Claim Missing Document
Check
Articles

Karakterisasi Mutu Fisik Bulir 30 Genotipe Padi Generasi F5 Hasil Seleksi dari Persilangan Sintanur X PTB33 dan Pandanwangi X PTB33 Nono Carsono; Nita Fitria; Santika Sari; Dedi Ruswandi
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29779

Abstract

Perbaikan genetik padi saat ini tidak hanya mengarah pada peningkatan produktivitas saja, namun juga ke arah perbaikan mutu terutama karakter mutu beras yang disukai konsumen, seperti, ukuran, bentuk, dan penampilan butir beras. Dalam rangka mengembangkan karakter mutu fisik yang baik, telah dilakukan beberapa persilangan dari tetua-tetua yang terpilih, seperti Sintanur, Pandanwangi, dan PTB33. Hasil persilangan tersebut telah mencapai generasi F5, akan tetapi pengujian mutu fisik bulir belum dilakukan, sebelum galur-galur harapan tersebut dilepas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh genotipe padi unggul yang memiliki karakter mutu fisik bulir terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 34 genotipe (termasuk 4 varietas cek) dan dilakukan sebanyak 3 ulangan. Penampilan genotipe-genotipe padi yang diuji dibandingkan dengan varietas ceknya dievaluasi dengan menggunakan Least Significant Increase (LSI). Berdasarkan uji LSI, seluruh genotipe hasil persilangan varietas Pandanwangi X PTB33 (PP) dan SP87-25-29 memiliki mutu fisik bulir yang lebih baik dibandingkan tetuanya. Genotipe-genotipe yang telah terseleksi akan dilanjutkan guna pengujian adaptabilitas dan stabilitas.
Variabilitas Genotipe-Genotipe Mutan Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelv.) Generasi MV5 Hasil Irradiasi Sinar Gamma Dedeh Kurniasih; Dedi Ruswandi; Murdaningsih Haeruman Karmana; Warid Ali Qosim
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.382 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10881

Abstract

ABSTRACTVariability of mutant genotypes chrysanthemum (Dendranthema grandiflora Tzvelv.) fifth generationsthrough gamma iIrradiationDendranthema grandiflorum Tzvelv. is a major floriculture in Indonesia, and it is one of the five most popular flowers in Indonesia. Chrysanthemum varieties in Indonesia is largely the introduced varieties. Chrysanthemum hybridization especially for decorative flower type in order to obtain superior varieties is relatively difficult, so the mutation breeding is one approach that can be taken to get the chrysanthemum varieties with different phenotypic performances with the that parent.The purpose of this study was to obtain information genetic and phenotypic variability characters observed on chrysanthemum irradiated with gamma ray. The experiment was conducted by an experimental method using a randomized block design (RBD). The treatments consisted of 37 mutants genotypes and 11 genotypes chrysanthemums parent as controls with two replications. The results of this study indicated that the genotypes tested had broad genetic and phenotipic variation for the plant height, flower diameter, number of flower and neck lengths.Key words: Chrysanthemum mutants, Variability, Gamma ray irradiation.ABSTRAKKrisan merupakan komoditas tanaman hias utama di Indonesia dan paling banyak diminati masyarakat. Varietas-varietas krisan yang beredar di Indonesia sebagian besar merupakan varietas introduksi. Persilangan krisan khususnya untuk tipe bunga dekoratif dalam rangka memperoleh varietas unggul relatif sulit dilakukan, sehingga pemuliaan mutasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk mendapatkan varietas krisan dengan penampilan fenotipik yang berbeda dengan induknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi variabilitas genetik dan fenotipik karakter-karakter yang diamati pada tanaman krisan yangd iradiasi dengan sinar gamma. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas 37 genotipe mutan krisan dan 11 genotipe tetua krisan sebagai kontrol dengan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang diuji memiliki variabilitas yang luas untuk karakter tinggi tanaman, diameter bunga, jumlah kuntum dan panjang tangkai bunga.Kata kunci: Mutan krisan, Variabilitas, Sinar gamma
Interaksi Genotipe x Lingkungan, Stabilitas dan Adaptasi Jagung Hibrida Harapan UNPAD di 10 Lokasi di Pulau Jawa M. Saraswati; A. N. Oktafian; Agung Karuniawan; Dedi Ruswandi
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6800

