Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PREVALENSI KARIES DAN INDEKS d e f PADA MURID-MURID KELAS I, II, DAN III SEKOLAH DASAR YANG BERADA DI SEKITAR KLINIK KERJA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNPAD Irna Sufiawati; Tenny Setiani; Dewi -; Dudi Aripin
Bionatura Vol 2, No 3 (2000): Bionatura Desember 2000
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.252 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang statuskesehatan gigi dan mulut pada murid-murid kelas I, II, dan III Sekolah Dasaryang berada di sekitar Klinik Kerja Mahasiswa FKG Unpad dengan melihatprevalensi karies dan indeks def-nya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif.Sampel penelitian sebanyak 333 orang murid, yaitu murid-murid kelas I, II, danIII dari 4 buah Sekolah Dasar diambil secara acak, yang berlokasi di sekitar klinikkerja mahasiswa FKG Unpad. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kariesadalah sebesar 99,9% yang berarti hampir semua anak pada penelitian inimenderita karies, sedangkan indeks def adalah 10,2 artinya pada setiap anakyang diperiksa terdapat 10,2 gigi yang mengalami karies, ditambal, dan sudahdicabut atau diindikasikan untuk pencabutan. Hal ini menunjukkan bahwakeadaan kesehatan gigi dan mulut murid-murid kelas I, II, dan III Sekolah Dasaryang berada di sekitar klinik kerja mahasiswa FKG Unpad adalah buruk.Kata kunci : karies, prevalensi,indeks def
Hubungan Kadar sCD14, Jumlah Streptococcus Mutans, pH-Dapar, Fluor di Dalam Saliva dengan Kejadian Karies pada Anak Karyawan PTPN VIII Pangalengan Usia 12-15 Tahun Dudi Aripin; Setiawan Natasasmita; Richata Fadil; Achmad Syawqie; Wazillah Nasserie
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1881

Abstract

Dental caries is a multifactorial infection where there are four main etiological factors, i.e. salivary and teeth bacteria, carbohydrate, and time. The interaction among those factors can be described as four overlapped circles. The salivary sCD14 protein plays an important role in protecting hard and soft oral tissues from infection by pathogenic bacteria. There is a relationship between the presence of sCD14 in saliva of active caries patients and in caries-free patient which leads to an assumption that this salivary protein may play an important role in caries development process.  To look for an evidence of that assumption, a study on the relationship between salivary sCD14 level, number of Streptococcus mutans, Buffer pH, fluor in the saliva and dental caries incidence. The objective is to see the difference in the salivary sCD14 level, number of Streptococcus mutans, Buffer PH and fluor in the saliva as well as to analyze the correlation of those factors with high caries incidence. This study is an analytical observational study using “case control” design with children of PTPN VIII Pangalengan employees with an age range of 12-15 years old as the sample. The sample size was determined using the rule of thumb with a minimum of 80 samples. The selection of subjects was conducted using simple random sampling and the analysis in this study is performed using bivariate (t-test and X2 test) and multivariate (multiple logistic regression analysis). To determine the cut off point, an  ROC (Receiver Operating Characteristic) curve. The significance of the test results was determined based on a p value of < 0.005. The results of the study show that the sCD14 level in low caries subjects is higher than in the high caries subjects which is statistically and significantly different. The number of Streptococcus mutans bacteria in low caries subjects is fewer compared to the high caries subjects, which difference is statistically significant. Based on the results of the multiple logistic regression analysis, there is a correlation between sCD14 level, number of Streptococcus mutans, buffer-pH, fluor in saliva and the high incidence of caries. Those four factors strongly influence the high caries incidence  It is concluded that there is a strong correlation between sCD14 level number of Streptococcus mutans, buffer-pH, fluor in the saliva and high caries incidence. The risk factor with the highest influence towards caries incidence in this study is the fluor concentration in saliva.****Karies gigi merupakan penyakit infeksi multifaktorial yang disebabkan oleh empat faktor utama sebagai etiologi, yaitu gigi dan saliva, bakteri, karbohidrat dan waktu. Paduan faktor tersebut dapat digambarkan sebagai empat lingkaran yang saling tumpang tindih. Protein sCD14 di dalam saliva memegang peran penting dalam melindungi jaringan lunak dan keras di rongga mulut dari infeksi oleh bakteri patogen. Terdapat hubungan antara keberadaan sCD14 di dalam saliva antara penderita karies aktif dengan penderita bebas karies, hal ini menimbulkan dugaan bahwa protein sCD14 mungkin berperan penting dalam proses perkembangan karies. Untuk mengungkapkan hal tersebut diperlukan penelitian tentang hubungan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dengan kejadian karies. Tujuannya yaitu untuk melihat perbedaan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva serta menganalisis hubungan faktor tersebut dengan kejadian karies tinggi. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan “kasus kontrol”. Sampel penelitian adalah anak karyawan PTPN VIII Pangalengan usia 12-15 tahun. Ukuran sampel ditentukan secara ‘rule of thumb’ dengan jumlah sampel minimal 80. Pemilihan subjek dilakukan secara simple random sampling. Pada penelitian ini digunakan analisis bivariable (uji t dan uji Chi Kuadrat), multivariable (regresi logistik ganda), dan untuk menentukan cut off point digunakan kurva ROC (Receiver Operating Characteristic). Kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p≤0,005. Hasil penelitian kadar sCD14 pada  karies rendah lebih tinggi bila dibandingkan dengan karies tinggi, secara statistik berbeda dan bermakna. Jumlah Streptococcus mutans pada  karies rendah lebih sedikit bila dibandingkan dengan karies tinggi, secara statistik berbeda sangat bermakna. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda menunjukkan adanya hubungan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dan kejadian karies tinggi, keempat faktor tersebut berpengaruh kuat terhadap kejadian karies tinggi. Simpulan terdapat hubungan yang kuat antara kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dengan kejadian karies tinggi. Faktor risiko yang berpengaruh paling kuat terhadap kejadian karies pada penelitian ini adalah konsentrasi fluor di dalam saliva.
PREVALENSI KARIES DAN INDEKS d e f PADA MURID-MURID KELAS I, II, DAN III SEKOLAH DASAR YANG BERADA DI SEKITAR KLINIK KERJA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNPAD Irna Sufiawati; Tenny Setiani Dewi; Dudi Aripin
Sosiohumaniora Vol 4, No 2 (2002): SOSIOHUMANIORA, JULI 2002
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v4i2.5261

