Claim Missing Document
Check
Articles

PERBEDAAN JUMLAH BAKTERIURI PADA WANITA LANJUT USIA BERDASARKAN KULTUR MIKROBIOLOGI MENGGUNAKAN TEKNIK CAWAN TUANG DAN CAWAN SEBAR Ni Wayan Evi Damayanti; Moh Fairuz Abadi; Ni Wayan Desi Bintari
Meditory : The Journal of Medical Laboratory Vol 8, No 1 (2020): Meditory, vol. 8 no 1 Juni 2020
Publisher : Jurusan Analisis Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.937 KB) | DOI: 10.33992/m.v8i1.969

Abstract

Introduction: Bacteriuri are the presence of bacteria present in the urine that can cause urinary tract infections. Bacterial examination can be carried out by microbiological culture methods using pour plate and spread plate techniques Objective: This study aims to determine the differences in the results of the application of pour plate and spread plate techniques to the number of bacteriuri found in elderly women. Method: The type of research used is experiment. This research was conducted in April 2019. The examination site was conducted at the Bacteriology Laboratory, Study Program of Medical Laboratory Technology, STIKes Wira Medika Bali. The sample of this study was 14 respondents. The sampling technique was purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using the T test. Results: The results of statistical analysis showed a value of p 0.05, which means that H0 was accepted, so there was no difference in the number of bacteriuri examined by microbiological culture using pour plate and spread plate techniques  
Upaya Penyelamatan Generasi Muda Melalui Penyuluhan Tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Dan Pemeriksaan Laboratorium Diah Prihatiningsih; Ni Luh Putu Devhy; Ika Setya Purwanti; Ni Wayan Desi Bintari; Anak Agung Gde Oka Widana
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v5i3.146

Abstract

NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya, yang sering disalahgunakan dan merupakan salah satu masalah yang kompleks yang ada dimasyarakat yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif. Meskipun dalam kedokteran sebagian besar golongan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran dijalur ilegal, akan berkaitan sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Penyalahgunaan narkoba dewasa ini semakin meningkat, khususnya dikalangan remaja, tak terkecuali pada masa pandemi Covid-19 ini. Kegiatan pengabdian masyarakat di SMK PGRI 2 Denpasar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa tentang bahaya akibat penyalahgunaan dan pemeriksaan narkoba. Peserta pengabdian masyarakat merupakan siswa sekolah menengah atas kelas XII Administrasi Perkantoran yang berjumlah 41 siswa. Berdasarkan jenis kelamin, peserta pengabdian masyarakat terdiri dari 30 siswa perempuan (73,17%) dan 11 siswa laki-laki (26,83%). Kegiatan ini diawali dengan pengisian kuisioner pre-test pengetahuan tentang bahaya akibat penyalahgunaan dan pemeriksaan narkoba yang kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan oleh narasumber dan dilakukan kembali pengisian kuisioner post-test. Hasil dari pengisian kuisioner setelah dilakukan penyuluhan mengalami peningkatan yaitu sebesar 97,32% siswa memahami tentang bahaya akibat penyalahgunaan dan pemeriksaan narkoba. Selama melakukan penyuluhan siswa sangat antusias dalam mendengarkan pemateri, untuk itu diharapkan kegiatan ini digalakkan khususnya di dunia Pendidikan. 
PENILAIAN HASIL PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE DENGAN VARIASI PENGAWET Putu Ayu Parwati; Ni Wayan Desi Bintari; Diah Prihatiningsih
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 3 No 3: Agustus 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v3i3.1875