Abstract

Sembilan genotip jagung hibrida Harapan Unpad diseleksi berdasarkan interaksi G × E, stabilitas, adaptasi dan daya hasil. Percobaan dilakukan di sepuluh lokasi di Pulau Jawa, yaitu Ciamis, Tasik-Gombong, Tasik- SPMA, Cianjur, Lembang, Karawang, Nganjuk BLGBG, Nganjuk-Pace, Jatinangor dan Tanjung Sari. Dari Pebruari 2005−Juli 2006. Percobaan untuk setiap lokasi disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua ulangan dan satu kultivar cek Bisi-2. Uji Homogenitas Barlett digunakan untuk melihat homogenitas varians galat dari beberapa lokasi. Analisis gabungan dilakukan jika varians galat homogen. Analisis gabungan memperlihatkan adanya interaksi G × E untuk semua karakter yang diamati. Berdasarkan analisis stabilitas ternyata semua hibrida Unpad memperlihatkan penampilan yang tidak stabil, sehingga direkomendasikan untuk dibudidayakan pada lingkungan yang spesifik. Uji multilokasi di Pulau Jawa juga berhasil menyeleksi hibrida Unpad baru, yaitu: S6A*1 ×11, S6A*11 × 11, S6A*90 × 11, S6A*25 × 18, S6A*29 × 11, dan S6A*37 × 11.
Pewarisan Karakter Ketahanan Terhadap Antraknos (Colletotrichum gloeosporoides) Pada Hasil Persilangan Tanaman Cabai Ungu x Cabai Merah Genotip RS07 Dewi Yustisiani; Winny Dewi W.; Meddy Rachmadi; Dedi Ruswandi; Neni Rostini; R. Setiamihardja
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6746

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pewarisan ketahanan terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Percobaan lapangan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang dan percobaan laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor sejak bulan Januari sampai bulan April 2004. Bahan penelitian di lapangan terdiri atas populasi P1 (cabai ungu), P2 (cabai merah RS07), F1 (cabai ungu × cabai merah RS07), BC11, BC12, dan F2. Hasil percobaan lapangan, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit tergolong sedang dan dalam arti luas tergolong tinggi, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong cukup tinggi. Hasil percobaan laboratorium, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan tanaman cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit maupun arti luas, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong tinggi.
Uji BUSS dan Penampilan Fenotipik Beberapa Genotip Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Pasuruan Hendrik Yustra Gunawan; Neni Rostini; Dedi Ruswandi
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6856

Abstract

Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pengujian BUSS terhadap lima genotip cabai merah yang diuji dan mendapatkan informasi mengenai penampilan fenotipik sepuluh genotip cabai merah. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan genotip cabai merah yang mempunyai penampilan fenotipik yang lebih unggul dari varietas pembandingnya. Percobaan dilaksanakan di Dinas Pertanian Kebun Benih Hortikultura, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ketinggian tempat sekitar 950 diatas permukaan laut (dpl), tipe curah hujan menurut Schmidt-Ferguson (1951) termasuk ke dalam curah hujan tipe D (sedang). Percobaan dilakukan pada bulan Juni sampai bulan November 2010. Genotip-genotip yang diuji adalah RS-07, RM 08A x KRTRM 1B, KRTRM Up Right, RM 08A x RTRM 1A, dan KRT Shatol serta pembandingnya Tanjung-1, Tanjung-2, Tit Super, Laris dan Lembang-1. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sepuluh perlakuan diulang tiga kali. Hasil uji BUSS menunjukan terdapat 22 karakter yang berbeda dari lima genotip cabai merah yang diuji dengan pembandingnya dan kelima genotip yang diuji memenuhi unsur kebaruan, keunikan, keseragaman dan kestabilan. Berdasarkan karakter bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot, genotip yang memiliki penampilan lebih baik dari pembandingnya adalah genotip RS 07, genotip RM 08A × KRTRM 1B, genotip KRT Shatol dan genotip RM 08A x KRTRM 1A.
Analisis rata-rata generasi jagung Unpad toleran naungan pada sistem agroforestri dengan albizia di Jawa Barat Muhammad Syafi'i; Dedi Ruswandi
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3301

