Articles
Pendampingan dan Konseling Pastoral, dengan Pendekatan Etnometodologi
Musarub, Liviana Binti;
Tampake, Tony;
Adi, Suwarto
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.262
Ethnomethodology is the study of what humans use in solving everyday problems and Ethnomethodology is also the study of everyday human social activities. This article wants to explain the ethnomethodological approach in the process of accompanying and providing pastoral counseling in the church. The author uses the ethnomethodological approach as a method in pastoral assistance and counseling, to find the root of the problem that must be researched in the struggles that exist in the church or that are faced by individuals in the church. . Literature review is the method used in this paper to obtain data and collect the information needed in this paper. This article begins with an explanation of ethnomethodology to explain what ethnomethodology is, then an explanation of community assistance and counseling so that readers can know how to understand assistance and counseling in society and after that the author explains how ethnomethodology is used in pastoral assistance and counseling.Etnometodologi adalah studi yang dipakai oleh manusia dalam penyelesaian masalah sehari-hari dan Etnometodologi juga adalah studi pada kegiatan sosial manusia sehari-hari. tulisan ini mau menjelaskan pendekatan etnometodologi dalam proses mendampingi dan memberikan konseling pastoral dalam gereja, penulis menggunakan pendekatan etnometodologi sebagai metode dalam pendampingan dan konseling pastoral, untuk menemukan akar masalah yang harus diteliti dalam pergumulan yang ada dalam gereja atau yang dihadapi oleh individu yang ada dalam gereja. Kajian pustaka merupakan metode yang digunakan dalam tulisan ini untuk mendapatkan data dan mengumpulkan maklumat yang diperlukan dalam tulisan ini. Tulisan ini dimulai dengan penjelasan etnometodologi untuk menjelaskan apa itu etnometodologi, kemudian penjelasan tentang pendampingan dan konseling masyarakat supaya pembaca boleh mengetahui bagaimana memahami pendampingan dan konseling dalam masyarakat dan setelah itu penulis menjelaskan bagaimana etnometodologi digunakan dalam pendampingan dan konseling pastoral.
TRADISI TUDANG SIPULUNG SEBAGAI BASIS PERDAMAIAN DALAM PERSPEKTIF GEREJA TORAJA JEMAAT SERITI
Ruminding, Valentino;
Tampake, Tony;
Harisantoso, Imanuel Teguh
Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkrk.v5i1.44995
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam rekonstruksi dan reaktualisasi Tudang Sipulung sebagai basis perdamaian, dengan memfokuskan perhatian pada pemaknaan Gereja Toraja Jemaat Seriti. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan jenis deskriptif. Dari hasil penelitian, Gereja Toraja Jemaat Seriti memaknai tradisi Tudang Sipulung sebagai basis perdamaian. Karena tradisi Tudang Sipulung dapat menjadi ruang negosiasi dan mediasi yang berlangsung berdasarkan prinsip-prinsip demokratis, dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal seperti Sipakatau (saling menghormati atau menghargai), Sipakainge’ (saling menasehati atau mengingatkan) dan Sipakalebbi (saling memuliakan). Tudang Sipulung berasal dari bahasa Bugis, Tudang berarti duduk dan Sipulung berarti bersama atau berkumpul. Tudang Sipulung memuat makna kerendahan hati untuk mau duduk bersama dalam memecahkan suatu persoalan secara bersama-sama sehingga terbangun keselarasan dan kebersamaan yang penuh cinta kasih dan damai sejahtera. This research aims to contribute to the reconstruction and re-actualization of Tudang Sipulung as a basis for peace, by focusing attention on the meaning of the Seriti Congregation Toraja Church. The research method used is qualitative with a descriptive type. From the results of the research, the Toraja Church Seriti Congregation interprets the Tudang Sipulung tradition as a basis for peace. Because the Tudang Sipulung tradition can be a space for negotiation and mediation that takes place based on democratic principles, by prioritizing local wisdom values such as Sipakatau (mutual respect or respect), Sipakainge' (advise or remind each other) and Sipakalebbi (glorify each other). Tudang Sipulung comes from the Bugis language, Tudang means sitting and Sipulung means together or gathering. Tudang Sipulung contains the meaning of humility to want to sit together to solve a problem together so that harmony and togetherness full of love and peace can be built.
