Claim Missing Document
Check
Articles

Uji In Vitro dan Studi In Silico Senyawa Turunan n’-benzoylisonicotinohydr Ruswanto Ruswanto; Nur Rahayuningsih; Nur Laeli Dwi Hidayati; Ginna Sri Nuryani; Richa Mardianingrum
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 17 No 2 (2019): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.686 KB) | DOI: 10.35814/jifi.v17i2.703

Abstract

There have been in silico and in vitro studies of N-Benzoylisonicotinohydrazide derivatives as antituberculosis candidates. The aims of this research were determined that the N'-benzoylisonicotinohydrazide derivatives could inhibit the activity of gram-positive, gram-negative and Mycobacterium tuberculosis, as well as having good interactions with Enoyl-Acyl Carrier Protein Reductase from Mycobacterium Tuberculosis. From the in vitro test it was found that the N'-benzoylisonicotinohydrazide compound had a Minimum Inhibitor Concentration (MIC) of 0.33 µg / ml against the Basillus subtilis, while the Minimum Inhibitor Concentration (MIC) of N '- (2-chlorobenzoyl) isonicotinohydrazide against Mycobacterium tuberculosis (H37Rv) was 3.125 µg / ml. From the in silico study, it was found that the binding affinity value between N '- (2-chlorobenzoyl) isonicotinohydrazide enzyme Enoyl-Acyl Carrier Protein Reductase (2X23) had the smallest binding affinity so that it could be predicted that it had a stable interaction than other compounds so that the N '- (2-chlorobenzoyl) isonicotinohydrazide could be used as a more potent antituberculosis candidate.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL UMBI GADUNG (Dioscorea hispida Dennst.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Propionibacterium acnes Susanti Susanti; Richa Mardianingrum
Jurnal Farmagazine Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v7i1.151

Abstract

Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) adalah umbi liar yang banyak terdapat di wilayah Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Tasikmalaya, namun pemanfaatannya belum maksimal dibandingkan dengan tanaman umbi lainnya. Umbi gadung memiliki potensi besar dalam bidang farmasi, yaitu adanya senyawa fenol yang bermanfaat sebagai antimikroba. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol umbi gadung terhadap Propionibacterium acnes. Kadar fenol dianalisis menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dan Spektrofotometer UV-Vis yang dinyatakan sebagai kadar fenol total (mg GAE/g ekstrak). Adapun uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode disk diffusion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umbi Gadung mempunyai aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 10,00±0.00 dengan kadar fenol total sebesar 127,5313 ± 0,2133 mg GAE/gram untuk ekstrak daging umbi gadung dan 85,6719 ± 0,1931 mg GAE/gram untuk ekstrak kulit umbi gadung. Meskipun diameter zona hambatnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif, namun hal ini menunjukkan adanya potensi antibakteri yang cukup bagus dari umbi gadung. Kata Kunci: Gadung, Fenol, Antibakteri, Jerawat
Studi In Silico Senyawa 1,4-Naphthalenedione-2-Ethyl-3-Hydroxy sebagai Antiinflamasi dan Antikanker Payudara Richa Mardianingrum; Kamiel Roesman Bachtiar; Susanti Susanti; Aas Nuraisah Aas Nuraisah; Ruswanto Ruswanto
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 17, No 1 (2021): Maret
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.17.1.43979.83-95

