmakologi, dan dapat memahami bagaimana cara pengendalian penyakit asam urat. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan berbagai tahap, diantaranya yaitu; (1) observasi, (2) persiapan, (3) pelaksanaan, (4) evaluasi. Pemeriksaan asam urat dilakukan dengan alat GCU (Glucose, Cholesterol, Uric Acid) untuk mengetahui hasil asam urat pada lansia di Desa Bolon, Karanganyar. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan sebagai upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dengan memberikan edukasi mengenai pengertian, penyebab, pencegahan asam urat dengan metode ceramah serta menggunakan leaflet dan pemberian hadiah. Kegiatan ini berjalan lancar dan berdampak positif bagi masyarakat Desa Bolon, Karanganyar khususnya dapat memberikan banyak pengetahuan mengenai asam urat.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL SUPPORT AND ANXIETY IN FACING THE OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL ASSESSMENT (OSCA) EXAM IN UNDERGRADUATE NURSING STUDENTS Astuti, Vina; Niken Larasati, Annisa; Aulia Ramadhani, Faizal; Noor Mashitoh, Asrofi; Oktaviana, Wita; Arrafi, Reja
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 16 No. 1, Januari 2025
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v16i1.1652

Abstract

Objective Structured Clinical Assessment (OSCA) is one of the evaluation methods used in nursing education to assess students' clinical competence. However, the OSCA exam often causes significant anxiety for nursing students due to high academic and professional demands. Anxiety is a common emotional response experienced by individuals in the face of stressful or challenging situations. One way to reduce anxiety is with good social support. Social support is the opinion of others who tell that individuals need affection, attention, valued, respected, and involved. The purpose of this study was to examine the relationship between social support and the level of anxiety experienced by undergraduate nursing students in facing the OSCA exam. The type of research is quantitative with a cross-sectional approach. The study population was nursing students totalling 572 respondents. This research uses the spearman test, and this research was conducted from August to Septembe. Researchers used non-probability sampling with purposive sampling method, the research sample above showed 90 people to become respondents with inclusion criteria (1. Active students of semester II, IV, IV of the Nursing Study Program at Universitas Muhammadiyah Surakarta who took the OSCA exam, 2. Students take the OSCA exam directly on the appointed day, 3. Willing to fill out the research questionnaire). Measurement of social support using the MSPSS (Multidimensional Scale of Perceived Social Support) questionnaire and the HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) questionnaire for anxiety levels. The results showed that the majority of respondents had moderate social support with 35 respondents (38.9%) and severe anxiety 27 respondents (30%). Data analysis using Spearman Test. Spearmen correlation test results obtained a p-value significance of 0.001 <0.05 and a correlation coefficient value of 0.767. The conclusion of the study is that there is a relationship between social support and anxiety levels in nursing undergraduate students when facing OSCA exams.
Hubungan Tingkat Resiliensi Dengan Ide Bunuh Diri pada Remaja di SMK Muhammadiyah Kartasura Putri, Salsya Bela Nadiya; Oktaviana, Wita
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6 No 1 (2024): November
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37148/arteri.v6i1.532

Abstract

One of the main problems that teenagers often face is the high pressure on academic achievement, especially in a competitive education system . Adolescents are an age group that is vulnerable to various pressures and complex life challenges. The many changes that occur during adolescence, such as physical, hormonal, social and psychosocial, often trigger emotional instability in adolescents which leads to suicidal ideation. Resilience, or the ability to endure and recover from adversity, plays an important role in helping teens overcome negative thinking. Adolescents who have a high level of resilience tend to be better able to manage their emotions, seek social support, and find constructive solutions to their problems. The aim of this research is to determine the relationship between the level of resilience and suicidal ideation among adolescents at SMK Muhammadiyah Kartasura. This research method uses quantitative research with a cross sectional design. This research uses total sampling in class 10 with a sample size of 101 respondents aged 15-18 years who will be asked to fill in demographic data on the Growth-Focused Resilience Scale (G-FRS), and Revised Suide Iedation Scale (R-SIS). The collected data will be analyzed using the Spearman's rho test. The results of this study obtained p-value = 0.035 (<0.05) so it can be interpreted that there is a relationship between the level of resilience and suicidal ideation in adolescents with low and medium levels of resilience. In conclusion, increasing resilience is one of the interests of preventing and reducing suicidal ideation in adolescents.
Dukungan sosial teman sebaya dan kejadian ide bunuh diri pada mahasiswa Moh Zamroji; Wita Oktaviana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 10 (2024): Volume 18 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i10.549

