Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Etnomedisin Tumbuhan Berkhasiat Obat Antidiabetes Pada Masyarakat Desa Panggung Rejo Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung Riesce Octa Verantika; Vicko Suswidiantoro; Wina Safutri; Mida Pratiwi; Elsya Azis Suryani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2285

Abstract

Diabetes melitus menjadi salah satu masalah kesehatan dengan prevalensi yang terus meningkat di Kabupaten Mesuji, sehingga upaya pengelolaan pada penyakit ini perlu untuk ditingkatkan agar dapat menekan angka kejadian pada penyakit tersebut. Penggunaan etnomedisin dalam terapi diabetes melitus telah menjadi alternatif dalam pengobatan konvensional di berbagai budaya. Tujuan: Untuk menggali informasi terkait jenis tumbuhan, bagian tumbuhan serta cara pengolahan tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat Antidiabetes oleh Masyarakat Desa Panggung Rejo Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif Kualitatif dengan menggunakan metode Snowball Samplingdalam proses penggalian informasi yaitu pemilihan sampel dilakukan melalui informan kunci yang dipilih berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya dalam pengobatan tradisional. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara semi terstruktur pada Masyarakat Desa Panggung Rejo Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung sebanyak 12 orang responden. Hasil: Didapatkan 13 jenis spesies tumbuhan yang digunakan sebagai obat Antidiabetes, tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah tumbuhan Pandan dan jahe (14%). Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan yaitu bagian daun (62%), buah (15%), rimpang (15%) dan batang (8%). Cara Pengolahan tumbuhan yang diterapkan oleh Masyarakat yaitu dengan cara direbus (77%) diblender (15%) dan diparut (8%). Kesimpulan: Secara ilmiah, tumbuhan-tumbuhan tersebut terbukti mengandung senyawa bioaktif yang berperan dalam menurunkan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, menghambat enzim pencernaan karbohidrat, serta melindungi sel β pankreas dari kerusakan akibat stres oksidatif.
Uji Aktivitas Kombinasi Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata (Vieill.) K.Schum) Dan Daun Kemangi (Ocimum X Africanum Lour) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Wina Safutri; Diah Kartika Putri; Vicko Suswidiantoro; Miko Nanda Kusuma
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2630

Abstract

Penyakit menular menjadi masalah serius yang dapat ditularkan oleh manusia dan hewan. Jamur ini dapat menyebabkan infeksi seperti kandidiasis yang mengenai kuku, kulit, paru-paru, mulut dan vagina. Pengobatan dengan menggunakan obat antijamur sintetis dapat menyebabkan jamur menjadi resisten. Maka diperlukan alternatif pengobatan antijamur yang terbuat dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis skrining fitokimia pada ekstrak lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) dan menganalisis efektivitas kombinasi ekstrak lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Penelitian ini dilakukan uji daya hambat dengan variasi konsentrasi PI 30%:5%, PII 15%:7,5%, dan PIII 45%:2,5%. Hasil penelitian uji skrining fitokimia pada lengkuas merah (Alpinia purpurata (Vieill.) K.Schum) dan daun kemangi (Ocimum x africanum Lour) didapatkan hasil bahwa ekstrak positif menagandung saponin, tanin, alkaloid, dan flavonoid sedangkan pada senyawa steroid didapatkan hasil negatif. Hasil uji aktivitas antijamur pada konsentrasi 30%:5% sebesar 8,35 mm, konsentrasi 15%:7,5% sebesar 6,64 mm, dan konsentrasi 45%:2,5% sebesar 7,30 mm. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antijamur yang dianalisis dengan menggunakan uji One Way ANOVA dan didapatkan hasil nilai sig >0,05 yaitu 0,955 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok uji. Dari hasil uji dapat disimpulkan bahwa PI dengan konsntrasi 30%:5% merupakan konsentasi paling efektif dalam mengambat jamur Candida albicans.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Clay Mask Ekstrak Daun Kelengkeng (Dimocarpus longan Lour.) Sebagai Antioksidan Dengan Metode 1,1-Difenil-2-Pikrihidazil (DPPH) Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi; Vera Tri Anjani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2866

