Hartono Gunardi
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Indonesia

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PROFILE OF IMMUNIZATION PRACTICE BY GENERAL PRACTITIONERS AND PEDIATRICIANS IN PRIVATE SETTING Soedjatmiko, Soedjatmiko; Gunardi, Hartono; Satari, Hindra Irawan; Singgih, Adrian Himawan; Yolanda, Natharina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.572 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n4.1153

Abstract

Basic immunization coverage in Indonesia in 2013 was still low (59.2%) (IBHS, 2013). Physicians? attitude and practice were among the determinant factors of a successful immunization program. This survey aimed to describe general practitioner?s (GP) and pediatrician?s attitude towards immunization and its coverage  in private practices. This cross-sectional study was performed by distributing questionnaires consisting of 5 items on opinion and 10 items on immunization practices to 100 respondents in November 2014. Completed questionnaires were obtained from 29 GPs and 65 pediatricians. Most respondents considered that the Expanded Program in Immunization vaccine should be given. First dose of hepatitis B vaccine was mostly given in the first 12 hours after birth (90% GPs and 74% pediatricians). Oral polio vaccine was mostly given shortly before hospital discharge (65% of GPs and 81% pediatricians) while the DTwP-HB-Hib vaccine were given by 27% of GPs and 21% of pediatricians to >75% patients. Pneumococcal, rotavirus, hepatitis A, typhoid, and influenza vaccines were provided by less than 25% GPs and pediatricians, except for the influenza vaccine which was provided by 31% pediatricians. MMR vaccine was given to >75% patients by 16% of GPs and 29% of pediatricians. This pilot survey of immunization practice in private setting might be the first study in Indonesia that this can be considered as a preliminary report of immunization in private setting. Further studies need to be done, especially regarding problems in immunization in private practices. Key words: Attitude, general practitioners, immunization practice, private setting, pediatriciansGambaran Praktek Imunisasi Dokter Umum dan Dokter Spesialis Anak di Praktek SwastaRiset Kesehatan Dasar 2013 melaporkan bahwa cakupan imunisasi Indonesia masih rendah (59,2%). Sikap dan praktik imunisasi dokter merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan. Tujuan penelitian ini mengetahui sikap dokter dan cakupan imunisasi di praktik swasta. Penelitian potong lintang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner tentang sikap dan praktik imunisasi kepada responden, yaitu 29 dokter umum (DU) dan 65 dokter spesialis anak (DA) pada bulan November 2014. Mayoritas responden berpendapat bahwa vaksin program pengembangan imunisasi harus diberikan. Vaksin hepatitis B dosis I mayoritas diberikan dalam 12 jam setelah lahir (90% oleh DU dan 74% oleh DA). Vaksin polio oral mayoritas diberikan sebelum pulang perawatan (65% oleh DU dan 81% oleh DA), Vaksin DTwP-HB-Hib diberikan oleh 27% DU dan 21% DA kepada ?75% pasien. Penggunaan vaksin pneumokokus, rotavirus, hepatitis A, tifoid dan influenza pada >75% pasien adalah kurang dari 25%, kecuali vaksin influenza, yaitu 31% digunakan oleh DA. Pemberian vaksin MMR pada >75% pasien dilakukan oleh 16% DU dan 29% DA.  Penelitian imunisasi pada praktik swasta ini mungkin  merupakan laporan yang pertama dipublikasi di Indonesia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui hambatan imunisasi di praktik swasta.Kata kunci: Cakupan imunisasi, dokter,  imunisasi, praktik, spesialis
Faktor Prognosis Sindrom Syok Dengue pada Anak Hindra Irawan Satari; Rossy Agus Mardani; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.544 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.131-7

