Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor Resiko dan Spasial Kejadian Campak Pada Anak di Kota Pontianak Tahun 2023 Ditha Fadhila; Selviana Selviana
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.84-92

Abstract

Latar belakang: Campak/morbilli adalah penyakit menular melalui udara yang terkontaminasi melalui droplet. Penyakit ini diakibatkan penularan virus Paramixoviridae (RNA), Virus ini  cepat mati oleh panas dan cahaya. Kejadian campak Kota Pontianak Januari-Maret 2023 mencapai 307 kasus. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor resiko dan spasial kejadian penyakit campak di Kota Pontianak. Metode: Metodologi penelitian menggunakan desain case control. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapatkan sampel sebesar 59 kasus : 59 kontrol. Analisis data secara bivariat menggunakan uji chi-square, multivariat menggunakan uji regresi logistic dan spasial untuk mengambarkan distribusi penyebaran kejadian campak di Kota Pontianak.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan faktor resiko kejadian campak pada anak di Kota Pontianak yaitu imunisasi campak  (p=0,003; OR=3,280), status imunisasi (p=0,025; OR=2,522), riwayat kontak serumah (p=0,002; OR=3,541), pemberian ASI ekslusif (p=0,026; OR = 2,495), suhu kamar (p=0,020; OR=2,712), dan kelembaban (p=0,007; OR=3,549). Sedangkan variabel yang tidak termasuk faktor resiko adalah status pemberian vitamin A (p=0,072; OR=2,580), kepadatan hunian (p=0,420; OR=1,803), dan pencahayaan (p=0,427; OR=1,485). Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya kontak serumah dengan penderita campak memberikan kontribusi positif paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak. Hasil spasial menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. Simpulan: Faktor resiko kejadian campak di Kota Pontianak terdiri dari imunisasi campak, status imunisasi, kontak serumah, ASI ekslusif, suhu, dan kelembaban. Kontak serumah mamberikan kontribusi positif yang paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak dengan spasial yang menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. ABSTRACT Title: Risk Factors and Spatial Measles Incidence in Children in Pontianak City in 2023Background: Measles/morbilli is an infectious disease through air contaminated by droplets from people infected with measles. Measles is caused by the Paramixoviridae (RNA) virus, a type of morbilli virus that is easily killed by heat and light. The incidence of measles in Pontianak City from January to March 2023 reached 307 cases. The aim of this research is to analyze the risk factors and spatial incidence of measles in Pontianak City in 2023.Method: The research methodology uses a case control design. Sample calculations used the Lemeshow formula to obtain a sample of 59 cases: 59 controls. Bivariate data analysis used the chi-square test, multivariate using logistic and spatial regression tests to describe the distribution of measles incidence in Pontianak City.Results: The results of the study show that the risk factors for measles in children in Pontianak City are measles immunization (p=0.003; OR=3.280), immunization status (p=0.025; OR=2.522), history of household contact (p=0.002; OR=3.541 ), exclusive breastfeeding (p=0.026; OR = 2.495), room temperature (p=0.020; OR=2.712), and humidity (p=0.007; OR=3.549). Meanwhile, variables that are not included as risk factors are vitamin A administration status (p=0.072; OR=2.580), residential density (p=0.420; OR=1.803), and lighting (p=0.427; OR=1.485), the results of multivariate analysis show that having household contact with measles sufferers provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak. The spatial results show that most of the houses of measles sufferers are close to each other.Conclusion: From the research results, it was found that several risk factors influence the incidence of measles in Pontianak City, consisting of measles immunization, immunization status, household contact, exclusive breastfeeding, temperature and humidity. Household contact provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak with spatial data showing that most of the homes of measles sufferers are close to each other.
Kesiapan Rumah Makan di Era New Normal Decha Suci Amelia; Linda Suwarni; selviana Selviana; Mawardi Mawardi
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 9 No 04 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v9i04.769