Abstract

Inflamasi merupakan suatu respon dari tubuh terhadap adanya cedera maupun infeksi yang ditandai dengan timbulnya kemerahan, demam, bengkak, nyeri dan hilangnya fungsi. Inflamasi berkontribusi terhadap ketidakseimbangan sekresi sitokin yang akan menghambat terjadinya apoptosis pada sel kanker sehingga menyebabkan hiperproliferasi sel. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di urutan ke dua di dunia. Penelitian terdahulu melaporkan pemberian minyak atsiri rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb.) secara topikal mampu memberikan penghambatan inflamasi yang lebih tinggi daripada triamcinolone, namun spesifik senyawa yang berpotensinya belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini, yakni mencari senyawa aktif hasil analisis GCMS minyak atsiri rimpang bangle yang berpotensi sebagai antiinflamasi dan antikanker payudara secara in silico. Metode yang digunakan berupa screening Lipinski’s rule of Five, farmakokinetika dan toksisitas senyawa hasil analisis GC-MS, serta penambatan molekul dan dinamika molekular. Hasil screening dan simulasi penambatan molekul menunjukkan bahwa senyawa 1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy dapat berikatan dengan reseptor COX-1 (antiinflamasi), dan hERα (antikanker payudara), namun lebih selektif terhadap reseptor COX-1 dengan nilai energi bebas (ΔG) yang lebih kecil yakni sebesar -7,20 kkal/mol, dibandingkan dengan interaksinya terhadap reseptor Erα yang bernilai -6,00 kkal/mol. Hasil simulasi dinamika molekular menggunakan metode kalkulasi MM-GBSA menunjukkan bahwa kompleks (1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy)-(COX-1) memiliki nilai ∆GTOTAL sebesar -24,22 kkal/mol. Nilai ini lebih kecil dibandingkan dengan ∆GTOTAL kompleks (1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy)-(hErα) sebesar -8,92 kkal/mol). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat afinitas 1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy terhadap COX-1 diprediksi lebih baik dan lebih poten sebagai antiinflamasi dibandingkan sebagai antikanker payudara.In Silico Study of 1,4-Naphthalenedione-2-Ethyl-3-Hydroxy Compounds as Anti-inflamation dan Breast Anticancer. Inflammation is a response from the body to injury or infection which is characterized by redness, fever, swelling, pain, and loss of function. Inflammation contributes to the imbalance of cytokine secretion which will inhibit apoptosis in cancer cells, causing cell hyperproliferation. Breast cancer is one of the cancer diseases with the second-highest prevalence in the world. The pioneering works reported that topical application of Bangle (Zingiber purpureum R) was able to provide a higher inhibition of inflammation than triamcinolone, however, the specific potential of the compound was unknown. The purpose of this study is to find active compounds that have the potential to be anti-inflammatory and anti-cancer in the breast using in silico approach. The methods used are screening Lipinski’s Rule of Five, pharmacokinetics and toxicity of compounds from GC-MS analysis and molecular docking, and molecular dynamics. The screening and molecular docking simulation results showed that the compound 1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy can bind to COX-1 (anti-inflammatory), and ERα (Estrogen Reseptor α), but was more selective towards COX-1 receptor with a binding affinity (ΔG) -7.20 kcal/mol, compare to its interaction with ERα which is -6.00 kcal/mol. The results of molecular dynamics simulation using the MM-GBSA calculation method show that the complex (1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy)-(COX-1) has a value of ∆GTOTAL of -24.22 kcal/mol). This value is smaller than ∆GTOTAL of the complex (1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy)-(hErα) of -8.92 kcal/mol. The results indicate that the affinity level of 1,4-naphthalenedione-2-ethyl-3-hydroxy to COX-1 was predicted to be better and more potent as an anti-inflammatory than as an anti-breast cancer.
Pelatihan Pembuatan Serbuk Jamu Pegagan Di Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya Nitya Nurul Fadilah; Richa Mardianingrum; Gina Septiani Agustien
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i2.3354

