Claim Missing Document
Check
Articles

35 Vol. 24 No. 1 Januari 2015 Ekspresi IFN-γ dan IL-4 pada Tumor Jinak dan Ganas Epitelial Ovarium Jenis Serosum dan Musinosum Ainun Mardiah; Nadjib Dahlan Lubis; Delyuzar -
Majalah Patologi Indonesia Vol. 24 No. 1, Januari 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Tumor serosum dan musinosum merupakan jenis tumor epitelial ovarium. IFN-γ berhubungan dengan tumor epitelial ovarium melalui aktivitas anti proliferasi, walaupun pada keadaan tertentu IFN- γ mempunyai efek apoptosis terhadap sel tumor ovarium manusia. Terapi IFN-γ mempunyai aktivitas anti dan protumor, tergantung pada keadaan selular, lingkungan mikro, dan konteks molekul. Sitokin IL-4 berperan sebagai anti apoptosis. Tujuan penelitian ini adalah melihat perbedaan ekspresi IFN-γ dan IL-4 pada tumor jinak dan ganas epitelial ovarium tipe serosum dan musinosum. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dari 40 sampel jaringan tumor jinak dan ganas serosum dan musinosum dengan jumlah yang sama. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi IFN-γ dan IL-4. Hasil Pada penelitian ini IL-4 menunjukkan ekspresi positif sebanyak 60% (n=6) dan pada tumor jinak serosum, sedangkan pada tumor ganas serosum ekspresi positif 90% (n=9). Pada tumor jinak musinosum IL-4 menunjukkan ekspresi positif 40% (n=4), sedangkan pada tumor ganas musinosum seluruhnya menunjukkan ekspresi positif (100%). IFN-γ menunjukkan ekspresi positif sebanyak 50% (n=5) pada tumor jinak serosum, sedangkan tumor ganas serosum menunjukkan ekspresi positif 40% (n=4). Pada tumor jinak musinosum IFN-γ menunjukkan ekspresi positif 60% (n=6), sedangkan pada tumor ganas musinosum menunjukkan ekspresi positif 80% (n=80). Kesimpulan Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi IFN-γ dan IL-4 pada tumor jinak dan ganas serosum dan musinosum. Kata kunci : imunohistokimia, tumor epitelial ovarium, tumor musinosum ovarium, tumor serosum ovarium. ABSTRACT Background Serous and mucinous tumors were variant of epithelial ovarian tumors. IFN-γ associated with anti-proliferative activity of the tumor, but in the spesific situation IFN-γ has anti apoptosis effect against the ovarian tumor cells. IFN-γ treatment was protumorigenic and anti tumorigenic activities were dependent on the cellular, microenvironment, and/or molecular context. The cytokines IL-4 acts as an anti-apoptotic. The purpose of this study was to view the difference expression of IFN-γ and IL-4 in benign and malignant serous and mucinous epithelial ovarian tumors. Methods This study is a observational analytic assesment with cross-sectional approach in 40 samples of benign and malignant serous and mucinous tumors. Immunohistochemistry with IFN-γ and IL-4. Results In this study the expression of IL-4 was positive in 60% (n=6) in the benign serous tumors, whereas in the malignant serous tumors was positive in 90% (n=9). In the benign mucinous tumors the expression of IL-4 was positive in 40% (n=4), whereas in the malignant mucinous tumors was entirely positive (100%). Expression of IFN-γ was positive in 50% (n=5) in the benign serous tumors, whereas in the malignant serous tumors was positive in 40% (n=4). In the benign mucinous tumors the expression of IFN-γ was positive in 60% (n=6), whereas the malignant mucinous tumors was positive in 80% (n=80). Conclusion There was not difference expression of IFN-γ and IL-4 in benign and malignant serous and mucinous tumors. Key words: epithelial ovarian tumor, immunohistochemistry, mucinous tumor, serous tumor.
