p-Index From 2021 - 2026
4.739
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Sistem Informasi Guna Mendukung Pencatatan dan Pelaporan Program Pengendalian Penyakit Diare Di Kabupaten Musi Rawas. Arsep Liyenti; Aris Puji Widodo; Suhartono Suhartono
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.2.2018.91-97

Abstract

Penyakit diare merupakan penyakit yang bepotensi wabah yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa. Agar hal tersebut tidak terjadi maka harus dilakukan pemantauan kasus diare dari pencatatan dan pelaporan program pengendalian penyakit diare. Survey awal yang telah dilakukan mengindikasikan adanya permasalahan pada sistem informasi yang saat ini berlangsung yaitu dalam hal pengumpulan dan pengolahan serta analisis data program pengendalian penyakit diare yang mengakibatkan terjadinya keterlambatan, ketidakakuratan dan ketidaklengkapan data dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggembangkan suatu sistem informasi yang dapat mendukung pencatatan dan pelaporan program pengendalian penyakit diare.       Penelitian yang  dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan metode pengembangan sistem adalah Framework for Application of  System Technique (FAST). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Subjek penelitian adalah 3 Bidan dan 3 pengelola program pengendalian penyakit diare Puskesmas sebagai informan utama serta 1 pengelola program pengendalian penyakit diare Dinas Kesehatan sebagai informan trigulasi. Analisis isi dilakukan untuk menganalisis data kualitatif.       Pengembangan sistem informasi pencatatan dan pelaporan program pengendalian penyakit diare disesuaikan berdasarkan kebutuhan pengguna yaitu Bidan, pengelola program pengendalian penyakit diare Puskesmas dan Dinas Kesehatan yang mengacu pada format pelaporan program pengendalian penyakit diare. Bidan dan pengelola program pengendalian penyakit diare Puskesmas melakukan input data pasien dan hasil pemeriksaan pasien diare dengan menggunakan telepon seluler berbasis android sehingga dapat dilakukan pada saat pemeriksaan pasien secara langsung. Hal ini untuk mengatasi keterlambatan dalam mengumpulkan data.       Disimpulkan bahwa pengembangan sistem informasi pencatatan dan pelaporan program pengendalian penyakit diare menghasilkan sistem yang membantu dalam pengumpulan, pengelolaan dan analisi data program pengendalian penyakit diare. Sistem ini dapat dimanfaatkan oleh Bidan, pengelola program pengendalian penyakit diare Puskesmas dan Dinas Kesehatan sebagai pendukung dalam pengambilan kebijakan kesehatan bagi program pengendalian penyakit diare di wilayah kerja masing-masing.
Model Evaluasi Penerimaan Pengguna Sistem Informasi Rekam Medis di Sektor Kesehatan Ni Kadek Armini; Aris Puji Widodo; Suhartono Suhartono
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 5, No 2 (2017): Agustus 2017
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.402 KB) | DOI: 10.14710/jmki.5.2.2017.111-118

Abstract

In the development of advanced technology, information users are required to follow the progress that has grown rapidly. One of the programs implemented by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia has issued a policy that guides the implementation of health development implemented by the government and private sector in order to improve the quality of information in this case the quality of medical record information. And one of the efforts to improve the quality of medical record information in the hospital in the form of the application of Medical Record Information System (SIRM). Application of SIRM is currently experiencing obstacles and barriers in the level of user acceptance. There are still many things that are operational and managerial, making the implementation of SIRM is not going well. . This study evaluates the results of SIRM implementation to process the data of inpatients at Undata Hospital of Central Sulawesi Province from the user acceptance level, using the combined model of Unified Theory of Acceptance and Usage of Technology (UTAUT) and Human, Organization, Technology Fit (HOT Fit ).
Analysis of Factors Associates to the Incidence of Pulmonary TB Patients Drop Out in Primary Healthcare Centers in Sorong Papua Barat Lopulalan Octovianus; Suhartono Suhartono; Tjahjono Kuntjoro
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.049 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.3.2015.%p

