Claim Missing Document
Check
Articles

UPAYA PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PEMBERDAYAAN KADER STUNTING DI KELURAHAN BINAAN PCM PONTIANAK BARAT Selviana Selviana; Linda Suwarni
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i2.14099

Abstract

ABSTRAKStunting menjadi salah satu permasalahan yang terdapat di kelurahan Binaan PCM Pontianak Barat, yaitu kondisi tinggi badan seseorang  anak lebih pendek dibanding tinggi sesuai umur disebabkan malnutrisi kronik yang menggambarkan riwayat kurang gizi balita dalam jangka waktu lama. Kelurahan Pal Lima merupakan salah satu lokasi kasus intervensi stunting terintegrasi di Kota Pontianak. Data menunjukkan terdapat 85 balita stunting di Kelurahan Pal Lima. Kader stunting yang ada di kelurahan tersebut masih belum memiliki kapasitas yang optimal dalam pencegahan dan penanganan stunting. Tujuan kegiatan ini untuk mencegah stunting melalui pemberdayaan kader stunting di Kelurahan Binaan PCM Pontianak Barat. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metode Participatody Rural Appraisal (PRA), melalui kegiatan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. Hasil kegiatan adalah terlaksanakanya lokakarya mini, peningkatan kapasitas kader stunting sebesar 31,35%, sosialisasi aplikasi BUSAKIE, pelatihan dan praktek pembuatan MP ASI, dan Pelatihan packing produk dan pemasaran online pada kelompok UKM. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat mengoptimalkan peran kader stunting dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah tersebut. Kata Kunci: pemberdayaan masyarakat; stunting; kelurahan binaan; kader ABSTRACTStunting is one of the problems found in the PCM West Pontianak sub-district, namely the condition of a child's height being shorter than height for age due to chronic malnutrition which describes a long-term history of undernourishment in toddlers. Pal Lima Village is one of the locations for integrated stunting intervention cases in Pontianak City. Data shows that there are 85 stunted toddlers in the Pal Lima Village. Stunting cadres in the district still do not have optimal capacity in preventing and treating stunting. The purpose of this activity is to prevent stunting through empowering stunting cadres in the PCM Pontianak Barat Foster Village. The method used is a community empowerment approach using the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, through ongoing outreach, counseling, training and mentoring activities. The results of the activity were the implementation of a mini workshop, an increase in the capacity of stunting cadres by 31.35%, socialization of the BUSAKIE application, training and practice on making MP ASI, and training on product packing and online marketing for the SME group. It is hoped that this activity can optimize the role of stunting cadres in efforts to prevent and treat stunting in the region. Keywords: community empowerment; stunting; foster village; cadres
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Angka Kuman Pada Ayam Suwir Bubur Ayam Yang Dijual Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Durian Ufi Ruhama; Winda Kartika Sari; Selviana Selviana
Jumantik Vol 7, No 2 (2020): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Peneliti Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v7i2.2737

Abstract

Ayam suwir dalam bubur ayam diperoleh dengan cara menarik serat daging menggunakan tangan dan pisau kecil menjadi bentuk yang lebih kecil dan halus sehingga berisiko menimbulkan cemaran mikroba. Pada saat uji pendahuluan 3 dari 5 sampel daging ayam suwir yang diperiksa mengandung angka kuman yang tidak memenuhi syarat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Angka Kuman Pada Ayam Suwir Bubur Ayam Yang Dijual Di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Durian. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan Cross Sectional. Sampel diambil secara total populasi dengan jumlah 33 pedagang bubur ayam di wilayah Puskesmas Sungai Durian. Uji statistik yang digunakan adalah fisher’s exact test. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara cara penyimpanan (p = 0,003), lama penyimpanan (p = 0,003), peralatan penyuwiran (p = 0,000), personal hygiene (p = 0,000) dengan angka kuman pada ayam suwir bubur ayam.Diharapkan kepada pedagang bubur ayam untuk memperhatikan hygiene sanitasi makanan khususnya terkait cara penyimpanan, lama penyimpanan, pera
PEMETAAN FAKTOR RESIKO STUNTING PADA IBU HAMIL DI UPT PUSKESMAS PAL LIMA Selviana; Yoga Prakasa Putra; Linda Suwarni
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 18 No. 2 (2023): Avicenna: Jurnal Ilmiah
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v18i2.5613

