Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Bioaktivitas Ekstrak Batang Tumbuhan Benalu Mangrove (Cassytha filiformis) : II. Uji Anti Bakteri Subagiyo Subagiyo; Wilis A Setyati; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.97 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.1.35-40

Abstract

Benalu adalah tumbuhan epifit parasit yang hidup menempel dan menghisap makanan dari tumbuhaninangnya. Sehingga benalu yang hidup pada tumbuhan mangrove mempunyai kemampuan khusus untuk beradaptasi terhadap senyawa-senyawa yang dibentuk oleh tumbuhan mangrove. Kondisi ini memungkinkan untuk ditemukannya jenis-jenis senyawa baru yang mempunyai potensi sebagai senyawa yang mempunyai nilai di bidang farmakologi dan agrokimia, diantaranya adalah anti bakteri Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian secara kualitatif dan kuantitaif bioaktivitas antibakteri dari fraksi-fraksi ekstrak batang C. filiformis. Penelitian dilakukan dengan metode experimental. ekstraksi dan pemisahan menggunakan pelarutkloroform-metanol (20:1). Fraksi-fraksi yang diperleh diuji bioaktivitas antibaktri menggunakan metodepaper disk. Ada 5 variasi konsentrasi fraksi yang diuji yaitu 50 ug/disk, 10 ug/disk, 5 ug/disk, 1 ug/diskdan 0,5 ug/disk. Berdasarkan hasil uji bioaktivitas antibakteri dari ekstrak batang benalu mangrove (C.filiformis) dapat disimpulkan bahwa ekstrak C. filiformis mempunyai potensi sebagai sumber metabolit antibakteri. Dalam penelitian ini semua fraksi tidak menunjukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri V. parahaemoliticus dan S. aereus. Aktivitas antibakteri ditunjukan oleh semua fraksi terhadap bakteri uji V. harveyi dan V. anguilarum. Sedangkan aktivitas anti bakteri terhadap E. coli hanya ditunjukan oleh fraksi 4 dan fraksi 5.Kata kunci: Antibakteri, ekstrak C filiformis, benalu mangroveMistletoe as arboreal parasitic plant, hold and absorb their nutrient from host. During nutrient absorption,all of metabolites (include secondary metabolites) which host producing will be absorbed too. For thatmistletoe must have capability to developing strategies to adapt. The one of adaptation strategies is creating bioactive compounds, and predicted that between bioactive compounds have antibacterialactivity. The aim of this research were to antibacterial test of C filiformis stem extract. C filiformis wasextracted in chloroform-methanol (20:1). The fractions were examined to antibacterial activity using paper disc method. There are 5 variation concentration, which tested, 50 ug/disc, 10 ug/disc, 5 ug/disc, 1 ug/disc and 0,5 ug/disc. The result showed that all of fractions of stem extract of C. filiformis were able to inhibit the growth of both V. harveyi dan V. anguilarum, but not toward V. parahaemoliticus and S. aereu,  while fraction 4 and fraction 5 were able to hold the growth of E. coli.Key words : Antibacteria, stem extracts of C filiformis, mangrove mistletoe
Pengaruh Penggunaan Pakan Alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum dengan Dosis yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Kerang Totok (Effect of Using Natural Food Tetraselmis chuii and Skeletonema costatum with Different Doses on the Growth of Totok ..) Endang Supriyantini; Dwi Haryo Ismunarti; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.472 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.81-86

