Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan kadar malondialdehid pada kasus akne vulgaris derajat ringan: Kajian terhadap premenstrual acne flare Karinnia Karinnia; Linda Julianti Wijayadi; Frans Ferdinal; David Limanan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 2 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i2.3835

Abstract

Akne Vulgaris (AV) adalah suatu kelainan multifaktorial pada unit pilosebaseus, ditandai dengan komedo; papul; pustula; kista; dan nodul. Akne vulgaris diklasifikasikan menjadi derajat ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah dan jenis lesinya. Stres oksidatif (SO) berperan dalam patogenesis AV dan kadarnya meningkat sesuai derajat keparahan AV. Malondialdehid (MDA) yaitu hasil proses degenerasi lemak tak jenuh ganda merupakan petanda SO yang paling sering digunakan. Selama 2/3 siklus menstruasi yaitu pada hari ke-9 sampai hari ke-24, wanita mengalami SO. Hal ini mungkin berkaitan dengan premenstrual acne flare yang paling sering terjadi saat seminggu sebelum menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kadar MDA yang dikaitkan dengan ada tidaknya premenstrual acne flare. Subjek penelitian berusia antara 18-21 tahun dan memiliki AV derajat ringan, dibagi menjadi dua kelompok (n=12/kelompok): kelompok dengan dan tanpa premenstrual acne. Pada kedua kelompok dilakukan pengukuran kadar MDA menggunakan metode Wills ED pada hari ke-1 dan hari ke-21 siklus menstruasi. Hasil penelitian menunjukkan kadar MDA pada kelompok dengan premenstrual acne flare lebih tinggi daripada kelompok tanpa premenstrual acne flare meskipun tidak bermakna secara statistik. Terdapat hubungan yang signifikan (R2= 0,4161 dan p<0,05) serta hubungan yang tidak signifikan (R2= 0,3065 dan p>0,05) antara kedua kelompok berturut-turut pada hari ke-1 serta hari ke-21 siklus menstruasi. Hal ini menandakan terdapat faktor yang sama yang dapat mempengaruhi kadar MDA pada kedua kelompok subyek penelitian.
Pengaruh hipoksia sistemik kronik terhadap aktivitas spesifik enzim katalase pada darah dan paru tikus Sprague dawley setelah diberi daun ara Ferdian Ferdian; David Limanan; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9726

Abstract

Hipoksia merupakan keadaan kekurangan oksigen yang dapat menyebabkan stres oksidatif apabila terjadi ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan. Dalam menyeimbangkan hipoksia, tubuh membutuhkan antioksidan yaitu katalase sebagai antioksidan endogen dan daun ara sebagai antioksidan eksogen. Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh hipoksia sistemik kronik terhadap aktivitas spesifik katalase darah dan organ paru tikus setelah diberi daun ara.  Studi ini merupakan studi eksperimental in vitro terhadap aktivitas spesifik katalase tikus yang dihipoksia sistemik kronik setelah pemberian ekstrak daun ara. Ekstrak daun ara didapatkan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol. Tikus Sprague dawley dibagi menjadi 8 kelompok dengan setiap kelompok berisi 4 ekor tikus yang dibagi menjadi 2 kelompok dosis ekstrak daun ara yaitu dosis kental (300 mg/KgBB/hari) dan dosis encer (150 mg/KgBB/hari). Tiap kelompok dosis dibagi lagi menjadi kelompok tidak dihipoksia, kelompok hipoksia (8%O2, 96% N2) 1, 3 dan 7 hari. Aktivitas spesifik katalase diukur dengan metode Mates. Hasil studi ini didapatkan peningkatan aktivitas spesifik katalase paru dan darah pada hari pertama yang disebabkan oleh hipoksia dan penurunan aktivitas spesifik katalase setelah diberikan ekstrak daun ara. Terdapat korelasi antara aktivitas spesifik katalase paru dan darah pada kelompok kental, namun tidak pada kelompok encer. Studi ini menyimpulkan bahwa hipoksia akan menyebabkan stres oksidatif, yang akan direduksi oleh antioksidan endogen maupun eksogen.
PENGARUH DAUN ARA (FICUS AURICULATA) TERHADAP KADAR GLUTATION JANTUNG TIKUS YANG DIINDUKSI HIPOKSIA SISTEMIK KRONIK Michael Chen; David Limanan; Eny Yulianti; Frans Ferdinal
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.10962

