Hartono Gunardi
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Indonesia

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi Elina Waiman; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Bernie Endyarni
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.129-36

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Orangtua tentang Diare pada Balita di RSCM Kiara Arini Ika Hapsari; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.316-20

Abstract

Latar belakang. Diare masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di Indonesia. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku orangtua tentang diare dapat berpengaruh terhadap angka kejadian diare pada balita. Tujuan. Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang diare, serta hubungan antar variabel tersebut. Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di RSCM Kiara pada September 2015. Data diperoleh dari wawancara dengan orangtua berdasarkan kuesioner. Analisis statistik dilakukan dengan Chi-square atau uji Fischer. Hasil. Di antara 102 subyek, terdapat 101 (99%) subjek memiliki tingkat pengetahuan baik, 55 (54%) subjek memiliki sikap positif, dan 55 (54%) memiliki perilaku baik tentang diare. Tidak ada hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku (p=0,353) dan antara sikap dengan perilaku orangtua tentang diare (p=0,290). Kesimpulan. Hampir seluruh orangtua memiliki tingkat pengetahuan yang baik, dan mayoritas subyek mempunyai sikap dan perilaku yang baik tentang diare. Pengetahuan dan sikap orangtua tidak berhubungan dengan perilaku tentang diare pada anak.
Gangguan Perilaku Pasien Diabetes Melitus tipe-1 di Poliklinik Endokrinologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Lily Rahmawati; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Rini Sekartini; Jose RL. Batubara; Aman B. Pulungan
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.243 KB) | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.264-9

Abstract

Latar belakang. Diabetes melitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronis yang dapat mempengaruhiemosi dan perilaku anak dan remaja. Pasien mengalami tekanan yang berhubungan dengan bagaimanamengontrol metabolik dan tumbuh kembang yang sedang berlangsung.Tujuan. Mengetahui gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dan faktor-faktor yang berhubungan dengangangguan perilaku.Metode. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada bulan Agustus 2006 di poliklinik EndokrinologiDepartemen IKA FKUI RSCM. Subjek penelitian adalah pasien DM tipe-1 umur 4-18 tahun yang diambilsecara purposive sampling. Sumber data diperoleh dari orangtua/ wali responden dengan wawancaraterpimpin, menggunakan Pediatric Symptom Check List-17 (PSC-17) dan Kuesioner Masalah MentalEmosional (KMME).Hasil. Prevalensi gangguan perilaku pasien DM tipe-1 dijumpai kemungkinan gangguan psikososial 45,8%,paling banyak adalah gangguan internalisasi (33,3%). Kemungkinan gangguan mental emosional 41,7%.Lama sakit lebih dari 5 tahun dan pernah mengalami komplikasi memiliki risiko lebih besar mengalamigangguan mental emosional.Kesimpulan. Kemungkinan gangguan perilaku pada diabetes tipe-1 45,8%. Skrining gangguan perilakupada pasien DM tipe-1 perlu dilakukan secara rutin di pusat pelayanan kesehatan sehingga dapat segeradievaluasi lebih lanjut. 
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B Diana Mettadewi Jong; Adji Suranto; Hartono Gunardi; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.72-6

