Claim Missing Document
Check
Articles

Uji fitokimia, kapasitas total antioksidan, uji toksisitas dan kadar metabolit sekunder ekstrak buah aprikot (Prunus armeniaca) Habibah, Rizka Azahra; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i2.24718

Abstract

Fitokimia merupakan antioksidan yang berperan dalam penghambatan stres oksidatif. Senyawa ini digolongkan dalam empat kelas utama yaitu terpenoid, alkaloid, glikosida, dan polifenol. Stres oksidatif dapat timbul karena ketidak seimbangan antara radikal bebas dengan antioksidan di dalam tubuh akibat kurangnya antioksidan atau meningkatnya radikal bebas seperti reactive oxygen species (ROS), reactive nitrogen species (RNS), dan reactive sulfur species (RSS). Namun jika jumlah radikal bebas berlebihan, dapat menyebabkan kerusakan sel yang akan menyebabkan percepatan penuaan dan penyakit degeneratif. Antioksidan dari luar dibutuhkan untuk membantu menyeimbangkan kembali, dan salah satunya didapat dengan mengonsumsi buah dan sayur. Penelitian termasuk penelitian eksperimental bersifat in vitro dan bioassay terhadap ekstrak buah aprikot. Pada uji in vitro, terdiri dari uji fitokimia, uji fenolik dan alkaloid total, uji kapasitas total antioksidan, metabolit sekunder. Sedangkan uji bioassay menggunakan uji toksisitas BSLT. Kemudian, melakukan ekstraksi menggunakan metode perkolasi dan untuk uji kapasitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Uji fitokimia menunjukkan buah aprikot mengandung alkaloid, flavonoid, kardioglikosida, saponin, kumarin, fenolik, kuinon, betasianin, antosianin dan tannin. Uji kapasitas antioksidan DPPH didapatkan IC50 78,656 mg/mL. Uji toksisitas didapatkan LC50 sebesar 306,846 µg/mL.
Gambaran variasi uji kapasitas antioksidan DPPH, FRAP dan ABTS pada ekstrak biji jengkol (Archidenfron sp.) Ezra, Pasuarja Jeranding; Limanan, David; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i2.24762

Abstract

  Antioksidan adalah substansi yang dapat menyumbangkan elektron ke radikal bebas. Antioksidan sintetik dan antioksidan alami adalah dua kategori utama asal antioksidan. Tanaman jengkol (Archidendron sp), misalnya, merupakan sumber antioksidan alami. Keadaan alam, kesuburan tanah, perawatan tanaman, dan spesies semuanya berperan dalam kemampuan antioksidan jengkol. Studi ini berangkat untuk meninjau tiga tes yang biasa digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan, dalam hal ini ekstrak biji jengkol (Archidendron sp) diukur kapasitasnya. Mekanisme kerja dari ketiga metode ini dibedakan berdasarkan pada mekanisme reaksinya dalam mereduksi suatu oksidan. Hasil dari masing masing ujii kapasitas antioksidan ekstrak biji jengkol, pada metode ABTS didapatkan nilai IC50  sebesar  36,389 µg/mL. Pada metode DPPH nilai IC50 yang diperoleh sebesar 174,645 µg/mL. Adapun pada metode FRAP besaran IC50 yang didapatkan yaitu 48,275 µg/mL. Korelasi semua uji antioksidan pada ekstrak dapat dipercaya (R2 > 0,95).
Uji kapasitas antioksidan dan kadar metabolit sekunder ekstrak angkak (Oryza sp) Santoso, Stanley; Ferdinal, Frans; Yulianti, Eny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i2.24790

Abstract

  Reactive Oxygen Species (ROS) memiliki peran penting dalam proses fisiologis kehidupan manusia, namun, pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan penyakit degeneratif. Ketidakseimbangan antara ROS dalam konsentrasi tinggi dengan antioksidan di dalam tubuh dapat menyebabkan stress oksidatif. Oleh karena itu, antioksidan memiliki peran penting dalam menghambat proses oksidasi yang terjadi di dalam tubuh maupun di luar tubuh. Salah satu  sumber antioksidan dapat diperoleh dari angkak (Oryza.sp). Studi ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas antioksidan dan metabolit sekunder yang terdapat di angkak. Studi eksperimental ini menggunakan ekstrak angkak yang dihaluskan lalu diperkolasi dengan pelarut methanol dan dievaporasi hingga terbentuk pasta. Pada ekstrak tersebut dilakukan uji skrining fitokimia berdasarkan Harborne, kapasitas total antioksidan menggunakan metode ABTS, dan uji kadar fenolik total (Singleton dan Rossi). Pada uji skrining fitokimia, ekstrak angkak mengandung fenolik, flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, glikosida, terpenoid, kuinon, kardioglikosida, antosianin dan kumarin. Kapasitas total antioksidan ekstrak angkak ialah 25,557mg/mL. Hasil tersebut menunjukan bahwa ekstrak angkak memiliki kapasitas antioksidan yang sangat kuat dan kadar fenolik total 694,56 mg/mL. Kesimpulan studi ini, angkak memiliki potensi sebagai antioksidan.
Skrining fitokimia serta uji toksisitas pada ekstrak daun bayam merah (Amaranthus sp.) Marcella, Agnes; Ferdinal, Frans; Limanan, David; Yulianti, Eny
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i2.24801

