Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERBEDAAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS II DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DAN TIDAK MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI SD NEGERI LAMREUNG ACEH BESAR susanti susanti; Bukhari Bukhari; M. Nasir Yusuf
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 4, No 1 (2019): FEBRUARI 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan membaca permulaan siswa kelas II dengan menggunakan media gambar dan tidak menggunakan media gambar dan bagaimana perbedaan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II dengan menggunakan media gambar dan tidak menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan membaca permulaan siswa kelas II dengan menggunakan media gambar dan tidak menggunakan media gambar, untuk mengetahui bagaimana perbedaan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II dengan menggunakan media gambar dan tidak menggunakan media gambar adalah di SD Negeri Lamreung. Pendekatan dalam penilitian ini adalah kuantitatif dan jenis penelitian eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SD Negeri Lamreung.  Sampel dalam penelitian ini adalah 26 siswa di kelas IIa dan 23 siswa di kelas IIb. Teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu melalui observasi dan tes.Berdasarkan hasil penelitian ini dilihat dari hasil observasi yang didapat terhadap guru yang mengajar, maka dari tahapan-tahapan criteria pelaksanaan pembelajaran di kelas IIa, guru melaksanakan sepenuhnya dari tahapan-tahapan pembelajaran dengan baik tetapi pada kegiatan inti masih terdapat kekurangan guru tidak menggunakan media gambar sehingga tujuan pembelajaran kurang tercapai. Sedangkan observasi terhadap guru kelas IIb, guru melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran dengan baik dan menggunakan media gambar sehingga pembelajaran yang diberikan dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka hasil dari data yang telah diolah, diketahui bahwa t hitung ttabel = -1,15 2,02, maka H0 ditolakdan H1 diterima, artinya bahwa kemampuan membaca permulaan siswa menggunakan media gambar lebih baik dibandingkan dengan yang tidak menggunakan media gambar di kelasII SD Negeri Lamreung Aceh Besar.
KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT SISWA KELAS V SDN 1 ALUE DUA KECAMATAN LANGSA BARO Fona Farah Diba; Bukhari Bukhari; Said Darnius
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 4, No 1 (2019): jurnal ilmiah mahasiswa pgsd
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan membaca merupakan salah satu standar kemampuan dalam bahasa dan sastra Indonesia yang harus dicapai pada semua jenjang pendidikan, termasuk di jenjang SD. Melalui kemampuan membaca siswa diharapkan mampu membaca dan memahami teks bacaan dengan kecepatan yang memadai. Dengan membaca bagaikan membuka jendela dunia dengan membaca akan memperoleh berbagai pengetahuan dan informasi, karena semakin banyak membaca maka semakin banyak pula hal yang diketahui, sehingga untuk membantu dan untuk mempermudahkan mengetahui segala sesuatu, salah satu cara adalah melalui kegiatan membaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan membaca cepat pada siswa kelas V SDN 1 Alue Dua Kecamatan Langsa Baro. Hipotesis Penelitian ini adalah Tidak ada  kemampuan membaca cepat siswa kelas V SDN 1 Alue Dua Kecamatan Langsa Baro, Ada Kemampuan Membaca Cepat Siswa Kelas V SDN 1 Alue Dua Kecamatan Langsa Baro. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Adapun populasi dalam penelitian seluruh siswa kelas V SDN 1 Alue Dua Kecamatan Langsa Baro berjumlah 55 siswa. Data yang dikumpulkan menggunakan post tes, kemudian dianalisis secara deskriptif. Dari 55 siswa, yang mempunyai kecepatan efektif membaca  terdapat  8 orang siswa (14,8 %) di kategorikan sedang, dan 47 orang siswa (87,3 %) di kategorikan lambat. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada bab sebelumnya dan berdasarkan tujuan dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Dari Hasil tes kecepatan kelas V, Dari 55 siswa kelas V mempunyai kecepatan efektif membaca di antaranya 8 orang siswa (14,8 %) di kategorikan sedang dan 47 orang siswa (87,3 %) di kategorikan lambat. Jumlah siswa seluruhnya 55 siswa, dan hasil persentase seluruhnya 100 %.