Abstract

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung selama 5 bulan sejak Maret 2020. Pandemi ini berdampak besar di semua sektor termasuk perekonomian. Saat ini, banyak negara yang mempersiapkan new normal di tengah pandemi Covid-19, termasuk Indonesia. Rumah Makan merupakan salah satu tempat umum yang harus dipersiapkan untuk New normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan rumah makan di Kota Pontianak selama periode new normal. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 90 Rumah makan di Kota Pontianak yang dipilih secara proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui kesiapan rumah makan selama periode new normal. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar rumah makan di Kota Pontianak belum menerapkan protokol kesehatan seperti hanya 24,4% rumah makan yang mewajibkan pengunjung memakai masker, 34,4% yang menjaga jarak fisik, 27,8% yang memasang peraturan kesehatan, 40,0% tidak tersedia sabun tangan. dan 76,7% tersedia tempat cuci tangan. Alasan pemilik rumah makan tidak mengikuti protokol kesehatan adalah hak konsumen/pengunjung dan juga tempat yang tidak memadai. Rumah makan di Kota Pontianak belum seluruhnya menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan peraturan pemerintah. Promosi kesehatan untuk perubahan perilaku diperlukan secara terus menerus melalui kampanye kesehatan dan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan di restoran guna menekan penularan Covid-19. Dapat disimpulkan bahwa rumah makan di Kota Pontianak belum siap menerapkan protokol kesehatan pada Era New normal dalam menghadapi covid 19.
Pendampingan Dan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan Dalam Upaya Pencegahan Stunting Di Desa Sungai Kakap Selviana Selviana; Pratika Sari; Ditha Fadhila; Riszky Ramadhan
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 5 No. 4 (2023): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v5i4.1435

Abstract

Stunting adalah kondisi dimana seseorang memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari pada yang umumnya terjadi pada orang sebaya. Sungai Kakap merupakan salah satu lokasi intervensi stunting yang terintegrasi di Kota Pontianak. Puskesmas Sungai Kakap mencatat adanya 206 kasus stunting di wilayahnya, dengan angka tertinggi terjadi di Desa Sungai Kakap sebanyak 105 kasus. Kegiatan ini melibatkan 30 kader kesehatan dari Desa Sungai Kakap sebagai mitra. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan peran kader kesehatan dalam memberikan informasi mengenai stunting kepada masyarakat, meningkatkan keterampilan pengukuran antropometri balita, pemantauan pertumbuhan balita secara digital, serta keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai makanan pendamping ASI. Pendekatan yang digunakan adalah pemberdayaan masyarakat melalui metode Participatory Rural Appraisal (PRA), melalui serangkaian kegiatan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan yang berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini antara lain terlaksananya lokakarya kecil, peningkatan kapasitas kader kesehatan, sosialisasi aplikasi pemantauan pertumbuhan balita, serta promosi tentang ASI eksklusif di Desa Sungai Kakap. Terdapat peningkatan pengetahuan kader sebesar 60% mengenai stunting dan 68% mengenai ASI eksklusif setelah kegiatan ini dilaksanakan Assistance and Capacity Building for Health Cadres in Efforts to Prevent Stunting in Sungai Kakap Village  Stunting is a condition where a person has a shorter height than is generally found in people of the same age. Kakap River is one of the integrated stunting intervention locations in Pontianak City. Sungai Kakap Community Health Center recorded 206 cases of stunting in its area, with the highest figure occurring in Sungai Kakap Village with 105 cases. This activity involved 30 health cadres from Sungai Kakap Village as partners. The aim of this service activity is to increase the knowledge and role of health cadres in providing information about stunting to the community, improve skills in anthropometric measurements of toddlers, monitor toddler growth digitally, as well as community skills in utilizing local food as complementary food for breast milk. The approach used is community empowerment through the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, through a series of ongoing outreach, counseling, training and mentoring activities. The results of this activity include the implementation of small workshops, increasing the capacity of health cadres, socializing the toddler growth monitoring application, and promoting exclusive breastfeeding in Sungai Kakap Village. There was an increase in cadres' knowledge of 60% regarding stunting and 68% regarding exclusive breastfeeding after this activity was implemented
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly) dalam Pengolahan Sampah Organik Di Ponpes Darul Fikri Desa Sungai Belidak Selviana Selviana; Diki Fahrozi Almuharami; Aji Abdurrahman
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 4 (2024): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i4.2241

