Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Escherichia coli O157:H7 Bacteria Antibiotic Resistant Isolated from Flies at Food Courts in IPB Dramaga Campus Aminudin, Muhammad Rizki; Lukman, Denny Widaya; Sudarwanto, Mirnawati Bachrum; Pisestyani, Herwin
Jurnal Sain Veteriner Vol 42, No 3 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.99843

Abstract

Several human and animal pathogens transmit into the food chain through houseflies as mechanical vectors, one of which is E. coli O157:H7. E. coli O157:H7 can express Shiga toxin (Stx) which can cause diarrhea, hemorrhagic colitis, and potentially fatal hemolytic-uremic syndrome (HUS) in humans. Some pathogen strains show resistance against various antibiotics, causing complex health problems. This study aims to analyze the presence of antibiotic-resistant E. coli O157:H7 bacteria carried by houseflies (M. domestica) in the food court IPB Dramaga campus area. Detection of E. coli O157:H7 on fly legs using qPCR method based on MU 7.2.3.32-8. E. coli O157:H7 isolates were tested for sensitivity to the antibiotic’s ciprofloxacin, ampicillin, tetracycline, trimethoprim-sulfamethoxazole, cefepime, chloramphenicol, ceftazidime, cefotaxime, and ceftriaxone using the Kirby Bauer disc diffusion method. This study isolated 5 E. coli isolates (5/40; 12.5%), and 2 of them were confirmed as E. coli O157:H7. One isolate of E. coli O157:H7 was resistant against ampicillin and tetracycline, and one isolate was resistant against ampicillin, tetracycline, trimethoprim-sulfamethoxazole, and ceftazidime. The multi-drug resistance was identified only in 1 isolate of E. coli O157:H7.Houseflies collected from the food court have the potential to transmit antibiotic-resistant E. coli O157:H7 around the IPB campus.
Multidrug-Resistant (MDR) E. coli dalam Daging Babi yang Berasal dari Rumah Potong Hewan (RPH) Oeba, Kota Kupang Mila Meha, Margie Pristiantine; Sudarwanto, Mirnawati Bachrum; Pisestyani, Herwin
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.2.168-175

Abstract

Untuk dapat menghasilkan daging babi yang siap dikonsumsi tentunya perlu melewati berbagai tahapan mulai dari peternakan hingga pengemasan. Pada berbagai tahapan ini, peluang terjadinya kontaminasi dengan mikrob patogen sangat besar. Mikrob patogen yang sering ditemui pada daging babi salah satunya E. coli yang seringkali menjadi pemicu kejadian foodborne disease pada manusia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa isolat E. coli yang diisolasi dari peternakan babi di Kota Kupang diketahui telah mengalami multidrug-resistan (MDR) yang mana apabila kejadian ini menyebar dapat berdampak buruk bagi masyarakat. RPH merupakan tempat penyembelihan hewan yang diawasi oleh dokter hewan dengan tujuan untuk dapat menghasilkan daging dengan kualitas baik bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur cemaran E. coli, mengidentifikasi serta isolasi MDR E. coli dari daging babi segar yang berasal dari RPH Oeba, Kota Kupang. Penghitungan jumlah E. coli dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO 16649–2:2001 tentang Metode Horizontal Enumerasi E. coli positif-b-glukuronidase - Bagian 2: Teknik penghitungan koloni pada suhu 44 °C menggunakan 5-bromo-4-chloro-3-indolyl-b-D-glucuronide. Uji resistansi E. coliterhadap antibiotik dilakukan berdasarkan metode Kirby-Bauer. Data terkait jumlah cemaran E. coli dan pengujian resistansi E. coli terhadap antibiotik dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan cemaran E. coli dalam daging babi yang digunakan memiliki rata-rata 626.440±947.937 CFU/g. Semua isolat E. coli telah resistan terhadap penisilin (100%), sebagian besar isolat E. coli resistan terhadap streptomisin (80%) dan tetrasiklin (60%), serta hampir sebagian isolat E. coli resistan terhadap oksitetrasiklin (47%), amoksisilin (40%). Isolat lapang E. coli yang diperoleh dari daging babi telah MDR terhadap 2 (7/15;46,67%) sampai dengan 3 (7/15;46,67%) golongan antibiotik. Simpulan dari penelitian ini yaitu, cemaran E. coli dalam daging babi yang berasal dari RPH Oeba melebihi ambang batas maksimum cemaran mikrob yang telah ditetapkan (>1x101 CFU/g). Isolat E. coli telah resistan terhadap penisilin, streptomisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, dan amoksisilin dan telah MDR terhadap 2 sampai dengan 3 golongan antibiotik.
Keanekaragaman Ektoparasit di Peternakan Sapi Potong Astomulyo Lampung Tengah dan Peternakan Sapi Perah Kawasan Usaha Peternakan Rakyat (KUNAK) Bogor Shodiq, Nadim; Supriyono, Supriyono; Pisestyani, Herwin
JURNAL KAJIAN VETERINER Vol 13 No 1 (2025): Jurnal Kajian Veteriner
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v13i1.20699