Abstract

Latar belakang. Manifestasi klinis yang bervariasi, patogenesis yang kompleks, dan perbedaan serotipe virus membuat sulit memprediksi perjalanan penyakit dengue. Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang faktor prognosis terjadinya sindrom syok dengue (SSD), tetapi semuanya menggunakan pedoman World Health Organization (WHO) tahun 1997. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor prognosis terjadinya SSD berdasarkan pedoman WHO tahun 2011.Metode. Studi retrospektif menggunakan data rekam medik pasien anak usia 0 sampai <18 tahun dengan diagnosis demam berdarah dengue (DBD), SSD dan expanded dengue syndrome (EDS) yang memenuhi kriteria WHO tahun 2011 di RSCM dari Januari 2013 sampai Desember 2016. Variabel independen, yaitu jenis kelamin, usia, status gizi, infeksi dengue sekunder, leukopenia, nyeri abdomen, perdarahan gastrointestinal, hepatomegali dan kebocoran plasma. Syok merupakan variabel dependen. Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik. Hasil. Subyek yang memenuhi kriteria penelitian 145 pasien, 52 (35,8%) di antaranya mengalami SSD. Lima dari 52 pasien SSD mengalami syok selama perawatan di rumah sakit. Analisis bivariat yang menghasilkan faktor-faktor signifikan di antaranya, malnutrisi, gizi lebih dan obesitas, perdarahan gastrointestinal, hemokonsentrasi, asites, leukosit ≥5.000 mm3, ensefalopati, peningkatan enzim hati dan overload. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis SSD. Kesimpulan. Hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis terjadinya SSD.
Larutan Glukosa Oral Sebagai Analgesik pada Pengambilan Darah Tumit Bayi Baru Lahir: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Yoga Devaera; Hartono Gunardi; Imam Budiman
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.127-31

Abstract

Latar belakang. Penanganan nyeri pada bayi baru lahir masih belum menjadi perhatian. Larutan manis dapatdigunakan untuk mengurangi nyeri. Premature infant pain profile (PIPP) merupakan salah satu skala nyeriyang telah divalidasi.Tujuan Penelitian. Mengetahui efek pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelumtindakan terhadap skala PIPP saat pengambilan darah tumit bayi baru lahir.Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda pada bayi baru lahir bugar yang perlupengambilan sampel darah melalui tumit di RSCM. Skala PIPP dilakukan oleh dua penilai secara tersamarberdasarkan rekaman video.Hasil. Tujuh puluh tiga bayi terbagi dalam kelompok intervensi (n=37) dan kontrol (n=35). Rerata nilai skalaPIPP kelompok intervensi lebih rendah dibanding kelompok kontrol oleh kedua penilai, yaitu berturut-turut (4,5± 3,1) dan (6,3 ± 4) dibanding (6 ± 3,1) dan (8,4 ± 4,5) (p < 0,05). Koefisien Kappa antar dua penilai ialah 0,726.Kesimpulan. Pemberian 0,5 mL larutan glukosa 30% per oral 2 menit sebelum pengambilan darah melaluitumit bayi baru lahir dapat mengurangi nyeri. 
Profil Pubertas dan Pertumbuhan Linear pada Hiperplasia Adrenal Kongenital dalam Pengobatan Serial Kasus Nurul Iman Nilam Sari; Bambang Tridjadja; Nastiti Kaswandani; Damayanti Rusli Sjarif; Sukman Tulus Putra; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.122 KB) | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.356-64

Abstract

Latar belakang. Terapi yang adekuat pada hiperplasia adrenal kongenital (HAK) diharapkan dapatmenghasilkan perkembangan pubertas dan pertumbuhan linear yang optimal. Saat ini, di Indonesia, belumada data profil pubertas dan pertumbuhan linear penderita HAK yang sedang menjalani terapi.Tujuan. Mengetahui profil pubertas dan pertumbuhan linear pada HAK di Indonesia yang sedang menjalaniterapi.Metode. Studi serial kasus terhadap 14 kasus HAK yang memasuki masa pubertas di Departemen IlmuKesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta selama bulan November 2012 hingga April2013. Pencatatan data berisi anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan radiologi boneage.Hasil. Hasil penelitian ini merupakan riset pendahuluan (preliminary research) terhadap 14 kasus HAK.Mayoritas subjek adalah perempuan, berusia di atas 8 tahun, HAK tipe Salt-Wasting (SW), dan terdiagnosissejak kurang dari satu tahun. Tujuh dari 14 subjek mengalami obesitas. Undertreatment terjadi pada 11/14subjek memiliki bone age accelerated dengan perhitungan tinggi badan dewasa yang pendek. Tiga belas subjeksudah pubertas dan 10/14 subjek mengalami pubertas prekoks. Rekomendasi dosis glukokortikoid yangdiberikan (median 18,12 mg/m2/hari) dengan median durasi terapi 8,1 tahun. Kontrol metabolik denganmenggunakan parameter 17-OHP bervariasi pada rentang 0,2-876 nmol/L (rerata 166,9 nmol/L).Kesimpulan. Sebagian besar subjek mendapatkan undertreatment sehingga memiliki bone age accelerateddengan estimasi tinggi badan dewasa pendek. Pubertas prekoks dialami oleh sebagian besar subjek.Pemberian glukokortikoid dengan dosis yang direkomendasikan. Ditemukan ketidakteraturan pengobatandan pemantauan yang buruk.
Efektivitas Seminar pada Perubahan Sikap Ibu dalam Pemberian Dukungan Nutrisi dan Stimulasi selama Pemantauan Tumbuh Kembang Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni Medise; Ikhsan Johnson; Yulianti Wibowo; Ray Wagiu Basrowi
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.597 KB) | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.201-8