Abstract

Aksi gen yang berperan terhadap suatu karakter dapat dipelajari dan dijadikan dasar dalam menentukan metode seleksi kegiatan pemuliaan. Analisa rata-rata generasi (generation mean analysis) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menduga aksi gen, baik aditif, dominan dan interaksi non-alelik (epistasis) terhadap ekspresi suatu karakter. Metode ini digunakan untuk menduga model genetik yang berperan dalam ekspresi suatu karakter. Tujuan riset untuk menduga peran gen jagung toleran naungan pada sistem agroforestri dengan albizia. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2015 - Maret 2016 di Kebun Percobaan Kutamandiri, Kabupaten Sumedang. Materi genetik yang digunakan adalah galur toleran naungan M7DR 4.8.8, galur peka naungan G-203-1, F1 hasil persilangan G-2031 x M7DR 4.8.8, F2 keturunan dari F1, dan BC1F1 dan BC2F1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter jumlah baris per tongkol terdapat kesesuaian model dengan aditif-dominan dan tidak terdapat efek epistasis pada hasil persilangan antara G-2031 x M7DR 4.8.8. Model genetik m [d] [h] [i] sesuai dengan karakter tinggi tanaman dan  bobot pipil per tongkol; model m [d] [h] [i] [l] sesuai dengan karakter  panjang  ruas, diameter tongkol, dan karakter bobot tongkol per tongkol; dan model m [d] [h] [j] [l] sesuai dengan karakter panjang tongkol. Karakter kadar klorofil tidak memiliki kesesuaian dengan model genetik yang diduga.ABSTRACTGene action that has a role in a character can be studied and used as a basic on determining the method of selection in breeding programs. Generation mean analysis is one of the methods that can be used to estimate the gene action, both additive, dominant and non-allelic (epistatic) interactions to the expression of a character. The method was used to predict the genetic model that plays a role in the expression of a character. The objective of the research was to predict the role of shade tolerant maize genes in the agroforestry system with albizia. The research was conducted on October 2015 - March 2016 at Kutamandiri Experiment Garden, Kabupaten Sumedang. The genetic materials was the shade tolerant line M7DR 4.8.8, shade susceptible G-203-1, F1 derived from G-2031 x M7DR 4.8.8, F2 breeds from F1, and BC1F1 and BC2F1. The results showed that number of row per cob character was suitable to the dominant additive model and there was no effect of epistasis on the crosses between G-2031 x M7DR 4.8.8. The genetic model m [d] [h] [i] corresponded to the plant height and the weight of seed per cob; model m [d] [h] [i] [l] corresponded to the character of the length of the node, cob diameter, and cob weight per ear; and the m [d] [h] [j] [l] model corresponded to the cob lenght character. The chlorophyll content character has no corresponding alleged genetic model.
Stabilitas dan adaptabilitas daya hasil hibrida jagung manis padjadjaran berdasarkan analisis AMMI Dedi Ruswandi; Edy Suryadi; Muhammad Syafii; Anne Nuraini; Yuyun Yuwariah
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8153

Abstract

Evaluasi interaksi G x E melalui pengujian multilokasi merupakan tahapan penting untuk menentukan stabilitas dan adaptabilitas hibrida superior. Untuk menentukan interaksi G x E, stabilitas dan adaptabilitas hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat, enam belas hibrida Padjadjaran dan dua hibrida komersial diuji di tiga lokasi selama dua musim yang berbeda di Jawa Barat- Indonesia. Hasil memperlihatkan bahwa biplot AMMI dapat dengan akurat menentukan interaksi G x E, stabilitas, dan adapatabilitas hasil hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat. Biplot AMMI mengidentifikasi bahwa hibrida jagung manis Padjadjaran G 10 sebagai jagung manis yang stabil di berbagai lokasi pengujian dan musim di Jawa Barat, sedangkan hibrida jagung manis Padjadjaran G5 dan Padjadjaran G11 sebagai hibrida yang spesifik lingkungan.  Biplot AMMI disarankan sebagai alat menentukan hibrida superior yang akan dilepas di Indonesia.Evaluation of genotype (G) x environment (E) interaction through multi-location testing is an important phase to determined stability and adaptability of superior hybrid. To determined G x E interaction, stability and adaptability of Padjadjaran sweet corn hybrids, sixteen new Padjadjaran sweetcorn hybrids and two commercial hybrids were tested in three locations for two different seasons in West Java, Indonesia.  Results showed that AMMI biplot was accurately determined G x E interaction, stability and adaptability of Indonesian sweet corn in West Java for yield. The AMMI biplot determined Padjadjaran G 10 sweetcorn hybrid as a stable hybrid across locations and seasons in West Java, while Padjadjaran G5 and G11 as the specific environment hybrid. The AMMI biplot is suggested to implement as a tool to release particular superior hybrid in Indonesia. Key words : Adaptability, AMMI, G x E interaction, Sweetcorn, Stabilit
KUALITAS BENIH JAGUNG MANIS CALON TETUA HIBRIDA UNPAD SETELAH EMPAT BULAN PENYIMPANAN Rezeki Simamora; Anne Nuraini; M Kadapi; Dedi Ruswandi
Agros Journal of Agriculture Science Vol 20, No 2 (2018): Edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.179 KB) | DOI: 10.37159/jpa.v20i2.601