Perbedaan Ekpresi Imunositokimia Thyroid Transcription Factor-1 (TTF-1) pada Adenokarsinoma dan Karsinoma Sel Skuamosa dari Sikatan Bronkus Kanker Paru Lita Feriyawati; Nadjib Dahlan Lubis; Delyuzar -
Majalah Patologi Indonesia Vol. 24 No. 1, Januari 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Karsinoma bukan sel kecil (KBSK) merupakan 85% keganasan dari seluruh kanker paru. Dalam beberapa tahun terakhir adenokarsinoma merupakan tipe KBSK yang paling dominan. Pemeriksaan sitologi sikatan bronkus dengan pewarnaan rutin papanicolaou pada beberapa keadaan mempunyai keterbatasan, terlebih pada beberapa jenis tumor paru dengan gambaran sel yang mirip. Thyroid transcription factor-1 (TTF-1) diekspresikan pada adenokarsinoma paru dan karsinoma sel kecil paru. Pemeriksaan imunositokimia TTF-1 dengan prosedur yang efisien dan efektif sebagai alat bantu pemeriksaan sitologi sikatan bronkus dapat meningkatkan keakuratan diagnosa sitologi kanker paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membedakan adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (KSS) dari sikatan bronkus kanker paru melalui tampilan imunositokimia TTF-1. Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan potong lintang pada 45 sampel sitologi sikatan bronkus yang terdiri dari adenokarsinoma sebanyak 77,78% (n=35) dan KSS sebanyak 22,22% (n=12). Dilakukan pemeriksaan imunositokimia TTF-1 menggunakan antibodi TTF-1 rabbit polyclonal (klon ab136633) dengan metode labelled streptavidin biotin immunoperoxidase complex langsung pada slaid yang sebelumnya telah diwarnai dengan papanicolaou. Hasil Pada penelitian ini sebanyak 62,9% (n=22) adenokarsinoma menunjukkan tampilan positif dengan imunositokimia TTF-1, ekspresi kuat 36,3% (n=8), ekspresi sedang 50% (n=11), dan ekspresi lemah 13,6% (n=3), serta tampilan negatif 37,1% (n=13). Sampel KSS menampilkan hasil positif dengan imunositokimia TTF-1 sebanyak 30% (n=3) dengan ekspresi kuat serta tampilan negatif sebanyak 70% (n=7). Hasil uji hubungan antara hasil imunositokimia TTF-1 dengan ekspresi pada adenokarsinoma dan KSS menggunakan uji Fisher’s exact menunjukkan p-value = 0,083. Kesimpulan Pada penelitian ini didapati tampilan intensitas yang beragam pada hasil imunositokimia TTF-1 pada jenis adenokarsinoma dan KSS, dan menurut perhitungan statistik tidak bermakna. Kata kunci: adenokarsinoma, kanker paru, karsinoma sel skuamosa, sikatan bronkus, thyroid transcription factor-1. ABSTRACT Background Non-small cell carcinoma (NSCC) is 85% of all lung cancer malignancy. In recent years, adenocarcinoma is the most dominant type of NSCC. Bronchial brushings cytology examination with routine Papanicolaou staining have limitations especially to distinguish between some types of lung tumors which have similar pattern. Thyroid transcription factor-1 (TTF-1) is a transcription factor that normally found in adult thyroid and lung tissue, expressed in lung adenokarsinoma and small cell lung carcinoma. Immunocytochemistry examination TTF-1 is an efficient and effective procedures as aids bronchial brushings cytology examination that can improve the accuracy of cytological diagnosis of lung cancer. The objective of the research is to determine the differences between adenocarcinoma and squamous cell carcinoma (SCC) from bronchial brushings in lung cancer by the expression of immunocytochemistry TTF-1. Methods A cross sectional analytic study was performed at 45 brushings cytology samples consisted of 77.78% (n=35) adenocarcinoma and 22.22 % (n=12) SCC Immunocytochemistry examination using rabbit polyclonal (clone ab136633) TTF-1 antibody was perfomed by immunoperoxidase labeled streptavidin biotin complex methode directly on slides previously stained with Papanicolaou. Results In this study, 62.9% (n=22) adenocarcinoma were positive for TTF-1 with 36.3% (n=8) gave strong expression, 50% (n=11) gave moderate expression, 13.6% (n=3) gave weak expression and showed negative as 37.1% (n=13). SCC were positive for TTF-1 as 30% (n=3) with overall gave strong expression and showed negative results as 70% (n=7). The relationship between TTF-1 expression in adenocarcinoma and SCC by using Fisher 's exact test showed p-value=0.083 Conclusion This study showed that there were not differences of TTF-1 immunocytochemistry intensity between adenocarcinoma and SCC. Key words : adenocarcinoma, bronchial brushings, lung cancer, squamous cell carcinoma, thyroid transcription factor-1.
