Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN MENGENAI STUNTING DI DESA TALAGA, PUSKESMAS CIKUPA Atzmardina, Zita; Bramasta, Arya Adi; Wulandari, Dhea Asih; Grace, Jennifer; Charity Kamalo, Angelica Joanna
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32201

Abstract

Stunting is defined as a condition of failure to thrive in children aged less than five years, usually called toddlers, due to chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the First 1000 Days of Life (HPK). Data on toddlers in Banten province shows that 3.5% are severely underweight and 14.2% are underweight. This data is higher than the national data, which recorded 3% who were severely underweight and 12.9% who were underweight. The number of stunting cases in the Cikupa Community Health Center working area in 2022 was 116 cases and in 2023 there were 127 stunting cases with the highest cases being in Talaga Village, namely an increase of 17 cases. The aim of this activity is to increase knowledge about stunting so that it can reduce the number of cases. To identify problems, the Blum Paradigm and Fishbone Diagram are used to determine the root cause of the problem. The results of identifying problems using the Blum Paradigm revealed lifestyle factors that play a role in the high number of tuberculosis cases. The results of the activity showed that 91% of participants scored >70 points on the post-test and 5 participants who were called randomly were able to practice good and correct hand hygiene and use a balanced nutritional food menu according to the contents of my plate. Based on the intervention we carried out, it can be stated that our intervention was successful so it is hoped that it can reduce stunting cases in the Cikupa Community Health Center working area. ABSTRAK Stunting didefinisikan sebagai suatu kondisi gagal tumbuh pada anak yang berusia kurang dari lima tahun yang biasa disebut Balita dikarenakan kekurangan gizi kronis serta akibat infeksi berulang terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Data Balita di provinsi Banten terdapat 3,5 % yang mengalami severely underweight dan 14,2 % yang mengalami underweight. Data tersebut lebih tinggi dari nasional yang mencatat ada 3 % yang mengalami severely underllweight dan 12,9 % yang mengalami underweight. Jumlah kasus stunting pada wilayah kerja Puskesmas Cikupa tahun 2022 adalah 116 kasus dan pada tahun 2023 adalah 127 kasus stunting dengan kasus tertinggi berada di Desa Talaga yaitu terjadi peningkatan sebanyak 17 kasus. Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan mengenai stunting sehingga dapat menurunkan jumlah kasus. Untuk identifikasi masalah digunakan Paradigma Blum dan Diagram fishbone untuk menentukan akar penyebab masalah. Hasil identifikasi masalah dengan Paradigma Blum didapatkan faktor lifestyle yang berperan pada tingginya kasus tuberkulosis. Hasil kegiatan didapatkan 91% peserta mendapatkan nilai >70 poin pada post-test dan 5 peserta yang dipanggil secara acak dapat mempraktikkan Hand Hygiene yang baik dan benar serta menggunakan menu makanan gizi seimbang sesuai Isi Piringku. Berdasarkan intervensi yang kami lakukan dapat dinyatakan intervensi kami berhasil sehingga diharapkan dapat menurunkan kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Cikupa
GAMBARAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS CIKUPA Atzmardina, Zita; Suaputra, Vincent; Natasha Horyono, Caitlyn Natasha; Elizabeth; Kamalo, Angelica Joanna Charity
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32214