Abstract

Pengetahuan tentang asupan nutrisi yang sesuai untuk kerang totok Polimesoda erosa sangat penting selain untuk meningkatkan kegunaan diet mikroalga juga untuk mengetahui dosis pakan alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum yang paling efisien terhadap pertumbuhan kerang totok. Biota yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang totok ukuran 3-4 cm yang diperoleh dari perairan sekitar P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 30x30x30 cm dengan volume media 2 liter. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap, 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu campuran T. chuii 36 x 104 sel/ml dan S. costatum 9 x 104 sel/ml (pakan T1); T. chuii 27 x104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml (pakan T2) dan T. chuii 18 x 104sel/ml dan S. costatum 27 x 104 sel/ml (pakan T3). Pakan diberikan sekali sehari, pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan. Pengukuran beratyang dilakukan seminggu sekali dan dianalisis Specific Growth Rate (SGR) dan Food Convertion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran pakan T. chuii dan S. costatum memberikan pengaruhpertambahan berat yang berbeda nyata (p< 0,05), tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap SGR dan FCR kerang Totok (p > 0,05). Pakan campuran T. chuii 27 x 104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml meningkatkan nilai SGR namun mempunyai nilai FC yang besar.Kata kunci: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatumKnowledge on ideal feeding dose for kerang totok P. erosa is needed to improved the use of microalgae diet and to investigate the most efficient natural feeding dose of T. chuii and S. costatum on growth of kerang totok (P. erosa). The organism used on this study was Kerang Totok size 3-4 cm which harvested from P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Experiment was conducted in 30cm x 30cm x 30 cm aquarium filled with 2 liter of water each. A fully randomized design of laboratorium experimental method was applied for the study with three treatment i.e; 36 x 104 cell/ml T. chuii : 9 x 104 cell/ml S. costatum (T1); 27 x 104 cell/ml T. chuii : 18 x 104 cell/ml S. costatum (T2) and 18 x 104cell/ml T. chuii : 27 x 104 cell/ml S. costatum (T3), single feed dose per day at 08.00 WIB for 3 month period. Three replications were set up for each treatment. Parameter measured during the study were weight (weekly measurement), Specific Growth Rate (SGR) and Food Convertion Ratio (FCR). The result showed that feeding dose of T. chuii and S. costatum significantly affect the mean weekly weight gain (p< 0,05) but not to mean of SGR or FCR (p > 0,05). Mixture of 27 x 104 sel/ml T. chuii : 18 x 104 sel/ml S. costatum) tend toincrease the SGR values but give bigger FCR during the study period.Key words: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum
Fluktuasi Kandungan Proksimat Kerang Bulu (Anadara inflata Reeve) di Perairan Pantai Semarang Anthony D Arnanda; Ambariyanto Ambariyanto; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.525 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.78-84

Abstract

Kerang bulu, Anadara inflata Reeve, merupakan kerang yang paling banyak ditangkap di perairan Semarang. Kerang ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat, namun belum banyak informasi mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam kerang ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fluktuasi kandungan proksimat dari kerang Bulu yang diambil di perairan Semarang. Kandungan proksimat yang diukur adalah protein, lemak, karbohidrat, kadar air, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein berkisar antara 6,79 % - 11 92 %; kadar lemak berkisar antara 4,2 % - 6,16 %, dan kadar karbohidrat berkisar antara 2,3 % - 4,35 %. Sedangkan kadar air terendah terdapat dalam kerang bulu berukuran 20,0 – 30,0 mm sebesar 77,55 % dan kadar air terbanyak terdapat dalam kerang berukuran 50,10 – 60,0 mm sebesar 82,64 %; dan kadar abu berkisar antara 1,27 % - 2,08 %. Pada penelitian ini tidak terjadi fluktuasi kandungan proksimat. Perbedaan kandungan proksimat dalam kerang bulu pada ukuran maupun waktu sampling yang berbeda diduga karenabeberapa faktor, diantaranya adalah umur, ukuran tubuh, siklus reproduksi, serta faktor lingkungan.Kata kunci: kerang Bulu (Anadara inflata Reeve), fluktuasi, proksimatKerang bulu, Anadara inflata Reeve, is known as the most caught species of cockle around Semarang waters. This bivalve is also known as the largest number of cockle being consumed, however, there is only limited information available on its nutrition content. The aim of this study is to investigate proximate content of Kerang Bulu (A. inflata) caught in Semarang waters. Proximate content being analyzed were protein, lipid, carbohydrate, ash and water content. The result showed that the protein content were ranged between 6,79 % - 11,92 %; lipid content were ranged between 4,2 % - 6,16 % and carbohydrate content were between 2,3 % - 4,35 %. While the minimum water content in 20,0 – 30,0 mm is 77,55 %, and the maximum watercontent in 50,10 – 60,0 mm is 82,64 %; and the ash content were between 1,27 % - 2,08 %. The differences on the proximate content within different size of the cockles and differences of time sampling probably dueto differences of age, body size, reproduction cycle, and environmental factors.Key words : Kerang bulu (Anadara inflata Reeve), fluctuation, proximate content
Variasi Konsentrasi Kitosan Dan Lama Pengadukan Terhadap Efektivitas Penyerapan Amoniak Nadya Oktavia; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.31312