Abstract

Backgorund: Stunting incidence in Indonesia is 21.6% which is still quite high compared to the target in 2024 of 14%. Primary prevention efforts are essential in reducing the number of stunts through mapping stunting risk factors in pregnant women so that intervention programs can be carried out as a stunting prevention effort. Objective: This study aims to map the risk factors of stunting in pregnant women in the UPT Puskesmas Pal V Town of Pontianak. Method: This research includes observational research with a descriptive approach. The popilation of this study is the entire pregnant women by 2023 in the UPT Puskesmas Pal V city of Pontianak, which is a total of 22 people. The sample used total sampling. Cata analysis uses univariates by describing risk factors in percentage and in mapping from. Result: The study obtained 20.9% had anemia in mothers, 13.6% had Chronic Energy Deficiency (CED), and the age at risk was less than 20 years old (22.7%). Conclusion: Support is needed in pregnant women who are at risk of having a stunting child by local health woorkers so that they can prevent a child born from having stunting at age 2 years old.eywords : Prevention Model, Local Wisdom, Stunting, Mapping Stunting Risk Factor
Faktor Resiko dan Spasial Kejadian Campak Pada Anak di Kota Pontianak Tahun 2023 Ditha Fadhila; Selviana Selviana
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.84-92

Abstract

Latar belakang: Campak/morbilli adalah penyakit menular melalui udara yang terkontaminasi melalui droplet. Penyakit ini diakibatkan penularan virus Paramixoviridae (RNA), Virus ini  cepat mati oleh panas dan cahaya. Kejadian campak Kota Pontianak Januari-Maret 2023 mencapai 307 kasus. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor resiko dan spasial kejadian penyakit campak di Kota Pontianak. Metode: Metodologi penelitian menggunakan desain case control. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapatkan sampel sebesar 59 kasus : 59 kontrol. Analisis data secara bivariat menggunakan uji chi-square, multivariat menggunakan uji regresi logistic dan spasial untuk mengambarkan distribusi penyebaran kejadian campak di Kota Pontianak.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan faktor resiko kejadian campak pada anak di Kota Pontianak yaitu imunisasi campak  (p=0,003; OR=3,280), status imunisasi (p=0,025; OR=2,522), riwayat kontak serumah (p=0,002; OR=3,541), pemberian ASI ekslusif (p=0,026; OR = 2,495), suhu kamar (p=0,020; OR=2,712), dan kelembaban (p=0,007; OR=3,549). Sedangkan variabel yang tidak termasuk faktor resiko adalah status pemberian vitamin A (p=0,072; OR=2,580), kepadatan hunian (p=0,420; OR=1,803), dan pencahayaan (p=0,427; OR=1,485). Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya kontak serumah dengan penderita campak memberikan kontribusi positif paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak. Hasil spasial menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. Simpulan: Faktor resiko kejadian campak di Kota Pontianak terdiri dari imunisasi campak, status imunisasi, kontak serumah, ASI ekslusif, suhu, dan kelembaban. Kontak serumah mamberikan kontribusi positif yang paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak dengan spasial yang menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. ABSTRACT Title: Risk Factors and Spatial Measles Incidence in Children in Pontianak City in 2023Background: Measles/morbilli is an infectious disease through air contaminated by droplets from people infected with measles. Measles is caused by the Paramixoviridae (RNA) virus, a type of morbilli virus that is easily killed by heat and light. The incidence of measles in Pontianak City from January to March 2023 reached 307 cases. The aim of this research is to analyze the risk factors and spatial incidence of measles in Pontianak City in 2023.Method: The research methodology uses a case control design. Sample calculations used the Lemeshow formula to obtain a sample of 59 cases: 59 controls. Bivariate data analysis used the chi-square test, multivariate using logistic and spatial regression tests to describe the distribution of measles incidence in Pontianak City.Results: The results of the study show that the risk factors for measles in children in Pontianak City are measles immunization (p=0.003; OR=3.280), immunization status (p=0.025; OR=2.522), history of household contact (p=0.002; OR=3.541 ), exclusive breastfeeding (p=0.026; OR = 2.495), room temperature (p=0.020; OR=2.712), and humidity (p=0.007; OR=3.549). Meanwhile, variables that are not included as risk factors are vitamin A administration status (p=0.072; OR=2.580), residential density (p=0.420; OR=1.803), and lighting (p=0.427; OR=1.485), the results of multivariate analysis show that having household contact with measles sufferers provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak. The spatial results show that most of the houses of measles sufferers are close to each other.Conclusion: From the research results, it was found that several risk factors influence the incidence of measles in Pontianak City, consisting of measles immunization, immunization status, household contact, exclusive breastfeeding, temperature and humidity. Household contact provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak with spatial data showing that most of the homes of measles sufferers are close to each other.
Kesiapan Rumah Makan di Era New Normal Decha Suci Amelia; Linda Suwarni; selviana Selviana; Mawardi Mawardi
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 9 No 04 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v9i04.769

