Articles
PENGARUH LAID BACK POSITION TERHADAP NYERI LASERASI PADA IBU POST PARTUM
Feti Kumala Dewi;
Linda Yanti;
Susilo Rini
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 3 No. 11: Juli 2024
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tindakan episiotomi maupun robekan perineum yang terjadi spontan mempunyai dampak ketidaknyamanan pada ibu postpartum. Ketidaknyamanan berupa nyeri perineum, inkontinensia urin dan dyspareunia. Laid back position dapat menjadi salah satu alternatif bagi ibu menyusui pasca kelahiran seksio sesarea dan nyeri laserasi. Laid back position yaitu posisi menyusui dengan ibu yang bersandar pada bantal yang diletakkan di atas kursi, tempat tidur, maupun dinding. di Puskesmas Mandiraja 1 terdapat 25 ibu post partum dengan laserasi dan 15 diantaranya mengalami kesulitan dalam menyusui anaknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Laid Back Position Terhadap Nyeri Laserasi Pada Ibu Post Partum. Metode penelitian Quasy Eksperimental dengan pendekatan One Group Pre Test Post Test Design. Penelitian menggunakan data primer. Populasi dalam penelitian adalah ibu primipara dan multipara dengan persalinan normal, jumlah responden sebanyak 20 responden. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. Instrument penelitian ini menggunakan checklist Visual Analog Scale. Analisa data bivariate menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian karakteristik usia tertinggi adalah usia 21-35 tahun sejumlah 15 responden (75%), pendidikan tertinggi adalah pendidikan menengah (SLTA) sejumlah 12 responden (60%) dan paritas tertinggi adalah primipara sejumlah 11 responden (55%). Hasil uji wilcoxon test Pengaruh Laid Back Position Terhadap Nyeri Laserasi Pada Ibu Post Partum didapatkan nilai p-value 0,000 (p<0,05) sehingga ada pengaruh Laid Back Position Terhadap Nyeri Laserasi Pada Ibu Post Partum. Dengan Laid Back Position responden merasa nyaman dan rileks sehingga mampu meminimalkan rasa nyeri pada luka jahitan
Implementasi Kombinasi Warm Footbath dan Slow Stroke Back Massage Pada Ibu Hamil dengan Hipertensi di Puskesmas Bawang I Banjarnegara
Supayo, Sri Ayuni;
Rini, Susilo;
Dewi, Feti Kumala
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2025 Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2025)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35960/snppkm.v4i1.1364
Hipertensi merupakan gangguan kardiovaskuler pada kehamilan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah karena penyempitan dari pembuluh darah. Terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi adalah Warm Footbath dan slow stroke back massase yang dapat memberikan relaksasi, melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan tekanan darah. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah melatih Warm Footbath dan Slow Stroke Back Massage pada ibu sebagai upaya dalam menurunkan tekanan darah pada ibu hamil. Metode pengabdian kepada masyarakat dilakukan melalui pengkajian data dengan memberikan pengetahuan dan melatih pemberian Warm Footbath dan Slow Stroke Back Massage serta menilai hasil pretest dan posttest. Pelaksanaannya dengan melakukan pemberian Warm Footbath dan Slow Stroke Back Massage selama 15 menit dalam satu hari selama 3 hari. Sasaran dalam PkM ini adalah 5 ibu hamil dengan hipertensi. Hasil menunjukan bahwa berdasarkan usia secara keseluruhan responden dengan rentang usia 26-35 tahun (100%). Paritas paling dominan pada kategori multipara (80%). Tingkat pendidikan ibu secara keseluruhan dengan tingkat pendidikan menengah (100%). Rata-rata tekanan darah sistolik sebelum 153,60 mmHg dan setelah pemberian terapi menjadi 133,40 mmHg. Tekanan darah diastolik rata-rata sebelum pemberian terapi 104 mmHg dan setelah pemberian terapi menjadi 90,40 mmHg. Dapat disimpulkan bahwa terapi warm footbath dan slow stroke back massase efektif dalam menurunkan tekanan darah pada ibu hamil dengan hipertensi.
