Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Peran Kredibilitas Curvy Influencer dalam Meningkatkan Minat Beli Followers Britania Angela Ibrani; Ira Mirawati; Yuliani Dewi Risanti Sunarya
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2024): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i4.971

Abstract

Jourimanzky Putri Santoso, atau biasa yang dikenal dengan nama panggilan “Riri” merupakan seorang influencer muda kelahiran tahun 2001 dari Jakarta. Hingga bulan Januari 2024, Ia memiliki 106 juta followers di platform Instagram. Jourimanzky dikenal sebagai influencer yang memiliki ciri khas yaitu bentuk tubuh curvy atau bertubuh besar. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana peran kredibilitas curvy influencer dalam meningkatkan minat beli followers. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur terhadap berbagai sumber, yaitu jurnal nasional dan internasional, buku, dan artikel-artikel berita. Adapun hasil studi literatur menunjukkan bahwa Jourimanzy sebagai seorang influencer dapat melakukan perannya untuk melakukan endorse produk kepada followers-nya. Dalam hal ini, Jourimanzky menggunakan platform Instagram melalui fitur Instagram Story dan Instagram Feeds untuk mempromosikan produk endorse-nya kepada followers-nya. Melalui hal tersebut, Jourimanzky pun mampu menciptakan minat beli followers-nya yang mana terdiri atas empat indikator, yaitu: Minat Transaksional, Minat Referensial, Minat Preferensial, dan Minat Eksploratif.
Peran Label “Tasya Farasya Approved” dan Respon Kognitif dalam Menentukan Keputusan Pembelian Brand Somethinc Karina Rizqi Abelinda; Atwar Bajari; Ira Mirawati
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 4 (2024): Mei
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i4.1084

Abstract

Pertumbuhan pesat yang dialami oleh industri kecantikan terjadi karena adanya tren masyarakat yang saat ini mulai memperhatikan produk perawatan wajah dan tubuh sebagai kebutuhan primer, khususnya bagi para wanita yang merupakan target utama dari industri ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran label “Tasya Farasya Approved” dan respon kognitif dalam menentukan keputusan pembelian brand Somethinc. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Metode studi literatur dapat dilakukan dengan pencarian antara lain menggunakan buku, artikel ilmiah, internet, dan sumber ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa label ”Tasya Farasya Approved” dan respon kognitif  berperan dalam menentuan keputusan pembelian brand somethinc.
MENGUNGKAP TREN SELF-DIAGNOSIS GEN Z: MOTIF PENGGUNAAN KALKULATOR KESEHATAN MENTAL DI MEDIA SOSIAL Normansyah, Normansyah; Mulyana, Deddy; Mirawati, Ira
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UNCOVERING GEN Z SELF-DIAGNOSIS TRENDS: MOTIVES FOR USING MENTAL HEALTH CALCULATORS ON SOCIAL MEDIAThe awareness of mental health among Gen Z is increasing, thanks to public campaigns and intensive education Information technology, especially the internet and social media, plays a crucial role in raising this awareness A study by the Pew Research Center shows that 81 percent of Gen Z seek health information online Platforms like Instagram, TikTok, and YouTube provide space for mental health professionals and influencers to share knowledge and support, making it easier for Gen Z to access information and assistance. The research used a qualitative method with an phenomenology study of Alfred Suztch with analysis of Phenomenology theory and Symbolic Interaction Theory by George Herbert Mead based on constructivist paradigm. That Gen Z use this calculator for validation and understanding of their conditions, but often without appropriate professional follow-up. These findings emphasize the importance of education and professional support in the use of mental health technology to help Gen Z more effectively and avoid the risk of misinformation. there is a risk of misinformation from using online tools such as mental health calculators that can provide inaccurate diagnoses and cause excessive anxiety. Therefore, it is important to educate Gen Z on the use of these tools and ensure they get adequate professional support to deal with mental health issues effectively.Kesadaran kesehatan mental di kalangan Gen Z mulai meningkat, berkat kampanye publik dan edukasi yang gencar. Teknologi informasi, terutama internet dan media sosial, memainkan peran penting dalam peningkatan kesadaran ini. Studi Pew Research Center menunjukkan 81 persen Gen Z mencari informasi kesehatan di internet. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menyediakan ruang bagi profesional kesehatan mental dan influencer untuk berbagi pengetahuan dan dukungan, memudahkan Gen Z mengakses informasi dan bantuan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi Alfred Suztch dengan analisis teori fenomenologi dan teori interaksional Simbolik George Herbert Mead didasari paradigma konstruktivis. Setelah melakukan penelitian peneliti menemukan hasil yang menunjukkan bahwa Gen Z menggunakan kalkulator ini untuk validasi dan memahami kondisi mereka, namun seringkali tanpa tindak lanjut profesional yang tepat. Temuan ini menekankan pentingnya edukasi dan dukungan profesional dalam penggunaan teknologi kesehatan mental agar dapat membantu Gen Z secara lebih efektif dan menghindari risiko misinformasi. Ada risiko misinformasi dari penggunaan alat online seperti kalkulator kesehatan mental yang dapat memberikan diagnosis tidak akurat dan menimbulkan kecemasan berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi Gen Z mengenai penggunaan alat-alat ini dan memastikan mereka mendapatkan dukungan profesional yang memadai.
Edukasi kecantikan atau hiburan media sosial: Gaya komunikasi @dokterdetektif di TikTok Marwah, Shafia; Suminar, Jenny Ratna; Mirawati, Ira
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um022v8i22025p429-440

