Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Model Prediksi Hubungan Polusi Udara Terhadap Kasus Covid-19 Di Kota Tangerang Tahun 2020-2022 Ira Ayu Hastiaty; Haryoto Kusnoputranto; Umar Fahmi Achmadi; Ema Hermawati
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.170-181

Abstract

Latar belakang: Polusi udara dapat meningkatkan  kerentanan terhadap COVID-19. Pengendalian polusi udara serta pengendalian COVID-19 di Kota Tangerang belum dilaksanakan dengan maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model prediksi hubungan polusi udara terhadap kasus COVID-19 Kota Tangerang Tahun 2020-2022.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi tren waktu serta kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tangerang pada bulan April- Juni 2023.  Penelitian ini menggunakan data sekunder meliputi data ISPU (NO2, SO2, PM10, dan PM2,5), suhu, kelembapan udara dan kasus COVID-19 di Kota Tangerang. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji korelasi, uji regresi linier berganda.Hasil: Gambaran NO2, SO2, PM10 tahun 2020-2022 berada dalam kategori baik, sedangkan PM2,5 adalah kategori sedang. Hasil uji korelasi spearman  menunjukkan SO2 (p= 0,001 ; r= -0,109) dan PM10 (p= 0,000 ; r= -0,210) berhubungan signifikan terhadap kasus konfirmasi COVID-19. Analisis multivariat menunjukkan polusi udara yang paling dominan mempengaruhi kasus COVID-19 di Kota Tangerang adalah PM10, setelah dikontrol dengan PM2,5, suhu dan kelembapan. Variabel PM10, PM2,5, suhu, dan kelembapan dapat menjelaskan variasi variabel kasus COVID-19 sebesar 17,7%.  .Simpulan: Model prediksi hubungan polusi udara dengan kasus COVID-19 di Kota Tangerang Tahun 2020-2022 adalah kasus konfirmasi COVID-19 = 4384,38 + 22,47PM10 + 1,63PM2,5 - 120,39 suhu - 13,33 kelembapan. ABSTRACT Title: Prediction Model of the Association between Air Pollution and Covid-19 Cases in Tangerang City in 2020-2022Background: Air pollution can increase vulnerability to COVID-19. Air pollution control and COVID-19 control in Tangerang City have not been implemented optimally. The purpose of this study is to determine the prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022.Method: This research uses a time trend ecological study design and qualitative. This research was conducted in Tangerang City in April-June 2023.  This study used secondary data including ISPU data (NO2, SO2, PM10, and PM2,5), temperature, humidity and COVID-19 cases in Tangerang City. Data analysis used univariate analysis, correlation test, multiple linear regression test.Result: The overview of NO2, SO2, PM10 in 2020-2022 is in the good category, while PM2,5 is in the moderate category. The results of the spearman correlation test showed that SO2 (p = 0.001; r = -0.109) and PM10 (p = 0.000; r = -0.210) were significantly associated with confirmed cases of COVID-19. Multivariate analysis shows that the most dominant air pollution affecting COVID-19 cases in Tangerang City is PM10, after controlling for PM2,5, temperature and humidity. PM10, PM2,5, temperature, and humidity variables can explain 17,7% of the variation in COVID-19 case variables.  Conclusion: The prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022 is confirmed COVID-19 cases = 4384,38 + 22,47PM10 + 1.63PM2,5 - 120.39 temperature - 13.33 humidity.
MODEL SOSIAL SPASIAL DAMPAK KEBISINGAN LINGKUNGAN DI SEKITAR BANDARA: STUDI KASUS BANDARA HALIM PERDANAKUSUMA, JAKARTA Bagus Ferry Agrayanto; Haryoto Kusnoputranto; Suyud Warno Utomo