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang status kesehatan gigi dan mulut pada murid-murid kelas I, II, dan III Sekolah Dasar yang berada di sekitar Klinik Kerja Mahasiswa FKG Unpad dengan melihat prevalensi karies dan indeks def-nya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel penelitian sebanyak 333 orang murid, yaitu murid-murid kelas I, II, dan III dari 4 buah Sekolah Dasar diambil secara acak, yang berlokasi di sekitar klinik kerja mahasiswa FKG Unpad. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies adalah sebesar 99,9% yang berarti hampir semua anak pada penelitian ini menderita karies, sedangkan indeks def adalah 10,2 artinya pada setiap anak yang diperiksa terdapat 10,2 gigi yang mengalami karies, ditambal, dan sudah dicabut atau diindikasikan untuk pencabutan. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan kesehatan gigi dan mulut murid-murid kelas I, II, dan III Sekolah Dasar yang berada di sekitar klinik kerja mahasiswa FKG Unpad adalah buruk. Kata kunci : karies, prevalensi,indeks def
Compressive strength resin komposit hybrid post curing dengan light emitting diode menggunakan tiga ukuran lightbox yang berbeda Mirza Aryanto; Milly Armilia; Dudi Aripin
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol. 46 No. 2 (2013): June 2013
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.064 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i2.p101-106

