Claim Missing Document
Check
Articles

Kompres Dingin (Aloe Vera) dan Pijat Oksitosin Untuk Memperlancar Produksi ASI Pada Ibu Nifas di Puskesmas Rakit 1 Islamiati, Shinta; Dewi, Feti Kumala; Surtiningsih, Surtiningsih
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.172

Abstract

Banyaknya kasus pada masa nifas salah satunya yang sering dijumpai yaitu permasalahan dalam pemberian ASI yang disebabkan bendungan ASI karena adanya penyempitan duktus laktiferi oleh kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna sehingga menyebabkan ASI kurang lancar, oleh karena itu untuk mengatasi pengeluaran ASI kurang lancar dapat dilakukan dengan penerapan kombinasi kompres dingin aloe vera dan pijat oksitosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi kompres dingin dengan gel aloe vera dan pijat oksitosin dalam memperlancar produksi ASI pada ibu nifas di Puskesmas Rakit 1. Latar belakang penelitian ini adalah tingginya angka ibu nifas yang mengalami bendungan ASI, yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif dan meningkatkan risiko komplikasi seperti mastitis. Metode penelitian melibatkan lima responden ibu post partum yang mengalami produksi ASI kurang lancar dan nyeri payudara. Kombinasi terapi diterapkan selama empat hari, dengan kompres dingin aloe vera selama 10-15 menit dan pijat oksitosin selama 15-20 menit, dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan penurunan skala nyeri dari tingkat sedang menjadi tidak nyeri pada semua responden, serta peningkatan volume ASI dari rata-rata 0,4 ml menjadi 9 ml setelah terapi. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi kompres dingin aloe vera dan pijat oksitosin efektif dalam mengatasi masalah produksi ASI dan nyeri payudara pada ibu nifas. Penelitian ini memberikan solusi nonfarmakologis yang dapat diimplementasikan di fasilitas kesehatan untuk mendukung ibu menyusui.
The Relationship between Sevoflurane Volatile and Time to Recover from Consciousness in Patients After General Anesthesia Rahmadiya Hadi Putri; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Java Nursing Journal Vol. 3 No. 1 (2025): November - February 2025
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v3i1.93

Abstract

Prolonged recovery time is one of the undesirable complications in anesthesia procedures so it is necessary to prevent delayed recovery of consciousness from occurring in patients. Volatile sevoflurane is considered as one of the main options because of its safety profile and the speed of recovery of post-anesthesia patients. The purpose of the study was to determine the relationship between volatile sevoflurane and time to recover consciousness in patients after general anesthesia at Kardinah Hospital, Tegal City. This research method is descriptive correlation with cross sectional design. The sampling of this study was consecutive sampling consisting of 128 people. Data collection techniques intra and post anesthesia with general anesthesia using a questionnaire. This research was conducted on June 1-20, 2024. The measuring instruments of this study were observation sheets and Spearman analysis. The results of this study indicate that most of the time recovering consciousness 25 minutes in patients after general anesthesia with 2%-2,5% volatile sevoflurane, namely 36 (28.1%) respondents while a small part of the time recovering consciousness 45 minutes with volatile sevoflurane 2%-2.5%, namely 1 (0.8%) respondent. From statistical tests with Spearman analysis with a p value of 0.028 (p < 0.05) with a contingency coefficient of 0.105. It was concluded that there was a relationship between volatile sevoflurane and time to recover consciousness in patients after general anesthesia at Kardinah Hospital, Tegal City.
Deteksi Dini Kesehatan Remaja dalam Upaya Gerakan Tekan Obesitas dan Anemia pada Remaja Hikmanti, Arlyana; Adriani, Fauziah Hanum Nur; Dewi, Feti Kumala
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18798