Abstract

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung selama 5 bulan sejak Maret 2020. Pandemi ini berdampak besar di semua sektor termasuk perekonomian. Saat ini, banyak negara yang mempersiapkan new normal di tengah pandemi Covid-19, termasuk Indonesia. Rumah Makan merupakan salah satu tempat umum yang harus dipersiapkan untuk New normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan rumah makan di Kota Pontianak selama periode new normal. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 90 Rumah makan di Kota Pontianak yang dipilih secara proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui kesiapan rumah makan selama periode new normal. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar rumah makan di Kota Pontianak belum menerapkan protokol kesehatan seperti hanya 24,4% rumah makan yang mewajibkan pengunjung memakai masker, 34,4% yang menjaga jarak fisik, 27,8% yang memasang peraturan kesehatan, 40,0% tidak tersedia sabun tangan. dan 76,7% tersedia tempat cuci tangan. Alasan pemilik rumah makan tidak mengikuti protokol kesehatan adalah hak konsumen/pengunjung dan juga tempat yang tidak memadai. Rumah makan di Kota Pontianak belum seluruhnya menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan peraturan pemerintah. Promosi kesehatan untuk perubahan perilaku diperlukan secara terus menerus melalui kampanye kesehatan dan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan di restoran guna menekan penularan Covid-19. Dapat disimpulkan bahwa rumah makan di Kota Pontianak belum siap menerapkan protokol kesehatan pada Era New normal dalam menghadapi covid 19.
Pendampingan Dan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Stunting Di Desa Sungai Kakap Selviana Selviana; Pratika Sari; Ditha Fadhila; Riszky Ramadhan
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 4 (2023): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i4.1435

Abstract

Stunting adalah kondisi dimana seseorang memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari pada yang umumnya terjadi pada orang sebaya. Sungai Kakap merupakan salah satu lokasi intervensi stunting yang terintegrasi di Kota Pontianak. Puskesmas Sungai Kakap mencatat adanya 206 kasus stunting di wilayahnya, dengan angka tertinggi terjadi di Desa Sungai Kakap sebanyak 105 kasus. Kegiatan ini melibatkan 30 kader kesehatan dari Desa Sungai Kakap sebagai mitra. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan peran kader kesehatan dalam memberikan informasi mengenai stunting kepada masyarakat, meningkatkan keterampilan pengukuran antropometri balita, pemantauan pertumbuhan balita secara digital, serta keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai makanan pendamping ASI. Pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat melalui metode Participatory Rural Appraisal (PRA), melalui serangkaian kegiatan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan yang berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini antara lain terlaksananya lokakarya kecil, peningkatan kapasitas kader kesehatan, sosialisasi aplikasi pemantauan pertumbuhan balita, serta promosi tentang ASI eksklusif di Desa Sungai Kakap. Terdapat peningkatan pengetahuan kader sebesar 60% mengenai stunting dan 68% mengenai ASI eksklusif setelah kegiatan ini dilaksanakan Assistance and Capacity Building for Health Cadres in Efforts to Prevent Stunting in Sungai Kakap Village  Stunting is a condition where a person has a shorter height than is generally found in people of the same age. Kakap River is one of the integrated stunting intervention locations in Pontianak City. Sungai Kakap Community Health Center recorded 206 cases of stunting in its area, with the highest figure occurring in Sungai Kakap Village with 105 cases. This activity involved 30 health cadres from Sungai Kakap Village as partners. The aim of this service activity is to increase the knowledge and role of health cadres in providing information about stunting to the community, improve skills in anthropometric measurements of toddlers, monitor toddler growth digitally, as well as community skills in utilizing local food as complementary food for breast milk. The approach used is community empowerment through the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, through a series of ongoing outreach, counseling, training and mentoring activities. The results of this activity include the implementation of small workshops, increasing the capacity of health cadres, socializing the toddler growth monitoring application, and promoting exclusive breastfeeding in Sungai Kakap Village. There was an increase in cadres' knowledge of 60% regarding stunting and 68% regarding exclusive breastfeeding after this activity was implemented
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly) dalam Pengolahan Sampah Organik Di Ponpes Darul Fikri Desa Sungai Belidak Selviana Selviana; Diki Fahrozi Almuharami; Aji Abdurrahman
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 4 (2024): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i4.2241

