Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Advokat dalam Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan Simbolon, Absanado; Debora, Debora
Journal of Health Education Law Information and Humanities Vol 2, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/helium.v2i1.5316

Abstract

Advokat memiliki peran penting dalam sistem peradilan Indonesia, baik dalam proses litigasi maupun non-litigasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, advokat bertugas memberikan jasa hukum kepada pihak-pihak yang membutuhkan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang semakin berkembang adalah penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui metode alternatif seperti negosiasi, mediasi, arbitrase, dan bentuk Alternative Dispute Resolution (ADR) lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas peran advokat dalam penyelesaian sengketa di luar pengadilan, serta kontribusinya dalam mencapai kesepakatan yang adil dan menguntungkan bagi para pihak yang bersengketa. Advokat sebagai fasilitator memiliki kemampuan untuk mengurangi konflik, menghemat waktu dan biaya, serta memastikan kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Melalui pendekatan profesional dan keahlian hukum, advokat berperan penting dalam mendampingi klien serta menciptakan solusi yang berkelanjutan dalam penyelesaian sengketa. Penelitian ini membahas peran advokat dalam ADR dan memberikan wawasan tentang bagaimana advokat dapat membantu para pihak mencapai penyelesaian yang efektif, adil, dan sesuai dengan hukum yang berlaku.
Peran Pengadilan Dalam Pemberian Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai Korban Kekerasan Seksual Purba, Paska Riando; Debora, Debora
Journal of Health Education Law Information and Humanities Vol 2, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/helium.v2i1.5237

Abstract

Legal protection for child victims of sexual violence aims to realize children's human rights. Crimes of decency or moral offences and sexual harassment are two forms of violation of decency which are not only a matter of national law of a country but are legal problems of all countries in the world or a global problem. Sexual abuse of children requires special attention considering the consequences of sexual violence against children which results in prolonged trauma to children. Children who are afraid to tell the events they experience, have a great opportunity for the perpetrator to carry out the next action. The formulation of the problem in this study is how the role of the court in providing legal protection to children as victims of sexual violence, how the obstacles faced by the Tarutung District Court in providing protection to children as victims of sexual violence. This research uses a sociological juridical method, namely research on problems by looking at and paying attention to the applicable legal norms linked to the facts that exist from the problems encountered in the research. The legal protection provided by the court is medical rehabilitation which is a process of integrated treatment activities by restoring the physical condition of children, child victims and / or child witnesses.
Legal Aspects of Copyright on Book Photocopying Business Activities Debora, Debora; Siallagan, Haposan; Nainggolan, Jesella Ramayanti
LEGAL BRIEF Vol. 13 No. 2 (2024): June: Law Science and Field
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/legal.v13i2.956

Abstract

Photocopied books are sold at much cheaper prices than original books. These pirated books are very popular with college students because of their affordable prices without thinking about the authenticity of the book. Books are objects of Copyright which are protected by law, therefore the author of the book as the creator and/or holder of Copyright for the work of the book has exclusive rights, namely the right to monopolize his creation in an effort to protect his creation from other parties, such as the right to publish and multiplying his creations or giving permission to other parties to gain economic benefits. Even though copyright is an individual right, there are certain limits regarding public authority to provide access to information for society at large. This article examines how copyright is limited in duplicating books for educational purposes and how UUHC enforces book duplication without the author's permission. The method used to study this problem is the normative research method. Based on the results of the study, it can be concluded. Copyright restrictions can be made as long as they do not conflict with morals, religion, public order, decency, national defense and security. The Copyright Law contains restrictions on Copyright related to education as stated in Article 44 jo. Article 86 wherein stating the specified source, or the obligation of the copyright holder concerned to give permission to another party to translate and/or reproduce the work or can also appoint another party to carry out the translation/reproduction of the work. This is done for creations in the fields of education and research. Law enforcement regarding Copyright violations can be resolved through civil dispute resolution and criminal prosecution
Jazz Sharing Experience: Kolaborasi Pengabdian Masyarakat untuk Berbagi Pengetahuan Musik di Daegu Korea Selatan Batubara, Junita; Arsyadona, Arsyadona; Mahameru, Erucakra; Elfrida, Rotua; Debora, Debora; Nopeline, Nancy; Lumban Gaol, Manatap Berliana; Herman, Herman; Yoon, Phil; Sangjik, Lee; Silalahi, Teddy; Sidauruk, Rizky
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 6 (2024): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i6.2028