Abstract

Serbuk jamu pegagan memiliki banyak manfaat diantaranya memperlancar peredaran darah, mengatasi gangguan pencernaan, antibakteri, dan untuk kecantikan kulit. Pegagan banyak ditemui di pekarangan rumah atau pinggir sawah khususnya di Desa Pagersari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara membuat serbuk jamu yang baik dan bermutu sehingga dapat dijadikan serbuk jamu baik untuk konsumsi sendiri atau untuk diperjualbelikan. Metode yang digunakan adalah berupa pemberian materi dan pelatihan yang terdiri dari proses pembuatan jamu, sortasi kering, pencucian, perajangan, pengeringan dan pengemasan. Serbuk jamu pegagan dapat dikemas dalam bentuk yang menarik, atau membuat masker dengan bahan tambahan lain yang diramu sebagai masker kecantikan. Oleh karena itu, potensi pegagan sebagai produk kesehatan perlu disosialisasikan kepada masyarakat sekitar untuk meningkatkan perekonomian dan pemanfaatan sumber daya alam di daerah melalui masyarakat PKK pada 17 Juli 2020. Hasil dari kegiatan tersebut, masyarakat lebih memahami arti penting dari tanaman di sekitarnya sehingga bisa dijadikan produk kesehatan. Hal tersebut terlihat dari antusiasme masyarakat terhadap pemberian materi dan masyarakat bisa membuat serbuk jamu secara mandiri setelah dilakukan pelatihan. Kata kunci: Pegagan, Jamu, Pagerageung  ABSTRACTPegagan herbal powder, has many benefits including improving blood circulation, overcoming digestive disorders, antibacterial, and for skin. Pegagan is often found in the yard or the edge of rice fields, especially in Pagersari Village, Ciawi District, Tasikmalaya. The purpose of this community service program was to increase public knowledge about how to make good and quality herbal powder so that it can be used as herbal powder either for own consumption or for sale. The method used was in the form of material provision and training which consisted of the process of making herbal medicine, dry sortation, washing, chopping, drying and packaging. The powder of pegagan can be packaged in an attractive form, or herb masks with other additives which are mixed as beauty masks. Therefore, the potential of pegagan as a health product needs to be disseminated to the surrounding community to improve the economy and utilization of natural resources in the area through the PKK community on July 17, 2020. The results of these activities, the community colud understands the importance of the surrounding plants so that they can be used as products health. This could be seen from the enthusiasm of the community for providing materials and the community being able to personally made herbal medicine powder after this training.Keywords: Pegagan, Herb, Pagerageung
Pelatihan Pembuatan Produk Teh Pegagan untuk P-IRT di Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya Nitya Nurul Fadilah; Richa Mardianingrum; Gina Septiani Agustien
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i4.5527