Abstract

Desa Sungai Belidak merupakan salah satu desa dengan produksi buah musiman melimpah seperti pisang, langsat, dan durian, yang menyebabkan limbah buah-buahan selama musim panen. Limbah ini, bersama dengan sampah dari Pondok Pesantren Darul Fikri, menciptakan masalah lingkungan seperti bau tak sedap dan penurunan estetika. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah organik di Desa Sungai Belidak dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau larva lalat hitam (maggot). Maggot BSF dikenal efektif mengonversi limbah organik menjadi pupuk dan pakan ternak. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan sebanyak 30 santri dalam pelatihan budidaya maggot BSF dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan (p value=0,000) dalam pengetahuan (67,5% dan sikap (31,1%)  santri terhadap pengelolaan sampah setelah pelatihan. Budidaya maggot BSF tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui penjualan pupuk organik dan pakan ternak. Dengan pendampingan berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah di Ponpes Darul Fikri. Community Empowerment Through Cultivation of BSF Maggots (Black Soldier Fly) in Organic Waste Processing at Ponpes Darul Fikri Village Sungai Belidak Sungai Belidak Village is one of the villages with abundant seasonal fruit production such as bananas, langsat and durian, which causes fruit waste during the harvest season. This waste, together with waste from the Darul Fikri Islamic Boarding School, creates environmental problems such as unpleasant odors and aesthetic degradation. This research aims to overcome the problem of organic waste management in Sungai Belidak Village by utilizing Black Soldier Fly (BSF) or black fly larvae (maggot). BSF Maggot is known to be effective in converting organic waste into fertilizer and animal feed. The approach used is Participatory Rural Appraisal (PRA) by involving students in training on BSF maggot cultivation and implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). The results showed a significant (p value=0,000) increase in students' knowledge (67,5%) and attitudes (31,1%) towards waste management after the training. BSF maggot cultivation not only reduces organic waste, but also has the potential to increase the community's economic income through the sale of organic fertilizer and animal feed. With ongoing assistance, this program is expected to become a sustainable solution in waste management at the Darul Fikri Islamic Boarding School.  
Effectiveness of Sambas Language Health Promotion Video on Food Hygiene Sanitation at KWT Rose in Tambatan Village Salsa Septiani Nur; Linda Suwarni; Selviana, Selviana
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 7 (2025): July 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i7.7163

Abstract

Introduction: Food sanitation hygiene is the process of minimizing food contamination from various sources to control risk factors for food contamination that could potentially cause health problems. Video media can stimulate two senses, namely the eyes and ears, which makes understanding clearer for the audience. This research aims to improve the knowledge and attitude of Rose Women Farmers Group (KWT) regarding Food Hygiene Sanitation in Tambatan Village, Sambas Regency. Methods: Pre-Experiment design with one group pre-test and post-test approach was used in this study. It was conducted in Tambatan Village, Teluk Keramat Sub-district, Sambas Regency from September to December 2024. The research sample of 30 respondents was determined through total sampling technique. The research instrument used a specially designed questionnaire to collect data on food sanitation hygiene. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis using Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test showed a difference in the mean knowledge and attitude scores between before and after the sambas language video media intervention was given. The mean knowledge score increased from 5.03 to 9.43 (p-value = 0.000 < 0.05) and the mean attitude score increased from 38.57 to 47.33 (p-value = 0.000 < 0.05). Conclusion: It can be concluded that health promotion using sambas language videos is proven effective in improving KWT Rose's knowledge and attitude regarding food sanitation hygiene.
Effectiveness of Banana Peel Ash, Zeolite and Clam Shells in Reducing Waterturbidity and Iron (Fe) Contentration Selviana, Selviana; Kamaran; Suwarni, Linda; Suharno
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 3 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i3.314

Abstract

One method to reduce iron content and water turbidity is to use banana peel coagulants and zeolite and clam shell filtration. The biochemical components in banana peels are believed to be effective in reducing turbidity and heavy metals, while zeolites and clam shells function to reduce iron levels in water. This study aims to determine the effectiveness of kepok banana peel ash coagulant (Musa acuminate balbisiana C.) and zeolite and clam shell filtration in reducing turbidity and iron (Fe) content in river water in Punggur Kecil Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. The research method used was a quasi-experiment with a one-group pretest-posttest design, taking river water samples in Punggur Kecil Village, as many as 27 samples from 9 repetitions. Data were analyzed descriptively with the paired sample t-test statistical test. The results of the analysis showed that river water treatment using banana peel ash coagulant and clam shell filtration and zeolite decreased the average iron (Fe) content from 2.21 mg/l to 0.25 mg/l, with an effectiveness of 88.18%, but there was no significant change. While the average decrease in turbidity levels was from 57.67 NTU to 17.6 NTU, with an effectiveness of 65.56%, the results were also not significant. The results of the paired t-test showed a significant difference before and after treatment in iron content with a value of 0.000 (p < 0.05) and turbidity content with a value of 0.003 (p < 0.05). The conclusion of this study shows a significant difference in iron (Fe) and turbidity levels, but this treatment method has not been effective in reducing the level of turbidity of river water. The conclusion of this study shows a significant difference in iron (Fe) and turbidity levels, but this treatment method has not been effective in reducing the level of turbidity of river water.