Claim Missing Document
Check
Articles

Makna Budaya Sebambangan pada Masyarakat Lampung Pesisir Devy Mulyani; Wawan Hernawan; M. Denu Poyo
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 3 (2026): EduTIK : Juni 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i3.509

Abstract

ABSTRAK Tradisi Sebambangan pada masyarakat Lampung Pesisir di Kecamatan Padang Cermin sering disalahpahami sebagai tindakan kriminal penculikan, padahal merupakan sistem komunikasi ritual yang sah secara adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam makna budaya Sebambangan pada masyarakat Lampung Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman hidup (lived experience) para pelaku tradisi dan tokoh adat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap informan kunci (tokoh adat), informan utama (pelaku tradisi), dan informan pendukung (masyarakat Padang Cermin), dengan validitas data dijaga melalui triangulasi dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebambangan berfungsi sebagai sistem komunikasi ritual yang terstruktur, di mana surat pemberitahuan dan tengepik (uang penanda) berperan sebagai instrumen metakomunikasi untuk face-saving dan face-giving bagi keluarga perempuan. Tradisi ini juga berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis budaya konteks tinggi (high context culture), arena negosiasi identitas di tengah modernisasi melalui adopsi media yang selektif, serta melibatkan peran krusial komunikasi interpersonal dalam rekonsiliasi pasca-Sebambangan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan Face Negotiation Theory dengan menambahkan dimensi kolektivisme keluarga, serta menegaskan bahwa Sebambangan adalah mekanisme komunikasi yang menjaga harmoni sosial, bukan pelanggaran etika. ABSTRACT The Sebambangan tradition among the Lampung Pesisir community in Padang Cermin District is often misunderstood as a criminal act of kidnapping, when in fact it is a legitimate ritual communication system grounded in customary law. This study aims to gain an in-depth understanding of the cultural meaning of Sebambangan among the Lampung Pesisir community. The research employs a descriptive qualitative method with a phenomenological approach to explore the lived experience of tradition practitioners and customary leaders. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving key informants (customary leaders), main informants (tradition practitioners), and supporting informants (the Padang Cermin community), with data validity maintained through triangulation and member checking. The findings indicate that Sebambangan functions as a structured ritual communication system, in which the notification letter and tengepik (marker money) serve as metacommunication instruments for face-saving and face-giving toward the woman's family. The tradition also functions as a conflict resolution mechanism rooted in high-context culture, an arena for identity negotiation amid modernization through selective media adoption, and involves a crucial role for interpersonal communication in post-Sebambangan reconciliation. This study contributes to the development of Face Negotiation Theory by adding a dimension of family collectivism, and affirms that Sebambangan is a communication mechanism that maintains social harmony rather than an ethical violation.
Viral Based Policy dan Krisis Kepercayaan Publik: Komunikasi Pemerintah pada Kenaikan BBM Non Subsidi dalam Perspektif SCCT (Situational Crisis Communication Theory) Arie Purnama; Wawan Hernawan; Fahmi Hasan
JURNAL LENSA MUTIARA KOMUNIKASI Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Lensa Mutiara Komunikasi
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jlmk.v10i1.6072

Abstract

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi telah memperburuk krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah, sekaligus menciptakan tantangan bagi kebijakan berbasis viral yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi pemerintah dalam menghadapi krisis kepercayaan publik melalui pendekatan Situational Crisis Communication Theory (SCCT). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif untuk menggali perspektif masyarakat dan respons pemerintah terkait isu ini. Kerangka analisis yang dipakai adalah Situational Crisis Communication Theory (SCCT), yang berfungsi untuk menilai bagaimana pemerintah menyusun respons komunikasi guna melindungi reputasi dan mempertahankan kepercayaan publik dalam konteks krisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip SCCT sangat penting dalam memperbaiki citra pemerintah. Strategi komunikasi yang efektif dapat membantu membangun kembali kepercayaan yang hilang, serta meningkatkan reputasi pemerintah di mata masyarakat. Kehadiran rekomendasi berdasarkan SCCT tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga mengokohkan posisi pemerintah di hadapan pemangku kepentingan dalam jangka panjang. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengelolaan komunikasi yang tepat dalam menghadapi krisis untuk meminimalkan dampak negatif terhadap kepercayaan publik.
Akulturasi Budaya Dalam Tindak Komunikasi Kaum Pendatang (Studi pada Mahasiswa Asing di Bandar Lampung) wawan hernawan; Arie Purnama; Hariz A’Rifa’i; cica Septiana
KONTEKSTUAL : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Bandar Lam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/jik.v4i2.4682