PERBEDAAN PARTISIPASI SISWA TERHADAP PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SD NEGERI 54 BANDA ACEH DENGAN SISWA SD NEGERI 1 PEKAN BADA ACEH BESAR Nurmala Nurmala; Bukhari Bukhari; Nurmasyitah Nurmasyitah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol 4, No 2 (2019): MEI 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu fasilitas sumber belajar yang disediakan sekolah untuk mengembangkan potensi dan pengetahuan siswa adalah perpustakaan. Untuk memajukan  perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar, sangat dibutuhkan partisipasi siswa dalam penyelenggaraanya. Penelitian ini bertujua mengetahui  tingkat paartisipasi siswa terhadap perpustakaan di SD Negeri 54 Banda Aceh, untuk mengetahui partisipasi siswaa terhadap perpustakaan sekolah SD Negeri 1 Pekan Bada Aceh Besar, untuk mengidentifikasi Perbedaan Partisipasi siswa terhadap perpustakaan antar sekolah tersebut.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian komparatif. Populasi dalam penelitian meliputi seluruh siswa SD Negri 54 Banda Aceh dan seluruh siswa SD Negeri 1 Pekan Bada Aceh Besar.Sampel pada penelitian meliputi siswa SD Negeri 54 Banda Aceh berjumlah 50 orang dan siswa SD Negeri 1 Peukan Bada Aceh Besar  berjumlah 50 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran angket, hasil penelitian dianalilis menggunakan uji hipotesis (uji-t) dengan bantuan komputer SPSS versi 22.Berdasarkan jawaban angket, maka hasil yang diperoleh yaitu tingkat partisipasi siswa SD Negeri 54 Banda Aceh memperoleh nilai rata-rata53,9 sedangkan SD Negeri 1 Peukan Bada Aceh Besar memperoleh nilai rata-rataa45,5 dengan perbedaan rata-rataa meliputi 8,40. Perbedaan nilai rata-rata tersebut signifikan dengan nilai t hitung (6,341) lebih besar dari nilai t tabel (2,01), sehingga hipotesis Ha diterima dan menolak hipotesis H0, maka simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan partisipasi siswa terhadap perpustakaan sekolah yang signifikan antara SD Negri 54 Banda Aceh dengan SD Negri 1 Pekan Bada Aceh Besar sebagai sumber belajar. 
INISIASI GERAKAN Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ACEH TAHUN 1950-1953 DALAM PERSPEKTIF PERGERAKAN SOSIAL Junian Hijry Minarva; Bukhari Bukhari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berkaitan dengan Inisiasi Gerakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh pada tahun 1950-1953 dalam perspektif pergerakan sosial. Adapun Tujuan penelitian ini adalah untuk: mengetahui tahapan inisiasi gerakan DI/TII di Aceh tahun 1950-1953 dalam perspektif pergerakan sosial. Penyusunan skripsi ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik studi dokumentasi kepustakaan yang bersumber dari berbagai buku bacaan serta wawancara untuk mendapatkan data di lapangan, dan penelitian ini mengunakan teknik snowball sampling dalam penentuan informan. Hasil dari peneitian menunjukkan bahwa kelompok PUSA, ialah kelompok yang sangat dirugikan dari kebijakan-kebijakan Pemerintah Pusat pada awal tahun 1950-1953, Seperti dihilangkannya status provinsi Aceh, Rasionalisasi Kesatuan Militer Aceh dan Razia pada bulan Agustus 1951. Kebijakan tersebut mengancam kedudukan mereka sebagai pemimpin Aceh pada masa itu. Kebijakan-kebijakan Pemerintah Pusat tersebut juga diprovokasikan oleh kelompok “sisa-sisa