Abstract

Hypoxia can increase ROS and trigger oxidative stress that can affect the heart. The body has an antioxidants defense system to prevent oxidative stress, one of glutathione (GSH). Antioxidants can also come from secondary plant metabolites such as fig leaves (Ficus auriculata). However, there is still very little research on the effect of giving Ficus auriculata on GSH. The aim of this study was to examine the effect of antioxidant fig leaves on GSH rats that induced by chronic systemic hypoxia. This research was in vivo experimental, using Sprague Dawley rats which were divided into 8 groups (n=4), namely four groups were given fig leaf extract (14days) thick dose (300mg/KgBW) and four were given a dilute dose (150mg/KgBW). Extract of fig leaves using maceration method with ethanol. After being given fig leaf extract, the thick and dilute groups were further divided into normoxia, hypoxia (8%O2, 92%N2) 1, 3, and 7 days. At the end of the study, the experimental animals were anesthetized, and the heart are taken. Measurement of GSH levels using the Ellman method. The results showed a significant decrease (Mann-Whitney, p<0.05) levels of GSH in the heart of rats in the thick and dilute dose groups induced by hypoxia for 3 and 7 days when compared to controls. GSH levels were found to be higher in the thick dose group because its action in eliminating free radicals was assisted by antioxidants contained in fig leaf extract. It can be concluded that the administration of fig leaf extract can help GSH work in dealing with free radicals caused by hypoxia. Keywords: Fig leaves (Ficus auriculata); Glutathione (GSH); Hypoxia; Reactive Oxygen Species (ROS); Heart AbstrakHipoksia dapat meningkatkan ROS dan mencetuskan keadaan stres oksidatif yang dapat merusak organ, termasuk jantung. Tubuh memiliki sistem pertahanan antioksidan untuk mencegah stres oksidatif, salah satunya glutation (GSH). Antioksidan juga dapat berasal dari metabolit sekunder tumbuhan seperti daun ara (Ficus auriculata). Akan tetapi masih sangat kurang penelitian mengenai pengaruh pemberian antioksidan eksogen (ekstrak Ficus auriculata) terhadap antioksidan endogen (GSH) ini. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh antioksidan daun ara terhadapat GSH pada tikus yang diinduksi hipoksia sistemik kronik. Penelitian eksperimental in vivo terhadap hewan coba Sprague Dawley yang dibagi menjadi 8 kelompok (n=4), yaitu 4 kelompok yang diberi ekstrak daun ara (14 hari) dosis kental (300 mg/KgBB) dan 4 diberi dosis encer (150 mg/KgBB). Ekstrak daun ara dengan metode maserasi menggunakan etanol. Setelah diberikan ekstrak daun ara, keempat kelompok yang diberi dosis kental dan encer tersebut dibagi lagi menjadi kelompok normoksia, hipoksia (8%O2, 92%N2) 1, 3, dan 7 hari. Diakhir penelitian, hewan coba dianestesi dengan ketamin (75-100mg/kgBB) dan xylazin (5-10mg/kgBB), dan diambil organ jantungnya.  Pengukuran kadar GSH jantung dengan metode Ellman. Hasil penelitian menunjukan penurunan bermakna (Mann-whitney, p<0.05) kadar GSH jantung tikus pada kelompok dosis kental maupun encer yang diinduksi hipoksia 3 dan 7 hari bila dibandingkan kontrol. Kadar GSH didapatkan lebih tinggi pada kelompok dosis kental karena kerjanya dalam mengeliminasi radikal bebas dibantu oleh antioksidan yang terdapat dalam ekstrak daun ara. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun ara dapat membantu kerja GSH dalam menghadapi radikal bebas akibat hipoksia.
Uji fitokimia dan kapasitas total antioksidan ekstrak bunga kantong Semar (Nepenthes rafflesiana Jack) Novelee Irawan Putri; Siufui Hendrawan; Frans Ferdinal
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.20815

Abstract

Stres oksidatif dapat terjadi akibat paparan reactive oxygen species (ROS) sehingga melebihi jumlah antioksidan di dalam tubuh. Kondisi ini dapat diatasi dengan penambahan antioksidan eksogen yang berasal dari bahan alam herbal. Salah satu tanaman yang tumbuh di tanah Borneo, yaitu bunga kantong Semar (Nepenthes rafflesiana Jack) telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Studi ini untuk memeriksa kandungan metabolit sekunder, potensi antioksidan, tingkat toksisitas dan analisis sidik jari biologi bunga kantong Semar. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelaru metanol. Uji fitokimia dilakukan secara semikualitatif. Uji kapasitas total antioksidan dilakukan dengan metode Blois menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2-picryhydrazyl). Pada uji fitokimia didapatkan ekstrak bunga kantong Semar mengandung alkaloid, flavonoid, kardioglikosida, glikosida, saponin, kumarin, fenolik, kuinon, antosianin, steroid, terpenoid, dan tanin. Ekstrak bunga kantong Semar memiliki kapasitas total antioksidan (IC50 = 38,83 µg/mL) yang termasuk kategori antioksidan yang tinggi (IC50 ≤ 50 ppm), kadar fenolik total (13.035,60 µg/mL), kadar alkaloid total (130,50 µg/mL). Kesimpulan studi ini ialah ekstrak bunga kantong Semar (Nepenthes rafflesiana Jack) berpotensi sebagai antioksidan.
PHYTOCHEMICAL SCREENING, TOTAL ANTIOXIDANT ACTIVITY AND TOXICITY TEST ON METHANOL EXTRACT OF ANDROGRAPHIS PANICULATA LEAF Thalia Gabriella Siriwa; Frans Ferdinal
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14522