Abstract

Latar belakang. Kualitas tumbuh kembang balita ditentukan oleh nutrisi, kasih sayang, stimulasi, dan perlindungan terhadap penyakit. Ibu sebagai pengasuh utama anak berperan penting mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga harus memiliki sikap yang baik tentang pemantauan tumbuh kembang saat kunjungan ke tenaga kesehatan. Peningkatan pengetahuan Ibu dapat dilakukan dengan edukasi dan pelatihan.Tujuan. Menganalisis efektivitas seminar pada perubahan sikap ibu dalam pemberian dukungan nutrisi dan stimulasi selama pemantauan tumbuh kembang. Metode. Penelitian desain potong lintang dengan kuesioner pre dan post intervensi dilakukan pada ibu dengan balita. Perubahan sikap ibu dievaluasi dalam pemantauan tumbuh kembang anaknya. Intervensi berupa seminar mengenai kesehatan anak yang diadakan di 6 kota besar di Indonesia dengan purposive sampling peserta yang mengisi lengkap kuesioner. Analisis data digunakan metode paired T-test dalam software IBM SPSS statistics versi 22.Hasil. Terdapat 617 ibu yang mengisi lengkap kuesioner yang diberikan dalam seminar. Terjadi peningkatan yang bermakna (beda mean -0,15±0,26;95%CI -0,17sampai-0,13; p<0,001) pada rerata skor sikap ibu setelah mengikuti seminar yang diadakan oleh peneliti. Sumber informasi yang penting dan berkesan, antara lain, televisi, gawai, media sosial, tenaga kesehatan, dan seminar oleh tenaga kesehatan. Kesimpulan. Pemberian seminar oleh tenaga kesehatan mengubah sikap ibu pada pengasuhan anak selama pemantauan tumbuh kembang dengan efektif (p<0,001).
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular Hartono Gunardi; Soedjatmiko Soedjatmiko; Rini Sekartini; Jeane Roos Ticoalu
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.667 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.125-8

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017 Hartono Gunardi; Cissy B. Kartasasmita; Sri Rezeki Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hanifah Oswari; Hardiono D Pusponegoro; Jose R Batubara; Arwin AP Akib; Badriul Hegar; Piprim B Yanuarso; Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.754 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.417-22

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Satuan Tugas Imunisasi mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal imunisasi sebelumnya. Jadwal imunisasi 2017 ini bertujuan menyeragamkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan RI khususnya untuk imunisasi rutin. Jadwal imunisasi 2017 juga dibuat berdasarkan ketersediaan kombinasi vaksin DTP dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV, dan dalam situasi keterbatasan atau kelangkaan vaksin tertentu seperti vaksin DTPa atau DTPw tanpa kombinasi dengan vaksin lainnya. Hal baru yang terdapat pada jadwal 2017 antara lain: vaksin hepatitis B monovalen tidak perlu diberikan pada usia 1 bulan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-Hib kombinasi dengan hepatitis B; bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV (inactivated polio vaccine) bersamaan (simultan) dengan OPV-3 saat pemberian DTP-3; vaksin DTPw direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Hal baru yang lain adalah untuk vaksin influenza dapat diberikan vaksin inaktif trivalen atau quadrivalen, vaksin MMR dapat diberikan pada usia 12 bulan apabila anak belum mendapat vaksin campak pada usia 9 bulan. Vaksin HPV apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis. Vaksin Japanese Encephalitis direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau pada turis yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin dengue direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan. Dengan pemberian imunisasi sesuai rekomendasi, diharapkan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 
Perundungan-siber (Cyberbullying) serta Masalah Emosi dan Perilaku pada Pelajar Usia 12-15 Tahun di Jakarta Pusat Bonny Tjongjono; Hartono Gunardi; Sudung O. Pardede; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.301 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.342-8

