Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pengajaran Bahasa Indonesia Berbasis Genre: Studi Evaluasi Respons Siswa di SMPN 9 Semarang Sukarismanti Sukarismanti; Suharyo Suharyo; Klemens Maksianus Lenga; Wagiran Wagiran
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i3.3817

Abstract

Dalam beberapa dekade terakhir, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah telah mengalami perubahan menuju pendekatan berbasis genre, yang menekankan pemahaman dan penguasaan berbagai jenis teks sebagai sarana untuk mencapai kompetensi komunikatif. Penelitian ini mengevaluasi respons siswa terhadap penerapan pendekatan genre dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN 9 Semarang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan jumlah sampel 38 siswa. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa merasakan manfaat positif dari pendekatan ini, merasa efektif dalam memahami materi dan meningkatkan kemampuan mereka. Selain itu, pendekatan genre juga memengaruhi motivasi belajar siswa, dengan sebagian besar merasa termotivasi untuk belajar Bahasa Indonesia. Selain keterlibatan siswa, pemahaman materi juga terbukti meningkat, sebagaimana tercermin dari analisis data. Meskipun pendekatan genre memberikan dampak positif, masih ada tantangan yang dihadapi siswa, dengan beberapa mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. Namun, penggunaan sumber daya tambahan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran membantu mengatasi hambatan tersebut. Sebagai Kesimpulan, pendekatan berbasis genre di SMPN 9 Semarang memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia, melalui peningkatan keterlibatan, motivasi, pemahaman materi, serta partisipasi siswa
EVALUASI KESESUAIAN PENILAIAN SUMATIF AKHIR JENJANG KELAS XII DENGAN DISTRIBUSI RANAH KOGNITIF DALAM KURIKULUM MERDEKA Muhammad Jahfal Hanan; Maulana Phaundra Tegar Irawan; Deby Luriawati Naryatmojo; Wagiran
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 10 No. 3 (2025): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v10i3.1504

Abstract

The Merdeka Curriculum aims to give freedom to educational institutions and teachers in designing learning that suits the needs and characteristics of students. In addition, this curriculum also directs the development of student character and skills, not just centered on achieving test scores. So the Minister of Education, Culture, Research and Technology issued a decree to implement the independent curriculum which is listed in the Decree of the Minister of Education, Culture, Research and Technology of the Republic of Indonesia number 262 / M / 2022. Based on the implementation of the independent curriculum that has been running from 2022, there has not been much discussion about the suitability of the PSAJ in terms of the distribution of the cognitive domain. The research to be carried out uses a type of qualitative research with a descriptive approach. The research will be carried out by determining the object of research on purpose, so the technique used is Purposive Sampling. The suitability of PSAJ to the distribution of cognitive domains when viewed from the percentage of each school, S01 has a distribution of Low Order Thinking Skills (LOTS), the percentage in S02 shows the assessment of PSAJ which has a level of High Order Thinking Skills (HOTS), while in S03, represents the level of test items Middle Thinking Skills (MOTS) and High Order Thinking Skills (HOTS). The knowledge dimension that is often presented is the conceptual dimension, which indicates that the questions attempt to improve learners' conceptual understanding. The thing that needs to be considered in making questions is of course not to be separated from the AKM and the need for the suitability of the level of thinking according to the ability of students.
MEMBUAT MINIATUR HONAI : BELAJAR RUMAH ADAT PAPUA DAN BAHAN ALAMI DI SEKITAR KITA Astrid Lekatompessy; Hartono; Wagiran; Faktur Rokhmand
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36097

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan media manipulatif berbentuk rumah adat Honai Papua sebagai media pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar. Media ini dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis konstruktivisme dan kontekstual, serta mendorong pemahaman konsep lingkungan, adaptasi makhluk hidup, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian pengembangan (R&D) dengan model ADDIE. Subjek penelitian terdiri atas 25 siswa kelas V SD Agape Terpadu di Kabupaten Nabire. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, serta angket validasi ahli dan respon peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media manipulatif Honai memiliki validitas tinggi (skor rata-rata 89%) dan sangat layak digunakan dalam pembelajaran IPA. Penggunaan media juga meningkatkan keterlibatan siswa, rasa ingin tahu, serta kemampuan memahami konsep IPA secara kontekstual. Kesimpulan utama menunjukkan bahwa media manipulatif Honai Papua efektif digunakan sebagai alternatif media konkret dalam pembelajaran IPA sekolah dasar.
Evaluasi dan Rekonstruksi Butir Soal Pilihan Ganda sebagai Asesmen Formatif dalam Pembelajaran Berbasis Deep Learning Kejora Padmarani; Deby Luriawati; Wagiran Wagiran
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 3 No. 2 (2026): JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK (JMIA)  April 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v3i2.9394