Majalah Ilmiah Globe Vol. 22 No. 1 (2020): GLOBE VOL 22 NO 1 TAHUN 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komersialisasi Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma (HLP) sejak tahun 2014 menyebabkan eksternalitas negatif yang tidak terhindarkan yaitu paparan kebisingan pesawat terbang. Kebisingan pesawat terbang akan berdampak terhadap menurunnya kualitas kesehatan. Dalam rangka pengendalian kebisingan pesawat terbang diperlukan model sosial-spasial dampak kebisingan pesawat terbang. Permodelan sosial-spasial yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan lingkungan, dan menentukan batas kawasan kebisingan Bandara HLP berbasis indeks WECPNL (Weighted Equivalent Continous Perceived Noise Level) pada radius 300 ─ 600 m. Ruang lingkup tambahan dari permodelan sosial-spasial yaitu kategorisasi risiko kebisingan lingkungan, dan sosial ekonomi berbasis perhitungan mean hipotetik dari masyarakat yang tinggal tepat di jalur LTO (Landing Take-Off) pesawat terbang. Hasil permodelan menunjukkan tingkat kebisingan lingkungan di permukiman masyarakat sekitar Bandara HLP (67.01 ─ 70.19 dBA) tidak memenuhi baku tingkat kebisingan untuk kawasan permukiman sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 yaitu 55 dB(A). Secara spasial, hasil permodelan menunjukkan batas aman kebisingan pesawat terbang Bandara HLP terletak pada jarak 600 m dari ujung runway 06 HLP, sehingga dapat diperuntukkan sebagai kawasan permukiman ideal di sekitar Bandara HLP (WECPNL=73,80). Hasil permodelan batas kawasan kebisingan Bandara HLP selanjutnya digunakan untuk menganalisis kesesuaiannya dengan rencana tata ruang. Hasil kategorisasi menunjukkan aspek persepsi risiko mayoritas responden mulai dari kebisingan lingkungan sampai dengan sosial ekonomi termasuk kategori sedang, hal ini menunjukkan bahwa terdapat pertukaran yang dapat ditoleransi dengan risiko bertempat tinggal di sekitar Bandara HLP. Berdasarkan uji korelasi statistik Kendall’s Tau-b diketahui waktu domisili dan tingkat pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap persepsi risiko kebisingan lingkungan.
Korelasi Penyebaran Emisi SO2 Industri Pengilangan Migas dengan Kualitas Lingkungan Udara di Sekitarnya Agustini; Haryoto Kusnoputranto; Djoko M. Hartono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan industri pengilangan minyak bumi berperan penting dalam penyediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Aktivitas yang berlangsung dalam proses pengolahan minyak bumi menjadi BBM membutuhkan bahan bakar fosil yang pada akhirnya akan mengemisikan pencemar udara ke udara ambien, salah satunya yaitu SO2 . Saat ini semua kegiatan kilang migas telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan guna menjaga keberlangsungan fungsi lingkungan, termasuk lingkungan udara, namun pada kenyataannya masyarakat masih merasakan dampak dari keberadaan polutan di udara ambien. Mengingat konsentrasi SO2 ambien di suatu tempat tergantung dari penyebaran emisi SO2 dari sumbernya, maka perlu diketahui korelasi penyebaran emisi SO2 dari industri pengilangan migas dengan kualitas lingkungan udara di sekitarnya. Tujuan studi ini adalah mengetahui korelasi penyebaran emisi SO2 dari industri pengilangan migas dengan kualitas lingkungan udara di sekitarnya, khususnya konsentrasi SO2 udara ambien. Lokasi studi ini adalah wilayah sekitar RU VI Balongan, Kabupaten Indramayu. Metode yang digunakan adalah metode potong lintang (cross sectional study). Interpretasi hasil perhitungan korelasi memberikan nilai ”r” sebesar satu. Hal ini bermakna adanya korelasi yang sangat kuat. Pernyataan ini konsisten dengan nilai p sebesar 0,021 yang berarti korelasi di antara dua variabel tersebut bermakna dengan arah korelasi positif yang menunjukkan nilainya searah.
Analisis Kualitas dan Kuantitas Air Bersih di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Azni, Isnatami Nurul; Hasibuan, Hayati Sari; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.28-36

