Nurbaity Bustamam
Program Studi Bimbingan Dan Konseling, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala

Published : 47 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI MASALAH STRES KERJA KARYAWAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi pada PT. PLN (Persero) Area Banda Aceh) Siti Wahyu Murni; Said Nurdin; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v4i1.14166

Abstract

Abstrak: Karyawan yang dapat menanggulangi stres dengan baik akan memberi pengaruh yang positif terhadap pekerjaannya, dalam arti stres yang dialami tidak menurunkan motivasi karyawan dalam bekerja. Diduga lingkungan kerja berkontribusi terhadap stres kerja pada karyawan di PT. PLN (Persero) Area Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres dan upaya penanggulangan stres pada karyawan PT. PLN (Persero) Area Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dalam bentuk penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. PLN (Persero) Area Banda Aceh yang berjumlah 121 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling sebanyak 55 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Adapun angket dalam penelitian ini bersifat tertutup dengan menggunakan skala Likert. Pengolahan data menggunakan statistika sederhana. Kesimpulan dalam penelitian skor rata-rata tingkat stres kerja pada karyawan termasuk ke dalam kategori sedang. Sementara upaya penanggulangan stres kerja meliputi relaksasi dan meditasi, program pelatihan, dan terapi rata-rata termasuk ke dalam kategori sedang.Kata kunci : stres kerja, upaya penanggulangannya Abstract: Employees who can cope with stress well will have a positive influence on their work, in the sense that stress experienced does not reduce employee motivation at work. Allegedly the work environment contributes to work stress on employees at PT. PLN (Persero) Banda Aceh Area. This study aims to determine the level of stress and stress management efforts on employees of PT. PLN (Persero) Banda Aceh Area. The approach used in this study is a quantitative approach in the form of descriptive research. The population in this study were all employees of PT. PLN (Persero) Banda Aceh Area which amounts to 121 people. Sampling is done by accidental sampling technique of 55 people. Data collection in this study used a questionnaire. The questionnaire in this study is closed by using a Likert scale. Processing data using simple statistics. Conclusions in the study of the average score of the level of work stress on employees belong to the medium category. While efforts to overcome work stress include relaxation and meditation, training programs, and therapies on average included in the medium category.Keywords: work stress, prevention efforts
Gambaran Luka Pengasuhan Pada Orang Tua Ainul Mardhiah; Nurbaity Bustamam; Khairiah Asfaruddin; Jamilah Aini Nasution
Jurnal Suloh Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v6i2.25525

Abstract

Parenting wounds are something that is often experienced by individuals from parents. The wounds of parenting can be felt from childhood to becoming the next parent. Parenting wounds occur as a result of the application of wrong parenting, so that children experience mental wounds that are difficult to heal. This study aims to see the description of parenting wounds experienced by parents in Banda Aceh. This research uses descriptive quantitative method. The instrument used was the Parenting Injury scale which was distributed to 102 samples using Googleform. The results of this study indicate that the average value of parenting injuries in Banda Aceh is 139, so it is in the very low category. Based on the results of this study, it can be stated that there are no injuries in parenting. Furthermore, it is also known that parenting injuries in Aceh, including indicators of physical violence, child neglect and sexual violence are also in the very low category, while indicators of emotional violence are in the low category. ABSTRAK Luka pengasuhan merupakan suatu hal yang kerap dialami oleh individu dari orangtua. Luka pengasuhan bisa saja dirasa mulai masa kanak-kanak hingga menjadi orang tua selanjutnya. Luka pengasuhan terjadi akibat dari penerapan pengasuhan yang salah, sehingga anak mengalami luka batin yang sulit untuk disembuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran luka pengasuhan yang dialami oleh orang tua yang ada di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah skala Luka Pengasuhan Orang tua yang disebarkan kepada 102 orang sampel dengan memanfaatkan Googleform. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata luka pengasuhan orangtua di Banda Aceh yaitu 139 sehingga berada pada kategori sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian tersebut makan dapat dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat luka dalam pengasuhan orang tua. Selanjutnya diketahui juga bahwa luka pengasuhan orang tua yang ada di aceh termasuk pada indikator kekerasan fisik, penelantaran anak dan kekerasan seksual juga berada pada kategori sangat rendah, sementara indikator kekerasan emosional berada pada kategori rendah. 
Hubungan resolusi konflik pasangan suami istri bekerja dengan kepuasan pernikahan pada usia pernikahan 3-5 tahun Nadia Nadia; Nur Janah; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 2, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v2i2.14101