Abstract

ABSTRAK Data Dinas Kesehatan Propinsi Papua Barat tentang kasus baru TB Paru dari tahun ke tahun terus meningkat, walau pelaksanaan program pemberantasan TB Paru terus ditingkatkan. Dari data BP2PL Dinas Kesehatan Propinsi Papua Barat tahun 2009 ditemukan 2462 penderita baru BTA positif. Dari jumlah tersebut yang drop out 337 penderita, dan pada tahun 2010 ditemukan 2476 kasus BTA Positif dan dari jumlah tersebut drop out 441 penderita. Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan pada puskesmas di kota sorong, pada tahun 2008 ditemukan jumlah penderita baru TB Paru BTA positif 87 penderita. Dari jumlah tersebut yang diobati hingga sembuh sebanyak 20 penderita, yang drop out sebanyak 64 penderita. Tahun 2009 ada peningkatan penderita baru yakni sebanyak 108 penderita, yang sembuh 28 penderita yang drop out 61 penderita. Dan tahun 2010 ditemukan sebanyak 103 penderita baru BTA positif, yang sembuh 27 penderita dan yang drop out 55 penderita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang ada hubungannya dengan kejadian drop out pada penderita TB Paru yang sedang menjalani pengobatan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data melalui metode wawancara dengan bantuan kuisioner terstruktur pada semua penderita yang berobat pada puskesmas kota Sorong. Jumlah sampel 50 penderita yang drop out dan 50 penderita yang berobat teratur dan sembuh di Puskesmas Kota Sorong. Analisis univariat dilakukan dengan deskriptif frekwensi, analisis bivariat dengan uji Chy Square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian DO (p=0,001). Ada hubungan antara Motivasi dengan kejadian DO (p=001). Ada hubungan antara peran PMO dengan kejadian DO (p=0,001). Ada hubungan antara Akses dengan kejadian DO (p=0,001). Ada hubungan dukungan keluarga dengan kejadian DO (p=0,001) Tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian DO (p=0,356). Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian DO (p=0,156). Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian DO (p=0,453). Dapat disimpulkan variabel yang ada hubungan dengan kejadian drop out adalah pengetahuan, motivasi,peran PMO,. Akses serta dukungan keluarga. Saran bagi Dinas Kesehatan meningkatkan frekwensi penyuluhan, pemutaran film dukumenter tentang penyakit menular, dan jangka panjang pengadaan puskesmas pembantu serta pengaktipan kembali kader kesehatan desa.Kata kunci : Drop Out, TB ParuABSTRACTData from health office of West Papua province regarding new cases of tuberculosis (TB) indicated that the number of cases increased although lung TB control program was improved. Data from BP2PL of West Papua health office in 2009 showed that 2462 new cases of positive fast acid bacilli (BTA) were found; among them, 337 patients were dropout. In 2010, 2476 cases with positive BTA were found, and among them 441 patients were dropout. Based on preliminary survey done in Sorong city primary healthcare centers, in 2008, 87 new lung TB cases with positive BTA were found. Among them, 20 patients were treated and cured, 64 patients were dropout. In 2009, there was an increase in the number of new cases, which were 108 patients. Among them, 28 patients were cured, and 61 patients were dropout. In 2010, 103 new cases with positive BTA were found; among them, 27 patients were cured, and 55 patients were dropout. The objective of this study was to identify factors related to the occurrence of drop out among lung TB patients who were in the treatment program. This was a quantitative study with cross sectional approach. Data were collected using interview method supported by structured questionnaire. Study population was all patients visited in the Sorong city primary healthcare centers. Study samples were 50 dropout patients and 50 patients who sought for medication regularly and cured in primary healthcare centers in Sorong city. Frequency distributions were presented for univariate analysis, and chi square test was applied for bivariate analysis. Results of the study showed that there was association between knowledge and dropout occurrence (p= 0.001).Motivation was associated with dropout occurrence (p= 0.001). The role of PMO was associated with drop out occurrence (p= 0.001). Accessibility was associated with dropout occurrence (p= 0.001). Family support was associated with dropout occurrence (p= 0.001). No association between age and dropout occurrence (p= 0.356), between sex and dropout occurrence (p= 0.156), between education and dropout occurrence (p= 0.453). In conclusion, variables related to dropout occurrence are knowledge, motivation, roles of PMO, accessibility, and family support. Suggestions for district health office are to increase education frequency, playing documentary movies about infectious diseases. Long term suggestions are to build supporting primary health care center, and to reactivate village health cadres.Keywords : Dropout, lung TB
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Perkembangan Kognitif Balita Umur 2-3 tahun di Wilayah Puskesmas Leyangan Kabupaten Semarang Lia Anjar Nur Zhamaroh; Suhartono Suhartono; Sri Achadi Nugraheni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 6, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.6.3.2018.171-178