Abstract

Latar belakang: Pulau kecil memiliki kerentanan air bersih karena ukuran, topografi, keterbatasan sumber air, pertumbuhan penduduk dan dampak krisis iklim. Pulau Kelapa merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang memiliki karakteristik pulau kecil saat ini mengalami peningkatan jumlah penduduk ditambah dengan penetapan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional mengakibatkan kebutuhan air bersih semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan kondisi kualitas dan kuantitas pada rumah tangga untuk menjamin kualitas dan ketersediaan air di Pulau Kelapa.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Uji laboratorium kualitas air dilakukan dengan sampel air yang berasal dari air perpipaan, air isi ulang, air sumur dan air air hujan dengan menggunakan standar baku mutu air bersih berdasarkan Permenkes 2 Tahun 2023. Sampel rumah tangga sebanyak 240 Kepala Keluarga diwawancara menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan gambaran pemenuhan air domestik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air sumur mendominasi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan hygiene sanitasi. Sebanyak 51% responden menggunakan 120 liter/orang/hari air bersih untuk kebutuhan domestik; aksesibilitas responden ke sumber air (jarak< 500 meter dan waktu pengumpulan air < 30 menit) tercukupi oleh 81% dan 60% responden secara berurutan, sebanyak 76% sumber air yang digunakan oleh responden terasa payau; rata-rata biaya pemenuhan air bersih sebesar 10,76% dari total pendapatan rumah tangga. Secara kualitas, sumber air bersih yang berasal dari air perpipaan dan air isi ulang memenuhi syarat kesehatan secara fisik dan kimia namun tidak memenuhi syarat kesehatan pada parameter total koliform. Sumber air bersih yang berasal dari air sumur memenuhi syarat kesehatan secara kimia namun tidak memenuhi syarat pada parameter TDS, total koliform, dan bakteri Eschericia coli. Sedangkan sumber air hujan tidak memenuhi syarat pada parameter total koliform dan bakteri Eschericia coli.Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan masyarakat Pulau Kelapa mengeluarkan biaya yang tinggi untuk mendapatkan akses air bersih namun secara kualitasnya belum memenuhi persyaratan kesehatan khususnya pada parameter total koliform. ABSTRACTTitle: Clean Water Quality and Quantity Analysis in Kelapa Island, Seribu IslandsBackground: Small islands are vulnerable to clean water due to its size, topography, limited water resources, population growth and the impact of the climate crisis. Kelapa Island is part of Seribu Islands which has the characteristics of a small island. Increasing number of population,combined with its designation as a National Tourism Strategic Area, clean water demand is increasing. This research aims to describe clean water quality and quantity in residents to ensure the quality and availability of air on Kelapa Island.Method: This research used descriptive quantitative methods. Water quality laboratory tests were carried out with water samples originating from piped water, refill water, well water and rainwater using clean water quality standards based on Minister of Health Regulation 2/2023. A household sample of 240 heads of families was interviewed using a structured questionnaire to represent domestic water supply.Result: The research results showed that the use of well water dominates  to fulfill the need for clean water for hygiene and sanitation. As many as 51% of respondents use 120 liters/person/day of clean water for domestic needs; Respondents' accessibility to water sources (distance < 500 meters and water collection time < 30 minutes) was sufficient for 81% and 60% of respondents respectively, 76% of the water sources used by respondents felt brackish; the average cost of providing clean water is 10.76% of total household income. In terms of quality, clean water sources originating from piped water and refill water meet physical and chemical health requirements but do not meet health requirements for total coliform parameters. Clean water sources that come from well water meet chemical health requirements but do not meet the requirements for TDS parameters, total coliforms and Escherichia coli bacteria. Meanwhile, rainwater sources do not meet the requirements for the total parameters of coliforms and Escherichia coli bacteria.Conclusion: Based on the research results, it was found that the residents of Kelapa Island  had to pay high cost to get access to clean water, but the quality does not meet health requirements, especially in terms of microbiological parameters. 
Subjective Health Complaints in Women Famers Exposed to Pesticides in Agricultural Area Purba, Imelda Gernauli; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 1 (2025): January 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.1.104-112

Abstract

Pesticides are chemicals that are increasingly used particularly in agriculture to control plant pests. While pesticides offers benefits they also cause adverse effects on humans, especially if not handled properly. Women in agricultural areas exposed to pesticides are at risk of developing health problems related to pesticide exposure, which are often related to their involvement in agricultural activities such as spraying, mixing pesticides, washing spraying equipment and clothing. The research aims to analyse the risk factors for subjective health complaints due to pesticide exposure in female farmers. The observational study employed a cross-sectional approach. The study population comprised female farmers exposed to pesticides residing in Sekayu District, Musi Banyuasin South Sumatra, Indonesia. A sample size of 136 was obtained through Cluster Sampling. Primary data were collected through interviews and observations using questionnaires and checklists. Data were analysed using the Chi-Square Test. The results indicated that female farmers reported a range of subjective health complaints including fatigue, anxiety, headache, blurred vision, nausea, decreased appetite, muscle weakness, and muscle spasms. Several variables were associated with subjective health complaints including age (p=0.05), working period (p=0.002), number of types of pesticides (p=0.000), and storage method of pesticides (p=0.021). Female farmers should limit their exposure to pesticides through reducing the length of contact with pesticides, avoiding the mixing of different types of pesticides, and storing pesticides according to the storage instructions. 
Food Safety Training and Food Safety Practices Among Street Vendors at Public Elementary Schools Apriliya Adha; Zakianis, Zakianis; Laila Fitria; Haryoto Kusnoputranto; Halik Hadi; Surya Kusuma Purba
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 2 (2025): February 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i2.6937