Ekspresi LMP1 pada Sel Tumor Sediaan Sitologi Biopsi Aspirasi Kelenjar Getah Bening Leher pada Metastasis Karsinoma Nasofaring P. Poida B. Gurning; M. Nadjib D. Lubis; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol. 24 No. 2, Mei 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan keganasan nasofaring yang paling sering dan mempunyai hubungan yang erat dengan Epstein-Barr virus (EBV). Latent membrane protein1 (LMP1) yang merupakan salah satu protein EBV yang diketahui mempunyai peran dalam pertumbuhan karsinoma bahkan dalam metastasis KNF.Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) leher sering merupakan gejala utama keganasan pada pasien. Penggunaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus tidak hanya mengkonfirmasi adanya metastasis, tetapi juga dapat memberikan petunjuk asal tumor primer. Tujuan penelitian ini untuk melihat ekspresi LMP1 pada sel tumor sediaan sitologibiopsi aspirasi KGB leher penderita KNF yang mengalami metastasis di leher. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik terhadap 34 slaid sitologi yang sudah didiagnosis sebagai metastasis KNF di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, kemudian dilakukan pemeriksaan imunositokimia LMP1 dengan menggunakan anti-EBV latent membrane protein 1 antibody, ab7502 dengan metoda labelled streptavidin biotin immunoperoxidase complex. Hasil Pada penelitian ini 28 sampel (82,4%) menunjukkan ekspresi positif terhadap LMP1 dan 6 sampel (17,6%) menunjukkan tampilan negatif. Hasil uji perbandingan dengan Fisher’s exact test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna ekspresi LMP1 pada keratinizing squamous cell carcinoma dibanding nonkeratinizing carcinoma dengan nilai p=0,003. Kesimpulan Ekpresi LMP1 pada sel-sel tumor hasil biopsi aspirasi kelenjar getah bening leher sangat mungkin merupakan metastasis KNF jenis nonkeratinizing carcinoma. Kata kunci : LMP1, metastasis karsinoma nasofaring, sitologi biopsi aspirasi jarum halus.
Hubungan Ekspresi Imunohistokima Protein Gene Product (PGP9.5) dengan Derajat Histopatologi Adenokarsinoma Kolorektal Feby Yanti Harahap; Delyuzar .; T. Ibnu Alferally
Majalah Patologi Indonesia Vol. 25 No. 1, Januari 2016
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Adenokarsinoma kolon merupakan keganasan yang paling sering dijumpai pada saluran cerna dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas diseluruh dunia. Protein gene product (PGP9.5) dikenal sebagai ubiquitin hidrolase L1 karboksil-terminal, mengkatalisis hidrolisis ester C-terminal ubiquitin dan amida, memiliki peran penting dalam degradasi protein melalui daur ulang ubiquitin bebas dengan membelah ubiquitinylated peptides. Hubungan PGP9.5 dengan sel-sel kanker dapat ditunjukkan dalam berbagai tumor dan berbagai neoplasma mesenkim seperti selubung saraf, miofibroblastik, dan pembuluh darah tumor. Namun, belum ada upaya untuk fokus pada ekspresi PGP9.5 khusus pada cancer associated fibroblasts (CAFs). Tujuan penelitian ini untuk melihat tampilan imunohistokimia PGP9.5 pada CAFs pada penderita adenokarsinoma kolorektal dan dihubungkan dengan derajat histopatologi. Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 33 blok parafin adenokarsinoma kolorektal. Potongan jaringan kemudian diwarnai dengan PGP9.5. Dilakukan analisis dengan statistik tentang ekspresi dan hubungannya dengan grading histopatologi. Hasil Sejumlah 33 pasien didiagnosis dengan adenokarsinoma kolorektal. Dalam penelitian ini diketahui rentang usia penderita adalah 17 hingga 72 tahun. Distribusi penderita berdasarkan ekspresi PGP9.5 pada CAFs dengan low expression pada well differentiated sebesar 33,33%, moderately differentiated 48,49% dan poorly differentiated 9,09%. Sedangkan distribusi penderita berdasarkan ekspresi PGP9.5 pada CAFs dengan high expression tidak ditemukan pada well differentiated, moderately differentiated 6,06% dan poorly differentiated 3,03%. Tidak terdapat hubungan antara ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologi adenokarsinoma kolorektal dengan p=0,215. Kesimpulan Tidak terdapat hubungan antara ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologi adenokarsinoma kolorektal. Kata kunci: adenokarsinoma, cancer associated fibroblasts (CAFs), imunohistokimia, kolorektal, protein gene product (PGP9.5).
