Claim Missing Document
Check
Articles

Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Bunga Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Najukha, Yusrifa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.208

Abstract

Bunga tapak dara (Catharanthus roseus) merupakan tanaman perdu yang termasuk dalam famili Apocynaceae. Tanaman ini telah dikenal sejak lama sebagai tanaman hias dan juga dalam pengobatan tradisional sebagai obat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan tingkat toksisitas pada bunga tapak dara (Catharanthus roseus). Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Terdiri dari uji fitokimia dan uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil uji fitokimia didapatkan bahwa ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung alkaloid, betasianin, kardioglikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, terpenoid dan tannin sehingga dapat berpotensi sebagai antioksidan. Tingkat toksisitas ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) ditunjukkan dengan nilai LC50 sebesar 162,181 µg/mL sehingga masuk dalam kategori toksik sedang yang berpotensi sebagai antimitosis. Ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung berbagai senyawa fitokimia dengan kapasitas antioksidan kuat menurut metode ABTS dan FRAP, serta potensi sebagai senyawa antikanker. Namun, kapasitas antioksidan berdasarkan metode DPPH tergolong sangat lemah. 
Uji fitokimia kandungan fenolik ekstrak daun Ginkgo biloba Hilmi, Fakih; Frans Ferdinal; Yulianti, Eny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31011

Abstract

Teh daun Ginkgo biloba atau suplemen ekstrak Ginkgo biloba menjadi salah satu pengobatan herbal yang terkenal sebagai suplemen daya ingat. Kandungan senyawa fenolik dalam tanaman herbal telah dilaporkan sebagai zat antioksidan yang berguna untuk memerangi reactive oxygen species (ROS). Kapasitas total antioksidan Ginkgo biloba penting untuk diketahui sebagai pertimbangan penggunaannya dalam produk nutraceutical atau kosmetik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antioksidan dan kandungan fenolik ekstrak daun Ginkgo biloba. Desain studi menggunakan eksperimental in vitro. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan ethanbol sebagai pelarut. Analisis meliputi uji fitokimia, uji kapasitas antioksidan menggunakan 1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl (DPPH), 2,2-azinobis-3-Ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic Acid (ABTS), Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP), dan uji brine shrimp lethality test (BLST). Uji fitokimia menunjukkan ekstrak daun Ginkgo biloba positif mengandung senyawa alkaloid, fenolik, glikosida, flavonoid, kuinon, saponin, tannin, kumarin, antosianin, steroid, dan terpenoid. Uji kapasitas total antioksidan berdasarkan metode DPPH menunjukkan ekstrak daun Ginkgo biloba memiliki nilai IC50 563,307 µg/mL, dengan metode ABTS IC50 sebesar 28,821 μg/mL, dan dengan  metode FRAP IC50 sebesar 14,17 µg/mL. Seluruh uji kapasitas total antioksidan menunjukkan ekstrak daun Ginkgo biloba tergolong antioksidan yang kuat. Uji BSLT mendapatkan hasil nilai 295,121 µg/mL yang menunjukkan ekstrak daun Ginkgo biloba tergolong toksik dan berpotensi sebagai antimitotik.
Uji Toksisitas dan Kapasitas Antioksidan ABTS pada Apium Graveolens Maharani, Karennina Larissa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.157

Abstract

Seledri (Apium graveolens) merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan, dapat dikonsumsi dan umumnya dapat digunakan sebagai  pengobatan karena memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mengetahui kandungan kapasitas antioksidan dan toksisitas pada Apium graveolens. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental in vitro. Analisis yang digunakan meliputi uji kapasitas antioksidan 2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic)acid (ABTS) dan uji toksisitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Pada uji kapasitas antioksidan menunjukan nilai IC50 11,446 µg/mL, termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Penelitian ini menunjukan bahwa Apium graveolens merupakan antioksidan yang cukup efektif. Tingkat toksisitas Apium graveolens yang ditunjukan dengan nilai LC50 didapatkan sebesar 269,153 µg/mL, termasuk ke dalam kategori toksisitas toksik sedang sehingga memiliki potensi sebagai antimitosis. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi klinis ekstrak seledri, terutama dalam pengembangan suplemen antioksidan untuk pencegahan penyakit degeneratif.
Uji Kapasitas Antioksidan Pada Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode DPPH, FRAP Asyraf, Muhammad Zain Alwi; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.165

