Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Effect of subacute administration of orange juice (Citrus sinensis) on duodenal structure in paediatric Sprague-Dawley rats (Rattus novergicus) Yan, Teo Qin; Hendry, Altaff; Andre, Daniel Latief; Rahman, Muhammad Luthfi; Rudramurti, Win Satya; Permana, Nadine Hanifa; Utami, Dian Maulia; Pristihadi, Diah Nugrahani; Setiyono, Agus
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 3 (2024): ARSHI Veterinary Letters - August 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.3.69-70

Abstract

This research investigates the impact of orange juice consumption on the histological structure of the duodenum, a critical site for nutrient absorption and digestion. Focusing on pediatric animals, orange juice (with a pH of 3) was administered to post-weaning rats aged 4 weeks to 6 weeks at dosages ranging from 0g/kg BW to 20g/kg BW over two weeks. Duodenal histopathology was assessed, focusing on parameters such as the quantity of crypts of Lieberkuhn, as well as the length, height, width, and depth of villi (measured in μm). Anatomical pathology examination included measurements of the length and width of the duodenum (also in μm), as well as the color mean (OD). The research findings indicate no significant changes in histo-pathology or anatomy pathology of the duodenum. This suggests that young individuals can adapt to acidic challenges without compromising gastrointestinal health. These findings offer reassurance regarding the short-term consumption of acidic orange juice (with a pH of 3) with minimal risks to intestinal integrity, both during growth and development.
Uji Toksisitas Akut Sari Buah Apel (Malus domestica) pada Mencit (Mus musculus) Ifana, Cindy Anola; Andriyanto; Pristihadi, Diah Nugrahani
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 2 No. 1 (2024): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.2.1.22-28.

Abstract

Sari buah apel banyak beredar dan dikonsumsi masyarakat sebagai minuman dengan kandungan nutrisi tinggi. Berbagai potensi sari buah apel sebagai bahan alami perlu didukung oleh informasi mengenai tingkat keamanannya. Tingkat keamanan penggunaan sari buah apel dapat diuji dengan uji toksisitas. Pengujian dilakukan pada 20 ekor mencit betina yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok perlakuan dosis 0 g/kg BB diberi aquades, sedangkan kelompok lain diberi sari buah apel dengan dosis pemberian 5, 10, 15, dan 20 g/kg BB dalam dosis tunggal secara peroral. Mortalitas, respon fisiologis, dan gejala klinis diamati selama 14 hari setelah satu kali pemberian sediaan. Parameter lain yang diamati pada penelitian ini yaitu bobot badan, bobot organ absolut, bobot organ relatif, dan makro anatomi organ. Hasil pengujian toksisitas akut pada sari buah apel tidak menyebabkan perbedaan yang nyata terhadap gejala klinis, bobot badan, bobot organ, makroanatomi organ, maupun tingkat kematian. Disimpulkan bahwa sari buah apel termasuk ke dalam sediaan yang bersifat praktis tidak membahayakan.
Penyuluhan Sistem Ternak Sehat dan Bersih sebagai Upaya Meningkatkan Kesehatan Ternak Ruminansia di Desa Gentan, Sukoharjo Ferrando, Indigo; Febrianca, Ivory; Maura Tianska, Radine; Matilda Sianturi, Yemima; Fauzan Akmal, David; Annisa, Reni; Adelaide Vertin, Nadya; Kristianto, Williams Tjong; Pristihadi, Diah Nugrahani
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpim.7.2.357-368

Abstract

The Siternas program was implemented by the IPB University KKN-T Team in Gentan Village, Bendosari District, Sukoharjo Regency, as an effort to improve livestock health management among smallholder farmers. The program aimed to provide education and assistance to cattle, goat, and sheep farmers in order to establish a healthier, cleaner, and more productive livestock system. The implementation methods included coordination with the Department of Agriculture and Fisheries, initial observation, preparation of educational materials, and door-to-door extension activities combined with field practices. The program was carried out from July 21–23, 2025, across five hamlets, involving 26 farmers and 206 animals (47 cattle and 159 goats/sheep). The results indicated an increased understanding among farmers of the importance of deworming, proper housing management, and disease prevention. The program also distributed free Albendazole, conducted animal health checks, and demonstrated deworming methods. Challenges included language barriers, farmers’ limited availability, and substandard husbandry practices. Nevertheless, the program effectively raised awareness and encouraged farmers to adopt better health management practices. In conclusion, Siternas proved effective in enhancing farmers’ knowledge, skills, and motivation to maintain livestock health, while sustainability requires continuous mentoring, farmer health groups, and multi-sectoral collaboration.
Evaluasi antidiare infus daun jambu biji pada tikus pediatrik menggunakan model transit usus Hendry, Altaff; Yan, Teo Qin; Andre, Daniel Latief; Rahman, Muhammad Luthfi; Rudramurti, Win Satya; Permana, Nadine Hanifa; Utami, Dian Maulia; Pristihadi, Diah Nugrahani; Indrawati, Agustin
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 4 (2025): ARSHI Veterinary Letters - November 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.4.119-120