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan tumbuhan sebagai alternatif pengobatan banyak ditemukan di masyarakat desa. Salah satunya Desa Pagersari yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Desa ini terletak di bagian utara Tasikmalaya. Sebagian besar mata pencaharian penduduk di sana merupakan petani, sehingga lingkungannya masih relatif dikelilingi oleh pesawahan yang sebagian besar lahannya dipakai untuk padi, palawija, sayuran dan tanaman lainnya. Selain itu masyarakat di kalangan ibu rumah tangga juga sering menanam tanaman obat di pekarangan rumah. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal karena kurangnya pengetahuan dalam mengolah potensi sumberdaya yang dimiliki. Salah satu tanaman yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah pegagan yang banyak tumbuh di Desa Pagersari. Pegagan berkhasiat untuk meningkatkan imun, membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, kecantikan, dan lain-lain. Pegagan ini dapat dijadikan masker yang dapat digunakan kapan saja sebagai penunjang kecantikan atau penunda penuaan dini. Masker pegagan bisa dikemas dalam bentuk menarik menjadi masker wajah. Selain itu teh pegagan ini terjamin proses pembuatanya karena melalui tahapan yang sudah sesuai dengan syarat P-IRT. Program pengabdian masyarakat (Pengembangan Masyarakat Desa Binaan) ini menginisiasi pembuatan masker pegagan yang ditanam sendiri serta siap digunakan kapan saja. Masyarakat Desa Pagersari akan dibina melalui penyuluhan dan praktik pembuatan masker  pegagan dari mulai pengolahan tanaman obat hingga berbentuk kemasan sehingga bisa dijadikan produk industri rumah tangga (P-IRT) sebagai bukti bahwa produk tersebut terjamin dan aman. Program ini dapat membantu pengembangan tanaman pegagan di Desa Pagersari yang dapat dijadikan sebagai produk kosmetik dan penunjang kecantikan untuk selanjutnya dapat dikemas dalam bentuk kemasan yang menarik dan dapat dijual sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat. Kata kunci: Pegagan, Desa Pagersari, masker  ABSTRACT The use of plants as alternative medicine is found in many rural communities. One of them is Pagersari Village which is one of the villages in Pagerageung District, Tasikmalaya Regency. This village is located in the northern part of Tasikmalaya. Most of the livelihoods of the people there are farmers, so the environment is still relatively surrounded by rice fields, most of which are used for rice, secondary crops, vegetables and other crops. In addition, people among housewives also often plant medicinal plants in their yards. However, its utilization is still not optimal due to lack of knowledge in processing the potential of its resources. One of the plants that has not been used optimally is pegagan which grows a lot in Pagersari Village. Pegagan is efficacious for increasing immunity, cleansing the blood, improving blood circulation, beauty, and others. Pegagan can be used as a mask that can be used at any time to support beauty or delay premature aging. Pegagan masks can be packaged in an attractive form into a face mask. In addition, pegagan tea is guaranteed to be made because it goes through stages that are in accordance with the P-IRT requirements. This community service program (Development of Fostered Village Community) initiates the manufacture of pegagan masks that are self-grown and ready to be used at any time. The community of Pagersari Village will be fostered through counseling and the practice of making pegagan masks from processing medicinal plants to packaging so that they can be used as home industry products (P-IRT) as proof that the product is guaranteed and safe. This program can help the development of pegagan plants in Pagersari Village which can be used as cosmetic and beauty support products which can then be packaged in attractive packaging and can be sold so as to improve the community's economy. Keywords: pegagan, Pagersari village, mask
Pembuatan Minuman Instan Bir Pletok Dalam Etnofarmasi Untuk Masuk Angin Dan Pegal Linu Di Desa Kiarajangkung Kabupaten Tasikmalaya Richa Mardianingrum; Nitya Nurul Fadilah; Mida Hamidah; Yunia Sarwatiningsih
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 2 April 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i2.3525

Abstract

ABSTRAK Bir pletok merupakan minuman khas betawi yang biasa digunakan untuk menghangatkan badan. Komponen utama bir pletok adalah jahe dan kulit kayu secang. Secara etnofarmasi, jahe sering digunakan untuk menghangatkan badan, mengatasi masuk angin, pegal linu, batuk, mual, dan menjaga imun tubuh, sedangkan kulit kayu secang merupakan salah satu bahan rempah-rempah mempunyai khasiat antioksidan tinggi sehingga sangat cocok digunakan untuk mengatasi gejala inflamasi. Tujuan pengabdian masyarakat di Desa Kiarajangkung Kabupaten Tasikmalaya ini menggali potensi alam yang sangat kaya terutama penghasilan rempah-rempah seperti jahe, kayu secang, lengkuas, untuk diproduksi lebih lanjut sebagai minuman Kesehatan siap saji. Metode pembuatan minuman serbuk instan bir pletok berupa sosialisasi, pelatihan pembuatan minuman instan dan cara pengemasannya. Hasil yang diperoleh nanti dapat menjadi suatu solusi supaya masyarakat dapat lebih praktis dalam penggunaannya dan mempunyai nilai jual yang lebih tinggi daripada bahan mentahnya. Masyarakatpun selain sehat juga dapat melaksanakan kegiatan UMKM guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kiarajangkung Kata kunci: Bir Pletok, Desa Kiarajangkung, Kabupaten Tasikmalaya ABSTRACT Pletok beer is a typical Betawi drink that is usually used to warm the body. The main components of pletok beer are ginger and secang bark. In ethnopharmaceutical, ginger is often used to warm the body, treat colds, aches, and pains, coughs, nausea, and maintain body immunity, while the bark of secang is one of the ingredients of spices that have high antioxidant properties so it is very suitable to be used to treat inflammatory symptoms. The goal of community service in the Kiarajangkung Village, Tasikmalaya Regency, is to explore the very rich natural potential, especially the income of spices such as ginger, secang wood, galangal, to be further produced as ready to eat health drinks. The method of making instant powdered drink beer pletok is in the form of socialization, training in making instant drinks, and how to pack them. The results obtained later can be a solution so that people can be more practical in their use and have a higher selling value than the raw material. Besides being healthy, the community can also carry out UMKM activities to improve the welfare of the people of Kiarajangkung Village. Keywords: Pletok beer, Kiarajangkung Village, Tasikmalaya Regency
Computational Study of 1-(3-Nitrobenzoyloxymethyl)-5-Fluorouracyl Derivatives as Colorectal Cancer Agents Richa Mardianingrum; Delis Susilawati; Ruswanto Ruswanto
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 8, No. 2, November 2022
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v8i2.25489