Abstract

Antioksidan berperan sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif, termasuk antioksidan eksogen yang bisa didapatkan dari bahan-bahan herbal. Salah satu contoh antioksidan eksogen alami yang banyak ditemukan di Indonesia adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kapasitas antioksidan dari ekstrak kayu secang menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan FRAP (ferric reducing antioxidant power). Hasil uji kapasitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak kayu secang menunjukkan nilai IC50 sebesar 99,996 µg/mL, sementara dengan metode FRAP nilai IC50 yang diperoleh adalah 24,853 µg/mL. Berdasarkan nilai ini, kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat menurut metode FRAP (nilai IC50 ≤ 50 µg/mL) dan aktivitas antioksidan kuat menurut metode DPPH (nilai IC50 antara 50 – 100 µg/mL). Dengan demikian, kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berpotensi dimanfaatkan sebagai antioksidan.
Uji Kadar Fenolik Total dan Uji Kapasitas Antioksidan Daun Kunyit (Curcuma longa) dengan Metode ABTS Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.170

Abstract

Bisphenol-A yang ditemukan pada beberapa galon minuman dapat menyebabkan ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan meningkatkan mediator oksidatif dan menurunkan enzim antioksidan. Kadar ROS yang berlebihan memicu stres oksidatif, merusak makromolekul penting seperti lipid, protein, karbohidrat, dan asam nukleat, yang dapat menyebabkan penyakit metabolik dan degeneratif. Antioksidan memiliki peran penting dalam mencegah stres oksidatif dengan menghambat produksi ROS berlebih. Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dengan daun yang diketahui kaya akan antioksidan dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kapasitas antioksidan dan kadar fenolik total dari daun kunyit. Metode eksperimen yang digunakan adalah uji ABTS dan pengukuran kadar fenolik dengan asam galat. Ekstrak daun kunyit menunjukkan nilai IC50 sebesar 27,895 µg/mL dan kadar fenolik total sebesar 153,184 mgGAE/g. Uji ABTS menghasilkan nilai IC50 <50 µg/mL, yang menunjukkan kapasitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kunyit memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pengobatan alternatif untuk penyakit metabolik dan degeneratif. Aktivitas antioksidan yang kuat dan kandungan fenolik tinggi menjadikan daun kunyit sumber alami yang menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut dalam bidang pengobatan.
Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Bunga Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Najukha, Yusrifa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.208

Abstract

Bunga tapak dara (Catharanthus roseus) merupakan tanaman perdu yang termasuk dalam famili Apocynaceae. Tanaman ini telah dikenal sejak lama sebagai tanaman hias dan juga dalam pengobatan tradisional sebagai obat. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan tingkat toksisitas pada bunga tapak dara (Catharanthus roseus). Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental yang bersifat in vitro dan bioassay. Terdiri dari uji fitokimia dan uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil uji fitokimia didapatkan bahwa ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung alkaloid, betasianin, kardioglikosida, kumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, terpenoid dan tannin sehingga dapat berpotensi sebagai antioksidan. Tingkat toksisitas ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) ditunjukkan dengan nilai LC50 sebesar 162,181 µg/mL sehingga masuk dalam kategori toksik sedang yang berpotensi sebagai antimitosis. Ekstrak bunga tapak dara (Catharanthus roseus) mengandung berbagai senyawa fitokimia dengan kapasitas antioksidan kuat menurut metode ABTS dan FRAP, serta potensi sebagai senyawa antikanker. Namun, kapasitas antioksidan berdasarkan metode DPPH tergolong sangat lemah. 
ANALISIS FITOKIMIA, UJI FENOLIK DAN TOTAL ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI CHIA METODE FRAP Saerang, Stefanus Handy; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v5i1.34477