Abstract

Background: The use of different polymerization methods may result in variation of mechanical properties of composite resin. Polymerization increases the conversion rate of monomers reflecting in improvement of compressive strength. Post-curing methods can be used to increase strength to the composite resin. Purpose: To determine the difference of compressive strength of post cured hybrid composite resin by using three different size of lightbox. Methods: This research was conducted in a true in vitro experiment. Research carried out by making a tube-shaped cylinder hybrid with 3 mm diameter and 6 mm height composite resin samples post cured by using 3 different size of light box, 3 cm x 3 cm x 3 cm (A), 4 cm x 4 cm x 4 cm (B) 6 cm x 6 cm x 6 cm (C), and a non post-curing control. Compressive strength test was then performed using a universal testing machine. Each sample was tested and averaged to obtain values in order to be analyzed statistically using ANOVA and multiple comparison. Results: There is an increase in compressive strength of each group, namely group A (172.9460 MPa), B (154.821 MPa), C (154.0789 MPa) and control (123.3550 MPa), and a statistically significant difference (F<0.05). Conclusion: The smaller size of the lightbox is used, the higher the compressive strength of composite resin.Latar belakang: Penggunaan berbagai metode polimerisasi dapat mengubah sifat mekanis resin komposit. Proses polimerisasi dapat meningkatkan derajat konversi monomer, sehingga dapat meningkatkan compressive strength resin komposit. Metode post curing dapat digunakan untuk menambah kekuatan resin komposit. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan compressive strength resin komposit hybrid yang dilakukan post curing menggunakan tiga ukuran lightbox yang berbeda. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni yang dilakukan secara in vitro. Penelitian dilakukan dengan membuat sampel resin komposit hybrid berbentuk tabung silinder dengan diameter 3 mm dan tinggi 6 mm yang dilakukan post curing menggunakan lightbox ukuran 3 cm x 3 cm x 3 cm (A), lightbox ukuran 4 cm x 4 cm x 4 cm (B), lightbox ukuran 6 cm x 6 cm x 6 cm (C), dan kelompok kontrol yang tidak dilakukan post curing. Kemudian dilakukan uji compressive strength dengan menggunakan alat uji universal testing machine. Data dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan multiple comparison. Hasil: Terdapat peningkatan compressive strength pada tiap kelompok, yaitu kelompok A (172,9460 MPa), B (154,821 MPa), C (154,0789 MPa) dan kontrol (123,3550 MPa), dan secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05). Simpulan: Semakin kecil ukuran lightbox yang digunakan, semakin tinggi tingkat compressive strength resin komposit hybrid.
Relationship between salivary fluor concentration and caries index in 12–15 years old children Vidyana Pratiwi; Dudi Aripin; Ame Suciati Setiawan
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol. 45 No. 1 (2012): March 2012
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.777 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v45.i1.p35-38

Abstract

Background: Dental caries is a bacterial infection leading to dissolution and localized damage of hard tissues. The assessment of caries risk is based on several caries indicators including clinical conditions (DMF-T index), environment (fluor), and general health. Purpose: The objective of this study was to assess the relationship between salivary fluor concentration and caries index in children aging 12–15 years old at SMP Negeri 2 PTPN VIII Pangalengan. Methods: This study is an observational analytical study using crosssectional approach and is conducted in a field trial manner. The study sample consists of 80 students in the age of 12 to 15 years old at SMP Negeri 2 PTPN VIII selected through Probability Sampling manner using simple random sampling method. Results: The result of this study shows a DMF-T index of 4.32 and salivary fluor concentration mean of 0.018. Pearson Product Moment correlation test shows that there is a weak correlation between salivary fluor concentration and DMF-T index. Conclusion: It is concluded that the salivary fluor concentration has an insignificant correlation with the DMF-T index since the fluor concentration in saliva is very low.Latar belakang: Karies gigi adalah penyakit infeksi bakteri yang berakibat pada disolusi dan kerusakan terlokalisasi jaringan keras. Penilaian risiko karies berdasarkan atas beberapa indikator karies yaitu kondisi klinis (indeks DMF-T), lingkungan (fluor), dan kesehatan umum. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsentrasi fluor yang terdapat dalam saliva dengan indeks karies pada anak usia 12-15 tahun di SMP Negeri 2 PTPN VIII Pangalengan. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di lapangan. Sampel penelitian sebanyak 80 orang siswasiswi usia 12–15 tahun di SMP Negeri 2 PTPN VIII Pangalengan yang dipilih secara Probability Sampling dengan metode simple random sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan indeks DMF-T 4,32 dan rerata konsentrasi fluor dalam saliva sebesar 0,018. Tes korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hubungan yang tidak kuat antara konsentrasi fluor dalam saliva dengan indeks DMF-T. Kesimpulan: Dapat disimpulkan konsentrasi fluor dalam saliva mempunyai hubungan dengan indeks DMF-T tetapi tidak signifikan dikarenakan nilai konsentrasi fluor dalam saliva yang sangat rendah.
Effects of sarang semut (Myrmecodia Pendens Merr. & Perry) extracts on Enterococcus faecalis sensitivity Cut Soraya; Hendra Dian Adhyta Dharsono; Dudi Aripin; Mieke H Satari; Dikdik Kurnia; Danny Hilmanto
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol. 49 No. 4 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga https://fkg.unair.ac.id/en