feodal” yang tidak menginginkan kepemimpin Aceh dikuasai oleh kelompok PUSA. Pada Tahun 1951-952 kebijakan Pemerintah Pusat semakin berdampak buruk bagi mayoritas masyarakat Aceh. Kelompok PUSA terus melakukan upaya penolakan terhadap kebijakan itu, mulai dari penanaman ideologi dan doktrin melalui retorika dalam rapat rahasia maupun rapat terbuka, sampai pada pengorganisasian masyarakat demi melawan Pemerintah Pusat beserta kebijakannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Kelompok PUSA melihat bahwa dampak dari kebijakan Pemerintah Pusat tidak hanya merugikan mereka saja, namun juga masyarakat Aceh secara luas. Indikasi tersebut memberikan kesempatan waktu dan juga kondisi bagi kelompok PUSA untuk mengarahkan emosi masyarakat kepada perlawanan secara kolektif untuk melawan institusi yang mapan yaitu Pemerintah Pusat. Sebagaimana tipe Gerakan Sosial yang diuraikan William Kornblum, Gerakan Sosial berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, Gerakan DI/TII Aceh merupakan Revolutionary Movement (Gerakan Revolusioner)  yang bertujuan untuk mengubah tatanan sosial, institusi dan stratifikasi masyarakat Aceh secara menyeluruh. Kata Kunci: Gerakan DI/TII Aceh, Gerakan Sosial  ABSTRACTThis research is related to The Initiation Movement of Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh in 1950-1953 in Social Movement perspective. The purpose of this research is: to know the stage of the initiation movement of DI/TII Aceh in 1950-1953 in Social Movement perspective. The making of this thesis is using the qualitative research method by using the study of literature documentary technic sourced by various literatures along with interview in the field to get the data, this research is also using the snowball sampling technic to determine the informant. The result of this research shows that PUSA group was highly disadvantaged by the policies of Central Government in early 1950-1953, such as the removal of Aceh province’s status, the rationalization of Aceh’s military units, and the raid in August 1951. Those policies threatened their populations as the leader of Aceh at the time. Those policies were also provoked by the party of ‘feudalism’s remains’ who did not want Aceh was leaded by PUSA group. In 1951-1952, the Central Government’s policies gave more harmful impacts to the majority of Aceh’s population. The PUSA group kept trying to reject toward those policies, started by brainstorming the ideology and indoctrinating by rhetoric at close and open meeting, until interfering the community’s organizations only to fight the Central Government along with its policies. The summary of this research is: PUSA group observed that the impact of Central Government’s policies were not only disadvantage them, but also Aceh’s population widely, those Indications gave them the time opportunity and also a perfect condition for PUSA group to steer the people’s angers toward the resistance collectively to fight the steady institution which was Central Government. As William Kornblum described about Social Movement types, Social Movement based on the goals they seek to achieve. DI/TII Aceh movement was a Revolutionary Movement that aimed to change the whole of social fabric, institution, and stratification of Aceh’s populations.