Abstract

Latar belakang. Internet dan media sosial memberikan banyak kemudahan hidup, namun juga berpotensi untuk disalahgunakan, misalnya untuk perundungan-siber. Perundungan-siber memiliki efek negatif terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial pelaku maupun korbannya. Tujuan. Mengidentifikasi karakteristik perundungan-siber serta masalah emosi dan perilaku pelajar usia 12-15 tahun di Jakarta Pusat.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada pelajar usia 12-15 tahun pada satu SMP di Jakarta Pusat. Perundungan-siber dinilai dengan kuesioner perundungan-siber Hinduja dan Patchin, yang telah diterjemahkan dan divalidasi dengan Cronbach’s α=0,72. Masalah emosi dan perilaku ditapis dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).Hasil. Dari 274 pelajar yang berpartisipasi dalam penelitian ini, prevalens perundungan-siber adalah 48,2% (korban 11%, pelaku 14,2%, korban sekaligus pelaku 23%). Jenis perundungan-siber tersering yang dialami korban adalah tidak dihargai oleh orang lain (83,3%), disinggung-singgung oleh orang lain (80%), dan diacuhkan oleh orang lain (73,3%). Chat room di Line (60%) dan Instagram (60%), merupakan media sosial tersering yang digunakan. Teman sebaya laki-laki merupakan pelaku tersering (66,7%). Masalah hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah emosi dan perilaku yang paling sering dialami oleh korban (10,2%), pelaku (13,5%), dan korban sekaligus pelaku (20,4%).Kesimpulan. Perundungan-siber merupakan suatu fenomena yang sering dijumpai pada pelajar usia 12-15 tahun di sebuah SMP di Jakarta Pusat. Masalah tersebut memerlukan perhatian yang lebih serius dari orangtua, guru dan tenaga kesehatan.
Peran The Early Language Milestone Scale sebagai Uji Tapis terhadap Anak dengan Keterlambatan Bicara yang Diduga Disebabkan oleh Gangguan Pendengaran Sensorineural Nia Niasari; Hartono Gunardi; Ronny Suwento; Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.515 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.281-4

Abstract

Latar belakang. Salah satu penyebab keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran. Brain evokedresponse audiometry (BERA) memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi gangguanpendengaran, namun alat dan biaya pemeriksaan cukup mahal, dan tidak tersedia di pusat pelayanankesehatan primer di daerah terpencil. The early language milestone scale (ELMS) diharapkan mempunyaisensitivitas dan spesifisitas yang baik sebagai uji tapis keterlambatan bicara yang disebabkan oleh gangguanpendengaran, karena mengandung unsur auditory receptive dan auditory expressive.Tujuan. Membandingkan sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN),rasio kemungkinan positif (RKP), dan rasio kemungkinan negatif (RKN) ELMS dalam mendeteksi gangguanpendengaran dengan baku emas BERA.Metode. Penelitian uji diagnostik ELMS dengan baku emas BERA di Departemen IKA dan Pusat KesehatanTelinga dan Gangguan Komunikasi (PKTGK) Departemen THT FKUI-RSCM. Pengambilan sampel secarakonsekutif dari bulan Februari sampai Agustus 2006, terkumpul 42 subjek dengan usia 12 sampai 47 bulan.Hasil. Sensitivitas 93% (IK95%:92 sampai 94), spesifisitas 15% (IK95%:5 sampai 26), NDP 71%(IK95%:57 sampai 85), dan NDN 50% (IK95%:35 sampai 65). Hasil RKP 1 dan RKN 0,5.Kesimpulan. Mengingat spesifisitas yang rendah, ELMS tidak dapat digunakan sebagai uji tapis keterlambatanbicara yang diduga disebabkan gangguan pendengaran sensorineural.
Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell Sendy Tjahjowargo; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.93 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.403-8