Hubungan Antara Derajat Histopatologi Karsinoma Penis dengan Tampilan Imunohistokimia HER-2 Reza Aditya Digambiro; Ibnu Alferally; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol. 25 No. 2, Mei 2016
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Insidensi karsinoma penis di seluruh dunia sekitar 1/100.000 populasi. Sebanyak 95% dari kanker penis adalah karsinoma sel skuamosa, sisanya adalah melanoma, leiomiosarkoma atau tipe lainnya. Pada umumnya penyakit ini lebih banyak dijumpai pada usia tua, insidensi semakin meningkat pada usia 80 tahun keatas. Phimosis, peradangan menahun, radiasi ultraviolet, adanya riwayat menderita papiloma warts (infeksi Human Papilloma Virus/HPV), atau kondiloma serta tidak disirkumsisi merupakan beberapa faktor risiko terjadinya karsinoma penis. Pada riset yang dilakukan oleh Silva dan rekan-rekan (2012), dijumpai pewarnaan HER-2 yang positif kuat pada 28 kasus karsinoma penis (14,9%). Fakta ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Stankiewicz dan kawan-kawan (2011), yang menyatakan bahwa HER-2 tidak memiliki hubungan dengan karsinogenesis pada penis. Pada penelitian ini kami menganalisis adakah hubungan antara derajat histopatologi karsinoma penis dengan tampilan imunohistokimia HER-2 pada karsinoma penis dengan melakukan pemeriksaan imunohistokimia HER-2 pada sampel sediaan blok parafin dari jaringan penis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara derajat histopatologi karsinoma penis dengan tampilan imunohistokimia HER-2 pada kasus karsinoma penis di Instalasi Patologi Anatomik Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan 2008-2012. Metode Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini tidak memberikan perlakuan terhadap variabel tetapi hanya melihat ekspresi imunohistokimia HER-2. Pengukuran pada variabel hanya dilakukan satu kali dan pada satu saat. Hasil Pada uji korelasi Spearman ternyata secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat histopatologi karsinoma penis dengan tampilan imunohistokimia HER-2 pada karsinoma penis (p>0,05). Kesimpulan Setelah dilakukan uji korelasi Spearman tidak didapati hubungan yang bermakna antara grading histopatologi karsinoma penis terhadap tampilan hasil pulasan imunohistokimia HER-2 pada karsinoma penis. Hubungan Antara HER-2 dengan pewarnaan sitoplasma yang berkaitan dengan keratin mungkin diakibatkan oleh reaksi silang antibodi dengan keratin atau antigen retrieval. Kata kunci : derajat histopatologi, HER-2, karsinoma, penis.
Hubungan Ekspresi Protein Gene Product (PGP9.5) dalam sel Cancer Associated Fibroblasts (CAFs) dengan Derajat Histopatologik Adenokarsinoma Kolorektal Feby Yanti Harahap; Delyuzar Delyuzar; T. Ibnu Alferally
Majalah Patologi Indonesia Vol. 25 No. 2, Mei 2016
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Adenokarsinoma kolon merupakan keganasan yang paling sering dijumpai pada saluran cerna dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Protein Gene Product (PGP9.5) dikenal sebagai ubiquitin hidrolase L1 karboksil-terminal, mengkatalisis hidrolisis ester C-terminal ubiquitin dan amida, memiliki peran penting dalam degradasi protein melalui daur ulang ubiquitin bebas dengan membelah ubiquitinylated peptides. Hubungan PGP9.5 dengan sel-sel kanker dapat ditunjukkan dalam berbagai tumor dan berbagai neoplasma mesenkim seperti tumor selubung saraf, tumor miofibroblastik, dan tumor pembuluh darah. Namun belum ada upaya untuk fokus pada ekspresi PGP9.5 khusus pada cancer associated fibroblasts (CAFs). Tujuan penelitian ini untuk melihat ekspresi PGP9.5 pada cancer associated fibroblasts (CAFs) pada penderita adenokarsinoma kolorektal dan dihubungkan dengan derajat histopatologiknya. Metode Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 33 blok parafin adenokarsinoma kolorektal. Potongan jaringan kemudian diwarnai secara imunoistokimia dengan antibodi primer anti PGP9.5. Dilakukan analisis dengan statistik tentang ekspresi pada CAFs adenokarsinoma colorektal dan hubungannya dengan derajat histopatologiknya. Hasil Sejumlah 33 pasien didiagnosis dengan adenokarsinoma kolorektal. Dalam penelitian ini diketahui rentang usia penderita adalah 17 hingga 72 tahun. Distribusi penderita berdasarkan ekspresi PGP9.5 pada CAFs dengan low expression pada well differentiated sebesar 33,33%, moderately differentiated 48,49% dan poorly differentiated 9,09%. Sedangkan distribusi penderita berdasarkan ekspresi PGP9.5 pada CAFs dengan high expression tidak ditemukan pada well differentiated, moderately differentiated 6,06% dan poorly differentiated 3,03%. Tidak terdapat hubungan antara ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologi adenokarsinoma kolorektal dengan nilai p=0,215 (p>0,05). Kesimpulan Tidak terdapat hubungan antara ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologik adenokarsinoma kolorektal. Kata kunci : adenokarsinoma kolorektal, cancer associated fibroblasts (CAFs), imunohistokimia, protein gene product (PGP9.5), derajat histopatologik.