Abstract

Ectoparasites in livestock areas can cause losses to farmers, such as decreased body weight and milk production due to anemia, disease transmission, and animal discomfort. This study aimed to identify the diversity, abundance, and potential risk of diseases that can be transmitted by ectoparasites as disease vectors in cattle. The study was conducted in two selected locations: Astomulyo beef cattle farm in Central Lampung and KUNAK dairy farm in Bogor. All ectoparasites around the pens were collected using sweep nets, aspirators, light traps and forceps. Identification results showed a diverse range of ectoparasites, including mosquitoes (Culicidae), flies (Muscidae), ticks (Haemaphysalis), Culicoides (Ceratopogonidae) and fleas (Haematopinidae). The environment, such as pens conditions, storage facilities, manure management, feed waste, and sanitation, influenced the diversity of ectoparasite species found in the study sites. The identified ectoparasite species have the potential to be vectors of various livestock diseases that lead to decreased production. This study is expected to provide information related to effective disease prevention and control strategies.
Safety Risk Factors of Duck Meat Sold in Bogor City annisa, rizka fajri; Purnawarman, Trioso; Pisestyani, Herwin
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.101423

Abstract

With the increasing demand for duck meat in Bogor City, this poses a risk of the presence of pathogenic bacteria throughout the food supply chain. Traditional markets are one of the places that have a high risk of contamination with pathogenic bacteria that can endanger public health. This study aims to determine the presence of Salmonella and E. coli in duck meat sold in traditional markets in Bogor City and the risk factors that influence the presence of these pathogenic bacteria. This study was a cross sectional study with a total of 45 duck meat samples obtained from 3 traditional markets in Bogor City. Samples were taken to the SKHB IPB Veterinary Public Health Laboratory for microbiological testing. Risk factors that may affect the safety of duck meat were assessed using a questionnaire. The results showed that 13 samples (29%) were positive for Salmonella and 27 samples (60%) were positive for E. coli. The presence of Salmonella and E. coli in duck meat indicates cross-contamination during slaughter, evisceration and poor sanitation and hygiene practices. Continuous monitoring and reporting of the presence of Salmonella and E. coli is needed so that duck meat consumed by the public is safe for consumption.
Penerapan Sanitasi dan Higiene dalam Produksi Ikan Asap: Implikasi terhadap Keamanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat Tina, Lymbran; Sudarnika, Etih; Ridwan, Yusuf; Sudarwanto, Mirnawati B.; Pisestyani, Herwin
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.105214

Abstract

Keamanan pangan merupakan aspek krusial dalam kesehatan masyarakat, terutama pada produk pangan yang diproses secara tradisional seperti ikan asap. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan sanitasi dan higiene dalam produksi ikan asap di Kota Kendari serta mengkaji dampaknya terhadap keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive pada 13 unit produksi ikan asap selama Juli sampai Oktober 2024. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan checklist kepatuhan terhadap standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil penelitian menunjukkan kurang dari sebagian produsen (48,4%) yang memastikan peralatan produksi tetap bersih dan terawat secara menyeluruh. Seluruh produsen (100%) menggunakan air bersih selama produksi, namun tanpa fasilitas pembersihan bahan baku yang memadai. Toilet yang memenuhi standar kebersihan hanya ditemukan pada 69,2% lokasi produksi, sementara tidak ada satu pun tempat sampah tertutup (0%). Evaluasi praktik higiene pekerja, didaptkan sebanyak 76,9% pekerja mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, namun tidak ada pekerja yang mamakai alat pelindung diri (0%). Selain itu, seluruh lokasi produksi tidak memiliki program pembersihan dan sanitasi berkala (0%), dan terdapat hewan peliharaan di sekitar area produksi, yang dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme patogen. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri ikan asap tradisional di Kendari belum memenuhi stadar sanitasi dan higiene yang baik sehingga memerlukan intervensi berbasis kesehatan masyarakat. Diperlukan edukasi kepada produsen mengenai pentingnya sanitasi dan higiene, peningkatan infrastruktur sanitasi, serta pengawasan lebih ketat dari pihak berwenang guna memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan. Kata kunci: keamanan pangan, higiene, kesehatan masyarakat, sanitasi, ikan asap
Escherichia coli CONTAMINATION AND ITS RESISTANCE TO ANTIBIOTICS IN SEI MEAT Amalo, Gabryella Fransina; Purnawarman, Trioso; Pisestyani, Herwin
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 15, No 1 (2021): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v15i1.18204

