Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN TEH CELUP WALINI INDUSTRI HILIR TEH PT PERKEBUNAN NUSANTARA VIII (Studi Kasus: Industri Hilir Teh PTPN VIII, Bandung, Jawa Barat) Raden Assyifa Nuraini; Gema Wibawa Mukti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.323 KB) | DOI: 10.25157/jimag.v6i1.1272

Abstract

Industri Hilir Teh (I-Teh) merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan hilir dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII yang berada di Bandung, Jawa Barat. I-Teh memproduksi dan mengolah bubuk teh menjadi teh celup dengan merek dagang Walini. I-Teh mengalami kendala dalam menjalankan usahanya yaitu jumlah penjualannya terus menurun sehingga keuntungan yang diperoleh berkurang. Berdasarkan kendala tersebut, diperlukan suatu strategi pemasaran guna meningkatkan keuntungan perusahaan yaitu menganalisis prioritas strategi pemasaran yang diterapkan I-Teh agar mendapatkan prioritas alternatif strategi dan dipilih untuk dijadikan prioritas dalam perhitungan Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode AHP digunakan untuk menganalisis strategi mana yang efektif untuk dijalankan I-Teh dalam pemasarannya. Bobot dalam setiap kriteria diperoleh dari pengisian kuesioner terhadap Kepala Penjualan, Supervisor Branch Opening, Demand Planning, Administrasi Pemasaran, dan Logistik. Responden dipilih berdasarkan pertimbangan memiliki peran besar dalam perumusan, pelaksanaan strategi, dan pengambilan keputusan pemasaran. Hasil penentuan alternatif prioritas strategi dalam memasarkan teh celup Walini adalah strategi meningkatkan pangsa pasar yang menitikberatkan pada strategi komunikasi pemasaran. Taktik yang dapat dijalankan oleh I-Teh adalah meningkatkan intensitas promosi melalui media massa sebagai prioritas utama komunikasi pemasaran, meningkatkan brand image sebagai prioritas utama strategi perencanaan produk, penentuan harga berdasarkan harga pokok produksi sebagai prioritas utama strategi penetapan harga, memperkuat kepercayaan konsumen sebagai prioritas utama strategi pemilihan pasar, dan melakukan distribusi langsung sebagai prioritas utama sistem distribusi.
MODEL BISNIS PERUSAHAAN JAMUR SKALA BESAR DI NEGARA JEPANG (Studi Kasus Yukiguni Maitake Co., Ltd., Niigata, Jepang) Feby Claudya Navelda; Gema Wibawa Mukti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.443 KB) | DOI: 10.25157/jimag.v6i1.1430

Abstract

Jurnal ini menjelaskan model bisnis yang diterapkan salah satu perusahaan agroindustri komoditas jamur yang bernama Yukiguni Maitake Co., Ltd. Penelitian berlokasi di Niigata, Jepang. Yukiguni Maitake Co., Ltd. mampu menjadi perusahaan besar bukan dalam waktu yang singkat. Perusahaan tidak pernah lelah untuk mengembangkan teknologi baru, mencari konsumen, serta menghasilkan produk yang terbaik. Kerja keras, disiplin, jujur, sopan santun, dan inovatif merupakan karakter khas bangsa Jepang yang teraplikasi didalam kegiatan bisnis perusahaan. Hubungan kekeluargan dan loyalitas antar tenaga kerja yang dibangun dalam kegiatan informal mampu membuat karyawan bertahan dalam satu perusahaan.
MODEL BISNIS AGROFARM CIANJUR (Studi Kasus Kelompok Tani Agro Segar Pada P4S Agrofarm Cianjur, Desa Ciherang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat) Niken Hikmawati; Gema Wibawa Mukti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.201 KB) | DOI: 10.25157/jimag.v6i1.1335

Abstract

Masyarakat Indonesia pada masa kini tidak menunjukkan minat yang besar terhadap sektor pertanian. Walaupun demikian, terdapat salah satu kabupaten di Jawa Barat yang menempati urutan pertama dengan jumlah penduduk tertinggi bekerja pada sektor pertanian, yaitu Kabupaten Cianjur. Agrofarm Cianjur merupakan salah satu P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) di Kabupaten Cianjur yang melakukan pelatihan dalam budidaya dan pemasaran usahatani komoditas hortikultura, serta di dalamnya terdapat kelompok tani dengan nama Agro Segar. Dengan terbentuknya Agrofarm Cianjur sebagai satu kesatuan dengan fokus dan fungsi yang berbeda, maka penting untuk melihat model bisnis dari Agrofarm Cianjur sehingga dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi pelaku pertanian pada umumnya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan teknik studi kasus. Alat analisis yang digunakan adalah pemetaan jaringan nilai dengan analisis Holo Mapping dan Business Model Canvas yang digunakan untuk mendeskripsikan model bisnis yang diterapkan. Penggambaran model bisnis didapatkan melalui proses desain bisnis dengan teknik bercerita, berpikir visual, serta prototyping. Berdasarkan hasil penelitian, model bisnis Agrofarm Cianjur sudah cukup maju dan dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi pelaku pertanian pada umumnya. Agrofarm Cianjur hanya perlu menambah mitra maupun sumber daya yang dimiliki, serta memperbaharui pembukuan administrasi yang masih manual, serta memperbaharui pembukuan administrasi yang masih manual.
STRATEGI PEMASARAN TEH CELUP GOALPARA INDUSTRI HILIR TEH PT.PERKEBUNAN NUSANTARA VIII (Studi Kasus Industri Hilir Teh PTPN VIII Bandung, Provinsi Jawa Barat) Maulida Nabila Rosyalina; Gema Wibawa Mukti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.029 KB) | DOI: 10.25157/jimag.v6i1.1273

Abstract

Perkebunan Negara di Jawa Barat yang bergerak di bidang komoditas teh adalah PT. Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). PTPN VIII memiliki unit usaha dengan tujuan mengembangkan produk hulu teh menjadi produk hilir teh yang dikenal dengan Industri Hilir Teh  (I-Teh). I-Teh PTPN VIII memproduksi beberapa produk teh dengan salah satu mereknya adalah Goalpara. Teh Goalpara merupakan teh produksi dalam negeri yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari perkebunan milik sendiri. Pada kenyataannya, Teh Celup Goalpara mengalami masalah dalam memasarkan produknya seperti kurangnya distribusi ke swalayan-swalayan kecil, promosi yang kurang optimal yang mengakibatkan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui produk tersebut dan persaingan dengan produk teh celup sejenis yang semakin ketat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang strategi pemasaran yang tepat melalui alat analisis SWOT dan AHP. Metode SWOT digunakan untuk mengetahui keadaan internal dan keadaan eksternal pada perusahaan tersebut kemudian menggunakan metode AHP yang digunakan untuk memilih prioritas alternatif strategi pemasaran yang tepat. Matriks IFE memiliki nilai tertimbang 2,58 yang artinya posisi internal yang kuat, matriks EFE memiliki  nilai tertimbang 2,46 yang artinya perusahaan merespon dengan baik peluang dan ancaman yang ada. Posisi perusahaan berada pada kuadran V yang artinya “Hold and Maintain”. Dari hasil pengolahan AHP diketahui strategi yang yang dipilih adalah meningkatkan pelatihan terhadap karyawan (0,241) dan meningkatkan penjualan dengan penerapan digital marketing (0,202).
Jaringan Nilai dan Sikap Konsumen terhadap Kualitas dan Private Label pada Komoditas Brokoli Organik di Ritel Modern (Suatu Kasus di Lotte Mart Festival Citylink Bandung, Jawa Barat) Ari Risdianto; Hesty Nurul Utami; Gema Wibawa Mukti
Jurnal Studi Manajemen dan Bisnis Vol 4, No 2 (2017): Desember
Publisher : Trunojoyo University of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jsmb.v4i2.3961

Abstract

Pemasaran produk tercipta karena adanya hubungan kerjasama antar pelaku pemasaran. Salah satunya antara supplier dengan ritel modern. Hubungan kerjasama membentuk jaringan nilai bagi supplier dengan ritel modern untuk menjadi titik kunci membangun hubungan jangka panjang untuk terus meningkatkan kualitas produk dan jasa. Terutama ritel modern yang berkembang dengan pesat memiliki harapan mendapatkan keuntungan yang lebih dan memberikan image lebih kepada konsumen dengan meningkatkan kualitas produk dan penggunaan private label. Pada akhirnya, sikap konsumen yang mampu mengevaluasi seluruh atribut produk sesuai dengan kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kualitas brokoli organik dan penggunaan private label pada brokoli organik dalam jaringan nilai antara supplier dengan ritel modern dengan menggunakan Value Network Mapping yang dikaitkan dengan sikap konsumen dalam menilai kualitas dan private label yang diterapkan menggunakan model multiatribut Fishbein. Penelitian dilaksanakan di Lotte Mart Festival City Link Bandung. Desain penelitian adalah kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari analisis jaringan nilai adalah kerjasama yang dilakukan oleh Lotte Mart dengan Bimandiri sudah berjalan baik kurang lebih 6 tahun. Persepsi antara kedua belah pihak sudah tercipta dengan baik mulai dari penerapan kualitas brokoli organik dan label L Choice dan Everydayfresh. Hasil dari analisis multiatribut Fishbein, 14 atribut brokoli yang diuji yaitu ukuran, bentuk, warna, kemulusan, kesegaran, kerenyahan, daya tahan, cita rasa, kandungan nutrisi, keamanan produk, harga jual, presentasi, promosi dan kemenarikan kemasan. Terdapat 3 nilai atribut tertinggi yang telah sesuai dengan harapan pada tingkat evaluasi konsumen brokoli organik yaitu kemulusan, warna dan keamanan produk sedangkan pada brokoli non organik yaitu kesegaran, kerenyahan dan harga jual.
Deskripsi Kegiatan Disertai Identifikasi Potensi dan Kendala Kelompok Tani dalam Usahatani Mangga (Studi Kasus di Kelompok Tani Datar Indah dan Samoja) Elly Rasmikayati; Endah Djuwendah; Gema Wibawa Mukti; Bobby Rachmat Saefudin; Fitriana Wati
Agri Wiralodra Vol. 13 No. 1 (2021): Agri Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/agriwiralodra.v13i1.15

Abstract

Kelompok tani merupakan sebuah lembaga yang memiliki fungsi untuk memfasilitasi petani dalam melakukan kegiatan agribisnis dari hulu hingga hilir. Namun pada kenyataannya, harapan mengenai fungsi kelompok tani belum sepenuhnya terwujud. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan kegiatan kelompok tani dalam menjalankan fungsinya pada usahatani mangga di Kecamatan Sedong; dan 2) Mengidentifikasi apa saja potensi dan kendala yang dihadapi oleh kelompok tani dalam kegiatan usahatani mangga. Penelitian ini dilakukan di dua kelompok tani yang berbeda di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon yaitu Kelompok Tani Datar Indah dan Kelompok Tani Samoja dengan total responden sebanyak 45 responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan, pada kelompok tani Datar Indah dalam satu tahun terdapat 15 kegiatan yang dilakukan bersama, terdiri dari pertemuan anggota, penyuluhan, dan penyaluran bantuan. Namun sebanyak 70% anggota hanya mengikuti kegiatan sebanyak 6-10 kali dalam satu tahun. Sedangkan kelompok tani Samoja mengadakan kegiatan yang sama dengan poktan Datar Indah dengan jumlah rata-rata 10 kali dalam satu tahun di mana hampir 60% anggotanya mengikuti sebanyak 4-6 kali dalam satu tahun. Sementara itu, potensi yang dimiliki oleh kedua kelompok tani adalah peningkatan daya tawar petani, mempercepat pemecahan masalah, dan pengenalan teknologi baru. Sedangkan kendala yang dialami oleh kelompok tani berupa kurangnya motivasi petani, kurangnya kesadaran akan peran kelompok tani, kesibukan petani, dan kurangnya tenaga penyuluh.
PEMBELIAN MINUMAN KOPI ONLINE DI MASA PANDEMI COVID 19 Yosini Deliana; Gema Wibawa Mukti; Lucyana Trimo
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 8, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v8i2.8011

Abstract

Recently people used to get leisure time by dringking coffeee in coffee shop. The habit become their lifestyle now, especially from youth generation in big city such as Jakarta and Bandung.  Along with the times, coffee shop also change its function, not only for leisure but also for social interaction, a gathering place for young people, the confortable place  for meeting, the best place for breakfast  (Solikatun et al. 2015).  The habit of drinking coffeee has continued during Covid-19, so the consumer change behaviour from off line to on line. The coffee shop categorized as good, medium and poor coffee shops based on the variety of coffeee beverage, the number of visitors, taste, price of coffeee beverage and the brand of coffee shop. The objective of this research were to analyze (1) the selection of coffee shop based on consumer criteria, (2) consumers’s reason for online shopping, (3) the relationsip between experiential marketing and consumer loyalty. This research was conducted online in Bandung Januari 2021. The results of this research are considered by coffee shop in running their business online.
Sosialisasi Preferensi Dan Segmentasi Produk Olahan Mangga Kepada Pelaku Pengolahan Mangga Dalam Meningkatkan Nilai Usaha Elly Rasmikayati; Rani Andriani Budi Kusumo; Gema Wibawa Mukti; Bobby Rachmat Saefudin
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 2.1 Desember (2022): SPECIAL ISSUE
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.348 KB)

Abstract

  Harga mangga indonesia cenderung rendah dan ketersediaan mangga yang berfluktuatif akibat panen mangga yang musiman, sehingga untuk meningkatkan harga dan ketersediaan maka perlu adanya pengolahan mangga.  Di Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terdapat  banyak UMKM penjual produk olahan mangga yang sesuai untuk mendapatkan sosialisasi preferensi dan segmentasi konsumen produk agar memperoleh informasi untuk mengembangkan usaha serta mendapatkan input untuk mengembangkan bisnis sesuai preferensi dan segmentasi konsumennya sehingga diharapkan terjadi peningkatan nilai usaha pada bisnis mereka. Makalah ini menggambarkan profil UMKM pengolahan mangga di Desa Cikeruh, mengambarkan metode dan proses jalannya kegiatan pengabdian serta menganalisis hasil evaluasi dari pelaksanaan kegiatan pengabdian. Kegiatan PPM ini diikuti oleh 10 peserta UMKM pengolahan mangga. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan sosialisasi segmentasi dan preferensi konsumen kepada penjual produk olahan mangga. Berdasarkan Hasil uji beda Wilcoxon Signed-rank menunjukkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% terdapat peningkatan yang signifikan dalam hal pengetahuan para pelaku UMKM mangga mengenai segmentasi dan preferensi konsumen mangga dari sebelum dilakukan kegiatan sosialisasi dan setelahnya. Sementara untuk variabel pendapatan, hanya nilai bisnis saja yang mengalami peningkatan yang signifikan.
MIGRASI DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI Rani Andriani Budi Kusumo; Gema Wibawa Mukti; Anne Charina
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 9, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v9i1.9149

Abstract

Farmer’s households often carry out migration activities as a form of livelihood strategy. The remittances generated are expected to impact improving the welfare of farmer households. This study aimed to analyze changes in the welfare of farmer households due to the migration carried out. This study uses panel data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) wave 4 (in 2007) and wave 5 (in 2014). The unit of analysis of this study is a farmer’s household in West Java Province, whose one or all of their family members migrated between 2007-2014. Data were analyzed using descriptive statistics to see changes in welfare levels before and after migration. The results showed that the migration carried out by farmers impacted changes in the level of welfare both objectively and subjectively. The increase in asset ownership and respondents' perceptions of welfare indicators tend to be higher after they migrate. Assistance to migrant households needs to be carried out so that the remittances produced can be used optimally to improve household welfare.
EKOSISTEM KEWIRAUSAHAAN DAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL : SEBUAH PENELUSURAN LITERATUR UNTUK MEMAHAMI PERBEDAAN DAN PERSAMAAN KONSEP Gema Wibawa Mukti; Rani Andriani Budi Kusumo; Iwan Setiawan
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 9, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v9i1.9278

Abstract

The concept of entrepreneurial ecosystem has an impact on social enterprises carried out by their actors, on the other hand, social entrepreneurs also influence the performance of the entrepreneurial ecosystem, encouraging the growth of new businesses that will also indirectly grow the entrepreneurial ecosystem in a region. This research focuses on seeing how the ecosystems of entrepreneurship and entrepreneurship complement each other or perhaps weaken each other. The entrepreneurial ecosystem has an important role in the development of social entrepreneurship, and vice versa, that social entrepreneurship can influence the development of an entrepreneurial ecosystem. The concept of the entrepreneurial ecosystem and social entrepreneurship has a positive feedback effect, strengthening each other, but not affecting each other linearly. Research opportunities regarding the ecosystem of entrepreneurship and social entrepreneurship are the development of methodologies to analyze a system more comprehensively. Qualitative methods in our opinion are suitable to be used to look at various relationships in a system such as this entrepreneurial ecosystem. Data and information obtained from qualitative techniques make it easier for researchers to understand the diverse characteristics of an entrepreneurial ecosystem, understanding the various dynamics that occur within them. Despite the differences, in principle, these two concepts appear to contribute positively to economic development and improve the welfare of the community.