Abstract

ABSTRAK Masalah kesehatan remaja adalah masalah yang penting untuk diperhatikan. Remja saat ini mendapatkan banyak tantangan karena secara psikologis remaja sedang mengalami masa peralihan, body image dan konsumsi makanan yang tidak sehat atau kesalahan pola makan dapat memengaruhi kesehatannya. Bila hal tersebut tidak ditangani dapat menimbulkan anemia dan obesitas yang nantinya menjadi manivestasi penyakit dan gangguan kesehatan dimasa mendatang, seperti penyakit kardiovaskuler dan diabetes militus tipe 2. Kegiatan ini bertujuan deteksi dini kesehatan remaja dalam upaya gerakan tekan obesitas dan anemia pada remaja melalui pemeriksaan status gizi, lingkar perut, gula darah sewaktu, lingkar lengan atas, dan kadar hemoglobin remaja. Dengan diketahui status kesehatan remaja tersebut, remaja dapat memahami kondisinya dan dapat melakukan upaya untuk mencegah obesitas dan anemia pada remaja. Metode yang digunakan adalah penjelasan maksud dan tujuan, informed concent, pengukuran tinggi badan, penimbangan berat badan, pengukuran lingkar lengan atas, pengukuran lingkar perut, pemeriksaan gula darah, pemeriksaan kadar hemoglobin dan edukasi secara individu. Hasil kegiatan ini menunjukkan sebagian besar peserta status gizi underweight, lingkar lengan atas normal/tidak KEK, lingkar perut normal/ tidak obesitas, gula darah normal, dan kadar hemoglobin normal/ tidak anemia. Kesimpulan kegiatan ini sesuai dengan sasaran dan berjalan lancer. Saran perlunya upaya untuk meningkatkan kesadaran peserta tentang pentingnya menjaga status gizi termasuk cara diet sehat remaja dan pemantauan minum zat besi pada remaja. Perlu adanya peninjauan lebih lanjut faktor yang memengaruhi Kesehatan remaja. Kata Kunci: Kesehatan, Remaja, Anemia, Obesitas  ABSTRACT Adolescent health issues are important issues to pay attention to. Adolescents currently face many challenges because, psychologically, they are experiencing a transition period; body image and unhealthy food consumption or eating patterns can affect their health. If this is not addressed, it can cause anaemia and obesity, which will later become manifestations of diseases and health disorders in the future, such as cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. This activity aims to detect adolescent health early in an effort to reduce obesity and anaemia in adolescents through examination of nutritional status, waist circumference, random blood sugar, upper arm circumference, and haemoglobin levels of adolescents. By knowing the health status of adolescents, adolescents can understand their condition and can make efforts to prevent obesity and anaemia in adolescents. The methods used are explanation of the intent and purpose, informed consent, height measurement, weighing, upper arm circumference measurement, waist circumference measurement, blood sugar examination, haemoglobin level examination and individual education. The results of this activity showed that most participants had underweight nutritional status, normal upper arm circumference/not KEK, normal waist circumference/not obese, normal blood sugar, and normal haemoglobin levels/not anaemic. The conclusion of this activity was in accordance with the target and went smoothly. Suggestions for the need to increase participant awareness of the importance of maintaining nutritional status, including how to eat a healthy diet for adolescents and monitoring iron intake in adolescents. Further review of factors that influence adolescent health is needed. Keywords: Health, Teenagers, Anemia, Obesity
The Relationship Between the Triple Airway Maneuver Insertion Technique and The Success Rate of Laryngeal Mask Airway Installation in Elective Surgery Bagas Kara Alfaridzi; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 3 (2024): July - October 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i3.80

Abstract

Background: The Laryngeal Mask Airway (LMA) is a widely utilized supraglottic airway device by anesthesiologists in selective procedures, particularly in cases where intubation is not feasible or when managing a difficult airway. Complicating factors such as a short neck and large tongue can hinder LMA insertion, necessitating the use of the Triple Airway Maneuver (TAM). This technique involves a combination of head elevation, anterior mandible lift, and mouth opening to facilitate airway clearance. Purpose: This study was to evaluate the relationship between the TAM technique and the success rate of LMA insertion during elective surgeries at Dr. Soedirman Kebumen General Hospital. Methods: A cross-sectional, analytic study was conducted in June 2024, involving 52 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using observation sheets. Findings: The findings revealed that the majority of respondents were aged 17-25 years (38.5%) and had a body mass index of 18.5-25.0 (73.1%). Non-smokers constituted 73.1% of the sample, while 46.2% had occupations involving repetitive neck movements. The TAM group achieved 45 successful LMA insertions, with 44 succeeding on the first attempt and 1 on the second, compared to 7 successful insertions in the non-TAM group. However, Kendall’s tau c test (p=0.056) indicated no statistically significant relationship between TAM and LMA insertion success rates, and the correlation coefficient (0.385) suggested a weak relationship. Conclusions: the TAM technique does not significantly influence the success rate of LMA insertion
STUDI KASUS KOMBINASI MINUMAN KACANG HIJAU DAN MADU UNTUK MENINGKATKAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PADA IBU HAMIL ANEMIA DI PUSKESMAS MANDIRAJA 2 Ni'mah, Khoirun; Rini, Susilo; Dewi, Feti Kumala
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45766