Abstract

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai suatu senyawa yang bersifat tidak stabil karena memiliki elektron tidak berpasangan, menjadikannya sangat mudah bereaksi dan berpotensi merusak struktur biologis tubuh, sehingga berpotensi merusak struktur biologis dalam tubuh. Apabila jumlah pembentukan radikal bebas melebihi kapasitas sistem tubuh untuk menetralkan radikal bebas, maka dapat memicu kondisi stres oksidatif, yang berhubungan erat dengan berbagai gangguan kronis seperti diabetes, kanker, penyakit kardiovaskular, dan gangguan ginjal. Antioksidan memiliki peran penting dalam menetralisir radikal bebas, yang pada akhirnya berperan dalam menjaga sel agar tidak mengalami kerusakan. Biji chia (Salvia hispanica L.) diketahui memiliki senyawa aktif seperti fenolik dan flavonoid yang berpotensi bertindak menjadi antioksidan alami. Penelitian ini dilaksanakan untuk menilai jumlah keseluruhan senyawa fenolik serta kemampuan antioksidan, dan profil senyawa aktif dari ekstrak biji chia melalui pendekatan in vitro. Proses analisis meliputi identifikasi senyawa aktif menggunakan skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total dilakukan dengan metode Folin–Ciocalteu, dan untuk pengujian aktivitas antioksidan dilakukan melalui metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Pengujian fitokimia mengindikasikan bahwa ekstrak biji chia memiliki berbagai senyawa, di antaranya steroid, terpenoid, dan alkaloid, fenol, flavonoid, kuinon, saponin, tanin, kumarin, betasianin, dan kardioglikosida. Kandungan total fenolik mencapai 46,79 mg GAE per gram, mencerminkan tingginya konsentrasi senyawa fenolik. Sementara itu, uji FRAP menunjukkan nilai kapasitas antioksidan sebesar 15,885 µg/mL, yang menandakan bahwa kemampuan antioksidannya tergolong sangat tinggi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa ekstrak biji chia berpotensi digunakan sebagai antioksidan alami dan kandidat bahan aktif untuk mendukung pencegahan penyakit akibat stres oksidatif.
Penapisan Fitokimia, Fitur Antioksidan, dan Uji Toksisitas pada Ekstrak Metanol Kubis Ungu (Brassica oleracea var. capitata L.) Alvionica, Selina; Hendrawan, Siufui; Ferdinal, Frans
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 13 No. 3 (2025): September
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v13i3.16405

Abstract

This study aims to analyze the phytochemical content, antioxidant properties and toxicity of methanolic extract of red cabbage originating from West Java, Indonesia. The study comprised in vitro assays, which included phytochemical screening, determination of total phenolic level, and antioxidant activity tests. The toxicity was tested using Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). The screening results revealed the presence of various secondary metabolites in the extract. The total phenolic content of red cabbage was 29.8 mgGAE/g. The antioxidant potential was evaluated through the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) and ABTS (2,2'-Azino-bis(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)) assays, yielding IC50 values of 13.42 µg/mL and 21.28 µg/mL, respectively; both were classified as having a strong antioxidant activity. The BSLT toxicity test showed an LC50 value of 153.87 µg/mL. These findings suggest that red cabbage is rich in beneficial phytochemicals and acts a strong natural antioxidants source. Moreover, it demonstrates potential for future development as a standardized herbal medicine with antioxidant properties and an affordable price.
Skrining Fitokimia, Kapasitas Antioksidan, dan Efek Sitotoksik Ekstrak Metanol Daun Kari (Murraya koenigii L.) Tanuhariono, Ardhita Felicia; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Bahasa Indonesia Vol 24 No 1 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i1.5940

Abstract

Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa Reactive Oxygen Species (ROS) dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu, hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode 3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS). Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat sitotoksik terhadap sel yang sedang membelah sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.
SKRINING FITOKIMIA DAN KAPASITAS TOTAL ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN WALANG SANGIT (ERYNGIUM FOETIDUM) Gaofman, Brian Albert; Hendrawan, Siufui; Ferdinal, Frans
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.25026