Abstract

Abstract: Marriage is a sacred thing that unites two human beings between men and women. In fact adults marry for encouragement for various reasons. However, any person who married definitely wanted happiness. Feeling happy is identical with the name of satisfaction where when one reaches or gets anything he wants her to feel satisfied and happy. In achieving a satisfaction of the wedding, the couple husband and wife need a name conflict resolution. people who have a good conflict resolution in the household will easily achieve a satisfaction of the wedding. The purpose of this study is to describe the relationship of conflict resolution to the satisfaction of the wedding. The method used is the Mix Method that combines the two methods at once (quantitative and qualitative). The subject of this study, namely married couples working on age of marriage 3-5 of the year with a total of 130 people. The results showed the styles of conflict resolution has a positive and significant relationship, however weak, to the satisfaction of the wedding (r =. 317, p =. 001). Based on five conflict resolution styles that exist, only two styles that have a direct relationship with the satisfaction of marriage i.e. domination and integration. While the other three have no connection at all (the bond compromise, and avoidance).Keywords: conflict resolution, satisfaction of the marriage, the husband and wife work Abstrak: Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral yang menyatukan dua insan manusia antar laki-laki dan perempuan. Pada hakikatnya orang dewasa menikah karena dorongan berbagai alasan yang berbeda-beda. Namun, setiap orang yang menikah pasti menginginkan suatu kebahagian. Perasaan bahagia identik dengan yang namanya kepuasan yang dimana ketika seorang mencapai atau mendapat sesuatu yang diinginkannya dia merasa puas dan bahagia. Dalam mencapai suatu kepuasan pernikahan, pasangan suami istri membutuhkan yang namanya resolusi konflik. orang yang memiliki resolusi konflik yang baik dalam rumah tangga akan mudah mencapai suatu kepuasan pernikahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menggambarkan hubungan resolusi konflik dengan kepuasan pernikahan. Metode yang digunakan adalah Mix Method yang menggabungkan dua metode sekaligus (kuantitatif dan kualitatif). Subjek penelitian ini yaitu pasangan suami istri bekerja pada usia pernikahan 3-5 tahun dengan total 130 orang. Hasil penelitian menunjukkan gaya resolusi konflik memiliki hubungan yang positif dan signifikan namun lemah dengan kepuasan pernikahan (r = .317, p = .001). Berdasarkan lima gaya resolusi konflik yang ada, hanya dua gaya yang memiliki hubungan langsung dengan kepuasan pernikahan yaitu dominasi dan integrasi. Sementara tiga lainnya tidak memiliki hubungan sama sekali (kompromi, obligasi dan penghindaran).Kata Kunci: Resolusi Konflik, Kepuasan Pernikahan, Suami Istri Bekerja
HUBUNGAN MOTIF AFILIASI DENGAN PERILAKU ASERTIF SISWA Zulhamdi Zulhamdi; Nurhasanah Nurhasanah; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v4i1.14167