Relevansi Ajaran Teodisi dan Kesejahteraan Spiritual pada Penyintas Trauma Bencana Alam di Palu
Nole, Otniel Aurelius;
Ranimpi, Yulius Yusak;
Tampake, Tony
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 1 (2024): JIREH: Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v6i1.212
The people of Palu experienced natural disasters on September 28, 2018. The event caused suffering in the form of trauma. Society attributes the struggle to the existence of God, as in theodicy. Nevertheless, suffering in human life has spiritual meanings. The purpose of this research was to analyze the relevance of theodicy and spiritual well-being for survivors of natural disaster trauma in Palu. This research used a qualitative method with a phenomenological type. Researchers collected data using interview techniques with five participants who were Palu residents who had experienced natural disasters on 28 September 2018, then analyzed the data through an interpretative phenomenological analysis. Researchers found three categories as themes: natural disasters events, relationships with God, and relationships with others. Researchers showed that all participants realized that natural disasters are devastating phenomena and, in fact, cause trauma. Despite the suffering, they recognized God's goodness, which restores and manifests in empathy and solidarity. Relationships with the divine and others influenced their spiritual well-being.
Antusiasme Beribadah Pasca Pandemi COVID-19 di Gereja-Gereja Isa Almasih Wilayah Ungaran
Benyamin, Nefry Christoffel;
Tampake, Tony;
Adi, Suwarto
Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Vol 8 No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Abdiel
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37368/ja.v8i1.718
Pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa waktu yang lalu tentu menimbulkan dampak pada banyak aspek. Bahkan sampai saat ini, dampak dari Pandemi Covid-19 masih dapat ditemukan dan dirasakan. Dalam kegiatan bergereja dan berjemaat tentu ada dampak-dampak yang juga ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19 tersebut, dan itu menyangkut juga pada bagaimana anggota jemaat beribadah. Berdasarkan hal tersebut maka tulisan ini bermaksud untuk mengetahui dampak Pandemi Covid-19 terhadap antusiasme anggota jemaat dalam ibadah Minggu di gereja pasca pandemi. Mengapa hal ini menjadi penting? Oleh karena dalam ibadah-ibadah di gereja, antusiasme anggota jemaat berperan besar dalam terlaksana dan optimalnya tujuan beribadah yang riil dan otentik. Untuk mencapai tujuan atau maksud penulisan ini maka metode yang dipakai adalah pengumpulan data secara kualitatif dengan melakukan observasi dan beberapa wawancara terkait dengan hal itu. Data itu kemudian dianalisis menggunakan teori perubahan sosial untuk kemudian melihat seperti apa dampak Pandemi Covid-19 terhadap antusiasme anggota jemaat dalam ibadah Minggu di gereja pasca pandemi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa antusiasme beribadah anggota jemaat dalam beribadah di gereja pasca pandemi Covid-19 meningkat kembali yang mana hal ini dapat dilihat sebagai perubahan sosial dengan pola seperti bandul (kembali ke posisi awalnya setelah berayun).
From Spatial Domination to Virtual Space Solidarity Tactics: Perjuangan Bersama Untuk Mengatasi Ketidakadilan Terhadap Penghayat Agama Lokal Minahasa
Pinatik, Hun Johanis Alfrits;
Izak Y. M. Lattu;
Tony Tampake
Jurnal Studi Agama Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.19109/jsa.v8i1.22108
Many studies have explored indigenous religious believers struggle against world religions domination. However, studies on the employment of virtual space to heighten indigenous believers' tactical solidarity from the Global South remain understudy. This paper explores indigenous religious followers' struggles through access to virtual space as a tactic of everyday solidarity against world religions spatial domination and the state politics of religion in North Sulawesi, Indonesia. It focuses on the efforts of Minahasa indigenous religious believers to advocate for their existence through virtual media collectively. Indigenous religious believers have experienced various forms of spatial domination, such as destroying ancestral sites and ritual places that they consider sacred to realize their beliefs. The single truth perspective has produced the domination of the world religions monotheistic paradigm and the state politics of religion. The single truth has resulted in hate speech, stigmatization, and physical destruction of indigenous religious sacred sites. Through click activism, indigenous religious believers employ virtual media to advocate Minahasa indigenous religions/beliefs. The concept of tactical media is used in this study to analyze how the tactics of indigenous religious believers collectively produce a discourse of resistance critique and discourse on the importance of their places of belief to the public. This study uses qualitative research: observation, in-depth interviews, and literature review to argue that indigenous religious believers have tactically used virtual media as a critical discourse of resistance to the spatial domination constructed by world religious relations and state religious policies.