Abstract

Rendahnya produktivitas jagung manis di dalam negeri belum dapat menyeimbangi tingginya permintaan jagung manis. Adanya langkah pengembangan benih hibrida menjadi suatu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut. Beberapa koleksi genotipe benih jagung manis hibrida tunggal yang memiliki latar belakang genetik yang berbeda terdiri dari genotipe P dan SR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui genotipe mana yang dapat mempertahanankan kualitas benihnya setelah 4 bulan penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dua ulangan dengan 16 genotipe sebagai perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila berbeda nyata maka diuji lanjut dengan uji Scott Knott. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nyata pada parameter bobot 100 butir, daya berkecambah, keserempakan tumbuh pada 2 bulan setelah penyimpanan dan kadar air, bobot 100 butir, keserempakan tumbuh pada 4 bulan setelah penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe P3 x P2 (x) (3) merupakan genotipe calon tetua hibrida yang mampu mempertahankan kualitasnya setelah 4 bulan penyimpanan
Penilaian Tingkat Respon Galur Jagung Unpad Toleran Naungan pada Sistem Agroforestri dengan Albizia (Albizia falcataria L.) Berdasarkan Komponen Indeks Toleransi Muhammad Syafi’i; Ika Ika Cartika; Dedi Ruswandi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.585 KB) | DOI: 10.33661/jai.v1i2.316

Abstract

Pengembangan jagung dibawah tegakan sengon pada sistem agroforestri merupakan alternatif dalam mengatasi berkurangnya lahan jagung karena beralih fungsi menjadi daerah industri dan pemukiman. Akan tetapi masalah yang timbul adalah berkurangnya intensitas cahaya karena naungan sengon, sehingga diperlukan jagung toleran terhadap intensitas cahaya rendah. beberapa indeks toleransi yang dihitung dalam penelitian ini terdiri dari rata-rata hasil (MP), rata-rata hasil geometrik (GMP), indeks toleransi terhadap cekaman (STI), indeks stabilitas terhadap cekaman (SSI), toleransi terhadap cekaman (TOL), indeks hasil (YI) dan indeks stabilitas hasil (YSI), serta untuk memahami hubungan antara indeks toleransi pada masing-masing genotip dilakukan analisis komponen utama (PCA) dan analisis klaster (AHC). Indeks toleransi dihitung berdasarkan potensi hasil pada kondisi tanpa bercekaman (Yp) dan hasil pada kondisi cekaman naungan (Ys).  Hasilnya menunjukan Yp dan Ys berkorelasi signifikan dan positif dengan MP, GMP dan STI. Oleh karena itu ketiga indeks tersebut dianggap sebgai indeks toleransi terbaik untuk mengukur tingkat toleransi genotip jagung terhadap naungan dibanding TOL, SSI dan YSI. Analisis komponen utama mengklasifikasikan genotip menjadi 2 komponen utama. Kedua PC tersebut memiliki eigen value >1 dan berkontribusi terhadap variabilitas antar genotip sebesar 98.50%. PC1 berkontribusi sebesar  69.42 dari Yp dan indeks TOL, MP, GMP, SSI, dan STI. PC2 memberikan kontribusi terhadap keragaman sebesar 29.08% dari Ys dan indeks YI. Analisis klaster berdasarkan indeks toleransi membagi genotip menjadi empat kelompok, menunjukan variabilitas genetik yang cukup tinggi sehingga bisa dijadikan dasar untuk pemilihan dan pengembangan genotip jagung toleran terhadap naungan sengon. Kata kunci : agroforestri, indeks toleransi, jagung.
Variabilitas Fenotipik Komponen Hasil Galur Jagung Manis Padjadjaran SR Generasi S3di Arjasari Nurul Fitri Hanifah; Suseno Amien; Dedi Ruswandi
Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Agrotek Indonesia (Indonesian Journal of Agrotech)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.096 KB) | DOI: 10.33661/jai.v3i1.1165