Abstract

Abstract: Generally students behave non-assertively because of fear of their peers. They are unable to express their most ordinary feelings, needs and opinions so that they always feel guilty for all the actions and decisions they make. The purpose of this study was to describe the affiliation motives, the description of assertive behavior, the relationship of affiliation motives with assertive behavior. This type of research is descriptive correlational research with a quantitative approach. The research location at SMAN 6 Banda Aceh with a total sample of 92 students. Data collection techniques are questionnaires with a psychological scale. Data processing and analysis techniques are percentage and correlational analysis. The results showed an illustration of affiliate motives in the medium category, assertive behavior was also in the medium category and there was a positive and significant relationship between the motives of affiliation with assertive behavior with the calculated r value of 0.749 and in the strong category.. Keywords: Affiliate Motive, Assertive BehaviorAbstrak: Umumnya siswa berperilaku non asertif karena dihinggapi rasa takut pada teman sebayanya. Mereka tidak mampu menyatakan perasaan, kebutuhan dan pendapatnya yang paling biasa sehingga mereka selalu merasa bersalah atas segala tindakan dan keputusan yang diambilnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran motif afiliasi, gambaran perilaku asertif, hubungan motif afiliasi dengan perilaku asertif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di SMAN 6 Banda Aceh dengan jumlah sampel 92 siswa. Teknik pengumpulan data adalah angket dengan bentuk skala psikologis. Teknik pengolahan dan analisis data yaitu dengan analisis persentase dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan gambaran motif afiliasi berada pada kategori sedang, perilaku asertif juga berada pada kategori sedang dan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motif afiliasi dengan perilaku asertif dengan nilai r hitung sebesar 0,749 dan berada pada kategori kuat.Kata kunci: Motif Afiliasi, Perilaku Asertif
Model pembelajaran anak autis di SMPLB-CD YPAC Banda Aceh Dilla Muftia; Syaiful Bahri; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v5i1.13026

Abstract

The learning model is a systematic procedure in organizing learning experiences to achieve learning goals. Autistic children are children who experience obstacles in behavioral development such as communication, socialization, emotions, and intelligence. This study aims to determine the learning model used in the learning of autistic children, obstacles encountered in the learning of autistic children, and the results of evaluations achieved by autistic children in learning. The approach and type of research used in this study is descriptive qualitative with data collection techniques in the form of in-depth interviews and observations. The qualitative data analysis technique used is the Miles and Huberman models. The results of the study show that the teacher uses the DTT (Discrete Trial Training) learning model. Some obstacles in learning autistic children include obstructed communication of children, inadequate facilities and infrastructure and collaboration of parents in supporting learning programs. Seeing the results of the evaluation of autistic children through immediate assessment, autistic children give a good reaction marked by being able to respond through eye contact, repeat instructions, and provide a positive response to their friends. Keywords: Learning model, autistic child ABSTRAK Model pembelajaran merupakan suatu prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Anak autis merupakan anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilaku seperti komunikasi, sosialisasi, emosi serta intelegensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran anak autis, hambatan-hambatan yang ditemui dalam pembelajaran anak autis, dan hasil evaluasi yang dicapai anak autis dalam pembelajaran. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi. Teknik analisa data kualitatif yang digunakan adalah model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan model pembelajaran DTT (Discrete Trial Training). Beberapa hambatan dalam pembelajaran anak autis meliputi komunikasi anak yang terhambat, sarana dan prasarana yang kurang memadai dan kerjasama orang tua dalam mendukung program pembelajaran. Melihat hasil evaluasi anak autis melalui penilaian segera, anak autis memberikan reaksi yang baik ditandai dengan mampu memberikan respon melalui kontak mata, mengulang kembali intruksi, serta memberikan respon yang positif pada teman-temannya. Keywords: Model pembelajaran, anak autis
PENGEMBANGAN DIRI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMA NEGERI DI KOTA BANDA ACEH Nur Mutia; Abu Bakar; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v3i2.14163