Abstract

Anemia is a condition where the hemoglobin concentration (Hb), erythrocyte count or hematocrit (Ht) levels are lower than normal and insufficient to meet physiological needs. WHO determines anemia if the Hb level is < 11 g/dL or Ht < 33%, as well as postpartum anemia if the Hb is < 10 g/dL. Based on WHO in 2011, the prevalence of anemia in pregnancy worldwide was 38.2%, with the highest incidence in the Southeast Asia region, namely 48.7%. Indonesia is ranked 5th with the highest anemia rate in pregnant women in the Southeast Asia region. Cikupa Health Center has a total of 2702 pregnant women in 2023, with an incidence of anemia of 306 people (11.32%). Data shows that 6 out of 10 villages experienced a significant increase in the number of anemia sufferers among pregnant women. There is a difference in the average percentage of anemia sufferers of 6.71% between December 2023 and January 2024 with a P-value of 0.06. The average knowledge of respondents is 56.17%, the attitude of respondents is 57.66%, and the behavior of respondents amounting to 65.22%. Because data is still lacking, it is recommended to hold activities that can increase knowledge and change respondents' attitudes which will result in changes in behavior. ABSTRAK Anemia merupakan kondisi dimana kadar konsentrasi hemoglobin (Hb), jumlah eritrosit atau hematokrit (Ht) lebih rendah dari normal dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. WHO menentukan anemia ditentukan jika kadar Hb < 11 g/dL atau Ht < 33 %, serta anemia pasca salin jika didapatkan Hb < 10 g/dL. Berdasarkan WHO pada tahun 2011, prevalensi anemia pada kehamilan di seluruh dunia adalah 38,2%, dengan kejadian paling tinggi di wilayah Asia Tenggara, yaitu 48,7%. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan angka anemia tertinggi pada ibu hamil di kawasan Asia Tenggara. Puskesmas Cikupa memiliki total ibu hamil sebanyak 2702 orang di tahun 2023, dengan kejadian anemia 306 orang (11.32%). Data menunjukkan 6 desa dari 10 desa mengalami kenaikan jumlah penderita anemia pada ibu hamil yang cukup signifikan. Terdapat perbedaan rata-rata persentase penderita anemia sebesar 6,71 % antara Desember 2023 dan Januari 2024 dengan nilai P-value sebesar 0,06.Rata-rata pengetahuan responden sebesar 56, 17 %, sikap responden 57,66 %, dan perilaku responden sebesar 65,22 %. Karena data yang masih kurang tersebut, maka disarankan untuk mengadakan kegiatan yang dapat menambah pengetahuan yang dapat mengubah sikap responden yang akan berakibat perubahan perilaku.
MENCIPTAKAN MASYARAKAT SEHAT DI PUSKESMAS CIKUPA, TANGERANG Atzmardina, Zita; Natalie, Michelle Ruth; Yusliani, Cindy; Seong, Marcus Wong Kit; Susanto, Devy Fransiska
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32254

