Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Sosioteologis Mengenai Penggunaan Media Sosial Dan Implementasi Misi Gereja Otniel Aurelius Nole; Tony Tampake
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.287

Abstract

Misi gereja di masa kontemporer ini ialah mendampingi umat dalam menggunakan media sosial demi mencegah problem sosial dalam dunia virtual. Untuk menghindari penyalahgunaan media sosial, gereja berperan penting dalam menerapkan misi yang memuat pendampingan sosioteologis. Tujuan penelitian ini ialah menegaskan pendampingan sosioteologis dalam menggunakan media sosial sebagai implementasi misi gereja. Metode penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan reviu literatur dan peneliti mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan misi gereja dengan melakukan pendampingan sosioteologis sangat relevan bagi umat, secara khusus bagi mereka yang memiliki media sosial. Pada prinsipnya, gereja menaruh perhatian yang besar untuk umat agar tetap merealisasikan kasih lewat media sosial.
Marhata sebagai Rekonsiliasi Konflik Tanah Warisan Antar Marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba Winda Safrina Sinaga; Tony Tampake; Agus Supratikno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.35819

Abstract

Sistem pembagian tanah warisan bagi Masyarakat Batak Toba sering sekali menjadi konflik, seperti konflik antar marga Sirait dan Sinaga yang ada di Desa Hatinggian. Konflik muncul karena para pemilik tanah telah meninggal, anak cucu pergi merantau, dan tanah tidak memiliki sertifikat karena diwariskan secara turun-temurun. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan tradisi marhata sebagai rekonsiliasi konflik dalam penyelesaian konflik tanah warisan antar marga di Desa Hatinggian Kabupaten Toba. Penelitian ini menggunakan teori konflik oleh Lewis A. Coser, teori tindakan sosial oleh Max Weber yang berfokus pada teori tindakan rasionalitas instrumental dan teori tindakan tradisional untuk melihat langkah-langkah penyelesaian konflik tanah warisan antar marga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi dan studi dokumen. Informan dalam penelitian ini adalah marga yang berkonflik dan para tokoh adat. Analisis data dengan melakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa tradisi marhata menjadi dialog terbuka dan partisipatif dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, dan  rasa hormat. Setiap pihak menyampaikan pandangan dan keluhannya, sehingga solusi yang adil dan diterima oleh semua pihak tercapai dan tercipta perdamaian sehingga tradisi ini perlu dipertahankan.   The inheritance land distribution system for the Toba Batak community often becomes a conflict, such as the conflict between the Sirait and Sinaga clans in Hatinggian Village. The conflict arises because the landowners have died, their children and grandchildren have gone abroad, and the land does not have a certificate because it is inherited from generation to generation. This study aims to describe the marhata tradition as a conflict reconciliation in resolving inheritance land conflicts between clans in Hatinggian Village, Toba Regency. This study uses conflict theory by Lewis A. Coser, social action theory by Max Weber which focuses on the theory of instrumental rationality action and traditional action theory to see the steps to resolve inheritance land conflicts between clans. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data collection was carried out through interviews and observations and document studies. The informants in this study were the conflicting clans and traditional leaders. Data analysis by conducting data reduction, data presentation and drawing conclusions/verification. The results of this study indicate that the marhata tradition is an open and participatory dialogue by upholding the values ​​of honesty, openness, and respect. Each party conveys their views and complaints, so that a fair and acceptable solution is achieved by all parties and peace is created so that this tradition needs to be maintained.
Bangkit dari Kekelaman: Gambaran Psychological Well Being Korban Terorisme Poso Vanda Leony Agnesila Pombadju; Sri Aryanti Kristianingsih; Tony Tampake
Wacana Psikokultural Vol 2 No 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v2i1.13998

Abstract

This study is based on the tragic event of a group of terrorists that occurred on May 11, 2021 in Kalimago Village, Poso Regency, Central Sulawesi. The terror killed four civilians who were working in their gardens. Losing family members due to tragic events can cause various emotional reactions, which makes their lives difficult. In this study, the context of the victims referred to is families whose members died as a result of acts of terrorism, and are called secondary victims. The victims' daily lives are disrupted by feelings of grief, helplessness, despair, revenge, and very severe trauma. It is very important for victims to have a good mental state at this time. Therefore, psychological well-being is very important for victims to have. Using a qualitative research method, case study approach to P1 and P2, this study aims to explore the description of the psychological well-being of Poso terrorism victims. The results of the study showed that the victims did not have good psychological well-being because the trauma had not recovered and prevented the victims from functioning fully. In addition, the researcher found that the social context that was expected to help victims recover from trauma was not optimal.
SOLIDARITAS PERLAWANAN KOMUNITAS PUNK TARING BABI JAKARTA SELATAN DALAM MELAWAN STIGMATISASI KULTUR DOMINAN Geraldi Dwi Rizandi Kongkoli; Izak Y.M. Lattu; Tony Tampake
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.582

