Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Probiotik Terhadap Kualitas Air Kolam Budidaya Dan Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) Maziyan, Intan Nabila; Zumar, Muhammad Rifqi; Bahri, Saiful; Tyastirin, Esti
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i1.531

Abstract

Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) merupakan jenis ikan air tawar yang banyak dibudidaya di Indonesia karna memiliki keunggulan harga yang relatif murah, gizi tinggi dan pertumbuhan cepat. Kualitas air kolam budidaya sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya ikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air kolam budidaya. ialah pH, suhu, dan  amonia. Semakin tinggi kadar bahan organik di dalamnya maka kualitas air kolam akan semakin menurun. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas air adalah menggunakan probiotik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan probiotik terhadap kualitas air dan pertumbuhan ikan lele sangkuriang pada media budidaya. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, yaitu penambahan probiotik yakni probitik nitrobacter Yu Kaji Pondok Pesantren Baitus Surur Mojokerto, probiotik buatan sendiri, dan probiotik EM4, dan kontrol dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan jumlah ikan sebanyak 10 ekor pada masing-masing kolam. Pengambilan data dilakukan setiap 2 minggu sekali selama 12 minggu. Data yang diamati meliputi berat, panjang, kelangsungan hidup dan parameter fisik lingkungan. Perlakuan yang tidak memenuhi SNI ada pada kolam kontrol dengan kadar pH 6,4 dan kolam probiotik yu kaji dengan kadar amonia 1,8 ppm. Nilai kelangsungan hidup ikan lele paling tinggi berada pada perlakuan probiotik buatan sendiri yaitu sebesar 83,33%. Nilai rerata pertumbuhan berat ikan lele paling baik dan seragam berdasarkan standar deviasi ada pada perlakuan probiotik buatan sendiri yaitu 60,36 gram + 4,91, sedangkan nilai rerata pertumbuhan + standar deviasi panjang ikan lele paling ada pada perlakuan probiotik buatan sendiri yaitu 18,74 cm + 0,24.
IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA EKSTRAK METHANOL BATANG KEMANGI (Ocimum bacilicum L): IDENTIFICATION OF SECONDARY METABOLYTE IN METHANOL EXTRACT OF BASIL STEMS (Ocimum bacilicum L) Andiarna, Funsu; Kumalasari, Mei Lina Fitri; Tyastirin, Esti; Pribadi, Eko Teguh; Khoiriyah, Romyun Alvy; Oktorina, Sarita
GEMA KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v15i2.420

Abstract

Tanaman kemangi (Ocimum bacilicum L) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang paling banyak dikembangkan di negara Indonesia. Tanaman kemangi memiliki banyak manfaat seperti mengobati demam, diare, batuk, pusing, mual, dan lain sebagainya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder pada batang tanaman kemangi. Ekstrak kemangi menggunakan pelarut metanol 96%. Batang daun kemangi dilakukan proses penyarian dengan metode maserasi. Ekstrak kemangi selanjutnya dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada batang tanaman kemangi terdapat kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, tannin, alkaloid dan saponin. Hal ini dapat menjelaskan bahwa ekstrak kemangi memiliki potensi yang kuat dalam aktivitas antioksidan yang memiliki peran penting dalam pemanfaatan obat tradisional. Senyawa flavonoid paling umum dijadikan sebagai antioksidan. Selain itu beberapa jenis senyawa alkaloid, tanin dan saponin juga mempunyai efek antioksidan. Kata Kunci: Kemangi,  Metanol,  Ocimum bacilicum L, Senyawa metabolit sekunder   The basil plant (Ocimum bacilicum L) is one of Indonesia's most developed traditional medicinal plants. Basil plants have many benefits, such as treating fever, diarrhea, cough, dizziness, nausea, etc. The study aims to identify secondary metabolite compounds in the stem of basil plants. Basil extract uses 96% methanol solvent. Stems of basil leaves carried out the process of expulsion by maceration method. The phytochemical test was conducted through basil extraction to determine the secondary content of metabolite compounds. The results of this research show that the stem of the basil plant is a secondary metabolite compound, namely flavonoids, alkaloids, tannins, and saponins. It can explain that basil extract has a strong potential for antioxidant activity that has an essential role in traditional medicine. Keywords: Methanol, Ocimum bacilicum, Secondary metabolites compounds, Stem basil
Prebiotic Potential of Gembili, Dahlia, and Yacon Tuber Flours Tyastirin, Esti; Oktorina, Sarita; Febriyanti, Ikke Arina
Journal of Health Science and Prevention Vol. 8 No. 2 (2024): JHSP Vol 8 No 2 – 2024
Publisher : State Islamic University of Sunan Ampel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/jhsp.v8i2.1259

Abstract

Inulin is a type of prebiotic which is generally produced from artichoke plants (Helianthus tuberosus). Considering the diversity of tubers in Indonesia, in this study the prebiotic potential of inulin was tested from various tubers, namely gembili tubers (Dioscororea esculenta), dahlia tubers (Dahlia Pinnata L.) and yakon tubers (Smallanthus sonchifolius). In this study, the prebiotic activity of tubers was tested against bifidiobacterium bacteria. Bacterial growth was carried out on MRS media, which is added with inulin from each tuber as much as 1% b/v gram. In addition to that negative control group and positive control group (comercial inulin) were added. During the incubation time of 24 hours, 48 and 92 hours, all varian group has positive correlation with the growth of Bifidiobacterium. The bigger correlation was found in Gembili tuber group with R = 0,9 and had the maxiumun bifidiobacterium colony which reached 14.4 x 108 CFU/ml.
Efficiency of Jeruju (Acanthus illicifolius) as a Bioindicator of Copper Pollution in Surabaya Mangrove Waters Wulandari, Adelia; Agustina, Eva; Hadi, Irfan; Tyastirin, Esti; Irawanto, Roni
Proceeding of International Conference on Biology Education, Natural Science, and Technology 2025: Proceeding of International Conference on Biology Education, Natural Science, and Technology
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Environmental pollution, especially heavy metal contamination, has become a major threat to aquatic ecosystems. This study aimed to investigate the efficiency of Jeruju (Acanthus illicifolius) as a bioindicator and phytoremediator of copper (Cu) pollution in mangrove waters of Surabaya. Sampling was conducted in three locations: Gunung Anyar Tambak, Surabaya Mangrove Botanical Garden, and Wonorejo Mangrove. Each location consisted of two sampling points: dock and estuary. Water and Jeruju leaf samples (upper, middle, and lower parts) were analyzed for Cu concentration using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Environmental parameters were also measured. The results showed that Cu concentration in water samples was very low and only detected at Gunung Anyar dock (0.001 ppm). However, Cu accumulation in Jeruju leaves varied, with the highest concentration (3.16 ppm) found in lower leaves at Gunung Anyar dock. The correlation between water quality parameters, particularly pH and TDS, and Cu concentration indicated that Jeruju can effectively accumulate Cu and serve as a potential phytoremediator and bioindicator in polluted Mangrove ecosystems.