Abstract

Kecerdasan merupakan salah satu indikator kualitas hidup manusia, dimana kemampuan kognitif berkontribusi di dalamnya. Selain faktor genetik faktor lingkungan yaitu gizi dan stimulasi mempengaruhi perkembangan kognitif balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor- faktor yang berhubungan dengan perkembangan kognitif balita umur 2-3 tahun di Wilayah Puskesmas Leyangan Kabupaten Semarang. Rancangan penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 110 responden ibu balita. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat dengan uji Spearman, Mann-Whitney dan Chi-square, analisis multivariat dengan regresi logistik.            Analisis univariat menunjukkan bahwa balita yang mengalami perkembangan kognitif kurang (41,8%), stimulasi perkembangan kurang (48,2%), status gizi stunting (42,8%), tidak mengikuti PAUD (73,6%), dan lama bermain game ≥ 3 jam/hari (10%). Terdapat hubungan signifikan antara pendapatan keluarga (p=0,008), besar keluarga (p=0,031) dan riwayat ASI eksklusif (p=0,011) dengan perkembangan kognitif balita. Uji beda proporsi menunjukkan pendapatan keluarga, besar keluarga, riwayat ASI eksklusif, status gizi, keikutsertaan di PAUD dan stimulasi perkembangan berhubungan signifikan dengan perkembangan kognitif balita (p<0,05). Sedangkan umur Ibu, pendidikan Ibu, pekerjaan Ibu, riwayat BBLR (p>0,05), dan riwayat kelahiran prematur tidak berhubungan signifikan terhadap perkembangan kognitif balita. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan keluarga (OR=7,273), status gizi (OR=4,303),riwayat pemberian ASI eksklusif (OR=9,036) dan stimulasi perkembangan (OR=8,018) berpengaruh terhadap perkembangan kognitif balita.
Baseline and Post-exercise High-Sensitivity C-Reactive Protein Levels in Endurance Cyclists: The Indonesian North Coast and Tour de Borobudur 2017 Study Mahalul Azam; Susanti Lestari; Sri Ratna Rahayu; Arulita Ika Fibriana; Budhi Setianto; Nyoman Suci Widyastiti; Suhartono Suhartono; Hardhono Susanto; Martha Irene Kartasurya; Udin Bahrudin; Thijs Eijsvogels
The Indonesian Biomedical Journal Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v11i1.560