Abstract

Creating a healthy society is very important to maintain the continuity of life. Maintaining health aims to prevent the spread of infectious diseases. One of the infectious diseases is Tuberculosis (TB). To date, Indonesia is ranked second in terms of TB cases in the world with a total of 969 thousand cases or around 1 new case every 33 seconds. Based on the 2023 SKI Report, Banten province ranks 3rd in the province with the most TB cases in Indonesia after Papua and West Java. The number of TB cases at the Cikupa Community Health Center in 2023 will be 192 cases. The aim of this activity is to increase public knowledge in creating healthy behavior so that the number of people suffering from disease, especially infectious diseases, can be reduced. The method uses the Blum Paradigm to identify the cause of the problem, a mini-survey to collect data, the Delphi non-scoring method to determine problem priorities, and a fishbone diagram to determine the root cause of the problem. Activities carried out include counseling and demonstrations on cough etiquette, CTPS, and use of masks. Intervention activities are monitored using the Plan-Do-Check-Action (PDCA) cycle and a systems approach for evaluation. Based on the Delphi non-scoring method, it was found that lifestyle factors were priority problems that had to be resolved immediately. The results of the intervention showed that 26 participants (72.22%) met indicators 1 and 2 and 5 participants who were called randomly were able to practice demonstrations of cough etiquette, CTPS and the correct use of masks. From this activity, it can be seen that there is an increase in knowledge so that it is hoped that it can reduce cases in the Cikupa Health Center working area. ABSTRAK Menciptakan masyarakat yang sehat sangat penting bagi menjaga keberlangsungan hidup. Menjaga kesehatan bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit menular. Salah satu penyakit menular yaitu Tuberkulosis (TB). Hingga saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia dengan jumlah kasus sebanyak 969 ribu atau sekitar 1 kasus baru setiap 33 detik. Berdasarkan Laporan SKI tahun 2023, propinsi Banten menempati urutan ke-3 provinsi dengan kasus TB terbanyak di Indonesia setelah Papua dan Jawa Barat. Jumlah kasus TB di Puskesmas Cikupa tahun 2023 sebesar 192 kasus. Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menciptakan perilaku sehat sehingga dapat diturunkannya jumlah masyarakat yang menderita penyakit, khususnya penyakit menular. Metode menggunakan Paradigma Blum untuk mengidentifikasi penyebab masalah, mini-survey untuk mengumpulkan data, metode non-scoring Delphi untuk menentukan prioritas masalah, serta diagram fishbone untuk menentukan akar penyebab masalah. Kegiatan yang dilakukan mencakup penyuluhan serta demonstrasi etika batuk, CTPS, dan penggunaan masker. Kegiatan intervensi dimonitoring dengan Plan-Do-Check-Action (PDCA) cycle serta pendekatan sistem untuk evaluasi. Berdasarkan metode non-scoring Delphi, diperoleh faktor lifestyle menjadi prioritas masalah yang harus segera diselesaikan. Hasil intervensi menunjukkan sebanyak 26 peserta (72,22%) memenuhi indikator 1 dan 2 serta 5 peserta yang dipanggil secara acak dapat mempraktikkan demonstrasi etika batuk, CTPS, dan penggunaan masker dengan benar. Dari kegiatan ini bisa dilihat adanya peningkatan pengetahuan sehingga diharapkan dapat menurunkan kasus di wilayah kerja Puskesmas Cikupa.
HEALTH EDUCATION AND HYPERTENSION EXERCISE ACTIVITIES TO IMPROVE TREATMENT ADHERENCE AMONG HYPERTENSIVE PATIENTS IN TALAGA VILLAGE, WORKING AREA OF CIKUPA COMMUNITY HEALTH CENTER, CIKUPA DISTRICT, CIKUPA REGENCY, BANTEN PROVINCE PERIOD: SEPTEMBER 22 – NOVEMBER 15, 2025 Murdoko, Ilham Wicaksono San; Fahri, Sindytia; Immanuel, Nathania; Paramitha, Yesan Suci; Atzmardina, Zita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54577

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang paling banyak ditemukan dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi hipertensi masih menunjukkan tren peningkatan, khususnya di tingkat komunitas, yang dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan dan kepatuhan terhadap pengobatan. Kegiatan diagnosis komunitas dan intervensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan meningkatnya kasus hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Cikupa serta mengevaluasi efektivitas edukasi dan senam hipertensi dalam meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pengelolaan hipertensi. Kegiatan dilaksanakan di Desa Talaga pada 30 Oktober 2025  dengan pendekatan diagnosis komunitas berdasarkan Paradigma Blum. Penentuan prioritas masalah dilakukan menggunakan metode USG dan Delphi, sedangkan analisis akar masalah menggunakan diagram fishbone dan metode 5 Whys. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi mengenai hipertensi, cara penggunaan obat antihipertensi yang benar, serta demonstrasi senam hipertensi. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta pendekatan dengan siklus Plan–Do–Check–Action (PDCA). Hasil menunjukkan bahwa 29,41% responden mengalami peningkatan skor pengetahuan minimal 20 poin, 76,47% mencapai skor post-test di atas 70, dan 29,41% memenuhi kedua kriteria tersebut. Dapati disimpulkan bahwa  intervensi berupa edukasi dan senam hipertensi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan mendorong penerapan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai pengendalian hipertensi di komunitas.
Correlation of Blood Glucose Levels, Uric Acid, and Lipid Profile with Hand Grip Strength: The Role of Age as A Control Variable Drew, Clement; Atzmardina, Zita; Santoso, Alexander Halim; Setiawan, Fiona Valencia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22436