Abstract

Pemeriksaan sedimen urine dilakukan untuk melihat unsur organik dan anorganik pada urine. Pemeriksaan urine paling lambat 2 jam dari waktu urine ditampung, penundaan urine selama 2 jam tanpa disimpan pada suhu 2-80C dan tanpa penambahan pengawet dapat menurunkan kualitas hasil pemeriksaan. Pemberian pengawet pada urine menyebabkan perkembangan bakteri dapat ditekan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hasil pemeriksaan sedimen urine dengan pengawet formalin dan toluena. Jenis penelitian yang digunakan yaitu analitik dengan pendekatan eksperimen. Sampel yang digunakan sebanyak 15 urine dengan 3 kali perlakuan. Hasil analisa data dengan uji One-way anova dan Kruskal Wallis menunjukkan hasil p value eritrosit, leukosit, sel epitel masing-masing sebesar 0,137; 0,699; 0,342 dimana p value >0,005 yang berarti tidak terdapat perbedaan hasil sedimen urine dengan pengawet formalin dan toluena. Tetapi masing-masing unsur memiliki perubahan morfologi setelah diawetkan dengan pengawet formalin dan toluena. Pada formalin terjadi perubahan morfologi yang sedikit mengecil dan membesar, sedangkan pada toluena terjadi perubahan morfologi mengecil dan tidak beraturan. Sehingga diharapkan pemeriksaan sedimen urine segera diperiksa dengan urine segar untuk mendapatkan hasil yang akurat dan dapat menunjang diagnosa suatu penyakit.
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN KIMIA URINE DENGAN VARIASI JENIS PENGAWET URINE Putu Ayu Parwati; Ni Wayan Desi Bintari; I Gusti Putu Agus; Ferry Sutrisna Putra
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 5 No 2 (2020): JURNAL ANALIS LABORATORIUM MEDIK
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan urine terdiri dari pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, dan kimia urine. Pemeriksaan urinalisa sebaiknya dilakukan < 2 jam setelah pengambilan sampel. Namun seringkali dengan banyaknya sampel urine yang harus diperiksa dan kondisi lainnya yang menyebabkan terjadinya penundaan pemeriksaan. Penundaan pemeriksaan urine yang dilakukan selama 2 jam tanpa disimpan pada suhu 2 – 80C sebaiknya dilakukan penambahan zat pengawet. Penambahan pengawet urine seperti formalin dan toluena diharapkan dapat menjaga kualitas hasil pemeriksaan urine selama proses penundaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan kimia urine dengan variasi pengawet. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan eksperimen dengan jumlah sampel sebanyak 15 responden. Hasil keton dan pH urine menunjukkan p value sebesar 0.000 yang berarti terdapat perbedaan signifikan hasil keton dan pH urine yang segera diperiksa, ditambahkan formalin dan ditambahkan toluena. Hal tersebut dikarenakan hasil positif palsu keton urine dapat terjadi karena pH urine yang rendah. Sedangkan parameter kimia urine yang lain menunjukkan tidak terjadi perubahan hasil glukosa, bilirubin, protein dan nitrit urine dengan tiga perlakuan yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan bakteri dalam urine tersebut bukan termasuk bakteri fermentasi glukosa, serta hasil nitrit negatif disebabkan karena tidak ada nitrat dalam urine yang akan direduksi menjadi nitrit oleh bakteri. Kata Kunci : Urine, Formalin, Toluena
Penyuluhan Pemeriksaan Narkoba dan Sosialisasi Pengenalan Fungsi Desain Formulir Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19 di SMP Tawakkal Denpasar Anak Agung Gde Oka Widana; Ni Luh Putu Devhy; Ika Setya Purwanti; Ni Wayan Desi Bintari; Diah Prihatiningsih
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v5i4.269

Abstract

Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotoprika, dan Zat Adiktif) tercatat semakin meningkat setiap tahunya. Realita tersebut telah membuktikan bahwa masyarakat masih belum sepenuhnya paham akan bahaya narkoba atau narkotika serta zat adiktif lainnya. Hal tersebut tentu memerlukan peran serta dari semua pihak, selain aparat terkait. Selain rendahnya pemahaman masyarakat akan bahaya narkoba, kekurangpahaman terkait dengan eksistensi formulir kesehatan juga merupakan masalah umum yang sering terlihat di masyarakat. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah dengan menggunakan metode penyuluhan secara online melalui aplikasi Zoom, karena mengingat pandemi Covid-19 masih berstatus membahayakan. Khalayak sasaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah para Guru yang bertugas di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tawakkal Denpasar. Karakteristik peserta kegiatan pengabdian masyarakat ini dominan diikuti oleh peserta perempuan, dengan rentang usia terbanyak berumur 30 tahun atau lebih. Berdasarkan karakteristik profesi, sebagian besar peserta yang turut serta adalah Karyawan Swasta yaitu sebesar 83%. Dari hasi evaluasi, penyuluhan mengenai pemeriksaan Narkoba di SMP Tawakkal Denpasar memperoleh respon yang sangat baik, ditandai dengan atensi peserta melalui pertanyaan terkait keberadaan Narkoba jenis baru dan persentase tingkat kesembuhan pengguna Narkoba. Terkait sosialisasi fungsi desain formulir kesehatan juga memperoleh respon yang cukup baik, khususnya terkait dengan validitas dari Usaha Kesehatan Sekolah sebagai ruang implementasi catatan rekam medis siswa.
Gambaran Candida albicans dalam Urine Pasien Diabetes Melitus Perempuan di Puskesmas 1 Denpasar Timur Ayu Trisnawati; Ni Wayan Desi Bintari; Nyoman Sudarma
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 3 No 4 (2022): Agustus
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37148/arteri.v3i4.234