Abstract

Radikal bebas merupakan suatu molekul yang sangat reaktif yang dapat mengoksidasi dan mengubah molekul di sekitar. Molekul yang teroksidasi dapat menjadi radikal bebas dan akan merusak jaringan di sekitarnya serta mengancam kelangsungan hidup sel. Antioksidan menyumbangkan elektron kepada radikal bebas dan membantu mempertahankannya dalam tingkat fisiologis. Stres oksidatif terjadi jika terjadi ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan sehingga untuk mengimbangi kekurangan antioksidan tersebut, tubuh memanfaatkan antioksidan dari luar. Bayam merah (Amaranthus sp.) sudah dikenal menjadi salah satu sumber antioksidan eksogen. Pemeriksaan in-vitro dengan eksperimental meliputi uji fitokimia kualitatif (Harborne) dan pemeriksaan bioassay yaitu uji toksisitas dengan BSLT (Meyer). Uji kualitatif fitokimia didapatkan hasil positif pada alkaloid, antosianin, betasianin, kardioglikosida, koumarin, flavonoid, glikosida, fenolik, kuinon, saponin, steroid, terpenoid serta tanin. Pada uji toksisitas didapatkan nilai LC50 sebesar 275,810 µg/mL pada daun bayam merah, sehingga berpotensi memiliki efek antimitotik.
Evaluasi Kandungan Fitokimia, Kapasitas Antioksidan, dan Toksisitas Ekstrak Daun Stevia rebaudiana Frankson, Desvin; Hendrawan, Siufui; Ferdinal, Frans
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12, No 2 (2024): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i2.12151

Abstract

Oxidative stress leads to numerous clinical problems, such as autoimmune, vascular and respiratory impairment, as well as many other degenerative diseases. While daily exposure to UV light, air pollution, and smoke largely contribute to oxidative stress, endogenous antioxidants mostly fail to neutralize these high amounts of free radicals. Stevia rebaudiana or “candyleaf” is largely found in Indonesia, known for its application as a natural sweetener, owing to its content of stevioside compound. This study is experimental research which aims to assess the potential of stevia extract as an antioxidant supplement, which has not been widely applied. In vitro study was performed by extracting stevia leaves in methanol through simple maceration and percolation methods. Subsequently, the stevia extract was subjected to biochemical analysis, i.e. phytochemical screening, total phenolic content assay, antioxidant capacity assay, and toxicity assay. Herein, we found that stevia extract contains flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, and phenolic compounds, with total phenolic content of 86.30±1.14 mg GAE/g DW. Moreover, antioxidant capacity assay through 2,2'-azino-bis (3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS) method showed that IC50 of stevia extract is 20.13 µg/mL, slightly higher than Trolox (vitamin E analog) with IC50 of 16.50 µg/mL, which indicated that stevia extract is a very strong antioxidant. As for toxicity bioassay, Brine Shrimp Lethality Test indicated that stevia extract is non-toxic with LC50 value of 3388.44 µg/mL.
UJI FITOKIMIA, KAPASITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMITOTIK BUNGA TURI (Sesbania grandiflora L.) Felix, Felix; Hendrawan, Siufui; Yulianti, Enny; Ferdinal, Frans
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i2.16397