Abstract

Tujuan artikel ini menganalisis solidaritas perlawanan komunitas Punk (Public United Not Kingdom) Taring Babi Jakarta Selatan atas ketidakadilan kultur dominan seperti agamaisasi dan ideologi kapitalisme. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analitis-deskriptif untuk menganalisis secara mendalam gerakan komunitas Punk. Komunitas Punk selama ini mengalami stigma negatif oleh masyarakat agamis karena dianggap menyimpang dari masyarakat pada umumnya. Kekerasan terhadap komunitas Punk Taring Babi Jakarta Selatan telah mengakibatkan komunitas termarjinalisasi. Kultur dominan misalnya, budaya agamaisasi, ideologi kapitalisme dan kekerasan atas nama negara. Hasil temuan pertama menjelaskan tentang komunitas Punk telah mengalami marjinalisasi oleh kultur dominan ‘agama dunia’ dan ideologi kapiatalisme. Kedua, solidaritas komunitas Punk Taring Babi memproduksi ruang kebebasan melalui simbol-simbol komunitas seperti taring babi, industri pakaian dan panggung konser. Tahap akhir merupakan kesimpulan yang mengintegrasikan hasil temuan dan analisis.
PERAN BARUGA SEBAGAI RUANG PUBLIK SOSIAL DAN POLITIK DALAM MASYARAKAT SUKU PAMONA: STUDI KASUS DI DESA PANDIRI KECAMATAN LAGE, KABUPATEN POSO Karatu, Chrysti Yessika; Tampake, Tony; Lattu, Izak Y.M
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 4 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i4.73401

Abstract

This research aims to analyze the function of baruga as a social public sphere for traditional communities in Poso. Baruga is used as a sphere for social meetings and also a sphere for settlements by the community in the Poso, the implementation of which is led by the traditional council. Social space is understood as a sphere where people gather and carry out social interactions. This research also looks at the function of baruga as a space for the reconciliation of conflicts that occur between communities in a certain area. The community uses baruga as a gathering place and also holds meetings related to the community's social life. This research used qualitative case study approach. Primary data was collected through interviews with several traditional leaders, village leaders, and local communities, other data was obtained through observations and written documents owned by village officials and traditional councils. The findings from this research are that the baruga, as a traditional house for the local community of the Pamona tribe, is useful as a public sphere for the village of the Pandiri community in Poso Regency. In baruga, the community often holds meetings related to the interests of the village community. Apart from that, Baruga also functions as a social and political space for the Pandiri village community. Keywords: Baruga, Public Sphere, Social Space, Poso Community Abstrak          Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi baruga sebagai ruang public sosial masyarakat tradisional di kabupaten Poso. Baruga digunakan sebagai ruang untuk pertemuan-pertemuan sosial dan juga ruang untuk penyelesaian oleh masyarakat yang ada di kabupaten Poso, yang mana pelaksanaannya dipimpin oleh dewan adat. Ruang sosial dipahami sebagai ruang di mana masyarakat berkumpul dan melakukan interaksi sosial. Penelitian ini juga melihat fungsi baruga sebagai ruang rekonsiliasi konflik yang terjadi antarmasyarakat di suatu wilayah tertentu. Masyarakat menggunakan baruga sebagai tempat untuk berkumpul dan juga melakukan pertemuan-pertemuan berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara beberapa tokoh adat, pimpinan desa dan juga masyarakat setempat, data lainnya didapatkan melalui hasil observasi dan dokument-dokumen tertulis yang dimiliki oleh perangkat desa maupun dewan adat. Temuan dari penelitian ini adalah baruga sebagai rumah adat masyarakat lokal suku Pamona berguna sebagai ruang publik masyarakat desa Pandiri di Kecamatan Lage Kabupaten Poso, di baruga ini masyarakat kerap kali melakukan pertemuan berkaitan dengan kepentingan masyarakat desa. Selain itu, baruga juga berfungsi sebagai ruang sosial dan politik masyarakat desa Pandiri.  Kata kunci: Baruga, Ruang Publik, Ruang Sosial, Masyarakat Poso
SAKRALITAS RUMAH ADAT BANUA SUKU TORAJA MAMASA DALAM MEMBENTUK KONEKTIVITAS DAN KOLEKTIVITAS Nole, Otniel Aurelius; Tampake, Tony
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v13i3.80790

Abstract

Traditional houses are attached to life because they are the space and place where indigenous people live. Generally, traditional houses in the Toraja tribe are known as tongkonan. Meanwhile, there is also another traditional house from the Toraja Mamasa tribe (West Toraja) as a sub-tribe of Toraja that has a special traditional house called banua. For the Toraja Mamasa people, the meaning of a traditional house is more than that. In fact, banua is not just a place to live, but a space that contains religious values within it. Indigenous people have beliefs about banua as a sacred traditional house. The purpose of this research is to argue the sacredness of the banua traditional house of the Toraja Mamasa tribe in shaping the connectivity and collectivity of indigenous peoples with local beliefs. This research used a qualitative approach with a realist ethnography research type. Data collection was conducted using interview techniques and documents, including the use of books and scientific articles. The results showed that the sacredness of the banua traditional house and the kitchen space (lombon) in particular became the basis for the formation of their connectivity and collectivity as indigenous peoples with local beliefs. The most sacred part is the kitchen. The sacredness of the banua socio-theologically functions to construct their communal identity and religiosity related to connectivity and collectivity.