Abstract

Variabilitas fenotipik merupakan informasi yang penting untuk menentukan keberhasilan seleksi agar prosesseleksi berjalan efektif dan efisien dalam rangkaian program pemuliaan tanaman. Penelitian untuk mengetahuiinformasi variabilitas fenotipik pada komponen hasil tanaman yang berpengaruh langsung terhadap hasil tanamanjagung manis merupakan kajian yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas tanaman jagung manis.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh informasi variabilitas fenotipik pada komponen hasilgenotip jagung manis S3. Percobaan telah dilakukan di lahan SPLPP Fakultas Pertanian Universitas Padjadajaran,Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung pada bulan Maret sampai Agustus 2016. Percobaan disusun berdasarkanmetode rancangan percobaan tanpa tata ruang, selanjutnya dilakukan analisis variabilitas fenotipik terhadap hasilpengamatan karakter yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotif jagung manis yang diamatimempunyai variabilitas fenotipik antar genotip yang luas pada komponen hasil yang diamati baik pada genotip hasilselfed derived populations, single crossed derived populations, three way crossed derived populations, maupun doublecrossed derived population.Kata kunci : Jagung manis, komponen hasil, variabilitas fenotipik.
Co-Authors A. N. Oktafian A. Setyawan A. Setyawan, A. Ade Ismail Ade Ismail Adilah Nurul Fitrah Aep Wawan Irwan Aep Wawan Irwan Aep Wawan Irwan Agung Karuniawan Agus Wahyudin Agus Wahyudin Agus Wahyudin Andhita Zata Dini Dini Anindya, Marsya Nabila ANNE NURAINI Aprianti Resti Saputri Ayu Fitriani Bastamansyah, Bastamansyah Betty Natalie Fitriatin Budiman, Muhammad Nafariz Citra Bakti, Citra Dedeh Kurniasih Desri Nursyahbani Putri Dewi Yustisiani Dhany Esperanza Edi Suryadi Edy Suryadi Elia Azizah Elia Azizah, Elia Fadhilah, Rifat Fadhillah, Farhan Fakhri Nasharul Syihab Febri Hendrayana Fiky Yulianto Wicaksono Fiky Yulianto Wicaksono Fiky Yulianto Wicaksono Hafsah Ashri Noor Azizah Haysa, Qinthara Nail Hendrik Yustra Gunawan Ika Ika Cartika Jajang Supriatna Jajang Supriatna Khalisha, Ana M Kadapi M. Saraswati Marsya Nabila Anindya Maulana , Haris Meddy Rachmadi Moh Ali Abdullah Muhamad kadapi, Muhamad Muhamad Sahrul Sidik Muhammad Syafi'i Muhammad Syafi'i Muhammad Syafii Muhammad Syafii Muhammad Syafi’i Muhammad, Damara Bakti Muharam, Muharam Murdaningsih Haeruman Karmana Nadia Nuraniya Kamaluddin Neni Rostini Nita Fitria Noladhi Wicaksana Nono Carsono Nono Carsono Novanda Sari, Dwi Nurul Fitri Hanifah Nyimas Poppi Indriani Pujawati Suryatmana R. Setiamihardja Rahmi, Hayatul Rama Adi Pratama Rezeki Simamora Rianti, Winda Rija Sudirja Rudianto, Safira Damayanti Rumidatul, Alfi Santika Sari Sativa, Novriza Sheli Mustikasari Dewi Soendajana, Audi Razaqa Sugiarto S Sugiono, Darso SUMADI SUMADI Sumadi Sumadi Supriadi, Devie Rienzani Suseno Amien Syihab, Fakhri Nasharul WARID ALI QOSIM Winny Dewi W. Yayat Hidayat Yudithia Maxiselly, Yudithia Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah Yuyun Yuwariah