Abstract

The purpose of this study was to obtain Escherichia coli isolates from 11 sei meat sellers in Kupang City and to observe their resistance to13 types of antibiotics. Escherichia coli were isolated and identified based on SNI 2897: 2008. Antibiotic resistance of the Escherichia colii isolates was determined using the Kirby-Bauer method. The results showed that 13 isolates (39.39%) of Escherichia coli in sei meat samples had a high level of resistance to erythromycin (100%), tetracycline (76.92%), and doxycycline (61.54%). Isolates demonstrated increased resistance to streptomycin (46.15%), cephalothin (38.46%), trimethoprim-sulfamethoxazole (38.46%), amoxicillin (30.77%), chloramphenicol (30.77%), and choline sulfate (30.77%). The antibiotics nalidixic acid and ciprofloxacin demonstrated low Escherichia coli resistance (7.69%). Escherichia coli are sensitive to cefotaxime and gentamicin. A total of 12 isolates (92.31%) experienced MDR. The presence of non-MDR and MDR resistant Escherichia coli in sei meat can seriously threaten community health.
Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Kualitas Telur Ayam Arab : Effect of Storage Temperature and Time on The Quality of Eggs from An Arabian Chicken Pisestyani, Herwin; Putra Wijaya, Erlangga; Widaya Lukman, Denny; Handharyani, Ekowati
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 13 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.13.3.224-230

Abstract

Minimnya pasokan telur ayam lokal (kampung) menjadi peluang pasar bagi telur ayam arab, dikarenakan kemiripan bentuk, ukuran dan warna cangkangnya sehingga sulit untuk dibedakan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan kualitas telur ayam arab selama penyimpanan di refrigerator dan suhu kamar. Penelitian eksperimental ini didesain menggunakan sistem rancangan acak kelompok, kelompok perlakuan terdiri dari telur yang disimpan di refrigerator menggunakan rak telur (K1), refrigerator menggunakan keranjang (K2), suhu ruang menggunakan rak telur (K3), dan suhu ruang menggunakan keranjang (K4). Parameter yang diamati, yaitu bobot telur, tinggi kantung udara, Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh unit (HU). Lima butir telur pada masing-masing kelompok diamati kualitasnya selama 45 hari penyimpanan dengan interval 5 hari sehingga total sampel berjumlah 200 butir. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) pada semua parameter kualitas telur terhadap waktu penyimpanan telur ayam Arab. Telur ayam Arab yang disimpan di suhu ruang dan refrigerator menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,05). Telur yang disimpan di rak telur dan di keranjang tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Faktor yang memengaruhi kualitas telur secara signifikan yaitu suhu dan waktu penyimpanan. Penempatan telur di refrigerator mampu mempertahankan kualitas telur ayam Arab lebih lama.
Upaya Peningkatan Kualitas Mikrobiologis Susu Dengan Pembiasaan Peternak Dalam Melakukan Celup Puting pada Sapi Perah Setelah Pemerahan Pisestyani, Herwin; Wulansari, Retno; Attabany, Afton
Jurnal Bina Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bina Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jbpkm.v6i1.4536