Abstract

Clay mask is a topical preparation designed to maintain skin hydration while providing protection against oxidative stress induced by free radicals. Longan leaves (Dimocarpus longan Lour.) are known to contain flavonoid compounds that function as natural antioxidants, making them a potential active ingredient in clay mask formulations. The study purpose was: This study aimed to evaluate the physical quality characteristics and antioxidant activity of clay mask preparations containing longan leaf extract using UV-Vis spectrophotometry. Materials and methods. An experimental method was employed, involving the formulation of three clay mask variants with extract concentrations of F1 (5%), F2 (10%), and F3 (15%). Results: The results demonstrated that all formulations met the physical quality standards. Antioxidant activity varied among the formulas, with F3 showing the highest activity, indicated by an IC₅₀ value of 44.046 ppm, categorized as very strong. Conclusions. This study is expected to serve as a preliminary reference for future research, including the incorporation of fragrance, antibacterial activity testing, and pharmacological evaluation using animal models.
Formulasi Dan Uji Mutu Fisik Sediaan Krim Dari Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata Linn) Sebagai Pelembab Kulit Riza Dwiningrum; Linatul Arifah; Mida Pratiwi; Vicko Suswidiantoro
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3011

Abstract

Kulit kering merupakan kondisi yang sering terjadi akibat menurunnya kadar air dan natural moisturizing factor (NMF) pada permukaan kulit. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan penggunaan pelembab berbahan dasar alami. Daun sirsak (Annona muricata Linn) diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan dan dapat membantu meningkatkan kelembapan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu fisik sediaan krim dari ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata Linn) sebagai pelembab kulit. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Ekstrak daun sirsak diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20%, serta dibandingkan dengan kontrol positif (Dorskin) dan kontrol negatif (blanko). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula krim memiliki mutu fisik yang memenuhi standar, seperti tampilan organoleptis yang stabil, homogenitas merata, pH berada dalam kisaran aman untuk kulit (5,84–6,39), daya sebar optimal (5,3–6,4 cm), daya lekat sesuai standar (3,8–4,9 detik), viskositas stabil (3.400–7.000 cP), dan tidak mengalami perubahan signifikan selama uji stabilitas. Formula dengan konsentrasi 20% ekstrak daun sirsak (F3) menghasilkan rata-rata peningkatan kelembapan kulit sebesar 61,87%, yang merupakan hasil terbaik di antara semua formula. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok konsentrasi (p = 0,000), yang menandakan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak daun sirsak berpengaruh nyata terhadap kelembapan kulit. Disarankan agar ekstrak daun sirsak digunakan dalam konsentrasi optimal sebagai bahan aktif alami dalam sediaan krim pelembab kulit, serta dilakukan uji lanjutan untuk menilai keamanan dan stabilitas jangka panjang.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Penggunaan Obat Antihipertensi Di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Turisma Alfi Arizona; Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Wina Safutri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3058

Abstract

Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan dan penyebab kematian utama di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tingkat pengetahuan penyakit hipertensi yang baik akan berpengaruh pada sikap kepatuhan penggunaan obat. Pemilihan lokasi penelitian di Puskesmas Sukoharjo didasarkan pada tingginya jumlah kasus hipertensi yang tercatat setiap tahun serta masih rendahnya tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani terapi obat, sehingga wilayah ini dianggap representatif untuk mengevaluasi keterkaitan antara pengetahuan dan kepatuhan pasien hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data menggunakan kuesioner pengetahuan HFQ (Hypertension Fact Quisionnare) menghasilkan kategori sedang (64%) dan kuesioner kepatuhan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) menghasilkan kategori sedang (64%) dengan besar sampel 100 responden. Hasil analisis hubungan antara variabel tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi didapatkan dengan nilai p value 0,068 yang menunjukkan tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Kata Kunci: Hipertensi, Pengetahuan, Kepatuhan, Penggunaan Obat Hypertension remains a significant health problem and is a leading cause of death in both developed and developing countries. Although hypertension cannot be cured, it can be controlled through medication and lifestyle changes. A good level of knowledge about hypertension can influence patients' adherence to antihypertensive medication. Sukoharjo Public Health Center was chosen as the research site due to its high number of hypertension cases reported annually and the observed low adherence among patients in undergoing treatment, making it a representative location to evaluate the correlation between patients’ knowledge and adherence. The aim of this study was to determine the relationship between the level of knowledge and the level of adherence to antihypertensive drug use at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. This research used a cross-sectional design, with data collected using the Hypertension Fact Questionnaire (HFQ) to assess knowledge resulting in a moderate category (64%) and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) resulting in a moderate category (64%) to measure medication adherence with a sample size of 100 respondents. The relationship analysis between knowledge and adherence levels showed a p-value of 0.068, indicating that there was no significant correlation between knowledge level and adherence to antihypertensive drug use. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between knowledge and adherence to antihypertensive medication among patients at Sukoharjo Public Health Center, Pringsewu Regency in. Keywords: Hypertension, Knowledge, Adherence, Drug Use
Analisis Bahan Kimia Obat Pada Jamu Asam Urat Yang Beredar Di Kota Metro Dengan Metode U-Hplc Salsa Della Ananta Putri; Vicko Suswidiantoro; Iga Mayola Pisacha; Mida Pratiwi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3375

