Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PELATIHAN MENDONGENG DAN BERCERITA BAGI PELAJAR DAN GURU SE- BUKITTINGGI Zaitun, Kurniasih; Surya, Wirma; Mahendra, Bayu; Saputra, Deni
Batoboh Vol 1, No 1 (2016): Batoboh -Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v1i1.125

Abstract

Mendongeng merupakan cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutamakejadia zaman dulu yang aneh-aneh). Namun istilah dongeng saat ini juga berkembang menjadi bercerita, dimana maksudnya menuturkan cerita. Sudahsejak jaman dahulu kala, aktivitas mendongeng tidak hanya disukai oleh anak- anak, namun juga orang muda hingga yang sudah dewasa. Aktivitas ini dipercaya memiliki berjuta manfaat. Selain untuk member hiburan, juga menambah pengetahuan, dan memperkaya akhlak atau moral seseorang, terlebih anak-anak. Anak-anak adalah pribadi yang sangat membutuhkan banyak pelajaran dan pengalaman baru. Dengan media dongeng, anak seperti diajak berfantasi menuju alam imajinasi sambil meraup berjuta pengalaman baru. Dunia dongeng merupakan dunia yang menakjubkan terutama bagi anak-anak. Lewat sebuah dongeng sebuah komunikasi dan kedekatan emosional dapat tercapai. Transfer nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah dongengan dapat lebih mudah dimengerti. Sayangnya masih banyak orang yang belum mengetahui teknik mendongeng yang baik, sehingga harapan positif dari kegiatan mendongeng menjadi sia-sia bahkan membosankan. Semua orang bisa menjadi pendongeng yang baik, terutama bagi kalangan pendidik baik di pendidikan formal maupun non formal. Mendongeng merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif yang menjadi bagian dari keterampilan berbicara, jadi tidak ada alasan seorang guru tidak bisa mendongeng. Mendongeng dapat dijadikan media dalam proses kegiatan belajar. Sedangkan bagi orang tua, mendongeng untuk anak dapat mempererat komunikasi dengan si buah hati dan meningkatkan kedekatan batin emosional antara orang tua dan anak. Banyak orangtua terlalu sibuk dengan urusannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk mendongeng atau kalaupun ada, tidak tahu bagaimana mendongeng yang baik.
Characteristics of cervical cancer screening using visual inspection with acetic acid and pap smear in the outpatient clinic at Prof. Dr I.G.N.G. Ngoerah Hospital Denpasar from January to December 2023 Aryana, Made Bagus Dwi; Surya, I Gede Ngurah Harry Wijaya; Winata, I Gde Sastra; Ongko, Eric Gradiyanto; Budiana, Nyoman Gede; Mahendra, I Nyoman Bayu; Saspriyana, Kade Yudi; Darmayasa, I Made; Prayudi, Pande Kadek Aditya
Indonesian Journal of Perinatology Vol. 6 No. 2 (2025): Available online : 1 December 2025
Publisher : The Indonesian Society of Perinatology, South Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/inajperinatol.v6i2.67

Abstract

Introduction: According to GLOBOCAN 2022, cervical cancer is the fourth leading cause of cancer-related morbidity and mortality among women worldwide, with 662,044 new cases and 348,709 deaths. In Southeast Asia, it ranks third in incidence and fourth in mortality. Indonesia contributes more than 50% of new cases (36,964) and deaths (20,708) in the region. Cervical cancer is largely preventable through early detection methods such as visual inspection with acetic acid (VIA) and Pap smear. However, differences in diagnostic accuracy between these screening methods highlight the need to identify patient characteristics appropriate for each modality. This study aimed to compare the characteristics of patients undergoing VIA and Pap smear screening at the outpatient clinic of Prof. Dr I.G.N.G. Ngoerah Hospital, Denpasar, from January to December 2023. Methods: This observational analytical study used secondary data obtained from outpatient clinic registers and medical records of female patients who underwent VIA or Pap smear screening during the study period. Data were analysed using univariate analysis. Results: Among 122 participants undergoing VIA, 24 (19.6%) had positive results. Pap smear examinations in 125 participants showed CIN I in 10 (8.0%), CIN II in 4 (3.2%), and CIN III in 5 (4.0%) participants. Vaginal discharge was reported in 7 VIA participants (5.7%) and 15 Pap smear participants (12.0%), while postcoital bleeding was reported in 2 participants (1.6%) in each group. Among VIA-positive cases, lesions were most commonly found in all four quadrants (45%). Conclusion: Patient characteristics in VIA and Pap smear screening at Prof. Dr I.G.N.G. Ngoerah Hospital varied considerably, with a higher proportion of positive results observed in VIA compared to Pap smear screening.
Analisis Hukum Batasan Tanggung Jawab dan Perlindungan Pasien dalam Penggunaan Kecerdasan Buatan Untuk Diagnosis Medis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan I Dewa Kadek Buda Prayuda; I Nyoman Bayu Mahendra
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 4 (2026): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i4.327