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.864 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v49.i4.p175-180

Abstract

Background: Enterococcus faecalis (E. faecalis) is a gram positive oral pathogen that reported at the main agent infection of endodontic treatment. Its activities are influenced by the virulence factors facilitating the interaction process between agents with host cells. Like aggregation substance, cytolysin, extracellular superoxide, gelatinase, hyaluronidase, sex pheromones, and surface adhesions molecules. Plant extracts are reported as the material antibacterial as well as E. faecalis in pathogenesis of endodontic infections. Purpose: Purpose of this study was to analyse of sarang semut extracts (Myrmecodia Pendens Merr. & Perry) towards sensitivity of E. faecalis. Method: This research used the methanol extract of sarang semut, E. faecalis ATCC 29212, and fosfomycin also chlorhexidine as the positive controls. Whereas, Bradford protein method was measured the concentration of the surface protein of E. faecalis and active component of the sarang semut extract. Result: Generally, the sarang semut extract possessed low sensitivity toward E. faecalis (≤ 13 mm), but on the concentrations of 100 µg/ml and 75 µg/ml better than inhibition of other concentrations, round 10.6-11.6 (mm). Specifically, on 100 µg/ml has indicator the minimal bactericidal concentration (MBC) on E. faecalis. Whereas minimal inhibition concentration (MIC) on the concentration of 3,125 µg/ml. Conclusion: Based on MBC and MIC assay, the extract of sarang semut has potential effects to adherence growth of E. faecalis, mainly on the highest concentration 100 µg/ml also MIC on 3,125 µg/ ml.
Perawatan saluran akar pada gigi kaninus bawah dengan konfigurasi saluran akar Vertucci tipe II dan IIIRoot canal treatment in lower canines with type II and III Vertucci root canal configuration Henry Octovianus; Dudi Aripin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 3 (2022): Maret 2022 (Suplemen 3)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i3.30785

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kunci dasar keberhasilan perawatan saluran akar adalah diagnosis, rencana perawatan, disertai pengetahuan tentang morfologi saluran akar dan variasinya. Saluran akar merupakan sistem yang kompleks dan dapat bercabang serta menyatu kembali. Identifikasi berdasarkan Vertucci,  terdapat delapan tipe konfigurasi i bentuk variasi sistem saluran akar. Tujuan laporan kasus ini adalah memaparkan perawatan saluran akar pada gigi kaninus rahang bawah dengan konfigurasi saluran akar Vertucci tipe II dan III. Laporan kasus: Pasien perempuan usia 54 tahun dirujuk ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Unpad untuk dilakukan perawatan saluran akar pada gigi kaninus kiri dan kanan rahang bawah yang akan menjadi gigi penyangga untuk pembuatan overdenture. Hasil pemeriksaan klinis didapatkan gigi kaninus kiri masih dalam keadaan vital dan gigi kaninus kanan telah nekrosis. Pemeriksaan radiologis CBCT menunjukkan bahwa gigi 33 memiliki bentuk konfigurasi saluran akar tipe III dan gigi 43 yang memiliki konfigurasi saluran akar tipe II. Perawatan endodontik intensional pada gigi 33 diawali dengan anestesi infiltrasi karena gigi vital normal. Tahapan perawatan pada kedua gigi adalah pembukaan akses kavitas, negosiasi (penjajakan) saluran akar menggunakan K-File #8 dan #10, preparasi saluran akar, medikamen antar kunjungan, serta pengisian saluran akar. Setelah kontrol dan tidak ada keluhan, pasien dirujuk kembali ke Klinik Prostodonsia. Simpulan: Perawatan saluran akar pada gigi kaninus bawah dengan konfigurasi saluran akar Vertucci tipe II dan III membutuhkan  pengetahuan mengenai morfologi, variasi, kompleksitas sistem saluran akar, pemeriksaan radiologis, teknik pengisian saluran akar, serta komunikasi antar departemen untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik.Kata kunci: preparasi saluran akar; cone-beam computed tomography; overdenture; gigi kaninus. ABSTRACTIntroduction: The essential key to successful root canal treatment is the diagnosis, treatment plan, and knowledge of root canal morphology and its variations. Root canals are complex systems that can branch and rejoin. Identification based on Vertucci, there are eight configurations in the form of variations in the root canal system. This case report aims to describe root canal treatment for mandibular canines with Vertucci type II and III root canal configurations. Case report: A 54-year-old female patient was referred to the Dental Conservation Clinic, RSGM Unpad, for root canal treatment for the left and right mandibular canines, which will become abutments for the overdenture. The clinical examination results revealed that the left canine was still in a vital condition and the right canine was necrotic. CBCT radiological examination showed that tooth 33 had a type III root canal configuration and tooth 43 had a type II root canal configuration. Intentional endodontic treatment on tooth 33 was initiated with infiltration anaesthesia because the vital teeth were normal. The treatment steps for both teeth were opening the access cavity, negotiating (exploring) the root canal using K-File #8 and #10, root canal preparation, medicaments between visits, and root canal filling. After control and no complaints, the patient was referred back to the Prosthodontic Clinic. Conclusion: Root canal treatment for lower canines with Vertucci type II and III root canal configurations requires knowledge of morphology, variation, complexity of the root canal system, radiological examination, root canal filling techniques, and communication between departments to get good treatment results.Keywords: root canal preparation; cone-beam computed tomography; overdenture; canines
Restorasi fiber-reinforced composite bridge pada gigi posterior rahang atas pasca perawatan saluran akar satu kali kunjungan Beactris Lamria Simanjuntak; Dudi Aripin
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.72004