Abstract

Penggunaan Bahan Kimia Obat (BKO) menimbulkan keresahan di masyarakat terutama karena beberapa jamu tradisional Obat tradisional termasuk jamu yang tidak boleh mengandung Bahan Kimia Obat atau senyawa yang sengaja ditambahkan dalam sediaan obat konvensional untuk meningkatkan khasiat sediaan obat tradisional. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis adanya kandungan natrium diklofenak pada jamu asam urat yang beredar di Kota Metro. Analisis dilakukan dengan pengujian kualitatif menggunakan pereaksi warna KMnO4 dan AgNO3, uji kuantitatif menggunakan U-HPLC terhadap lima sampel jamu yang diperoleh. Hasil penelitian secara kualitatif menunjukkan bahwa kelima sampel dengan kode A,B,C,D,E positif mengandung natrium diklofenak. Dan kadar natrium diklofenak yang diperoleh pada pengujian dengan U-HPLC didapatkan pada sampel B yaitu 0,198mg/L dan sampel D yaitu 0,2201mg/L. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian jamu asam urat yang beredar di Kota Metro masih terindikasi mengandung Bahan Kimia Obat, sehingga perlu dilakukan pengawasan lebih lanjut mengenai keamanan produk jamu yang beredar. Kata kunci: Asam Urat, Bahan Kimia Obat, Jamu, U-HPLC ABSTRACT Traditional medicines, including herbal medicines, must not contain chemical drugs or compounds intentionally added to conventional medicinal preparations to increase the efficacy of traditional medicinal preparations. This study was conducted to analyze the presence of sodium diclofenac content in gout herbal medicines circulating in Metro City. The analysis was carried out by qualitative testing using KMnO4 and AgNO3 color reagent, quantitatively using U-HPLC on five herbal medicine samples obtained. The results of the qualitative study showed that the five samples with codes A, B, C, D, E were positive for containing sodium diclofenac. And the levels of sodium diclofenac obtained in the U-HPLC test were found in sample B, namely 0.198 mg/L and sample D, namely 0.2201 mg/L. Thus, it can be concluded that some gout herbal medicines circulating in Metro City are still indicated to contain chemical drugs, so further monitoring is needed regarding the safety of herbal products in circulation. Keywords: Gout, Herbal Medicine, Pharmaceutical Chemical Substances, U-HPLC
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L.) Dan Daun Pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella typhi Triyani Anggun Sari Sari; Riza Dwiningrum; Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3438

Abstract

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan global yang dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Penyebab infeksi diakibatkan oleh mikroba patogen seperti bakteri, virus, jamur dan parasit. Penelitian bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak kombinasi bawang putih dan daun pandan wangi terhadap bakteri Salmonella typhi. Penelitian dilakukan menggunakan metode difusi cakram dengan berbagai kombinasi bawang putih dan daun pandan wangi (80%:20%, 50%:50%, 20%:80%), kontrol positif (ciprofloxacin), dan kontrol negatif (aquadest) menggunakan desain (RAL) yaitu rancangan acak lengkap dengan menghitung rumus pengulangan pada 5 kali perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat rata – rata diameter hambat secara berturut – turut yaitu 9,39 mm, 7,15 mm, 4,76 mm, 20,33 mm, 0 mm. Konsentrasi terbaik dari kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi adalah pada konsentrasi 80%:20%. Hasil skrining dari kedua ekstrak menunjukan positif saponin, alkaloid, tanin, dan flavonoid. Hasil analisis data yang diperoleh adalah (0,389) menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna, karena hasil yang didapatkan (>0,05), artinya tidak ada aktivitas antibakteri yang signifikan dari kombinasi tersebut terhadap bakteri Salmonella typhi. Penelitian ini tidak memiliki perbedaan bermakna dalam pertumbuhan bakteri antara kelompok kontrol positif, negatif, serta kelompok perlakuan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi serta konsentrasi terbaik dari kombinasi ekstrak bawang putih dan daun pandan wangi dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi terdapat pada konsentrasi 80%:20%.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Sabun Cair Ekstrak Daun Pepaya (Carica Papaya L.) Menggunakan Metode Dpph (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl) Riska Reza Novita; Annajim Daskar; Vicko Suswidiantoro; Afi Sania Rosanti
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3487

