Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Edukasi Mengenai Makanan Sehat untuk Menanggulangi Hiperkolesterolemia pada Masyarakat Desa Cikupa Layrenshia, Belinda; Atzmardina, Zita
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i1.14843

Abstract

Hiperkolesterolemia merupakan keadaan dimana terdapat kadar kolesterol yang tinggi pada darah seseorang. Hiperkolesterolemia merupakan suatu keadaan yang banyak dijumpai secara global maupun secara nasional dan lokal. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terhadinya hiperkolesterolemia, sala satunya pola makan yang tinggi lemak jenuh dan asam lemak trans. Hiperkolesterolemia dapat dicegah dengan pola makan tinggi serat, sayur, ikan dan buah. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan mengenai makanan sehat untuk mencegah dan menanggulangi hiperkolesterolemia. Dari hasil analisis T-test berpasangan didapatkan adanya perbedaan rata-rata yang bermakna (p-value <0.01) dengan peningkatan rata-rata nilai pre-test dan post-test sebesar 23.81 poin. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa pengaruh edukasi dapat meningkatkan pengetahuan peserta terhadap makanan sehat untuk mencegah dan menanggulangi hiperkolesterolemia. Diharapkan edukasi dapat terus dilakukan secara berkala sehingga kasus hiperkolesterolemia dapat berkurang.
Laporan Kegiatan Diagnosis Komunitas dalam Upaya Penurunan Angka Kejadian Kasus Baru dan Pencegahan Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Periode: 6 Mei – 14 Juni 2024 Sunardi, Hendry Purnomo; Arliska, Vira Geraldine; Kristiani, Alyn; Mahandra, Bryan Anggareti; Atzmardina, Zita
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i11.52291

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya insiden Tuberkulosis (TB) paru di wilayah kerja Puskesmas Cikupa, yang memerlukan intervensi edukatif untuk menekan angka kasus baru. Tujuan penelitian adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan dan penanganan TB paru melalui penyuluhan dan pelatihan. Metode penelitian ini meliputi survei mini, analisis komunitas menggunakan paradigma BLUM, dan penentuan prioritas masalah dengan metode Delphi. Akar masalah diidentifikasi menggunakan diagram fishbone, dengan intervensi yang terdiri dari pre-test, post-test, penyuluhan, dan pelatihan etika batuk serta penggunaan masker. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, dimana 83,4% dari mereka mencapai skor ≥70 pada post-test, dibandingkan dengan 23,4% pada pre-test. Seluruh peserta berhasil memperagakan etika batuk dan penggunaan masker dengan benar. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas dapat secara signifikan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap TB paru. Implikasi penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan kasus TB paru baru di wilayah penelitian melalui kampanye edukasi kesehatan berkelanjutan.
PENYULUHAN SEBAGAI UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN DEMAM TIFOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEGOK Atzmardina, Zita; Darmawan, Reagan; Satyanegara, William Gilbert; Natasya
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.24540