Abstract

BACKGROUND: Inflammation plays an important role in the atherosclerotic process. High-sensitivity C-reactive-protein (hs-CRP) is commonly used as inflammatory biomarker. It is well known that regular physical activity lowers hs-CRP levels, while prolonged exercise induces hs-CRP elevations. However, the relationship of training and exercise characteristics with hs-CRP levels remains not well elucidated. We evaluated baseline and post-exercise hs-CRP levels and its association with training and exercise characteristics.METHODS: Eighty-eight male endurance cyclists were involved. Demographic data, health condition and training characteristics were collected. Baseline and postexercise blood-samples were collected to determine hsCRP concentrations. A hs-CRP cut-off point of 3 mg/L was used. Blood-cell count and biochemical parameters were measured at baseline. Heart rate (HR) was measured during exercise.RESULTS: Cyclists performed 7.3 hours (interquartilerange (IQR) = 5.4-7.5) of endurance exercise at intensity of 81.8 % (IQR = 74.9-85.8). Cyclists with baseline hsCRP ≥ 3 mg/L reported higher body mass, body mass index (BMI), waist-circumference and total-cholesterol. An increase in hs-CRP was following endurance exercise. Cyclists with any elevation of hs-CRP reported a higher BMI, HR during exercise and exercise intensity. Binary logistic regression analysis showed BMI (OR = 1.24, 95% CI = 1.04-1.48) and cycling distance (OR = 0.22, 95% CI = 0.06-0.76) were associated with post-exercise hs-CRP elevations.CONCLUSION: Body mass, BMI, waist-circumference, total- and HDL-cholesterol are associated with baseline hsCRP, whereas BMI and cycling distance were associated with hs-CRP elevations. These findings suggest that anthropometry parameters and lipid levels attributed to baseline hs-CRP, while anthropometry parameters and cycling intensity attributed to post-exercise hs-CRP elevations.KEYWORDS: C-reactive-protein, exercise, endurancecycling, inflammation, acute-phase-response 
Pengaruh Pemberian Madu pada Diare Akut Sofyan Cholid; Budi Santosa; Suhartono Suhartono
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.289-95

Abstract

Latar belakang. Diare masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia, tahun 2003 angka kesakitandiare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan episode pada balita 1,08 kali per tahun, meningkatdibandingkan tahun 1996. Hasil studi laboratorium dan uji klinis, madu murni memiliki aktivitas bakterisidalyang dapat melawan beberapa organisme enteropathogenic.Tujuan. Menilai dan membuktikan bahwa pemberian madu pada pasien diare akut akan mengurangifrekuensi diare, lama rawat, dan meningkatkan berat badanMetode. Randomized controlled trial tersamar tunggal pada 70 subyek diare akut dengan diare ringan sedang,yang dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok suplementasi madu dan kontrol.Hasil. Perbedaan frekuensi diare antara 2 kelompok terjadi pada hari ke-2 (IK95% -2,87;-0,22), hari ke-4(IK95% -1,52;-0,08) dan hari ke-5 (IK95% -0,99;-0,04), p<0,05. Rerata lama rawat diare cair akut padakelompok suplementasi madu 59,46 jam (±3,89), kelompok kontrol 71,20 jam (±3,89) dengan nilai p=0,036(IK95% -22,71;-0,77). Perawatan hari ke 3 kelompok suplementasi madu mengalami kesembuhan 50%,kelompok kontrol 25%. Proporsi kenaikan berat badan pada kelompok suplementasi 82,9% sedangkankelompok kontrol 80% dengan nilai p=0,947.Kesimpulan. Pemberian madu terbukti menurunkan frekuensi diare pada hari ke 2, 4, dan 5, memperpendeklama perawatan serta kesembuhan 50% yang terjadi di hari ke-3.Tidak terdapat perbedaan kenaikan beratbadan pada kedua kelompok.
Pengaruh Suplementasi Seng Terhadap Insidens Diare dan Tumbuh Kembang Anak pada Usia 24-33 Bulan BRW. Indriasari; JC. Susanto; Suhartono Suhartono
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.017 KB) | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.147-51