Abstract

Secara geografis Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dan memiliki keanekaragaman hayati, yang sudah lama digunakan sebagai tanaman herbal untuk menyembuhkan berbagai penyakit secara turun-temurun. Salah satunya daun walang sangit yang berasal dari Meksiko, Karibia, dan Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia di yakini dapat mencegah penyakit saluran pencernaan namun belum banyak penelitian tentang tumbuhan tersebut. Tanaman ini dipercaya memiliki senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk mengatasi kondisi stres oksidatif sebagai dasar timbulnya penyakit. Serta memiliki kandungan senyawa kimia non-nutrien (fitokimia). Antioksidan dibutuhkan oleh tubuh untuk meredam radikal bebas yang ada di dalam maupun di luar tubuh akibat paparan lingkungan yang semakin memburuk terutama di Jakarta. Maka dari itu perlu diseimbangi dengan antioksidan eksogen. Salah satunya pada daun walang sangit. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan kapasitas antioksidan dan kadar fenolik tumbuhan tersebut. Penelitian eksperimental ini bersifat in vitro mencakup uji fitokimia dan uji kapasitas antioksidan. Daun walang sangit dikeringkan dan diekstraksi dengan metode perkolasi menggunakan pelarut metanol. UV-Vis alat yang digunakan untuk mendapatkan data, selanjutnya diolah menggunakan Graphpad Prism v.7.0 La Jolla, California, USA. Ekstraksi daun walang sangit ditemukan kandungan fitokimia kecuali antosianin dan alkaloid dengan reagen Mayer. IC50 didapatkan pada metode DPPH, ABTS, dan FRAP sebesar  68,752 µg/mL, 25,557 µg/mL, dan 23,364 µg/mL dengan pembanding vitamin-C untuk DPPH, serta trolox untuk ABTS dan FRAP. Kadar fenolik total ekstrak daun walang sangit sebesar 966 µg/mL. Maka daun walang sangit dapat berfungsi sebagai antioksidan eksogen sedang, dibandingkan pembandingnya tetapi bersifat anti mitotik sehingga dapat dijadikan agen anti kanker.
Co-Authors Alvionica, Selina Ani R. Prijanti Ani Retno Prijanti Annisaa Nurrahma Ardyati Aspasia, Ariadne Calista Asyraf, Muhammad Zain Alwi Audina Leonita Azra Morley Iksanti Bethy S. Hernowo Cinthia Catherine Clareta Vero Patricia Widya Daiva Pattra Yoe Darlene Zaneta David Limanan Dewi, Mietha Apriyanti E Efrany E Yulianti Elhapidi, Nafisa Zulpa Eloydia Vintari, Clarista Enny Yulianti, Enny Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti, Eny Erics Efrany Ezra, Pasuarja Jeranding F Wandy Fanny Septiani Farhan Febriana C. Iswanti Felix Felix Ferdian Ferdian Fernando Yosafat Franciscus D. Suyatna Frankson, Desvin Frans D Suyatna Gaofman, Brian Albert Gita Manerlin Kasihita Simatupang Habibah, Rizka Azahra HANS-JOACHIM FREISLEBEN Hartono, Daniswara Aliya Helmi Rizal Hilmi, Fakih Husna Iftinan Jessica Geselda Salim Jessie Farica Gunardi Julianty, Eny Karinnia Karinnia Kusuma, Andrea Bianca Castafiore Lis Diana Husni Putri M Lirendra Maharani, Karennina Larissa Malano, Zahra Khoirunissa Malihah, Ely Marcella, Agnes Maria Christina Dwiyanti Mellenia, Kelnia Michael Chen Mohamad Sadikin Mohamad Sadikin Muhammad Fitrianur Ramadansyah Najukha, Yusrifa Natasha Olivia Christian Ngestinuari Salim Ni Made Swantari NO Christian Noer Saelan Tadjudin Noer Saelan Tadjudin Novelee Irawan Putri Prasasti Marsya Ayu Palupi Putri, Nawaika Shafira R Benettan Resta Emelia Rejoltri Tumon Rizky Audryan Rizky Putri Agustina Rostika Flora Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard Saerang, Stefanus Handy Salim, Melanie Santoso, Stanley Septelia I. Wanandi Shirly Gunawan Sindy Merliyani Siufui Hendrawan Siufui Hendrawan Siufui Hendrawan Soebrata, Linginda Sri W.A. Jusman Sri Widia A Jusman Sri Widia A. Jusman Swantari, Ni Made Tamba, Monica Diva Maharani Tanowijono, Gabriella Frederica Tanuhariono, Ardhita Felicia Thalia Gabriella Siriwa Verita, Chaeza Nara Wardaya Wardaya Wawan Mulyawan Wijayadi, Linda Julianti William Lukman