Abstract

Background: Mental health is said to be good when the brain feels calm and relaxed, allowing a person to appreciate others and enjoy everyday life. People who have mental health are able to use all their potential to face obstacles in life and maintain positive relationships with other individuals. Based on data from the World Mental Health International College Student Project in 2018 which was conducted in 19 universities in eight countries, it showed that 35% of students experienced at least one DSM-IV mental disorder, such as mood, anxiety, and substance. A person's mental health, especially in the student group, is greatly influenced by peer social support which helps prevent the emergence of suicidal ideation. Purpose: To determine the relationship between peer social support and the incidence of suicidal ideation in students. Method: The type of quantitative research used a cross-sectional design, the sampling technique used the Slovin purposive sampling formula and obtained a sample of 244 respondents. The research instrument was a social support questionnaire consisting of 44 questions and a revised suite ideation scale (R-SIS) questionnaire consisting of 10 questions. Data analysis used univariate nonparametric correlation and bivariate Spearman's rho test. Results: Most respondents were 21 years old with a total of 129 respondents (52.9%), most were female with a total of 212 respondents (86.9%), and came from a nursing study program with a total of 100 respondents (41.1%). The social support obtained was high with a total of 206 respondents (84.5%) and most respondents did not have suicidal thoughts with a total of 237 respondents (97.1%). Based on the bivariate test, high social support made respondents not have suicidal thoughts with a total of 206 respondents (86.9%) with a p-value of 0.00 (<0.05). Conclusion: There is a relationship between social support (peers) and suicidal ideation. The negative correlation coefficient indicates that the level of suicidal ideation or desire tends to be higher when social support from peers is low. Conversely, if social support from peers is high, individuals tend not to make decisions that are detrimental to themselves, such as ending their lives. Suggestion: For students to be able to manage themselves by seeking various social supports from family, peers, lecturers and even from people they consider special. This serves to vent the emotions and burdens they experience, so as to avoid actions that are detrimental to others, especially themselves, such as consuming alcoholic beverages, drugs, and the emergence of suicidal ideation.   Keywords: Peers; Social Support; Students; Suicidal Ideation.   Pendahuluan: Kesehatan mental termasuk dalam taraf baik ketika otak merasa tenang dan santai yang memungkinkan seseorang menghargai orang lain dan menikmati kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki kesehatan mental mampu menggunakan semua potensi yang dimiliki untuk menghadapi rintangan dalam hidup serta menjaga hubungan yang positif dengan individu lainya. Berdasarkan data World Mental Health International College Student Project pada tahun 2018 yang dilakukan pada 19 universitas di delapan negara menunjukkan bahwa, sebanyak 35% mahasiswa mengalami paling tidak satu mental disorder DSM-IV, seperti mood, anxiety, hingga substance. Kesehatan mental seseorang terutama pada kelompok mahasiswa sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial teman sebaya yang membantu mencegah ide bunuh diri. Tujuan: Untuk mengetahui keterkaitan dukungan sosial teman sebaya dengan kejadian ide bunuh diri pada mahasiswa. Metode: Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling rumus slovin dan didapatkan sampel sebanyak 244 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan sosial yang terdiri dari 44 pertanyaan dan kuesioner revised suicide ideation scale (R-SIS) berjumlah 10 pertanyaan. Analisis data menggunakan univariat dan bivariate uji nonparametric correlations spearman’s rho. Hasil: Mayoritas responden berusia 21 tahun dengan jumlah 129 (52.9%), sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 212 responden (86.9%), dan berasal dari program studi keperawatan sebanyak 100 responden (41.1%). Dukungan sosial yang didapatkan tinggi sebanyak 206 (84.5%) dan sebagian besar responden tidak ada ide untuk bunuh diri sebanyak 237 (97.1%). Berdasarkan uji bivariate bahwa dukungan sosial yang tinggi membuat responden tidak memiliki ide bunuh diri sebanyak 206 (86.9%) dengan hasil p-value 0.00 (<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan antara dukungan sosial (teman sebaya) dengan ide bunuh diri. Koefisien korelasi negatif menunjukkan bahwa tingkat ide atau keinginan untuk bunuh diri cenderung lebih tinggi ketika dukungan sosial dari teman sebaya rendah. Sebaliknya, jika dukungan sosial dari teman sebaya tinggi, individu lebih cenderung untuk tidak mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri, seperti mengakhiri hidupnya. Saran: Bagi mahasiswa supaya dapat memanajemen diri sendiri dengan mencari berbagai dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dosen pengajar bahkan dari orang yang dianggapnya spesial. Hal ini berfungsi untuk meluapkan emosi dan beban yang dialaminya, sehingga terhindar dari kegiatan yang merugikan orang lain terutama diri sendiri, seperti mengonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, dan munculnya ide bunuh diri   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Ide Bunuh Diri; Mahasiswa; Teman Sebaya.
Implementasi Membaca Al-Qur'an dalam Manajemen Halusinasi pada Pasien Skizofrenia di RSJD Surakarta Astrid Indah Istiningrum; Wita Oktaviana; Suparmi Suparmi
Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): Maret : Quantum Wellness : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/quwell.v2i1.1399