Abstract

Typhoid fever is a digestive disease with risk factors for lack of knowledge and inadequate hand washing. Typhoid fever cases in the world reach 11-20 million cases per year. The incidence of Typhoid fever in Asia is 267.6 cases per 100,000 per year. According to the RI Ministry of Health, Typhoid fever in Indonesia reached 41,081 cases. At the Puskesmas Legok there was an increase in typhoid fever visits of 550% in August compared to the average number of visits each month. The purpose of holding this activity is to increase public knowledge about typhoid fever and how to wash hands properly and correctly in the Puskesmas Legok. A community diagnostic approach is used to determine causes and interventions. Collecting data using a mini-survey and identifying the causes of problems through the Blum paradigm. The problem priority is determined from the Delphi non-scoring method. The root cause of the problem is determined using a Fishbone diagram. Intervention by counseling about Typhoid fever, training on proper and proper hand washing as well as distributing leaflets and placing posters. Monitoring uses the Plan-Do-Check-Action (PDCA) method and evaluation uses a systems approach. The results obtained at the counseling regarding Typhoid fever along with the pre-test and post-test, obtained a post-test value of > 70 in 85% of respondents. The results of good and correct hand washing activities were found to be 80% washing hands properly and correctly. It was concluded that one of the reasons for the increase in Typhoid fever cases at the Legok Health Center was the lifestyle aspect. After the intervention, there was an increase in knowledge about Typhoid fever and how to wash hands properly and correctly. Demam Tifoid merupakan penyakit pencernaan dengan faktor risiko kurangnya pengetahuan dan mencuci tangan yang tidak adekuat. Kasus demam Tifoid di dunia mencapai 11-20 juta kasus per tahun. Insiden demam Tifoid di Asia sebesar 267,6 kasus per 100.000 per tahun. Menurut Kemenkes RI, demam Tifoid di Indonesia mencapai 41.081 kasus. Pada Puskesmas Legok terdapat peningkatan kunjungan demam Tifoid sebesar 550% di bulan Agustus dibandingkan dengan jumlah kunjungan rerata tiap bulannya. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai demam Tifoid dan cara mencuci tangan yang baik dan benar di wilayah kerja Puskesmas Legok. Pendekatan diagnosis komunitas digunakan untuk menentukan penyebab serta intervensinya. Pengumpulan data menggunakan minisurvey dan mengidentifikasi penyebab masalah melalui paradigma Blum. Prioritas masalah ditentukan dari metode non-scoring Delphi. Akar penyebab masalah ditentukan menggunakan diagram Fishbone. Intervensi dengan penyuluhan mengenai demam Tifoid, pelatihan cuci tangan yang baik dan benar serta pembagian leaflet dan pemasangan poster. Monitoring menggunakan metode Plan-Do-Check-Action (PDCA) dan evaluasi menggunakan pendekatan sistem. Hasil yang didapatkan pada penyuluhan mengenai demam Tifoid disertai pre-test dan post-test, didapatkan nilai post-test > 70 pada 85% responden. Hasil kegiatan cuci tangan yang baik dan benar didapatkan 80% melakukan cuci tangan dengan baik dan benar. Disimpulkan bahwa salah satu penyebab peningkatan kasus demam Tifoid di Puskesmas Legok adalah aspek lifestyle. Setelah intervensi didapatkan peningkatan pengetahuan mengenai demam Tifoid dan cara mencuci tangan yang baik dan benar.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MENGENAI STUNTING DI DESA TALAGA, PUSKESMAS CIKUPA Atzmardina, Zita; Bramasta, Arya Adi; Wulandari, Dhea Asih; Grace, Jennifer; Charity Kamalo, Angelica Joanna
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32201