PACUAN KUDA DALAM KAJIAN SOSIOLOGI (suatu penelitian di Kabupaten Bener Meriah) Amalia Pintenate; Bukhari Bukhari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pacu Kude Tradisional merupakan salah satu tradisi yang masih tetap mampu bertahan di antara lajunya arus perkembangan zaman. Tradisi ini masih dilaksanakan rutin setiap tahunnya oleh masyarakat Bener Meriah karena diyakini memiliki fungsi dan pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut mempengaruhi kepercayaan masyarakat agar tetap mempertahankan dan melestarikannya sampai saat ini. Penelitian ini berfokus untuk mengeksplorasi harmoni dan kerukunan masyarakat di Bener Meriah melalui sebuah tradisi permainan rakyat sebagai potret masyarakat yang plural, berupa deskripsi kehidupan sosial dan faktor-faktor penguat terciptanya kerukunan antar masyarakat Bener Meriah. Pertanyaan penelitian ini ialah (1) Bagaimana Tradisi Pacu Kuda pada Masyarakat Bener Meriah, (2) Apa makna dan Fungsi tradisi Pacu kuda bagi masyarakat Bener Meriah. Penelitian ini menggunakan teori Solidaritas Sosial yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Penelitian yang dilakukan ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan kearifan lokal yang menjadi tradisi pacu kuda ini masih bertahan hingga saat ini. Pada awalnya tradisi pacu kuda lebih dikaitkan menjadi tradisi turun-temurun namun dalam perkembangannya telah menjadi suatu kebutuhan, baik dari segi pariwisata dan budaya, aspek ekonomi maupun menjadi perekat bagi sesama warga di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.  ABSTRACT: Traditional Pacu Kude is one of the traditions which still exist in this globalization era. This tradition is still carried out every year by Bener Meriah society because they believe that it has both functions and impacts to their social life. Thus, this belief has led them to retain and preserve it until now. This study focused on exploring the harmony of society in Bener Meriah through a traditional folk game as a portrait of pluralistic society. This study was in a form of description about social life and several factors of social harmony among people in Bener Meriah. The research questions are (1) How does the existence of Pacu Kude tradition in Bener Meriah? (2) What is the meaning (dedication) and function of Pacu Kude tradition for Bener Meriah society. The theory which is used in this study was the Social Solidarity Theory by Emile Durkheim. This study used the descriptive qualitative method. The results of the study showed that the involvements of local wisdom are what made Pacu Kude tradition still survives until today. Initially, it was linked into the hereditary tradition, but as its development happened, it has become a necessity in terms of tourism, culture, economics and as well as an adhesive for Bener Meriah, Central Aceh, and Gayo Lues citizens.
Persepsi Masyarakat Terhadap Pembagunan PLTA peusangan Aceh Tengah Pita Pitriani; Bukhari Bukhari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1541.166 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui bagaimana persepsi membentuk hubungan sosial antar masyarakat dan Pihak Pembangunan PLTA Peusangan Aceh Tengah. masyarakat Kabupaten Aceh Tengah Kecamatan Silih Nara, Kampung Burni Bius dan Kampung Remesen  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif, sedangkan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan ialah: Observasi, wawancara, dan Dokumentasi. Teknik analisis data merupakan proses mengatur dan megurutkan data,mengoranisasikannya menjadi satu pola, kategori, dan satu uraian dasar. responden dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di Kecamatan Silih Nara responden penelitiannya ialah masyarakat yang  lebih di khususkan berdomisili di Kecamatan Kampung Burni Bius dan di Kampung Remesen,imporman kunci berjumlah 7 orang, dan imforman umum berjulah 8 orang. Penduduk merupakan faktor penting dan menjadi modal dasar dari pembangunan yang sangat besar pengaruhnya dalam mewujudkan mayarakat yang adil dan makmur. Jumlah keseluruhan informan sebanyak 15 (lima belas) orang. Dari rangkaian kegiatan penelitian disimpulkan bahwa sedikitnya terdapat 3 (tiga) faktor  yang mempengaruhi (a) Merupakan faktor yang terdapat dalam individu yang mempersepsikan. (b) Karakteristik target yang dipersepsi.