Abstract

Pengabdian masyarakat berbasis musik jazz menjadi sebuah inovasi dalam upaya pelestarian budaya dan pendidikan musik. Proyek "Jazz Sharing Experience: Kolaborasi Pengabdian Masyarakat untuk Berbagi Pengetahuan Musik di Daegu, Korea Selatan" bertujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi masyarakat Daegu melalui kolaborasi antara musisi jazz internasional dan lokal. Program ini melibatkan serangkaian aktivitas yang meliputi, konser interaktif, dan diskusi panel yang bertujuan untuk memperkenalkan serta memperkaya pemahaman masyarakat tentang musik jazz. Melalui pendekatan partisipatif, proyek ini berusaha menjembatani kesenjangan antara berbagai kelompok usia dan latar belakang sosial-ekonomi. Dengan memanfaatkan platform digital dan media sosial, inisiatif ini juga berupaya untuk memperluas jangkauan dampak edukasi musik hingga ke komunitas yang lebih luas. Kolaborasi dengan institusi pendidikan, komunitas seni, dan pemerintah lokal menjadi pilar utama dalam keberhasilan program ini. Program ini diikuti berbagai komunitas seni diantaranya komunitas The Next Human. The Next Human menunjukkan peningkatan signifikan dalam minat dan apresiasi terhadap musik jazz di kalangan masyarakat Daegu, Korea Selatan. Selain itu, The Next Human berhasil menciptakan ruang dialog yang konstruktif antara musisi dan masyarakat, yang berdampak positif terhadap perkembangan seni dan budaya lokal. Kegiatan ini menyoroti pentingnya kolaborasi global dalam upaya pemberdayaan komunitas melalui musik, serta menggarisbawahi potensi musik jazz sebagai alat pendidikan dan pelestarian budaya yang efektif.
The Relationship Between A History of Exclusive Breastfeeding and the Development of Babies Aged 6-12 Months Paninsari, Debora; Wau, Yesdita Rohanita; Barus, Elfriza Putri; Debora, Debora
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 3 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i3.3093

Abstract

Having healthy children who develop well according to their age is every parent's dream. Breastfeeding babies from an early age is the right decision because breast milk is the best food for babies. To find out the relationship between the history of exclusive breastfeeding and the development of babies aged 6-12 months. Mother's milk (ASI) is the main source and must be given to all babies. To achieve optimal growth and development, babies should be given exclusive breast milk. until the age of six months and may continue until the child is 2 years old. The aim of the research is to determine the relationship between a history of exclusive breastfeeding and the development of babies aged 6-12 months In this research, we use a type of quantitative research that is analytical surveys. In this study, the crazy approach is Cross Sectional. The sampling used in this study is Total Sampling by taking samples of the entire population of mothers who have babies aged 6-12 months. Data collection techniques use questionnaires then data is analyzed with bivariate analysis and univariate analysts. The results of the chi-square test research with a probability value of ɑ = 0.05, from the research results it is known that the p-value is 0.040 ˂ from the value of ɑ 0.05, which can be concluded that there is a relationship between the history of breastfeeding and the development of the baby.
Perlindungan Hak Tersangka dan Terdakwa dalam Proses Hukum Acara Pidana di Indonesia (Studi Pada Pengadilan Negeri Tarutung) Siregar, Putri Eunike; Debora, Debora
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hak-hak tersangka dan terdakwa dalam proses persidangan sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Tersangka dan terdakwa memiliki hak-hak tersendiri baik proses penangkapan, proses penahanan dan proses penggeledahan. Jurnal ini mengkaji berbagai mekanisme perlindungan yang diterapkan di pengadilan, termasuk hak untuk mendapatkan pendampingan hukum, hak untuk dihadapkan dengan bukti, serta hak untuk tidak dipaksa mengaku bersalah.
Penerapan Prinsip Peradilan Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan dalam Hukum Acara Pidana Sihombing, Tirani; Debora, Debora
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan prinsip peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan dalam hukum acara pidana merupakan upaya untuk menciptakan sistem peradilan yang efisien dan aksesibel bagi masyarakat, tanpa mengabaikan hak-hak dasar terdakwa maupun korban. Prinsip ini diatur dalam berbagai regulasi, termasuk Undang- Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Dalam praktiknya, penerapan prinsip tersebut bertujuan untuk mempercepat proses peradilan, mengurangi birokrasi, serta menurunkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses peradilan pidana. Dengan demikian, sistem peradilan yang sederhana, cepat, dan murah dapat mendorong terciptanya keadilan yang lebih merata dan mengurangi beban sistem peradilan yang terkadang terlalu rumit dan memakan waktu lama. Namun, penerapan prinsip ini juga harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat agar tidak menimbulkan ketidakadilan dalam proses hukum, serta memastikan hak-hak terdakwa tetap terjaga.
IMPLEMENTASI MEDIASI DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERDATA DI DALAM PENGADILAN Sitorus, Bethsaidah Putri; Debora, Debora
JOURNAL EQUITABLE Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : LPPM, Universitas Muhammadiyah Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37859/jeq.v10i1.8123