Abstract

Introduction: In Indonesia, only about ?30% of street vendors in schools implement good food safety practices. This can have a negative impact on health that can lead to foodborne disease. Food safety practices are still low, especially for street vendors at public elementary schools in Tanjung Balai City, so food safety training is needed. Proper food safety training will be very influential in reducing the incidence and overall rate of foodborne illnesses. The purpose of this study is to analyze the relationship between food safety training and food safety practices in street vendors at public elementary schools in Tanjung Balai City. Methods: This study uses a cross-sectional design. The research is located at public elementary schools in Tanjung Balai City during November 2024. The sample involved 335 street vendors from 67 elementary schools. Data collection uses a questionnaire accompanied by interviews with respondents who have signed informed consent. This research has obtained permission from the Research Ethics and Community Service Commission, Faculty of Public Health, University of Indonesia. Results: The results of the study show that most street vendors at Public Elementary Schools have poor food safety practices as much as 61.2% and have never participated in food safety training as much as 80%. Factors that were significantly related to food safety practices were food safety training, gender, age, knowledge and attitudes related to food safety (p-value <0.05), while education level, Vending Duration, and monthly income did not show significant results. The results of the multivariate test showed a significant relationship between food safety training and food safety practices after being controlled by gender, age, education and knowledge related to food safety (AOR=3.00; CI: 1.25-7.24; p=0.01). Conclusion: Food safety training is significantly related to food safety practices. Therefore, it is hoped that the relevant agencies can provide comprehensive food safety training to all street vendor in public elementary school’s environment”.
EVALUATION OF MERCURY (HG) CONCENTRATION IN CILEMAHABANG RIVER, BEKASI REGENCY Sembiring, Eva Kasih; Fitria, Laila; Kusnoputranto, Haryoto; Kario, Asrit Jessica
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43419

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi konsentrasi merkuri dalam air sungai Cilemahabang, Kabupaten Bekasi yang diduga telah mengalami pencemaran. Pengambilan sampel dilakukan di tiga titik berbeda, yaitu hulu, tengah, dan hilir sungai. Sampel dianalisis dengan menggunakan metode ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) untuk mengukur konsentrasi merkuri (Hg). Data yang diperoleh dibandingkan dengan nilai batas aman air sungai yang berlaku menurut PP No. 22 Tahun 2021. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium PT Bumi Ventila Indonesia. Waktu penelitian mulai dari survei pendahuluan, pengambilan sampel, uji laboratorium dan analisis data dilakukan pada bulan Oktober 2024 hingga Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri (Hg) pada air sungai Cilemahabang dengan rata-rata 0,003100 mg/l telah melebihi nilai batas aman yang ditetapkan pada PP No. 22 Tahun 2021 sebesar 0,001 mg/l dengan konsentrasi merkuri (Hg) semakin meningkat pada bagian tengah dan hilir sungai. Penelitian ini menemukan pencemaran merkuri yang signifikan pada bagian tengah dan hilir sungai, sehingga perlu adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap implementasi kebijakan dan peraturan yang ada dalam mengurangi potensi pencemaran air sungai dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penilaian risiko kesehatan lingkungan untuk merancang strategi mitigasi yang efektif.
Korelasi Polusi Udara dengan Insiden Pneumonia Balita di DKI Jakarta pada Tahun 2017-2020 Munggaran, Gilang Anugerah; Kusnoputranto, Haryoto; Ariyanto, Januar
Jurnal Promotif Preventif Vol 7 No 1 (2024): Februari 2024: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v7i1.1071