(c)  situasi terjadinya persepsi. persepsi dalam proses pembangunan PLTA Peusangan Aceh Tengah ini  dapat terlihat  sistem nilai yang terjadi.Kata kunci: persepsi,  Hubungan, dan pembangunan.Perceptions of the People Against the Development of PLTA peusangan Aceh TengahABSTRACTThe objective of this research was to figure out the perception of the society members related to their social relationship with the parties responsible for the development of the hydroelectric power plant in Peusangan, Central Aceh. The society members are those living in Burni Bius and Remesen Villages of Silih Nara Sub-District in Central Aceh Regency. Qualitative research method was employed and the data needed were collected by means of observation, interview, and documentation. The data collected were then analyzed by using interactive data analysis that includes three stages, namely data reduction, data display, and data verification. The research population included all of the people living in Silih Nara Sub-District while those living in Burni Bius and Remesen Villages were chosen as the research samples. Society members have important roles in realizing a just and prosperous society. There were 10 informants chosen in this research. The results indicated that there were at least three factors related to perception. They are (a) the personality of the one perceiving, (b) the characteristics of the perceived target, and (c) the context of the perception. Moreover, the perception related to the process of building the hydroelectric power plant in Peusangan showed that a value system is important in the society.Keywords: perception, development, value  
Strategi Manajemen Birokrasi Oleh PT. Angkasa Pura II Dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik Di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Maya Zuhrianti; Bukhari Bukhari
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAK. PT. AngkasaPura II adalah salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang transportasi udara. Dalam menciptakan kualitas pelayanan publik yang baik, diperlukan sistem birokrasi yang bagus. Namun dewasa ini, kualitas pelayanan publik masih belum memberikan kepuasan bagi masyarakat. Hal ini disebabkan salah satunya oleh masih rendahnya profesionalisme birokrasi, yang dapat dilihat dari sistem birokrasi yang masih belum berjalan dengan semestinya. Tujuan dilakukannya penilitian ini untuk melihat upaya yang dilakukan PT. Angkasa Pura II dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di Bandara Sultan Iskandar Muda. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Birokrasi yang dikemukakan oleh Max Weber. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan lokasi penelitian di Bandara Sultan Iskandar Muda. Proses pengumpulan data dilakukan melalui tahap wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan  dalam penelitian telah ditetapkan sekitar 8 (delapan) orang yang terdiri dari pihak PT. Angkasa Pura II yang merupakan informan kunci dalam penelitian ini dan para penumpang di Bandara Sultan Iskandar Muda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Angkasa Pura II telah menerapkan beberapa prinsip dasar idealnya suatu birokrasi yang dikemukakan oleh Weber. Namun dalam penerapannya PT. Angkasa Pura II belum sepenuhnya optimal dalam menerapkan prinsip birokrasi Weber dengan baik. Sehingga menimbulkan keluhan dan ketidakpuasan masyarakat akan pelayanan yang ternyata kurang memuaskan bagi masyarakat. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sistem birokrasi yang diterapkanoleh PT. Angkasa Pura II belum sepenuhnya optimal. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa aturan prosedur yang belum dijalankan dengan baik, seperti masih adanya sistem yang tidak menganut prinsip netral seperti masih melibatkan rasa interpersonal dalam pekerjaan, sehingga berdampak bagi kualitas pelayanan publik di Bandara Sultan Iskandar Muda. ABSTRACT. Angkasa Pura II inc. is one of the State-Owned Enterprise (SOE) speacializing in air transportation. In order to provide an excellent public service, a good bureaucratic system is required. On the contrary, the quality of public services is has not been able to statisfiy the costumers. One of the possible causes these phenomena was lack of professionalism on the bureaucracy indicated by the bureaucratic system which did not run properly.This study is meant to see the effort made by Angkasa Pura II inc. In optimizing public services quality at Sultan Iskandar Muda International Airport. The theory used in this research is the theory or bureaucracy proposed by Max Weber. The method employed in this studyis descriptive qualitative method, which took place in Sultan Iskandar Muda International Airport. The data collection instruments used in this study were interview, observation and documentation. There were8 informants chosen as sample including Angkasa Pura II inc. staff and passengers at Sultan Iskandar Muda International Airport.Based on the obtained result, Angkasa Pura II inc. has applied the principle of an ideal bureaucracy proposed by Weber but in practice it was not done optimally. Therefore, it makes people keep complaining and questioning to the distastified service at Sultan Iskandar Muda International Airport. In conclusion, the system of bureaucracy at Angkasa Pura II inc. was not prformed optimally which can be seen from the unimplemented procedures, such as the sign of uneutral system involving interpersonal relationship in work. Such condition affected the quality of public service in Sultan Iskandar Muda International Airport. 