Studi Kasus Kombinasi Centuki (Cendol Daun Katuk Dan Kacang Hijau) Untuk Meningkatkan Produksi Asi Pada Ibu Menyusui Di Puskesmas Banjarnegara 2
Anita, Debbi Tri;
Dewi, Feti Kumala;
Hikmanti, Arlyana
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2025 Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2025)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35960/snppkm.v4i1.1410
Breast milk production after childbirth is not always optimal, as it is influenced by physiological and psychological factors. Non-pharmacological interventions using natural ingredients can support successful lactation. CENTUKI contains aliphatic compounds that are effective in increasing breast milk production and vitamin B1, which plays a role in converting carbohydrates into energy, strengthening the nervous system, and supporting breast milk production. This study aimed to identify maternal characteristics and evaluate the effectiveness of the CENTUKI combination (katuk leaf cendol and mung beans) in increasing breast milk volume at Banjarnegara 2 Health Center. This research employed a case study design involving 4 breastfeeding mothers with infants aged 0–6 months. The intervention consisted of administering 500 ml of CENTUKI daily for 5 consecutive days. Data were collected through interviews, observations, and measurements of breast milk volume using a breast pump before and after the intervention. The results showed that the average breast milk volume before intervention was 37.5 ml, which increased to 70 ml after 5 days, with an average increase of 32.5 ml. Respondents’ characteristics were mostly aged 20–35 years (75%), primiparous (75%), housewives (100%), and had a high school education (50%). The CENTUKI combination was proven effective in increasing breast milk production and may serve as a complementary intervention to support the success of exclusive breastfeeding
Pengaruh Mobilisasi Dini ROM Pasif terhadap Waktu Pulih Sadar pada Pasien Lansia Pasca General Anestesi di RSD Gunung Jati Kota Cirebon
Dani, Dwi Darmawan;
Novitasari, Dwi;
Dewi, Feti Kumala
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v4i2.1267
As people age, physiological changes significantly impact the cardiovascular, respiratory, renal, and central nervous systems, as well as drug elimination processes. These changes make elderly individuals more vulnerable to the side effects of general anesthesia, potentially prolonging recovery time and increasing the risk of postoperative complications. This study aims to assess the effect of early passive Range of Motion (ROM) mobilization on the recovery time of consciousness in elderly patients post-general anesthesia at RSD Gunung Jati, Cirebon. The study used a quasi-experimental design with a posttest-only non-equivalent control group. A total of 42 elderly patients participated, divided into two groups: 21 patients in the intervention group who received 10 minutes of passive ROM mobilization, and 21 patients in the control group who received standard postoperative care. Recovery of consciousness was assessed using the Modified Aldrete Score, monitored every 5 minutes until a score of ?9 was achieved. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk test for normality and the Mann-Whitney test to examine the effect of ROM mobilization on recovery time. The results showed the intervention group had a mean recovery time of 22.86 minutes (SD 2.28), compared to 27.14 minutes (SD 6.90) in the control group. Statistical analysis revealed a significant effect (p < 0.000). These findings support the claim that early passive ROM mobilization effectively accelerates recovery of consciousness in elderly patients after general anesthesia and should be considered as an adjunct strategy in the Post Anesthesia Care Unit (PACU).
Perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal
Ubjaan, Natasya Putri;
Burhan, Asmat;
Dewi, Feti Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1679
Background: Spinal anesthesia often causes anxiety in preoperative patients, which may affect the anesthesia process and postoperative recovery. Preanesthetic education is therefore needed to reduce patients’ anxiety levels. Purpose: To determine the difference in the effectiveness of spinal anesthesia education using video and booklet media on anxiety levels in pre–spinal anesthesia patients. Method: This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental pre-test–post-test with control group design. A total of 38 participants were divided into a video group and a booklet group. Data were collected using the APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) questionnaire. Data analysis was conducted using the Wilcoxon test and the Mann–Whitney U test. Results: There was a significant reduction in anxiety levels before and after the educational intervention in both the video and booklet groups (p < 0.05). Furthermore, a significant difference in anxiety levels was found between the two groups after the intervention, with a mean rank of 45.82 in the video group and 31.18 in the booklet group (p < 0.05). Conclusion: Preanesthetic education using both video and booklet media is effective in reducing patients’ anxiety levels. However, video-based education is more effective than booklet-based education in reducing anxiety among pre–spinal anesthesia patients. Keywords: Anxiety; Booklet; Education; Preoperative; Spinal Anesthesia; Video. Pendahuluan: Spinal anestesi sering menimbulkan kecemasan pada pasien preoperasi yang dapat berdampak pada proses anestesi dan pemulihan. Edukasi preanestesi diperlukan untuk menurunkan tingkat kecemasan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan edukasi spinal anestesi menggunakan video dan booklet terhadap tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment pre-test post-test with control group. Sampel berjumlah 38 partisipan yang dibagi menjadi kelompok video dan booklet. Instrumen menggunakan kuesioner APAIS. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney U. Hasil: Terdapat penurunan tingkat kecemasan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian edukasi baik pada kelompok video maupun booklet (p < 0.05). Selain itu, terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang bermakna antara kedua kelompok setelah diberikan edukasi, dengan nilai mean rank kelompok video sebesar 45.82 dan kelompok booklet sebesar 31.18 (p < 0.05). Simpulan: Edukasi preanestesi spinal menggunakan media video dan booklet sama-sama efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien. Namun, edukasi menggunakan media video terbukti lebih efektif dibandingkan media booklet dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien preanestesi spinal. Kata Kunci : Booklet; Edukasi; Kecemasan; Pre Operasi; Spinal Anestesi; Video.