Abstract

Formative assessment plays a crucial role in supporting the learning process, particularly in developing higher-order thinking skills (HOTS). However, the creation of multiple-choice items used in schools is still dominated by lower cognitive levels and does not yet fully support deep learning-based instruction. This situation indicates a gap between curriculum requirements and assessment practices in the field. This study aims to analyze the pedagogical quality of multiple-choice items in supporting formative assessment and to reconstruct the items so that they align with HOTS requirements and deep learning-based instruction. This study employs a qualitative approach of a descriptive nature using document analysis techniques. The research data consists of 10 multiple-choice items found in the Indonesian language teaching module on popular scientific articles at SMP Negeri 10 Semarang for the 2025/2026 academic year. The analysis was conducted based on several aspects, namely the cognitive levels of Bloom’s revised taxonomy, the function of formative assessment, the quality of item construction, and alignment with deep learning principles. The conclusion of this study indicates that multiple-choice items can be developed into more meaningful formative assessment instruments if designed based on HOTS and deep learning, thereby fostering deep understanding and developing students’ critical thinking skills.
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS TEKS BERITA MENGGUNAKAN MODEL 5E LEARNING CYCLE DAN THINK TALK WRITE BERBANTUAN MEDIA AUDIOVISUAL Sherly Anida Fahrina Putri; Wagiran Wagiran
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v6i2.9976

Abstract

The learning of news writing has not yet been implemented optimally, resulting in low academic scores for seventh-grade students. This condition is evident from the students' difficulties in independently developing ideas and in the writing process that adheres to the rules of news writing. The application of innovative learning models can encourage the effectiveness of learning to achieve optimal results. This study aims to examine the effectiveness of news writing instruction using the 5E Learning Cycle and Think Talk Write models, supported by the use of video-based audiovisual media, among seventh-grade students at MTs Negeri 1 Pati. This research employs a quantitative approach with a quasi-experimental design in the form of a nonequivalent control group design. Quantitative data was collected from the pre-test and post-test scores of news writing skills. Data analysis used descriptive analysis and a T-test. The results of the paired sample t-test for the experimental class and the control class obtained a sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05, meaning there is a difference in learning outcomes. The results of the independent sample t-test obtained a sig. (2-tailed) value of 0.780 > table sig. 0.05, so there is no difference in news writing skills between the two groups. These findings indicate that the 5E Learning Cycle and Think Talk Write models, aided by audiovisual media, are effective in optimizing news writing learning because they result in significant differences in learning outcomes. However, the comparison test results of the two learning models show that there is no difference. This confirms that both models are equally effective when applied to teaching news writing. ABSTRAKPembelajaran menulis teks berita masih belum terlaksana secara optimal sehingga berdampak pada rendahnya nilai akademik peserta didik kelas VII. Kondisi tersebut terlihat dari kesulitan peserta didik dalam mengembangkan gagasan secara mandiri serta dalam proses penulisan yang sesuai dengan kaidah penulisan teks berita. Penerapan model pembelajaran yang inovatif mampu mendorong keefektifan pembelajaran agar dapat mencapai hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji keefektifan pembelajaran menulis teks berita dengan penerapan model 5E Learning Cycle dan Think Talk Write yang didukung pemanfaatan media audiovisual berbasis video pada peserta didik kelas VII MTs Negeri 1 Pati. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimental bentuk nonequivalent control group design. Data kuantitatif dikumpulkan dari nilai pretes dan postes keterampilan menulis teks berita. Analisis data menggunakan analisis deskriptif serta uji T. Hasil pengujian paired sample t-test kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05, artinya terdapat perbedaan terhadap hasil belajar. Hasil uji independent sample t-test diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,780 > sig. tabel 0,05, maka tidak terdapat perbedaan keterampilan menulis teks berita pada kedua kelompok. Temuan ini mengindikasikan bahwa model 5E Learning Cycle dan Think Talk Write berbantuan media audiovisual efektif dalam mengoptimalkan pembelajaran menulis teks berita karena memberikan perbedaan hasil belajar yang signifikan. Namun, hasil uji perbandingan kedua model pembelajaran menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan. Hal ini menegaskan bahwa kedua model sama-sama efektif diterapkan dalam pembelajaran menulis teks berita.
Evaluasi RPP dan Pelaksanaan Pembelajaran Model Goal-Free Scriven pada Materi Teks Puisi Kelas 8 Jihan Hasna Huwaida; Dina Veronica; Asyam Solikhul Hadi; Wagiran
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): July : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i3.1342

