Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN PEMBUATAN TEH KOMBUCHA UNTUK MENINGKATKAN MINAT WIRAUSAHA SANTRI PUTRI TERHADAP PRODUK FERMENTASI Yulistia Budianti Soemarie; Nily su'aida; Aris Fadillah; Rizki Rahmadi Pratama
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.22946

Abstract

Abstrak: Salah satu pondok pesantren yang terletak di kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, adalah Pondok Pesantren Putri Darul Falah. Sekitar 135 santri bersekolah di pesantren ini. Salah satu masalah yang dihadapi oleh santri putri di pondok pesantren Darul Falah adalah tidak adanya kurikulum kewirausahaan yang ditawarkan oleh pondok pesantren. Akibatnya, santri putri memiliki keterampilan yang sangat rendah dan dikhawatirkan akan berdampak pada minat mereka dalam wirausaha setelah mereka lulus. Teh kombucha adalah minuman fermentasi yang memiliki banyak manfaat kesehatan dan sangat disukai oleh semua orang, jadi santri harus bisa membuatnya. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk mendidik santri putri tentang dasar ilmu kewirausahaan dan mengajar mereka cara membuat teh kombucha. Selain itu, mereka juga ingin menumbuhkan minat mereka untuk berwirausaha. Proses pelaksanaan pengabdian ini dimulai dengan survei lokasi kegiatan, pembuatan surat ijin kegiatan, dan persiapan dan pelaksanaan kegiatan, yang mencakup penyediaan materi melalui ceramah, diskusi, dan pelatihan pembuatan teh kombucha. Peserta pada pelatihan ini diikuti sebanyak 68 peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan nilai pretest dan posttest sebesar 73,33%. Pelatihan juga menunjukkan bahwa peserta dapat membuat teh kombucha setelah fermentasi selama 14 hari.Abstract: One of the Islamic boarding schools located in Barito Kuala district, South Kalimantan Province, is the Putri Darul Falah Islamic Boarding School. Around 135 students at this Islamic boarding school. One of the problems faced by female students at the Darul Falah Islamic boarding school is that there is no entrepreneurship curriculum offered by the Islamic boarding school. As a result, female students have very low skills and this has a negative impact on their interest in entrepreneurship after they graduate. Kombucha tea is a fermented drink that has many health benefits and is loved by everyone, so students must be able to cook it. The aim of this service is to educate female students about the basics of entrepreneurship and teach them how to make kombucha tea. Apart from that, they also want to grow their interest in entrepreneurship. The stages of implementing this service start from surveying the activity location, making an activity permit, preparing and implementing the activity which consists of providing material using lecture methods, discussions and training in making kombucha tea. There were 68 participants in this training. The results obtained from this activity showed that there was an increase in the pretest and posttest scores by 73,33%. This training also showed that participants were able to make kombucha tea after fermenting the tea for 14 days.
PRODUK NUTRASETIKA BERBASIS TANAMAN OBAT KELUARGA MELALUI JAMU GUMMY SEBAGAI PENGUATAN IMUN MANDIRI SANTRI Rizki Rahmadi Pratama; Yuniarti Falya; Fauzi Rahman; Muhammad Fauzi; M. Hasan Andryanto; Aris Fadillah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.41143

Abstract

Abstrak: Pondok pesantren merupakan lingkungan komunal berdensitas populasi tinggi sehingga rentan terhadap penularan penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan, sementara akseptabilitas jamu tradisional yang cenderung pahit masih rendah di kalangan santri usia muda. Pengabdian ini bertujuan mendiversifikasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui formulasi Jamu Gummy sebagai sediaan nutrasetika untuk penguatan imun mandiri santri, dengan sasaran peningkatan hardskill sekaligus softskill mitra, yaitu keterampilan teknis budidaya TOGA dan formulasi sediaan gummy (hardskill) serta literasi kesehatan preventif, kerja sama tim, dan kemampuan komunikasi (softskill). Metode pelaksanaan menggunakan metode campuran (mixed method) yang memadukan ceramah edukatif, diskusi dua arah berbasis problem-solving, dan pelatihan praktik langsung dalam kerangka pendekatan partisipatif, dengan tahapan berupa asesmen awal (pre-test), edukasi fitofarmaka dan sistem imunologis, workshop budidaya serta formulasi gummy berbahan ekstrak kunyit, jahe, dan temulawak, dan evaluasi akhir (post-test). Mitra kegiatan adalah 40 santri pada salah satu pondok pesantren di Kalimantan Selatan, dengan pengurus pesantren berperan sebagai fasilitator. Sistem evaluasi menggunakan desain pre-test dan post-test melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur pengetahuan, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi praktik langsung. Indikator keberhasilan kegiatan ditetapkan berupa peningkatan rerata nilai post-test yang signifikan (p < 0,05) dan kemampuan mitra memproduksi Jamu Gummy secara mandiri. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan santri yang signifikan, dengan rerata nilai meningkat dari 45,5 pada pre-test menjadi 86,8 pada post-test (peningkatan sekitar 90,8%; paired t-test, p < 0,0001).Abstract: Islamic boarding schools are densely populated communal environments prone to the transmission of skin diseases and respiratory infections, while the acceptability of traditional herbal medicine (jamu), which tends to be bitter, remains low among young students. This community service program aims to diversify Family Medicinal Plants (TOGA) through the formulation of Jamu Gummy as a modern nutraceutical dosage form to strengthen students' self-reliant immunity, targeting both hard skills (TOGA cultivation and gummy formulation techniques) and soft skills (preventive health literacy, teamwork, and communication). The implementation method used a mixed method combining educational lectures, two-way problem-solving discussions, and hands-on training within a participatory approach, comprising an initial assessment (pre-test), education on phytopharmaca and the immune system, a workshop on cultivation and gummy formulation using turmeric, ginger, and temulawak extracts, and a final evaluation (post-test). The partners were 40 students of an Islamic boarding school in South Kalimantan, Indonesia, facilitated by the school administrators. Evaluation used a pre-test and post-test design with a validated and reliable structured questionnaire to measure knowledge, while skills were assessed through observation of hands-on practice. The success indicators were a significant increase in the mean post-test score (p < 0.05) and the partners' ability to produce Jamu Gummy independently. The results showed a significant increase in students' knowledge, with the mean score rising from 45.5 in the pre-test to 86.8 in the post-test (an increase of about 90.8%; paired t-test, p < 0.0001).