Abstract

Diare merupakan gangguan gastrointestinal utama pada anak-anak dan masih menjadi penyebab kematian yang signifikan, terutama pada balita. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional sebagai obat antidiare. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis efektif infusa daun jambu biji pada tikus yang disapih menggunakan metode transit intestinal. Tiga puluh tikus sehat secara acak dibagi menjadi enam kelompok: kontrol negatif (air suling), kontrol positif (atropin sulfat 2,5 mg/kg BB), dan empat kelompok perlakuan yang menerima infusa daun jambu biji dengan dosis 100, 200, 400, dan 800 mg/kg BB. Di antara kelompok perlakuan, dosis 200 mg/kg BB menghasilkan penurunan transit intestinal terbesar. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik yang diamati antara kelompok perlakuan dan kontrol negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam rentang dosis yang diperiksa, infusa daun jambu biji tidak menunjukkan efek antidiare yang signifikan pada model tikus pediatrik.
TINGKAT PENGETAHUAN PETERNAK TENTANG PEMANFAATAN CAMPURAN KUNING TELUR, KUNYIT DAN ALBUMIN DALAM MENGHADAPI PENYAKIT MULUT DAN KUKU DI KARANGPAKIS KEDIRI: Farmers’ Knowledge Level on the Utilization of Egg Yolk, Turmeric, and Albumin Mixture in Addressing Foot and Mouth Disease Outbreak in Karangpakis, Kediri Astini, Wining; Diah Nugrahani Pristihadi; Ririh Sekar Mardisiwi; Luvy Dellarosa; Ahmad Arga Ramadhan
Wahana Peternakan Vol. 10 No. 1 (2026): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v10i1.2946

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit viral yang berdampak signifikan terhadap produksi peternakan secara global. Pengendalian penyakit ini memerlukan perhatian khusus, terutama pada hewan karier yang terinfeksi, serta optimalisasi strategi penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peternak sapi potong terkait pemanfaatan campuran kuning telur yang mengandung IgY dan kunyit, serta pemberian bubuk albumin dalam pakan konsentrat sebagai upaya menghadapi wabah PMK di Desa Karangpakis, Kabupaten Kediri. Pengambilan data dilakukan melalui metode survei dengan teknik purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 82% peternak tidak pernah membuat konsentrat sendiri menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Akibatnya, 58% peternak tidak dapat menyebutkan komposisi konsentrat secara benar, dan 17% peternak menyatakan bahwa bonggol jagung tidak dapat digunakan sebagai bahan campuran konsentrat. Menariknya, seluruh peternak (100%) telah memahami bahwa campuran kuning telur dan kunyit dapat dimanfaatkan sebagai terapi PMK pada sapi potong. Namun demikian, masih terdapat 11% peternak yang belum memahami manfaat bubuk albumin serta 47% peternak yang belum memahami penggunaan dosis campuran kuning telur, kunyit, dan bubuk albumin secara tepat. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peternak pada umumnya telah memahami manfaat campuran kuning telur, kunyit, dan bubuk albumin sebagai terapi PMK. Namun, masih diperlukan peningkatan pemahaman dalam pembuatan pakan konsentrat serta ketepatan dalam penerapan dosis terapi.   Kata kunci: albumin, IgY, kuning telur, kunyit, penyakit mulut dan kuku
TINGKAT PENGETAHUAN PETERNAK TERKAIT PENGELOLAAN LIMBAH B3 (BAHAN BERBAHAYA BERACUN) DI DESA KARANGPAKIS KEDIRI: Level of Farmers Knowledge Regarding Management of B3 Waste (Hazardous Waste) in Karangpakis Village, Kediri Dellarosa, Luvy; Diah Nugrahani Pristihadi; Wining Astini; Ririh Sekar Mardisiwi; Ahmad Arga Ramadhan
Wahana Peternakan Vol. 10 No. 1 (2026): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v10i1.3106

Abstract

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang dikategorikan berbahaya karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya berpotensi mencemari, merusak, atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Sektor peternakan merupakan salah satu sumber penghasil limbah B3 yang perlu dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peternak di Desa Karangpakis, Kabupaten Kediri, dalam mengelola limbah B3. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dengan teknik purposive sampling. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 88,23% peternak belum mengelola limbah B3, sehingga mereka tidak mampu menjelaskan definisi, jenis, maupun prosedur pengelolaannya. Namun demikian, sebanyak 29,41% peternak telah memahami urgensi pengelolaan limbah B3 untuk mencegah pencemaran lingkungan dan dampak negatif terhadap makhluk hidup. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak mengenai pentingnya pengelolaan limbah B3.   Kata kunci: bahaya, kesehatan, limbah B3, peternak