Abstract

Tumpahan minyak mentah di laut akan menimbulkan pencemaran karena memiliki kadar pencemar, salah satunya adalah amoniak. Kitosan merupakan biopolimer alami yang memiliki gugus aktif amina dan hidroksil yang dapat dibentuk sebagai adsorben amonia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kitosan dalam menyerap amoniak dengan air tercemar minyak mentah di sungai Karawang. Cairan kitosan yang digunakan terdiri dari (kontrol, 0%); (A) 0,3%; (B) 0,6%; (C) 0,9%; (D) 1,2%. Variasi waktu pengadukan yang digunakan adalah 30 menit dan 60 menit dengan kecepatan pengadukan 200 rpm dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan variasi konsentrasi kitosan tersebut dapat meningkatkan daya serap kadar amoniak. Penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 30 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,709 mg/L dengan daya serap 92, 293 %, dan penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 60 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,735 mg/L dengan daya serap 92,566%. Konsentrasi kitosan dan variasi waktu pengadukan yang digunakan dalam penelitian ini berpengaruh nyata terhadap kapasitas dan daya serap terhadap amoniak.  The spills of crude oil on the ocean will cause pollution because it has pollutant levels, one of them is ammonia. Chitosan is a natural biopolymer which has got active group of amine and hydroxyl , they  can be formed as ammonia adsorbents. The purpose of this research is to find out the effectiveness of chitosan in absorbing the ammonia with crude oil contamined water in Karawang river. The liquid  of chitosan which is used consists of (Control, 0%); (A) 0.3%; (B) 0.6%; (C) 0.9%; (D) 1.2%. The variation of Stirring time that is used was 30 minutes and 60 minutes with a stirring speed of 200 rpm with 3 repetitions. The results showed that the treatment with those variation in the concentration of chitosan can increase the absorption capacity of ammonia levels. The highest absorption at the stirring time of 30 minutes was found at the concentration of 0,3 %,which was 8,709 mg/L with an absorption capacity of 92,293 %, while the highest absorption  at the stirring time of 60 minutes was found at the concentration of 0.3% chitosan which was 8,735 mg/L with 92,566 % absorption. The concentration of chitosan and the variation of stirring time used in this study significantly affected the capacity and absorption of ammonia.
Analisis Kandungan Agar, Pigmen dan Proksimat Rumput Laut Gracilaria sp. pada Reservoir dan Biofilter Tambak Udang Litopenaeus vannamei Ervia Yudiati; Ali Ridlo; Annisa Afifah Nugroho; Sri Sedjati; Lilik Maslukah
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.29453

Abstract

Gracllaria sp. merupakan rumput laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena menghasilkan agar. Agar banyak dimanfaatkan dalam bidang industri maupun pangan. Kualitas Gracilaria sp. ditentukan oleh kadar agar, pigmen serta  proksimatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh parameter kualitas media tumbuh Gracilaria sp. terhadap biosintesis agar, klorofil a, karoten dan kadar proksimat (protein, karbohidrat, lemak, abu, dan air). Lokasi pengambilan sampel di reservoir dan biofilter tambak udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Kondisi lingkungan perairan yang diukur adalah kandungan nitrat dan fosfat, suhu air, salinitas, DO (oksigen terlarut), serta pH (Derajat keasaman). Ekstraksi agar dilakukan dengan metode alkali. Karakterisasi agar menggunakan analisis Fourier Transform Infra Red. Hasil penelitian menunjukkan kandungan agar (31,4 ± 0,42%) pada reservoir lebih baik dibandingkan biofilter. Begitu pula dengan konsentrasi klorofil a (19,61 ± 0,04 mg/g), karotenoid (7,42 ± 0,21 µmol/g) serta kadar protein (15,38 ± 0,27%). Kadar lemak, karbohidrat, air dan abu pada kedua lokasi tidak berbeda nyata. Hasil karakterisasi agar menujukkan keberadaan gugus galaktosa 3,6-anhydro-L-galaktosa. Gracilaria sp. is well known as to has a high economically value, due to the application of the agar content that is used in various industries especially in food industry. The quality of Gracilaria sp. depends on agar and pigment content as well as proximate analysis. This study aimed to investigate the effect of water quality parameter on Gracilaria sp habitats to agar, chlorophyl a, carotene and proximate analysis (protein, carbohydrate, total lipid, ash, water content). Samples were collected from reservoir and biofilter from Litopenaeus vannamei’s waste pond. Water quality parameter measured were nitrate and phosphate, water temperature, salinity, dissolved oxygen (DO) and pH. Agar extraction was done by alkali methods. Agar and its chemical structure were characterized by FT-IR analysis. Results showed that agar content (31.4 ± 0.42%) on reservoir was better than biofilter. Higher results from reservoir samples were also found in chlorophyl a (19.61 ± 0.04 mg/g), carotenoids (7.42 ± 0.21 µmol/g) and protein level (15.38 ± 0.27 %). On the other hand, total lipid, carbohydrate, water and ash content were similar. Based on FT-IR analysis shows that the galactose 3,6-anhydro-L-galactose was present.
Pertumbuhan dan Kadar Pigmen Dunaliella salina (Chlorophyta) pada Media dengan Penambahan Konsentrasi Tembaga (Cu) yang Berbeda Faiz Naida Salimah; Gunawan Widi Santosa; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.35906