Abstract

Mental disorder is a condition where a person considers himself/herself to be isolated from his/her surroundings, fails in his/her business, cannot control his/her emotions, and makes a person feel threatened, disturbed, or uncomfortable so that he/she changes his/her behavior, one of which is marked by sensory perception disorders of hallucinations. This case study aims to determine the effect of hallucination management with the implementation of reading the Qur'an on patients with unspecified schizophrenia in the Srikandi ward of Dr. Arif Zainuddin Mental Hospital, Surakarta City.: The design of this scientific paper uses a case study design. The subjects used were 5 (five) subjects. Data analysis was carried out by looking at changes before and after being given Qur'an reading therapy. The results of the application showed that after the implementation of Qur'an reading therapy, there was a decrease in signs of hallucination symptoms. Qur'an reading therapy can help reduce signs of symptoms and manage hallucinations in patients with unspecified schizophrenia. It is expected that nurses can provide psychiatric nursing care to hallucinatory patients by implementing the activity of reading the Qur'an consistently or repeatedly while undergoing treatment in the hospital and when returning home.
Co-Authors Aan Somana Abi Muhlisin Adek Setiyani Adelia Nur Aziza Afik Driyanto Agustin, Diva Penni Agustin, Finna Rachma Ahmad Fatih Nuril Anwar Aisyah Dani Hanifah Aisyah Salsabila Nur’azizah Akhmad Su’ib Andi Nugroho Andi Nugroho, Andi Anjarsari, Rizki Annisa Niken Larasati Annisa, Alvia Nur Apriliana, Anna Aprilliana, Anna Arif Widodo Arina Maliya Ariyanti, Nanda Putri Arrafi, Reja Arya Tosanaji Adyuta Prasasti Asrofi Noor Mashitoh Astrid Indah Istiningrum Astuti, Vina Aulia Ramadhani, Faizal Ayu Khoirotul Umaroh Azani, Muhammad Zakki Beti Kristinawati Bintang, Haikal Afdal Naufal Budi Anna Keliat Carera, Rosalia Dina Dian Hudiyawati Dimas Ria Angga Pribadi Driyanto, Afik Dyaz Surya Ananta Edy Wiyono Ekan Faozi Faizah Betty Rahayuningsih Faizah Betty Rahayuningsih Faizal Aulia Ramadhani Fanggareza Firdaus Luthfiyasha Fathurozaq, Syarif Fatimah Nur Janah Amini Fauzi, Ekan Febriani, Diana Habsyah Saparidah Agustina Hanifah, Aisyah Dani Hanifah, Endah Nur Indahsari, Madya Maya Jiheny Siska Pratiwi Kartinah Kartinah, Kartinah Kusumaningtyas, Bethari Mukti Lanang Rangga Luluk Ria Rakhma Mahendra, Mesha Margianto, R. Agus Moh Zamroji Mohammad Sukandar Muchamad Ali Sodikin Namora, Putri Azzahra Nieldya Nofandrilla Niken Larasati, Annisa Nisa, Mustfidatun Noor Mashitoh, Asrofi Nur Janah, Sherly Nurtiningtyas, Vivi Paramitha, Erina Adriana Pasha Ayu Prakoso, Teguh Tri Pratama, Muhammad Raditya Arva Pudji Lestari Pudji Lestari Putri, Nindya Erina Putri, Salsya Bela Nadiya Reja Arrafi Rita Rahayu Rizki Anjarsari S. Sugiharto Saputro, Dwi Bayu Sheena Ramadhia Asmara Dhani Siagian, Ira Octavia Sintia Dewi, Radi Tia Siti Marfu'ah Sri Nyumirah SRI RAHAYU Sri Rahayu Sriyanto, Heru Sukaesti, Diah Sukandar, Mohammad Sukotjo, Ivanda Andinar Sulastri Sulastri Sulastri Suparmi Suparmi Susanti Niman Su’ib, Akhmad Thia Wulan Dinasti Tri Agustina Vina Astuti Wachidah Yuniartika Wachidah Yuniartika Wardani, Aulia Dwi Waryanti, Emy Tri Wibowo, Slamet Widihastuti, Diva Peni Agustin Yanto, Tri Wahyudi Yuanita Panma Yunianti, Evita Zamroji, Moh. Zuan Nun Alea Syavinka