Abstract

Stunting is defined as a condition of failure to thrive in children aged less than five years, usually called toddlers, due to chronic malnutrition and recurrent infections, especially during the First 1000 Days of Life (HPK). Data on toddlers in Banten province shows that 3.5% are severely underweight and 14.2% are underweight. This data is higher than the national data, which recorded 3% who were severely underweight and 12.9% who were underweight. The number of stunting cases in the Cikupa Community Health Center working area in 2022 was 116 cases and in 2023 there were 127 stunting cases with the highest cases being in Talaga Village, namely an increase of 17 cases. The aim of this activity is to increase knowledge about stunting so that it can reduce the number of cases. To identify problems, the Blum Paradigm and Fishbone Diagram are used to determine the root cause of the problem. The results of identifying problems using the Blum Paradigm revealed lifestyle factors that play a role in the high number of tuberculosis cases. The results of the activity showed that 91% of participants scored >70 points on the post-test and 5 participants who were called randomly were able to practice good and correct hand hygiene and use a balanced nutritional food menu according to the contents of my plate. Based on the intervention we carried out, it can be stated that our intervention was successful so it is hoped that it can reduce stunting cases in the Cikupa Community Health Center working area. ABSTRAK Stunting didefinisikan sebagai suatu kondisi gagal tumbuh pada anak yang berusia kurang dari lima tahun yang biasa disebut Balita dikarenakan kekurangan gizi kronis serta akibat infeksi berulang terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Data Balita di provinsi Banten terdapat 3,5 % yang mengalami severely underweight dan 14,2 % yang mengalami underweight. Data tersebut lebih tinggi dari nasional yang mencatat ada 3 % yang mengalami severely underllweight dan 12,9 % yang mengalami underweight. Jumlah kasus stunting pada wilayah kerja Puskesmas Cikupa tahun 2022 adalah 116 kasus dan pada tahun 2023 adalah 127 kasus stunting dengan kasus tertinggi berada di Desa Talaga yaitu terjadi peningkatan sebanyak 17 kasus. Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan mengenai stunting sehingga dapat menurunkan jumlah kasus. Untuk identifikasi masalah digunakan Paradigma Blum dan Diagram fishbone untuk menentukan akar penyebab masalah. Hasil identifikasi masalah dengan Paradigma Blum didapatkan faktor lifestyle yang berperan pada tingginya kasus tuberkulosis. Hasil kegiatan didapatkan 91% peserta mendapatkan nilai >70 poin pada post-test dan 5 peserta yang dipanggil secara acak dapat mempraktikkan Hand Hygiene yang baik dan benar serta menggunakan menu makanan gizi seimbang sesuai Isi Piringku. Berdasarkan intervensi yang kami lakukan dapat dinyatakan intervensi kami berhasil sehingga diharapkan dapat menurunkan kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Cikupa
GAMBARAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS CIKUPA Atzmardina, Zita; Suaputra, Vincent; Natasha Horyono, Caitlyn Natasha; Elizabeth; Kamalo, Angelica Joanna Charity
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32214

Abstract

Anemia is a condition where the hemoglobin concentration (Hb), erythrocyte count or hematocrit (Ht) levels are lower than normal and insufficient to meet physiological needs. WHO determines anemia if the Hb level is < 11 g/dL or Ht < 33%, as well as postpartum anemia if the Hb is < 10 g/dL. Based on WHO in 2011, the prevalence of anemia in pregnancy worldwide was 38.2%, with the highest incidence in the Southeast Asia region, namely 48.7%. Indonesia is ranked 5th with the highest anemia rate in pregnant women in the Southeast Asia region. Cikupa Health Center has a total of 2702 pregnant women in 2023, with an incidence of anemia of 306 people (11.32%). Data shows that 6 out of 10 villages experienced a significant increase in the number of anemia sufferers among pregnant women. There is a difference in the average percentage of anemia sufferers of 6.71% between December 2023 and January 2024 with a P-value of 0.06. The average knowledge of respondents is 56.17%, the attitude of respondents is 57.66%, and the behavior of respondents amounting to 65.22%. Because data is still lacking, it is recommended to hold activities that can increase knowledge and change respondents' attitudes which will result in changes in behavior. ABSTRAK Anemia merupakan kondisi dimana kadar konsentrasi hemoglobin (Hb), jumlah eritrosit atau hematokrit (Ht) lebih rendah dari normal dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. WHO menentukan anemia ditentukan jika kadar Hb < 11 g/dL atau Ht < 33 %, serta anemia pasca salin jika didapatkan Hb < 10 g/dL. Berdasarkan WHO pada tahun 2011, prevalensi anemia pada kehamilan di seluruh dunia adalah 38,2%, dengan kejadian paling tinggi di wilayah Asia Tenggara, yaitu 48,7%. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan angka anemia tertinggi pada ibu hamil di kawasan Asia Tenggara. Puskesmas Cikupa memiliki total ibu hamil sebanyak 2702 orang di tahun 2023, dengan kejadian anemia 306 orang (11.32%). Data menunjukkan 6 desa dari 10 desa mengalami kenaikan jumlah penderita anemia pada ibu hamil yang cukup signifikan. Terdapat perbedaan rata-rata persentase penderita anemia sebesar 6,71 % antara Desember 2023 dan Januari 2024 dengan nilai P-value sebesar 0,06.Rata-rata pengetahuan responden sebesar 56, 17 %, sikap responden 57,66 %, dan perilaku responden sebesar 65,22 %. Karena data yang masih kurang tersebut, maka disarankan untuk mengadakan kegiatan yang dapat menambah pengetahuan yang dapat mengubah sikap responden yang akan berakibat perubahan perilaku.
MENCIPTAKAN MASYARAKAT SEHAT DI PUSKESMAS CIKUPA, TANGERANG Atzmardina, Zita; Natalie, Michelle Ruth; Yusliani, Cindy; Seong, Marcus Wong Kit; Susanto, Devy Fransiska
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32254