Abstract

Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan sendiri berperan penting dalam menetralisir radikal bebas yang dapat merusak jaringan kulit serta dapat mempercepat proses penuaan. Dalam sediaan sabun cair, penambahan bahan alami yang bersifat antioksidan tidak hanya berfungsi sebagai pembersih, tetapi juga dapat memberikan manfaat protektif terhadap kulit dari efek buruk lingkungan, seperti polusi dan paparan sinar UV. Oleh karena itu, formulasi sabun cair yang mengandung ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) berpotensi sebagai sediaan fungsional yang mendukung kesehatan kulit sekaligus memberikan efek perawatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formula sabun cair ekstrak daun pepaya yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik berdasarkan nilai IC₅₀ menggunakan metode DPPH. Penelitian eksperimental ini memformulasikan sediaan sabun cair dengan variasi konsentrasi ekstrak daun pepaya sebesar 6%, 8%, 10%, dan 12%. Evaluasi dilakukan terhadap parameter organoleptik, pH, tinggi busa, viskositas, homogenitas, stabilitas, dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, yang dibaca pada spektrofotometer UV-Vis. Formula dengan konsentrasi ekstrak 10% (F3) menunjukkan nilai IC₅₀ sebesar 103,89 ppm, yang tergolong aktivitas antioksidan sedang. Formula F3 dinyatakan sebagai formula terbaik berdasarkan aktivitas antioksidannya karena memiliki nilai IC₅₀ yang paling rendah, sehingga menunjukkan potensi antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan formula lainnya. Kata kunci : Daun pepaya, sabun cair, antioksidan, DPPH, IC₅₀.   ABSTRACT Papaya leaf (Carica papaya L.) contain active compounds such as flavonoids, alkaloids, tannins, and vitamin C, which act as antioxidants. Antioxidants play an important role in neutralizing free radicals that can damage skin tissues and accelerate the aging process. In liquid soap formulations, the addition of natural antioxidant ingredients not only functions as a cleanser but also provides protective benefits to the skin against harmful environmental effects such as pollution and UV exposure. Therefore, liquid soap formulated with papaya leaf extract (Carica papaya L.) has the potential to serve as a functional product that supports skin health while offering skincare benefits. This study aimed to determine the best liquid soap formulation containing papaya leaf extract with the highest antioxidant activity based on the IC₅₀ value using the DPPH method. This experimental research formulated liquid soap with varying concentrations of papaya leaf extract at 6%, 8%, 10%, and 12%. Evaluations were carried out on organoleptic parameters, pH, foam height, viscosity, homogeneity, stability, and antioxidant activity using the DPPH method, measured with a UV-Vis spectrophotometer. The formulation with 10% extract concentration (F3) showed an IC₅₀ value of 103.89 ppm, classified as moderate antioxidant activity. F3 was identified as the best formulation based on its antioxidant activity, as it had the lowest IC₅₀ value, indicating stronger antioxidant potential compared to the other formulations.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Kombinasi Ekstrak Buah Tomat (Solanum Lycopersicum L) Dan Madu (Mel depuratum) Terhadap Mutu Dan Stabilitas Sediaan Eye Cream Jelita Kartika; Afi Sania Rosanti; Annajim Daskar; Vicko Suswidiantoro
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3565

Abstract

Lingkaran hitam di bawah mata (hiperpigmentasi periorbital) merupakan masalah kulit yang umum dan sering diatasi dengan penggunaan eye cream. Bahan alami seperti buah tomat (Solanum lycopersicum L) yang kaya likopen dan vitamin c, serta madu (Mel depuratum) yang memiliki sifat humektan dan antioksidan, berpotensi menjadi kombinasi bahan aktif dalam formulasi eye cream yang efektif dan aman. Penelitian ini bertujuan memformulasikan eye cream dengan variasi konsentrasi kombinasi ekstrak tomat dan madu menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD), serta menentukan formula optimal berdasarkan mutu fisik dan stabilitas sediaan. Variabel yang diuji meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, viskositas dan stabilitas. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Farmasetika Universitas Aisyah Pringsewu dan laboratorium Bahan Alam Universitas Aisyah Pringsewu pada bulan Juli-Agustus 2025. Hasil analisis pada penelitian ini membuat 6 fomulasi eye cream dengan konsentrasi ekstrak tomat dan madu 2,5:4,5 (F1), 2:5 (F2), 1:6 (F3), 1,5:5,5 (F4) dan 3:4 (F5). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formula optimal eye cream ekstrak tomat (Solanum lycoperscum L) dan madu (Mel depuratum) dapat diperoleh ekstrak tomat 1% dan madu 6% menggunakan metode SLD dengan nilai optimal.
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanolik Bawang Putih (Allium sativum L.) Dan Daun Alpukat (Persea Americana Mill.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Vicko Suswidiantoro; Mida Pratiwi; Riza Dwiningrum; Haikal Nur Islam; Eka Selviyana; Annisa Zahra; M.Syarif Alhauri; Anggun Fitria; Salsa della ananta putri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3603