Abstract

Cancer is one of the chronic diseases with a reasonably high increase at this time. One type of cancer with the highest mortality rate is colorectal cancer. Colorectal cancer is cancer that occurs in the colon and rectum. Based on GLOBOCAN data (2018), cases of colorectal cancer in Indonesia reached 8.6% or 30,017 people and were the second most common cause of death in men and the third in women. The development of cancer drugs to obtain drugs with better activity, lower toxicity, and working more selectively through structural modifications is still being carried out until now. This study aims to determine the pharmacokinetic properties and stable interactions between the thymidylate synthase and one of the 78 derivatives of 1-(3-nitrobenzoiloximethyl)-5-fluorouracyl (NB5FU) by in silico, namely molecular docking, and molecular dynamics simulations. The result shows that the NB5FU78 derivative compounds have better pharmacokinetic properties than NB5FU. Lipinski's rules of five criteria that fill the requirements have a smaller free bond energy value than NB5FU. Based on the results of molecular dynamics simulations carried out for 5 ns, the NB5FU78 derivative has a stable interaction with the thymidylate synthase (TS) receptor with total bond energy of -36.36 kcal/mol.
FORMULASI STIKER MASKER AROMATERAPI RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) DENGAN MINYAK NILAM (Pogostemon cablin Benth) SEBAGAI PENCEGAH SARS CoV-2 Tammy Riyanda Julianti; Nur Ihsani Pertiwi; Rizgy Anggia; richa mardianingrum
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 14, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jfb.v14i1.2095

Abstract

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dimana penyebaran kasus SARS-CoV-2 yang masih mengalami peningkatan membuat masyarakat lebih waspada serta memperhatikan protokol kesehatan. Adanya penambahan komponen lain sebagai upaya peningkatan dan pengembangan efektivitas masker tentu sangat diperlukan untuk memperkuat pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit, khususnya pada sistem pernapasan manusia. Tujuan penelitian ini yaitu membuat stiker masker aromaterapi dengan memanfaatkan kandungan minyak atsiri pada jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) sebagai komponen utama yang diharapkan dapat efektif terhadap pencegahan COVID-19. Metode destilasi uap air digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri jahe merah, dimana hasil minyak atsiri yang diperoleh ditambahkan pada masing-masing formula acuan dengan bahan HPMC yang telah melalui tahap optimasi terbaik dalam pembentukan lapisan film yaitu konsentrasi 8 % serta penambahan variasi kombinasi minyak nilam yang bertujuan untuk mengetahui lama waktu ketahanan aromaterapi jahe merah terhadap stiker masker. Pengujian durasi aromaterapi dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan dengan hasil optimal terdapat pada F1 bertahan yang selama 62 menit 54 detik. Berdasarkan data penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa minyak atsiri jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) dengan kombinasi minyak nilam (Pogostemon cablin Benth) konsentrasi 1 % dapat dibuat sebagai stiker masker aromaterapi. Minyak nilam memiliki pengaruh terhadap peningkatan durasi aromaterapi stiker masker sebagai pencegah SARS-CoV-2.
Pelatihan Pembuatan Soyghurt Ekstrak Bunga Telang dan Daun Pucuk Merah di Desa Serang Kabupaten Tasikmalaya Susanti Susanti; Lina Rahmawati Rizkuloh; Richa Mardianingrum
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.237 KB) | DOI: 10.30653/jppm.v8i1.314