Abstract

This research examines the process of resolving civil cases using mediation. In response to the many prolonged conflicts, the Supreme Court issued PERMA No. 1 of 2016 on the Judicial Mediation Process. Pre-mediation, mediation process, and mediation outcome are the three steps in this process. In the mediation process, the mediator acts as a neutral party. The mediator can carry out his work with a variety of skills learned, and learned in conflict resolution or dispute resolution. However, the mediation was considered not fully successful at the implementation stage due to the lack of cooperation between the parties and the mediator. This hampered the process and affected its success.
Keberhasilan dan Tantangan dalam Pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk UMKM Studi Kasus: Sabina Collection Hutabarat, Glory Estefany; Debora, Debora
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.21149

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperoleh manfaat besar dari pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karena membantu melindungi kekayaan intelektual, memperkuat identitas perusahaan, dan meningkatkan daya saing di pasar domestik dan luar negeri. Melalui studi kasus Sabina Collection, perusahaan mode lokal yang berhasil mendaftarkan merek dagangnya, studi ini berupaya menyelidiki kesulitan dan pencapaian yang dihadapi oleh UMKM dalam proses pendaftaran HKI. Wawancara mendalam, observasi langsung, dan pemeriksaan dokumen pendaftaran HKI formal merupakan bagian dari metodologi kualitatif studi ini.Temuan studi menunjukkan bahwa keberhasilan Sabina Collection dalam menetapkan hak kekayaan intelektual (HKI) meningkatkan kepercayaan pelanggan, memberikan perlindungan hukum bagi merek, dan menciptakan peluang untuk kolaborasi komersial dengan mitra domestik dan asing.
IMPLEMENTASI E-COURT SEBAGAI UPAYA MODERNISASI ADMINISTRASI PERADILAN DI INDONESIA Simanungkalit, Irfandy H; Debora, Debora
PALAR (Pakuan Law review) Vol 10, No 4 (2024): Volume 10, Nomor 4 Oktober-Desember 2024
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/palar.v10i4.11414

Abstract

Abstrak Tujuan Penelitian ini ialah untuk menjelaskan bahwa digitalisasi dan otomasi menjadi tanda Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Berkat teknologi modern yang dibawa oleh revolusi ini, semua bidang industri dapat bekerja sama. Perubahan ini diprakarsai oleh Mahkamah Agung sebagai bagian dari upayanya melakukan reformasi dan menciptakan era baru peradilan modern berbasis teknologi informasi yang dikenal dengan e-court. Permasalahan yang menjadi batasan pembahasan dari penulisan ini antara lain Bagaimana penyelenggaraan E-Court sebagai upaya modernisasi administrasi peradilan? Bagaimana peluang dan tantangan dalam penerapan sistem E-Court ? Metode untuk memperoleh data dalam penulisan artikel ini adalah dengan metode pendekatan normatif. Melalui Perma Nomor 3 Tahun 2018, Mahkamah Agung memperkenalkan layanan peradilan elektronik. Pelayanan elektronik meliputi pendaftaran, pembayaran dan pemanggilan para pihak secara elektronik. Setahun kemudian, Mahkamah Agung memperkenalkan sistem peradilan elektronik yang diatur dalam Perma Nomor 1 Tahun 2019, dan dengan Perma Nomor 7 Tahun 2022, Mahkamah Agung kembali memperkuat layanan peradilan elektronik. E-courts merupakan sebuah langkah besar menuju modernisasi sistem peradilan di Indonesia. Namun, pemerintah dan lembaga penegak hukum masih menghadapi banyak tantangan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dan profesional hukum terhadap penggunaan e-court. Kata kunci: E-Court, Revolusi industri 4.0 , Administrasi Peradilan. Abstract The aim of this research is to explain that digitalization and automation are signs of the Industrial Revolution 4.0 in Indonesia. Thanks to the modern technology brought by this revolution, all areas of industry can work together. This change was initiated by the Supreme Court as part of its efforts to reform and create a new era of modern justice based on information technology known as e-court. The problems that limit the discussion of this writing include: How is the E-Court implemented as an effort to modernize justice administration? What are the opportunities and challenges in implementing the E-Court system? The method for obtaining data in writing this article is a normative approach. Through Perma Number 3 of 2018, the Supreme Court introduced electronic justice services. Electronic services include registration, payment and summoning of parties electronically. A year later, the Supreme Court introduced an electronic justice system regulated in Perma Number 1 of 2019, and with Perma Number 7 of 2022, the Supreme Court again strengthened electronic justice services. E-courts is a big step towards modernizing the justice system in Indonesia. However, the government and law enforcement agencies still face many challenges in increasing public and legal professionals' understanding of the use of e-courts. Keywords: E-Court, Industrial Revolution 4.0, Judicial Administration.