Abstract

Kesehatan rongga mulut dapat mempengaruhi kualitas hidup individu, seperti karies dan kehilangan gigi. Hal tersebut dapat mempengaruhi fungsi mengunyah dan berbicara, penampilan, hubungan interpersonal, bahkan peluang karierseseorang. Oleh sebab itu, penting untuk dilakukan perawatan pada gigi karies dan penggantian gigi yang hilang. Ada beberapa pilihan perawatan yang dapat dilakukan untuk mengganti gigi yang hilang, salah satu teknik terbaru yaitu fiber reinforced composite bridge. Fiber reinforced composite bridge memungkinkan untuk dibuat sendiri oleh operator, memiliki estetik yang baik, dan dapat mengganti gigi posterior tanpa penggunaan bahan metal. Pasien laki-laki berusia 38 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGMP Unpad dengan keluhan sering terjadinya sangkutan makanan pada gigi kanan atas. Gigi tersebut terasa sakit berdenyut satu tahun yang lalu, namun saat ini sudah tidak pernah terasa sakit. Gigi tersebut bersebelahan dengan gigi yang hilang sehingga pasien sulit mengunyah pada sisi kanan dan sering mengunyah satu sisi. Gambaran radiografis mahkota terlihat adanya gambaran radiolusen mendekati pulpa. Saluran akar dua dan lurus lurus, laminadura utuh, tidak terdapat pelebaran membran periodontal,dan tidak terdapat kelainan di periapikal. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melakukan perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi 14, melakukan follow up dengan pasak fiber dan fiber reinforced composite bridge sebagai restorasi akhir gigi 14, penggantian gigi 15 yang hilang dan restorasi gigi 16 dengan karies. Simpulan dari laporan kasus, Fiber reinforced composite bridge dapat menjadi alternatif perawatan bagi gigi pasca perawatan endodontik dengan daerah edentulous di sebelahnya.
Comparison of oral health self-assessment results in pregnant women in rural and urban areas: Study quantitative Nugraha, Rega Mahesa; Suwargiani, Anne Agustina; Aripin, Dudi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.50224