Abstract

Creating a healthy society is very important to maintain the continuity of life. Maintaining health aims to prevent the spread of infectious diseases. One of the infectious diseases is Tuberculosis (TB). To date, Indonesia is ranked second in terms of TB cases in the world with a total of 969 thousand cases or around 1 new case every 33 seconds. Based on the 2023 SKI Report, Banten province ranks 3rd in the province with the most TB cases in Indonesia after Papua and West Java. The number of TB cases at the Cikupa Community Health Center in 2023 will be 192 cases. The aim of this activity is to increase public knowledge in creating healthy behavior so that the number of people suffering from disease, especially infectious diseases, can be reduced. The method uses the Blum Paradigm to identify the cause of the problem, a mini-survey to collect data, the Delphi non-scoring method to determine problem priorities, and a fishbone diagram to determine the root cause of the problem. Activities carried out include counseling and demonstrations on cough etiquette, CTPS, and use of masks. Intervention activities are monitored using the Plan-Do-Check-Action (PDCA) cycle and a systems approach for evaluation. Based on the Delphi non-scoring method, it was found that lifestyle factors were priority problems that had to be resolved immediately. The results of the intervention showed that 26 participants (72.22%) met indicators 1 and 2 and 5 participants who were called randomly were able to practice demonstrations of cough etiquette, CTPS and the correct use of masks. From this activity, it can be seen that there is an increase in knowledge so that it is hoped that it can reduce cases in the Cikupa Health Center working area. ABSTRAK Menciptakan masyarakat yang sehat sangat penting bagi menjaga keberlangsungan hidup. Menjaga kesehatan bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit menular. Salah satu penyakit menular yaitu Tuberkulosis (TB). Hingga saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia dengan jumlah kasus sebanyak 969 ribu atau sekitar 1 kasus baru setiap 33 detik. Berdasarkan Laporan SKI tahun 2023, propinsi Banten menempati urutan ke-3 provinsi dengan kasus TB terbanyak di Indonesia setelah Papua dan Jawa Barat. Jumlah kasus TB di Puskesmas Cikupa tahun 2023 sebesar 192 kasus. Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menciptakan perilaku sehat sehingga dapat diturunkannya jumlah masyarakat yang menderita penyakit, khususnya penyakit menular. Metode menggunakan Paradigma Blum untuk mengidentifikasi penyebab masalah, mini-survey untuk mengumpulkan data, metode non-scoring Delphi untuk menentukan prioritas masalah, serta diagram fishbone untuk menentukan akar penyebab masalah. Kegiatan yang dilakukan mencakup penyuluhan serta demonstrasi etika batuk, CTPS, dan penggunaan masker. Kegiatan intervensi dimonitoring dengan Plan-Do-Check-Action (PDCA) cycle serta pendekatan sistem untuk evaluasi. Berdasarkan metode non-scoring Delphi, diperoleh faktor lifestyle menjadi prioritas masalah yang harus segera diselesaikan. Hasil intervensi menunjukkan sebanyak 26 peserta (72,22%) memenuhi indikator 1 dan 2 serta 5 peserta yang dipanggil secara acak dapat mempraktikkan demonstrasi etika batuk, CTPS, dan penggunaan masker dengan benar. Dari kegiatan ini bisa dilihat adanya peningkatan pengetahuan sehingga diharapkan dapat menurunkan kasus di wilayah kerja Puskesmas Cikupa.
Kasus Pertusis Disertai Diare Berulang dan Stunting Pada An. Mrz dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa Kabupaten Tangerang Al Basith, Irvan Baharits; Atzmardina, Zita; S, Cindy Clarissa
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22703