Abstract

Abstrak          Komunikasi ialah bagian terpenting di kehidupan manusia, dengan komunikasi manusia bisa bertukar informasi, berbagi dan mengembangkan diri. Komunikasi yang baik dan benar akan membawa hasil yang sesuai dengan ekspetasi. Sebaliknya, komunikasi yang tidak tepat akan menimbulkan misscomunication diantara kedua belah pihak. Proses akulturasi banyak berkaitan dengan penyesuaian dan penerimaan pola-pola dan aturan yang ada pada masyarakat setempat. Di Bandar lampung terdapat mahasiswa asing yang menuntut ilmu di Universitas Lampung. Mereka berasal dari Negara dan kebudayaan yang berbeda. Mereka harus menyesuaikan diri, bersosialisasi dan beradaptasi agar mereka dapat di terima dikalangan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses akulturasi budaya dalam tindak komunikasi mahasiswa asing di Bandar lampung. Serta untuk mengetahui secara mendalam faktor-faktor apa saja yang dapat mendukung dan menghambat proses akulturasi dan adaptasi pada mahasiswa asing. Penelitian ini menggunakan Teori Behavioral sebagai Grand Theory, Teori S-O-R sebagai middle range theory serta Komunikasi Interpersonal dan Komunikasi Kelompok sebagai Applied Theory. Penelitian ini merupakan penelitian kualiatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik penggumpulan data secara observasi, wawancara dan dokumentasi. Kata kunci: Adaptasi;Akulturasi;Budaya;Komunikasi;Mahasiswa asingAbstract              Communication is an essential part of human life. Through communication, humans can exchange information, share, and develop themselves. Good and proper communication will lead to outcomes that align with expectations. On the other hand, improper communication can result in misunderstandings between both parties. The process of acculturation is closely related to the adjustment and acceptance of the existing patterns and rules within the local community. In Bandar Lampung, there are foreign students studying at the University of Lampung. They come from different countries and cultures. These students need to adjust, socialize, and adapt in order to be accepted by the local community. This study aims to understand how the cultural acculturation process occurs in the communication practices of foreign students in Bandar Lampung. Additionally, it aims to explore in depth the factors that can support or hinder the acculturation and adaptation processes of foreign students. This research uses Behavioral Theory as the Grand Theory, the S-O-R Theory as the middle-range theory, and Interpersonal Communication and Group Communication as Applied Theories. This is a qualitative study using a descriptive method. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. Keywords: Adaptation; Acculturation; Culture; Communication; Foreign students
Strategi Komunikasi Sekolah dalam Mengedukasi Siswa tentang Konten Video Manipulatif Berbasis Kecerdasan Buatan: Studi Kasus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Bandar Lampung Heni Apriyani; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
JUSTICE: Journal of Social and Political Science Vol 5 No 2 (2026): JUSTICE: Journal of Social and Political Science
Publisher : JUSTICE Journal Of Social and Political Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/8cn6ec70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan SMK Negeri 4 Bandar Lampung dalam mengedukasi siswa mengenai konten video manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI), serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap informan kunci (pihak struktural sekolah dan fasilitator pembelajaran), informan utama (guru mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial), serta informan pendukung (siswa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah menerapkan empat strategi komunikasi yang saling melengkapi, yaitu kampanye edukasi melalui kegiatan sekolah (MPLS dan upacara bendera), penyampaian materi melalui mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, pemanfaatan media pembelajaran seperti laboratorium komputer, telepon pintar, berbagai platform kecerdasan buatan, dan pohon literasi berbasis QR Code, serta penguatan kompetensi guru melalui pendampingan fasilitator. Melalui keempat strategi tersebut, sekolah tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan teknis mengenai AI, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis dan sikap bertanggung jawab dalam memverifikasi informasi digital. Pelaksanaan strategi tersebut masih menghadapi dua hambatan utama, yaitu pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang menuntut pembaruan materi secara berkelanjutan, serta perbedaan latar belakang dan kemampuan guru dalam mengikuti perkembangan teknologi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi sekolah sudah terintegrasi dan bersifat multistrategi, namun perlu penguatan pembaruan materi serta pemerataan kompetensi guru agar edukasi digital bagi siswa dapat berlangsung secara berkelanjutan.
The Process of Nonverbal Communication by Volunteers in Assisting Persons with Disabilities at Sahabat Difabel Lampung Fieska Rusmeri; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i1.6179

Abstract

Volunteers who assist persons with disabilities must adapt their communication because spoken messages are not always sufficient. This study examines the process of nonverbal communication used by volunteers at Sahabat Difabel Lampung. The study employed a qualitative case-study approach within a constructivist paradigm. Data were collected through participant observation on two occasions, semi-structured interviews with nine informants, and document review. The informants consisted of one key informant, seven volunteer informants, and one supporting informant. Data were analyzed through reduction, display, and conclusion drawing, while source and technique triangulation were used to assess credibility. The findings show that volunteers begin by gaining attention and creating comfort through friendly facial expressions, eye contact, a calm approach, and appropriate physical distance. They then deliver messages through gestures, supportive touch, vocal cues, body position, sign language, writing, and digital media. Volunteers observe participants' responses and adapt the message to the individual and the situation. Instructions may be shortened, demonstrated, repeated, or transferred to a visual channel. When meaning remains unclear, volunteers check it again or seek assistance from another volunteer. These actions are interconnected rather than fixed in a linear sequence. Nonverbal communication therefore supports message delivery, mutual understanding, and the relationship between volunteers and persons with disabilities.