Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Sosialisasi dan Pendampingan Lesson Study di SMAN 2 Kotabumi: Menuju Peningkatan Profesionalisme Guru Purna Bayu Nugroho; Rulik Setiani; Dewi Ratnaningsih; Elis Susanti; Ratih Handayani; Darwanto; Asep Hardiyanto
Pengabdian Kepada Masyarakat Cendekia Vol. 3 No. 2 (2024): Pengabdian Kepada Masyarakat Cendekia
Publisher : Sentra Kekayaan Intelektual dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lesson Study is an activity conducted to improve the quality of teaching. As a collaborative approach, Lesson Study consists of stages such as planning, implementation, evaluation, and reflection, with the aim of continuously enhancing the quality of teaching. Therefore, the community service team from Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) held a socialization event on October 14, 2024, to introduce the concept and stages of Lesson Study. This activity involved UMKO lecturers who are experts in various fields of study, acting as facilitators and mentors, providing both theoretical knowledge and hands-on practice to teachers. The event is expected to improve teachers' understanding and skills in implementing Lesson Study and encourage them to continuously develop innovative and effective teaching methods. This program also facilitates collaboration among teachers from different subject areas and supports the creation of a productive learning community at SMAN 2 Kotabumi. The outcome of the Lesson Study socialization activity at SMAN 2 Kotabumi shows a significant improvement in teachers' understanding of the fundamental concepts and practical application of Lesson Study.
Implementation of Elementary School Mathematics Questions Based on Numeracy Literacy Darmawan, Puguh; Nugroho, Purna Bayu; Darmayanti, Vivi
Riemann: Research of Mathematics and Mathematics Education Vol. 7 No. 1 (2025): EDISI APRIL
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38114/reimann.v7i1.88

Abstract

The purpose of this research was to know the implementation of numeracy literacy-based questions in schools. The research method used in this research is descriptive research, namely a type of research that aims to provide an overview of a certain phenomenon. The data collection instrument was a questionnaire. The research period was in June-July 2023, consisting of students in grades 4, 5 and 6 of SDN 1 Sidorejo. The research data was analyzed descriptively quantitatively in the form of percentages. The research results showed that the question statements given by the teacher were carried out using arithmetic operations, 81% often and 19% rarely. Question statements in the form of reading or descriptions was always 64.5% and often 35.5%. The question statement was accompanied by a graph, 87% rarely and 13% never. The question statements were accompanied by a table, 71% often and 29% rarely. The question statements were accompanied by pictures, 48% frequently and 52% rarely. The question statements were accompanied by a diagram, 9.5% always, 81% often, and 9.6% rarely. The question statement required making estimates or conjectures, 6.5% often, 29% rarely, 64.5% never. The question statement required determining how to solve the problem in the question, 19.4% always, 42% often, 25.8% rarely, and 12.6% never. Based on the results of the analysis above, the using of literacy questions in learning activities was still not optimal. This can be seen from aspects of literacy-based questions that were still not fully implemented.
PERAN SKEPTIS MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI DITINJAU BERDASARKAN GENDER Purna Bayu Nugroho; Venty Meilasari; Berta Apriza; Hasan Basri
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8389

