Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

SENTRA PENGEMBANGAN SUTERA, DESA PISING, KABUPATEN SOPPENG Yunianti, Andi Detti; Nuraeni, Sitti; Malina, Asmi Citra; Suhasman, .
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 5 No. 2 (2020): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 5 NO. 2 MEI 2020
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v5i2.10238

Abstract

Sabbeta Village ', Pising Village, Soppeng Regency is a pilot village for silk development in Soppeng Regency. Service activities undertaken are Focus Group Discussion (FGD) and training. Partners of this community service activity are the Sabbeta Village Farmers Group and the Mega Sutera Farmers Group. The purpose of the FGD is to examine the debates and challenges raised by silk farmers in developing women's relations in Pising Village. From the results of the FGD chose a number of problems to make training materials as a solution for farmers. In general, topics related to farmers are silk related to marketing, low productivity and eco print on silk fabrics. Monopoly-producing marketing makes the price of yarn produced very low. Until now, silk farmers in Soppeng Regency only produce silk yarn, while silk fabric production is in Wajo District. Low productivity because it is related to the importance and the product, especially the yarn produced, is not standard. In addition, women-only societies develop eco-print techniques on silk fabrics. The FGD was closed with a visit to the houses of the people which were used as caterpillars, seed gardens, spinning and souvenir galleries. Based on a review of the FGD results, the activities carried out were training on entrepreneurship, silkworm maintenance and eco print. The business of silkworm maintenance can be optimal if carried out in accordance with the procedure so as to produce threads that meet the standards. The maintenance of silkworms by farmers is very conventional, not in accordance with standard procedures. The results of the eco print technique were not satisfactory because the coloring was not optimal. The training provided is expected to increase their knowledge, so that it becomes a solution to the problem so far.Keywords: Sabbeta Village, Pising Village, silkworm maintenance, eco print. ABSTRAKKampung Sabbeta’, Desa Pising, Kabupaten Soppeng merupakan kampung percontohan untuk pengembangan sutera di Kabupaten Soppeng. Kegiatan pengabdian yang dilakukan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan. Mitra dari kegiatan pengabdian ini, yaitu Kelompok Tani Kampung Sabbeta’ dan Kelompok Tani Mega Sutera. Tujuan dari FGD untuk mengkaji permasalahan dan kendala yang dihadapi para petani sutera dalam mengembang-kan persuteraan di Desa Pising. Dari hasil FGD dipilih beberapa masalah untuk dijadikan bahan pelatihan sebagai solusi dari permasalahan para petani. Secara umum, permasalahan yang dihadapi petani sutera terkait pemasaran, produktifitas yang rendah dan eco print di kain sutera. Pemasaran yang bersifat monopoli membuat harga benang yang dihasilkan sangat rendah. Sampai saat ini, petani-petani sutera di Kabupaten Soppeng hanya menghasilkan benang sutera, sedangkan produksi kain sutera ada di Kabupaten Wajo. Produktifitas yang rendah disebabkan karena ketergantungan akan bibit impor dan produk, khususnya benang yang dihasilkan, tidak standar. Selain itu, masyarakat khususnya para wanita mengem-bangkan teknik eco print di kain sutera. Kegiatan FGD ditutup dengan kunjungan ke rumah-rumah penduduk yang dijadikan tempat pemeliharaan ulat, kebun benih, pemintalan, dan galeri souvenir. Berdasarkan kajian dari hasil FGD, kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan yaitu kewirausahaan, pemeliharaan ulat sutera dan eco print. Usaha pemeliharaan ulat sutera dapat optimal jika dilakukan sesuai dengan prosedur sehingga menghasilkan benang yang memenuhi standar. Pemeliharaan ulat sutera yang dilakukan petani sangat konvensional, tidak sesuai dengan prosedur standar. Hasil teknik eco print yang dikerjakan kurang memuaskan karena pewarnaan belum maksimal. Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mereka, sehingga menjadi solusi dari permasalahan selama ini. Kata kunci: Kampung Sabbeta’, Desa Pising, pemeliharaan ulat sutera, eco print.
Keanekaragaman dan Peranan Serangga Akuatik sebagai Bioindikator di Sungai Lekopancing, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan: Diversity and Role of Aquatic Insects as Bioindicators in the Lekopancing River, Maros District, South Sulawesi Nuraeni, Sitti; Budiaman, Budiaman; Lismayani, Lismayani; Prastiyo, Andi; Wahyudi, Wahyudi
PERENNIAL Vol 21 No 2 (2025): Vol. 21 No. 2, October 2025
Publisher : Forestry Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v21i2.43381