Tinjauan Keadilan terhadap Advokasi Masyarakat dalam program Desa Inklusif Disabilitas di Bah Sulung, Kabupaten Simalungun
Sihombing, Helpin;
Tampake, Tony;
Ludji, Irene
JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/inklusi.v6n1.p1-17
People with disabilities still do not receive optimal services overall. People with disabilities need to receive space for justice and prosperity from their families and society. This research aims to analyze and explore the justice received by people with disabilities in Bah Sulung Village through the disability inclusive village program. The disability inclusive village program is an effort by the church and community by establishing an RBM (Community Based Rehabilitation) Post in Bah Sulung Village. Data analysis was carried out descriptively qualitatively. In collecting data, the author conducted observations and interviews as well as literature studies in Bah Sulung Village to investigate the fulfillment of rights and equality obtained by people with disabilities. The informants consisted of RBM post administrators, RBM cadres, families of people with disabilities and several communities in Bah Sulung Village, Simalungun. The research results show that people with disabilities and their families gain acceptance and equality through the empowerment of RBM posts. The author uses John Rawls's perspective on justice theory as a basis for analyzing justice issues for people with disabilities in fulfilling equality and rights.
Dapatkah Tamar Berbicara? (Kajian Hermeneutik Poskolonial Feminis Terhadap Teks 2 Samuel 13:1-22 dalam Perspektif Pengalaman “Kawin Tangkap” di Sumba)
Lena, Iston Umbu Kura;
Setyawan, Yusak Budi;
Tampake, Tony Robert Christian
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 10, No 1 (2024): KENOSIS: JURNAL TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37196/kenosis.v10i1.1047
Women in a patriarchal culture are always required to be submissive, obedient, and silent. Therefore, when women become victims of forced marriage (kawin tangkap) that lead to sexual violence, their voices are silenced as a form of submission and obedience, as experienced by Tamar in the book of 2 Samuel 13:1-22. The purpose of this study is to describe Tamar’s experience as a victim of “forced marriage” by her own brother, Amnon. The research method used is qualitative with a feminist postcolonial hermeneutic study. This approach brings back the experiences of women who have been ignored or silenced to be heard or voiced again. Using Gayatri Chakravorty Spivak’s theory of subaltern, my main argument is that Tamar’s experience as a victim of forced marriage was silenced because of the interests and purpose of men, namely Amnon and Absalom. The result shows that Tamar was able to speak out about her experience, but her voice was silenced, not only because of the patriarchal culture that was so strong in the community but also because of the political interests in it, namely the power struggle between Amnon and Absalom. The conclusion of this research is that the silencing of women’s voices and experiences, namely Tamar as a victim, is the result of a patriarchal culture.
