Claim Missing Document
Check
Articles

Digital Storytelling in STEM Mathematics: Communicating Islamic Values through Problem-Based Learning Siregar, Nur Choiro; Anggrayni, Dewi; Warsito; Gumilar, Aris
KOMUNIKA Vol 9 No 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper conceptualizes Digital Storytelling (DST) in Scince, Technology, Engeneering, Mathematic (STEM) Mathematics as a pedagogical model for strengthening students’ mathematical problem-solving while enabling the communication of Islamic values honesty (ṣidq), responsibility (amānah), cooperation (taʿāwun), and perseverance (ṣabr) within problem-based learning (PBL). The concept paper argues that digital storytelling can function as a “narrative bridge” connecting STEM contexts, mathematical reasoning, and ethical reflection without turning mathematics lessons into moral instruction. The proposed framework positions storytelling as an integrative learning product developed across three cycles: (1) problem framing in authentic STEM situations, (2) modeling and solution development through collaborative mathematical inquiry, and (3) narrative synthesis, where learners produce short digital stories that explain assumptions, justify strategies, and reflect on value-informed decisions and societal impacts. To guide implementation and assessment, the paper outlines design principles for tasks, group roles, and teacher facilitation that promote accountable talk, respectful dialogue, and evidence-based reasoning. It also proposes an assessment approach combining mathematics performance indicators (representation, reasoning, accuracy, and validation) with value-oriented communication indicators (truthfulness in reporting results, responsibility in teamwork, cooperative discourse, and persistence through iterative revision). The paper concludes by highlighting practical implications for curriculum design, classroom assessment rubrics, and teacher professional development in value-integrated STEM education. Future empirical work is recommended to test the model across diverse contexts, compare it with conventional PBL, and examine how narrative features mediate students’ engagement, reasoning quality, and value communication over time.
Analisis Konten Live Streaming Shopee Wardah Sunscreen sebagai Optimalisasi Komunikasi Pemasaran Digital 5.0 Dewi Anggrayni; Fathya Qonitatusy Syahidah; Rahma Wati
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2025): Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v9i1.11639

Abstract

Kemampuan komunikasi dan media kreatif dalam aktifitas pemasan produk seringkali menjadi kendala dalam praktek komunikasi bisnis. Pelaku usaha belum mampu mengoptimalkan platform digital dalam mengemas pesan bisnis pada aktifitas komunikasi pemasaran di era digital 5.0. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana produk kostmetik Wardah melakukan optimalisasi komunikasi pemasaran di akun marketplace Shopee melalui fitur live streaming. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif peneliti melakakukan analisis pada konten iklan wardah yang ditayangkan pada live Shopee Special Sale 1.1 dan Wardah Big Sale New Year edisi 1 Januari 2025. Peneliti menggunakan menggunakan teori Integrated Marketing Communication (IMC) menganalisis aktifitas komunikasi bisnis wardah. Dengan menggunakan software Nvivo 12, peneliti menganalisis elemen komunikasi pemasaran seperti strategi promosi, interaksi antara host live streaming dan konsumen, serta respons pasar. Promosi mencakup informasi produk Wardah, diskon, voucher, dan flash sale, sedangkan interaksi dilakukan melalui tanya jawab antara host dan penonton. Adapun respons pasar terlihat dari review produk dan reaksi klaim voucher selama sesi berlangsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Shopee live streaming dan event promosinya efektif sebagai media komunikasi pemasaran, meningkatkan interaksi konsumen serta penjualan. Hasil Analisis Nnivo 12 mendapati bahwa pesan yang disampaikan dalam sesi live streaming Wardah selaras dengan prinsip IMC. Peneliti menegaskan, promosi yang konsisten dan tepat waktu selama event besar terbukti memperluas pasar dan meningkatkan kesadaran produk. Media ini menjadi komponen penting dalam strategi pemasaran digital untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan meningkatkan penjualan.
Peran Komunikasi Kelompok dalam Meningkatkan Kesadaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat Haur Jaya Kota Bogor amah, Mas'; Firyal, Nessa Aufa; Cahyani, Rizkina Dwi; Bariqlana, Zacky; Anggrayni, Dewi; Siregar, Nur choiro
AGRINUS : Jurnal Agro Marin Nusantara Vol. 2 No. 2 (2025): AGRINUS: JURNAL AGRO MARIN NUSANTARA
Publisher : Yayasan Pengembangan Dan Pemberdayaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62180/ab072380

Abstract

Kesadaran akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, kurangnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama yang menghambat terwujudnya PHBS. Penelitian ini fokus kepada pendekatan komunikasi kelompok untuk melihat sejauh mana PHBS diterapkan pada Masyarakat Haur Jaya Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi kelompok dalam meningkatkan kesadaran PHBS di masyarakat Kampung Haur Jaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat serta anggota kelompok, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi kelompok, yang berlangsung dalam berbagai bentuk seperti diskusi warga, pertemuan kader kesehatan, arisan, serta kegiatan keagamaan, memiliki pengaruh yang signifikan dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap PHBS. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi kelompok dalam meningkatkan kesadaran PHBS dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya intensitas interaksi dalam kelompok, penggunaan bahasa yang sesuai dengan karakteristik masyarakat, serta dukungan dari pihak eksternal seperti pemerintah dan organisasi kesehatan. Dengan demikian, komunikasi kelompok dapat menjadi strategi yang efektif dalam mengedukasi masyarakat dan mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih sehat.
Deconstruction of Visual Aesthetics and Ideological Myths of Digital Preaching on the Instagram Account @hanan_attaki Budi Utami, Iin Indrawati; Anggrayni, Dewi
Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam Vol. 25 No. 1 (2026): Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/mk.v25i1.11638

Abstract

This study examines the evolution of religious messaging in the digital realm, driven by the need to understand the impact of visualization on young audiences' perceptions of faith amidst increasingly crowded social networks. The research aims to dissect the formation of meaning in online da'wah activities by examining the complex blend of visual elements and storylines on the Instagram account @hanan_attaki from 2021 to 2025. The primary focus is on examining how religious intermediaries transform conventional teachings into emotionally charged personal experiences, presented specifically for Gen Z. Using a descriptive qualitative approach through virtual ethnography and Roland Barthes's semiotic analysis, this study meticulously breaks down digital codes down to the levels of denotation, connotation, and myth. This methodology allows for an in-depth exploration of how digital content creators manipulate symbols to align with contemporary sensibilities. The study reveals that the use of cinematic backdrops, soothing color gradations, and intimate appearances successfully constructs a significant new ideological myth: "Islam as Aesthetic Healing ." This semiotic transformation integrates religious rituals into the framework of modern life, effectively bridging the gap between noble values ​​and the fast-paced nature of digital culture. The study's conclusion emphasizes that while visual appeal is a key gateway for maintaining spiritual messages' relevance in the digital age, there is a real threat of watering down the essence of rich religious teachings into mere lifestyle symbols. This study offers a needed critical perspective on how faith is conveyed, emphasizing that efforts to achieve digital interaction and visual appeal should not override the depth of theological substance. Ultimately, this research suggests that transforming religious symbols into merchandise on Instagram creates a paradoxical situation: faith becomes more accessible but risks being diluted when consumed.