Abstract

Latar belakang.Defisiensi seng sangat sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Suplementasi seng dapat menurunkan insidens diare, memperbaiki defisiensi seng, serta memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan.Membuktikan pengaruh suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu terhadap insidens diare serta tumbuh kembang pada anak usia 24-33 bulan. Metode.Penelitian eksperimental dengan double-blind, randomized controlled trial, dilakukan di beberapa kelompok PAUD di Kelurahan Tandang, Semarang pada Desember 2010-Februari 2011. Seratus anak usia 24-33 bulan secara random dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (n=50) menerima 5 cc sirup seng elemental 20 mg dua kali seminggu dan kelompok kontrol (n=50) menerima 5 cc sirup plasebo dua kali seminggu selama 12 minggu. Kadar seng plasma diperiksa sebelum perlakuan. Pertumbuhan dinilai dengan antropometri (berat badan, tinggi badan) dan perkembangan (skor bahasa, visual motorik) menggunakan Capute scale test, diukur sebelum dan setelah perlakuan. Data morbiditas diare dan pengukuran tinggi badan dan berat badan dicatat dan diukur setiap 2 minggu, perkembangan kognitif dipantau setiap 4 minggu saat kunjungan rumah. Uji statistik dilakukan dengan Chi-square dan Mann-Whitney test.Hasil. Insidens diare pada kelompok perlakuan 34%, risiko relatif 1,32 (95% IK=0,89-1,95), sedang pada kontrol 22%. Rerata kadar seng serum pada kelompok perlakuan dan kontrol rendah (<60 mcg/dL) dengan nilai p=0,059. Rerata perubahan skor WAZ dan HAZ kelompok perlakuan sama dengan kontrol 0,11 dengan nilai p=0,098. Rerata perubahan skor WHZ kelompok perlakuan 0,19 dan kontrol 0,32 dengan nilai p=0,647. Perubahan skor bahasa kelompok perlakuan 7,72 dan kontrol 6,98 dengan nilai p=0,319 dan perubahan skor visual motorik kelompok perlakuan 6,30 dan kontrol 5,78 dengan nilai p=0,342.Kesimpulan.Suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu tidak menurunkan insidens diare pada kelompok perlakuan. Terjadi percepatan pertumbuhan serta perubahan skor bahasa dan visualmotorik pada kelompok perlakuan tetapi dengan uji statistik tidak ada perbedaan bermakna.
Kadar Oksidan yang Tinggi Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Hemolisis pada Neonatus Sepsis Kamilah Budhi R; Asril Aminullah; Soeharyo Hadisaputro; Ag Soemantri; Suhartono Suhartono
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.352 KB) | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.198-204

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus. Penyebab hemolisis pada neonatos meliputi: fisiologis, proses imun, stres oksidatif, aktivasi komplemen, kelainan eritrosit, enzim hemolisin. Penyebab hemolisis pada neonatus sepsis belum banyak diteliti. Tujuan. Membuktikan bahwa kadar oksidan (MDA) yang tinggi sebagai faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.Metode. Penelitian di RS Dr. Kariadi, Semarang tahun 2009, desain observasional prospektif dengannested case – controlpada 94 neonatus sepsis terdiri 47 kelompok kasus (hemolisis positif ) dan 47 kontrol (hemolisis negatif ). Diagnosis sepsis ditegakkan dengan kriteria SIRS (systemic inflammatory response syndrome)1 atau lebih, gejala klinik, pemeriksaan laboratorium atau penunjang lain. Hemolisis ditegakkan dengan metode indeks retikulosit >3, hari ke-1 dan ke-3. Pemeriksaan faktor risiko kadar MDA, GPx dengan metode spektrofotometri, vitamin C dengan metode colorimetric assay, vitamin E dengan metode ELISA, hemolisin dengan kultur darah media agar darah. Uji hipótesis menggunakan Chi-square, OR (95% Cl), Mantel-Haenszeldan regresi logistik.Hasil. Kejadian hemolisis pada neonatus sepsis 49%. Kadar MDA kelompok kasus (5,3±2,06) lebih tinggi bermakna dibanding kelompok kontrol (3,3±1,27) p=0,0001. Analisis bivariat, kadar MDA tinggi (>2,90 ng/dL) merupakan faktor risiko hemolisis pada neonatus sepsis (OR 11,6; 95% CI 2,5-54,1) Analisis multivariat, kadar MDA tinggi (> 2,90 ng/dL) dengan memperhitungkan interaksi GPx (OR 5,16; 95%CI 1,22-21,86), vitamin E (OR 5,77; 95%CI 1,49-22,26) dan vitamin C (OR 11,26:2,38-53:30) merupakan faktor risiko kejadian hemolisis pada neonatus sepsis. Hemolisin belum dapat dibuktikan Kesimpulan. Kadar oksidan (MDA) yang tinggi (>2,90 ng/dL), merupakan faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.
DAMPAK POLUSI UDARA DALAM RUANGAN PADA KEJADIAN KASUS PNEUMONIA: SEBUAH REVIEW Bahri Bahri; Mursid Raharjo; Suhartono Suhartono
Jurnal LINK Vol 17, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.223 KB) | DOI: 10.31983/link.v17i2.6833