Abstract

Untuk mencegah terjadinya penyakit tidak menular yang disebabkan oleh radikal bebas dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan yang tinggi antioksidan, salah satunya adalah soyghurt terutama yang diperkaya dengan ekstrak tumbuhan sekitar masyarakat yang juga berpotensi sebagai antioksidan seperti Clitoria ternatea dan Syzygium myrtifolium. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang pembuatan soyghurt yang diperkaya dengan ekstrak daun pucuk merah dan bunga telang. Kegiatan ini terdiri dari pelatihan pembuatan soyghurt diperkaya ekstrak bunga telang dan daun pucuk merah mulai dari penyiapan bahan hingga pengemasan dan pelabelan. Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah kombinasi antara ceramah, diskusi, dan praktik. Tingkat pemahaman peserta kegiatan terhadap materi penyuluhan dan pelatihan yang diberikan cukup optimal. Hal ini terlihat dari hasil pre-test dan post-test, dimana terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 87% yang menunjukkan bahwa penyerapan dan pemahaman materi penyuluhan dari pelatihan kegiatan ini oleh peserta sudah sesuai dengan harapan. To prevent the occurrence of non-communicable diseases caused by free radicals, it can be done by consuming foods high in antioxidants, one of which is soyghurt, especially those enriched with extracts from plants around the community which also have the potential as antioxidants such as Clitoria ternatea and Syzygium myrtifolium. The purpose of this service activity is to provide community knowledge and skills regarding the manufacture of soyghurt enriched with extracts of pucuk merah leaves and telang flowers. This activity consisted of training on making soyghurt enriched with extracts of telang flower and pucuk merah leaves from the preparation of materials to packaging and labeling. The method used in this PKM activity is a combination of lectures, discussions, and practice. The level of understanding of this activity participants on the counseling and training materials provided is quite optimal. This can be seen from the results of the pre-test and post-test, where there is an increase in knowledge of 87% which indicates that the absorption and understanding of this activity counseling and training materials by participants has been in accordance with expectations.
Potential of Prenylated Flavonoid Derivatives from Jackfruit Roots (Artocarpus heterophyllus Lam.) as Liver Anticancer Candidates: In Silico Study Richa Mardianingrum; Meylany Sity Rossy Lestary; Nur Aji; Ruswanto Ruswanto
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 26, No 2 (2023): Volume 26 Issue 2 Year 2023
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jksa.26.2.57-63