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan endemis tinggi hepatitis B, maka vaksinasi hepatitisB (hep B) merupakan solusi terbaik untuk mencegah penyakit ini. Kombinasi hep Bdengan DPwT (pertusis whole cell) = sel utuh dalam satu kemasan, memberikankenyamanan pada pasien dan memudahkan pelayanan kesehatan. Di samping keuntunganini, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin ini perlu diperhitungkan. Untukmengetahui KIPI vaksin ini, dilakukan studi prospektif pada 74 bayi berumur 2-6 bulandi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta antara Juli 2000 sampai dengan Maret2001. Bayi-bayi tersebut diberi 3 dosis vaksin kombinasi DPT dan hep B (DPwT/hepB) dengan selang waktu 5 minggu. Kartu observasi harian terhadap gejala yang timbulselama 5 minggu pasca imunisasi diisi orangtua dan data dikumpulkan pada kunjunganberikutnya. Umumnya KIPI timbul kurang dalam 72 jam setelah pemberian vaksin.Frekuensi KIPI tersering adalah demam (58,8%) diikuti oleh rewel (31,7%) dan demamtinggi (16,2%). Kejang umum timbul pada 1 kasus setelah pemberian dosis pertamadan pada 1 kasus lain kejang disertai demam tinggi. Setelah pemberian dosis ketigapada kedua kasus tersebut, pasien mendapat antipiretik dan kejang berhenti tanpapengobatan anti kejang. Tidak ditemukan KIPI pada vaksin DPwT/hep B yangmemerlukan perawatan di rumah sakit. KIPI yang didapatkan umumnya bersifat ringansampai sedang.
Kadar Antibodi Campak pada Anak Usia 1-4 Tahun Pasca Imunisasi Campak Arie Dian Fatmawati; Mulya R. Karyanti; Hartono Gunardi; Arwin A.P Akib; Darmawan B. Setyanto; Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.43-9

Abstract

Latar belakang. Belum ada penelitian di Indonesia yang membandingkan kadar antibodi campak pada anak usia 1-4 tahun, setelah imunisasi campak 1 kali dibanding 2 kali.Tujuan. Menganalisis apakah kadar antibodi campak setelah pemberian imunisasi campak 2 kali mencapai kadar protektif dibanding imunisasi campak 1 kali.Metode. Penelitian potong lintang di 6 posyandu di 5 wilayah DKI Jakarta pada Juni - Agustus 2014. Anak yang memenuhi kriteria inklusi diperiksa kadar IgG campak, dievaluasi dan dilakukan uji korelasi untuk menilai hubungan antara imunisasi campak dosis ke-2 dengan kadar antibodi campak.Hasil. Dari 145 subjek penelitian, 125 subjek (86,2%) memiliki kadar antibodi campak mencapai kadar protektif (≥ 120 mIU/ml). Kelompok usia 3-4 tahun memiliki kadar antibodi campak yang mencapai kadar protektif terbanyak yaitu 56 subjek (91,8%) dibanding kelompok usia lainnya. Kesimpulan. Pemberian imunisasi campak 2 kali meningkatkan antibodi campak yang mencapai kadar protektif sebesar 1,2 kali dibanding pemberian imunisasi campak 1 kali.
Pengaruh Pijat Bayi Menggunakan Minyak Mineral atau Minyak Kelapa terhadap Kenaikan Berat Badan pada Nenonatus Aterm S Ferius; Pustika Efar; Shirley Mansur; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.337 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.219-24

Abstract

Latar belakang. Pijat bayi dengan atau tanpa minyak telah menjadi bagian dari budaya masyarakat di sebagian besar belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun, manfaat pijat secara tersendiri dan manfaat penggunaan minyak pijat terhadap optimalisasi pertumbuhan neonatus masih menjadi perdebatan.Tujuan. Menilai pengaruh pijat bayi dan penggunaan minyak pijat yang berbeda, yaitu minyak mineral atau minyak kelapa, terhadap kecepatan kenaikan berat badan neonatus aterm.Metode. Studi eksperimental tidak tersamar dilakukan di sebuah Rumah Sakit Bersalin di Jakarta selama 2 bulan dimulai Juli 2006. Neonatus aterm dengan berat lahir 2500-4000 g dialokasikan dalam 1 kelompok pembanding dan 3 kelompok perlakuan pijat. Pemantauan berat badan dilakukan pada hari ketujuh pemijatan.Hasil. Dibandingkan kelompok pembanding, rerata kecepatan kenaikan berat badan lebih tinggi secara bermakna pada setiap kelompok perlakuan pijat kecuali kelompok pijat tanpa minyak. Rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak lebih tinggi dibandingkan rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat tanpa minyak (p<0,05). Kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak kelapa tidak berbeda bermakna dibandingkan rerata kecepatan kenaikan berat badan kelompok yang dipijat dengan minyak mineral.Kesimpulan. Pijat secara tersendiri tidak mempengaruhi kecepatan kenaikan berat badan neonatus. Penggunaan minyak dalam pemijatan memiliki efek positif terhadap kenaikan berat badan. Minyak kelapa memiliki potensi meningkatkan berat badan sama baik dibanding minyak mineral.
Intervensi Sleep Hygiene pada Anak Usia Sekolah dengan Gangguan Tidur: Sebuah Penelitian Awal Eva Devita Harmoniati; Rini Sekartini; Hartono Gunardi
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.93-9

