Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Anggota Keluarga yang di Rawat di Ruang ICU Azzahra, Fazra Latifah; Pelawi, Arabta Malem Peraten; Indrawati, Lina
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 4 (2024): Agustus 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i4.2928

Abstract

Komunikasi merupakan unsur yang dibutuhkan untuk melaksanakan proses keperawatan kepada keluarga pasien, dalam istilah kesehatan disebut komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik perawat merupakan komunikasi yang dilakukan perawat dan pasien dalam menjalin komunikasi profesional perawat. Dengan berkomunikasi perawat dapat mendengarkan perasaan pasien maupun keluarganya dan menjelaskan prosedur tindakan keperawatan. Komunikasi terapeutik ini memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi. Karena bertujuan untuk terapi kesembuhan maka komunikasi dalam keperawatan disebut komunikasi terapeutik. Ahli teori keperawatan telah menganjurkan penggunaan terapeutik diri sendiri untuk mengembangkan hubungan interpersonal dengan pasien yang mengarah pada proses kesembuhan dan kesehatan. Salah satu faktor yang dapat mengurangi perasaan cemas dalam keluarga adalah adanya dukungan informasi yang jelas dari staf medis berkaitan dengan penyakit pasien dan tindakan yang dapat diambil untuk keselamatan pasien. Perawat dapat berperan dalam mengurangi kecemasan yang dialami oleh keluarga pasien, hal ini bisa dilakukan dengan teknik komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat ICU Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Di Rumah Sakit Rawalumbu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu keluarga pasien yang berjumlah 62 keluarga pasien. Sampel dalam penelitian ini yaitu 62 keluarga pasien. Teknik pengumpulan data menggunakan metode Non Probability Sampling dengan jenis Purposive Sampling. Hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa dari 62 responden, sebanyak 25 responden (40,3%) mengatakan komunikasi terapeutik perawat ICU baik dan sebagian keluarga pasien mengalami kecemasan ringan sebanyak 23 responden (37,1%) dan nilai P Value sebesar 0,000 < nilai α (0,05). Dapat disimpulkan ada hubungan komunikasi terapeutik perawat ICU dengan tingkat kecemasan keluarga di Rumah Sakit Rawalumbu.
Hubungan Motivasi dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis pada Pasien TBC Elisia, Mega; Indrawati, Lina; Pelawi, Arabta M. Peraten
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 6 No 4 (2024): Agustus 2024, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v6i4.2930

Abstract

Tuberkolosis atau TBC paru adalah penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh bakteri (Mycobacterium tuberculosis). Gejala utama dari penyakit ini adalah batuk yang berlangsung lama hingga beringgu-minggu, batuk disertai dahak yang bercampur darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, penurunan berat badan, malaise, keringat malam tanpa kondisi fisik yang aktif, demam, Fakta lain dari penyakit tuberkolosis bisa diobati secara tuntas, namun pada kenyataannya angka kekambuhan penyakit tuberkolosis masih tinggi hal ini dibuktikan dengan masih banyak ditemukan kasus TBC yang disebabkan karena penderita tidak mematuhi aturan dalam pengobatan. Kepatuhan minum obat pada penderita tbc menyebabkan angka kesembuhan penderita semakin rendah, angka kematian tinggi, dan kekambuhan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan motivasi dengan kepatuhan minum obat anti tuberculosis pada pasien tbc. Dibuktikan dengan hasil perolehan data menggunakan Statistical Program For Social Science didapatkan p value sebesar 0,000 < a (0,05) hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kepatuhan minum obat anti tuberculosis pada pasien tbc.Terhadap hubungan signifikan antara motivasi dengan kepatuhan minum obat anti tuberculosis pada pasien tbc di puskesmas pagelaran pandeglang banten tahun 2023 dengan p value 0,000 ≤ 0,05.
Duration and Sitting Habits with The Prevention of Scoliosis Loustha, Amanda Cahaya; Nur Fajri, Dinda; Indrawati, Lina
Jendela Nursing Journal (JNJ) Vol 9 No 2 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jnj.v9i2.12717

Abstract

Background: Scoliosis is a spinal disorder influenced by factors, including sitting duration and habits, Adolencents with poor sitting habits and long sitting duration are at higher risk of developing scoliosis. Purpose: This study analyzes the relationship between duration and habits with the preventation of scoliosis in adolescent at Madrasah Aliyah 02 Babelan Bekasi and determine the most dominan variable in the preventation of scoliosis. Methods: This quantitative study employed an observational analytic design. With 130 respondents through Simple Random Sampling. Data collection used questionnaires covering duration, sitting habits, and scoliosis prevention. Analysis utilized the Krusskal-Wallis test to examine relationships between variables and logistic regression to determine the dominant factor influencing scoliosis preventation (α = 0.05). Results: Kruskal-Wallis testing revealed significant relationships between sitting habits and scoliosis preventation (p=0.001). Logistic regression showed only duration significantly affected scoliosis preventation (p=0.006), while sitting habits were not significant (p=0.125). Conclusion: Duration is the dominant factor affecting scoliosis preventation in adolescents, while sitting habits showed no significant effect in the regression model. Increasing awereness about safe duration limits and promoting physical activity are necessary to reduce scoliosis risk.
EDUKASI PEMANFAATAN BUBUR DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) UNTUK STUNTING DAN NUGGET LELE UNTUK MP-ASI: Indonesia Dewi Rostianingsih; Feri Setiadi; Lenny Irmawati Sirait; Lina Indrawati; Arabta M. Peraten Pelawi; Evi Sri Maulidi Risalah
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 1 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v7i1.5584

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih tinggi di Indonesia dan berdampak pada pertumbuhan serta perkembangan anak. Rendahnya pengetahuan ibu balita mengenai pemenuhan gizi menjadi faktor penting yang perlu ditangani, khususnya dalam pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu balita terkait pencegahan stunting melalui edukasi pemanfaatan bubur daun kelor (Moringa oleifera) dan nugget lele sebagai MP-ASI bergizi. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan, demonstrasi pembuatan makanan, pembagian media edukasi, serta evaluasi dengan pre-test dan post-test. Kegiatan diikuti oleh 50 ibu dengan balita di RW 004 Kelurahan Sepanjang Jaya. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu yang cukup signifikan, di mana sebelum penyuluhan sebagian besar peserta belum memahami pentingnya gizi seimbang, namun setelah kegiatan mayoritas ibu mampu menjelaskan kembali materi yang diberikan. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan termotivasi untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi berbasis praktik mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang sebagai upaya pencegahan stunting, meskipun masih terdapat keterbatasan waktu dalam pelaksanaan.