Abstract

Dampak dari anemia  kehamilan akan beresiko pada  perkembangan janin dan  terjadinya  komplikasi pada  kehamilan,  persalinan,  nifas  sehingga menyebabkan  kematian.  Pemerintah  mewajibkan  seluruh ibu  hamil mengkonsumsi  tablet Fe namun  anemia  masih  belum  teratasi. Salah satu upaya dalam mencegah anemia pada ibu hamil selain tablet tambah darah yaitu konsumsi minuman kombinasi kacang hijau dan madu dengan kandungan kalsium, fosfor, zat besi, natrium, dan kalium. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus meliputi pengumpulan data ibu hamil yang mengalami anemia. Subjek penelitian ini adalah 5 ibu hamil dengan keluhan pusing, mudah lelah, lemas, dan kadar Hb rendah. Penelitian dilakukan pada tanggal 2-28 Desember 2024 di Puskesmas Mandiraja 2 dan rumah responden. Alat ukur yang digunakan adalah Easy Touch GCHb. Hasil studi data subjektif dan objektif menunjukkan mayoritas ibu hamil anemia sering merasa pusing dan mengantuk. Semua responden makan 3-4 kali sehari, cukup minum, dan menjaga kebersihan. Waktu istirahat mereka rata-rata 8 jam per hari. Sebagian besar responden tampak pucat, dengan pemeriksaan hemoglobin 60% anemia sedang (9.00 gr/dL) dan 40% anemia ringan (10.02 gr/dL). Rata-rata responden rentang usia >35 tahun sebanyak (60%), Sebagian besar paritas responden multipara (60%), dan tingkat pendidikan sebagian besar adalah SMP (80%). Setelah 7 hari mengkonsumsi kombinasi minuman kacang hijau dan madu 250 ml di pagi dan sore hari, kadar hemoglobin responden rata-rata meningkat 1.6 gr/dL dari 10.1 gr/dL menjadi 11.7 gr/dL. Kesimpulannya ada pengaruh perbedaan jumlah kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan kombinasi minuman kacang hijau dan madu dengan peningkatan 1.6 gr/dL.
Indeks Massa Tubuh, Rasio Lingkar Pinggang, Tinggi Badan terhadap Sindrom Metabolik pada Stunted Obesity Fauziah Hanum Nur Adriyani; Arlyana Hikmanti; Feti Kumala Dewi
Midwifery Care Journal Vol 6, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/micajo.v6i2.12372

Abstract

 Stunted was a major nutrition problem in Indonesia. Obesity caused metabolic changes caused by endothelial dysfunction and oxidative stress mechanisms defined by waist size, HDL, triglycerides, calm blood glucose, and blood pressure. The purpose of this study is to determine the relationship between stubborn obesity and metabolic syndrome in female adolescents. Study design was case control with 150 students in the Banyuma district. Subject selection was performed using multistage random samples. The case group was 75 students who inhibited obesity, and the control group was 75 students with stunted and non-attended. Determine nutritional status by measuring size, weight and waist size. Metabolic syndrome was determined using three criteria: obesity, blood glucose level above 100 mg/dL, and lipid profile. Triglyceride levels ≥150 mg/dL and HDL levels ≤ 0 mg/dL; Data were analyzed on a descriptive test for univariate analysis and a Chi-square test for determining relationships.The mean values of HDL levels (39.80 ± 3.96 mg/dL), fasting blood sugar (112.6 ± 8.75 mg/dL), and triglycerides (102.34 ± 17.54 mg/dL) in the case group were higher than the mean values in the control group. There is a relationship between Stunted obesity and the incidence of metabolic syndrome in adolescents with ρ = 0.0479. This indicates that there is a higher risk of experiencing metabolic syndrome in the case group.
Pengaruh Coloading Cairan Kristaloid Terhadap Perubahan Tekanan Darah Dan Heart Rate Pada Pasien Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara Nur Fatichahtus Sa'adah; Danang Tri Yudono; Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.132