Abstract

Polusi udara dalam ruangan merupakan masalah kesehatan yang serius karena menjadi penyebab 4,5 juta kematian tahunan secara global akibat pneumonia (12%), stroke (34%), penyakit jantung iskemik (26%), penyakit paru obstruktif kronik (22%), dan kanker paru-paru (6%). Pneumonia adalah penyebab kematian menular terbesar pada anak-anak di seluruh dunia. Pneumonia menewaskan 808.694 anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2017. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan dampak polusi udara dalam ruangan pada kejadian kasus pneumonia. Ini adalah tinjauan literatur dari beberapa jurnal. Polusi udara dalam ruangan terdiri dari debu (PM10, PM2.5), kotoran atau gas (gas CO, NO dan SO) di udara dalam gedung seperti rumah atau tempat kerja yang merugikan jika kita menghirupnya. Paparan jangka panjang polusi udara dalam ruangan bisa menyebabkan pneumonia dan masalah kesehatan lainnya. Meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dengan pengendalian sumber untuk menghindari emisi dalam dan luar ruangan, penyediaan ventilasi yang memadai dan teknologi pembersihan udara dapat diprioritaskan untuk mencegah kejadian kasus pneumonia.
Factors That Related with Incomplete Children Immunization in Kuala Tungkal II Health Center Yundri Yundri; Mexitalia Setiawati; Suhartono Suhartono; Henry Setyawan; Kamilah Budhi
Jurnal Berkala Epidemiologi Vol. 5 No. 3 (2017): Jurnal Berkala Epidemiologi
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbe.V5I32017.361-370