Abstract

Stress oksidatif berperan dalam pathogenesis dari berbagai penyakit degeneratif. Hal ini terjadi apabila adanya ketidakseimbangan antara produksi ROS dan pertahanan dari antioksidan. Antioksidan terdapat yang enzimatik dan non-enzimatik. Antioksidan non-enzimatik dapat diperoleh secara eksogen, salah satu nya pada Bunga Turi ( Sesbania Grandiflora ) yang terdapat banyak senyawa bioaktif yang menjadi dasar dilakukannya penelitian ini sebagai upaya pencegahan penyakit degeneratif. Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui kapasitas antioksidan, uji fitokimia, uji antimitotik dan kadar total alkaloid dan fenolik pada Bunga Turi (Sesbania grandiflora L.). Penelitian ini bersifat eksperimental secara in-vitro dan bioassay. Sampel diekstraksi menggunakan teknik maserasi dan di evaporasi dengan rotatory evaporator hingga diperoleh ekstrak.  Uji in-vitro terdiri dari uji kapasitas antioksidan dengan uji DPPH, uji fitokimia kualitatif (Harborne), uji kadar fenolik (Singelton dan Rossi), uji kadar alkaloid (Trivedi et al) dan secara bioassay uji antimitotik dengan uji BSLT (Meyer). Pada uji fitokimia kualitatif diperoleh ekstrak Bunga Turi ( Sesbania Grandiflora ) mengandung fenolik, flavonoid, koumarin, saponin, steroid, terpenoid, kuinon, tanin, alkaloid, kardioglikosida, antosianin dan betasianin. Ekstrak Bunga Turi memiliki kapasitas antioksidan ( IC50 = 3708,77 µg/mL ), kadar fenolik (452,95 µg/mL ), kadar alkaloid (7,78 ?g/mL ) dan uji antimitotik (138,09 ?g/mL ). Ekstrak Bunga Turi ( Sesbania Grandiflora ) memiliki antioksidan yang tergolong lemah dan memiliki potensi untuk digunakan sebagai antimitotik.
FITOKIMIA, KAPASITAS ANTIOKSIDAN, TOKSISITAS, KADAR ALKALOID DAN FENOLIK TOTAL EKSTRAK UMBI BIT (Beta vulgaris L.) Mellenia, Kelnia; Helmi, Helmi Rizal; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v8i2.16437

Abstract

Stres oksidatif merupakan ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan. Kelebihan Reactive Oxygen Species (ROS) dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskuler hingga kanker. Antioksidan berperan dalam menghilangkan radikal bebas sehingga dapat mengurangi stres oksidatif. Untuk mengimbangi kekurangan antioksidan endogen, tubuh menggunakan antioksidan eksogen. Salah satu antioksidan eksogen adalah umbi bit (Beta vulgaris L.) yang dibudidayakan di negara-negara subtropis dan tropis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas total antioksidan, kadar fenolik total, kadar alkaloid total, dan toksisitas ekstrak umbi bit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in-vitro dan pemeriksaan bioassay. Ekstraksi dengan maserasi menggunakan metanol. Uji in-vitro yang terdiri dari uji fitokimia (Harborne), pengukuran kapasitas antioksidan dengan metode DPPH (Blois), penentuan kadar fenolik total (Singleton dan Rossi), penentuan kadar alkaloid total (Trivedi et al) dan pemeriksaan bioassay yaitu uji toksisitas dengan metoda BSLT (Meyer). Kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak umbi bit terdiri dari alkaloid, antosianin, betasianin, fenolik, flavonoid, glikosida, kardioglikosida, kuinon, kumarin, saponin, tanin dan terpenoid. Ekstrak umbi bit mempunyai kapasitas antioksidan dengan  = 839.314 ?g/mL, kadar fenolik total (288.125 ?g/mL), kadar alkaloid total (2.635 ?g/mL) dan toksisitas dengan =172.879 ?g/mL. Sehingga membuktikan ekstrak umbi bit memiliki kapasitas antioksidan yang lemah dan berpotensi sebagai antimitosis.
Uji Toksisitas dan Kapasitas Antioksidan ABTS pada Apium Graveolens Maharani, Karennina Larissa; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.157

Abstract

Seledri (Apium graveolens) merupakan tumbuhan yang mudah ditemukan, dapat dikonsumsi dan umumnya dapat digunakan sebagai  pengobatan karena memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mengetahui kandungan kapasitas antioksidan dan toksisitas pada Apium graveolens. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental in vitro. Analisis yang digunakan meliputi uji kapasitas antioksidan 2,2’-azino-bis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic)acid (ABTS) dan uji toksisitas Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Pada uji kapasitas antioksidan menunjukan nilai IC50 11,446 µg/mL, termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Penelitian ini menunjukan bahwa Apium graveolens merupakan antioksidan yang cukup efektif. Tingkat toksisitas Apium graveolens yang ditunjukan dengan nilai LC50 didapatkan sebesar 269,153 µg/mL, termasuk ke dalam kategori toksisitas toksik sedang sehingga memiliki potensi sebagai antimitosis. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi klinis ekstrak seledri, terutama dalam pengembangan suplemen antioksidan untuk pencegahan penyakit degeneratif.
Uji Kapasitas Antioksidan Pada Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia Sappan L.) Dengan Metode DPPH, FRAP Asyraf, Muhammad Zain Alwi; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.165