Abstract

Candidiasis is fungal infection caused by the Candida sp. generally by Candida albicans. Diabetes mellitus is one of the predisposing factors for C. albicans fungal infection. The risk of infection is increased in women with hyperglycemia which cause high blood sugar level in vaginal. This condition providing an ideal place for fungal growth. This study aims to determine the description of the C. albicans in the urine of women with diabetes mellitus at Public Health Centre (I) East Denpasar. The sampling technique in this study used purposive sampling with a total sample of 30 urine of women with diabetes mellitus at Public Health Centre (I) East Denpasar in December 2021. The examination method used urine culture techniques on Sabouraud Dextrose Agar media, Gram stain and germ tube test. Based on the results of the examination of positive samples, the characteristics of colonies growing on SDA media were smooth, slightly raised on the surface, yellowish white in color, and smelled of yeast. On Gram staining, the results show the presence of oval-shaped blastopores, and purple in color and the germ tube test shows blastopores that form sprouts. In this study, 2 samples (7%) were positive for C. albicans and 28 samples (93%) were negative for C. albicans. Based on the results of the study, patients are expected to always maintain cleanliness (hygiene) in the genital area and maintain body immunity to reduce the risk of fungal infections.
Larvicidal Activity of Streptomyces sp. Liquid Cultures Against Aedes aegypti Larvae Ni Wayan Desi Bintari; Putu Ayu Parwati
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v8i2.11436

Abstract

Abstract: The tropics have significant future challenges in controlling the vectors of dengue hemorrhagic fever. The occurrence of resistance to chemical control encourages the development of strategies based on biological control. This study aimed to test the larvicidal activity of Streptomyces sp. liquid culture toward A. aegypti larvae. The selection of Streptomyces as a bio-larvicide was carried out by a chitinase test. Chitinase-producing bacteria were cultivated in biomass culture. The study was conducted using a completely randomized design. The results of this study can be isolated 4 Streptomyces isolates from muddy soil. Among the isolates, Streptomyces sp.4 showed chitinolytic activity on in vitro tests; therefore, it was used for larvicidal activity. Based on the Duncan test result, Streptomyces sp.4 culture showed a significant effect on larval mortality compared to the negative control (p<0.05). The highest rate of larval mortality was found in the A6B1 treatment (34.35%). The results of the Probit test showed that the LD50 value of the Streptomyces sp.4 culture was 24.6±5.4 mL. Based on the in vivo test, showed that Streptomyces sp.4 liquid culture affected the mortality rate of A. aegypti larvae and was significantly different from the negative control (p<0.05). Streptomyces sp.4 is known to have potential benefits as a biological larvicidal agent.Abstrak: Daerah tropis memiliki tantangan besar kedepannya dalam pengendalian vektor demam berdarah dengue (DBD). Adanya kejadian resistensi pengendalian dengan zat kimiawi mendorong strategi pengembangan berbasis pengendalian biologis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian aktivitas kultur Streptomyces sp. sebagai larvasida A. aegypti. Seleksi Streptomyces sebagai biolarvasida dilakukan dengan uji aktivitas kitinase. Bakteri penghasil kitinase dilakukan kultivasi kultur biomassa untuk pengujian in vivo. Rancangan uji menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian dapat diisolasi 4 isolat Streptomyces yang diisolasi dari tanah berlumpur. Diantara keempat isolat, satu isolat yaitu Streptomyces sp.4 menunjukkan aktivitas kitinolitik sehingga digunakan untuk uji aktivitas larvasida secara in vivo. Hasil uji larvasida menunjukkan perlakuan kultur Streptomyces sp.4 berpengaruh nyata terhadap persentase kematian larva dibandingkan kontrol negatif (p<0.05) berdasarkan hasil uji Duncan. Persentase kematian tertinggi didapatkan pada perlakuan A6B1 yaitu sebesar 34.35%. Hasil uji Probit menunjukkan nilai LD50 dari kultur Streptomyces sp.4 adalah 24.6 ± 5.4 mL. Berdasarkan hasil uji in vivo diketahui bahwa perlakuan kultur cair Streptomyces sp.4 berpengaruh terhadap tingkat kematian larva A. aegypti dan berbeda nyata dengan kontrol negative (p<0.05). Streptomyces sp. 4 diketahui memiliki potensi sebagai salah satu agen larvasida biologis.
CEMARAN Staphylococcus aureus DAN BAKTERI GRAM NEGATIF PADA MEMBRAN STETOSKOP DI RUANG PERAWATAN INTENSIF Ni Wayan Desi Bintari; Nyoman Sudarma; Ni Made Septi Ariani
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol 1 (2018): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.952 KB)