Abstract

Penelitian ini mengkaji kekosongan hukum terkait penentuan pihak yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan diagnosis oleh kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan di Indonesia. Dengan metode penelitian hukum normatif-yuridis melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan, penelitian menelaah regulasi yang berlaku, termasuk UU Kesehatan 2023, UU Perlindungan Konsumen, dan KUHPerdata. Temuan menunjukkan bahwa kerangka hukum Indonesia belum memadai untuk mengatur tanggung jawab atas kesalahan diagnosis oleh sistem AI. Penelitian ini mengusulkan penerapan prinsip tanggung jawab mutlak bagi pengembang atau produsen perangkat lunak medis sebagai solusi yang paling adil, disertai pembagian tanggung jawab yang jelas serta mekanisme transparansi dan audit algoritma yang ketat.
Risk-Based Regulatory Model for Healthcare Workers with Communicable Diseases in Ensuring Patient Safety in Indonesia Anak Agung Gede Jaya Semara; I Nyoman Bayu Mahendra
Open Access Health Scientific Journal Vol. 7 No. 2 (2026): August 2026
Publisher : Griya Eka Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55700/oahsj.v7i2.217

Abstract

Background: Patient safety is a fundamental principle in healthcare systems aimed at ensuring safe and high-quality healthcare services. However, Indonesian regulations concerning healthcare workers with communicable diseases remain inadequate, particularly regarding periodic health screening and risk-based practice restrictions. This study aimed to analyze the Indonesian legal framework from a patient safety perspective and to formulate a risk-based regulatory model. Methods: This study employed normative legal research using statutory, conceptual, and comparative approaches. The statutory approach examined Indonesian laws and regulations related to patient safety, healthcare workers, infection prevention and control, and labor law. The conceptual approach analyzed principles of health law and bioethics, including patient safety, non-maleficence, beneficence, and the precautionary principle. The comparative approach compared Indonesian regulations with international standards issued by the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) and the National Health Service (NHS). Data were collected through documentary and library research using primary, secondary, and tertiary legal materials. Data analysis was conducted qualitatively through grammatical interpretation, systematic interpretation, and legal harmonization analysis. Results: The study found that Indonesian regulations have not comprehensively regulated periodic health screening, risk-based practice restrictions, and monitoring systems for healthcare workers with communicable diseases. Significant normative gaps and legal uncertainty remain regarding the balance between healthcare workers’ rights and patient safety. Compared with CDC and NHS standards, Indonesia has not yet optimally implemented a risk-based regulatory approach. Conclusion: Indonesia requires a comprehensive risk-based health regulatory framework integrating patient safety, healthcare workers’ rights, and proportional supervisory mechanisms. The proposed “Risk-Based Integrated Health Regulation” model may serve as a foundation for future health law reform and patient safety protection in Indonesia.
Legal and Institutional Analysis of the Structural and Functional Position of Infection Prevention and Control Nurses Ni Luh Putri Suwandewi; I Nyoman Bayu Mahendra
PROMOTOR Vol. 9 No. 4 (2026): AGUSTUS
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v9i4.2628