Abstract

Antioksidan berperan sebagai pelindung dari kerusakan oksidatif, termasuk antioksidan eksogen yang bisa didapatkan dari bahan-bahan herbal. Salah satu contoh antioksidan eksogen alami yang banyak ditemukan di Indonesia adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kapasitas antioksidan dari ekstrak kayu secang menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dan FRAP (ferric reducing antioxidant power). Hasil uji kapasitas antioksidan dengan metode DPPH pada ekstrak kayu secang menunjukkan nilai IC50 sebesar 99,996 µg/mL, sementara dengan metode FRAP nilai IC50 yang diperoleh adalah 24,853 µg/mL. Berdasarkan nilai ini, kayu secang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat menurut metode FRAP (nilai IC50 ≤ 50 µg/mL) dan aktivitas antioksidan kuat menurut metode DPPH (nilai IC50 antara 50 – 100 µg/mL). Dengan demikian, kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berpotensi dimanfaatkan sebagai antioksidan.
Uji Kadar Fenolik Total dan Uji Kapasitas Antioksidan Daun Kunyit (Curcuma longa) dengan Metode ABTS Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard; Limanan, David; Yulianti, Eny; Ferdinal, Frans
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.170

Abstract

Bisphenol-A yang ditemukan pada beberapa galon minuman dapat menyebabkan ketidakseimbangan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan meningkatkan mediator oksidatif dan menurunkan enzim antioksidan. Kadar ROS yang berlebihan memicu stres oksidatif, merusak makromolekul penting seperti lipid, protein, karbohidrat, dan asam nukleat, yang dapat menyebabkan penyakit metabolik dan degeneratif. Antioksidan memiliki peran penting dalam mencegah stres oksidatif dengan menghambat produksi ROS berlebih. Kunyit (Curcuma longa) merupakan tanaman herbal yang banyak digunakan di Indonesia, dengan daun yang diketahui kaya akan antioksidan dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kapasitas antioksidan dan kadar fenolik total dari daun kunyit. Metode eksperimen yang digunakan adalah uji ABTS dan pengukuran kadar fenolik dengan asam galat. Ekstrak daun kunyit menunjukkan nilai IC50 sebesar 27,895 µg/mL dan kadar fenolik total sebesar 153,184 mgGAE/g. Uji ABTS menghasilkan nilai IC50 <50 µg/mL, yang menunjukkan kapasitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kunyit memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pengobatan alternatif untuk penyakit metabolik dan degeneratif. Aktivitas antioksidan yang kuat dan kandungan fenolik tinggi menjadikan daun kunyit sumber alami yang menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut dalam bidang pengobatan.
Co-Authors . Wardaya Alphanto, Alfred H Alvionica, Selina Ani R. Prijanti Ani Retno Prijanti Annisaa Nurrahma Ardyati Asyraf, Muhammad Zain Alwi Audina Leonita Bethy S. Hernowo Cinthia Catherine Clareta Vero Patricia Widya Darlene Zaneta David Limanan Dewi Sukmawati Dewi, Mietha Apriyanti E Efrany E Yulianti Elhapidi, Nafisa Zulpa Eloydia Vintari, Clarista Enny Yulianti, Enny Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti Eny Yulianti, Eny Erics Efrany Ezra, Pasuarja Jeranding F Wandy Fanny Septiani Farhan Febriana C. Iswanti Felix Felix Ferdian Ferdian Fernando Yosafat Franciscus D. Suyatna Frankson, Desvin Frans D Suyatna Gaofman, Brian Albert Gita Manerlin Kasihita Simatupang H R Helmi Habibah, Rizka Azahra HANS-JOACHIM FREISLEBEN Hartono, Daniswara Aliya Helmi, Helmi Rizal Hilmi, Fakih Jessica Geselda Salim Julianty, Eny Jusman, Sri Widia Azraki Karinnia Karinnia Kusuma, Andrea Bianca Castafiore M Lirendra Maharani, Karennina Larissa Malihah, Ely Marcella, Agnes Maria Christina Dwiyanti Mellenia, Kelnia Michael Chen Mohamad Sadikin Mohamad Sadikin Najukha, Yusrifa Natasha Olivia Christian Ngestinuari Salim Ninik Mudjihartini NO Christian Noer Saelan Tadjudin Novelee Irawan Putri Nurhadi Ibrahim Putri, Nawaika Shafira R Benettan Rizky Audryan Rizky Putri Agustina Rostika Flora Rudianti, Selly Herlia Rumengan, Peterjohn Andrew Benhard Saerang, Stefanus Handy Salim, Melanie Santoso, Stanley Satriotomo, Irawan Sentosa, Belinda Septelia I. Wanandi Setiady, Brandon Alexander Siufui Hendrawan Siufui Hendrawan Sri W.A. Jusman Sri Widia A Jusman Sri Widia A. Jusman Tamba, Monica Diva Maharani Tanowijono, Gabriella Frederica Tanuhariono, Ardhita Felicia Thalia Gabriella Siriwa Wardaya Wardaya Wawan Mulyawan Wawan Mulyawan Wijayadi, Linda Julianti William Lukman