Analisis Ekspresi Estrogen Receptor (ER) dan Progesteron Receptor (PR) pada Tipe dan Grading Histopatologik Karsinoma Endometrium Causa Trisna Mariedina; Soekimin Soekimin; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma endometrium merupakan tumor ganas organ reproduksi wanita yang paling sering dijumpai, dengan insidennya yang terus meningkat, terutama pada wanita-wanita postmenopause di negara-negara berkembang. Perkembangan karsinoma endometrium sangat erat kaitannya dengan hormon estrogen. Paparan estrogen dalam waktu panjang tanpa dihalangi efek progesteron dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma endometrium. Epitel glandular endometrium merupakan lokasi keganasan yang sangat responsif terhadap hormon, dalam hal ini akan diekspresikan melalui estrogen receptor (ER) dan progesterone receptor (PR). ER dan PR yang akan berikatan dengan hormon estrogen dan progesteron pada jaringan endometrium relatif akan berkurang jumlahnya pada karsinoma endometrium, dan hilangnya reseptor-reseptor tersebut merupakan bagian dari karsinogenesis endometrium. Beberapa parameter histopatologi, seperti tipe dan grading histopatologi akan mempengaruhi ekspresi reseptor-reseptor tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi ER dan PR pada tipe dan grading histopatologik karsinoma endometrium.MetodePenelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin jaringan endometrium yang didiagnosa secara histopatologi sebagai karsinoma endometrium. Sampel dipulas dengan imunohistokimia ER dan PR. Uji statistik dilakukan untuk menganalisis ekspresi ER dan PR pada tipe dan grading histopatologik.HasilEkspresi ER pada tipe endometrioid (78,8%) dan kasus low grade (90,2%) sedang ekspresi PR pada tipe endometrioid (82,7%) dan kasus low grade (90,2%).KesimpulanEkspresi ER dan PR dapat digunakan untuk membedakan antara tipe dan grading histopatologik low grade pada karsinoma endometrium.
Ekspresi H19 dan Insulin-Like Growth Factor 2 (IGF2) pada Tumor Epitel Permukaan Ovarium Tipe Serosum dan Musinosum Rita Juliana Pohan; Nadjib Dahlan Lubis; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No. 2, Mei 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Tumor-tumor epitel permukaan ovarium merupakan neoplasma ovarium yang paling sering. Kanker ovarium mempunyai prognosis buruk karena gejalanya tidak spesifik dan kebanyakan dijumpai sudah stadium lanjut. Genomic imprinting adalah proses epigenetik yang menyebabkan ekspresi allel yang berbeda dari gen parental dalam sel-sel somatik. Adanya loss of imprinting gen IGF2 dan H19 diperkirakan terlibat dalam terjadinya kanker ovarium. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan adanya perbedaan ekspresi H19 dan IGF2 pada tumor jinak dan ganas yang berasal dari epitel permukaan ovarium, tipe serosum dan musinosum, mendeteksi kekambuhan dini dan terapi target.MetodePenelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 blok parafin jaringan ovarium dari operasi ooforektomi yang telah didiagnosis tumor jinak dan ganas ovarium, tipe serosum dan musinosum dengan pewarnaan hematoksilin eosin. Sampel akan dievaluasi intensitas dan kuantitas ekspresi immunohistokimia H19 dan insulin-like growth factor 2 (IGF2), kemudian diamati dan dianalisa dengan uji Fisher’s exact. Hasil H19 terekspresi kuat (81,82%) pada tumor serosum jinak, sedang pada tumor serosum ganas sebagian besar terekspresi lemah (88,89%), nilai p 0,005. Pada tumor musinosum jinak, H19 terekspresi kuat (77,78%) dan pada yang ganas terekspresi lemah (72,73%), dengan nilai p 0,070. IGF2 terekspresi kuat (90,91%) pada sebagian besar tumor serosum ganas, sedang pada tumor serosum jinak semuanya (100%) terekspresi lemah, dengan nilai p = 0,001. Pada tumor musinosum, IGF2 terekspresi kuat pada yang ganas (62,50), pada yang jinak (37,50%) juga terekpresi kuat, nilai p 0,087.Kesimpulan Expresi H19 dan IGF2 dapat menyokong kepastian diagnosis histologik tumor serosum jinak dan ganas. Ekspresi kuat H19 menunjukkan prognosis baik, ekspresi kuat IGF2 menunjukkan prognosis buruk pada tumor serosum.