Abstract

Garlic (Allium sativum L.) and Avocado Leaves (Persea Americana M.) are plants that have antibacterial activity due to the presence of secondary metabolite compounds. The aim of this study is to determine the antibacterial activity of the combination extract of Garlic and Avocado Leaves against Escherichia coli bacteria and to identify the groups of active compounds contained in the extracts of Garlic and Avocado Leaves. Antibacterial activity testing was carried out using the disk diffusion method. Garlic and Avocado Leaves were extracted using 96% ethanol solvent through the maceration method. The formula for the combination extract of Garlic and Avocado Leaves was in the concentrations of 25%:75%, 50%:50%, and 75%:25%. Identification of secondary metabolite compounds was conducted using reagents. The results showed that the extract of Garlic at a concentration of 50%:50% has the activity to inhibit Escherichia coli bacteria with the largest inhibition zone diameter of 18.91 mm, categorized as strong. Identification of secondary metabolite compounds with garlic extract and avocado leaves tested positive for alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. The conclusion of this study is that the best combination of extracts is found in garlic extract and avocado leaves, with an inhibition zone diameter of 18.91 mm, which falls into the strong category. Both garlic extract and avocado leaves have a significant influence on the inhibition zone diameter produced by the combined extract.
Co-Authors Abdul Mun'ím Abdul Mun’im Adi Saputra Afi Sania Rosanti Ahmad Zul Khoiri Aini, Sarifatul Amanda Tirtasena ananda, ardini Andika Wahyu Saputra Anggun Fitria Annajim Daskar Annies Surya Utami Annisa Zahra Artadevy, Nadhila Fahira Audya Zahra Aulika Lestari, Fina Bastian, Arif Alexander Bayu Satriawan, Ahmad Clarissa Helmavicha Amanda Damayanti Abdul Karim, Dewi Daskar, Annajim Deswita, Dwi Diah Kartika Putri Diah Kartika Putri Dila Cindy Reptiana Dimas Thoriq Muhammad Iqbal Edy Syamsuri Eka Pratiwi Yunianti Eka Selviyana Elsya Azis Suryani Eva Nurul Baity Fadia Zahra, Alya Fadlina Chany Saputri Fikriya Ridlawati Gustianing, Defy Haikal Nur Islam Hazballah Asy Syifa iga mayola pisacha Iga Mayola Pisacha Iga Mayola Pisacha Indah Safitri Jelita Kartika Juliatika Kurniawati Kaka Widi Rahayu Kartika Putri, Diah Katika Putri, Diah Kiki Ariska Lestari, Fina Aulika Linatul Arifah M.Syarif Alhauri Mahendri, Adelia Citra Mayola Pisacha, Iga Mela Annisa Mela Kurniasari Mida Pratiwi Mida Pratiwi Miftah Khoirun Nissa Miftausakina, Taufiki Miko Nanda Kusuma Muhammad Ridwan Mun'im, Abdul Novi Ana Nurlaili Nurazizah, Amalia Siti Pisacha , Iga Mayola Pisacha, Iga Mayola Pratama, Dimas Feriza Pratama Puspita, Cici Chandra Putri, Diah Karika Putri, Diah Kartika Riesce Octa Verantika Riska Reza Novita Riza Dwiningrum Riza Dwiningrum Riza Dwiningrum, Riza Rosanti, Afi Sania Safitri, Indah Salsa Della Ananta Putri Saputra, Cahya Agung Sari, Yuhana Satriawan, Ahmad Bayu Septiana, Elen Suci Humayroh Sucipto, Ajeng Afriliana Sutomo, Ahmad Syaifurrahman, Amir Tanjung, Salsabila Adelia Tias Eka Rahmawati Triyani Anggun Sari Sari Turisma Alfi Arizona Vera Tri Anjani Wibowo, Catur Ari Wina Safutri Wina Safutri Wulan Cahya Indah Yanti, Erna Yeni Aryanti