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Pregnant women are a group of people who are vulnerable to oral health problems due to physical, biological, and hormonal changes. Geographical and administrative location also affects oral health based on the ease of access to health services, which are divided into rural and urban areas. This study aims to analyze the oral health self-assessment of pregnant women in rural and urban areas. Methods: This study employed a quantitative comparative analytical approach with a cross-sectional data collection design, focusing on pregnant women residing in both rural and urban areas. A self-assessment tool, namely the "oral health questionnaire for adults"  developed by WHO, was used and already translated into Indonesian. The data were analyzed using the chi-square test. Results: This study included 159 pregnant women from both rural and urban areas, with an average age of 27.19 years.  The results of the self-assessment showed a difference in the educational background of pregnant women in urban areas, which is higher compared to those  in rural areas. The majority of pregnant women assessed that the condition of their teeth and gums was in moderate criteria; the self-assessment of cleaning the oral cavity and visiting the dentist of pregnant women in urban areas was better than that of pregnant women in rural areas; but pregnant women in urban areas were more likely to consume sweet foods and drinks. statistical tests indicate that the comparison has a significant value with a value of p<0.05. Conclusions: There were differences in dental hygiene practices, dentist visit frequency, and educational attainment among urban and rural pregnant women. There was no significant difference in assessing the condition of teeth and gums, using dentures, or experiencing dental and gum issues among pregnant women.KEY WORDS: pregnant women, oral health, rural-urban, self assessmentPerbandingan self assessment kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil di daerah rural dan urban: Studi cross sectionalABSTRAK Pendahuluan: Ibu hamil merupakan satu kelompok masyarakat yang rentan terhadap masalah kesehatan gigi dan mulut, dikarenakan adanya perubahan fisik, biologis, dan hormon. Letak geografis dan administratif juga memengaruhi kesehatan gigi dan mulut berdasarkan kemudahan akan akses pelayanan kesehatan yang terbagi menjadi wilayah rural dan urban. Penelitian ini bertujuan menganalisis self assessment kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil di daerah rural dan urban. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu analitik komparatif, dengan desain pengumpulan data cross sectional, dilakukan pada ibu hamil di daerah rural dan urban. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan self assessment yaitu “Oral Health Questionnaire for Adults” dari WHO yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Analisis data penelitian menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian ini diikuti oleh 159 ibu hamil yang berasal dari daerah rural dan urban dengan usia rata-rata ibu hamil adalah 27.19 tahun. Hasil self assessment memperlihatkan perbedaan pendidikan ibu hamil di daerah urban lebih tinggi dari daerah rural. Mayoritas ibu hamil menilai bahwa kondisi gigi dan gusinya dalam kriteria sedang; self assessment membersihkan rongga mulut dan mengunjungi dokter gigi ibu hamil di daerah urban lebih baik daripada ibu hamil di daerah rural; tetapi ibu hamil di daerah urban lebih cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Hasil uji statistik yang menunjukkan perbandingan memiliki nilai signifikan dengan nilai p<0.05. Simpulan: Terdapat perbedaan nilai self assessment praktik kebersihan gigi, frekuensi kunjungan ke dokter gigi, dan tingkat pendidikan di antara ibu hamil di daerah rural dan urban dan tidak ada perbedaan nilai self assessment kondisi gigi dan gusi, penggunaan gigi tiruan, dan pengalaman masalah gigi dan gusi diantara ibu hamil.KATA KUNCI: ibu hamil, kesehatan gigi dan mulut, rural-urban, Self assessment
The effect of (3-aminopropyl) triethoxysilane and curcumin coating on the physicochemistry of Fe 3 O 4 particles as theranostics of oral cancer: qualitative study descriptive Yohannes, Gabriel; Djustiana, Nina; Mardhian, Deby Fajar; Sukotjo, Cortino; Aripin, Dudi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): October 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48079