Abstract

Complete basic immunization coverage in West Tanjung Jabung Barat District has not reached the Millennium Development Goals standard (> 93%). Data from the Health Office shows that the achievement of complete basic immunization in West Tanjung Jabung District was 89% and the working area of the Public Health Center (PHC) of Kuala Tungkal II in West Tanjung Jabung District was 78%. The main causes of the low achievement of basic immunization are the characteristics and behavior of the mother. This study aims to analyze the factors associated with the incompleteness of basic immunization status. This research is a mixed-methods research which includes cross-sectional and qualitative studies using in-depth interviews. The study was conducted in the working area of PHC of Kuala Tungkal II, West Tanjung Jabung District. The population in this study is all mothers who have children aged 12 to 24 months. Sampling is done through a random sampling probability technique. The results showed that there was a significant relationship between maternal knowledge (p=0,000; OR=45.25; 95%CI=13.23-154.72), the attitude of mothers in need of immunization (p=0,000; OR=94.55; 95%CI=22.13-403.87), maternal motivation in taking immunization time (p=0,000; OR=37.00; 95%CI=11.40-119.99) is related to the child's basic immunization status. The conclusion of the research is that the three variables are related to the incompleteness of immunization. Research suggestions are addressed to the health department to increase the knowledge of health workers in training related to basic immunization, so as to provide counseling to the public about the importance of basic immunization in children.
Co-Authors Ag Soemantri Agung Purwanto Agus Hardiyanto Agus Suwandono Alberta Widya Kristanti Alfadhylla Rosalina Wibisono Ali Rosidi Anies Anies Apoina Kartini Aqmariza Wisnu Wijayanti Ari Suwondo Arif Iskandar Aris Puji Widodo Arsep Liyenti Arulita Ika Fibriana Asril Aminullah Astri Yulia Sari Lubis Ayun Sriatmi Bagoes Widjanarko Bahri Bahri Bahri Bahri Bahri Bahri Banundari Rachmawati Bayu Chondro Purnomo Besari Adi Pramono BRW. Indriasari Budhi Setianto Budi Mulyono Budi Santosa Budiono Budiono Budiyono Budiyono Cahya Rosyida, Desta Ayu Chriswardani Surayawati Cyuzuzo Callixte Delfina Benga Devi Ayu Susilowati Dewi Sulistyoningrum Dharminto Dharminto Diyah Fatmasari Djoko Tri Hadi Lukmono Dodik Tugasworo Pramukarso Dwi Pudjanarko Dwi Pudjonarko Dwi Septiana Dwi Sutiningsih Dwiyan Yogaswara Dyah Ratri Nurjanah Elvira Yunita Eny Rahayu Erlin Fitria Dewi Erna Setiawati Evi Rahmiyati Fitriana Fitriana Hanan Lanang Dangiran Hanifah Ardiani Hardhono Susanto Hartuti Purnaweni Henry Setyawan Susanto Henry Setyawan Susanto Hertanto Wahyu Subagio I Made Widagda Ibrahim, Mochammad Malik Ida Ariyanti Ida Fitri Leksanawati Ignatius Riwanto, Ignatius Imam Djamaluddin Mashoedi JC. Susanto Juliana, Cut Jumianti Lestari Thamrin K. Heri Nugroho HS, K. Heri Kamilah Budhi Kamilah Budhi Kamilah Budhi R Karina Astari Kartika Ikawati Komsiyah, Komsiyah Kukuh Purwo Saputro Kusuma Yati Alim Laliyanto Laliyanto Latifa Rachmawati Lia Anjar Nur Zhamaroh Lisyani Budipardigdo Suromo Lopulalan Octovianus Luthfiyatul Mustafidah M. Sakundarno Adi Mada Gautama Mahalul Azam Marek Samekto Maria Eka Patri Y Maria Mexitalia Marisa Gita Putri Markus Kaban Martha Irene Kartasurya Martini Martini Mateus Sakundarno Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Meiny Suzery Meita Hendrianingtyas Melyana Nurul Widyawati Mexitalia Setiawati Mexitalia Setiawati Mexitalia Setiawati Muchlis Achsan Udji Sofro Muchlis AU Sofro Muhamad Rofi’i Muhammad Hussein Gasem Mulia Syakira Ramadhani Munaya Fauziah Mursid Raharjo Muslih Muslih Neni Susilaningsih Ni Kadek Armini Nikie Astorina Yunita Dewanti Nikie Astorina Yunita Dewanti Noor Pramono Norra Hendarni Wijaya Nunik Tri Utami Nur Endah Wahyuningsih Nurahmi Nurahmi Nuraini Nuraini Nurhayani Nurhayani Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nyoman Suci Widyastiti Ocky Karna Radjasa Onny Setiani Paulina Pida Perigrinus Hermin Sebong Purwanto Adhi Pireno Rahayu Utami Raihan Mahesa Ardiansyah Rizky Aulia Salsabila AM Rizqiana Fauziyyah Rr. Sri Ratna Rahayu Runjati Santri Pertiwi Sari Ningsih Selamat Budijitno Shofa Chasani Siti Hajar Husni Slamet Ali Mashar Soeharyo Hadisaputro Sofyan Cholid Sri Achadi Nugraheni Sri Djokomoeljanto Sri Wahyuningsih Suharyo Hadisaputro Suharyo Hadisaputro Sultana M.H Faradz Susanti Lestari Sutopo Patria Jati Sutopo Patria Jati Syarief Thaufik Tansya Sushan Purnaningrum Thijs Eijsvogels Tjahjono Kuntjoro Tonny Bachtiar Tri Indah Winarni Tri Joko Tuti Sandra Udin Bahrudin Uswatun Khasanah Widya Widya Yasinta Dian Kurniawati Yulizar Yulizar Yundri Yundri Yundri Yundri Yusniar Hanani Darundiati Zhafran Hafizhki Zubaeda Zubaeda