Abstract

Beauty education vs. social media entertainment: @dokterdetektif’s communication style on TikTok This study analyzes the communication style of @dokterdetektif on TikTok to determine whether its content is more about beauty education or more about entertainment. By analyzing the five videos with the highest viewership at the time of data collection, this research identifies themes from the communication style of the videos, and measures audience engagement through the number of views, likes, and comments. The results show a blend of educational beauty content with dramatic narratives, revealing how @dokterdetektif on TikTok utilizes both to attract attention and build trust. The findings suggest that while @dokterdetektif provides beauty education, it is the dramatic storytelling that increases engagement, reflecting TikTok's role in informing and entertaining its audience. Penelitian ini menganalisis gaya komunikasi @dokterdetektif di TikTok untuk mengetahui apakah konten-kontennya lebih mengutamakan edukasi kecantikan atau lebih mengarah pada hiburan. Dengan menganalisis lima video dengan penonton tertinggi saat data diambil, penelitian ini mengidentifikasi tema dari gaya komunikasi pada video yang disampaikan, serta mengukur keterlibatan audiens melalui jumlah tayangan, suka, dan komentar. Hasil penelitian menunjukkan perpaduan antara konten edukasi kecantikan dengan narasi dramatis, mengungkap bagaimana @dokterdetektif di TikTok memanfaatkan keduanya untuk menarik perhatian dan membangun kepercayaan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun @dokterdetektif memberikan edukasi kecantikan, storytelling drama yang meningkatkan keterlibatan, mencerminkan peran TikTok dalam memberi informasi sekaligus hiburan kepada audiensnya.
Contestation of Meanings in Procedural Democracy: Inter-Media Framing of President Prabowo’s Dialogue with Journalists Joan Imanuel Edon; Mirawati, Ira; Abdurrahman, Zidan; Aditya Anggara R.B.
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v5i2.7150

Abstract

This study analyzes how Indonesian national media framed President Prabowo Subianto’s dialogue with seven senior journalists held in Hambalang on April 6, 2025, a moment positioned as a symbol of political openness during the early phase of his presidency. Employing a qualitative approach and Robert Entman’s framing analysis model, this research examines news coverage from six major media outlets — Kompas, Detik.com, IDN Times, Narasi, Liputan6, and TVOne — focusing on four framing dimensions: problem definition, causal diagnosis, moral evaluation, and treatment recommendation. The findings reveal a notable consensus across media in defining the core problem as a deficit in direct and transparent presidential communication on strategic national issues, with causes attributed to one-way and intermediary-based communication practices. However, variations emerge in moral judgments and proposed solutions, reflecting each outlet’s ideological orientation, editorial stance, and audience segmentation. While Kompas and Narasi adopt a more critical-constructive position emphasizing inclusivity and sustainability, IDN Times, Liputan6, and TVOne frame the dialogue more affirmatively as democratic progress, and Detik.com maintains a pragmatic and neutral tone. This study demonstrates that media framing of political dialogue is not neutral but constitutes a site of meaning contestation shaped by power relations. The findings contribute to political communication scholarship by highlighting how media simultaneously reproduce power narratives and perform a constrained watchdog role within Indonesia’s procedural democracy.
Dari Label ke Mitos: Analisis Semiotika "Anak Abah" sebagai Simbol Politik Afektif si Platform X Ikhwan Tirtana; Eni Maryani; Ira Mirawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8537

Abstract

This study aims to reveal how the term “Anak Abah” functions as an affective political symbol in digital political communication on platform X. A qualitative approach with Roland Barthes’ semiotic analysis was employed. Data were collected through non- participant observation of X posts containing the term “Anak Abah” produced by Anies Baswedan supporters during the political campaign period (28 November 2023–10 February 2024) using purposive sampling. Data analysis was conducted in three operational stages: (1) identification of denotative meaning, (2) analysis of connotative meaning, and (3) derivation of mythological meaning. The findings indicate that “Anak Abah” does not merely serve as a supporter label but as a symbol of paternal relations emphasizing emotional closeness, moral legitimacy, and collective solidarity. This symbolic practice reflects the dominance of affective politics in digital public spheres, where emotional resonance often replaces rational policy discourse. The study contributes to language and political communication studies by affirming the ideological role of affective language in Indonesian digital politics. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana istilah “Anak Abah” berfungsi sebagai simbol politik afektif dalam komunikasi politik digital di platform X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan berupa unggahan media sosial X yang memuat istilah “Anak Abah” dari akun-akun pendukung Anies Baswedan selama periode kampanye politik (28 November 2023–10 Februari 2024) dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dalam tiga tahap operasional: (1) identifikasi makna denotatif, (2) analisis makna konotatif, dan (3) penarikan makna mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Anak Abah” tidak hanya berfungsi sebagai label pendukung, melainkan sebagai simbol relasi paternal yang menekankan kedekatan emosional, legitimasi moral, dan solidaritas kolektif. Praktik simbolik ini mencerminkan dominasi politik afektif dalam ruang publik digital, di mana resonansi emosional kerap menggantikan diskursus kebijakan rasional. Penelitian ini berkontribusi pada kajian bahasa dan komunikasi politik dengan menegaskan peran ideologis bahasa afektif dalam politik digital Indonesia.