Abstract

Dunaliella salina merupakan mikroalga hijau yang memiliki peran penting dalam rantai makanan di lingkungan perairan dan kandungan pigmennya telah banyak dimanfaatkan. Pertumbuhan dan kandungan biomolekul  D. salina dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidupnya, salah satunya mikronutrien tembaga (Cu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Cu dalam media terhadap pertumbuhan dan kandungan pigmen D. salina. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 1 perlakuan dengan 4 taraf perlakuan (3 kali ulangan). Perlakuan yang diberikan adalah penambahan Cu dengan konsentrasi 1, 3, dan 5 ppm kedalam media kultur D. salina dan tanpa penambahan atau kontrol. Analisis kadar pigmen klorofil-a,b dan total karotenoid dilakukan menggunakan metode spektroskopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi Cu yang berbeda pada media memberikan pengaruh nyata (p≤0,05) terhadap laju pertumbuhan mikroalga dan kadar pigmen D. salina. Laju pertumbuhan tetinggi dicapai pada perlakuan B (penambahan 1 ppm) sebesar 0,44±0,03 sel/hari dan terendah pada perlakuan D (penambahan 5 ppm) sebesar 0,26±0,04 sel/hari. Kadar pigmen tertinggi diperoleh pada perlakuan A (kontrol/tanpa penambahan) dengan klorofil-a sebesar 18,04±1,80 μg/mL, klorofil-b sebesar 9,03±0,87 μg/mL, serta total karotenoid 5,66±0,80 μg/mL dan terendah pada perlakuan D (penambahan 5 ppm) dengan klorofil-a sebesar 7,56±1,30 μg/mL, klorofil-b 3,91±0,90 μg/mL serta total karotenoid 2,12±0,37 μg/mL. Semakin tinggi konsentrasi Cu yang ditambahkan maka laju pertumbuhan dan kadar pigmen D. salina semakin menurun. Efek toksik Cu terhadap laju pertumbuhan dan kadar pigmen secara signifikan mulai terjadi dari penambahan 3 ppm Cu ke dalam media.  Dunaliella salina is a green microalga that has an important role in the food chain in aquatic environments and its pigment content has been widely utilized. The growth and content of biomolecules D. salina are influenced by environmental conditions, one of which is the micronutrient copper (Cu). This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD) using 1 treatment with 4 levels of treatment (3 replications). The treatment given was the addition of Cu with a concentration of 1, 3, and 5 ppm into the D. salina culture media and without addition or control. Analysis of the levels of chlorophyll-a, b, and total carotenoid pigments was carried out using a spectroscopic method. The results showed that the addition of different Cu concentrations in the media had a significant effect (p≤0,05) on the growth rate of microalgae and the pigment levels of D. salina. The highest growth rate was achieved in treatment B (addition of 1 ppm) of 0,44±0,03 cell/day and the lowest was in treatment D (addition of 5 ppm) of 0,26 ± 0,04 cell/day. The highest pigment content was obtained in treatment A (control) with chlorophyll-a of 18,04±1,80 μg/mL, chlorophyll-b of 9,03±0,87 μg/mL, and total carotenoids 5,66±0,80 μg/mL and the lowest in treatment D (addition of 5 ppm) with chlorophyll-a of 7,56±1,30 μg/mL, chlorophyll-b 3,91±0,90 μg/mL and total carotenoids 2,12±0,37 μg/mL. The higher the Cu concentration was added, the lower the growth rate and pigment levels of D. salina. The toxic effect of Cu on the growth rate and pigment levels was significant from the addition of 3 ppm Cu into the media.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Mangrove Rhizopora mucronata Ali Ridlo; Rini Pramesti; Koesoemadji Koesoemadji; Endang Supriyantini; Nirwani Soenardjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.292 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16555