Abstract

ABSTRAKPasien dengan perawatan intensif memiliki kerentanan terinfeksi nosokomial yang tinggi. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar pasien menderita penyakit berat dan imunokompromains. Transmisi bakteri penyebab infeksi nosokomial dapat melalui alat medis salah satunya stetoskop. Stetoskop merupakan alat medis yang secara langsung kontak dengan tubuh pasien sehingga meningkatkan resiko penularan bakteri ke antar pasien. Staphylococcus aureus dan kelompok bakteri Gram negatif diketahui sebagai penyebab infeksi nosokomial yang paling sering ditemukan. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi S. aureus dan screening cemaran bakteri Gram negatif pada membran stetoskop di ruang perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah yang berlokasi di Kabupaten Badung Bali. Sampel diambil secara swab pada membran stetoskop yang digunakan oleh petugas medis di ruang perawatan intensif yang meliputi ruang ICU, ICCU, NICU, PICU dan HCU dan dilakukan kultivasi pada media selektif. Pengambilan sampel menggunakan total sampel yaitu sebanyak 16 stetoskop. Isolasi dan identifikasi dilakukan di Laboratorium Bakteriologi STIKes Wira Medika Bali. Identifikasi terhadap S. aureus dilakukan melalui uji biokimiawi yang meliputi uji katalase, koagulase, hemolisa, manitol dan pengecatan Gram. Identifikasi bakteri Gram negatif dilakukan melalui kultivasi media selektif dan pengecatan Gram. Hasil screening menunjukkan sebanyak 25% sampel positif cemaran S. aureus yaitu pada stetoskop di ruang ICU, HCU dan ICCU. Sementara itu cemaran bakteri Gram negatif ditemukan sebanyak 31,25 % yaitu pada stetoskop di ruang ICCU dan ICU.Kata kunci: Staphylococcus aureus, bakteri Gram negatif, membran stetoskopABSTRACTPatient in intensive care have a high susceptibility to nosocomial infection. Most patients in intensive care suffer have a high susceptibility to nosocomial infection. This results cause by each patient suffer from severity of illness and immunocompromised. Bacterial transmission can be through medical equipment such as stethoscope. Stethoscope is a medical device that directly contacts with patient’s body which can increase the risk of bacterial transmission among patients. Staphylococcus and Gram-negative bacteria are known to be the most common bacteria which cause nosocomial infection. The purpose of this research is to screening Staphylococcus aureus and Gram-negative bacteria in stethoscope membrane in intensive care room of general hospital in Badung Bali. Samples were taken by swab methods at stethoscope in intensive unit room which included ICU, ICCU, NICU, PICU and HCU. Sampling using total sampling method, total of sample used in this study are 16 stethoscopes. Isolation and identification take place in Bacteriology Laboratory STIKes Wira Medika. Identification of S. aureus was carried out through biochemical tests which include catalase, coagulase, hemolysis, mannitol and Gram staining test. Identification of Gram negative bacteria is done through selective medium cultivation and Gram staining. Result showed that 25% samples were positive S. aureus contamination. Positive result found in stethoscope at ICU, HCU and ICCU room. Gram-negative bacteria contamination showed positive result at 31,25% samples which are stethoscope from ICCU and ICU room.Keywords: Staphylococcus aureus, Gram negative bacteria, stethoscope membrane
PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SERTA KETERAMPILAN HAND HYGIENE SISWA MI TAWAKKAL DENPASAR Ni Wayan Desi Bintari; Diah Prihatiningsih; Ni Luh Putu Devhy; Ika Setyapurwanti; A.A. Gede Oka Widana
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 3 (2020): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.496 KB)