Abstract

Pentingnya geometri berdampak pada suatu keharusan bagi mahasiswa matematika untuk menguasainya. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, diketahui bahwa mahasiswa matematika masih mengalami beberapa kesulitan dalam menyelesaikan masalah geometri. Dari Kesulitan yang terjadi tersebut mengindikasikan bahwa skeptis dapat mengubah jawaban yang sudah benar menjadi salah dan dapat memperkuat keyakinan terhadap jawaban yang sudah benar. Hal itu menunjukkan bahwa perlu adanya kajian mendalam tentang peran skeptis dalam menyelesaikan masalah geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran skeptis mahasiswa dalam menyelesaikan masalah geometri ditinjau berdasarkan gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena digunakan untuk memahami isu-isu rumit suatu  proses yang selalu berkembang dinamis. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Kasus yang dibahas dalam penelitian ini yaitu kasus yang berdampak fundamental terhadap belajar geometri mahasiswa. Subjek penelitian ini ialah delapan yang terdiri dari 4 perempuan dan 4 laki-laki yang mengalami skeptis terhadap jawabannya. Data penelitian ini berupa jawaban tertulis subjek, hasil rekaman wawancara, hasil rekaman think outloud, dan catatan Peneliti. Data-data tersebut dihasilkan oleh sumber data penelitian ini, ialah subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Peran skeptis mahasiswa laki-laki dalam memecahkan masalah geometri yaitu meneguhkan jawaban yang telah dituliskan dan menghentikan proses menjawab mahasiswa sehingga tidak diperoleh jawaban yang lengkap dan benar, (2) Peran skeptis mahasiswa perempuan dalam memecahkan masalah geometri yaitu meneguhkan, menyesatkan dan membenarkan jawaban yang telah dituliskan.The importance of geometry makes it mandatory for mathematics students to master it. Based on field observations, it is known that mathematics students still experience several difficulties in solving geometry problems. The difficulties that occur indicate that skepticism can change correct answers to wrong ones and can strengthen belief in correct answers. This shows that there is a need for an in-depth study of the role of skepticism in solving geometric problems. This research aims to determine the role of skeptical students in solving geometry problems, examined from gender perspective. This research uses a qualitative approach because it is used to understand complex issues in a process that is always developing dynamically. This type of research is a case study. The cases studied in this study are cases that have a fundamental impact on student geometry learning. The subjects of this study were eight consisting of 4 women and 4 men who were skeptical about their answers. The data for this study were in the form of the subject's written answers, recorded interviews, recorded think outloud, and researcher's notes. These data are generated by this research data source, namely the research subject. The results of this study indicate that: (1) The role of male student's skeptical role in solving geometry problems is to confirm the answers that have been written and stop the student's answering process so that a complete and correct answer is not obtained, (2) The role of female student's skeptical in solving geometry problems namely confirming, misleading and justifying the answers that have been written.
Analisis Proses Penalaran Matematis Siswa Tuna Rungu Sekolah Luar Biasa Negeri Sukamaju Pada Pemecahan Masalah Bangun Datar Wardani, Dahlia Ayu; Nugroho, Purna Bayu; Meilasari, Venty
Proximal: Jurnal Penelitian Matematika dan Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 1 (2023): Inovasi Teknologi, Psikologi Belajar, dan Adaptasi Pembelajaran Matematika di E
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/proximal.v6i1.2054

Abstract

Penalaran matematis yang baik sangat penting dimiliki oleh setiap siswa termasuk siswa tuna rungu untuk melakukan pemecahan masalah. Faktanya, siswa tuna rungu masih memiliki penalaran matematis yang kurang baik. Meskipun demikian, siswa tuna rungu masih mampu melakukan pemecahan masalah walau kurang baik. Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penalaran matematis siswa tunarungu SLB Negeri Sukamaju pada pemecahan masalah bangun datar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian berjumlah 3 siswa yang dipilih berdasarkan kategori purposive sampling. Instrumen penelitian ini adalah peneliti, instrumen tes dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini adalah penalaran matematis siswa tuna rungu saat melakukan pemecahan masalah cenderung induktif. Proses penalaran matematis siswa tuna rungu pada saat pemecahan masalah bangun datar dimulai dari identifikasi masalah dengan membuat suatu model penjelasan dari fakta, sifat, hubungan, atau pola yang ada, lalu melakukan pendugaan solusi sementara untuk menyelesaikan masalah yang ada pada soal. Dugaan solusi sementara akan digabungkan dengan kesimpulan yang ditarik dari kasus khusus yang diambil poin pentingnya untuk dijadikan patokan dalam memecahkan permasalahan lainnya lalu siswa tuna rungu menentukan dugaan rencana penyeleasaian final untuk menentuka keliling bangun datar. Selanjutnya siswa tuna rungu melakukan penarikan kesimpulan kembali dari konsep gerakan keliling untuk dijadikan patokan dalam menentukan pola urutan perhitungan keliling bangun datar. Setelah itu siswa tuna rungu menggunakan pola dan hubungan yang ada untuk menganalisis dan menyusun konjektur. Selanjutnya siswa tuna rungu melakukan penggeneralisasian rencana penyelesaian masalah untuk menentukan keliling bangun datar.
Membongkar miskonsepsi lingkaran : telaah komprehensif pemahaman siswa sekolah menengah pertama Apriyanti, Desi; Nugroho, Bayu Purna; Meilasari, Venty
International Journal of Progressive Mathematics Education Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/ijopme.v5i1.18541

Abstract

Purpose: This study aims to assess students' mathematical conceptual understanding of circle geometry, stratified by high, moderate, and low proficiency levels. Design/methodology/approach: Employing a descriptive qualitative design, this research selected six subjects via purposive sampling, comprising two students from each proficiency tier (high, moderate, and low). Data collection utilized test instruments and structured interview protocols to evaluate conceptual mastery. Findings: The findings reveal that high-proficiency students satisfied four conceptual understanding indicators: object classification, procedural application, mathematical representation, and problem-solving algorithms. Conversely, moderate-ability students fulfilled only two indicators (classification and procedural application), while low-ability students demonstrated mastery of a single indicator: classifying objects based on specific properties. Practical implications: These results underscore the necessity for instructional strategies that emphasize procedural application and mathematical representation, particularly for low- and moderate-performing students, to bridge existing gaps in conceptual understanding. Originality/value: This study provides a distinct delineation of the gradation in mastering circle-related concepts across varying ability levels, serving as a foundational reference for instructional evaluation and curriculum adjustment. Purpose: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pemahaman konsep matematika siswa pada materi lingkaran berdasarkan kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Design/methodology/approach: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek terdiri dari enam siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling, mencakup masing-masing dua siswa dari kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan menggunakan instrumen tes dan pedoman wawancara.Findings: Hasil menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi memenuhi empat indikator (klasifikasi, prosedur, representasi, dan pemecahan masalah). Siswa berkemampuan sedang memenuhi dua indikator (klasifikasi dan prosedur), sedangkan siswa berkemampuan rendah hanya memenuhi satu indikator, yaitu mengklasifikasikan objek menurut sifat tertentu.Practical implications: Temuan ini mengimplikasikan perlunya penekanan strategi pembelajaran pada aspek penggunaan prosedur dan representasi matematis, khususnya bagi siswa dengan kemampuan sedang dan rendah untuk menutup kesenjangan pemahaman konsep. Originality/value: Studi ini memberikan pemetaan spesifik mengenai gradasi penguasaan indikator pemahaman konsep lingkaran pada berbagai tingkat kemampuan siswa sebagai dasar evaluasi pembelajaran.
Persepsi Guru terhadap Penerapan Deep Learning pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Riyadi, Rahmad; Nugroho, Purna Bayu
ANARGYA: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/anargya.v8i1.15198

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi guru terhadap penggunaan pembelajaran mendalam dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Pembelajaran mendalam menekankan pada pemahaman konseptual siswa, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas dalam memecahkan masalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur terhadap guru-guru kelas yang aktif mengajar. Teknik pemilihan sampel yang digunakan yakni purposive sampling, dengan kriteria guru yang telah memiliki pengalaman menerapkan pendekatan pembelajaran inovatif dalam mata pelajaran matematika. Data dianalisis memakai teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola penting dalam persepsi dan pengalaman guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak guru memiliki pandangan positif terhadap penerapan pembelajaran mendalam, karena dinilai mampu meningkatkan kualitas pemahaman matematika siswa. Namun, terdapat sejumlah tantangan dalam implementasinya, seperti kesulitan pengelolaan kelas, penyesuaian strategi dengan kurikulum, dan keterbatasan pelatihan serta sumber daya. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pengembangan program pelatihan guru yang lebih komprehensif dan aplikatif, serta peningkatan kolaborasi antar guru untuk mendukung pertukaran praktik baik. Kesimpulannya, pembelajaran mendalam memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah dasar, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan sistemik yang memadai
PENERAPAN MEDIA GAME KAHOOT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DiSEKOLAH DASAR: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Pratiwi Nawawi, Widya; Berta Apriza; Purna Bayu Nugroho
Journal for Lesson and Learning Studies Vol. 8 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jlls.v8i2.92261

Abstract

Many students experience difficulties and show low interest in learning mathematics. One possible solution to enhance students’ motivation and engagement is the use of interactive quiz-based game media such as Kahoot. This study aims to analyze the effectiveness of Kahoot in improving elementary school students’ mathematics learning outcomes. The method employed is a systematic literature review by examining scholarly articles published between 2020 and 2024, obtained through Google Scholar searches. From a total of 18,700 articles identified, a screening process based on inclusion criteria was conducted, resulting in 10 articles selected for review. Data were analyzed using a descriptive qualitative approach. The findings indicate that Kahoot is effective in strengthening the understanding of basic mathematical concepts and increasing students’ learning motivation. However, several limitations were identified, including unequal access to technology and students’ tendency to focus more on competition rather than comprehension of the material. Overall, the implementation of Kahoot creates enjoyable and interactive learning experiences, contributing positively to the improvement of mathematics learning outcomes. The implications of this study highlight that integrating interactive digital media into the learning process can enrich teaching strategies, although challenges related to technology access need to be addressed in future implementations.
Analisis Proses Konstruksi Jawaban Siswa Pada Pemecahan Masalah Transformasi Geometri Di Tinjau Berdasarkan Gender Aini, Putri Nur; Nugroho, Purna Bayu
Kognitif: Jurnal Riset HOTS Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 2 (2023): July - December 2023
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/kognitif.v3i2.1125

Abstract

Proses asimilasi dan akomodasi berperan penting dalam proses konstruksi jawaban pada pemecahan masalah,namun sering ditemukan bahwa siswa dalam mengkonstruksi jawaban masih sering mengalami keraguan dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Di Indonesia sebelumnya sudah terdapat beberapa peneliti yang meneliti berhubungan dengan proses konstruksi dalam pemecahan masalah, namun masih jarang peneliti yang mengaitkan jenis kelaminnya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui konstruksi jawaban murid pria dan murid wanita saat memecahkan masalah transformasi geometri. Kami menggunakan metode penelitian yang menerapkan pendekatan kualitatif. Subjek yang dilibatkan adalah murid kelas XI SMA Negeri 2 Kotabumi dengan menggunakan instrumen tes dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan melalui uji coba dan sesi wawancara, dengan penerapan teknik analisis data yang merujuk pada metode yang dikembangkan oleh Miles & Hubberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara proses konstruksi siswa perempuan dengan proses konstruksi siswa laki-laki pada tahap yang kedua dan ketiga, yaitu merencanakan penyelesaian dan melaksanakan rencana penyelesaian
PERAN KEYAKINAN DALAM BERPIKIR INTUITIF KETIKA MEMECAHKAN MASALAH MODUS TOLLENS Nugroho, Purna Bayu; Darmawan, Puguh; Badawi, Badawi
Jurnal Silogisme : Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya Vol 6 No 2 (2021): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/silogisme.v6i2.4165

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji kasus pemecahan masalah modus tollens yang berkaitan dengan keyakinan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatis dengan kenis studi kasus. Kasus yang dikaji dalam penelitian ini adalah kasus kolektif. Subjek penelitian adalah tiga mahasiswa Pendidikan matematika yang telah belajar logika matematika. Instrumen penelitian ini adalah Peneliti, masalah modus tollens, rubrik indikator, lembar validasi, buku catatan dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini adalah proses mental yang terkategori menjadi tiga dalam pemecahan masalah modus tolens. Tiga kategori proses mental itu adalah logic beyond belief, belief surrounds thinking1, dan belief surrounds thinking 2. Karakteristik logic beyond belief adalah menghasilkan jawaban benar dengan alasan benar, keyakinan terkontrol oleh sistem 2. Karakteristik belief surrounds thinking 1 adalah menghasilkan jawaban benar dengan alasan salah, mengubah jawaban berdasarkan keyakinan. Karakteristik belief surrounds thinking 2 adalah menghasilkan jawaban salah dengan alasan salah berdasarkan keyakinan.