Abstract

Rhizopora mucronata merupakan salah satu jenis mangrove yang berpotensi  sebagai sumber antioksidan alami. Daun tanaman ini mengandung senyawa metabolit sekunder seperti tanin, fenolat, klorofil, karotenoid dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak daun R. mucronata. Sampel diambil dari kawasan mangrove Tugurejo, Semarang dan diekstraksi  secara bertingkat berturut-turut dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan metanol. Aktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai Inhibitory Concentration (IC50)pada panjang gelombang 516,5 nm. Kadar senyawa fenolat total ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 725 nm dengan metode Folin-Ciocalteu, kadar klorofil a dan b ditentukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 663 nm dan 645 nm dan kadar karotenoid diukur pada 480 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol memiliki nilai IC50terkecil (113,41  ppm), diikuti ekstrak n-heksana 151,13 ppm dan ekstrak etil asetat 184,78 ppm. Kandungan total fenolat tertinggi terdapat pada ekstrak metanol yaitu 21,06 mg GAE/g sampel, ekstrak n-heksana 13,27 mg GAE/g sampel dan ekstrak etil asetat 2,08 mg GAE/g sampel. Kandungan klorofil a tertinggi terdapat pada ekstrak metanol yaitu 2,304  mg/g, diikuti ekstrak n-heksana 0,705 mg/g dan ekstrak etil asetat 0,64 mg/g. Kandungan klorofil b tertinggi dicapai ekstrak metanol yaitu 0,97 mg/g, ekstrak n-heksana 0,50 mgg dan ekstrak etil asetat 0,13 mg/g. Kandungan karotenoid tertinggi dicapai pada ekstrak metanol yaitu 6,49 mg GAE/g, diikuti ekstrak etil asetat (0.54 mg GAE/g) dan ekstrak n-heksana (1,37 mg GAE/g). Ekstrak metanol memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dan termasuk dalam antioksidan kategori sedang, sedangkan ekstrak etil asetat dan  n-heksana termasuk dalam  antioksidan kategori lemah.   Rhizopora mucronata is one type of mangrove that has the potential as a source of natural antioxidants. The leaves of this plant contain secondary metabolite compounds such as tannins, phenolics, chlorophyll, carotenoids and alkaloids. This study aims to determine the antioxidant activity of R. mucronata leaf extract. Samples were taken from Tugurejo mangrove area, Semarang and extracted successively with n-hexane, ethyl acetate and methanol solvent. Antioxidant activity was measured by DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) method and its value was determined based on Inhibitory Concentration (IC50) value at 516,5 nm wavelength. Total phenolic compound concentration was determined spectrophotometrically at 725 nm wavelength with Folin-Ciocalteu method. The levels of chlorophyll a and b was determined by spectrofotometry method at 663 nm and 645 nm wavelength and carotenoid levels were measured at 480 nm. The results showed that methanol extract had the smallest IC50 value (113,41 ppm), followed by n-hexane extract 151,13 ppm and ethyl acetate extract 184,78 ppm. The highest total phenolic content was found in methanol extract, 21.06 mg GAE / g sample, n-hexane extract 13,27 mg GAE / g sample and ethyl acetate extract 2.08 mg GAE / g sample. The highest content of chlorophyll a contained in methanol extract is 2,304 mg / g, followed by n-hexane extract 0,705 mg / g and ethyl acetate extract 0,64 mg / g. The highest content of chlorophyll b was methanol extract of 0.97 mg / g, n-hexane extract 0,50 mgg and ethyl acetate extract 0,13 mg / g. The highest carotenoid content was achieved in the methanol extract of 6.49 mg GAE / g, followed by ethyl acetate extract (0.54 mg GAE / g) and n-hexane extract (1.37 mg GAE / g). Methanol extract has the highest antioxidant activity and is included in medium category antioxidants, while ethyl acetate and n-hexane extracts are included in weak category antioxidants. 
Kelimpahan Mikroplastik di Perairan Zona Pemukiman, Zona Pariwisata dan Zona Perlindungan Kepulauan Karimunjawa, Jepara Cornelia Widya Seprandita; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.30189