Abstract

Anestesi spinal merupakan teknik umum yang efektif yang memiliki risiko komplikasi seperti hipotensi dan bradikardia. Pemberian cairan kristaloid secara coloading adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh coloading cairan kristaloid terhadap perubahan tekanan darah dan heart rate pada pasien anestesi spinal di RS Emanuel Banjarnegara. Studi ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest design. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dan didapatkan sampel sebanyak 111 sampel. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret – April. Karakteristik usia sebagian besar responden berusia 26-35 tahun kategori dewasa awal sebanyak 56 responden (50,5%) dengan jenis kelamin yang paling dominan yaitu jenis kelamin Perempuan sebanyak 67 responden (60,4%), status pasien dengan ASA 2 sebanyak 84 responden (75.7%). Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa pemberian coloading cairan kristaloid mencegah terjadinya penurunan tekanan darah (p value 0,000 < 0,05), terjadi kenaikan rata – rata diastolik sebesar 8,73 mmHg dan rata – rata kenaikan sistole sebesar 23,25 mmHg dan terhadap penurunan heart rate (p value 0,000 < 0,05), rata – rata kenaikan heart rate setelah pemberian coloading cairan kriataloid sebesar 11,96 kali per menit pada pasien spinal anestesi di RS Emanuel Banjarnegara. Pemberian coloading efektif dalam menurunkan insidensi kejadian hipotensi dan bradikardi pada pasien spinal anestesi.
Metode Speos (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin dan Sugestif) untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Nifas Nurjanah, Sifa Siti; Dewi, Feti Kumala; Hikmanti, Arlyana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i8.21259