Abstract

The Lekopancing River, located in Maros Regency, is a crucial source of clean water supply for the people of Makassar City and the surrounding wereas. This study aims to analyze the diversity and role of insects as bioindicators of water quality based on aquatic insect families. The study was conducted in the upstream, middle, and downstream parts of the Lekopancing River, using handpicking and kick sampling for data collection. The collected aquatic insect samples were then identified and analyzed using the diversity index Shannon-Wienner (H') and Hilsenhoff Family Biotic Index (HFBI) methods, which were widely accepted in ecological research for assessing biodiversity and water quality. The number of aquatic insects found was 614 individuals, consisting of 13 species, 13 families, and 7 orders. The diversity index of aerial insects in the upstream and middle parts of the Lekopancing River was 1.26 and 1.72, while in the downstream part, it was 0.42. The HFBI value of 3.26 in the upstream section is still very good; in the middle section, the HFBI value of 4.84 is considered good; in the downstream section, the HFBI value of 7.00 indicates poor quality.
PENGEMBANGAN USAHA MADU LEBAH TRIGONA DAN LEBAH HUTAN DI HUTAN PENDIDIKAN UNHAS, KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN Nuraeni, Sitti; Budiaman; Sadapotto, Andi; Muin, Andi Vika Faradiba; Prastiyo, Andi; Chairil; Arif, Astuti; Baharuddin
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi usaha madu lokal di kawasan hutan dapat diperkuat melalui edukasi dan pendampingan berbasis masyarakat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok peternak lebah di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin, Kabupaten Maros, dalam produksi dan pengembangan usaha madu Trigona dan madu hutan. Metode yang digunakan meliputi pretest-posttest, pelatihan partisipatif, dan penyerahan alat produksi. Hasil menunjukkan peningkatan, seperti pengetahuan tentang pengaruh suhu dan kelembapan terhadap kestabilan madu naik dari 53,33% menjadi 93,33%. Hasil menunjukkan peningkatan pada pemahaman peserta terhadap aspek kualitas madu, budidaya lebah, pengolahan tanpa pemanasan, strategi pemasaran melalui media sosial, hingga kerja sama antarpeternak. Pengetahuan mengenai kadar air, fermentasi, dan teknik panen madu yang ramah lingkungan juga meningkat. Edukasi ini membekali peserta dengan praktik budidaya, pengolahan, dan pemasaran madu secara berkelanjutan. Harapannya, model kegiatan ini dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi lebah madu lokal sebagai sumber ekonomi dan konservasi.
Penerapan Metode Waterfall Pada Aplikasi Kamus Aksara Arab Melayu Berbasis Android Nuraeni, Sitti; Rahmi, Elvi; Wahana, Desi
Insand Comtech : Information Science and Computer Technology Journal Vol 10, No 2 (2025): Insand Comtech
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/jic.v10i2.2850

Abstract

Bahasa merupakan sarana komunikasi penting dalam kehidupan manusia. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu yang telah lama berperan di Asia Tenggara sejak abad ke-7 M. Salah satu bentuk warisan budaya Melayu adalah aksara Arab Melayu yang dahulu banyak digunakan, khususnya oleh masyarakat di Bengkalis. Namun, seiring perkembangan zaman dan masuknya pengaruh bahasa lain, penggunaan aksara ini semakin tergerus. Untuk menjaga kelestariannya, penelitian ini mengembangkan aplikasi kamus Aksara Arab Melayu berbasis Android. Tujuannya adalah mempermudah masyarakat dalam memahami serta menggunakan aksara tersebut. Metode yang digunakan dalam pengembangan aplikasi ini adalah Waterfall, karena menawarkan pendekatan yang sistematis dan berurutan melalui tahap analisis kebutuhan, desain, implementasi, pengujian, hingga pemeliharaan. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi yang dapat diakses secara luas dan diharapkan mampu mendukung pelestarian budaya lokal, khususnya aksara Arab Melayu, agar tetap dikenal dan dimanfaatkan oleh generasi masa kini maupun yang akan datang. Aplikasi ini juga menjadi media pembelajaran interaktif yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.Kata kunci : Aksara Arab Melayu, Bahasa Melayu, Kamus, Metode Waterfall, Aplikasi Android.
Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Desa Malino Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Nuraeni, Sitti; Alam, Syamsu; Mujetahid, A.; Millang, Syamsuddin; Sadapotto, Andi; Budiaman; Rijal, Syamsu; Ridwan, M.; Wahyuni; Sabar, Adrayanti; Makkasau, Ahmad Rifqi; Arty, Budi; Muin, Andi Vika Varadiba; A, Chairil; Amalia, Rizki; Harlina
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v1i2.196

Abstract

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) merupakan bencana alam yang sangat merusak ekosistem, gas-gas hasil pembakaran yang diemisikan ke atmosfer, seperti CO2 dapat menimbulkan pemanasan global serta menimbulkan berbagai penyakit. Jika hal tersebut tidak ditangani dengan baik, lambat laun akan berdampak pada berbagai sektor, baik lingkungan, sosial dan ekonomi. Karhutla yang terjadi di kawasan wisata hutan pinus Malino, Kecamatan Tinggimoncong September 2023 telah menghanguskan 8 hektar lahan, dikarenakan faktor manusia serta didukung oleh kemarau panjang. Sebagai bentuk pengabdian masyarakat, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin melaksanakan salah satu program kerja yaitu Kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Karhutla di Desa Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Pengabdian ini memfokuskan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla, baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Metode yang digunakan adalah metode persuasif. Pada kegiatan sosialisasi ini terdapat 4 orang perempuan dan 15 orang laki-laki, namun yang tergabung dalam organisasi Masyarakat Peduli Api (MPA) hanya satu orang saja dan belum pernah ada kegiatan pelatihan pengendalian karhutla di Desa Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa serta adanya kegiatan konversi tutupan lahan dari hutan menjadi lahan hortikultura. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini diperoleh peningkatan pemahaman peserta mengenai pencegahan dan pengendalian karhutla sebesar 84%. Selain itu, respon positif dan antusias dari masyarakat dalam mengikuti kegiatan sosialisasi hingga selesai merupakan tolak ukur keberhasilan dari kegiatan ini. Diharapkan kegiatan sosialisasi pencegahan dan pengendalian karhutla dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan edukasi kepada masyarakat agar kelestarian kawasan hutan tetap terjaga.
Pelatihan Budidaya Lebah Apis cerana pada Kelompok Tani Mekar di Desa Timpuseng Kabupaten Maros Nuraeni, Sitti; Supratman, Supratman; Mujetahid, Andi; Rijal, Syamsu; Rifky Makkasau, Ahmad; Prastiyo, Andi; S, Harlina
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 1.1 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) SPECIAL ISSUE
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Management of honey bees, especially Apis cerana bees, is widely cultivated by farmers in Sulawesi. Lack of cultivation knowledge and management causes productivity to decrease. A. cerana bee cultivation training at the Mekar Farmers Group in Timpuseng Village, Maros Regency, aims to increase farmers' knowledge and skills in bee colony management, honey harvesting techniques and processing of bee products. This training method includes socialization, presentation of material, discussion and evaluation. Based on data, the majority of farmers (70%) harvest honey by pressing it, while 50% of farmers increase their colonies by dividing existing colonies, and the other 50% hunt in the forest. However, only 30% of farmers were able to differentiate between bee products such as honey, beeswax and bee bread, indicating the need for additional education. This training uses a practical approach to support environmentally friendly colony management and diversification of bee products as added economic value. Evaluation results show that this training contributes significantly to improving farmers' technical skills, encouraging the adoption of sustainable methods, and supporting the preservation of local ecosystems. The training participation rate reached 70%, indicating the high interest of farmers in developing bee cultivation. This training provides a strong foundation for the development of independent and sustainable bee-based businesses.
Sosialisasi Pemanfaatan Tanaman Murbei (Morus alba) sebagai Sumber Pakan Alternatif bagi Ternak di Desa Rompegading, Kabupaten Maros Sadapotto, Andi; Nuraeni, Sitti; Mujetahid, Andi; Prastiyo, Andi; Latif, Nurfadilah; Taskirawati, Ira; Muchtar, Andi Asikin; Amaliah, Rizki
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.20080

Abstract

Background: Pemanfaatan tanaman murbei (Morus alba) sebagai pakan ternak alternatif memiliki potensi besar dalam mendukung sistem peternakan berkelanjutan di tingkat desa. Peternak di Desa Rompegading mengalami keterbatasan hijauan pakan ternak terutama pada musim kemarau, sehingga sosialisasi pemanfaatan tanaman murbei sebagai pakan alternatif perlu dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Rompegading, Kabupaten Maros, mengenai potensi agronomis dan nutrisi tanaman murbei sebagai hijauan pakan ternak. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juli 2025 melalui metode penyuluhan interaktif, difusi ipteks, dan pemberian bibit murbei, disertai pre-test dan post-test sebagai alat ukur efektivitas. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Pemahaman bahwa murbei bukan hanya untuk pakan ulat sutera meningkat dari 33,33% menjadi 93,33%; bahwa murbei termasuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) naik dari 20% menjadi 80%. Pengetahuan tentang kandungan protein kasar murbei ≥15% meningkat dari 20% menjadi 73,33%, serta kesadaran akan rendahnya tannin murbei naik dari 13,33% menjadi 73,33%. Peningkatan juga terjadi pada aspek budidaya dan formulasi pakan, pemangkasan merangsang daun muda (20% ke 80%), stek sebagai teknik perbanyakan umum (13,33% ke 73,33%), dan murbei sebagai campuran dedak sapi perah (13,33% ke 73,33%). Kesimpulan: Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan sosialisasi kontekstual efektif dalam meningkatkan pemahaman dan mendorong adopsi teknologi lokal.