Abstract

Infection Prevention and Control Nurses (IPCNs) play a strategic role in ensuring patient safety through the implementation of Infection Prevention and Control (IPC) programs in hospitals. In Indonesia, IPC implementation is regulated under Minister of Health Regulation Number 27 of 2017; however, the structural and functional position of IPCNs within hospital organizations remains insufficiently regulated. This study aims to analyze the normative framework of IPCNs and its implementation in hospital practice, as well as to examine the legal implications of existing regulatory gaps. The research employs a normative juridical approach combined with an empirical method through literature review of legal materials and semi-structured interviews with IPCNs in hospitals in Bali Province. Data were analyzed qualitatively by comparing normative provisions (das sollen) with empirical conditions (das sein). The findings indicate a significant gap between regulatory provisions and practical implementation, particularly in terms of organizational placement, authority, and competency standards of IPCNs. This inconsistency results in variations in IPC implementation across hospitals and may weaken legal certainty and patient safety outcomes. Furthermore, unclear regulatory positioning may increase hospital legal risks in cases of healthcare-associated infections. The study concludes that stronger regulatory integration is required to clarify the institutional role and authority of IPCNs in hospital governance.
Co-Authors Abi Rafdi Azizi Alfonso Anggriawan Anak Agung Gede Jaya Semara Anak Agung Gede Putra Wiradnyana Arlando Martino Anapaku Aryana, Made Bagus Dwi Budiana, i Nyoman Gede Budiana Budiana, Nyoman Gede Charles Richard Thene Daniel Hadinata Susanto Danny Aguswahyudi Darmayasa, Putu Bagus Desak Made Wihandani Dewi, Putu Pradnya Paramitha Endang Sri Widiyanti Eric Gradiyanto Ongko Ernest T. B. Sianturi FLORENCIA Hanny Aditanzil Hanny Aditanzil Hitasari, I Gusti Ayu Made Putri I Dewa Kadek Buda Prayuda I Gde Sastra Winata I Gede Indra Kumara I Gede Mega Putra I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya I Gusti Putu Mayun Mayura I Ketut Surya Negara I Ketut Suwiyoga I Made Darmayasa I Nyoman Gede Budiana I Wayan Megadhana IB Putra Adnyana Ida Bagus Arjuna Ida Bagus Gde Fajar Manuaba Jaqueline Sudiman Johan Qalaba JOHANA SENSY LENI MANNA Kade Yudi Saspriyana KADE YUDI SASPRIYANA Kevin Agastya Duarsa Kirana, Ni Wayan Prabasiwi Kurniasih Zaitun Luh Putu Iin Indrayani Maker Made Ayu Prabawaty Indraswari Made Bagus Dwi Aryana Made Suyasa Jaya Made Yudha Ganesa Wikantyas Widia MANNA, JOHANA SENSY LENI Mardana, I Wayan Rivandi Pradiyadnya Mardana Ngakan Ketut Darmawan Ni Kadek Ari Chintya Vedantari Ni Kadek Deby Cindra Dewi Ni Komang Vina Indriyani Ni Luh Putri Suwandewi Ni Putu Pramana Saras Utami Ongko, Eric Gradiyanto Ongko, Eric Gradiyanto Ongko Pande Kadek Aditya Prayudi Pande Made Suwanpramana Prayudi, Pande Kadek Aditya Prayudi, Pande Kadek Aditya Prayudi Pujawan, I Gede Agus Putra, Ida Bagus Agung Widnyana Putu Adi Sujana Putra Putu Doster Mahayasa Putu Harrista Indra Pramana Putu Raka Widhiarta Putu Srinata Dampati Rayvany Uil Riza Firman Satria Ronaldo, Fransiscus Ronaldo Ruma, I Made Winarsa Ryan Saktika Mulyana Saspriyana, Kade Yudi Saspriyana Septiani, Winty Septiani Surudarma, I Wayan Surya, I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya, Wirma Suwiyoga, Ketut Suwiyoga Tasia Irma Endriani Tjokorda Gde Agung Suwardewa Tjokorda Istri Putri Adhyasari Wulandari Wijaya Surya, I Gede Ngurah Harry William Alexander Setiawan Winata, I Gde Sastra Winata Yoga, I Putu Bagus Mulyana Yoga