Abstract

Antioxidants are compounds that can inhibit the oxidation of a molecule and neutralize radicals that have a negative impact on cells. In addition, antioxidants can also inhibit the activity of reactive oxygen species (ROS) by regulating the superoxide dismutase enzyme. When the level of ROS is greater than that of antioxidants, an imbalance state called oxidative stress can occur. In this case, antioxidants play an important role in preventing ROS activity. Sambiloto or, "King of Bitter," is one of the herbal plants that contain antioxidants and often used as traditional medicine. Phytochemicals are chemical compounds produced by herbal plants, which can act as anti-inflammatory, antidiabetic, antimicrobial, antiparasitic, antidepressant, anti-cancer, antioxidant, and wound healing. This study aims to increase knowledge about the antioxidant ability and toxicity of Sambiloto leaf. This study used an in-vitro experimental and bioassay study consisting of qualitative phytochemical tests (Harborne), total antioxidant capacity with DPPH (Blois), total phenolic content (Singleton and Rossi), total alkaloid content (Trivedi et al) and toxicity test with BSLT. The results showed that the phytochemical test of Sambiloto leaf extract contained alkaloids, cardio glycosides, flavonoids, glycosides, phenolics, saponins, quinones, steroids, terpenoids, tannins, coumarins, and betacyanins; total antioxidant capacity (IC50=104.22 µg/mL); mean total phenolic content (392.19 µg/mL); mean total alkaloid content (9.47 µg/mL); toxicity test (LC50=107.54 g/mL). It can be concluded that Sambiloto leaf extract has the potential to be antioxidant and cytotoxic.
Uji fitokimia, kapasitas total antioksidan dan toksisitas ekstrak etanol ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) Audina Leonita; Frans Ferdinal; David Limanan; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i1.22558

Abstract

Antioksidan merupakan molekul yang cukup stabil untuk mendonasikan elektronnya ke radikal bebas dan menetralisirkannya, dengan demikian mengurangi kerusakan yang disebabkannya. Salah satu sumber makanan yang mengandung antioksidan adalah ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas total antioksidan dan toksisitas terhadap larva udang Artemia Salina dari ekstrak ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam) Penelitian dilakukan berdasarkan studi eksperimental laboratorium dengan bioassay. Sampel penelitian yang digunakan adalah ubi jalar, yang akan diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Hasil ekstraksi dilakukan uji fitokimia, uji kapasitas total antioksidan dengan DPPH, dan uji sitotoksisitas dengan BSLT. Hasil uji fitokimia, didapatkan hasil positif untuk alkaloid, betasianin, cardio glikosida, kumarin, flavonoid, fenolik, kuinon, saponin, steroid, terpenoid, dan tannin. Uji kapasitas total antioksidan ekstrak ubi jalar didapatkan IC50 sebesar 585,46 µg/mL dan tergolong antioksidan lemah. Hasil uji toksisitas terhadap larva udang Artemia Salina didapatkan LC50 sebesar 368,69 µg/mL.
Identifikasi fitokimia dan kapasitas total antioksidan daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) serta uji toksisitasnya terhadap larva Artemia salina Leach Gita Manerlin Kasihita Simatupang; David Limanan; Frans Ferdinal; Eny Yulianti
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i1.24383