Abstract

Polusi udara di Jakarta meningkat setiap tahun bahkan berkontribusi besar terhadap kejadian pneumonia balita. Kasus pneumonia balita di Jakarta 2018 mencapai 42.305 dengan cakupan penemuan 95,53% kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi pencemaran udara ambien dengan kejadian pneumonia balita pada tahun 2017 sampai 2020 di Jakarta. Metode penelitian ini menggunakan analisis time-trend ecologic study. Data Indeks Standar Pencemaran Udara dikumpulkan dengan cara menghitung rata-rata bulanan dan data pneumonia berdasarkan data bulanan insidens pneumonia balita. Hasil uji korelasi, PM10, O3 dan CO berhubungan signifikan (p= 0,000), (p= 0,033) dan (p= 0,000) dengan insidens pneumonia balita. Sementara SO2 dan NO2 tidak berhubungan dengan insidens pneumonia balita di Jakarta tahun 2017-2020 (p= 0,979) dan (p=0,674). Kesimpulannya PM10, O3 dan CO berhubungan dengan insidens pneumonia balita. Sementara SO2 dan NO2 tidak berhubungan dengan insidens pneumonia balita di Jakarta tahun 2017-2020. Temuan ini mendukung alasan bahwa membatasi konsentrasi PM10 dan CO lebih lanjut di Jakarta merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi insidens pneumonia balita.
Tuberkulosis Paru di Palembang, Sumatera Selatan Versitaria, Hery Unita; Kusnoputranto, Haryoto
Kesmas Vol. 5, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia tercatat memiliki 304.787 penderita tuberkulosis yang menempatkannya pada peringkat ketiga terbanyak di dunia. Penyakit tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor 1 dari golongan penyakit infeksi. Angka kepadatan hunian rumah di Kota Palembang 5,84 lebih tinggi daripada angka ideal kepadatan hunian rumah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sumber penular serumah, faktor lingkungan dalam rumah, dan karakteristik individu terhadap kejadian tuberkulosis paru basil tahan asam (BTA) (+) di Kota Palembang. Penelitian yang menggunakan desain kasus kontrol ini membandingkan kelompok kasus (BTA(+)) dan kelompok kontrol (BTA (-)) yang dilakukan di 16 wilayah kerja puskesmas dari 36 puskesmas yang ada di Kota Palembang. Model akhir diketahui bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit tuberkulosis paru BTA (+) adalah variabel status gizi. Seseorang yang bermukim di rumah dengan hunian kamar memiliki tingkat kepadatan tinggi (< 4 meter/orang), jenis kelamin laki laki, dan status gizi yang buruk (indeks massa tubuh, IMT > 25,1 dan < 18,4) berisiko untuk menderita penyakit tuberkulosis paru BTA(+) 29 kali lebih besar dibanding orang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut. Indonesia there were recorded 304.787 cases of tuberculosis that places at the third level in the world. Tuberculosis is the third level disease which caused of death after cardiovasculer and respiratori tract disease in all age groups and at the first level from all infectious disease. The residence density rate in Palembang is higher 5,84 times than ideal rate. The objective of this study is aimed to evaluate the relationship between the source of infection in house, the environment in the house, and the individual characteristic with the occurrence of lung tuberculosis BTA (+) in Palembang City. The design of this study is case control comparing case group of tuberculosis (BTA (+)) and case of control group of BTA. This study was conducted in 16 work areas of 36 health centers in Palembang. In multivariat model, it is known that the closest relationship with the occurrence of tuberculosis is nutritional status. A person who lives with high density of residence (< 4 meter/ man), male, and bad status of nutrition (body mass index, BMI > 25,1 and < 18,4) has higher risk for having tuberculosis 29 times than who has not the risk factor.
Kondisi Sanitasi Lingkungan Perumahan dan Kontaminasi Escherichia coli pada Penyajian Makanan Pendamping Air Susu Ibu Lokal Kusuma, Aria; Kusnoputranto, Haryoto; Djaja, I Made; Syarief, Rizal
Kesmas Vol. 7, No. 7