PENGARUH BRISK WALKING EXERCISE TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS KEMBARAN I
Priambodo, Sayogi;
Safitri, Maya;
Dewi, Feti Kumala
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 2 (2026): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, February 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62335/sinergi.v3i2.2337
Hypertension is a prevalent health problem that increases the risk of cardiovascular complications. In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological interventions such as brisk walking exercise play an important role in helping control blood pressure. This study aimed to analyze the effect of brisk walking exercise on blood pressure reduction among patients with hypertension in the working area of Puskesmas Kembaran 1, Banyumas Regency. This research employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. A total of 32 respondents were selected using purposive sampling, consisting of hypertensive patients without complications and with stable conditions. The intervention consisted of brisk walking exercise performed for three consecutive days, 15 minutes per session. Blood pressure was measured 30 minutes before and after each intervention using a sphygmomanometer and stethoscope. Data analysis used the paired t-test for systolic pressure and the Wilcoxon test for diastolic pressure. The results showed that most respondents were late elderly (56.3%), female (62.5%), and had a family history of hypertension (65.6%). The mean blood pressure before the intervention was 149.47 mmHg (systolic) and 89.97 mmHg (diastolic). After the intervention, it decreased to 142.09 mmHg and 84.38 mmHg, respectively. Statistical tests indicated a significant reduction in systolic (7.38 mmHg) and diastolic pressure (5.59 mmHg) with p = 0.0001. The study concludes that brisk walking exercise has a significant effect on reducing blood pressure among hypertensive patients. This intervention is recommended as a simple, safe, and affordable strategy for hypertension management in primary health care settings
Pengaruh Coloading Cairan Kristaloid Terhadap Perubahan Tekanan Darah Dan Heart Rate Pada Pasien Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara
Nur Fatichahtus Sa'adah;
Danang Tri Yudono;
Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61878/bnj.v7i2.132
Anestesi spinal merupakan teknik umum yang efektif yang memiliki risiko komplikasi seperti hipotensi dan bradikardia. Pemberian cairan kristaloid secara coloading adalah salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh coloading cairan kristaloid terhadap perubahan tekanan darah dan heart rate pada pasien anestesi spinal di RS Emanuel Banjarnegara. Studi ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest design. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dan didapatkan sampel sebanyak 111 sampel. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret – April. Karakteristik usia sebagian besar responden berusia 26-35 tahun kategori dewasa awal sebanyak 56 responden (50,5%) dengan jenis kelamin yang paling dominan yaitu jenis kelamin Perempuan sebanyak 67 responden (60,4%), status pasien dengan ASA 2 sebanyak 84 responden (75.7%). Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa pemberian coloading cairan kristaloid mencegah terjadinya penurunan tekanan darah (p value 0,000 < 0,05), terjadi kenaikan rata – rata diastolik sebesar 8,73 mmHg dan rata – rata kenaikan sistole sebesar 23,25 mmHg dan terhadap penurunan heart rate (p value 0,000 < 0,05), rata – rata kenaikan heart rate setelah pemberian coloading cairan kriataloid sebesar 11,96 kali per menit pada pasien spinal anestesi di RS Emanuel Banjarnegara. Pemberian coloading efektif dalam menurunkan insidensi kejadian hipotensi dan bradikardi pada pasien spinal anestesi.