Abstract

Latar belakang. Imunisasi merupakan upaya pencegahan terbaik terhadap berbagai penyakit infeksi. Vaksin difteri, tetanus, pertusis whole-cell (DTwP) dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang mengkhawatirkan orangtua. Vaksin difteri, tetanus, pertusis aselular (DTaP) memiliki KIPI lebih ringan, tetapi diduga kurang efektif. Tujuan. Mengetahui efektivitas vaksin DTaP dibandingkan dengan vaksin DTwP.Metode. Penelusuran literatur elektronik PubMed dan Cochrane dengan kata kunci “DTaP/acellular pertussis”, “DTwP/whole-cell pertussis”, “children”, “pertussis”, “vaccine” and “safety/efficacy/effectiveness” dalam 10 tahun terakhir (2006 – 2016). Hasil. Terdapat dua studi meta-analisis yang membandingkan efektivitas pemberian imunisasi DTwP dan DTaP serta satu studi kasus terkontrol yang membandingkan efek perlindungan jangka panjang pemberian imunisasi DTaP dengan DTwP. Efektivitas vaksin pertusis aselular berkisar 74% (IK95%, 51–86%) – 97% (IK95%, 91–99%). Efektivitas vaksin pertusis whole-cell sebesar 94% (IK95%, 88–97%; p<0,0001). Estimasi effect size vaksin pertusis aseluer untuk melindungi terhadap penyakit pertusis sesuai kriteria WHO adalah sebesar 84% (IK95%, 81–87%); sedangkan untuk vaksin pertusis whole cell adalah 94% (IK95%, 88–97%). KIPI vaksin DTaP lebih ringan dan jarang dibandingkan vaksin DTwPKesimpulan. Vaksin DTaP dan DTwP mempunyai efektivitas yang sebanding. Vaksin DTwP mempunyai effect size yang lebih besar untuk melindungi terhadap penyakit pertusis dan perlindungan jangka panjang yang lebih baik dibandingkan vaksin DTaP. Vaksin DTaP mempunyai KIPI yang lebih ringan dan jarang dibandingkan vaksin DTwP.
Co-Authors Abdul Latief Adji Suranto Adra Firmansyah Ahmad Syafiq Alan R Tumbelaka Alan R. Tumbelaka Alida R Harahap, Alida R Aman B. Pulungan Annisa R. Yulman Araysi, Leo Alfath Arfianti Chandra Dewi Ari Prayitno Ari Prayitno, Ari Aria Kekalih Arie Dian Fatmawati Arini Ika Hapsari Armeilia, Rilie Arwin A. P. Akib Arwin A.P Akib Arwin AP Akib Aryono Hendarto Asrawati Nurdin Badriul Hegar Badriul Hegar Bambang Madiyono Bambang Madiyono Bambang Supriyatno Bambang Tridjadja Batubara, Jose Bernie E. Medise Bernie Endyarni Medise Bonny Tjongjono Cissy B Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Corrie Wawolumaya Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B. Setyanto Darmawan, Anthony C. David H Muljono, David H Diana Mettadewi Jong Dominicus Husada Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Elina Waiman Elizabeth Melina Endang Windiastuti Eva Devita Harmoniati Fathy Pohan Fatmawaty Fatmawaty Gatot Irawan Sarosa Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Hanifah Oswari Hanny Nilasari Hardiono D Pusponegoro Haswinzky, Rose Amalia Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara Hindra I. Satari I Gusti Lanang Sidiartha I Putu G Kayika Ika Citra Dewi Ika Karlina Idris Ikhsan Johnson Ikhsan Johnson Imam Budiman Ina Susianti Timan Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Ismet N. Oesman Ismoedijanto Jasin, Madeleine Ramdhani Jeane Roos Ticoalu Julianti Julianti, Julianti Julie Dewi Barliana Kemal N. Siregar Kurniawan, Kristian Kusnandi Rusmil Laura Agnestasia Djunaedi Lesmana, Elvira Lia Amanda Lily Rahmawati Liza F Zaimi, Liza F Liza Fitria M. Tatang Puspanjono Maddepunggeng, Martira Martira Maddepunggeng Medise, Bernie E. Mei Neni Sitaremi Mei Neni Sitaresmi Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Munar Lubis Munasir, Zakiuddin Muzal Kadim Nadya, Ruth Nastiti Kaswandani Natharina Yolanda, Natharina Nia Niasari Nurul Iman Nilam Sari Partini Trihono Piprim B Yanuarso Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia Pustika Efar Raihan Raihan Raihan Raihan, Raihan Ranto, Huminsa Ray Wagiu Basrowi Ray Wagiu Basrowi Resyana P. Nugraheni Rini Andriani Rini Andriani Rini Sekartini Rismala Dewi Ronny Suwento, Ronny Rosdiana S Tarigan Rossy Agus Mardani Rulina Suradi S Ferius Saharso, Ersal Rasyid Sendy Tjahjowargo Setyo Handryastuti Shirley Mansur Simanjuntak, Sumardi F. Singgih, Adrian Himawan Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sreshta Mukhi Sri Rejeki H Hadinegoro. Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki S Harun Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudung O Pardede, Sudung O Sukman T. Putra Sukman Tulus Putra Sumarlan, Eka S Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Titi S. Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjhin Wiguna Tjhin Wiguna Toto Wisnu Hendrarto Turyadi Turyadi, Turyadi Ufairah, Kamilia Rifani Wangke, Lydia Wirahmadi, Angga Wresti Indriatmi B. Makes Yoga Devaera Yulianti Wibowo Yulianti Wibowo Yuliarti, Klara Yulinda Arty Laksmita Yuni Astria Yvan Vandenplas Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir