Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hubungan Maternal Dietary Diversity terhadap Minimum Acceptance Diet pada Anak dalam Pencegahan Stunting: Systematic Review: Hubungan Maternal Dietary Diversity terhadap Minimum Acceptance Diet pada Anak dalam Pencegahan Gizi Buruk di Negara Berkembang: Systematic Review Atmaka, Dominikus Raditya; Wulandari, Fatqiatul; Dhorta, Nandia Firsty; Rachmah, Qonita; Setyaningtyas, Stefania Widya; Rifqi, Mahmud Aditya; Diana, Rian; Fitria, Anisa Lailatul; Pratiwi, Azizah Ajeng; Simangunsong, Tiara Tivany; Haryana, Nila Reswari; Nastiti, Aliffah Nurria; Agustin, Asri Meidyah
Amerta Nutrition Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v8i1.2024.161-170

Abstract

Background: The MAD in children has an important role in preventing the risk of undernutrition. MAD in children is often associated with MDD in mothers because the mother's consumption pattern continues to feed the child who is born. Objectives: This systematic review aims to examine the relationship between MDD in mothers and MAD in children, and its role in undernutrition prevention. Methods: Articles were selected using the PRISMA method. Articles were obtained from Sciencedirect, Medline, and Embase in the 2017-2022 timeframe without data restrictions. The vocabulary used in the search is "Maternal Dietary Diversity" and "Minimum Acceptable Diet", and undernutrition, and only researched articles in English. Table matriculation was carried out to obtain an overview of the relationship between MDD in mothers and children's MAD in undernutrition prevention. Discussion: Research from 7 selected studies was conducted in five developing countries with high levels of food insecurity. Samples were obtained of 167 to 10,291 children aged 6-59.9 months. Six studies indicate the level of food insecurity in the area studied. Four of the seven studies showed significant results between MDD in mothers with MAD and undernutrition in children. Conclusions: Maternal MDD has a significant role in MAD in children and can be one of the factors that influence undernutrition, especially in developing countries which are highly food insecure.
RELATIONSHIP OF ULTRA-PROCESSED FOOD CONSUMPTION AND PHYSICAL ACTIVITY WITH OVER-NUTRITION STATUS AMONG STUDENTS AT SMAN 1 JEMBER Daniswara, Carissa Fawwaz; Andrias, Dini Ririn; Rifqi , Mahmud Aditya; Nirmala, Intan Ria
HEARTY Vol 14 No 1 (2026): FEBARURI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i1.21119

Abstract

Over-nutrition among Indonesian adolescents has increased significantly over the past decade. High consumption of ultra-processed foods (UPFs) and low physical activity are the primary contributing risk factors. Adolescents are particularly vulnerable to changes in dietary patterns and lifestyle that may affect long-term health outcomes. This study aimed to analyze the relationship between UPF consumption and physical activity with over-nutrition status among students at SMAN 1 Jember. A cross-sectional design was employed involving 89 students from grades X and XI, selected through purposive sampling. Data were collected using the SQ-FFQ and IPAQ. Nutritional status was determined based on BMI-for-age, following the standards of the Indonesian Ministry of Health. Statistical analysis was conducted using the chi-square test with a significance level of p<0.05. The results showed that the majority of respondents were not over-nutrition (76.4%), while 14.6% were classified as over-nutrition. A significant association was found between the frequency of UPF consumption and over-nutrition status (p=0.001). However, no significant association was observed between physical activity and over-nutrition status (p=0.797). These findings add evidence for further research on high UPF consumption on increased risk of over-nutrition in adolescents. In contrast, physical activity did not show a significant association, possibly due to the presence of other contributing factors.
Hubungan antara Durasi Tidur, Tingkat Stres dan Asupan Energi dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada Mahasiswa Baru 2020/2021 FKM UNAIR Ketut Herlin Simanoah; Lailatul Muniroh; Mahmud Aditya Rifqi
Media Gizi Kesmas Vol 11 No 1 (2022): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2022)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v11i1.2022.218-224

Abstract

Latar Belakang: Kelompok usia remaja menuju dewasa awal berisiko mengalami masalah gizi seperti kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas. Penyebab overweight dan obesitas sangat beragam, beberapa faktor diantaranya yaitu durasi tidur, stres dan asupan energi. Durasi tidur dan stres berkaitan dengan perubahan hormonal yang mempengaruhi nafsu makan. Asupan energi merupakan jumlah akumulasi dari metabolisme zat gizi seperti karbohidrat, lemak dan protein yang dapat digunakan sebagai sumber energi dan disimpan sebagai lemak jika jumlahnya melebihi kebutuhan.Tujuan: Menganalisis hubungan antara durasi tidur, tingkat stres dan asupan energi dengan IMT pada mahasiswa baru 2020/2021 FKM UNAIR.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan sampel penelitian 55 mahasiswa baru FKM UNAIR tahun ajaran 2020/2021. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kueisioner karakteristik responden, jumlah durasi tidur, PSS dan SQFFQ secara online melalui google form pada setiap individu yang terpilih.Hasil: Adanya hubungan antara durasi tidur dengan IMT (p= 0,011) dan tidak ada hubungan antara tingkat stres (p= 0,136) dan asupan energi (p = 0,670) dengan IMT pada mahasiswa baru.Kesimpulan: Durasi tidur yang kurang dari rekomedasi dapat meningkatkan resiko kelebihan berat badan. Oleh karena itu, pencegahan resiko kelebihan berat badan menurut IMT dapat dilakukan dengan menerapkan hidup sehat seperti mencukupi kebutuhan waktu tidur harian. Kata kunci: Durasi Tidur, Stres, Energi, IMT
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia Berdasarkan Analisa Data Sekunder SDKI Tahun 2017 Noki Rieke Diah Ayu Yuwana; Trias Mahmudiono; Mahmud Aditya Rifqi
Media Gizi Kesmas Vol 11 No 2 (2022): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2022)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v11i2.2022.451-457

Abstract

Latar Belakang: Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan penyebab utama angka kematian neonatal di Indonesia yang tergolong tinggi yaitu 15/1000 kelahiran hidup. Beberapa provinsi di Indonesia belum memenuhi target nasional untuk BBLR yang didominasi oleh provinsi dengan mayoritas wilayah perdesaan. Kejadian BBLR berhubungan dengan banyak faktor risiko baik dari karakteristik ibu, bayi dan sosio-demografi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan BBLR di Indonesia.Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dengan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017. Jumlah responden yaitu 13.473 wanita berusia 15-49 tahun yang melahirkan dalam 5 tahun sebelum survei dan memenuhi semua variabel penelitian. Analisis yang dilakukan meliputi analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden serta uji regresi logistik dan chi-square  untuk menentukan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian BBLR.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR yaitu pendidikan ibu (OR=1,3; 95%CI=1,16-1,53; p<0,01), frekuensi kunjungan antenatal/K4 (OR=1,59; 95%CI=1,25-2,02;p<0,01) dan tempat tinggal (OR=0,86; 95%CI=0,75-0,99;p=0,03). Akan tetapi hasil tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara usia ibu, paritas, jarak kehamilan, jenis kelamin bayi, pekerjaan ibu dan kunjungan antenatal pertama/K1.Kesimpulan: Pendidikan ibu, K4 dan tempat tinggal berhubungan dengan kejadian BBLR di Indonesia sehingga diperlukan program untuk memperbaiki pelayanan antenatal terutama pada ibu yang tergolong pendidikan rendah pada wilayah pedesaan.