Abstract

ABSTRACT Handgrip strength (HGS) is an essential biomarker of muscle strength and physical health, with links to illnesses like cardiovascular disease, metabolic syndrome, and frailty. It is particularly important in aging populations, where physical strength promotes independence and quality of life. Blood glucose, uric acid, and lipid profiles all impact metabolic health, influencing physical performance. Elevated glucose levels, disturbed uric acid metabolism, and aberrant lipid profiles lead to impaired muscle function and increased cardiovascular risk. When combined with age-related alterations such as sarcopenia and metabolic dysregulation, these markers have an even greater impact on HGS. This study investigates the association between these metabolic markers and HGS, hypothesizing that aberrant profiles are associated with lower HGS, independent of age. This cross-sectional study in West Jakarta included 120 adults tested for handgrip strength, hemoglobin, blood sugar, uric acid, cholesterol, HDL, LDL, triglycerides, and the triglycerides-to-HDL ratio. Results showed positive correlations between HGS and hemoglobin, hematocrit, and blood sugar, highlighting their roles in oxygen transport and energy provision. The triglycerides-to-HDL ratio also correlated positively with HGS, indicating the influence of lipid metabolism on muscle performance. Age showed an inverse correlation with HGS, consistent with sarcopenia. This study examines the relationship between physiological factors and handgrip strength in the elderly, stressing the importance of optimizing hemoglobin, blood sugar, and cholesterol levels. Limitations include a cross-sectional design and gender bias, necessitating a long-term, comprehensive future study. Keywords: Aging, Handgrip Strength, Lipid Profile, Metabolic Health, Sarcopenia.
Skrining Gizi untuk Peningkatan Kualitas Hidup Atzmardina, Zita; Putri, Novelee Irawan; Lay, Valleryano; Wibowo, Hanna Paulina; Nabila, Devi Putri
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 04 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i04.3296

Abstract

Pemenuhan gizi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.Indonesia masih menghadapi masalah gizi seperti stunting, gizi kurang, gizi lebih, serta defisiensi mikronutrien yangberdampak pada tumbuh kembang anak, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa dewasa. WHO menekankanpentingnya intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah risiko penyakit tidak menular dangangguan perkembangan. Meskipun pemerintah telah menetapkan strategi percepatan penurunan stunting, data SurveiKesehatan Indonesia (2023) menunjukkan penurunan yang sangat kecil, sehingga diperlukan upaya intervensi yanglebih efektif dan merata. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah promosi kesehatan melalui edukasi,pemberdayaan masyarakat, advokasi, dan bina suasana. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orangtua mengenai pemantauan pertumbuhan anak melalui kegiatan skrining gizi berbasis komunitas. Metode yangdigunakan meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas) sertaskrining status gizi menggunakan kurva WHO. Kegiatan dilaksanakan di Balai Kelurahan dengan melibatkan BidanKelurahan serta diikuti oleh 35 peserta. Setelah pengukuran, peserta menerima hasil status gizi, penjelasan, danedukasi terkait nutrisi. Edukasi dilakukan melalui diskusi interaktif dan pengulangan informasi oleh peserta untukmemastikan pemahaman. Acara ditutup dengan pembagian snack berupa susu dan biskuit. Hasil menunjukkanmayoritas peserta berhasil mengikuti pengukuran dan memahami edukasi yang diberikan, meskipun terdapat kendalaberupa beberapa peserta yang tidak mengikuti skrining karena keterbatasan waktu. Dari hasil pengukuran, ditemukan9 anak dengan status gizi kurang hingga buruk. Kegiatan ini menegaskan bahwa skrining gizi berbasis komunitasefektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait kesehatan anak. Ke depan, diperlukanstrategi untuk meningkatkan partisipasi dan cakupan skrining agar intervensi gizi dapat berjalan optimal.