Abstract

Abstrak: Sebagai seorang guru profesional guru BK diharuskan untuk melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan seperti mengikuti diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi atau keprofesian guru. Pengembangan diri secara terus menerus (continuous improvement) juga dapat dilakukan melalui pelatihan, organisasi profesi, internet, membaca buku, mengikuti seminar dan semacamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat arah dari pengembangan diri guru BK serta hambatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah guru BK tingkat SMA di Kota Banda Aceh yang berasal baik dari jurusan BK maupun Non-BK. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan diri yang biasa dilakukan guru BK adalah mengikuti MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan Konseling) secara rutin serta mengikuti pelatihan dan seminar yang diselenggarakan oleh dinas. Sedangkan mengikuti lokakarya dan konferensi, tergabung dalam organisasi profesi BK, mengikuti berbagai grup diskusi tentang BK, dan membangun jaringan atau kerjasama antar profesi lain serta kegiatan mandiri lainnya masih jarang dilakukan. Responden penelitian menyatakan bahwa kegiatan  melanjutkan pendidikan (S2) dan mengikuti pendidikan profesi serta melakukan kegiatan penulisan atau publikasi ilmiah oleh guru BK bahkan belum dilakukan sama sekali. Hambatan guru BK dalam melakukan pengembangan diri berkaitan dengan faktor biaya, waktu, tempat  fasilitas dan regulasi (peraturan yang ada). Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka membantu pengembangan diri guru BK.Kata Kunci : Guru BK SMA, Pengembangan diri profesional Abstract: As a professional, school counselor are required to grow up their profesionalism through functional training and collaborative activities aimed to improve the competence or professionalism. In this study the professional development activities being assessed were training, professional organizations, self-development by internet, books, seminars, group discussion and the like . The purpose of this study is to explain self-development activities and barriers to self-development of school counselor in Banda Aceh. The subjects of this study were high school counselor in Banda Aceh both from counseling and non- counseling educational background. The research data was collected by interview technique. The result showed that the self-development activities usually carried out by counselor was routinely take part ini MGBK (School Counselor Meeting), also attending training and seminars conducted by education offices. Meanwhile independent activities such as attending workshops and conferences, joined in professional counseling organizations, attending various discussion groups on counseling, and building networks or cooperation among other professions were still rarely done. None of the subject reported pursuing master degree or other professional education, neither they write or do scientific publications. The obstacles of teachers counselor in doing self-development was related to cost, time, facilities and regulation. This research is expected to be used by interested parties in order to support self development of school counselors.Keywords: High school counselor, Profesional development
THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-EFFICACY AND EMOTIONAL REGULATION IN STUDENTS IN TEACHING AND EDUCATION FACULTY AT SYIAH KUALA UNIVERSITY Nurbaity Bustamam; Abu Bakar; Riska Amelia
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 1 (2024): PSIKOISLAMEDIA:JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : State Islamic University (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v9i1.22620

Abstract

Emotion regulation is an individual's ability to assess, manage, and express emotions appropriately in order to achieve emotional balance. One of the factors influencing emotion regulation is self-efficacy. People who are confident in their abilities tend to have better control over their emotions. The purpose of this study was to reveal the explanation and relationship between self-efficacy and emotional regulation in final-year students of the Faculty of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University. The study population was students of the Faculty of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University who were completing the final project of the class of 2019, and the number of samples was 270 out of a population of 829. The sampling method in this study used probability random sampling. The value of the correlation coefficient r = 0.635 explains the strong correlation between self-efficacy and emotional regulation in college students.ABSTRAKRegulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam menilai, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat guna mencapai keseimbangan emosi. Keyakinan pada diri sendiri atau efikasi diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi regulasi emosi. Orang yang percaya diri dengan kemampuannya cenderung memiliki kendali yang lebih baik terhadap emosinya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap penjelasan dan hubungan antara efikasi diri dengan regulasi emosi pada mahasiswa tingkat akhir FKIP Universitas Syiah Kuala. Populasi penelitian adalah mahasiswa dari seluruh fakultas di Universitas Syiah Kuala yang sedang menyelesaikan tugas akhir yakni angkatan 2019, dan jumlah sampel adalah 270 dari populasi sebanyak 829. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan probabilitas random sampling. Nilai koefisien korelasi r = 0,635 menjelaskan kuatnya korelasi antara efikasi diri dengan regulasi emosi pada mahasiswa.