Abstract

Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu Kawasan Taman Nasional yang terdapat di Indonesia yang terdiri dari beberapa zonasi yang disesuaikan dengan fungsi dan peruntukkannya yaitu Zona Inti, Zona Perlindungan, Zona Pemanfaatan Bahari, Zona Rehabilitasi, Zona Pemanfaatan Perikanan Nasional, dan Zona Pemukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan mikroplastik di perairan Pulau Cemara Kecil, Pulau Menjangan Kecil, dan Pelabuhan Syahbandar Karimunjawa. Sampel diambil dengan cara menyaring permukaan air laut dengan plankton net sepanjang 100 meter menggunakan perahu. Sampel air laut sebanyak 250mL ditambahkan larutan H2O2 30% 250 mL dan disaring dengan kertas Whatman No. 42. Mikroplastik yang diperoleh dianalisis bentuk, warna, dan jumlah kelimpahannya menggunakan mikroskop elektron dengan perbesaran 100 kali. Jenis mikroplastik ditentukan dengan Uji FT-IR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Pelabuhan Syahbandar memiliki kelimpahan mikroplastik tertinggi yaitu 19,98 partikel/m3, diikuti perairan Pulau Menjangan Kecil yaitu sebesar 17,21 partikel/m3 dan paling kecil di perairan Pulau Cemara Kecil yaitu 14,8 partikel/m3. Bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fragment, fiber, film, dan pellets. Jenis mikroplastik diduga adalah High-density polyethylene (HDPE), Low-density polyethylene (LDPE), Polystyrene (PS), Polypropylene (PP), Polyvinyl chloride (PVC), Nitrile, Nylon, dan Cellulose acetate (CA) atau Rayon.  Karimunjawa Islands is one of the National Park Areas in Indonesia which consists of several zones that are adapted to their functions and purposes, namely the Core Zone, Protection Zone, Maritime Use Zone, Rehabilitation Zone, National Fisheries Utilization Zone, and Resettlement Zone. This study aims to determine the abundance of microplastics in Cemara Kecil Island, Menjangan Kecil Island, and Syahbandar Harbor. Samples were taken by filtering the surface of seawater with a 100-meter long plankton net using a boat. 250 mL of seawater samples added H2O2 30% 250 mL and distributed with Whatman No. paper. 42. Microplastic shapes, colors, and abundance are obtained using an electron microscope with a magnification of 100 times. The microplastic type was determined by FT-IR Test. The results showed the fact that the Port of Syahbandar had the highest microplastic abundance of 19.98 particles / m3, followed by Menjangan Kecil Island at 17.21 particles / m3 and the smallest at Cemara Kecil Island was 14.8 particles / m3. The microplastic forms found are fragments, fibers, films, and pellets. Microplastic types are High-density polyethylene (HDPE), low-density polyethylene (LDPE), Polystyrene (PS), Polypropylene (PP), Polyvinyl chloride (PVC), Nitrile, Nylon, and Cellulose acetate (CA) or Rayon.  
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Rumput Laut Padina sp. Dari Perairan Bandengan Jepara Dengan Metode Transfer Elektron Jelita Rahma Hidayati; Ali Ridlo; Rini Pramesti
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.165 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15742

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat atau mencegah reaksi oksidasi. Antioksidan sintetik kurang aman bagi kesehatan karena bersifat karsinogen, sehingga diperlukan sumber antioksidan alami seperti Padina sp. yang mengandung senyawa bioaktif seperti fenolat, klorofil a, karotenoid dan β-karoten. Padina sp. diambil dari Perairan Bandengan Jepara dan dikeringkan dengan Solar Tunnel Dryer (STD) selama 3 hari. Sampel dimaserasi secara bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan metanol lalu diuapkan dengan rotary evaporator. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) sebagai radikal bebas. Nilai IC50digunakan untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada sampel yang diinkubasi selama 30 menit dan diukur nilai absorbansinya pada panjang gelombang 514 nm. Kandungan total fenolat diuji menggunakan larutan Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai standar yang diukur pada panjang gelombang 725 nm. Kandungan klorofil a diukur pada panjang gelombang 663 nm dan 645 nm sedangkan karotenoid diukur pada panjang gelombang 480 nm. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50  terbaik dicapai ekstrak etil asetat yaitu 137,02 ppm, diikuti ekstrak n-heksana 1234,41 ppm dan ekstrak metanol 1554,45 ppm. Kandungan total fenolat tertinggi dicapai pada ekstrak etil asetat yaitu 12,09 mg GAE/g sampel, diikuti ekstrak n-heksana 9,32 mg GAE/g sampel dan ekstrak metanol 0,22 mg GAE/g sampel. Kandungan klorofil a tertinggi dicapai ekstrak etil asetat yaitu 2,67 mg/g sampel , diikuti ekstrak metanol 0,39 mg/g sampel dan ekstrak n-heksana 0,30 mg /g sampel. sampel). Kandungan karotenoid tertinggi dicapai ekstrak etil asetat yaitu 5,37 µ mol/g sampel, diikuti ekstrak n-heksana 1,85 µ mol/g sampel dan ekstrak metanol 0,53 µ mol/g sampel. Ekstrak etil asetat memiliki aktivitas antioksidan kategori sedang dan ekstrak metanol serta n-heksana memiliki aktivitas antioksidan kategori sangat lemah. Antioxidant are the compounds capable to inhibit and prevent oxidation reaction. Synthetic antioxidant less safe for health because it is a carsinogen, so required source of natural antioxidant as Padina sp. that contains bioactive compounds as fenolat, chlorophyll a, carotenoid and β-caroten. Padina sp was taken from Bandengan water Jepara and dried with Solar Tunnel Dryer (STD) during 3 days. Macerated sample were stratified with n-heksana, ethyl acetate and methanol then evaporated with a rotary evaporator. The antioxidant activity was determined using a DPPH solution (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) as free radicals. IC50 value used to determine the antioxidant activity of sample were incubated for 30 minutes and measured at wavelength 514 nm. Total phenolic content tested by the Folin-Ciocalteu solution with gallic acid as standard and measured at a wavelength of 725 nm, while the chlorophylls a content were measured at a wavelength of 663 nm and 645 nm and carotenoids were measured at a wavelength of 480 nm. The results showed best IC50 is achieved by ethyl acetat extract 137,02 ppm, followed by n-heksana extract 1234,41 ppm and methanol extract 1554,45 ppm.The highest total phenolic content is achieved by ethyl acetat extract 12,09 mg GAE/g sample, followed by n-heksana extract 9,32 mg GAE/g sample and methanol extract 0,22 mg GAE/g sample. The highest chlorophyll a content is achieved by ethyl acetat extract 2,67 mg/g sample, followed by methanol extract 0,39 mg/g sample and n-heksana extract 0,30 mg/g sample. The highest carotenoids content is achieved by ethyl acetat extract 5,37 μmol/g sample, followed by n-heksana extract 1,85 μmol/g sample and  methanol extract 0,53 μmol/g sample. Eethyl acetate extract categorized as medium antioxidant activity and methanol and n-heksana extracts categorized as very weak antioxidant activity.
Mikroplastik pada Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) dan Ikan Selar (Selaroides eptolepis) di TPI Tambak Lorok Semarang dan TPI Tawang Rowosari Kendal Juwita Lesly Senduk; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.37930