Abstract

Desa Sungai Belidak merupakan salah satu desa dengan produksi buah musiman melimpah seperti pisang, langsat, dan durian, yang menyebabkan limbah buah-buahan selama musim panen. Limbah ini, bersama dengan sampah dari Pondok Pesantren Darul Fikri, menciptakan masalah lingkungan seperti bau tak sedap dan penurunan estetika. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah organik di Desa Sungai Belidak dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau larva lalat hitam (maggot). Maggot BSF dikenal efektif mengonversi limbah organik menjadi pupuk dan pakan ternak. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan melibatkan sebanyak 30 santri dalam pelatihan budidaya maggot BSF dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan (p value=0,000) dalam pengetahuan (67,5% dan sikap (31,1%)  santri terhadap pengelolaan sampah setelah pelatihan. Budidaya maggot BSF tidak hanya mengurangi sampah organik, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat melalui penjualan pupuk organik dan pakan ternak. Dengan pendampingan berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah di Ponpes Darul Fikri. Community Empowerment Through Cultivation of BSF Maggots (Black Soldier Fly) in Organic Waste Processing at Ponpes Darul Fikri Village Sungai Belidak Sungai Belidak Village is one of the villages with abundant seasonal fruit production such as bananas, langsat and durian, which causes fruit waste during the harvest season. This waste, together with waste from the Darul Fikri Islamic Boarding School, creates environmental problems such as unpleasant odors and aesthetic degradation. This research aims to overcome the problem of organic waste management in Sungai Belidak Village by utilizing Black Soldier Fly (BSF) or black fly larvae (maggot). BSF Maggot is known to be effective in converting organic waste into fertilizer and animal feed. The approach used is Participatory Rural Appraisal (PRA) by involving students in training on BSF maggot cultivation and implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS). The results showed a significant (p value=0,000) increase in students' knowledge (67,5%) and attitudes (31,1%) towards waste management after the training. BSF maggot cultivation not only reduces organic waste, but also has the potential to increase the community's economic income through the sale of organic fertilizer and animal feed. With ongoing assistance, this program is expected to become a sustainable solution in waste management at the Darul Fikri Islamic Boarding School.  
Effectiveness of Sambas Language Health Promotion Video on Food Hygiene Sanitation at KWT Rose in Tambatan Village Salsa Septiani Nur; Linda Suwarni; Selviana, Selviana
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 7 (2025): July 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i7.7163

Abstract

Introduction: Food sanitation hygiene is the process of minimizing food contamination from various sources to control risk factors for food contamination that could potentially cause health problems. Video media can stimulate two senses, namely the eyes and ears, which makes understanding clearer for the audience. This research aims to improve the knowledge and attitude of Rose Women Farmers Group (KWT) regarding Food Hygiene Sanitation in Tambatan Village, Sambas Regency. Methods: Pre-Experiment design with one group pre-test and post-test approach was used in this study. It was conducted in Tambatan Village, Teluk Keramat Sub-district, Sambas Regency from September to December 2024. The research sample of 30 respondents was determined through total sampling technique. The research instrument used a specially designed questionnaire to collect data on food sanitation hygiene. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis using Wilcoxon test. Results: The Wilcoxon test showed a difference in the mean knowledge and attitude scores between before and after the sambas language video media intervention was given. The mean knowledge score increased from 5.03 to 9.43 (p-value = 0.000 < 0.05) and the mean attitude score increased from 38.57 to 47.33 (p-value = 0.000 < 0.05). Conclusion: It can be concluded that health promotion using sambas language videos is proven effective in improving KWT Rose's knowledge and attitude regarding food sanitation hygiene.
Effectiveness of Banana Peel Ash, Zeolite and Clam Shells in Reducing Waterturbidity and Iron (Fe) Contentration Selviana, Selviana; Kamaran; Suwarni, Linda; Suharno
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 3 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i3.314