Abstract

ABSTRAK Masalah yang umum terjadi selama masa nifas adalah pengeluaran ASI yang dapat mengakibatkan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Data survei bulan Mei-Juli 2024 di Puskesmas Purwanegara I Kabupaten Banjarnegara, terdapat 30% ibu nifas mengalami ASI tidak lancar. Di Puskesmas sudah diberikan edukasi teknik menyusui, anjuran pemenuhan gizi, dan saran istirahat yang cukup. Metode SPEOS (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin dan Sugestif) belum pernah diterapkan sebelumnya, sehingga perlu diadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan metode tersebut. Tujuan pengabdian yaitu menambah pengetahuan, keterampilan, dan meningkatkan produksi ASI. Metode yang diterapkan dalam pengabdian ini mencakup pengkajian data, penyuluhan, pelatihan metode SPEOS, pengukuran produksi ASI, serta pretest dan posttest. Pelaksanaanya dengan memberikan pelatihan selama 15 menit pada keluarga. Sasaran PkM ini adalah 10 pasangan yang terdiri dari ibu nifas dengan keluhan ASI  tidak lancar dan keluarga. Hasil pengabdian kepada masyarakat yang sudah diberikan menunjukan karakteristik ibu nifas sebanyak 9 responden (90%) berusia 20-35 tahun, multipara 6 responden (60%). pendidikan SMA 6 responden (60%), pekerjaan IRT 9 responden (90%). Pretest pengetahuan sebagian besar kategori cukup 7 responden (70%) keterampilan kategori cukup 9 responden (90%), posttest pengetahuan kategori baik 10 responden (100%) keterampilan kategori sangat baik 4 responden (40%). Selisih peningkatan produksi ASI dari hari ke 1 dan hari ke 7 didapatkan rata-rata 34,5 ml dengan peningkatan minimum 15 ml dan peningkatan maksimum 70 ml. Kesimpulannya penyuluhan serta pelatihan metode SPEOS efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan produksi ASI pada ibu nifas. Sarannya diharapkan dapat dijadikan informasi dan gambaran bagi puskesmas khususnya dibagian kebidanan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada ibu nifas tentang metode SPEOS untuk meningkatkan produksi ASI.  Kata Kunci: Ibu Nifas, Produksi ASI, SPEOS   ABSTRACT One common problem after childbirth was low breast milk production. This could lead to failure in giving exclusive breastfeeding. A survey from May to July 2024 at the Purwanegara I Health Center in Banjarnegara District showed that about 30% of postpartum mothers had poor milk flow. The health center had already given education about breastfeeding techniques, good nutrition, and enough rest. However, the SPEOS method (Stimulation of Endorphin, Oxytocin, and Suggestive Massage) had never been used before. So, a community service activity was held to provide training on this method. The goal was to improve mothers’ knowledge, skills, and breast milk production. The activities included data analysis, counseling, SPEOS training, measuring milk production, and giving pre- and post-tests. The training lasted 15 minutes and involved the mothers and their families. This program targeted 10 couples (postpartum mothers with low milk production and their families). The results showed that 9 mothers (90%) were aged 20–35, 6 (60%) were multiparous, 6 (60%) had a high school education, and 9 (90%) were housewives. Before the training, 7 mothers (70%) had enough knowledge, and 9 (90%) had enough skills. After the training, all 10 mothers (100%) had good knowledge, and 4 (40%) had very good skills. The average increase in breast milk from day 1 to day 7 was 34.5 ml, with a minimum increase of 15 ml and a maximum of 70 ml. In conclusion, the counseling and SPEOS training successfully improved the mothers’ knowledge, skills, and milk production. The suggestion was expected to serve as information and illustration for the health center, particularly in the midwifery division, to enhance the knowledge and skills of postpartum women regarding the SPEOS method for increasing breast milk production. Keywords: Postpartum Mothers, Breast Milk Production, SPEOS
TERAPI KOMPLEMENTER TERHADAP BENDUNGAN ASI: KOMPRES DINGIN DAUN KUBIS DAN PIJAT OKSITOSIN PADA IBU MENYUSUI Feti Kumala Dewi; Surtiningsih; Fauziah Hanum Nur Adriyani
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 3: Agustus 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan ASI merupakan komplikasi umum pada masa awal menyusui yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan rasa tidak nyaman pada payudara, sehingga dapat mengganggu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Di Indonesia, cakupan ASI eksklusif masih di bawah target nasional, dan masalah payudara menjadi salah satu penyebab utama penghentian menyusui dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas terapi komplementer berupa kompres dingin daun kubis dan pijat oksitosin terhadap penurunan nyeri dan peningkatan volume ASI pada ibu menyusui dengan bendungan ASI. Penelitian ini menggunakan desain quasy eksperimen dengan pendekatan pre-test post-test pada satu kelompok. Sampel berjumlah 30 ibu menyusui hari ke-3 hingga ke-5 postpartum yang mengalami bendungan ASI. Data dikumpulkan menggunakan Visual Analog Scale untuk nyeri dan observasi volume ASI sebelum dan sesudah intervensi. Terapi kompres kubis dilakukan dua kali sehari selama 20–30 menit dan pijat oksitosin dilakukan dua kali sehari selama 3–5 menit selama tiga hari. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian Skor nyeri menurun secara signifikan dari rata-rata 7,77 menjadi 1,67 setelah intervensi (p = 0,000). Volume ASI meningkat secara signifikan dari rata-rata 13,37 ml menjadi 78,70 ml (p = 0,001). Hasil ini menunjukkan adanya perbaikan nyata dalam penurunan nyeri dan peningkatan produksi ASI.Kombinasi kompres dingin daun kubis dan pijat oksitosin efektif sebagai terapi non-farmakologis untuk mengurangi gejala bendungan ASI dan meningkatkan produksi ASI. Pendekatan ini layak diterapkan dalam praktik kebidanan untuk mendukung keberhasilan menyusui.
Intubasi Endotrakeal dan Sakit Tenggorokan Pasca Operasi: Analisis Cross-Sectional Faktor Risiko pada Anestesi Umum Dewi, Anggi Gusti; Suandika, Made; Dewi, Feti Kumala
Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 (2025): Bali Medika Jurnal Vol 12 No 1 Juli 2025
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v12i1.412