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Superparamagnetic iron oxide nanoparticles (SPION) has been used in MRI and have the capability to conjugate with different ligands. One of the active ingredients of interest in biomedical application is curcumin (Cur), which has been shown to have anti-inflammatory effect, wound healing property, and anti-cancer activity. However, such conjugation may need to be facilitated by polymer, such as 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS). This study aims to describe the effect of coating materials AMPTS and Cur on the physicochemistry of Fe3O4 particles as a diagnostic of oral cancer. Methods: Modified SPIONs were synthesized by a simple coprecipitation method. Fe3O4 particles were characterized using Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) to analyze the conjugation yield. Next, modified SPIONs were analyzed using dynamic light scattering (DLS) to examine size distribution. Furthermore, zeta potential of the particles was examined. Results: DLS showed size increases after modification of SPION with different materials. In addition, there were slight changes in zeta potential. However, FTIR showed no differences in peaks, indicating that no conjugation was successful. Conclusion: Although FTIR showed no differences in peaks, DLS and zeta potential showed changes with different coatings, which may indicate conjugation. However, further analyses must be carried out to quantify the conjugation yield.KEYWORDS: AMPTS, curcumin, iron oxide, oral cancer, coprecipitationPengaruh bahan pelapis AMPTS dan kurkumin terhadap fisikokimia partikel Fe3O4 sebagai teragnostik kanker mulut: studi deskriptifABSTRAKPendahuluan: Superparamagnetic iron oxide nanoparticle (SPION) telah digunakan dalam MRI dan memiliki kemampuan untuk dikonjugasi dengan berbagai ligan. Salah satu bahan aktif yang menjadi sorotan di bidang biomedis adalah curcumin yang memiliki sifat anti-inflamasi, penyembuhan luka, dan aktivitas anti-kanker. Akan tetapi, konjugasi tersebut biasanya memerlukan fasilitator berupa polimer, seperti 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh bahan pelapis 3-aminopropyltrimethoxysilane (AMPTS) dan kurkumin (Cur) terhadap fisikokimia partikel Fe3O4 sebagai teragnostik kanker mulut. Metode: SPION disintesis dan dimodifikasi dengan bahan-bahan pelapis tersebut melalui metode kopresipitasi sederhana. Untuk menganalisis hasil konjugasi, sampel dikarakterisasi dengan fourier transform infrared spectroscopy (FTIR). Berikutnya, sampel dianalisis dengan dynamic light scattering (DLS) untuk melihat distribusi ukuran. Kemudian, potensial zeta sampel diukur. Hasil: DLS menunjukkan peningkatan ukuran setelah modifikasi SPION dengan bahan pelapis. Selain itu, ada perubahan dalam potensial zeta. Akan tetapi, analisis FTIR tidak menunjukkan perbedaan puncak serapan yang mengindikasikan ketiadaan konjugasi. Simpulan: Meskipun FTIR tidak menunjukkan perbedaan puncak serapan setiap sampel, DLS dan potensial zeta menunjukkan perubahan nilai untuk setiap sampel dengan coating berbeda, yang boleh jadi mengindikasikan konjugasi. Akan tetapi, analisis lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengkuantifikasi konjugasi.KATA KUNCI: AMPTS, kurkumin, besi oksida, kanker mulut, kopresipitasi
Co-Authors A. Azhari, A. Achmad Syawqie Agung Wibowo Alfira, Sarah Vania Amalina Ahmad Ame Suciati Setiawan Amida, Aya Andini Dimyati, Andini Anne Agustina Suwargiani Anne Agustina Suwargiani Ardena Maulidia Hamdani Asty Samiaty Setiawan Asty Samiaty Setiawan, Asty Samiaty Ayu Trisna Hayati, Ayu Trisna Badi Soerachman, Badi Beactris Lamria Simanjuntak Cahyanto, Arief Cucu Zubaedah Cucu Zubaedah, Cucu Cut Soraya Danny Hilmanto Dela Armilda Dewi - Dikdik Kurnia Disa Ratna Nurhasanah Djuastina, Nina Endang Sukartini, Endang Erry Mochamad Arief, Erry Mochamad Ervin Rizali Euis Julaeha Fadil, Mohammad Richata Fidya Meditia Putri Fidya Meditia Putri, Fidya Meditia Fourier Dzar Eljabbar Latief Gilang Yubiliana Hamdani, Ardena Maulidia Hendra Dian Adhyta Dharsono Henry Octovianus Hong, Steven Tan Jun Inne Suherna Sasmita Irna Sufiawati Jenny Krisnawaty, Jenny Kadir, Rahimah Abdul Kosterman Usri, Kosterman Laela, Dewi Sodja Lutfi Yondri Mardhian, Deby Fajar Marhazlinda, Jamaludin Marry Siti Mariam Maulidia, Ardena Hamdani Mieke H Satari Milly Armilia Mirza Aryanto Mohammad Richata Fadil Mohd Yusof, Zamros Yuzadi Muhammad Abdul Halim Murnisari Dardjan, Murnisari Netty Suryanti Netty Suryanti Nina Djustiana Nugraha, Rega Mahesa Nuni Maharani Nurmala Gustina, Nurmala Opik Taofik Hidayat Popy Rufaidah Puspita Kania Dewi Richata Fadil S. Sabrina, S. Sanjaya, Azlina Nuur Setiawan Natasasmita Setiawan Natasasmita Sri Mulyanti Sri Susilawati Sri Tjahajawati, Sri Sukotjo, Cortino Sunardhi Widyaputra Susilo, Fania Syakira Tenny Setiani Tenny Setiani Dewi Vidyana Pratiwi Wazillah Nasserie Yohannes, Gabriel Yolanda Y., Yolanda Yolanda Yolanda, Yolanda Yubiliani, Gilang