Abstract

ABSTRAKProgram perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta hand hygiene merupakan upayapromosi kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Keterampilan PHBS danhand hygiene perlu dilakukan sejak dini khususnya pada masa sekolah. Pembinaan lingkungansekolah sangat memungkinkan siswa untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi. Tujuanpelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasarsehingga dapat meningkatkan keterampilannya dalam melaksanakan PHBS dan hand hygienekhususnya di lingkungan sekolah. Pengabdian masyarakat ini dilakukan pada siswa sekolah dasar diMadrasah Ibtidaiyah (MI) Tawakkal Denpasar. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkanedukasi terkait PHBS dan hand hygiene yang dilakukan pada siswa mampu meningkatkanpengetahuan siswa terhadap aktivitas PHBS dan hand hygiene. Hasil pre-test diketahui nilai rataratapengetahuan siswa terhadap PHBS sebesar 55,6 dan mengalami peningkatan pada post testmenjadi 84,8. Selain itu tingkat pengetahuan siswa terkait hand hygiene juga mengalamipeningkatan dari rata-rata 55,6 menjadi rata-rata 90,4. Edukasi terhadap hand hygiene juga dapatmeningkatkan keterampilan siswa dalam melakukan teknik hand hygiene 7 langkah. Ditinjau dariefektivitas teknik hand hygiene yang dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan swab mikroba tangandiketahui sebanyak 55% siswa telah melakukan hand hygiene dengan sangat efektif. Sedangkansebanyak 45% siswa diketahui belum efektif dalam melakukan hand hygiene.Kata kunci: Mikroba tangan, Personal hygiene, Promosi kesehatan.
ONYCHOMYCOSIS NON-DERMATOFITA PADA PETERNAK BABI DI BANJAR PAANG KAJA DAN BANJAR SEMAGA DESA PENATIH KECAMATAN DENPASAR TIMUR Ni Wayan Desi Bintari; Anggraeni Suarsana; Putu Rina Wahyuni
Jurnal Kesehatan Terpadu Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Terpadu
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.882 KB)

Abstract

ABSTRAKOnychomycosis adalah kelainan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita dan non-dermatofita. Infeksi banyak diidap oleh penduduk yang beraktivitas dengan air seperti peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identifikasi jamur kuku pada peternak babi di Banjar Paang Kaja dan Banjar Semaga Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Pengambilan sampel penelitian dilakukan di Banjar Paang Kaja dan Banjar Semaga Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur dan tempat pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Analis Kesehatan STIKes Wira Medika Bali. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peternak babi di Banjar Paang Kaja dan Banjar Semaga Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 probandus. Metode pemeriksaan yang dilakukan melalui metode pengamatan langsung dan metode kultur jamur. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dari 20 sampel sebanyak 8 sampel (40%) positif Tinea unguium (jamur kuku). Dari 20 sampel pada pengamatan metode langsung mendapatkan hasil positif sebanyak 2 sampel (10%) dengan kode S1 dan S3. Sedangkan pada pengamatan metode kultur jamur hasil positif pada peternak babi di Banjar Paang Kaja dan Banjar Semaga Desa Penatih Kecamatan Denpasar Timur sebanyak 8 sampel (40%) dengan kode S1, S3, S4, S8, S10, S12, S13, dan S15 terinfeksi oleh jamur Aspergillus flavus (75%), Aspergillus sp.1 (12,5%), Aspergillus niger (12,5%) dan Rhizopus sp1 (12,5%).Kata kunci: Onychomycosis, Aspergillus sp., Rhizopus sp.ABSTRACTTinea unguium is nail disorder caused by dermatofita and non-dermatofita fungus. Tinea unguium is a common infection in breeder. The purpose of this research is to find out the occurance of Tinea unguium (fungus nail) infection in Pig Breeder at Banjar Paang Kaja and Banjar Semaga, Penatih Village, East Denpasar Distric. Type of this research is descriptive research. Sampling of this research is taken in Banjar Paang Kaja and Banjar Semaga, Penatih Village, East Denpasar Distric. Sample analyses took place in Microbiology Laboratory, Medical Laboratory Technologist of STIKes Wira Medika Bali. Population of this research is pig breeder in Banjar Paang Kaja and Banjar Semaga. Reasearch sample were 20 pig breeder who obtained by total sampling method. Tinea unguium identification of this study observed by direct observation (microscopy) and cultur method. The result of this study showed that 8 sampels (40%) is Tinea unguium positive. Direct observation method showed that 2 sampling (10%) is Tinea unguium positive (S1 and S3), while in culture method observation showed that 8 sample (40%) is Tinea unguium positive (S1, S3, S4, S8, S10, S12, S13 and S15). Identification of fungus showed that Tinea unguium in pig breeder caused by Aspergillus flavus (75%), Aspergillus sp.1 (12,5%), Aspergillus niger (12,5%) and Rhizopus sp1 (12,5%).Keywords: Onychomycosis, Aspergillus sp., Rhizopus sp.