Abstract

Tanaman mimba atau Azadirachta indica A. Juss termasuk dalam family Meliaceae yang sejak zaman kuno sudah digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit manusia dalam rumah tangga. Tanaman ini juga dikenal akan kandungan antioksidannya. Ketidakseimbangan antioksidan dan oksidan dapat menyebabkan kematian sel sehingga terjadi penurunan enzim katalase yang menjadikan stress oksidatif. Oleh sebab itu, dibutuhkan daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) sebagai antioksidan eksogen. Studi ini untuk mengetahui peranan daun mimba dengan melakukan uji fitokimia, kapasitas antioksidan dan uji toksisitas. Pada studi ini, daun mimba dikeringkan lalu dijadikan bubuk, kemudian diekstraksi menggunakan metanol dengan menggunakan metode maserasi untuk didapatkan simplisia-metanol. Hasil studi pada uji fitokimia didapatkan daun mimba mengandung alkaloid, antosianin, betasianin, kardioglikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, steroid, terpenoid dan tannin. Uji kapasitas antioksidan didapati IC50 = 97,241 µg/mL. Uji toksisitas didapatkan LC50 = 123,596 µg/mL. Daun mimba memiliki efek antioksidan kuat dan sitotoksisitas terhadap larva Artemia salina Leach. Daun mimba dapat dijadikan kandidat obat anti kanker.
ANALISIS SIDIK JARI, KAPASITAS TOTAL ANTIOKSIDAN SERTA UJI FITOKIMIA PADA EKSTRAK METANOL DAUN SIRIH (PIPER BETLE L.) Darlene Zaneta; Frans Ferdinal
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15923

Abstract

Ketidakseimbangan antara produksi dan akumulasi reactive oxygen species (ROS) dalam sel dan jaringan dapat memicu stres oksidatif. Kerusakan akibat stres oksidatif dapat dicegah dengan antioksidan yang memiliki peran untuk menetralisir radikal bebas sekaligus melindungi sel-sel yang normal. Piper betel L. atau yang dikenal dengan tanaman sirih merupakan salah satu tanaman yang memproduksi antioksidan. Piper betle L. seringkali dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menemukan kandungan fitokimia, kadar antioksidan, serta kadar senyawa terpenoid pada ekstrak daun sirih. Penelitian ini merupakan penelitian eskperimental dengan teknik in vitro dan bioassay. Uji in vitro meliputi uji fitokimia yang melibatkan 12 senyawa metabolik sekunder yang terdiri dari alkaloid, antosianin dan betasianin, kardioglikosida, koumarin, flavonoid, glikosida, fenol, kuinon dan fenolik. Kemudian, uji kapasitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Selain itu, profil High Performance Thin Layer Chromatography (HPTLC) juga dilakukan dalam penelitian ini untuk melihat apakah terdapat terpenoid dalam ekstrak Piper betle L. Hasil penelitian menunjukkan skrinning fitokimia ekstrak Piper betle L. mengandung kumarin, flavonoid, steroid, alkaloid, antosianin, glikosida, kardioglikosida, kuinon, terpenoid, tanin dan fenolik; aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 44,929 µg/mL yang mengindikasikan antioksidan yang sangat kuat; serta Profile HPTLC dengan nilai Rf 0,39 dan 0,77 yang mengindikasikan adanya terpenoid.
Profil Ekspresi Gen HIF-1? pada Jantung Tikus yang Diinduksi Hipoksia Kronik Frans Ferdinal
Ebers Papyrus Vol. 13 No. 4 (2007): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oksigen merupakan faktor penentu utama pada ekspresi gen jantung. Pada kondsi hipoksiaa kronik, pola ekspresi gen jantung mengalami perubahan. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengamati profil ekspresi gen HIF-1?, yang merupakan regulator utama homeostasis oksigen, dalam jantung tikus yang diinduksi hipoksia kronik. Tikus Sprague-Dawley dibagi dalam 7 kelompok (n=4/kelompok), diberikan perlakuan hipoksiaa dalam sungkup-hipoksia (8% O2). masing-masing selama 1, 3, 7, 14, 21 dan 28 hari, sedangkan kelompok kontrol, normoksia (O2 atmosfir). Akhir perlakuan tikus dimatikan dan jantung dikeluarkan dengan cepat. Protein inti sel dan total RNA diperiksa  masing-masing dengan nuclear extrtaction  kit dan RNA isolation kit. Aktivitas HIF-1? dan ekspresinya  masing-masing diukur dengan  ELISA-base TransBinding HIF-1? assay kit and real-time RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas HIF-1 dan konsentrasi mRNA HIF-1?, meningkat sejak awal perlakuan dan mencapai puncak pada hari ke 21, kemudian menurun pada akhir perlakuan. Terdapat korelasi yang bermakna antara aktivitas HIF-1?   dan konsentrasi mRNA HIF-1?. Penelitian  ini dapat disimpulkan bahwa hipoksia kronik pada tikus menyebabkan upregulasi ekspresi gen HIF-1?, baik pada tingkat transkripsi,  maupun pada tingkat pasca translasi.
EKSTRAK DAUN SEMBUNG (BLUMEA BALSAMIFERA): PROFIL SIDIK JARI DENGAN HPTLC, KAPASITAS ANTIOKSIDAN, UJI TOKSISITAS DAN KADAR METABOLIT SEKUNDER Fernando Yosafat; Frans Ferdinal
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.17106