Abstract

Pembelajaran puisi berperan penting dalam mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami, menafsirkan, dan mengekspresikan gagasan secara kreatif. Namun, sebagian peserta didik kelas 8 masih mengalami kesulitan memahami makna puisi, mengembangkan ide, memilih diksi, serta menulis puisi secara utuh. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan pelaksanaan pembelajaran teks puisi kelas 8 dengan model Goal-Free Evaluation Scriven. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode evaluasi. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, observasi, wawancara guru, dan Focus Group Discussion (FGD) peserta didik. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengidentifikasi dampak positif, dampak negatif, serta dampak lain yang muncul selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RPP telah memuat komponen pembelajaran secara lengkap dan mendukung keterlibatan aktif peserta didik melalui diskusi, presentasi, LKPD, refleksi, dan pembacaan puisi. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung sesuai perencanaan dan menghasilkan dampak positif berupa peningkatan pemahaman unsur puisi, penguasaan kosakata, keberanian berpendapat, kerja sama, kepercayaan diri, dan keterampilan komunikasi. Kendala yang ditemukan mencakup kesulitan memahami makna konotatif, mengembangkan ide, memilih diksi, dan menggunakan majas. Temuan ini merekomendasikan penguatan latihan menulis puisi secara bertahap dan berkelanjutan dalam pembelajaran di kelas 8 mendatang.
Reconstructing the Textbook Writing Syllabus Through Goal-Oriented Evaluation and Outcome-Based Education Integration Wagiran; Wati Istanti; Qurota Ayu Neina; Arum Yuliya Lestari; Qin Weifen; Amelia Novitasari
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 02 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i02.15150

Abstract

This study aims to reconstruct the Semester Learning Plan (RPS) for the Textbook Writing course through the integration of a goal-oriented evaluation model with the Outcome-Based Education (OBE) approach. The main issue addressed is the lack of optimal alignment between learning outcomes, the learning process, and the assessment system in the previously used RPS. This study employs a qualitative approach using an evaluative research method. Data were collected through document analysis and focus group discussions (FGDs). Data analysis was conducted through the stages of data reduction, categorisation, interpretation, and drawing conclusions. The research results indicate that the reconstruction of the RPS yields significant improvements in the formulation of CPMK based on Higher-Order Thinking Skills (HOTS), the alignment of CPL–CPMK–Sub-CPMK, the implementation of project-based learning, and the strengthening of authentic assessment. Quality assessment shows that the average quality score of the RPS increased from 1.8 (low category) to 3.84 (very good category), with the sharpest gains recorded in the PjBL indicator (from 1.5 to 4.0) and CPL–CPMK alignment (from 1.5 to 3.7). The integration of a goal-oriented evaluation model ensures the achievement of measurable and systematic learning outcomes within the OBE framework. The novelty of this study lies in its integrative model, which combines goal-oriented evaluation, constructive alignment, and Project-Based Learning into a single reconstruction framework for a product-based course, an approach that has not been jointly addressed in previous studies. Consequently, the reconstructed RPS is more relevant, systematic, and ready to support project-based learning oriented towards Outcome-Based Education.   Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah Penulisan Buku Ajar melalui integrasi model evaluasi goal-oriented dengan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Masalah utama yang dikaji adalah belum optimalnya keselarasan antara capaian pembelajaran, proses pembelajaran, dan sistem penilaian pada RPS yang digunakan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian evaluatif. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dan focus group discussion (FGD), kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi RPS menghasilkan peningkatan signifikan dalam perumusan CPMK berbasis Higher-Order Thinking Skills (HOTS), keselarasan CPL–CPMK–Sub-CPMK, penerapan pembelajaran berbasis proyek, serta penguatan asesmen autentik. Hasil penilaian kualitas menunjukkan skor rata-rata RPS meningkat dari 1,8 (kategori rendah) menjadi 3,84 (kategori sangat baik), dengan peningkatan tertinggi pada indikator PjBL (dari 1,5 menjadi 4,0) dan keselarasan CPL–CPMK (dari 1,5 menjadi 3,7). Integrasi model evaluasi goal-oriented menjamin tercapainya capaian pembelajaran yang terukur dan sistematis dalam kerangka OBE. Kebaruan penelitian ini terletak pada model integratif yang menggabungkan evaluasi goal-oriented, constructive alignment, dan Project-Based Learning dalam satu kerangka rekonstruksi untuk mata kuliah yang berorientasi produk, yang belum banyak dikaji secara bersamaan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan demikian, RPS hasil rekonstruksi menjadi lebih relevan, sistematis, dan siap mendukung pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada Outcome-Based Education.
Peran Wayang dalam Dongeng Fabel sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar Denis Alfian; Fathur Rokhman; Wagiran Wagiran; Hartono Hartono
Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 13, No 2 (2025): Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkc.v13i2.97687