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur adalah kondisi yang ditandai dengan gangguan jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Dampak gangguan tidur adalah gangguan belajar, memori, mood, perilaku, dan atensi.Tujuan. Mengetahui prevalensi, gambaran gangguan tidur, pengaruh intervensi sleep hygiene pada keluhan mengantuk, mood, kesulitan bangun, durasi tidur, nilai SDSC dan PDSS.Metode. Penelitian quasi eksperimental di SDN di Jakarta Pusat pada bulan Mei-Juni 2015. Skrining dan evaluasi pasca intervensi sleep hygiene selama 8 minggu menggunakan sleep disturbance scale for children (SDSC) dan pediatric daytime sleepiness scale (PDSS).Hasil. Prevalensi gangguan tidur 25,1%, terdiri atas disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS) 61,5%, sleep wake transition disorder (SWTD) 61,5%, disorder of excessive somnolence (DOES) 55,4%, dan disorder of arousal (DA) 51,5%. Setelah intervensi dilaporkan perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, nilai SDSC pre dan pasca intervensi (p<0,001).Kesimpulan. Dampak intervensi sleep hygiene yaitu perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, serta perbedaan bermakna nilai SDSC pre dan pasca intervensi. 
Vitamin D levels in epileptic children on long-term anticonvulsant therapy Fathy Pohan; Aryono Hendarto; Irawan Mangunatmadja; Hartono Gunardi
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 3 (2015): May 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.149 KB) | DOI: 10.14238/pi55.3.2015.164-70

Abstract

Background Long-term anticonvulsant therapy, especially with enzyme inducers, has been associated with low 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] levels and high prevalence of vitamin D deficiency. However, there have been inconsistent results in studies on the effect of long-term, non-enzyme inducer anticonvulsant use on vitamin D levels.Objective To compare 25(OH)D levels in epileptic children on long-term anticonvulsant therapy and non-epileptic children. We also assessed for factors potentially associated with vitamin D deficiency/insufficiency in epileptic children.Methods This cross-sectional study was conducted at two pediatric neurology outpatient clinics in Jakarta, from March to June 2013. Subjects in the case group were epileptic children, aged 6-11 years who had used valproic acid, carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, or oxcarbazepine, as a single or combination therapy, for at least 1 year. Control subjects were non-epileptic, had not consumed anticonvulsants, and were matched for age and gender to the case group. All subjects’ 25(OH)D levels were measured by enzyme immunoassay.Results There were 31 epileptic children and 31 non-epileptic control children. Their mean age was 9.1 (SD 1.8) years. Most subjects in the case group were treated with valproic acid (25/31), administered as a monotherapy (21/31). The mean duration of anticonvulsant consumption was 41.9 (SD 20) months. The mean 25(OH)D level of the epileptic group was 41.1 (SD 16) ng/mL, lower than the control group with a mean difference of 9.7 (95%CI 1.6 to 17.9) ng/mL. No vitamin D deficiency was found in this study. The prevalence of vitamin D insufficiency in the epileptic group was higher than in the control group (12/31 vs. 4/31; P=0.020). No identified risk factors were associated with low 25(OH)D levels in epileptic children.Conclusion Vitamin D levels in epileptic children with long-term anticonvulsant therapy are lower than that of non-epileptic children, but none had vitamin D deficiency.
Hepatitis B antibody titers in Indonesian adolescents who received the primary hepatitis B vaccine during infancy Hartono Gunardi; Adra Firmansyah; Sri Rezeki S Harun; Sudigdo Sastroasmoro
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 3 (2013): May 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.941 KB) | DOI: 10.14238/pi53.3.2013.160-6