Abstract

Hepatocellular carcinoma (HCC), or liver cancer, is the fourth largest cancer in Indonesia, with 21,392 new cases and around 20,920 deaths. One of the standard drugs for liver cancer patients is lenvatinib, but lenvatinib has dangerous side effects such as hypertension. Previous studies reported that jackfruit root extract (Artocarpus heterophyllus Lam.) contains prenylated flavonoid compounds known to have anticancer activity. This study aims to find compounds that have the potential to the anticancer liver from jackfruit root by understanding the interaction between prenylated flavonoid derivative compounds against the VEGFR2 receptor (PDB ID: 3WZE) in silico. The methods include toxicity and pharmacokinetic screening, drug scanning, docking, and molecular dynamics simulation. The toxicity, pharmacokinetic, and drug scans of cycloartocarpesin are better than lenvatinib. The docking cycloartocarpesin compound showed ∆G -8.49 kcal/mol and Ki 0.59967 M lower than lenvatinib by forming the same hydrogen bond at residue Glu885. The molecular dynamics simulation of the cycloartocarpesin compound in the MM-GBSA calculation method resulted in a ∆Gtotal of -56.641 kcal/mol. The cycloartocarpesin compound is predicted to be used as a candidate for liver anticancer drugs because it has better stability and affinity than lenvatinib.
Co-Authors Aas Nuraisah Aas Nuraisah Aas Nuraisah Adinda Putri Amanda Afriliani, Sindy Aguslina Kirtishanti Agustien, Gina Septiani Ai Teni Siti Robi`ah Amelia, Widya Puspitasari Andri Kusmayadi Arif Budiman Arry Yanuar AYU RAHMAWATI Bachtiar, Kamiel Roesman Delis Susilawati Diah Lia Aulifa Dudi Nurmalik Elis Nurul Ikhlas Elsi Eryanti Fajar Setiawan Falya, Yuniarti Feri Sandria Firiani, Yuli Gatut Ari Wardani Gina Septiani Agustien Gina Septiani Agustien Gina Septiani Agustien Ginna Sri Nuryani Gramita, Widya Siva Hadiwijaya, Nathannael Adrya Harfiah Nur Aini Hartono, Sugianto Ayudha Ikram, Nur Kusaira Khairul Imam Mustaqim Garna Indah Cantika Indri Rahmawati Irma Andriani Isti Daruwati Jhoni, I Made Kamiel Roesman Bachtiar Korry Novitriani, Korry Kuncoro, Aditiya Kurniawan, Rian Liawardi, Petra Pahlawanda Chrisanto Lilis Tuslinah Lilis Tuslinah Lilis Tuslinah, Lilis Lina Rahmawati Rizkuloh Makiyatuzahro, Dede Avissa Mardhiah Mardhiah Mardhiah Mardhiah Mas'ud, Ibnu Meylany Sity Rossy Lestary Mia Nurfazriah Mida Hamidah Mochamad Herdi Nurzaman Monikasari, Hesti Muchtaridi Muchtaridi Nahariyah, St. Rohmani Napitupulu, Gloria Neta Ekayanti Suganda Nisa Uswatun Khasanah Nitya Nurul Fadilah Nofianti, Tita Nofriyaldi, Ali Nur Aji Nur Aji Nur Ihsani Pertiwi Nur Laeli Dwi Hidayati Nur Laili Dwi Hidayati Nur Rahayuningsih Nur Rahayuningsih, Nur Nurlaila, Putri Saniah Nurmalik, Dudi Nurmalik, Dudi Nursuhud Nursuhud Nursuhud Nurul Frasiska Oktariani, Anisa Pertiwi, Nur Ihsani Pratama, Rizki Pratita, Anindita Tri Kusuma Pratomo, Muhammad Fadhil Rahmawati, Syifa Sri Renadi, Sedin Rizgy Anggia Ruswanto, Ruswanto Ryan Apriandi Sa'banah, Nonah Sarwatiningsih, Yunia Sarwatiningsih, Yunia Septian, Ade Dwi Setyawati, Luthfi Utami Sindy Afriliani Siswandono, Siswandono Srie Rezeki Nur Endah Srie Rezeki Nur Endah Suhardiana, Eddy Suharyani, Ine Suharyani SUSANTI Susanti Susanti Susanti Susanti Susanti Susanti Syifa Alifia Lukman Tammy Riyanda Julianti Tati Herlina Tati Herlina Tifa Nofianti Tita Nofianti Tita Nofianti Tita Nofianti, Tita Tresna Lestari, Tresna Tuslinah, Lilis Unang Supratman Vikandari, Sonya Nurizki Walid, Rifan Afrian Nur Winda Trisna Wulandari Winda Trisna Wulandari Wirantono, Sebastian Nathanoel Yuliawati, Sri Yunia Sarwatiningsih