Abstract

Reactive Oxygen Spesies (ROS) adalah radikal bebas oksigen atau molekul dengan elektron tidak berpasangan yang sangat reaktif, ROS ini dapat merusak sel membrane. Keseimbangan antara antioksidan dan oksidan berguna dalam homeostasis sel tubuh. Keadaan dimana oksidan melebihi antioksidan akan memicu stres oksidatif sehingga mengakibatkan terjadi kerusakan ke-empat makromolekul yang merupakan komponen struktur sel. Peran antioksidan diperlukan untuk mencegah gangguan tersebut salah satunya dari kelompok tanaman herbal yaitu daun sembung (blumea balsamifera) yang merupakan antioksidan eksogen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan metabolit sekunder dan kemampuan antioksidan serta toksisitas ekstrak daun sembung (blumea balsamifera). Daun sembung dikeringkan dan dihaluskan hingga terbentuk simplisia, kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi dengan methanol, kemudian dievaporasi.Ekstrak yang terbentuk dilakukan uji kualitatif fitokimia berdasarkan Harborne, kapasitas antioksidan dengan uji DPPH (1,1-diphenyl-2-picryhydrazyl) menggunakan metode Blois dan uji toksisitas mengunakan uji BSLT (Mayer). Uji fitokimia ekstrak daun sembung mengandung alkaloids, anthocyanin dan betacyanin, cardio glycosides, flavonoids, glycosides, phenolics, quinones, steroids, coumarins, terpenoids dan tannins dan kapasitas antioksidan daun sembung dengan DPPH dalam IC50 sebesar 36,135 µg/mL dan uji toksisitas ekstrak daun sembung dengan BSLT dalam LC50 didapatkan sebesar 168,178 µg/mL. Disimpulkan bahwa ekstrak daun sembung memiliki bebepara kandungan metabolit sekunder serta  berpotensi sebagai antioksidan dan antimitosis.
Co-Authors . Wardaya Alphanto, Alfred H Alvionica, Selina Ani R. Prijanti Ani Retno Prijanti Annisaa Nurrahma Ardyati Asyraf, Muhammad Zain Alwi Audina Leonita Bethy S. Hernowo Cinthia Catherine Clareta Vero Patricia Widya Darlene Zaneta David Limanan Dewi Sukmawati Dewi, Mietha Apriyanti E Efrany E Yulianti Elhapidi, Nafisa Zulpa Eloydia Vintari, Clarista Enny Yulianti, Enny Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti, Eny Erics Efrany Ezra, Pasuarja Jeranding F Wandy Fanny Septiani Farhan Febriana C. Iswanti Felix Felix Ferdian Ferdian Fernando Yosafat Franciscus D. Suyatna Frankson, Desvin Frans D Suyatna Gaofman, Brian Albert Gita Manerlin Kasihita Simatupang H R Helmi Habibah, Rizka Azahra HANS-JOACHIM FREISLEBEN Hartono, Daniswara Aliya Helmi, Helmi Rizal Hilmi, Fakih Jessica Geselda Salim Julianty, Eny Jusman, Sri Widia Azraki Karinnia Karinnia Kusuma, Andrea Bianca Castafiore M Lirendra Maharani, Karennina Larissa Malihah, Ely Marcella, Agnes Maria Christina Dwiyanti Mellenia, Kelnia Michael Chen Mohamad Sadikin Mohamad Sadikin Najukha, Yusrifa Natasha Olivia Christian Ngestinuari Salim Ninik Mudjihartini NO Christian Noer Saelan Tadjudin Novelee Irawan Putri Nurhadi Ibrahim Putri, Nawaika Shafira R Benettan Rizky Audryan Rizky Putri Agustina Rostika Flora Rudianti, Selly Herlia Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard Saerang, Stefanus Handy Salim, Melanie Santoso, Stanley Satriotomo, Irawan Sentosa, Belinda Septelia I. Wanandi Setiady, Brandon Alexander Siufui Hendrawan Siufui Hendrawan Sri W.A. Jusman Sri Widia A Jusman Sri Widia A. Jusman Tamba, Monica Diva Maharani Tanowijono, Gabriella Frederica Tanuhariono, Ardhita Felicia Thalia Gabriella Siriwa Wardaya Wardaya Wawan Mulyawan Wawan Mulyawan Wijayadi, Linda Julianti William Lukman