Abstract

Mastitis adalah peradangan kelenjar mammae yang menyebabkan kerugian ekonomi pada industri peternakan sapi perah, karena menurunkan kualitas dan kuantitas produksi susu, meningkatkan biaya pengobatan dan pencegahan, serta menyebabkan penurunan produktivitas sapi secara keseluruhan. Upaya pengendalian untuk mencegah mastitis, yaitu celup puting menggunakan antiseptik setelah pemerahan. Namun, peternak masih enggan melakukannya karena memperlama waktu pemerahan dan penambahan biaya untuk pembelian antiseptik. Pembiasaan peternak dalam menerapkan celup puting perlu dilakukan, sehingga peternak merasakan manfaatnya dan dapat menerapkan sendiri secara sadar. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis persentase selisih dari kualitas mikrobiologis dan jumlah sel somatik sebelum dan setelah sapi diberi perlakuan celup puting menggunakan povidon iodin 1% + glyserin 10% setelah pemerahan selama 2 minggu. Perlakuan celup puting dilakukan oleh tiga peternak binaan. Perlakuan celup puting setelah pemerahan dapat menurunkan jumlah total mikrorganisme (26,42–66,77%), jumlah S. aureus (84,07–99,36%), jumlah koliform (97,54–99,63%), dan jumlah sel somatik (13,87–71,39%) dalam susu. Sapi perah yang diberi perlakuan celup puting terbukti mengalami peningkatan kualitas mikrobiologis susu. Hal ini berbeda dengan sapi perah yang tidak diberi perlakuan celup puting yang menunjukkan terjadinya penurunan kualitas mikrobiologis secara signifikan. Akhirnya, peternak mengetahui bahwa celup puting penting untuk mencegah mastitis sehingga kualitas mikrobiologis susu meningkat.
Detection of ESBL-Encoding Genes in Antibiotic-Resistant Escherichia coli Isolated from Houseflies (Musca domestica) in Campus Food Court Lukman, Denny Widaya; Pisestyani, Herwin; Aminudin, Muhammad Rizki; Supriyono, Supriyono; Sukmawinata, Eddy
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.105866

Abstract

Escherichia coli is a dangerous pathogen that is reported to bring about disease in humans as well as animals. E. coli is commonly associated with diseases due to food contamination. Some strains of the pathogen have shown resistance to various antibiotics, one of them is ESBL-E. coli, leading to complex problems in health. The transmission of pathogenic bacteria in the environment can be mediated by houseflies (Musca domestica). This study aimed to analyze the presence of antibiotic-resistant E. coli bacteria and detect resistance genes carried by houseflies (M. domestica) collected from food courts in IPB University, Dramaga Bogor, Indonesia. The study included isolation and identification of E. coli bacteria based on ISO 16649-2: 2001 standards. E. coliisolates are then tested for antibiotic sensitivity using the Kirby Bauer disc diffusion method based on CLSI in 2023. Antibiotics tested included ciprofloxacin, ampicillin, tetracycline, trimethoprim-sulfamethoxazole, chloramphenicol, ceftazidime, and cefotaxime. Then, the identification of genes encoding ESBL resistance (blaCTX, blaTEM, and blaSHV) was conducted. The study found 5 isolates (5/40; 12.5%). Total 4 isolates of 5 isolates indicated resistance against two or several antibiotics tested. Detection of genes encoding ESBL resistance in 5 E. coli isolates showed that 2 isolates (40%) were positive for the blaTEM gene but did not show positive results for blaCTX and blaSHV genes. The appearance of antibiotic-resistant E. coli in houseflies in food court in campus should be taken into account. 
Biosekuriti Pasar Unggas Hidup dan Risiko Avian Influenza di Bogor: Implikasi Surveilans One Health Hidayah, Dinda Nur; Sudarnika, Etih Etih Sudarnika; Pisestyani, Herwin; Agungpriyono, Srihadi
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.111429

Abstract

Background: Live bird markets (LBMs) are critical nodes in the poultry supply chain but also high-risk environments for avian influenza (AI) transmission.Objectives: This study assessed biosecurity, sanitation, and environmental practices in LBMs in Bogor, Indonesia, and evaluated evidence of AI exposure in poultry through serological testing.Methods: A cross-sectional survey was conducted in nine LBMs using structured questionnaires and observations, alongside serological testing with the hemagglutination inhibition (HI) assay to detect antibodies against H5N1 clades 2.1.3 and 2.3.2.Results: Significant biosecurity gaps were identified, including reliance on motorcycles for poultry transport, mixing of birds from multiple sources and species, absence of wastewater treatment facilities, and frequent presence of stray animals. Serological testing detected antibodies in layer chickens (55.6% for both clades) and broilers (11.2% for clade 2.3.2), suggesting ongoing viral exposure potentially linked to vaccination and/or field circulation.Conclusions: The findings highlight LBMs as amplification points for AI, with implications for poultry health, human exposure, and environmental contamination. Strengthening biosecurity and market infrastructure, enforcing animal health certification, and implementing safe disposal of sick or dead birds are critical. Integrating these measures within a One Health framework is essential to reduce AI risks and enhance zoonotic disease preparedness in Indonesia.