Tracing and Mapping of Cultural Reserves as a Source of Information for Historical Tourism in Langsa City Bukhari Bukhari; Madhan Anis; Ramazan Ramazan
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 4, No 1 (2021): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i1.1714

Abstract

Cultural heritage objects are evidence of historical heritage that is very useful in life, cultural heritage is also useful as a means of education as well as a historical tourism destination for the community. The purpose of this research is to find out historical heritage buildings in Langsa City, then to map the historical heritage buildings to be used as sources of information.The method in this study uses a historical method with stages namely the heuristic stage, the source criticism stage, the interpretation stage and the historiography stage. The result of the research is that there are five historical heritage buildings in Langsa City that have been designated as a Cultural Heritage with the Letter of the Mayor of Langsa in 2016. Then the mapping is carried out on the historical heritage which has been used as a source of information that is very helpful for local, regional, national and foreign tourists who visit Langsa City.
The Role Corn Varieties on Biomass, Stomata and Cholorophyll on a Nutrient Stress Bukhari Bukhari; Nuryulsen Safridar
Budapest International Research in Exact Sciences (BirEx) Journal Vol 2, No 2 (2020): Budapest International Research in Exact Sciences, April
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birex.v2i2.871

Abstract

This study conducted on Soil and Plant of Laboratory, Screen House Experimental Farms on 2016 July until December on Agricultural Faculty, Syiah Kuala University, Darussalam Banda Aceh, Indonesia. This study used a Randomized Completely Design (RCD) with 36 treatments and three replications. They are have two factors such as Varieties have 9 procedures, and nutrient stress have 4 treatments. The parameter was observed on biomass, a total of stomata and chlorophyll. The result showed that varieties and nutrient stress were significantly on biomass, the whole of stomata and chlorophyll. The best of biomass was found on Sri Kandi kuning, and the lowest was found on anoman 1. The best of a total of stomata was found on anoman 1 and the lowest was found on sukmaraja. The heavy of chlorophyll was found on bima and the lowest was found on anoman 1. The best biomass was found on the nutrient of stress in formula AB and the lowest was found on magnesium. The best stomata on nutrient stress were found on formula AB, and the lowest was found on magnesium. The heavy of chlorophyll on stress hara was found formula AB and the lowest was found on Kalium. The best combination on biomass was found Sri Kandi Kuning and formula AB, the lowest was found on anoman 1 dan magnesium. The best combination on stomata was found on gumarang and formula AB, dan the lowest was found on sukmaraja dan magnesium.
KHALWAT DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF Bukhari Bukhari
Jurisprudensi : Jurnal Ilmu Syariah, Perundangan-Undangan dan Ekonomi Islam Vol 10 No 2 (2018): Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundang-undangan, Ekonomi Islam (Jurisprud
Publisher : State of Islamic Institute Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/jurisprudensi.v10i2.942

Abstract

The existence of a man and woman who have no kinship so that it is lawful to marry her, in a lonely place without being ac companied by a mahram of the male or female side. This khalwat is a crime that is not subject to hudud punishment and kafarah punishment. This form of khalwat crime is included in the category of ta'zir finger whose number of punishment is not limited. In the Qur'an and Sunnah this khalwat act is highly reproached, but not clearly regulated in the Qur'an and Sunnah. So this act can be entered into the ta'zir group. All deeds that should (need) be forbidden to fulfill the common good (community). This prohibition must necessarily be made on the basis of community agreement / consensus in ways that are considered eligible. In North Aceh, the khalwat actors who are close to the power are hard to touch with the law, it is not surprising to all of us to remember that the law in this country is not yet the commander but the law is merely a bargaining position in everyday life.