Dinamika Perubahan Sosial Warga RT 03 RW 046 Samironobaru Yogyakarta Pasca Penutupan dan Pembukaan Secara Terbatas TPA Piyungan
Nugroho, Wisnu Sapto;
Suwarto, Suwarto;
Tampake, Tonny
Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan Volume 11, Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26858/sosialisasi.v1i1.59686
Penelitian ini menemukan bahwa setiap aturan yang dibuat oleh penyelenggara negara akan menimbulkan perubahan di tengah masyarakat. Melalui Surat Pemberitahuan dengan nomor 658/83/8312 Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Piyungan karena kapasitasnya melebihi batas. TPA ini merupakan tempat akhir pengelolaan sampah untuk Kabupaten Bantul, Sleman dan Kota Yogyakarta. Terhadap peristiwa itu, penulis melakukan penelitian perubahan sosial masyarakat di wilayah RT 03 RW 046 Samironobaru Kalurahan Caturtunggal, Kapenewon Depok, Kabupaten Sleman. Perubahan sosial merupakan dialektika yang melibatkan struktur dan agen dalam praktik sosial. Teori yang digunakan untuk melakukan analisis adalah teori praktik sosial dari Pierre Bourdieu dengan rumus generatif (Habitus X Modal) + Arena = Praktik. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa struktur dan agen membentuk kesadaran untuk mengusahakan hidup seminimal mungkin dengan sampah. Struktur menentukan aktor dan lingkungan sosialnya karena terdapat pengetahuan objektif yang mengandung dominasi. Tindakan agen merupakan tindakan individu berdasar nilai-nilai keluarga, agama dan pembiasaan menjalankan nilai-nilai dalam praktik keseharian. Dialektika antara stuktur dan agen menjadi dinamika perubahan sosial dalam masyarakat melakukan tata kelola sampah.
Studi Histori-Feminis Di Zaman Kolonial: Domestifikasi Sebagai Resistensi Perempuan Minahasa
Ridly Acanli Jodi Ponto;
Tony Tampake;
Mariska Lauterboom
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.7.2.353-367
Perempuan Minahasa sejak masa primodial mengenal akan sistem egaliter. Namun, semenjak kolonialisme dengan sistem patriarki masuk dan berkembang mengubah sosio-kultural masyarakat. Pada era kolonial, akibat sistem patriarki menempatkan perempuan pada posisi inferior. Terlihat dalam pendidikan yang diterima kaum perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena mereka dipersiapkan dalam ranah domestik tetapi laki-laki bisa melanjutkan pendidikannya. Oleh karena itu, Maria Walanda Maramis membuka ruang bagi kaum perempuan untuk melanjutkan pendidikan mereka. Walaupun, pendidikan yang diberikan Maria di dalam PIKAT adalah urusan kerumahtanggan tetapi domestikasi tersebut adalah resistesi untuk mendapatkan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis sebagai upaya untuk menemukan fakta-fakta sejarah mengenai domestifikasi perempuan sebagai resistensi di zaman kolonial di Minahasa. Maka, ditemukan sebauah fakta historis tentang kedudukan perempuan dalam ranah domestik yang adalah bentuk resistensi terhadap kaum kolonial dengan sistem patriarki di Minahasa.
Tradisi Pindah Marga (Puru) Sebagai Representasi Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat Sabu
Ricard Edwin Thomas;
Irene Ludji;
Tony Robert Tampake
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/endogami.8.1.29-46
Artikel ini berfokus pada pelaksanaan tradisi pindah marga (puru) yang menjadi representasi kesetaraan gender dalam suku Sabu di Kota Waingapu, Sumba Timur yang ditinjau dari perspektif etika sosial feminis Beverly W. Harrison. Ketidakadilan gender membuat perempuan sering menjadi korban subordinasi, yang salah satunya disebabkan karena sistem budaya patriarki. Namun tidak semua budaya dalam masyarakat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, ada juga tradisi yang menjunjung tinggi martabat seorang perempuan dan masih dipertahankan hingga saat ini yaitu tradisi pindah marga (adat puru). Adat ini masih dipertahankan dan wajib dilakukan oleh suku Sabu karena mengandung nilai-nilai luhur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami bagaimana sudut pandang suku Sabu tentang tradisi pindah marga (puru) yang berhubungan dengan upaya dalam menjaga kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap perempuan Sabu dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi yang dapat dialaminya. Kesimpulan penelitian ini ialah tradisi Puru menjadi representasi dari keadilan dan kesetaraan gender, serta menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan perempuan Sabu dalam pembentukan diri yang bertanggung jawab sehingga memperoleh kesejahteraan sosial.