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Peppermint Dan Lavender Terhadap Pasien Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea Di RS Emanuel Banjarnegara
Rere Ardia Cahyani;
Asmat Burhan;
Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61878/bnj.v8i1.151
Sectio caesarea merupakan metode persalinan melalui pembedahan yang berisiko menimbulkan komplikasi salah satunya adalah Postoperative Nausea and Vomiting (PONV). Kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan pasien dan memperpanjang waktu pemulihan. Sebagai alternatif penanganan, intervensi non-farmakologis seperti aromaterapi peppermint dan lavender dapat menjadi pilihan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sebelum dan sesudah pemberian aroma terapi peppermint dan lavender dalam mengurangi PONV pada pasien yang menjalani operasi Sectio Caesarea. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test pada 70 pasien. Sampel dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 35: satu kelompok menerima aromaterapi peppermint (eksperimen) dan kelompok lainnya aromaterapi lavender (kontrol). Data PONV diukur menggunakan skala numerik sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata sebelum dilakukan pemberian aromaterapi peppermint yaitu 4,428 dan sesudah di lakukan 3,60 nilai sedangkan rata-rata sebelum dilakukan pemberian aromaterapi lavender yaitu 5.06 dan sesudah di lakukan 4.60. Wilcoxon menunjukkan bahwa perbedaan nilai PONV setelah di lakukan antara kelompok eksperimen aromaterapi pappermint adalah 0,00 dan kontrol aromaterapi lavender 0,028 signifikan (p < 0,05), dua kelompok eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat PONV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint dan lavender. Penelitian ini mendukung penggunaan aromaterapi peppermint dan lavender sebagai metode yang efektif dalam manajemen PONV dan memberikan dasar untuk penerapan klinis yang lebih luas.
Pengaruh Edukasi Terhadap Pengetahuan Manajemen Nyeri Pada Pasien Pasca Bedah Orthopedi Di RSUD Dr. Mohammad Zyn Sampang
Ailsya Farhana;
Asmat Burhan;
Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61878/bnj.v8i1.249
Latar belakang : Bedah ortopedi adalah prosedur medis yang menangani kondisi muskuloskeletal, dan manajemeninyeri yang efektif sangat penting untuki kenyamanan pasien dan penyembuhan yang dipercepat pasca operasi. Penelitianiini bertujuan untukimengetahui pengaruh pendidikan pada pengetahuan manajemen nyeri di antara pasien operasi pasca bedah ortopedi di RSUD Dr. Mohammad Zyn Sampang. Penelitian ini menggunakanidesain one-groupipretest-posttest, yang melibatkan 77 responden dengan Teknik Purposive sampling. Media dalam penelitian ini menggunakan media leaflet terkait manajemen nyeri farmakologis dan non farmakologis serta menggunakan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan manajemen nyeri sebelum dan sesudah edukasi. Temuan mengungkapkan bahwa mayoritas responden berusia >35 tahun sebanyak 38 reponden (49,4%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 52 responden (67,5%). Sebelum pendidikan pengetahuan manajemen nyeri sebagian besar responden menunjukkan pengetahuan cukup sebesar 37 responden (48,1%) dan sesudah diberikan pendidikan manajemen nyeri sebagian responden menunjukkan pengetahuan baik sebesar 68 responden (88,3%). Hasil penelitian ini mununjukkan adanya pengaruh edukasi terhadap pengetahuan manajemen nyeri pada pasien pasca bedah orthopedi dibuktikan dengan nilai P 0,000 (0,005). Ada pengaruhiedukasi terhadap pengetahuani manajemen nyerii pada pasien pasca bedah orthopedi di RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang.
Hubungan Usia Dan Lama Operasi Dengan Kejadian Shivering Pada Pasien Pasca Spinal Anestesi (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara
Bintang Ramadhan;
Asmat Burhan;
Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61878/bnj.v8i1.339
Pendahuluan: Shivering merupakan komplikasi umum pasca spinal anestesi yang dapat mengganggu kenyamanan pasien dan meningkatkan kebutuhan oksigen tubuh. Faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian shivering antara lain usia dan lama operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia dan lama operasi dengan derajat shivering pada pasien post spinal anestesi tindakan sectio caesarea. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 50 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling di RS Emanuel Banjarnegara. Data dikumpulkan melalui lembar observasi derajat shivering menurut kriteria Alfonsi dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden berusia 26–35 tahun (60%) dan menjalani operasi ≤ 60 menit (66%). Derajat shivering terbanyak adalah derajat 1 (40%). Hasil uji Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan derajat shivering (ρ = 0,470; p = 0,001), serta antara lama operasi dan derajat shivering (ρ = 0,546; p = 0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan lama operasi dengan derajat shivering pada pasien pasca spinal anestesi sectio caesarea. Pasien usia produktif dan dengan durasi operasi singkat cenderung mengalami shivering ringan atau tidak sama sekali.