Abstract

ABSTRACT Pertussis is a respiratory disease caused by Bordetella pertussis that can cause severe morbidity and mortality in infants, especially those with malnutrition. Diarrhea and recurrent respiratory infections are major contributors to growth failure, while stunting, a chronic nutritional problem due to malnutrition and repeated infections in the first thousand days of life, remains a serious issue in Indonesia, with a prevalence of 24.4% in 2021. This study used a qualitative case study design and reported a 6-month-old male infant (An. MRZ) with prolonged cough for one month, recurrent diarrhea more than five times daily, and incomplete immunization history. The patient had been hospitalized twice in the previous two months with severe bronchopneumonia and acute gastroenteritis, and was confirmed positive for Bordetella spp., leading to a diagnosis of pertussis-like cough. Anthropometric measurements revealed severe stunting (weight 5.58 kg and length 58.5 cm). A holistic family medicine approach was implemented, including symptomatic pharmacological therapy, vitamin supplementation, nutritional counseling, catch-up immunization, and parental education on balanced nutrition, infection prevention, and child growth monitoring. After intervention, the child showed weight gain, reduced recurrent infections, and improved developmental stimulation, while the family demonstrated better knowledge about nutrition, immunization, and healthy parenting. Stunting in An. MRZ was found to be caused by both infectious factors such as pertussis, pneumonia, and diarrhea, and non-infectious factors such as inadequate nutrition, delayed complementary feeding, low parental education, and unhealthy living conditions. Keywords: Pertussis, Stunting, Recurrent Diarrhea, Family Medicine.  ABSTRAK Pertusis merupakan penyakit saluran pernapasan akibat infeksi Bordetella pertussis yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas berat pada bayi, terutama yang mengalami malnutrisi. Diare dan infeksi saluran pernapasan berulang menjadi penyebab utama kegagalan tumbuh, sementara stunting, yaitu masalah gizi kronis akibat malnutrisi dan infeksi berulang pada seribu hari pertama kehidupan, masih menjadi masalah serius di Indonesia dengan prevalensi 24,4% pada tahun 2021. Studi ini menggunakan desain studi kasus kualitatif pada seorang bayi laki-laki berusia 6 bulan (An. MRZ) dengan riwayat batuk lama selama satu bulan, diare berulang lebih dari lima kali sehari, serta riwayat imunisasi tidak lengkap. Pasien sebelumnya dua kali dirawat di rumah sakit dengan diagnosis bronkopneumonia berat dan gastroenteritis akut, serta pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil positif Bordetella spp. yang menegakkan diagnosis pertussis-like cough. Hasil antropometri menunjukkan stunting berat (berat badan 5,58 kg dan panjang badan 58,5 cm). Pendekatan kedokteran keluarga yang holistik dilakukan, meliputi terapi farmakologis simtomatik, suplementasi vitamin, konseling gizi, imunisasi kejar, serta edukasi orang tua mengenai gizi seimbang, pencegahan infeksi, dan pemantauan tumbuh kembang. Setelah intervensi, pasien menunjukkan kenaikan berat badan, berkurangnya infeksi berulang, serta perbaikan stimulasi perkembangan, sementara keluarga memiliki pengetahuan lebih baik tentang gizi, imunisasi, dan pola asuh sehat. Stunting pada An. MRZ diketahui disebabkan oleh faktor infeksi seperti pertusis, pneumonia, dan diare, serta faktor non-infeksi seperti kurangnya asupan gizi, keterlambatan pemberian MPASI, pendidikan orang tua yang rendah, dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Kata Kunci: Pertusis, Stunting, Diare Berulang, Kedokteran Keluarga