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi sangat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu lokal (MP-ASI lokal). Sampai saat ini belum diketahui keamanan penyajiannya dari kontaminasi mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui kontaminasi Escherichia coli (E. coli) pada penyajian MP-ASI lokal dan mengamati hubungan antara kondisi sanitasi rumah, seperti Sarana Air Bersih (SAB), tempat mencuci peralatan makan bayi, kondisi Saluran Pembuangan Air Limbah (S PAL), kondisi tempat sampah dan keberadaan hewan berkeliaran di dalam rumah terhadap kontaminasi E. coli pada penyajian. Desain penelitian ini adalah potong lintang yang mengamati penyajian MP-ASI lokal bagi bayi usia 6-12 bulan pada 138 rumah. Lokasi penelitian pada 21 Dusun di Kabupaten S olok. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran kontaminasi E. coli pada penyajian M P-ASI lokal, kondisi faktor sanitasi rumah tangga, mengetahui hubungan antara faktor sanitasi rumah dengan kontaminasi E. coli dan faktor yang paling berhubungan dengan kontaminasi tersebut . Penelitian ini menemukan lebih dari separuh (72,5%) MP-ASI lokal yang disajikan terkont aminasi E. coli. Keberadaan hewan yang berkeliaran di dalam rumah memiliki risiko dua kali lebih besar terkontaminasi E. coli pada penyajian MP-ASI lokal bagi bayi usia 6-12 bulan di rumah tangga. Infant is the most vulnerable groupof safer infectious diseases caused by complementary food. Meanwhile complementary food safety was unknown. The study aimed to know Escheriacoli (E. coli) contamination in serving complementary food and relationship of house sanitation condition as clean water facilities, places for dishes infant food utensils,domestic wastewater facilities condition, garbage facilities condition and the present of domestic animals in houseto E. coli contaminationin serving. Study design was cross sectional, object of observation were 138 household that serving complementary food for 6-12 month old infants. Location of study was in 21 subvilages at Solok District. Data analysis was used to know description of E. coli contamination, household sanitation condition, relationship between household sanitation factor with E. coli contamination and the most significant sanitation factors that have relationship with that contamination. This study found (72.5%) serving complementary food have been contaminated by E. coli. The domestic animals in the house, 2 times more risks to have E. coli contimination in complementary serving.
Co-Authors Agrayanto, Bagus Ferry Agustini Agustini Agustini, Agustini Ahmad Safrudin Aliyyah, Nurusysyarifah Apriliya Adha Aria Kusuma Asih, Puji B S Bagus Ferry Agrayanto Bambang Wispriyono Budi Hartono Budi Hartono Budiawan Budiawan Budiawan Budiawan Dewayanti, Farahana Kresno Din Syafruddin Djarot S Wisnubroto Djoko M Hartono Djoko M. Hartono Dwiyitno Dwiyitno Eko Handoyo Ela Laelasari Ema Hermawati Ezra Ganesha Prihardanu Febriyana Mustika Dewi S Gilang Anugerah Munggaran H.M.H. Bintoro Djoefrie H.M.H. Bintoro Djoefrie, H.M.H. Bintoro Halik Hadi Hayati Sari Hasibuan Herdis Herdiansyah Hery Unita Versitaria Hisyam Musthafa, Hisyam I Made Djaja Imelda Gernauli Purba, Imelda Imelda Gernauli Purba, Imelda Gernauli Imelda Masni Juniaty Sianipar Ira Ayu Hastiaty Ira Ayu Hastiaty Irawati, Yana Isnatami Nurul Azni, Isnatami Nurul Ita Junita Januar Ariyanto Jatna Supriatna Kario, Asrit Jessica Laila Fitria Marulak Bonaparte Manurung Misri Gozan Murdahayu Makmur Murdahayu Makmur Nova Amalia Sakina Ony Rosalia Oscar leonard Manaloe Permana, Dendi Hadi Pradnya Rahmani Prasetyadi, Prasetyadi Prima Gita Pradapaningrum Primanti, Afthina Puri Wulandari, Puri Rachmadhi Purwana Ratna Maya Paramita Risandi, Rifqi Rizal Syarief Saptarining Wulan Saptarining Wulan, Saptarining Sembiring, Eva Kasih Setyo Moersidik Setyo S Moersidik Sitorus, Alfred Sodri, Ahyahudin Surya Kusuma Purba Suryawan, I Wayan Koko Suyud Warno Utomo Suyud Warno Utomo Suyud Warno Utomo Syahrani, Lepa Tarigan, Bayu Pratama Tri Edhi Budhi Soesilo Umar Fahmi Achmadi Umar Fahmi Achmadi Wangsamuda, Suradi Wardani, Laras Andria Wulandari, Puri Wulandari, Ririn Arminsih Zakianis Zakianis