Abstract

Backgi-ound Hepatitis B (HB) has been classified as moderate-tohighlyendemic in Indonesia. HB vaccination, the most effectivemethod to prevent HB viral transmission, induces protectiveantibodies against HB surface antigen (anti-HBs). However, theseantibodies decline in titer over time. Studies on the duration ofprotection and the prevalence of n on-responders in Indonesianadolescents have been limited.Objectives To determine anti-HBs titers in 15-17-year oldIndonesian adolescents given primary HB vaccine during infancyand the prevalence of non-responders after a HB vaccine boosterdosage.Methods This cross-sectional study was performed from Februaryto September 2008 on adolescents aged 15-17 years in threesenior high schools in Jakarta who received complete primary HBvaccines during infancy, based on parents' recall. Investigationsincluded HB vaccination history, anthropometric measurements,and blood tests for anti-HBs before and 4-6 weeks after a boosterdose ofHB vaccine.Results Of 94 subjects, 35 had protective anti-HBs and 59 hadundetectable anti-HBs. A booster dose was administered to 5 8 of then on-protected subjects, of which 33 showed anamnestic responses.However, 25 subjects failed to generate protective anti-HBs. Takinginto consideration the adolescents with protective anti-HBs beforeand after the booster dose, serologic protection was demonstratedin 73%. Non-responder prevalence was 27%. The high prevalenceof non-responders may indicate bias of parents' recall.Conclusion Protective anti-HBs is detected in less than half ofIndonesian adolescents given primary HB vaccine during infancy.Following booster dosage, anamnestic responses are n oted in onethirdof subjects. The prevalence of non-responders is 27%, butconfirmation with further study is needed.
Comparison of serial blood lactate level between dengue shock syndrome and dengue hemorrhagic fever (evaluation of prognostic value) M. Tatang Puspanjono; Abdul Latief; Alan R. Tumbelaka; Sudigdo Sastroasmoro; Hartono Gunardi
Paediatrica Indonesiana Vol 47 No 4 (2007): July 2007
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.111 KB) | DOI: 10.14238/pi47.4.2007.150-5