Abstract

One method to reduce iron content and water turbidity is to use banana peel coagulants and zeolite and clam shell filtration. The biochemical components in banana peels are believed to be effective in reducing turbidity and heavy metals, while zeolites and clam shells function to reduce iron levels in water. This study aims to determine the effectiveness of kepok banana peel ash coagulant (Musa acuminate balbisiana C.) and zeolite and clam shell filtration in reducing turbidity and iron (Fe) content in river water in Punggur Kecil Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. The research method used was a quasi-experiment with a one-group pretest-posttest design, taking river water samples in Punggur Kecil Village, as many as 27 samples from 9 repetitions. Data were analyzed descriptively with the paired sample t-test statistical test. The results of the analysis showed that river water treatment using banana peel ash coagulant and clam shell filtration and zeolite decreased the average iron (Fe) content from 2.21 mg/l to 0.25 mg/l, with an effectiveness of 88.18%, but there was no significant change. While the average decrease in turbidity levels was from 57.67 NTU to 17.6 NTU, with an effectiveness of 65.56%, the results were also not significant. The results of the paired t-test showed a significant difference before and after treatment in iron content with a value of 0.000 (p < 0.05) and turbidity content with a value of 0.003 (p < 0.05). The conclusion of this study shows a significant difference in iron (Fe) and turbidity levels, but this treatment method has not been effective in reducing the level of turbidity of river water. The conclusion of this study shows a significant difference in iron (Fe) and turbidity levels, but this treatment method has not been effective in reducing the level of turbidity of river water.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui PENKES (Pendidikan dan Kesehatan) untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Linda Suwarni; Selviana Selviana; Eko Sarwono; Ufi Ruhama
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 2 No. 1 (2018): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v2i1.290

Abstract

Masyarakat di wilayah pemekaran Kalimantan Barat masih berpendidikan minim (bahkan masih ada yang masih buta huruf) dan masalah kesehatan yang selalu ada, diantaranya diare. Faktor yang melatarbelakangi diantaranya belum sadarnya masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dan rendahnya cakupan ASI Eksklusif. Selain itu, masih minimnya pendidikan yang ada.Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut maka solusinya adalah melalui Pemberdayaan Masyarakat melalui PenKes (Pendidikan dan Kesehatan) untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, antara lain dengan: (a) Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melalui lokakarya mini kesehatan, promosi berbagai upaya kesehatan, dan pelatihan serta praktek pembuatan teknologi air bersih dengan saringan air bertingkat, (b) Peningkatan Pendidikan Masyarakat melalui pembentukan dan pelatihan kader pendidik “Pondok Pintar”, pelatihan pembuatan kolase, mozaik dan montase dari bahan-bahan sederhana, serta pelatihan metode morance. Kegiatan ini dilakukan melalui pendampingan masyarakat selama 2 bulan. Metode yang digunakan adalah pendampingan dan penyuluhan serta pelatihan.Hasil program pengabdian ini menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai pengetahuan dan kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, terbentuknya “pondok pintar’ dan kader pendidik dalam upaya memberantas buta huruf. Diperlukan dukungan yang kontinue dari pemerintahan setempat agar program yang ada dapat berjalan terus.
Promosi Kesehatan Melalui Media Film Dalam Upaya Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Anak Sekolah Dasar Wilayah Pesisir Kepulauan Selviana Selviana; Linda Suwarni
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 2 No. 2 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v2i2.376