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media wayang kartun dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi dongeng fabel di kelas V SDN 6 Arjawinangun. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media wayang kartun mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya dalam memahami unsur-unsur intrinsik dongeng fabel, seperti tokoh, latar, alur, dan amanat. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan partisipasi aktif selama proses pembelajaran. Guru juga merasa terbantu dengan kehadiran media ini karena dapat menyampaikan materi secara lebih menarik dan mudah dipahami. Media wayang kartun tidak hanya memperkuat daya tarik visual, tetapi juga mampu membangun suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif. Hal ini mendukung teori belajar visual dan teori konstruktivisme yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan melalui pengalaman konkret. Dengan demikian, penggunaan media wayang kartun merupakan strategi pembelajaran yang efektif dan inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi dongeng fabel di sekolah dasar. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan media serupa dalam pembelajaran lain guna menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna, kreatif, dan menyenangkan.
Implementasi Asesmen Diagnostik Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Isma-ae Bakoh; Deby Luriawati Naryatmojo; Wagiran
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): May : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i2.1218

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi asesmen diagnostik sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif secara rutin pada awal pembelajaran maupun selama proses belajar melalui observasi perilaku, angket sederhana, dan wawancara. Hasil asesmen digunakan untuk memetakan motivasi, minat, sikap, serta hambatan belajar siswa yang menjadi dasar penyesuaian strategi pembelajaran, pengelompokan siswa, dan pemberian pendampingan. Kendala yang ditemukan meliputi keterbatasan waktu, kemampuan guru dalam menyusun instrumen, serta beban administrasi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi asesmen diagnostik non-kognitif telah sejalan dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpihak pada murid, humanis, dan berorientasi pada perkembangan karakter. Asesmen non-kognitif berfungsi sebagai fondasi penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, adaptif, dan mendukung kesejahteraan emosional siswa. Dengan pelaksanaan, evaluasi, dan pemanfaatan yang berkelanjutan, asesmen diagnostik non-kognitif mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan siswa dan peningkatan kualitas proses pembelajaran. Asesmen diagnostik adalah alat krusial untuk memetakan kemampuan kognitif dan kondisi non-kognitif (psikologis/sosial) siswa di awal pembelajaran. Hasilnya menjadi dasar bagi guru untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dengan kebutuhan individu, meningkatkan efektivitas pengajaran, serta mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan siswa.
Discovery Learning Berbantuan Animasi: Solusi Kreatif Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas III Sekolah Dasar Cicih Purwanti; Wagiran Wagiran; Caridah Caridah; Tri Joko Raharjo
Jurnal Warta Dharmawangsa Vol 20, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/wdw.v20i3.9570

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat serta hasil belajar siswa kelas III SD pada materi fakta dan fiksi, yang disebabkan oleh metode pembelajaran konvensional yang monoton dan minimnya penggunaan media inovatif. Tujuan penelitian ini adalah menguji efektivitas model Discovery Learning berbantuan animasi fakta dan fiksi di SDN Bojong Rawalumbu XI Kota Bekasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experiment non-equivalent control group, penelitian ini melibatkan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model tersebut memberikan pengaruh positif yang signifikan. Peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen mencapai skor 0,6 (kategori sedang), jauh lebih unggul dibandingkan kelas kontrol yang hanya sebesar 0,25 (kategori rendah). Secara keseluruhan, model ini terbukti efektif dalam meningkatkan antusiasme dan capaian akademik siswa. Sebagai tindak lanjut, guru disarankan untuk terus mengembangkan konten animasi yang interaktif serta memberikan pendampingan intensif melalui scaffolding pada setiap tahapan Discovery Learning. Selain itu, pihak sekolah diharapkan memfasilitasi pelatihan berkelanjutan agar model pembelajaran ini dapat diintegrasikan secara luas, guna membangun ekosistem pendidikan yang lebih kreatif dan partisipatif.