Ekspresi Epidermal Growth Factor Reseptor (EGFR) dan B-Cell Leukemia/Lymphoma-2 (BCL-2) pada Subtipe Histopatologik Karsinoma Sel Basal nurlela nurlela; Delyuzar Delyuzar; tengku ibnu alferraly
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No.3, September 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel basal (KSB) adalah tumor ganas pada kulit yang berasal dari sel-sel primordial pluripotensial di lapisan basal epidermis, dapat juga berasal dari selubung luar folikel rambut atau kelenjar sebasea, atau adneksa kulit lainnya. KSB merupakan jenis kanker terbanyak pada kulit dan keganasan tersering pada manusia. Penelitian yang telah dilakukan untuk melihat adanya kecenderungan faktor risiko rekuren dan perkembangan terapi target, dengan beberapa petanda biologik seperti epidermal growth faktor reseptor (EGFR) dan B-cell leukemia/lymphoma-2 (BCL-2) pada KSB. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi EGFR dan BCL-2 pada subtipe histopatologik karsinoma sel basal.MetodePenelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin yang didiagnosa sebagai KSB. Sejumlah 40 sampel terdiri dari mikro-nodular 17 sampel, nodular 12 sampel, infiltrating 4 sampel, pigmented 4 sampel, superfisial 2 sampel dan basoskuamous 1 sampel. Seluruh sampel dipulas dengan immunohistokimia dengan antibodi primer anti EGFR dan BCL-2 dan dilakukan interpretasi dengan menilai intensitas dan kuantitas tampilan warna pada sel tumor.HasilPada 20 sampel EGFR dengan ekspresi lemah, dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 lemah dan 20 sampel dengan ekspresi EGFR kuat dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 kuat. Hasil ekspresi EGFR dan BCL-2 terdapat kesesuaian yang dianalisis dengan uji McNemar.KesimpulanHasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesesuaian ekspresi antara EGFR dan BCL-2 yang signifikan dengan (p-value <0,001) pada penderita KSB.
Hubungan antara Ekspresi CD-10 dan Grading Histopatologi Karsinoma Payudara Invasif Fitri Dewi Ismida; Soekimin; Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 2, Mei 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma payudara invasif merupakan suatu keganasan epitelial payudara yang ditandai oleh invasi sel-selepitel ke dalam stroma. Secara global, insidensi karsinoma payudara invasif menduduki peringkat tertinggi danterus meningkat dari tahun ke tahun. Pada jaringan payudara normal, ekspresi CD-10 terlokalisir pada sel-selmioepitel dan tidak teridentifikasi pada stroma. Demikian juga, pada ductal carcinoma in situ (DCIS), CD-10tidak terekspresi pada stroma. Namun pada karsinoma payudara invasif CD-10 akan terekspresi pada stroma.CD-10 merupakan suatu cell-surface zinc-dependent metalloproteinase yang sering direkomendasikan sebagaimarker leukemia limfoblastik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menilai hubungan antara ekspresi CD10 dan grading histopatologi karsinoma payudara invasif, namun sampai kini hasilnya masih kontroversi.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara ekspresi imunohistokimia CD-10 dan gradinghistopatologi karsinoma payudara invasif.MetodePenelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitianadalah blok parafin, berasal dari jaringan payudara yang didiagnosis secara histopatologi sebagai karsinomapayudara invasif. Sampel dipulas dengan teknik immunohistokimia menggunakan CD-10; dan kemudianekspresi CD-10 dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis.HasilBerdasarkan analisa statistik Kruskal-Wallis terhadap 60 sampel kasus karsinoma payudara invasif mengujihubungan ekspresi imunohistokimia CD-10 dengan grading histopatologi karsinoma payudara invasif, diperolehp-value=0,0001 (p<0,05).KesimpulanEkspres