Abstract

Masih rendahnya sanitasi lingkungan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di wilayah pesisir kepulauan menyebabkan potensi terjadinya beberapa penyakit, seperti diare, kolera, dan soil transmitted helminthes (STH). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan  perilaku PHBS dalam upaya menurunkan kejadian penyakit berbasis lingkungan melalui inovasi teknologi media promosi kesehatan yang menarik. Metode partisipatif digunakan untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan penerapan teknologi  Inovasi Teknologi Promosi Kesehatan PHBS. Inovasi teknologi promosi kesehatan, berupa media film PHBS melalui penyediaan sarana tempat cuci tangan percontohan. Kegiatan ini akan dilakukan untuk, oleh, dan dari masyarakat sebagai mitra dalam kegiatan pengabdian ini melalui musyawarah masyarakat desa untuk menganalisis permasalahan di wilayah mereka, urgensi dan prioritas masalah bersama, serta menentukan solusi dari masalah yang ada, khususnya terkait dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan yang ada di wilayah mereka. Peningkatan pengetahuan dan sikap anak SD yang diperoleh dari pre-test dan post-test dianalisis dengan uji t berpasangan dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil pre dan post menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan (yang awalnya 8,78 menjadi 10,90) dan sikap (yang awalnya 7,38 menjadi 9,52) yang signifikan (p<0,05). Dengan demikian, edukasi melalui media Film dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap anak SD tentang hidup sehat.
Pemberdayaan Masyarakat Daerah Terisolir dan Tertinggal melalui Strategi Promotif Preventif Pendidikan Kewirausahaan Ekonomi Pertanian Linda Suwarni; Selviana Selviana; Helman Fachri; Eko Prasetyo
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 5 No. 01 (2021): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi di wilayah terisolir khususnya di bidang kesehatan, ekonomi, perikanan dan pertanian, serta pendidikan sehingga mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah terisolir dan tertinggal. Metode yang dilaksanakan adalah kemitraan bersama pemerintah desa, dan instansi terkait untuk peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Daerah Terisolir dan Tertinggal Melalui Strategi P3KEP (Promotif Preventif Pendidikan Kewirausahaan Ekonomi Pertanian. Sasaran program ini adalah masyarakat Desa Teluk Pakedai, karena letak desa yang terisolir membuat akses teknologi dan informasi menjadi terbatas. Hasil kegiatan berupa Pembentukan dan Pembinaan desa siaga, melalui lokakarya mini, promosi kesehatan meliputi penyuluhan tentang PHBS, sosialisasi jamban sehat, sarana air bersih, sanitasi lingkungan, gizi, pelatihan kader desa siaga dan kader posyandu, pelatihan manajemen desa siaga, pembentukan keluarga siaga dan remaja siaga, pembuatan teknologi penyarimgan air bersih sederhana percontohan, Praktek penerapan pengolahan sampah dengan sistem 5R menuju zero waste, sosialisasi pemanfaatan lahan perkarangan untuk vegetable gardening dan tanaman obat keluarga (TOGA). Bidang kewirausahaan ekonomi pertanian dan perikanan melalui pembentukan dan pembinaan kelompok wanita tani, pelatihan pembuatan keramba jaring apung dan keramba jaring tancap, pelatihan pembudidayaan dan peningkatan produksi ikan, pelatihan pengolahan hasil perikanan, pelatihan pembibitan pengolahan hasil perkebunan, sosialisasi pengemasan produk hasil perikanan dan perkebunan. Bidang Pendidikan melalui pelatihan dan pembentukan kader rumah pintar, pemanfaatan bahan yang tersedia dengan berbagai metode. Kegiatan telah dilaksanakan di berbagai bidang dengan pemberian informasi, keterampilan serta teknologi percontohan, sehingga perlu pengembangan secara optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu kerjasama antara pemerintah desa dan instansi terkait dan perguruan tinggi perlu terus dilakukan agar pembinaan dan pengembangan desa siaga, terutama di Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya menjadi berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Analysis of Physical, Chemical and Biological Pollution in the Process of Making Brown Sugar in Sungai Itik Village Murni; Selviana; Rochmawati
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v1i1.9

Abstract

The process of making brown sugar is very vulnerable to physical, chemical, and biological contamination. The quality of the safety of brown sugar depends on the quality of the cleanliness of the processing plant. The purpose of this study was to analyze the physical, chemical, and biological contamination in the process of making brown sugar in Sungai Itik Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. This research is observational descriptive, with 42 samples, data analysis using univariate analysis. The results showed an examination of the quality of brown sugar in Sungai Itik Village 100% of samples did not experience physical contamination, 9.5% occurred chemical contamination (Sodium Metabisulfite), and 11.9% experienced biological contamination (Germ Figures). For coconut sugar makers, it is better to make brown sugar, add preservatives and use a dosage/scale not exceeding the threshold value, and store brown sugar in a place that is not moist so that it is not contaminated by microbes.