Abstract

Nyeri tenggorokan pascaoperasi (POST) merupakan komplikasi umum pada 18-65% pasien pasca-intubasi endotrakeal tube (ETT), dengan faktor risiko kritis berupa ukuran ETT, durasi intubasi, dan jenis kelamin perempuan. Studi cross-sectional ini (n=70) di RSUD Kardinah Tegal (Maret-Mei 2024) bertujuan menganalisis hubungan ETT-POST dan mengidentifikasi prediktor dominan melalui consecutive sampling, pengukuran skala Visual Analog Scale (VAS), dan analisis regresi logistik ordinal. Hasil menunjukkan hubungan signifikan ETT-POST (p=0,003; λ=0,400), dengan 64,3% pasien ETT mengalami POST vs. 0% pada kelompok laryngeal mask airway (LMA). Pasien perempuan dengan ETT ≥7,0mm berisiko 7,2 kali lebih tinggi mengalami POST berat (OR 7,2; 95% CI 2,1-24,3), sementara durasi intubasi <60 menit meningkatkan risiko POST 3,8 kali (OR 3,8; 95% CI 1,5-9,6). Disimpulkan bahwa reduksi ukuran ETT menjadi ≤6,5mm untuk pasien perempuan dan optimalisasi teknik intubasi merupakan strategi pencegahan prioritas di RSUD Kardinah Tegal.   Postoperative sore throat (POST) is a common complication in 18-65% of patients after endotracheal tube (ETT) intubation, with critical risk factors being ETT size, intubation duration, and female gender. This cross-sectional study (n=70) at Kardinah Hospital, Tegal (March-May 2024) aimed to analyze the relationship between ETT and POST and identify dominant predictors through consecutive sampling, Visual Analog Scale (VAS) measurements, and ordinal logistic regression analysis. The results showed a significant association between ETT and POST (p=0.003; λ=0.400), with 64.3% of ETT patients experiencing POST compared to 0% in the laryngeal mask airway (LMA) group. Female patients with an ETT ≥7.0 mm had a 7.2-fold higher risk of severe POST (OR 7.2; 95% CI 2.1-24.3), while intubation duration <60 minutes increased the risk of POST 3.8-fold (OR 3.8; 95% CI 1.5-9.6). It was concluded that reducing the ETT size to ≤6.5 mm for female patients and optimizing intubation technique are priority prevention strategies in regional hospitals.
Co-Authors Ailsya Farhana Anas, Fauriza Hayatul Anatria Septama Putri Anita, Debbi Tri Apriliani, Ita Apriliyani, Ita Ari Hidayatun Ari Yogo Prasetiyo Ariya Dwi Kristiyanti Arni Nur Rahmawati Asih Syifa'ul Hasanah Asmat Burhan Aulia, Noval Bagas Kara Alfaridzi Berliana Putri Utami Burhan, Asmat Danang Tri Yudono Dani, Dwi Darmawan Desy Yulita Dewi Ayu Lestari Dewi, Anggi Gusti Dwi Febriana Aini Dwi Novitasari Elvina, Windy Evi Dayanti Faizah, Maisarotul Fauziah Hanum Nur Adriani Fauziah Hanum Nur Adriyani Fauziah Hanum Nur Adriyani Fika Warginingtyas Fitri Nurhayati Fitriani, Revica Nur Hadi Heri Nurhanto Hikmanti, Arlyana Imas Hartanti Indah Liyana Sari Indri Heri S Inggar Permana Putri Irawati, Fanni Siska Islamiati, Shinta Ita Apriliyani Ita Apriliyani Linda Yanti Made Suandika Madyo Maryoto Madyo Maryoto Marfungah, Sari Fatul Maya Anjarsari Maya Safitri Melati Khusnanisa Murniati . Murniati Murniati Ni'mah, Khoirun Nisa, Nur Khoerotun Noval Aulia Novita Kustriani Nur Adriyani, Fauziah Hanum Nur Fatichahtus Sa'adah Nur Oktariani Nuraeni Nuraeni Nurjanah, Sifa Siti Oktaviana Oktaviana Oktaviani, Fani Try Peppy Octaviani Dewi Permani, Nara Putri, Noor Rochmah Ida Ayu Trisno Rahmadiya Hadi Putri Rahmaya Nova Handayani Ratih Padmasari Rere Ardia Cahyani Ririn Isma Sundari Roro Lintang Roro lintang Rosi Kurnia Sugiharti Said Muhammad Yusuf SANTI SUSANTI NINGSIH Septian Mixrova Sebayang Setiowati, Marliana Sulis Siti Haniyah solehah, Fita ayu Supayo, Sri Ayuni Surtiningsih Surtiningsih Surtiningsih SURTININGSIH, SURTININGSIH Susilo Rini Susilo Rini Susilo Rini, Susilo Taat Agung Widodo Tin Utami Tin Utami Tono Aminudin Tophan Heri Wibowo Ubjaan, Natasya Putri Wahyu Dianto Wasis Eko Kurniawan Wasis Eko Kurniawan Wibowo, Tophan Heri Wilis Sukmaningtyas Wulandari, Nelsa Mei Yudono, Danang Tri Yustika, Dewani Yusuf, Said Muhammad