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran ≤5 mm. Ukurannya yang kecil menyebabkannya dapat tertransportasikan ke seluruh tempat dan biota termasuk ikan. Ikan pelagis jenis ikan kembung dan ikan selar merupakan salah satu biota laut bernilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan mikroplastik pada ikan kembung dan ikan selar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel ikan kembung diambil di TPI Tambak Lorok Semarang, sedangkan ikan selar diambil dari TPI Tawang Rowosari Kendal. Penelitian ini dilakukan  pada bulan Juni–Desember 2020. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu dimulai dengan pengambilan sampel, pengukuran sampel, pembedahan sampel, pelarutan sampel, pemisahan partikel mikroplastik, penyaringan partikel, dan identifikasi langsung secara visual menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat mikroplastik pada ikan selar dan kembung di TPI Semarang dan Kendal. Mikroplastik paling banyak dengan rerata 25,2 partikel pada insang dan 19,1 partikel pada pencernaan ditemukan pada ikan kembung di TPI Tambak Lorok, pada ikan selar (Selaroides leptolepis) ditemukan rerata 10,1 partikel pada insang dan 8,4 partikel pada pencernaan. Hasil yang didapatkan ditemukan bentuk fiber, fragmen, pelet, dan film, dengan warna yang beragam yaitu hitam, coklat, biru, putih, merah, transparan, dan kuning.  Microplastics are plastic particles with a size of 5 mm. Its small size causes it easy to be transported to all places, including fish. Pelagic fish species of mackerel and selar fish are one of the marine biota that are economically feasible and widely consumed by the public. This study aims to determine the content of microplastics in mackerel and selar fish. The research method used is descriptive qualitative. Mackerel fish samples were taken at TPI Tambak Lorok Semarang, while selar fish were taken from TPI Tawang Rowosari Kendal. This research was conducted in June – December 2020. The stages of the research carried out were starting with sampling, measuring samples, separating samples, separating microplastic particles, evaluating particles, and directly using a microscope. The results showed that there were microplastics in selar and mackerel in TPI Semarang and Kendal. The most microplastics with an average of 25.2 particles in the gills and 19.1 particles in the digestion were found in mackerel at TPI Tambak Lorok, in selar fish (Selaroides leptolepis) an average of 10.1 particles were found in the gills and 8.4 particles in digestion. The results obtained were found in the form of fibers, fragments, pellets, and films, with various colors, namely black, brown, blue, white, red, transparent, and yellow.
Co-Authors A. Budi Susanto A.B. Susanto A.B. Susanto Adi Santosa Agus Sabdono Agus Trianto Ahmad Saddam Habibi Akbar, Muhamad Rahadian Alfin Anggraeni Ali Djunaedi Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Amtoni Caesario Nainggolan Anggi Setiabudi Anisah Harahap Anita Dwi Kartika Annisa Afifah Nugroho Anthony D Arnanda Antonius Budi Susanto Arif Maa’ruf Al Ayyub Arifin, Muhammad Sholeh Arvianto Wibowo Azizah, Pramita Bahry, Muhammad Syaifudien Bambang Yulianto Bara Yanwar Hadi Nugroho, Bara Yanwar Beladini, Septi Chrisna Adhi Suryono Christtenson Purba Christtenson Purba Cornelia Widya Seprandita Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Dewi, Lutfianna Fatma Dinda Ayuniar Zanjabila Dion Ragil Saputra Dion Ragil Saputra Dodik S. Wicaksono Dwi Haryo Ismunarti Edi Wibowo Eka Mulya Eko Sasmaya Eko Sasmaya Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erma Nurmalitasari Ervia Yudiati Faishal Islami Faishal Islami, Faishal Faiz Naida Salimah Ghofari, Miftahul Akhyar Gunawan Widi Santosa Gunawan Widi Santosa Hafida Salma Hakim, M Sabron Sukmanul Harahap, Akbar Ibnu Pratikto Ibnu Wardani Iin Putriyani Irwani Irwani Ita Widowati Ivend Umbu Jawa Ivend Umbu Jawa, Ivend Umbu Jelita Rahma Hidayati Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Juwita Lesly Senduk Khusnul Khotimah Kirana Fatika Brilianti Koesoemadji Koesoemadji Laksono, Ollivia Brylliant Langit, Novita Thea Puspita Lilik Maslukah Linggar Dirgantara Prasetyo Lutfianna Fatma Dewi Mahadika Fanindhita Sany Manggola, Alen Mardani Mardani Masri, Mohammed Sharin Haji McCauley, Erin Miftahul Akhyar Ghofari Mohamad Mirza Mohamad Mirza Muhamad Rahadian Akbar Muhamad Rahadian Akbar Muhammad Abdul Zaky Muhammad S. Bahry Muhammad Zainuddin Nada Kristiani Ginting Nadya Oktavia Nerva Sembiring Nirwani Soenardjo Novita Thea Puspita Langit Nur Arif Kurniawan Nur Indah Febriani Nur Indah Febriani Ocky Karna Radjasa Oetari Kusuma Putri Ollivia Brylliant Laksono Pramastuti, Fransisca Ria Pramita Azizah Pratiwi, Siswantar Putri, Dhiya Aflah Luswanto Rachman, Rhima Rismiyati Raden Ario Raditya Ahmad Rifandi Radityo Haris Ratna Ibrahim Refi Sekarwardhani Retno Hartati Revo Raprika Kurniawan Ribka Anindita Br Perangin-angin Rifa’i, Akhmad Rini Pramesti RINI PRAMESTI Rizky Rifatma Jezzi Rizqi Umi Arifah Roestiawan, Dwi Bagus Salma, Hafida Salsabila, Nada Santoso, Gunawan Widi Savitri, Nadiah Humairoh Mufidah Sedjati, Sri Sedjati Septi Beladini Setia Devi Kurniasih Setia Devi Kurniasih, Setia Devi Setiyorini, Alin Sri Sedjati Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sulistiana, Zalsabila Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Tri Aji Pamungkas Utomo, Wahyu Laurentius Pria Victorina Yulina Santi Wardani, Ibnu Widianingsih Widianingsih Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis A Setyati Wilis Ari Setyati Wilis Ari Setyati Wismayanti, Gita Yohanes Oktaviaris Zaenal Arifin Zahari, Abdul Kadir Mulku Zaky, Muhammad Abdul