Abstract

Background Dengue shock syndrome (DSS) mortality is still high.Monitoring of blood lactate level is important to evaluate shock.Objectives The study were to review the difference between bloodlactate level of DSS and that of dengue hemorrhagic fever (DHF),to correlate blood lactate level with hypoxia state as shock riskfactors (PaO 2 , oxygen saturation, and anion gap) and to determinethe cut-off point of blood lactate level to predict shock.Methods The study was carried out at the Department of ChildHealth, Medical School, University of Indonesia, CiptoMangunkusumo Hospital, Jakarta, from January until July 2006.Three mL venous blood specimen was collected from all subjectsfor peripheral blood, blood gasses, serology, and blood lactateexaminations. This study consisted of a retrospective cohort anda cross sectional method. Data were analyzed with Chi-squaretest. Continous data tested using Mann-Whitney method. Toknow the correlation between blood lactate level and shock riskfactors we use logistic regression test.Results In DSS group, 73% shows hyperlactatemia (lactate =2mmol/L). Conversion of lactate means between two groups issignificantly different from day one to day two and three. Therewas a negative correlation between lactate level and pO 2 andoxygen saturation. Oxygen saturation is the only value that hasclinical correlation. Regressions analysis can be applied using Y= 7.05–0.05 X equation. The cut-off point of lactate level asmarker for shock by using ROC curve is 32.015 mmol/L with 70%sensitivity and 83.3% specificity.Conclusions Hyperlactatemia in DSS can be considered as a signfor unappropriate treatment of shock. Blood lactate level can beused as a biochemical marker for tissue hypoxia, to assess severityof the disease, as monitoring of treatment, and has prognosticvalue of DHF cases.
Co-Authors Abdul Latief Adji Suranto Adra Firmansyah Ahmad Syafiq Alan R Tumbelaka Alan R. Tumbelaka Alida R Harahap, Alida R Aman B. Pulungan Annisa R. Yulman Araysi, Leo Alfath Arfianti Chandra Dewi Ari Prayitno Ari Prayitno, Ari Aria Kekalih Arie Dian Fatmawati Arini Ika Hapsari Armeilia, Rilie Arwin A. P. Akib Arwin A.P Akib Arwin AP Akib Aryono Hendarto Asrawati Nurdin Badriul Hegar Badriul Hegar Bambang Madiyono Bambang Madiyono Bambang Supriyatno Bambang Tridjadja Batubara, Jose Bernie E. Medise Bernie Endyarni Medise Bonny Tjongjono Cissy B Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Corrie Wawolumaya Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B. Setyanto Darmawan, Anthony C. David H Muljono, David H Diana Mettadewi Jong Dominicus Husada Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Elina Waiman Elizabeth Melina Endang Windiastuti Eva Devita Harmoniati Fathy Pohan Fatmawaty Fatmawaty Gatot Irawan Sarosa Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Hanifah Oswari Hanny Nilasari Hardiono D Pusponegoro Haswinzky, Rose Amalia Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara Hindra I. Satari I Gusti Lanang Sidiartha I Putu G Kayika Ika Citra Dewi Ika Karlina Idris Ikhsan Johnson Ikhsan Johnson Imam Budiman Ina Susianti Timan Irawan Mangunatmadja Irene Yuniar, Irene Ismet N. Oesman Ismoedijanto Jasin, Madeleine Ramdhani Jeane Roos Ticoalu Julianti Julianti, Julianti Julie Dewi Barliana Kemal N. Siregar Kurniawan, Kristian Kusnandi Rusmil Laura Agnestasia Djunaedi Lesmana, Elvira Lia Amanda Lily Rahmawati Liza F Zaimi, Liza F Liza Fitria M. Tatang Puspanjono Maddepunggeng, Martira Martira Maddepunggeng Medise, Bernie E. Mei Neni Sitaremi Mei Neni Sitaresmi Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Munar Lubis Munasir, Zakiuddin Muzal Kadim Nadya, Ruth Nastiti Kaswandani Natharina Yolanda, Natharina Nia Niasari Nurul Iman Nilam Sari Partini Trihono Piprim B Yanuarso Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia Pustika Efar Raihan Raihan Raihan Raihan, Raihan Ranto, Huminsa Ray Wagiu Basrowi Ray Wagiu Basrowi Resyana P. Nugraheni Rini Andriani Rini Andriani Rini Sekartini Rismala Dewi Ronny Suwento, Ronny Rosdiana S Tarigan Rossy Agus Mardani Rulina Suradi S Ferius Saharso, Ersal Rasyid Sendy Tjahjowargo Setyo Handryastuti Shirley Mansur Simanjuntak, Sumardi F. Singgih, Adrian Himawan Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sreshta Mukhi Sri Rejeki H Hadinegoro. Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki S Harun Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudung O Pardede, Sudung O Sukman T. Putra Sukman Tulus Putra Sumarlan, Eka S Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Titi S. Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjhin Wiguna Tjhin Wiguna Toto Wisnu Hendrarto Turyadi Turyadi, Turyadi Ufairah, Kamilia Rifani Wangke, Lydia Wirahmadi, Angga Wresti Indriatmi B. Makes Yoga Devaera Yulianti Wibowo Yulianti Wibowo Yuliarti, Klara Yulinda Arty Laksmita Yuni Astria Yvan Vandenplas Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir