Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran tingkat kesadaran diri tentang penyakit kanker pada masyarakat Amalia, Sabrina Nur; Purba, Chandra Isabella Hostanida; Rahayu, Urip
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.832

Abstract

Background: Cancer is a disease that is the leading cause of death on a world scale and by 2022 will reach 19 million cases. Cancer in Indonesia reached 408,661 cases in 2022 with a death rate of 242,988 cases. The most important disease prevention is to foster self-awareness. Self-awareness is the key to change in one's life in carrying out healthier behavior. Purpose: To determine the level of self-awareness about cancer in the community. Method: A quantitative descriptive study was conducted on residents in Jatinangor District to determine the level of self-awareness about cancer. The sampling technique used was proportional random sampling and from 12 villages in Jatinangor District, 3 villages were selected as research locations, namely Sayang Village, Cileles Village, and Cintamulya Village. The sample inclusion criteria were residents who lived locally with age ≥ 18 years. The instrument in this study was the Cancer Awareness Measure (CAM) questionnaire consisting of 6 domains and 47 question items. Data were analyzed using univariate analysis. Results: There were 53.6% of respondents who had low self-awareness of cancer and from the 6 domains, 3 domains including awareness of the most at-risk age, the highest incidence of cancer, and cancer screening programs were in the low self-awareness category. Conclusion: Conclusion: The level of self-awareness of cancer in the community is still relatively low and is often found in respondents with female gender characteristics, age range 26-35 years, unemployed, last education level elementary school, and no history of cancer in the family. Suggestion: Further research can examine the factors that influence the low level of self-awareness of cancer.   Keywords: Cancer; Self-Awareness; Society.   Pendahuluan: Kanker adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian dalam skala dunia dan pada tahun 2022 mencapai 19 juta kasus. Penyakit kanker di Indonesia mencapai 408.661 kasus pada tahun 2022 dengan angka kematian sebanyak 242.988 kasus. Pencegahan penyakit yang paling penting adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri. Kesadaran diri merupakan kunci perubahan dalam hidup seseorang dalam melakukan perilaku lebih sehat. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat kesadaran diri tentang penyakit kanker pada masyarakat. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada penduduk di Kecamatan Jatinangor untuk mengetahui gambaran tingkat kesadaran diri tentang penyakit kanker. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yakni proporsional random sampling dan dari 12 desa di Kecamatan Jatinangor, terpilih 3 desa sebagai lokasi penelitian diantaranya Desa Sayang, Desa Cileles, dan Desa Cintamulya. Kriteria inklusi sampel adalah penduduk yang berdomisili setempat dengan usia ≥ 18 tahun. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner Cancer Awareness Measure (CAM) terdiri dari 6 domain dan 47 item pertanyaan. Data dianalisis menggunakan univariate. Hasil: Terdapat sebanyak 53.6% responden memiliki kesadaran diri yang kurang terhadap penyakit kanker dan dari 6 domain, 3 domain diantaranya kesadaran terhadap usia paling berisiko, insidensi kanker terbanyak, dan program skrining kanker berada pada kategori kesadaran diri rendah. Simpulan: Tingkat kesadaran diri terhadap kanker pada masyarakat masih tergolong rendah dan banyak ditemukan pada responden dengan karakteristik berjenis kelamin perempuan, rentang usia 26-35 tahun, tidak bekerja, tingkat pendidikan terakhir sekolah dasar, dan tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga. Saran: Penelitian selanjutnya dapat meneliti terkait faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat kesadaran diri terhadap penyakit kanker.   Kata Kunci: Kanker; Kesadaran Diri; Masyarakat.
Resiliensi perawat rawat inap, instalasi gawat darurat, dan intensive care unit Wadhanti, Dewa Ayu Puspa; Rahayu, Urip; Yulianita, Henny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.845

Abstract

Background: Nurses are among the most vulnerable professions to stress. Workload and work environment are among the primary causes of stress for nurses in various care units. This not only affects their well-being but also impacts the quality of care provided to patients. Resilience helps nurses adapt, endure, and recover from challenging and high-pressure situations. High resilience can enhance job satisfaction and reduce the negative effects of work-related stress. V    Purpose: To identify the resilience of inpatient, emergency department (ED), and intensive care unit (ICU) nurses in carrying out their daily duties. Method: A descriptive quantitative design with the nursing population at RSUD Umar Wirahadikusumah. The sampling technique used is disproportionate stratified sampling, with a total sample consisting of 38 Emergency Department (ED) nurses, 31 Intensive Care Unit (ICU) nurses, and 144 inpatient ward nurses. The study utilizes the Connor Davidson Resilience Scale (CD RISC-25) in the Indonesian language. Data analysis is conducted using univariate analysis. Results: This study shows that less than half of the nurses working in the inpatient, emergency department (ED), and intensive care unit (ICU) have moderate resilience (43.7%), while 31.5% have low resilience, and only a small percentage (24.9%) demonstrate high resilience. The lowest resilience aspect among inpatient, emergency department (ED), and ICU nurses is the coping aspect. Conclusion: Most nurses in the inpatient unit, emergency department (ED), and ICU have a moderate to low level of resilience, with coping being the lowest resilience aspect.   Keywords: Emergency Department; Intensive Care Unit (ICU); Inpatient Unit; Nurse; Resilience.   Pendahuluan: Perawat merupakan profesi yang paling rentan terhadap stres. Beban kerja dan lingkungan kerja menjadi salah satu penyebab utama stres bagi perawat di berbagai unit perawatan. Hal ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien. Resiliensi membantu perawat untuk beradaptasi, bertahan, serta bangkit dari situasi sulit dan penuh tekanan. Resiliensi yang tinggi dapat meningkatkan kepuasan kerja dan mengurangi berbagai dampak negatif akibat stres kerja. Tujuan: Untuk mengidentifikasi resiliensi perawat rawat inap, instalasi gawat darurat, dan intensive care unit. Metode: Penelitian desain deskriptif kuantitatif dengan populasi perawat di RSUD Umar Wirahadikusumah. Teknik sampling yang dilakukan adalah disproportionate stratified sampling dengan sampel penelitian, yaitu 144 perawat rawat inap, 38 perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan 31 perawat Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini menggunakan instrumen Connor Davidson Resilience Scale (CD RISC-25) berbahasa Indonesia. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kurang dari setengah perawat yang bekerja di rawat inap, IGD, dan ICU secara keseluruhan memiliki resiliensi sedang (43.7%), setengah lainnya memiliki resiliensi rendah (31.5%), dan hanya sebagian kecil memiliki resiliensi tinggi (24.9%). Aspek resiliensi terendah pada perawat rawat inap, IGD, dan ICU adalah aspek koping. Simpulan: Sebagian besar perawat di rawat inap, IGD, dan ICU memiliki tingkat resiliensi yang tergolong sedang hingga rendah dengan aspek resiliensi terendah adalah koping.   Kata Kunci: Instalasi Gawat Darurat; Intensive Care Unit (ICU); Perawat; Rawat Inap; Resiliensi.
AROMATERAPI LAVENDER UNTUK MENGATASI NYERI PADA PASIEN DENGAN POST OPERASI OPEN FRACTURE CALCANEUS SINISTRA: STUDI KASUS Khairunnisa, Chandra Kirana; Rahayu, Urip; Pratiwi, Sri Hartati
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 3 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Maret 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i3.2356

Abstract

Calcaneus merupakan tulang tarsal terbesar dan berfungsi untuk menopang tubuh. Fraktur calcaneus merupakan kejadian yang jarang terjadi sekitar 1-2% dari seluruh fraktur. Fraktur perlu ditangani segera, salah satunya dengan pembedahan yang dapat menimbulkan nyeri setelahnya. Manajemen nyeri yang dapat dilakukan salah satunya yaitu dengan aromaterapi lavender. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan teknik relaksasi aromaterapi lavender dalam mengurangi nyeri pada pasien post operasi open fracture calcaneus sinistra. Metode penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif kualitatif dengan single case design pada pasien post operasi open fracture calcaneus sinistra dan diberikan intervensi teknik relaksasi aromaterapi lavender, kemudian dilakukan evaluasi skala nyeri menggunakan Numeric Pain Scale. Hasil penelitian ini yaitu setelah diberikan intervensi menggunakan terapi relaksasi aromaterapi lavender yang disertai dengan analgesik terdapat penurunan skala nyeri pada pasien dari skala 5 menjadi 3. Kesimpulan studi kasus ini menunjukan bahwa pemberian teknik relaksasi aromaterapi lavender yang disertai analgesic mudah digunakan serta dapat menurunkan skala nyeri pada pasien post operasi open fracture calcaneus sinistra.
Kebutuhan Discharge Planning Pascaoperasi Pada Pasien Fraktur Ekstremitras Bawah islami, asmi dinul; Rahayu, Urip; Aditya, Bambang
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.266 KB) | DOI: 10.33867/jka.v6i1.106

Abstract

Post-surgery fracture patients have discharge planning needs that must be completed, among others are pain management, aids, nutrition, medication, wound treatment, and control time. Fracture patients are prone and have a high risk to infection, complication and length of hospitalization, so that post-surgery patients need comprehensive information related to discharge planning needs. This research is aimed to describe the need of discharge planning on patients with lower extremity fracture in Marjan Atas Room dr. Slamet Garut Hospital. The methodology used in this research is descriptive quantitative. The population of this research is the post-surgery patients with lower extremity fracture, the sample of this research is 30 respondents gained by using total sampling technique. The data of the research is gained with Instrument made by the researcher based on Potter & Perry theory. The instrument contains 28 questions with measurement scale: strongly needed and less needed. The research data was analyzed using frequency distribution based on question items at each sub variable. The results showed that most of the post-surgery discharge planning needs with the mostly need category is of 60% based on sub variables of nutrition, medication, mobilization, wound treatment, pain management, and aids. The sub variable that is less needed is control time. From the research above, it can be concluded that the need for post-surgery discharge planning for fracture is nutrition, medication, mobilization, treatment care, pain management, and aids. It is suggested that the patient need and be give nutrition officer, pharmacist or nurse to explain patient care at home using leaflet media.
Kecemasan Preoperasi pada Pasien di Unit One Day Surgery(ODS) Usnadi, Udi; Rahayu, Urip; Praptiwi, Atlastieka
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.167 KB) | DOI: 10.33867/jka.v6i1.113

Abstract

ODS (One Day Surgery) service is an innovation in surgical treatment in recent decades and is claimed to have many advantages. However, increased use of anesthetic drugs, pain management during postoperative, increased length of recovery or hospitalization, increased risk of infection and increased costs are complications that can result from poorly managed preoperative anxiety. This study aimed to identify anxiety preoperative ODS patients in Dr. Hasan Sadikin Bandung. This research used quantitative descriptive design with sample of 60 patients recruited by purposive sampling technique. Data collection used Spielberger State-Trait Anxiety Inventory (STAI: Y-6) instrument and APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale) are valid and reliable. Data analysis used descriptive statistics. The results showed that all respondents experienced preoperative anxiety with mean 53,94 (SD ± 9,38). Based on the source of preoperative anxiety, the preoperative anxiety picture associated with the mean operating procedure 5.65 (SD ± 1.94), anxiety concerning the mean anesthesia procedure of 5.37 (SD ± 1.83) and the anxiety associated with the need to obtain the mean information of 7.43 (SD ± 1.98). It can be concluded that all preoperative patients in ODS experience preoperative anxiety in relation to the need for information. It is recommended that hospitals improved the quality of providing information to patients and families by involving interdisciplinary teams, thereby improved the overall quality of ODS services and improved patient and family satisfaction. Keywords: Anxiety, One Day Surgery (ODS), Preoperative.
Gambaran Tingkat Kecemasan Preoperative Pada Pasien Dengan Fraktur Margianti, Dina; Rahayu, Urip; Pebrianti, Sandra
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.778 KB) | DOI: 10.33867/jka.v6i1.114

Abstract

Fraktur adalah kerusakan pada kontinuitas tulang, penanganannya dengan operasi yang dapat menimbulkan kecemasan. Ketika pasien mengalami kecemasan maka akan mengalami gangguan pada beberapa sistem tubuh diantaranya tekanan darah meningkat, gelisah dan sulit tidur. Jika hal tersebut terjadi ketika menjelang operasi dapat menyebabkan kegagalan operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan preoperative pada pasien fraktur di Ruang Marjan Atas RSUD dr. Slamet Garut. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien preoperative dengan fraktur dengan jumlah sampel sebanyak 32 responden, dengan teknik total sampling. Data diambil dengan menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan diolah dengan menggunakan software komputer, kemudian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan (65,6%). Kecemasan ringan terjadi pada orang yang baru pertama kali melakukan operasi karena ketakutan dan kurangnya pengetahuan, sedangkan pasien yang tidak cemas sudah mempunyai pengalaman operasi sebelumnya dan ketakutan menjadi berkurang. Simpulannya adalah tingkat kecemasan pada pasien preoperative dengan fraktur di Ruang Marjan Atas RSUD dr. Slamet Garut mayoritas cemas ringan. Dapat disarankan intervensi preoperative teaching kepada pasien sehingga dapat meminimalisir terjadinya kecemasan preoperative.
KARAKTERISTIK PASIEN FRAKTUR EKSTERMITAS BAWAH: KARAKTERISTIK PASIEN FRAKTUR EKSTERMITAS BAWAH Platini, Hesti; Chaidir, Rizal; Rahayu, Urip
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.473 KB) | DOI: 10.33867/jka.v7i1.166

Abstract

Fraktur merupakan salah satu penyebab cacat diantaranya akibat kecelakaan. Fraktur ekstremitas bawah sering terjadi terkait dengan morbiditas yang cukup besar dan meenyebabkan perawatan panjang di rumah sakit. Gangguan akibat fraktur berdampak pada toleransi aktivitas sehingga mengurangi produktivitas. Selama ini karakteristik penderita fraktur ektermitas bawah belum diketahui, sehingga jika tidak dilakukan tidak dapat diketahui pencegahan resiko fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien fraktur ektermitas bawah. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan observasional. Tekhnik sampling yang digunakan yaitu total sampling, sehingga didapatkan responden sebanyak 40 orang. Analisa hasil yaitu menggunakan analisis statistik distribusi frekeunsi. Hasil dari penelitian ini yaitu semua responden berjenis kelamin laki-laki (100%), sebagian besar responden berusia 36-45 (42,5%), untuk jenis fraktur sebagian besar yaitu fraktur terbuka sebanyak 25 (62,5%) dan lokasi fraktur terbanyak yaitu pada tibia sebanyak 26 responden (62,5%). Fraktur dapat mempengaruhi produktivitas penderita akibat adanya gangguan ektermitas akibat cedera yang menganggu fungsi tubuh. Dengan mengetahui karakteristik pasien fraktur ektermitas bawah, maka perawat dapat melakukan intervensi keperawatan yang sesuai. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor resiko yang mempengaruhi fraktur ektermitas bawah yang dikaitkan dengan karakteristik
The Use of the Pressure Ulcer Scale for Healing (Push) in Patients with Pressure Ulcers and Multimorbidity: A Case Study Aulia, Syifa Nurul; Harun, Hasniatisari; Rahayu, Urip
Journal of Nursing Care Vol 8, No 3 (2025): Journal of Nursing care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i3.64761

Abstract

Pressure ulcers are a complication that becomes more complex when experienced by patients with multimorbidity such as Congestive Heart Failure (CHF), Chronic Kidney Disease (CKD), and thrombocytopenia. These conditions can lead to prolonged healing, high risk of infection, systemic complications, and even death. Interventions must be accompanied by appropriate tools to evaluate wound healing optimally. The Pressure Ulcer Scale for Healing (PUSH) is a tool for accurately, practically, and simply assessing the progression of pressure ulcers. However, its use for evaluating pressure ulcers remains limited. The objective to describe the use of PUSH in patients with pressure ulcers and multimorbidity. Method: This study used a case study design involving a 56-year-old patient with a grade III pressure ulcer on the buttocks measuring 121.5 cm2 with granulation tissue, minimal necrosis tissue, pus, and active bleeding. Wound progression was evaluated using PUSH over 4 days during wound care. The results that the PUSH score increased to 16 with a wound size of 150 cm2 moderate exudate, and extensive necrosis tissue. This indicates that the wound condition has not improved, prompting an evaluation of the wound care and factors hindering wound healing. Although PUSH aids clinical decision-making, it has limitations in assessing wound depth and systemic conditions as it only evaluates three parameters. The PUSH instrument is a simple and efficient tool for monitoring the healing of pressure ulcers and has the potential to indicate changes in wound condition as a result of an intervention, thereby aiding clinical decision-making. PUSH is recommended for routine use in clinical practice, while continuing to evaluate systemic conditions comprehensively and involving a multidisciplinary team.
Gambaran Kualitas Tidur Korban Bencana Gempa Bumi Cianjur Gumelar, Heru Gugum; Rahayu, Urip; Pebrianti, Sandra
Medical-Surgical Journal of Nursing Research Vol. 4 No. 2 (2025): (in collaboration with STIKep PPNI Jawa Barat) Medical-Surgical Journal of Nurs
Publisher : Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI) Regional Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70331/jpkmb.v4i2.61

Abstract

Latar Belakang : Bencana gempa bumi di Cianjur menjadi kejadian bencana yang traumatik bagi korban sehingga dapat menimbulkan dampak psikologis, yaitu gangguan kualitas tidur. Terganggunya kualitas tidur dapat mengganggu aktivitas di siang hari dan mengakibatkan penurunan kesehatan individu. Metode : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur korban bencana gempa bumi di Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 154 orang korban bencana gempa bumi di wilayah Desa Mangunkerta, Cianjur. Sampel yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kusioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis univariat digunakan dengan hasil distribusi dan frekuensi. Hasil didapat bahwa korban bencana gempa bumi di Desa Mangunkerta, Cianjur memiliki kualitas tidur dalam kategori buruk (65,7%). Global PSQI rata-rata 8,17 dengan dimensi tidur yang paling berkontribusi dalam masalah ini adalah dimensi gangguan tidur yang dialami satu atau dua kali dalam seminggu. Adapun pada dimensi tidur lainnya, yaitu kualitas tidur subjektif dengan responden merasa kualitas tidur yang sangat baik, latensi tidur dengan tidak dapat tertidur dalam waktu 30 menit kurang dari sekali dalam seminggu, durasi tidur selama 6-7 jam setiap harinya, efisiensi tidur 74-84%, rata-rata responden mengkonsumsi obat kurang dari sekali dalam seminggu, dan sering terjadi disfungsi siang hari. Kesimpulan : gambaran kualitas tidur pada korban bencana gempa bumi Cianjur di Desa Mangunkerta dalam kategori buruk. Penelitian selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai hal yang dapat mengatasi gangguan pada tidur yang dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur korban bencana.
Application of Virgin Coconut Oil (VCO) Massage and Repositioning in Decubitus Ulcers of Patients with Multiple Complications: A Case Study Yasmine, Hanna Alya; Rahayu, Urip; Pahria, Tuti
Journal of Nursing Care Vol 9, No 1 (2026): Journal of Nursing care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v9i1.64868

Abstract

Patients with peritoneal abscesses who are immobilized are at risk of decubitus ulcer. Various complications in patients such as malnutrition and anaemia in patients cause a decrease in body immunity, causing a high risk of decubitus ulcers and difficulty in wound healing. Massage using Virgin Coconut Oil (VCO) and repositioning are combined interventions to reduce the risk and healing of decubitus ulcers. The study aims to determine the results of massage using VCO and repositioning patients with decubitus ulcers in healing and efforts to prevent decubitus ulcer effectively. The study is a case report of the application of massage using VCO and repositioning in a patient with decubitus ulcer with intraperitoneal abscess, pneumonia, malnutrition, and anaemia at Sumedang Regional Hospital. The patient is a 33-year-old woman with grade 2 decubitus ulcers in the sacrum area which appeared red, serum, skin peeling, and shallow holes. The patient was selected for treatment due to the decubitus ulcers, high risk of decubitus ulcers, and the absence of any interventions. Massage with VCO and repositioning were performed twice daily for 6 days. The interventions were carried out consistently by researchers, nurses, patients, and their families. There were a decrease in degree 2 to degree 1 in the patient’s sacrum decubitus ulcers after massage using VCO and repositioning.
Co-Authors Abdul Rahman Adi Nur Cahyono Aditya, Bambang Afrilia, Ghea Ali Shodiqin Amalia, Sabrina Nur Amelia Hayati Anita Setyawati Arhustia, Hesti Dina Arifin, Hidayat Asep Robby Asep Robby, Asep Asri Nurkarimah Atlastieka Praptiwi Aulia, Syifa Nurul Ayuningsih, Risna Azwadina, Aliffa Azzahra, Syafa Bambang Aditya Nugraha Cahyani, Eka Maulidya Cahyo Nugroho, Cahyo Cecep Eli Kosasih Chandra Isabella Hostanida Purba Cindy Puspita Sari David Firmansyah Dedi Kurnia Dendy Kharisna Ermiati Ermiati Ermiati Ermiati Etika Emaliyawati Fazriyyah, Yuni Fuji Frana Andrianur Gumelar, Heru Gugum Harun, Hasniatisari Hasniatisari Harun Helwiyah Ropi Helwiyah Ropi Heri Budiawan Hesti Platini Hikmat, Rohman Inriyana, Ria islami, asmi dinul Iwan Shalahuddin Kafil, Raisa Farida Khairunnisa, Chandra Kirana Kosasih, Cecp E. Kurniawan Yudianto Kusman Ibrahim Laili Rahayuwati Leni Handayani M De Is Rizal Chaidir M De Is Rizal Chaidir, M De Is Rizal Margianti, Dina Maria komariah Mawar Eka Putri Merdekawati, Rahayu Muhtarom Mulyana, Aep Maulid Mulyono Mulyono Mustari Aji, Nandang Nur Oktavia Hidayati Nuraeni, Fauziah Nurkarimah, Asri Nurohmah, Indah Syaidah Putri, Mawar Eka Putri, Nabila Aulia Ramdhani, Muhammad Zaky Restuning Widiasih Risgian Putra, Juli Riskyani, Umy Rizal Chaidir, Rizal Rusmana, Hera Prafitri Safitri, Dewin Sally Syamima Sandra Pebrianti Septiany, Maulidya Seviya Gani Maisyaroh Siti Noor Sya'fa Siti Nurjanah Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Siti Yuyun Rahayu Fitri Sri Hartati Pratiwi Titin Sutini Titis Kurniawan Tuti Pahria Usnadi, Udi Wadhanti, Dewa Ayu Puspa Yanti Hermayanti Yasmine, Hanna Alya Yulianita, Henny Yuriszkah, Duti Yusshy Kurnia Herliani Yusshy Kurnia Herliani, Yusshy Kurnia Zahra Siti Hanifah